Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem saraf manusia merupakan jalinan jaringan saraf yang saling berhubungan,
sangat khusus, dan kompleks. Sistem saraf ini mengoordinasikan, mengatur, dan
mengendalikan interaksi antara seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem
tubuh yang penting ini juga mengatur aktivitas sebagin besar sistem tubuh lainnya.
Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena pengaturan
hubungan saraf diantara berbagai sistem (Price dan Wilson, 2005).
Fenomena mengenai kesadaran, daya pikir, daya ingat, bahasa, sensasi, dan
gerakan semuanya berasal dari sistem ini. Oleh karena itu, kemampuan untuk
memahami, belajar, dan berespon terhadap rangsangan merupakan hasil dari integrasi
fungsi sistem saraf, yang memuncak dalam kepribadian dan perilaku seseorang (Price
dan Wilson, 2005).

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem persarafan?
2. Bagaimana melakukan pengkajian dan pemeriksaan fisik pada sistem persarafan ?

C. Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui anatomi dan fisiologi
sistem saraf.

1
BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERSARAFAN

A. Pengertian Sistem Persarafan


Sistem saraf adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan semua kegiatan aktivitas
tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan dan lainnya.
Sistem Saraf tersusun dari jutaan serabut sel saraf (neuron) yang berkumpul membentuk
suatu berkas (faskulum). Neuron adalah komponen utama dalam sistem saraf.

B. Fungsi Sistem Persarafan


Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu:
1. Pengatur/ pengendali kerja organ tubuh,
2. Pusat pengendali tanggapan,
3. Alat komunikasi dengan dunia luar.

C. Anatomi dan Fisiologi Sistem Persarafan


1. Susunan Sistem Saraf
Sistem Saraf tersusun dari jutaan serabut sel saraf (neuron) yang berkumpul
membentuk suatu berkas (fasikulum).
Sistem saraf terdiri dari neuron (sel saraf) dan sel gli.
1.1 Neuron (sel saraf)
Neuron atau sel saraf yaitu merupakan sel yang terpanjang yang dimilki oleh
tubuh manusia dan bertugas untuk menerima dan menghantarkan impuls ke
tempat yang dituju. Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang
berupa rangsangan atau tanggapan.
Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma
dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan
akson.
Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson
berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya
sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek.
Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua
serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak
disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada
akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh
serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi
mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang
tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat
penghantaran impuls.
2
Nodus Ranvier adalah bagian atau titik pada akson yang tidak terbungkus
selubung mielin. Nodus Ranvier memiliki diameter sekitar 1 mikrometer. Nodus
Ranvier ditemukan oleh Louis-Antoine Ranvier. Selubung mielin berfungsi
sebagai pelindung akson dan membungkusnya, namun selubung ini tidak
membungkus secara keseluruhan, dan yang tidak terbungkus merupakan Nodus
Ranvier.
Selubung Mielin adalah lapisan phospholipid yang mengelilingi akson pada
banyak neuron. Sel Schwann mengsuplai mielin untuk neuron periferal, dimana
oligodendrosit mengsuplai ke sistem saraf pusat. Mielin merupakan karakteristik
dari vertebrata (gnathostome), tetapi juga diangkat oleh evolusi pararel beberapa
invertebrata.

a. Macam-macam sel neuron


1) Berdasarkan fungsinya/jenisnya
a) Saraf sensorik/aferen yaitu neuron yang berfungsi untuk menghantarkan
impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat (SSP).
b) Saraf motorik/eferen yaitu neuron yang berfungsi untuk menghantarkan
impuls dari SSP ke efektor.
c) Saraf asosiasi/interneuron yaitu neuron yang menghubungkan antara
neuorn sensorik satu dengan neuron motorik yang lain. Berdasarkan
tempatnya dibedakan menjadi neuron ajustor yang berfungsi untuk
menghubungkan neuron sensorik dengan neuron motorik di dalam Sistem
Saraf Pusat (SSP). Selain itu ada juga neuron konektor yang secara umum
menghubungkan antara satu sel neuron dengan sel neuron yang lain.
2) Berdasarkan strukturnya
a) Neuron unipolar (neuron berkutub satu) yaitu neuron yang memiliki satu
buah axon yang bercabang.
3
b) Neuron bipolar (neuron berkutub dua) yaitu neuron yang memiliki satu
axon dan satu dendrite.
c) Neuron multipolar (neuron berkutub banyak) yaitu neuron yang memiliki
satu axon dan sejumlah dendrite.
b. Komunikasi antar sel
Komunikasi antar sel saraf adalah melalui penghantaran impuls. Hubungan
penyampaian impuls dari satu neuron ke neuron yg lain disebut Sinapsis. Biasanya
terjadi di ujung percabangan axon dengan ujung dendrite neuron yang lain. Celah
antara satu neuron dengan neuron yang lain disebut dengan celah sinapsis. Di
dalam celah sinapsis inilah terjadi loncatan-loncatan listrik yang bermuatan ion,
baik ion positif dan ion negatif. Di dalam celah sinapsis ini juga terjadi pergantian
antara impuls yang satu dengan yang lain, sehingga diperlukan enzim kolinetarase
untuk menetralkan asetilkolin pembawa impuls yang ada. Dalam celah sinapsis
juga terdapat penyampaian impuls dengan bantuan zat kimia berupa asetilkolin
yang berperan sebagai pengirim (neurotransmitter/neurohumor).
Muatan listrik yang terjadi dalam satu axon akan memiliki muatan listrik yang
berbeda antara lapisan luar dan lapisan dalam axon.
1) Polarisasi yaitu keadaan istirahat pada sel neuron yang memperlihatkan
muatan listrik positif dibagian luar dan muatan listrik negative di bagian
dalam. Keadaan ini merupakan keadaan sel neuron yang tidak menerima
impuls/tidak adanya implus yang masuk.
2) Depolarisasi yaitu keadaan bekerjanya sel neuron yang memperlihatkan
muatan listrik positif di bagian dalam dan muatan listrik negative di bagian
luar. Keadaan ini merupakan keadaan sel neuron yang mendapatkan impuls
atau menerima implus.
1.2 Neuroglia
Disebut juga sel glia yang memberikan dukungan, nutrisi dan melindungi neuron.
Neuroglia merupakan suatu matriks jaringan penunjang khusus, fungsi neuroglia
diantaranya adalah memberi nutrisi pada sel saraf. Macam-macam neuroglia
diantaranya adalah astrosit, oligodendrogli, mikroglia, dan sel schwan.
1) Mikroglia adalah tipe dari sel glial yang merupakan sel imun pada sistem
saraf pusat. Mikroglia, sel glial terkecil dapat juga beraksi sebagai fagosit,
membersihkan debris sistem saraf pusat. Kebanyakan merupakan sebagai
representatif sistem imun otak dan medula spinalis.Mikroglia adalah sepupu
dekat sel fagosit lainnya, termasuk makrofaga dan sel dendritik. Mikroglia
memainkan beberapa peran penting dalam melindungi sistem saraf.

4
2) Astrosit atau Astroglia berfungsi sebagai sel pemberi makan bagi neuron
yang ada di dekatnya.
Astrosit dibedakan atas:
a) Astrosit dengan beberapa juluran panjang disebut astrosit fibrosa dan
berlokasi di substansia putih.
b) Astrosit protoplasmatis, dengan banyak cabang-cabang pendek ditemukan
dalam substansi kelabu.
c) Badan sel Astrosit berbentuk bintang dengan banyak tonjolan dan
kebanyakan berakhir pada pembuluh darah sebagai kaki perivaskular
atau foot processes.
3) Oligodendrosit merupakan sel glia yang berperan membentuk selaput mielin
dalam SSP. Sel ini mempunyai lapisan dengan substansi lemak yang
mengelilingi serabut-serabut akson sehingga terbentuk selubung mielin.
Dibanding astrosit, oligodendrosit mempunyai badan sel yang relatif lebih
kecil.
4) Sel Schwann sebagai neuron unipolar, sebagaimana oligodendrosit,
membentuk mielin dan neurolemma pada SST. Neurolema adalah membran
sitoplasma halus yang dibentuk oleh selsel Schwann yang membungkus
serabut akson neuron dalam SST, baik yang bermielin maupun tidak
bermielin. Neurolema merupakan struktur penyokong dan pelindung bagi
serabut akson.
Neuroglia secara struktur menyerupai neuron, tetapi neuroglia tidak dapat
menghantarkan impuls saraf, suatu fungsi yang merupakan bagian yang paling
berkembang pada neuron.
Perbedaan lain yang penting adalah neuroglia tidak pernah kehilangan
kemampuan untuk melakukan pembelahan. Kemampuan ini tidak dipunyai oleh
neuron, khususnya neuron dalam SSP. Karena alasan inilah kebanyakan tumor
tumor otak adalah Gliomas atau tumor yang berasal dari selsel glia.

5
2. Jenis Sistem Saraf
2.1 Sistem Saraf Sadar
2.2.1 SSP (Sistem Saraf Pusat)
a. Otak
Diselimuti oleh selaput otak yang disebut selaput meninges. Selaput
meninges terdiri dari 3 lapisan :
1) Lapisan durameter yaitu lapisan yang terdapat di paling luar dari
otak dan bersifat tidak kenyal. Lapisan ini melekat langsung
dengan tulang tengkorak. Berfungsi untuk melindungi jaringan-
jaringan yang halus dari otak dan medula spinalis.
2) Lapisan araknoid yaitu lapisan yang berada dibagian tengah dan
terdiri dari lapisan yang berbentuk jaring laba-laba. Ruangan dalam
lapisan ini disebut dengan ruang subaraknoid dan memiliki cairan
yang disebut cairan serebrospinal. Lapisan ini berfungsi untuk
melindungi otak dan medulla spinalis dari guncangan.
3) Lapisan piameter yaitu lapisan yang terdapat paling dalam dari
otak dan melekat langsung pada otak. Lapisan ini banyak memiliki
pembuluh darah. Berfungsi untuk melindungi otak secara langsung.
Otak dibagi menjadi beberapa bagian :
1. Cerebrum/Otak besar
Cerebrum merupakan bagian otak yang memenuhi sebagian besar
dari otak kita yaitu 7/8 dari otak. Mempunyai 2 bagian belahan
otak yaitu otak besar belahan kiri yang berfungsi mengatur
kegaiatan organ tubuh bagian kanan. Kemudian otak besar belahan
kanan yang berfungsi mengatur kegiatan organ tubuh bagian kiri.
Cerebrum terdiri dari koreteks serebri, basal ganglia dan
rheniensefalon.
1) Korteks serebri
Korteks serebri adalah lapisan permukaan hemisfer yang yang
disusun oleh subtansia grisea.Hemisfer otak dibagi dalam
beberapa lobus atau daerah sesuai dengan tulang kranium.
Lapisan korteks mempunyai 4 macam lobus yaitu :
Lobus frontal berfungsi sebagai pusat penciuman, indera
peraba.
Lobus temporal berungsi sebagai pusat pendengaran
6
Lobus oksipetal berfungsi sebagai pusat penglihatan.
Lobus parietal berfungsi sebagai pusat ingatan, kecerdasan,
memori, kemauan, nalar, sikap.
Fungsi korteks serebri :
a) Korteks muncul primer (area 4,6,8)
Mengontrol gerakan volunter otot dan tulang pada sisi
tubuh kontralateral
lesi area 4 akan mengakibatkan paralisis kontralateral
dari kumpulan otot yang disarafi
area 6 dan 8 pada perangsangan akan timbul gerakan
mata dan kepala
b) Korteks sensorik primer (3,4,5)
Penerima sensasi umum
Menerima serabut saraf
Terdapat homunkulus sensorik
c) Korteks visual (penglihatan) area 17
terletak dilobus oksipital pada fisura kalkarina
lesi iritatif menimbulkan halusinasi visual
lesi destruktif menimbulkan gangguan lapangan
pandang
menerima impuls dari radio-optika
d) Korteks auditorik (pendengaran) primer area 41
terletak pada transvers temporal girus di dasar visura
lateralis serebri
menerima impuls dari radiasioauditorik yang berasal
dari korpus genikulatum medialis
e) Area penghidu (area reaptif olfaktorius)
terletak di daerah yang berdekatan dengan girus
parahipotalamus lobus temporalis
kerusakan jalur olfaktorius menyebabkan anosmia
lesi iritasi menimbulkan halusinasi olfaktorius

f) Area asosiasi
korteks yang mempunyai hubungan dengan area
sensorik maupun motorik
kerusakan daerah asosiasi akan menimbulkan gangguan
dengan gejala yang sesuai dengan tempat kerusakan

7
2) Basal ganglia
Basal ganglia merupakan nuklei subkortikalis yang berasal dari
telensefalon. Basal ganglia terdiri dari beberapa elemen saraf
sebagai berikut :
a) nukleus kaudatus dan putamen
b) globus palidus
c) korpus amigdaloideum
d) secara fungsional basal ganglia merupakan satu satuan
fungsi dari :
e) nukleus kaudatus dan putamen
f) nuklesus subtalmikus
g) subtansia nigra
h) nukleus rubra
3) Rinensefalon
Rinensefalon merupakan bagian otak yang terdiri atas jaringan
alo-korteks yang melingkar sekeliling hilus hemisfer serebri
serta berbagai struktur lain yang lebih dalam yaitu amigdala,
hipokampus dan nuklei septal. Fungsi rinensefalon :
a) perilaku makan
b) bersama dengan talamus memerangi perilaku seksual,
emosi, serta motivasi
c) perubahan tekanan darah dan pernapasan
d) hiperfagia dan komnifagia
2. Mesencephalon/Otak tengah
Mesencephalon merupakan bagian otak yang terletak di depan
cerebellum dan jembatan varol. Berfungsi sebagai pusat
pengaturanan refleks mata, refleks penyempitan pupil mata dan
pendengaran.
3. Diencephalon/Otak depan
Diencephalon merupakan bagian otak yang terletak dibagian atas
dari batang otak dan di depan mesencephalon. Diencephalon terdiri
dari :
a) Talamus yang berfungsi untuk stasiun pemancar bagi impuls
yang sampai di otak dan medulla spinalis.

8
b) Hipotalamus yang berfungsi sebagai pusat pengaturan suhu
tubuh, selera makan dan keseimbangan cairan tubuh, rasa lapar,
daya sexualitas, watak, emosi.
c) Epitalamus
d) Nukleus subtalamus yang berfungsi sebagai nuklei penghubung,
nuklei asosiasi, dan nuklei proyeksi subkortikal
4. Cerebellum
Cerebellum merupakan bagian otak yang terletak di bagian
belakang otak besar. Berfungsi sebagai pusat pengaturan
koordinasi gerakan yang disadari dan keseimbangan tubuh serta
posisi tubuh.Terdapat 2 bagian belahan yaitu belahan cerebellum
bagian kiri dan belahan cerebellum bagian kanan yang
dihubungkan dengan jembatan varoli/ponds varoli yang berfungsi
untuk menghantarkan impuls dari kedua bagian cerebellum. Jadi
ponds varoli berfungsi sebagai penghantar impuls dari otot-otot
kiri dan kanan tubuh.

b. Medula
1) Medulla oblongata
Disebut juga dengan sumsum lanjutan atau penghubung atau
batang otak.Terletak langsung setelah otak dan menghubungkana
dengan medulla spinalis, di depan cerebellum.Susunan kortexmya
terdiri dari neeurit dan dendrite dengan warna putih dan bagian
medulla terdiri dari bdan sel saraf dengan warna kelabu.Berfungsi
sebagai pusat pengaturan ritme respirasi, denyut jantung,

9
penyempitan dan pelebaran pembuluh darah, tekanan darah, gerak
alat pencernaan, menelan, batuk, bersin,sendawa.
2) Medulla spinalis
Disebut juga dengan sumsum tulang belakang dan terletak di dalam
ruas-ruas tulang belakang yaitu ruas tulang leher sampai dengan
tulang pinggang yang kedua.Berfungsi sebagai pusat gerak refleks
dan menghantarkan impuls dari organ ke otak dan dari otak ke
organ tubuh.
2.2.2 SST (Susunan Saraf Tepi/Perifer)
1. Saraf Spinal
Saraf spinal berkembang dari serangkaian radiks saraf yang
berkumpul di lateral medula spinalis. Tiap saraf spinal terdiri atas
radiks dorsalis (sensori) dan radiks ventralis (motorik) yang
bergabung membentuk saraf spinal. Radiks dorsalis berasal
posterolateral medula spinalis. Radiks ventralis berasal dari
anterolateral medula spinalis. Terdapat 31 pasang saraf spinal : 8
pasang saraf servikal,12 pasang saraf torakal,5 pasang saraf lumbal, 5
pasang saraf sakral, dan 1 pasang saraf koksigeal. Area spesifik
reseptor sensorik tiap radik dorsalis disebut sebagai dermatom
sensoris.
Saraf tepi yang tersusun atas pleksus memiliki nama spesifik.
Terdapat tiga pleksus utama :
a. Pleksus servikalis, memberi inervasi otot dan kulit pada leher dan
bercabang untuk membentuk nervus frenikus yang menginervasi
diafragma
b. Pleksus barkhialis, memberi inervasi otot dan kulit pada bahu,
ketiak, lengan, lengan bawah, dan tangan.pleksus ini bercabang
untuk membentuk nervus ulnaris, radialis dan medianus.
c. Pleksus lumbosakral, memberi impuls sensorik dan motorik pada
otot dan kulit perineum, daerah gluteal, paha, betis dan kaki.
Pleksus ini bercabang banyak termasuk nervus pudendus,
gluteus,femoris, skiatikus, tibialis dan fibularis komunis.
2. Saraf Kranial
Dua belas pasang saraf kranial berasal dari otak. Kebanyakan saraf
kranial tersusun atas neuron motorik dan sensorik, walaupun ada saraf
kranial yang hanya membawa impuls sensorik. Kecuali saraf

10
olfaktorius dan optikus, yang memiliki nuklei di bawah serebrum,
semua nuklei saraf kranial terletak di batang otak.

Sifat dan fungsi saraf otak


Urutan Nama saraf Sifat saraf Memberikan saraf untuk dan
saraf fungsi saraf
I N. olfaktorius sensoris Hidung, sebagai alat
penciuman
II N. optikus sensoris Bola mata, untuk penglihatan
III N.okulomotarius motorik Penggerak bola mata dan
mengangkat kelopak mata
IV N. troklearis motorik Mata, memutar mata dan
penggerak bola mata
V N.trigeminus :
N. oftalmikus motorik dan sensorisKulit kepala dan kelopak
mata atas
N. maksilaris sensoris Rahang atas, palatum, dan
hidung
N. mandibularis motorik dan sensoris Rahang bawah dan lidah
VI N. abdusen motorik Mata, penggoyang sisi mata
VII N. fasialis motorik dan sensoris Otot lidah, penggerak sisi
lidah dan selaput lendir
rongga mulut
VIII N. auditorius sensoris Telinga, rangsangan
pendengaran
IX N. Sensoris dan motorik Faring, tonsil, dan lidah.
glosofaringe rangsangan cita rasa
us
X N. vagus Sensoris dan motorik Faring, laring, paru dan
esofagus
XI N. aksesorius motorik Leher dan otot leher
XII N. hipoglosus motorik Lidah, cita rasa, dan otot lidah

3. Sistem Saraf Otonom


Sistem saraf otonom merupakan sistem saraf yang cara kerjanya secara
tidak sadar/diluar kehendak/tanpa perintah oleh otak. Fungsi saraf
otonom mengatur motilitas dan sekresi pada kulit, pembuluh darah, dan
organ viseral dengan cara merangsang otot polos dan kelenjar eksokrin.
Saraf otonom dibedakan menjadi 2 bagian yaitu saraf simpatik dan
saraf parasimpatik yang keduanya bekerja secara antagonis/
berlawanan. Serabut SSA aferen berjalan di dalam beberapa saraf
spinal dan kranial. Kedua sistem ini sangat terintegrasi dan berinteraksi
satu sama lain untuk mempertahankan lingkungan dalam yang stabil.
11
Tidak seperti neuron somatik, yang biasanya merupakan neuron
tunggal menghubungkan SSP ke otot atau kelenjar, SSA memiliki 2
rantai neuron menuju ke organ efektor. Ujung neuron pertama terletak
di SSP dan bersinaps dengan serabut saraf yang memiliki badan sel
saraf di dalam ganglion otonom. Akson neuron kedua (serabut
postganglionik) membawa impuls ke visera target. Pengecualian pada
medula adrenal, yang diinervasi langsung oleh serabut preganglioner.
Medula sebenarnya terdiri atas neuron postganglionik yang
menghasilkan epinefrin ke alian darah selama deru adrenalin.
a) Sistem saraf simpatik
Mengkoordinasi aktivitas untuk menengani stress dan dirancang
untuk aksi sebagai suatu kesatuan periode pendek. Neuron
praganglionik dari sistem saraf simpatis berasal dari medula
spinalis melalui radiks motorik (ventralis) saraf torakal dan dua
saraf lumbal paling atas (T1-L2). Akon preganglionik pendek
sedangkan akson postganglionik panjang.
Saraf simpatik merupakan 25 pasang simpul saraf (ganglion) yang
terdapat di medulal spinalis. Disebut juga dengan sistem saraf
thorakolumbar karena saraf ini keluar dari vertebrae thorak ke-1
sampai ke-12 dan vertebrae kolumbar ke-1 sampai dengan ke-3.
Beberapa fungsi sistem saraf simpatik yaitu :
Mempercepat denyut jantung
Memperlebar pembuluh darah
Menghambat pengeluaran air mata
Memperluas/memperlebar pupil
Menghambat sekresi air ludah
Memperbesar bronkus
Mengurangi aktivitas kerja usus
Menghambat pembentukan urine
b) Sistem saraf parasimpatik
Saraf parasimpatik merupakan sistem saraf yang keluar dari daerah
otak. Terdiri dari 4 saraf otak yaitu saraf nomor III (okulomotorik),
nomor VII (Facial), nomor IX (glosofaring), nomor X (vagus).
Disebut juga dengan sistem saraf craniosakral karena saraf ini
keluar dari daerah cranial dan juga dearah sakral. Beberapa fungsi
sistem saraf parasimpatik yaitu :
Memperlambat denyut jantung
Mempersempit pembuluh darah
12
Memperlancar pengeluaran air mata
Memperkecil pupil
Memperlancar sekresi air ludah
Menyempitkan bronkus
Menambah aktivitas kerja usus
Merangsang pembentukan urine

BAB III
PENGKAJIAN SISTEM PERSARAFAN

A. Pengkajian Neurologis
Pengkajian neurologis dimulai saat pertemuan pertama. Percakapan dengan klien dan
keluarga adalah sumber yang amat penting dari data yang dibutuhkan untuk
13
mengevaluasi fungsi secara keseluruhan. Pemahaman tentang neuroanatomi dan
neurofisiologi sangat penting diketahui oleh perawat yang melakukan pengkajian
disamping keterampilan dan pengalaman lama dalam mengasuh klien dengan gangguan
neurologis dapat membantu perawat dalam melakukan pengkajian yang komprehensif.
Dalam pengumpulan informasi tersebut, perawat juga harus menanyakan pertanyaan
yang diarahkan untuk mendeteksi masalah-masalah neurologis dan efeknya pada klien.
Akan sangat membantu bila anggota keluarga atau teman juga ikut memberikan
informasi dan memperjelas respon klien.
Anamnesis secara umum dapat meliputi pengumpulan informasi tentang status
kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual,
kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup
klien.
Pengkajian umum neurologis meliputi identitats umum, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga yang
berhubungan dengan gangguan neurologis klien. Perawat perlu memahami proses
pengkajian tersebut dengan baik dan terstruktur agar pengkajian yang komprehensif
dapat tercapai.
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur (masalah disfungsi neurologis sering terjadi pada usia tua),
jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medis.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama pada klien gangguan sistem saraf biasanya akan terlihat bila sudah
terjadi disfungsi neurologis. Keluhan yang sering didapatkan meliputi kelemahan
anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat berkomunikasi, konvulsi
(kejang), sakit kepala yang hebat,nyeri otot, kaku kuduk, sakit punggung, tingkat
kesadaran menurun (GCS <15), ekstremitas dingin dan ekspresi rasa takut.
Bila klien mengeluh nyeri perlu ditinjau penilaian rasa nyeri dengan pengkajian
nyeri PQRST meliputi:
P (Provoking Incident)/ insidens pemicu : peristiwa yang menjadi faktor penyebab
nyeri, rasa nyeri yang berkurang apabila beristirahat, rasa nyeri yang bertambah
berat bila beraktifitas (agravation), aktifitas yang menyebabkan nyeri bertambah
(saat batuk, bersin, berdiri, dan berjalan). Pada umumnya nyeri akan bertambah
berat apabila ada gerakan setempat dan berkurang apabila beristirahat.
Q (Quality of Pain) : rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien (apakah
seperti terbakar, berdenyut, tajam atau menusuk).

14
R (Region, Radiation, Relief) : lokasi nyeri harus ditunjukkan dengan tepat oleh
klien (apakah rasa sakit bisa reda, menjalar atau menyebar). Tekanan pada saraf atau
akar saraf akan memberikan gejala nyeri yang disebut radiating pain misalnya pada
skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari bokong sampai dengan anggota gerak
bawah sesuai dengan distribusi saraf. Nyeri lain yang disebut nyeri kiriman
(referred pain) adalah nyeri pada suatu tempat yang sebenarnya akibat kelainan dari
tempat lain misalnya nyeri lutut akibat kelainan pada sendi panggul.
S (Severity) Scale of Pain : sebesar apa rasa nyeri yang dirasakan klien,bisa
berdasarkan skala nyeri atau gradasi dan klien menerangkan sejauh mana rasa sakit
memengaruhi kemampuan fungsinya.
T (Time) : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari.
3. Riwayat Penyakit
Pengkajian dengan melakukan anamnesa atau wawancara untuk menggali
masalah keperawatan lainnya yang dilaksanakan perawat adalah mengkaji riwayat
kesehatan klien. Dalam wawancara awal, perawat berusaha mendapatkan gambaran
umum status kesehatan klien. Perawat memperoleh data subjektif dari klien
mengenai onset (awitan) masalahnya dan bagaimana penanganan yang sudah
dilakukan. Persepsi dan harapan klien mengenai masalah kesehatan dapat
mempengaruhi perbaikan kesehatan. Riwayat yang mendukung keluhan utama perlu
dikaji perawat agar pengkajian lebih komprehensif mendukung terhadap keluhan
yang paling aktual yang dirasakan klien.

4. Riwayat Penyakit Saat Ini


Riwayat penyakit saat ini merupakan serangkaian wawancara yang dilakukan
perawat untuk menggali permasalahan klien dari timbulnya keluhan utama pada
gangguan sistem persarafan sampai pada saat pengkajian. Disini diperlukan
keahlian, pengetahuan, dan pengalaman dari perawat dalam menyusun setiap
pertanyaan yang sistematis agar dapat mendukung bagaimana keluhan utama
menjadi muncul. Sebagai contoh jika keluhan utama nyeri maka perlu diuraikan
bagaimana proses nyeri tersebut terjadi, hal yang ditanyakan pada riwayat penyakit
sekarang meliputi pengkajian nyeri secara PQRST. Apabila klien sudah lama dirawat
dirumah sakit atau pindahan dari ruangan lain maka penting ditanyakan apakah
keluhan utama masih sama seperti pada saat masuk rumah sakit, kemudian diuraikan
bagaimana tindakan dan pengobatan yang sudah didapat oleh klien.

15
Pada gangguan neurologis, riwayat penyakit sekarang yang mungkin didapatkan
meliputi adanya riwayat utama, riwayat jatuh, keluhan mendadak lumpuh pada saat
klien sedang melakukan aktifitas, keluhan pada gastrointestinal (mual dan muntah),
bahkan kejang sampai tidak sadar. Selain itu didapatkan pula gejala kelumpuhan
separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain seperti gelisah, letargi, lelah,
apatis, perubahan pupil, pemakaian obat-obatan (sedatif, antipsikotik, perangsang
saraf) dan lainnya.
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian riwayat penyakit dahulu dalam menggali permasalahan yang
mendukung masalah saat ini pada klien dengan defisit neurologis sangat penting.
Pertanyaan sebaiknya diarahkan pada penyakit-penyakit yang dialami sebelumnya
yang kemungkinan mempunyai hubungan dengan masalah yang dialami klien
sekarang.
Beberapa pertanyaan yang mengarah pada riwayat penyakit dahulu dalam
pengkajian neurologis meliputi :
1) Apakah klien menggunakan obat-obat seperti analgesik, sedatif, hipnotis,
antipsikotik, antidepresi atau perangsang sistem saraf.
2) Apakah klien pernah mengeluhkan gejala sakit kepala, kejang, tremor, pusing,
vertigo, kebas atau kesemutan pada bagian tubuh, kelemahan, nyeri, atau
perubahan dalam bicara di masa lalu.
3) Jika klien telah mengalami salah satu dari gejala diatas, gali lebih terperinci.
Sebagai contoh, pada kejang, tentukan rangkaian peristiwa (aura, jatuh ke tanah,
menangis, aktifitas motorik, fase transisi, hilangnya kesadaran, inkontinensia dan
lamanya kejang). Pada kasus vertigo atau pusing, tentukan serangan, sensasi dan
gejala yang berhubungan.
4) Diskusikan dengan pasangan klien, anggota keluarga atau temannya mengenai
perubahan perilaku klien akhir-akhir ini misalnya peningkatan iritabilitas,
perubahan suasana hati atau kehilangan ingatan.
5) Perawat sebaiknya bertanya tentang perubahan penglihatan, pendengaran,
penciuman, perabaan dan pengecapan.
6) Apakah klien pernah mengalami riwayat trauma kepala atau tulang belakang,
meningitis, kelainan kongenital, penyakit neurologis, atau konseling psikiatri.
7) Perlu ditanyakan apakah klien pernah mengalami peningkatan kadar gula darah
dan tekanan darah tinggi.
8) Apakah klien mempunyai riwayat tumor, baik yang ganas maupun jinak pada
sistem persarafan. Hal ini perlu ditanyakan karena kemungkinan ada

16
hubungannya dengan keluhan sekarang yang dapat memberikan metastasis ke
sistem saraf pusat dengan segala komplikasinya.
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Anamnesis akan adanya riwayat penyakit keluarga yang menderita hipertensi
ataupun diabetes mellitus yang memberikan hubungan dengan beberapa masalah
disfungsi neurologis seperti masalah stroke hemoragik dan neuropati perifer.
7. Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual
Pengkajian psikologis klien meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan
perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan
perilaku klien. Perawat mengumpulkan pemeriksaan awal klien tentang kapasitas
fisik dan intelektual saat ini, yang menentukan tingkat perlunya pengkajian psiko-
sosio-spritual yang seksama. Suatu pemeriksaan mental kecil yang meliputi
penampilan, perilaku, afek, suasana hati, lafal, isi dan kecepatan berpikir, persepsi
dan kognitif.
Pengkajian status emosional dan mental secara fisik lebih banyak termasuk
pengkajian fungsi serebri meliputi tingkat kesadaran klien, perilaku dan penampilan,
bahasa dan fungsi inetelektual (termasuk ingatan, pengetahuan, kemampuan berpikir
abstrak, asosiasi dan penilaian). Sebagian besar pengkajian ini dapat diselesaikan
melalui interaksi menyeluruh dengan klien dalam pelaksanaan pengkajian lain
dengan memberi pertanyaan dan tetap melakukan pengawasan sepanjang waktu
untuk menentukan kelayakan ekspresi emosi dan pikiran.
8. Kemampuan Koping Normal
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk menilai
respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien seperti ketakutan akan kecacatan,
rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Pengkajian mengenai
mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien selama masa stress
meliputi :
1) Kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang telah
diketahui.
Apakah klien mengalami situasi krisis atau kehilangan ?
Adakah penerimaan atau penolakan terhadap hal tersebut ?
Apakah klien bertanya atau meminta informasi mengenai masalah ?

17
Selama diskusi, apakah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan
masalah ?
2) Perubahan perilaku akibat stress
Apakah afek atau alam perasaan klien menunjukkan kecemasan (gelisah,
insomnia, kontak mata kurang baik, gemetar, wajah tegang) atau depresi
(afek tumpul, tak berdaya, rasa bersalah, ketidakmampuan bicara, apatis,
penurunan harga diri)?
Apakah telah ada perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan
beraktifitas ?
Apakah klien mempunyai kesulitan berkonsentrasi terhadap tugas, tetap
produktif, atau menyelesaikan hal-hal kecil ?
Apakah klien mempunyai kecenderungan menunjukkan ledakan emosional
yang tidak beralasan ?

3) Sumber koping
Apakah klien mampu meminta pertolongan ?
Pada siapa klien bergantung selama krisis ? Apakah ada ?
Metode koping apakah yang terbaik bagi klien selama stress ?
Berapa lama waktu klien secara normal mengatasi suatu krisis ?
9. Pengkajian Sosio-Ekonomi-Spiritual
Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi
dampak pada status ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan
memerlukan dana yang tidak sedikit. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap
fungsi neurologis dengan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya
hidup individu. Perspektik keperawatan dalam mengkaji terdiri dari dua masalah,
yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh defisit neurologis dalam hubungannya
dengan peran sosial klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi
pada gangguan neurologis didalam sistem pendukung individu.
Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu perawat untuk menggali lebih
dalam pada pengkajian ini (Potter, 1996) :
d. Kesehatan spiritual meliputi konsep klien mengenai Tuhan.
Apakah klien mempunyai sumber pengharapan, kenyamanan, atau
kekuatan ?
Ibadah spiritual apa yang penting menurut klien ?
Apakah klien melihat hubungan antara kepercayaan spiritualnya dengan
status kesehatan atau situasi hidup saat ini ?
Apakah klien membicarakan pentingnya hadir ke tempat ibadah atau
melaksanakan acara ritual lain ?
18
Apakah klien mempunyai kitab suci atau benda religius dalam ruangan
klien ?
e. Identifikasi ras, budaya dan suku bangsa.
Apakah latar belakang budaya klien ?
Apakah klien mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia (nasional) atau
perlu penerjemah ?
Apakah nilai kebudayaan klien terutama yang berhubungan dengan pencarian
pelayanan kesehatan ?
Apakah ketabuan budaya atau acara tabu yang klien ikuti ?
Apakah sistem sehat-sakit (perawat, ahli neurologi, kebatinan, dukun) atau
kepercayaan rakyat yang klien gunakan ?
Sejauh mana penyakit dan perawatan di rumah sakit memengaruhi
kemampuan klien untuk mengikuti norma budaya ?
f. Pekerjaan
Apakah pekerjaan klien ?
Sejauh mana klien senang terhadap pekerjaannya ?
Apakah penyakit atau perawatan di rumah sakit mengancam pekerjaan
klien ?
Pada tingkat stress mana dialami klien saat bekerja ?
g. Hubungan Keluarga
Siapa saja yang klien anggap sebagai anggota keluarga ?
Bagaimana hubungan klien dengan pasangan, orang tua, saudara dan teman?
Bagaimana pembagian tugas dalam keluarga ?
Berapa lama klien telah menikah, menjanda/menduda, atau cerai ?
Adakah anggota keluarga dekat yang baru meninggal ?
Siapakah yang klien cari untuk mendapatkan dukungan ?
Bagaimana keluarga secara normal mengatasi stress saat ini ?
Apakah anggota keluarga menghormati pandangan setiap anggota lainnya ?
10. Pengertian Klien tentang Masalah Kesehatan
Hal ini memperlihatkan tingkat penerimaan, tingkat intelektual dan kemampuan
untuk melaksanakan keperawatan mandiri klien.
1) Persepsi klien tentang masalah kesehatan
Apakah klien mempunyai pengertian yang akurat mengenai masalah
kesehatan ?
Apakah klien mengerti beratnya masalah ?
Seberapa besar tingkat pengertian klien terhadap perawatan sekarang dan
yang akan dilakukan ?
2) Perilaku terhadap tim perawatan kesehatan
Siapakah pemberi perawatan kesehatan utama pada klien ?
Apakah nilai dan perilaku klien terhadap pemberi perawatan kesehatan ?
Apakah klien secara normal mencari keperawatan pencegahan ?
Seberapa sering klien melakukan pemeriksaan kesehatan ?
19
3) Kepatuhan terhadap terapi
Apakah terapi saat ini yang diberikan untuk masalah kesehatan klien ?
Apakah klien telah mengikuti serangkaian terapi ?
Apakah klien mampu membayar terapi ?
Apakah klien mempunyai transportasi ke tempat terapi tersebut ?
Apakah klien menderita gangguan kognitif atau fisik yang menghalangi
pemenuhan terapi ?

Pertimbangan Gerontologik
Pengkajian psikososial pada orang lanjut usia meliputi pembedaan antara
karakteristik normal dan yang menyimpang dari proses penuaan dan kondisi
patologis.
Pertimbangkan bidang kepuasan sehari-hari klien
Siapakah sumber pendukung utama klien ?
Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi persepsi klien mengenai peristiwa saat
ini
Tanyakan harapan atau aspirasi klien yang tidak terpenuhi
Kumpulkan data pengkajian melalui pertemuan yang singkat dan terus-menerus
Pusatkan wawancara pada kekuatan dan keterampilan klien bukan kekurangan
klien

B. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Umum
a. Sensorium (kesadaran)
Tingkat kesadaran dibagi menjadi beberapa yaitu :
Normal : kompos mentis
Somnolen : : Keadaan mengantuk. Kesadaran dapat pulih penuh bila
dirangsang. Somnolen disebut juga sebagai letargi. Tingkat kesadaran ini
ditandai oleh mudahnya pasien dibangungkan, mampu memberi jawaban
verbal dan menangkis rangsang nyeri.
Sopor (stupor) : Kantuk yang dalam. Pasien masih dapat dibangunkan
dengan rangsang yang kuat, namun kesadarannya segera menurun lagi. Ia
masih dapat mengikuti suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan
spontan. Dengan rangsang nyeri pasien tidak dapat dibangunkan sempurna.
Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. Tidak dapat diperoleh
jawaban verbal dari pasien. Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri
masih baik.

20
Koma ringan (semi-koma) : Pada keadaan ini tidak ada respons terhadap
rangsang verbal. Refleks ( kornea, pupil dsb) masih baik. Gerakan terutama
timbul sebagai respons terhadap rangsang nyeri. Pasien tidak dapat
dibangunkan.
Koma (dalam atau komplit) : Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada
jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya.
b. Skala Koma Glasgow
Untuk mengikuti perkembangan tingkat kesadaran dapat digunakan skala koma
Glasgow yang memperhatikan tanggapan (respon) penderita terhadap rangsang
dan memberikan nilai pada respon tersebut. Tanggapan/respon penderita yang
perlu diperhatikan adalah:
Refleks membuka mata (E)
4 : Membuka secara spontan
3 : Membuka dengan rangsangan suara
2 : Membuka dengan rangsangan nyeri
1 : Tidak ada respon
Refleks verbal (V)
5 : Orientasi baik
4 : Kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan.
3 : Kata-kata baik tapi kalimat tidak baik
2 : Kata-kata tidak dapat dimengerti, hanya mengerang
1 : Tidak keluar suara
Refleks motorik (M)
6 : Melakukan perintah dengan benar
5 : Mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukaan perintah dengan benar
4 : Dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi
3 : Hanya dapat melakukan fleksi
2 : Hanya dapat melakukan ekstensi
1 : Tidak ada gerakan
c. Tekanan darah
d. Frekuensi nadi
e. Frekuensi nafas
f. Suhu

21
2. Pemeriksaan Neurologis
a. Kepala dan Leher
- Bentuk : simetris atau asimetris
- Fontanella : tertutup atau tidak
- Transiluminasi
b. Rangsang meningeal
- Kaku kuduk : Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb : Tangan
pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring,
kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.
Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita
dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat
bersifat ringan atau berat
- Kernig sign : Pada pemeriksaan ini, pasien yang sedang berbaring difleksikan
pahanya pada persendian panggul sampai membuat sudut 90. Setelah itu
tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut
lebih dari 135 terhadap paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum
atau kurang dari sudut 135, maka dikatakan Kernig sign positif.
- Brudzinski I (Brudzinskis neck sign)
Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan
dibawah kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu
lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan
kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. Test ini
adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi
lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik.
- Brudzinski II (Brudzinskis contralateral leg sign)
Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada
sendi lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila
timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada
sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif.
- Lasegue sign : Untuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang berbaring
lalu kedua tungkai diluruskan (diekstensikan), kemudian satu tungkai diangkat
lurus, dibengkokkan (fleksi) persendian panggulnya. Tungkai yang satu lagi
harus selalu berada dalam keadaan ekstensi (lurus). Pada keadaan normal
dapat dicapai sudut 70 sebelum timbul rasa sakit dan tahanan. Bila sudah
timbul rasa sakit dan tahanan sebelum mencapai 70 maka disebut tanda

22
Lasegue positif. Namun pada pasien yang sudah lanjut usianya diambil
patokan 60.
c. Saraf-saraf otak
Nervus I (olfaktorius)
- Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan.
- Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam.
- Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka.
- Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak sesuai
misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng.
- Kakosmia adalah mempersepsi adanya bau busuk, padahal tidak ada.\
- Halusinasi penciuman adalah bila tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa
adanya perangsangan maka kesadaran akan suatu jenis bau ini
Nervus II (optikus)
- Tajam penglihatan : membandingkan ketajaman penglihatan pemeriksa dengan
jalan pasien disuruh melihat benda yang letaknya jauh misal jam didinding,
membaca huruf di buku atau koran.
- Lapangan pandang : yang paling mudah adalah dengan munggunakan metode
Konfrontasi dari Donder. Dalam hal ini pasien duduk atau berdiri kurang lebih
jarak 1 meter dengan pemeriksa, Jika kita hendak memeriksa mata kanan maka
mata kiri pasien harus ditutup, misalnya dengan tangannya pemeriksa harus
menutup mata kanannya. Kemudian pasien disuruh melihat terus pada mata
kiri pemeriksa dan pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien.
Setelah pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara
pemeriksa dan pasien dan gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. Jika
pasien mulai melihat gerakan jari jari pemeriksa, ia harus memberitahu, dan
hal ini dibandingkan dengan pemeriksa, apakah iapun telah melihatnya. Bila
sekiranya ada gangguan kampus penglihatan (visual field) maka pemeriksa
akan lebih dahulu melihat gerakan tersebut. Gerakan jari tangan ini dilakukan
dari semua jurusan dan masing masing mata harus diperiksa.
- Melihat warna
- Refleks ancaman
- Refleks pupil
Nervus III (okulomotorius)
- Pergerakan bola mata ke arah : atas, atas dalam, atas luar, medial, bawah,
bawah luar.
- Diplopia (melihat kembar)
- Strabismus (juling)
- Nistagmus (gerakan bola mata diluar kemauan pasien)
23
- Eksoftalmus (mata menonjol keluar)
- Pupil : lihat ukuran, bentuk dan kesamaan antara kiri dan kanan
- Refleks pupil (refleks cahaya)
Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil. Normal, akibat
adanya cahaya maka pupil akan mengecil (miosis). Perhatikan juga apakah pupil
segera miosis, dan apakah ada pelebaran kembali yang tidak terjadi dengan
segera.
Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil. Cahaya ditujukan pada satu
pupil, dan perhatikan pupil sisi yang lain.
- Rima palpebral
- Deviasi konjugae
Nervus IV (trochlearis)
- Pergerakan bola mata ke bawah dalam
Nervus V (trigeminus)
- Pemeriksaan motorik : membuka dan menutup mulut; palpasi otot maseter dan
temporalis; kekuatan gigitan.
Cara :
1. Pasien diminta merapatkan gigi sekuatnya, kemudian meraba
M. masseter dan M. temporalis. Normalnya kiri dan kanan kekuatan, besar
dan tonusnya sama.
2. Pasien diminta membuka mulut dan memperhatikan apakah ada
deviasi rahang bawah, jika ada kelumpuhan maka dagu akan terdorong
kesisi lesi. Sebagai pegangan diambil gigi seri atas dan bawah yang harus
simetris.Bila terdapat parese disebelah kanan, rahang bawah tidak dapat
digerakkan kesamping kiri. Cara lain pasien diminta mempertahankan
rahang bawahnya kesamping dan kita beri tekanan untuk mengembalikan
rahang bawah keposisi tengah.
- Pemeriksaan sensorik : dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan
suhu, kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi, pipi dan rahang bawah.
- Refleks kornea : Kornea disentuh dengan kapas, bila normal pasien akan
menutup matanya atau menanyakan apakah pasien dapat merasakan.
- Refleks masseter : Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada
bagian tengah dagu, lalu pasien dalam keadaan mulut setengah membuka
dipukul dengan hammer reflex normalnya didapatkan sedikit saja gerakan,
malah kadang kadang tidak ada. Bila ada gerakan hebat yaitu kontraksi M.

24
masseter, M. temporalis, M. pterygoideus medialis yang menyebabkan mulut
menutup ini disebut refleks meninggi.
- Refleks bersin : menggunakan kapas.
Nervus VI (abdusens)
- Pergerakan bola mata ke lateral
Nervus VII (fasialis)
- Pemeriksaan fungsi motorik : mengerutkan dahi (dibagian yang lumpuh
lipatannya tidak dalam), mimik, mengangkat alis, menutup mata (menutup
mata dengan rapat dan coba buka dengan tangan pemeriksa), moncongkan
bibir atau menyengir, memperlihatkan gigi, bersiul (suruh pasien bersiul,
dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan apakah sama kuat. Bila
ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian sisi yang lumpuh)
- Pemeriksaan fungsi sensorik :
2/3 bagian depan lidah : Pasien disuruh untuk menjulurkan
lidah, kemudian pada sisi kanan dan kiri diletakkan gula, asam,garam atau
sesuatu yang pahit. Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik
kertas. Bahannya adalah: glukosa 5 %, NaCl 2,5 %, asam sitrat 1 %, kinine
0,075 %.
Sekresi air mata : Dengan menggunakan Schirmer test (lakmus
merah). Ukuran : 0,5 cm x 1,5 cm. Warna berubah jadi biru; normal: 1015
mm (lama 5 menit).
Nervus VIII (vestibulo-koklearis)
- Pemeriksaan fungsi n. koklearis untuk pendengaran
Pemeriksaan Weber : Maksudnya membandingkan transportasi
melalui tulang ditelinga kanan dan kiri pasien. Garputala ditempatkan
didahi pasien, pada keadaan normal kiri dan kanan sama keras (pasien tidak
dapat menentukan dimana yang lebih keras). Pendengaran tulang mengeras
bila pendengaran udara terganggu, misal: otitis media kiri, pada test Weber
terdengar kiri lebih keras. Bila terdapat nerve deafness disebelah kiri,
pada test Weber dikanan terdengar lebih keras.
Pemeriksaan Rinne : Maksudnya membandingkan pendengaran
melalui tulang dan udara dari pasien. Pada telinga yang sehat, pendengaran
melalui udara didengar lebih lama daripada melalui tulang. Garputala
ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak dapat mendengarnya

25
lagi. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. Jika pada
posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positip. Pada orang
normal test Rinne ini positif. Pada conduction deafness test Rinne negatif.
Pemeriksaan Schwabah : Pada test ini pendengaran pasien
dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa yang dianggap normal. Garpu
tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan didekat telinga pasien. Setelah
pasien tidak mendengarkan bunyi lagi, garpu tala ditempatkan didekat
telinga pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa, maka
dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek (untuk konduksi udara).
Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada
tulang mastoid pasien. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. Bila sudah tidak
mendengar lagi maka garpu tala diletakkan di tulang mastoid pemeriksa.
Bila pemeriksa masih mendengar bunyinya maka dikatakan Schwabach
(untuk konduksi tulang) lebih pendek.
- Pemeriksaan fungsi n. vestibularis untuk keseimbangan
Pemeriksaan dengan tes kalori
Bila telinga kiri didinginkan (diberi air dingin) timbul nystagmus kekanan.
Bila telinga kiri dipanaskan (diberi air panas) timbul nistagmus kekiri.
Nystagmus ini disebut sesuai dengan fasenya yaitu fase cepat dan fase
pelan, misalnya nystagmus kekiri berarti fase cepat kekiri. Bila ada
gangguan keseimbangan maka perubahan temperatur dingin dan panas
memberikan reaksi.
Pemeriksaan past pointing test
Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya,
kemudian dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengulangi.
Normalnya pasien harus dapat melakukannya.
Tes Romberg
Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki
yang lainnya. Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya,
lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. Orang yang normal
mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau
lebih.
Stepping test

26
Pasien disuruh berjalan ditempat, dengan mata tertutup, sebanyak 50
langkah dengan kecepatan seperti jalan biasa. Selama test ini pasien diminta
untuk berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya
selama test berlangsung. Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien
beranjak lebih dari 1 meter dari tempatnya semula, atau badan terputar lebih
dari 30 derajat.
Nervus IX
- Pemeriksaan motorik : disfagia, palatum molle, uvula, disfonia, refleks
muntah.
Cara 1 : Pasien diminta untuk membuka mulut dan mengatakan huruf a. Jika
ada gangguan maka otot stylopharyngeus tak dapat terangkat dan menyempit
dan akibatnya rongga hidung dan rongga mulut masih berhubungan sehingga
bocor. Jadi pada saat mengucapkan huruf a dinding pharynx terangkat
sedang yang lumpuh tertinggal, dan tampak uvula tidak simetris tetapi tampak
miring tertarik kesisi yang sehat
Cara 2 : Pemeriksa menggoreskan atau meraba pada dinding pharynx kanan
dan kiri dan bila ada gangguan sensibilitas maka tidak terjadi refleks muntah.
- Pemeriksaan sensorik : pengecapan 1/3 belakang lidah
Nervus X
Pemeriksaan bersamaan dengan nervus IX.
Nervus XI
- Memeriksa tonus m. sternocleidomastoideus : Dengan menekan pundak pasien
dan pasien diminta untuk mengangkat pundaknya.
- Memeriksa tonus m. trapezius : Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan
kekiri dan ditahan oleh pemeriksa , kemudian dilihat dan diraba tonus dari m.
sternocleidomastoideus.
Nervus XII
Dengan adanya gangguan pergerakan lidah, maka perkataan-perkataan tidak
dapat diucapkan dengan baik, hal demikian disebut: dysarthria. Dalam keadaan
diam lidah tidak simetris, biasanya tergeser kedaerah lumpuh karena tonus disini
menurun. Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit.
Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah. Kekuatan otot lidah
dapat diperiksa dengan menekan lidah kesamping pada pipi dan dibandingkan
kekuatannya pada kedua sisi pipi.
27
3. Pemeriksaan Sistem Motorik
Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu
untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan.
a. Pengamatan
- Gaya berjalan dan tingkah laku.
- Simetri tubuh dan ektremitas.
- Kelumpuhan badan dan anggota gerak, dll.
b. Gerakan volunter
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:
- Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.
- Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.
- Mengepal dan membuka jari-jari tangan.
- Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul.
- Fleksi dan ekstensi artikulus genu.
- Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.
- Gerakan jari- jari kaki.
c. Palpasi otot
- Pengukuran besar otot.
- Nyeri tekan.
- Kontraktur.
- Konsistensi (kekenyalan).
- Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada:
Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal: meningitis, HNP
Kelumpuhan jenis UMN (spastisitas)
Gangguan UMN ekstrapiramidal (rigiditas)
Kontraktur otot
- Konsistensi otot yang menurun terdapat pada
Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot.
Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di motor end plate
d. Perkusi otot
- Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan
berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja.
- Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (biasanya terdapat
pada pasien mixedema, pasien dengan gizi buruk).
- Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh
karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa.
e. Tonus otot
- Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian
ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku
dan lutut. Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar.
- Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan LMN).
28
- Hipotoni : tahanan berkurang.
- Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan, ini dijumpai pada
kelumpuhan UMN.
- Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson.

f. Kekuatan otot
- Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada
dua cara:
Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan
pemeriksa menahan gerakan ini.
Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia
disuruh menahan.
- Cara menilai kekuatan otot:
0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total.
1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada
persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat
(gravitasi).
3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit
tahanan yang diberikan.
5 : Tidak ada kelumpuhan (normal)
4. Sistem Sensibilitas
- Eksteroseptif : terdiri atas rasa nyeri, rasa suhu dan rasa raba.
Rasa nyeri bisa dibangkitkan dengan berbagai cara, misalnya dengan menusuk
menggunakan jarum, memukul dengan benda tumpul, merangsang dengan api
atau hawa yang sangat dingin dan juga dengan berbagai larutan kimia.
Rasa suhu diperiksa dengan menggunakan tabung reaksi yang diisi dengan air es
untuk rasa dingin, dan untuk rasa panas dengan air panas. Penderita disuruh
mengatakan dingin atau panas bila dirangsang dengan tabung reaksi yang berisi
air dingin atau air panas. Untuk memeriksa rasa dingin dapat digunakan air yang
bersuhu sekitar 10-20 C, dan untuk yang panas bersuhu 40-50 C. Suhu yang
kurang dari 5 C dan yang lebih tinggi dari 50 C dapat menimbulkan rasa-nyeri.
Rasa raba dapat dirangsang dengan menggunakan sepotong kapas, kertas atau
kain dan ujungnya diusahakan sekecil mungkin. Hindarkan adanya tekanan atau
29
pembangkitan rasa nyeri. Periksa seluruh tubuh dan bandingkan bagian-bagian
yang simetris.
- Proprioseptif : rasa raba dalam (rasa gerak, rasa posisi/sikap, rasa getar dan rasa
tekanan)
Rasa gerak : pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan
jempol jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah maupun kesamping
kanan dan kiri, kemudian pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol
nya berada diatas atau dibawah atau disamping kanan/kiri.
Rasa sikap : Tempatkan salah satu lengan/tungkai pasien pada suatu posisi
tertentu, kemudian suruh pasien untuk menghalangi pada lengan dan tungkai.
Perintahkan untuk menyentuh dengan ujung ujung telunjuk kanan, ujung jari
kelingking kiri dsb.
Rasa getar : Garpu tala digetarkan dulu/diketuk pada meja atau benda keras lalu
letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien dan mintalah pasien menjawab untuk
merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut.
- Diskriminatif : daya untuk mengenal bentuk/ukuran; daya untuk
mengenal/mengetahui berat sesuatu benda dsb.
Rasa gramestesia : untuk mengenal angka, aksara, bentuk yang digoreskan diatas
kulit pasien, misalnya ditelapak tangan pasien.
Rasa barognosia : untuk mengenal berat suatu benda.
Rasa topognosia : untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien.
5. Refleks
a. Refleks fisiologis
- Biseps
Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon
m. biseps brachii, posisi lengan setengah ditekuk pada
sendi siku.
Respons : fleksi lengan pada sendi siku.
Afferent : n. musculucutaneus (C5-6)
Efferenst : idem
- Triseps
Stimulus : ketukan pada tendon otot triseps brachii, posisi lengan fleksi
pada sendi siku dan sedikit pronasi.
Respons : extensi lengan bawah disendi siku

30
Afferent : n. radialis (C 6-7-8)
Efferenst : idem
- KPR
Stimulus : ketukan pada tendon patella
Respons : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m. quadriceps
emoris.
Efferent : n. femoralis (L 2-3-4)
Afferent : idem
- APR
Stimulus : ketukan pada tendon achilles
Respons : plantar fleksi kaki karena kontraksi m. gastrocnemius
Efferent : n. tibialis ( L. 5-S, 1-2 )
Afferent : idem
- Periosto-radialis
Stimulus : ketukan pada periosteum ujung distal os radii, posisi lengan
setengah fleksi dan sedikit pronasi
Respons : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena
kontraksi m. brachioradialis
Afferent : n. radialis (C 5-6)
Efferenst : idem
- Periosto-ulnaris
Stimulus : ketukan pada periosteum proc. styloigeus ulnea, posisi
lengan setengah fleksi & antara pronasi supinasi.
Respons : pronasi tangan akibat kontraksi m. pronator quadratus
Afferent : n. ulnaris (C8-T1)
Efferent : idem
b. Refleks patologis
- Babinski
Stimulus : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior.
Respons : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan (fanning) jari jari kaki.
- Chaddock
Stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral, sekitar malleolus
lateralis dari posterior ke anterior.
Respons : seperti babinski
31
- Oppenheim
Stimulus : pengurutan crista anterior tibiae dari proksimal ke distal
Respons : seperti babinski
- Gordon
Stimulus : penekanan betis secara keras
Respons : seperti babinski
- Schaeffer
Stimulus : memencet tendon achilles secara keras
Respons : seperti Babinski
- Gonda
Stimulus : penekukan ( planta fleksi) maksimal jari kaki keempat
Respons : seperti babinski
- Hoffman
Stimulus : goresan pada kuku jari tengah pasien
Respons : ibu jari, telunjuk dan jari jari lainnya berefleksi
- Tromner
Stimulus : colekan pada ujung jari tengah pasien
Respons : seperti Hoffman
6. Koordinasi
Termasuk dalam pemeriksaan koordinasi :
- Lenggang
- Bicara : berbicara spontan, pemahaman, mengulang, menamai.
- Menulis : mikrografia pada Parkinsons disease
- Percobaan apraksia : ketidakmampuan dalam melakukan tindakan yang terampil :
mengancing baju, menyisir rambut, dan mengikat tali sepatu
- Mimik
- Tes telunjuk : pasien merentangkan kedua lengannya ke samping sambil menutup
mata. Lalu mempertemukan jari-jarinya di tengah badan.
- Tes telunjuk-hidung : pasien menunjuk telunjuk pemeriksa, lalu menunjuk
hidungnya.
- Disdiadokokinesis : kemampuan melakukan gerakan yang bergantian secara cepat
dan teratur.
- Tes tumit-lutut : pasien berbaring dan kedua tungkai diluruskan, lalu pasien
menempatkan tumit pada lutut kaki yang lain.

32
BAB IV
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
33
Batticaca, Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika

Black M.J, Hawks J.H. 2014. Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis untuk Hasil yang
Diharapkan. Edisi 8. Buku 2. Jakarta: CV Pentasada Media Edukasi.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika.

Morton, G. Patricia. 2005. Panduan Pemeriksaan Kesehatan dengan Dokumentasi SOAPIE.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Price, Sylvia Anderson dan Lorraine McCarty Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit; alih bahasa, Brahm U. Pendit, dkk; editor edisis bahasa Indonesia,
Huriawan Hertanto, dkk. Volume 2. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

34