Anda di halaman 1dari 12

Asal Usul Kelompok Hewan (Perkembangan

Keanekaragaman Vertebrata)
Posted by Mahmuddin pada Agustus 27, 2012

Menurut Campbell (2003), para ahli palaentologi telah menemukan fosil invertebrate yang
menyerupai cephalochordate di Kanada. Fosil tersebut diperkirakan berusia 545 juta tahun,
atau sekitar 50 juta tahuan lebih tua dibandingkan dengan vertebrata tertua yang telah
diketahui. Banyak ahli biologi berpendapat bahwa nenek moyang vertebrata adalah hewan
yang makan dengan mengambil suspensi, mirip dengan cephalochordate, dan memiliki
keempat cirri dasar chordata yaitu notokord, tali saraf dorsal berlubang, celah faring, dan ekor
pascaanus yang berotot.

Chordata dan vertebrata mungkin telah berevolusi dari leluhur sesil yang sama. Perubahan
gen yang mengontrol perkembangan dapat mengubah waktu terjadinya perkembangan,
seperti pematangan gonad. Perubahan ini menyebabkan gonad matang pada fase larva
sebelum metamorfosis. Jika kondisi ini benar, maka perubahan tersebut menyebabkan
hilangnya tahapan metamorfosis.

Vertebrata masih mempertahankan karakteristik chordate primitive tetapi memiliki


spesialisasi tambahan, yaitu ciri-ciri yang diturunkan dan dimiliki bersama yang
membedakannya dari chordate invertebrata. Umumnya ciri-ciri tersebut terkait erat dengan
ukuran besar dan gaya hidup yang aktif. Menurut Campbell (2003), subfillum vertebrata
memiliki empat karakteristik khas yaitu pial neural (neural crest), sefalisasi (chephalization)
yang nyata, tulang punggung, dan system sirkulasi tertutup.
Gambar 1. Sebuah hipotesis mengenai hubungan evolusioner antara anggota filum Chordata

Menurut Campbell (2003), skema taksonomi mengakui adanya dua superkelas subfilum
vertebrata yang masih hidup sampai saat ini. Anggota superkelas haghfish dan lamprey, tidak
memiliki rahang. Superkelas lain yaitu Gnathostomata, meliputi enam kelas vertebrata
berahang yang terdiri atas:

1. Kelas chondrichthyes (ikan bertulang rawan, hiu dan ikan pari)

2. Kelas Osteichthyes (ikan bertulang keras)

3. Amphibia (katak dan salamander)

4. Reptilian (reptile)

5. Aves (burung dan unggas)

6. Mamalia (binatang menyusui)

Amphibia, reptilian, aves, dan mamalia secara kolektif disebut tetrapoda karena sebagian
besar hewan dalam kelas ini memiliki dua pasang tungkai yang menyokong tubuh di darat.
Reptilia, aves dan mamalia memiliki adaptasi darat tambahan yang membedakannya dengan
amphibi. Salah satu di antaranya adalah telur amniotik, suatu telur bercangkang yang
menahan air. Telur amniotic berfungsi sebagai kolam yang mencukupi diri sendiri yang
memungkinkan vertebrata menyelesaikan siklus hidupnya di darat. Meskipun sebagian besar
mamalia tidak bertelur, mamalia dapat mempertahankan ciri pokok lainnya dari kondisi
amniotic tersebut. Oleh karena itu, terobosan evolusioner yang penting adalah reptilian,
burung dan mamalia secara kolektif disebut amniota.
Asal Usul Kelompok Hewan (Perkembangan Evolusi Mamalia)

Posted by Mahmuddin pada Agustus 27, 2012

Mamalia memiliki karakteristik dengan adanya rambut, kelenjar mamae, otak yang lebih
besar bila dibandingkan dengan vertebrata lain dengan ukuran yang sama, diferensiasi geligi.
Mamalia berkembang dari leluhur reptilia lebih awal dari burung. Fosil tertua diyakini
merupakan mamalia berumur 220 juta tahun, masa Trias.

Leluhur mamalia merupakan salah satu di antara hewan terapsida, yang merupakan bagian
dari cabang sinapsida dari filogeni reptilia. Terapsida menghilang saat dinosaurus berlimpah,
tetapi mamalia yang berasal dari terapsida hidup berdampingan dengan dinosaurus selama
zaman Mesozoikum. Sebagian besar mamalia zaman Mesozoikum berukuran kecil dan
sebagain besar mungkin merupakan pemakan serangga. Beragam bukti, seperti ukuran lubang
mata, menyiratkan bahwa mamalia kecil adalah hewan nokturnal.

Gambar 1. Filogenetik primata

Setelah kepunahan massal di masa Kretasesus, saat zaman Senozoikum datang, mamalia
sedang melakukan radiasi adaptif besar-besaran. Keanekaragaman itu diwakili oleh tiga
kelompok utama, yaitu monotrema (mamalia bertelur), marsupial (mamalia berkantung), dan
mamalia eutheria (mamalia berplasenta).
Primata pertama kemungkinan diturunkan dari insektivora. Dua sub kelompok primate
modern adalah anggota Prosimian (lemur) dan Anthropoid. Fosil tertua mirip manusia yang
telah ditemukan diberi nama Ardipithecus ramidus, primate penghuni hutan Afrika yang
berumur 4,4 juta tahun di Afrika. Postur berdiri tegak dievolusikan sebelum pembesaran otak
pada hominid. Spesies pertama Homo habilis, berumur sekitar 2,5 juta tahun, hidup
berdampingan dengan hominid yang berotak lebih kecil yang merupakan anggota genus
Australopithecus. Homo erectus merupakan keturunan H. habilis mungkin merupakan
hominid pertama yang berkelana keluar daerah tropis dan masuk ke daerah beriklim lebih
dingin. Homo erectus menjadi versi primitive Homo sapiens yang beraneka ragam sesuai
daerah masing-masing termasuk Neanderthal.

Menurut model multiregional, manusia modern berkembang di beberapa lokasi Neanderthal


dan Homo sapiens primitive lain. Sebaliknya, model monogenesis memandang semua
percabangan sebagai garis evolusi yang berujung buntu, kecuali Homo sapiens primitif di
Afrika. Menurut model ini, penyebaran yang relative baru (100.000 tahun silam) manusia
Afrika modern menyebabkan keanekaragaman manusia saat ini. Beberapa peneliti lebih
menyukai model intermediat, bahwa manusia modern diturunkan dari migrasi dari Afrika dan
mendapatkan beberapa gen dari kelompok primitif non Afrika. Evolusi kultural manusia
ditandai dengan adanya manusia pemburu dan pengumpul kemudian berkembang menjadi
bidang pertanian, dan akhirnya mencapai revolusi industri, yang sampai saat ini masih terus
berlangsung sebagai perubahan teknologi yang semakin cepat
EVOLUSI VERTEBRATA
PISCES

a. Ikan Tak Berahang (Kelas Agnatha)


Vertebrata pertama yang ditemukan sebagai fosil adalah ikan tak berahang,
ostrakodermi. Beberapa terdapat dalam batu-batuan Ordovisium, meskipun pada
zaman Silur mereka terdapat dalam jumlah lebih banyak yaitu ikan pipih (15
sampai 30 cm). Hidup dengan dengan menghisap zat-zat organik dari dasar
sungai. Pertukaran gas terjadi pada pasangan-pasangan insang interna, dengan
tiap insang ditunjang satu lengkung tulang. Air masuk melalui mulut, melalui
insang dan keluar melalui serangkaian kantung insang yang bermuara di
permukaan. Tidak memiliki sirip dan ikan tersebut bergerak dengan gerakan
undulasi. Satu-satunya ikan tak berahang yang sekarang masih hidup adalah
Lamprey dan ikan hag (Hagfish). Hewan-hewan ini masih merupakan ikan
primitif. Disamping tidak memiliki rahang dan tidak memiliki sirip berpasangan.
Notokord dipertahankan selama hidupnya dan tidak pernah diganti secara
sempurna dengan kerangka yang terdiri atas tulang rawan. Pada tubuhnya tidak
terdapat sisik.
b. Plakodermi
Plakodermi berbeda dengan moyang agnathanya dalam 2 hal yang
mendasar, yaitu mempunyai rahang dan sirip yang berpasangan. Yang pertama
membantu dalam memangsa hewan yang lebih kecil secara aktif. Kedua
membantu lokomosi dengan menstabilkan ikan tersebut di dalam air. Catatan
fosil menggambarkan adanya radiasi adaptif yang ekstensif dari ikan ini pada
zaman Devon. Sebagian besar dari ikan-ikan ini kemudian punah, tetapi
beberapa diantaranya menghasilkan garis keturunan yang mengembangkan
dua kelas besar ikan masa kini yaitu, ikan tulang rawan) dan ikan tulang sejati
(Osteichthyes). Zaman Devon ditandai dengan periode-periode ketika banyak
danau dan sungai menjadi kering atau menjadi jauh lebih kecil dan lebih hangat.
Perubahan lingkungan ini menyebabkan tekanan seleksi yang hebat pada ikan
air tawar Zaman Devon.

c. Ikan Bertulang Rawan (Kelas Chondrichthyes)


Ikan bertulang rawan yang paling awal adalah hiu yang tidak jauh berbeda
dengan hiu masa kini, memperoleh namanya dari fakta bahwa kerangkanya
terdiri atas tulang rawan dan bukan tulang keras. Ikan hiu mempunyai rahang
yang berkembang dari kedua pasang pertama lengkung insang. Dalam hal ini,
sepasang celah insang tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, lubang ini masih
terdapat pada beberapa ikan masa kini dan disebut spirakel. Di samping hiu,
ikan pari, dan belut merupakan anggota kelas ini.
d. Ikan Bertulang Sejati (Kelas Osteichthyes)
Ikan bertulang sejati menempuh cara mengatasi masalah kekeringan yan
terjadi secara berkala dengan mengembangkan sepasang kantung hasil
perkembangan faring yang berfungsi sebagai paru-paru primitif. Ikan-ikan ini
dengan cepat (masih dalam zaman Devon tepecah menjadi 3 kelompok berbeda
yaitu paleoniskoida, ikan paru-paru dan krosopterigia.

Zaman Devon dikatakan sebagai Zaman Ikan karena selama zaman ini
terjadi radiasi adaptif yang luar biasa dari kelompok ini. Baik air tawar maupn air
laut dihuni oleh mereka. Akan tetapi menjelang akhir zaman Devon timbullah
kelompok vertebrata baru. kelompok ini adalah kelompok amfibia, vertebrata
berkaki empat atau tetrapoda yang pertama.

AMFIBIA

Amfibia merupakan perintis verebrata daratan. Paru-paru dan tulang


anggota tubuh yang mereka warisi dari moyang krosopterigia, memberikan
sarana untuk lokomosi dan bernapas di udara. Atrium kedua dalam jantung
memungkinkan darah yang mengandung oksigen langsung kembali ke dalamnya
untuk dipompa kembali ke seluruh badan dengan tekanan yang penuh.
Sementara pencampuran darah yang kaya oksigen dengan darah yang miskin
oksigen terjadi dalam dalam ventrikel tunggal, jantung yang beruang 3
memberikan peningkatan yang berarti dalam efisiensi peredaran dan dengan
demikian meningkatkan kemampuan untuk mengatasi lingkungan daratan yang
keras dan lebih banyak berubah-ubah.
Amfibia telah mengembangkan telinga sederhana dari struktur yang
diwarisinya dari moyang mereka. Spirakel tertutup dengan membran yang
berfungsi sebagai gendang telinga dan tulang rahang yan tidak terpakai lagi
(berasal dari lengkung insang agnatha) berguna untuk meneruskan getaran dari
membran ini ke telinga dalam.

Amfibia yang paling awal adalah Diplovertebron, panjangnya cm.

Beberapa contoh fosil berukuran cm. Amfibia ini hanya berjaya selama

zaman Karbon. Bumi ditutupi oleh rawa yang luas, kehidupan tumbuhan yang
berlimpah, dan terdapat banyak insekta untuk di makan oleh amfibia. Zaman ini
sering disebut zaman Amphiba. Zaman ini diikuti oleh suatu periode (Permian)
ketika bumi menjadi lebih dingin dan lebih kering. Penurunan kejayaan amfibi
terjadi yang berlangsung terus sampai sekarang. Pada waktu ini hanya tertinggal
tiga ordo ialah : (1) katak dan bangkong (ordo Anura), (2) Salamander dan kadal
air (newt) (ordo Urodela), (3) Sesilia (ordo Apoda), yang merupakan hewan
seperti cacing dan tanpa kaki. Karena tidak mempunyai kulit dan telur yang
kedap air, maka tak ada satu amfibia pun yang dapat menyesuaikan sepenuhnya
dengan keadaan daratan.

REPTIL

Reptilia adalah hewan pertama yang benar-benar hewan daratan. Reptilia


berkembang dari amfibia pada zaman Karbon. Kelebihan reptilia yang paling
awal Kotiloaurus terhadap amfibi adalah

Perkembangan telur yang bercangkang dan berisi kuning telur (yolk) yang
dapat diletakkan di tanah tanpa kemungkinan menjadi kering

Cangkang kedap air dan kedap terhadap sperma, sehingga perkembangan


telur yang bercangkang terjadi bersamaan dengan perkembangan
fertilisasi internal.

Embrio dilindungi oleh cairan yang terdapat dalam amnion, mendapat


makanan dari kantong kuning telur (yolk), bernapas melalui korion
dan alantois, dan menyimpan limbah metabolisme di dalam kantong
yang dibentuk oleh alantois.
Reptilia paling awal, yang kakinya pendek menjulur ke samping tubuh,
menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air dan hanya bertelur di darat
sehingga mudah disembunyikan dari mangsa. Seiring semakin keringnya zaman
Permian, modifikasi lain untuk hidup di daratan kering berevolusi. Perkembangan
kulit kering memungkinkan mereka untuk meninggalkan air dengan aman. Tetapi
kulit kering tidak dapat digunakan untuk respirasi. Penyempurnaan paru-paru
dikembangkan dengan pembesaran rongga rusuk. Sekat ventrikel mengurangi
pencampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang kurang
oksigen sehingga memungkinkan efisiensi peredaran darah. Kotilosaurus
mengalami radiasi adaptif dan menghasilkan lima garis keturunan yang utama,
yaitu:

Pelikosaurus, menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam air dengan


kaki yang berada di bawah sehingga memungkinkan untuk berlari lebih
cepat dan lebih ringan di darat. Dari pelicosaurus inilah berevolusi
sekelompok reptil di darat yaitu terapsida. Pada awal zaman Mesozoikum
terapsida merupakan reptilia yang paling banyak jumlahnya, tapi mereka
segera dilampaui oleh kelompok lain. Namun, hal tersebut hanya bersifat
sementara ( juta tahun), karena keturunan terapsida yaitu

mamalia, pada akhirnya menguasai bumi ini.

Penyu (Ordo Chelonia), dari asal-usulnya dalam era Mesozoikum awal


sampai sekarang, sebagian besar penyu hidup di air tawar atau di lautan.
Meskipun habitatnya demikian, mereka tidak meninggalkan warisan
adaptasi darat mereka. Mereka bernapas dengan paru-paru dan
meletakkan telur bercangkangnya di darat. Penyu air tawar merayap ke
darat untuk membuat lubang dalam pasir atau tanah untuk bertelur.
Meskipun tidak punah, penyu merupakan kelompok yang paling menonjol,
karena masih ada setelah berada di bumi selama 200 juta tahun, dimana
sebagian besar reptilia sezamannya telah punah.

Plesisaurus dan Iktiosaurus, merupakan anggota kedua garis


keturunan reptilia laut yang berkembang dalam periode Jura tetapi punah
pada akhir zaman Mesozoikum. Mereka pemakan ikan, hal ini sesuai
dengan kehidupan di laut. Namun kenyataanya, anggota tubuh yang
menyelip di sirip sangat sesuai untuk lokomosi di darat sehingga
iktiosaurus mempertahankan telur di dalam tubuh induk dan tidak bertelur
di darat. Anak yang dilahirkan hidup dan aktif, seperti halnya ikan hiu
berenang.

Diapsida, merupakan garis keturunan kelima dari iktiosaurus. Disebut


diapsida karena mempunyai struktur tulang lengkung ganda yang khas di
daerah temporal tengkorak. Diapsida mempunyai adaptasi fisiologis yang
penting untuk hidup di darat yang tidak terdapat pada kelompok lain,
yaitu kemampuan untuk mengubah limbah nitrogen menjadi asam urat
yang hampir tidak dapat larut. Asam urat keluar sebagai pasta putih
bersama feses. Kemampuan kelompok ini dan keturunannya
mengekresikan limbah nitrogen sehingga membebaskan mereka hampir
seluruhnya dari ketergantungan pada air minum.

Evolusi kelompok reptilia ini diikuti beberapa cabang yang menghasilkan


kadal dan ular (Ordo Squamata) dan sekelompok reptilia mirip kadal yang
keturunannya masih ada (tetapi langkah) yaitu di Selandia Baru.
Kadal masa kini pertama kali timbul di periode Jura, merupakan penghuni
penting gurun pasir dan hutan daerah panas. Satu kelompok kadal periode Kreta
menjadi hewan meliang. Kaki-kaki hewan ini akhirnya lenyap dan dengan
demikian terjadilah ular (sisa kaki belakang masih dapat ditemukan pada Boa
dan Piton. Meskipun ular dapat bertahan hidup di daerah iklim sedang
(temperate) dengan cara hibernasi selama musim dingin, tetapi mereka juga
berhasil di daerah tropis dan subtropis.

Tekodon merupakan cabang kedua dari reptilia darat yang mengeksresikan


asam urat. Hewan ini dapat berlari cepat di daratan dan menggunakan ekor yang
panjang untuk keseimbangan. Fosil dari tekodon tingkat tinggi menunjukkan
adanya penutup insulasi tubuh dan suatu histologi tulang yang menandakan
bahwa hewan-hewan ini dapat mempertahankan suhu tubuh yang relatif tinggi
dan teratur baik. Hal ini digabung dengan kecepatan dan toleransi terhadap
keadaan gersang.

Lima ordo reptilia telah berevolusi dari tekodon. Anggota dari radiasi adaptif
yang luar biasa ini sering disebut reptilia yang berkuasa karena mereka
mendominasi seluruh tanah dan udara selama sisa era Mesozoikum.

Buaya dan aligator (ordo Crocodilia) meninggalkan lokomosi dengan dua


kaki dari moyang tekodonnya tetapi mempertahankan kaki belakang yang besar.
Hewan ini dapat bergerak cepat dengan mengangkat seluruh badannya di atas
tanah. Hewan ini merupakan satu-satunya keturunan reptilia tekodon yang tidak
pernah punah.

Pada akhir periode Trias, muncul 2 ordo dari dinosaurus yang masing-
masing mengalami radiasi adaptif yang luar biasa. Selama sisa era Mesozoikum
bumi dihuni oleh dinosaurus dar berbagai gambaran, ukuran dan bentuk.
Penemuan dan pemasangan fosil dinosaurus merupakan cabang paleontologi
yang palin aktif selama bertahun-tahun. Bila kita melihat kerangka yang elah
direkontruksi dari hewan seperti Tyrannosaurus (panjang 14,5 m dan tinggi 5,8
m) dan Brachiosaurus (bobot mendekati 90 ton). Meskipun yang mewakili hanya
2 dari 15 ordo reptilia yang ada pada waktu itu, dinosaurus saja sudah
membuktikan bahwa era Mesozoikum sebagai Zaman Reptilia.

Dua kelompok Mesozoikum tersebut menjadi reptilia terbang. Cara berjalan


dengan dua kaki dari tekodon telah membebaskan kaki depan untuk digunakan
sebagai sayap. Mulanya sayap ini digunakan untuk meluncur tetapi kemudian
digunakan untuk terbang lama. Salah satu dari kelompok ini yaitu Pterosaurus,
yang menguasai selama sebagian besar era Mesozoikum. Pteranodon dengan
rentangan sayap 8,2 m diduga merupakan anggota terbesar dari ordo tersebut.
Kemudian pada awal tahun 1970, fosil dari seekor pterosaurus dengan rentangan
sayap 15,5 m ditemukan di Big Bend National Park di Texas. Kelompok kedua
reptilia terbang merupakan moyang burung-burung sekarang.

AVES

Kelompok reptilia kedua yang mengudara mengembangkan suatu


modifikasi yang tidak terdapat pada pterosaurus yaitu bulu. Pertumbuhan bulu
ini memberi permukaan bagi sayap yang luas, ringan tetapi kuat. Bulu ini juga
memberikan insulasi (penutup hangat) bagi tubuh, sehingga membuatnya lebih
kecil namun dapat mempertahankan suhu tubuh yang relatif tinggi dan tetap
meskipun di daratan beriklim dingin. Bulu menjadi penciri utama munculnya
burung pertama.

Penemuan fosil Archeopteryx dalam batuan zaman Jura merupakan salah


satu contoh yang terbaik dari mata rantai yang hilang. Hewan ini mempunyai
bulu, dengan demikian kita menyebutnya burung. Tetapi hubungannya dengan
reptilia jelas. Sayap yang agak rudimeter mempunyai cakar, dalam mulut
terdapat gigi dan mempunyai ekor yang panjang. Ciri-ciri reptilia ini tidak ditemui
lagi pada burung-burung yang masih hidup. Meskipun hewan ini pada akhir
zaman Mesozoikum sudah mantap, tetapi pada zaman Cenozoikum burung-
burung ini mengalami radiasi adaptif yang luas. Jumlah spesies yang besar dan
distribusinya yang luas membuktikan keberhasilan mereka..
Struktur dan fisiologi burung diadaptasikan untuk penerbangan yang
efisien, yaitu Sayap menjadi paling utama, memungkinkan burung terbang jarak
jauh untuk mencari makanan yang cocok dan berlimpah dan meloloskan diri dari
pemangsa. yang efisien harus ringan dan kuat. Keringanan tubuh burung
diperoleh dari bulu, tulang-tulang yang berongga dan gonad tunggal (pada
betina) yang membesar dan aktif hanya selama musim kawin. Hilangnya gigi
mengurangi berat kepala. Fungsi gigi ini dilaksanakan oleh empedal. Kekuatan
dicapai dengan otot dada besar yang terpaut pada tulang dada yang sangat
membesar. Mempunyai jantung beruang 4 dan efisiensinya memungkinkan
perkembangan suhu tubuh yang tetap (homeotermi). Homeotermi juga
memungkinkan laju metabolisme yang tinggi pada semua suhu lingkungan.
Burung dapat tetap aktif dalam cuaca dingin. Laju metabolisme yang tinggi
mencerminkan pelepasan energi yang cepat untuk terbang

MAMALIA

Mamalia pertama timbul pada akhir zaman Trias dari moyang terapsida.
Mereka merupakan hewan kecil yang sangat aktif yang makanannya terutama
terdiri atas insekta. Kemampuan yang aktif ini berhubungan dengan
kemampuannya untuk memelihara suhu tubuh yang tetap (homeotermi). Hal ini
berkaitan dengan perkembangan jantung beruang 4 dan pemisahan sempurna
dari peredaran darah oksigen dan sistemik. Konservasi panas tubuh
dimungkinkan dengan perkembangan rambut. Sementara mamalia yang paling
awal bertelur seperti moyang reptilia, anaknya setelah menetas diberi makan
dengan susu yang disekresikan oleh kelenjar dalam kulit induknya.
Berlawanan dengan moyang reptilia, gigi mamalia mengalami spesialisasi
untuk memotong (gigi seri), menyobek (gigi taring), dan menggiling (geraham)
makanannya. Bahan kelabu serebrum, yang ditutupi oleh bahan puti pada
reptilia, tumbuh keluar diatas permukaan otak. Modifikasi ini mempunyai akibat
yang jauh.

Evolusi mamalia yang paling awal berlangsung mulai beberapa jalur yang
berbeda. Dari kelompok tersebut hanya tiga yang sampai sekarang masih hidup,
yaitu:

1) Monotremata, mamalia bertelur (Subkelas Prototheria)


2) Marsupialia, mamalia berkantung (Subkelas Metatheria)
3) Mamalia berplasenta (Subkelas Eutheria)
Masingmasing dibedakan dari cara merawat anak selama masa
perkembangan embrio. Monotremata tetap bertelur seperti moyang
terapsidanya. Platipus paruh bebek dan pemakan semut berduri (ekidna)
merupakan satu-satunya monotremata yang ada di bumi sekarang.
Pada marsupialia anak ditahan untuk jangka waktu yang pendek di dalam
saluran reproduksi induk. Selama waktu yang pendek ini, makanan diperoleh dari
kantung kuning telur yang tumbuh di dalam uterus. Tetapi anak itu dilahirkan
pada tahap perkembangan yang sangat awal. Kemudian merayap ke dalam
kantung yang terdapat di perut induknya dan melekatkan diri pada puting yang
mengeluarkan air susu. Di sini perkembangan diselesaikan. Marsupialia yang
paling awal mungkin mirip dengan oposum. Pada bulan maret 1982 ditemukan
sisa-sisa fosil marsupialia Polydolops sebesar 25 cm di pulau Seymouz (ujung
utara Tanjung Antartika).
Mamalia berplasenta mempertahankan anaknya di dalam uterus induk
sampai berkembang dengan baik. Kuning telur hanya sedikit di dalam telur,
tetapi membran extra embrionik itu membentuk tal pusar dan plasenta sehingga
anak yang sedang bertumbuh mendapat makanannya langsung dari
induknya.Selama kira-kira 70 juta tahun dalam era Mesozoikum mamalia
berplasenta hanya diwakili oleh satu ordo. Akan tetapi, pada akhir epoh kedua,
Eosin, dari era Cenozoikum, mamalia ini telah beradiasi menjadi paling sedikit 14
ordo yang berbeda.

Sumber :

Kimbal, John W. 1999. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

http://a-lestari.blogspot.co.id/2013/12/evolusi-vertebrata.html