Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II

TITRASI IODOMETRI

NAMA : EMPAT PATONAH

NIM : (140621010)

KELOMPOK : 3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON

Jln. Fatahillah No. 40 Watubelah Cirebon

1. TUJUAN
Menetapkan kadar suatu senyawa dengan titrasi iodometri

2. DASAR TEORI

Titrasi iodometri adalah salah satu titrasi redoks yang melibatkan


iodium.Titrasi iodium disebut juga titrasi tidak langsung yang dapat
digunakan untuk menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai
potensial oksidasi yag lebih besar dari pada sistem iodium-iodida atau
senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO 4 .5H2O. Berbeda
dengan titrasi iodimetri yang mereaksikan sample dengan iodium
(langsung), maka pada iodometri, sampel yang bersifat oksidator
direduksi dengan kalium iodida (KI) berlebihan dan akan menghasilkan
iodium (I2) yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium
thiosulfat (Na2S2O3). Banyaknya volume Natrium Thiosulfat yang
digunakan sebagai titran setara dengan banyaknya sampel.
Contoh reaksi dengan Cu2+ :

2 Cu 2+ + 4I 2CuI + I2

I2 + 2S2O32- 2I + S4O62-

Pada titrasi iodometri perlu diawasi pHnya. Larutan harus dijaga


supaya pHnya lebih kecil dari 8 karena dalam lingkungan yang alkalis
iodium bereaksi dengan hidroksida membentuk iodida dan hipoiodit dan
selanjutnya terurai menjadi iodida dan iodat yang akan mengoksidasi
tiosulfat menjadi sulfat, sehingga reaksi berjalan tidak kuantitatif. Adanya
konsentrasi asam yang kuat dapat menaikkan oksidasi potensial anion
yang mempunyai oksidasi potensial yang lemah sehingga direduksi
sempurna oleh iodida. Dengan pengaturan pH yang tepat dari larutan
maka dapat diatur jalannya reaksi dalam oksidasi atau reduksi dari
senyawa.

Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah amylum. Amylum


tidak mudah larut dalam air serta tidak stabil dalam suspensi dengan air,
membentuk kompleks yang sukar larut dalam air bila bereaksi dengan
iodium, sehingga tidak boleh ditambahkan pada awal titrasi. Penambahan
amylum ditambahkan pada saat larutan berwarna kuning pucat dan dapat
menimbulkan titik akhir titrasi yang tia-tiba. Titik akhir titrasi ditandai
dengan terjadinya hilangnya warna biru dari larutan menjadi bening.

3. PROSEDUR
1. Pembuatan Larutan

a. Larutan Baku Primer (KIO3)


Buat larutan KIO3 0,1 N dalam labu ukur 100,0 mL
b. Larutan Baku Sekunder (Na2S2O3.5H2O)
Buat larutan baku sekunder dengan konsentrasi 0,1 N sebanyak 1
L dengan aquades yang telah dididihkan, tambahkan 0,1 g Na 2CO3
, diamkan selama satu hari sebelum dibakukan, bila perlu
didekantasi.
c. Larutan Indikator Amylum 1 %
Buat pasta 1 g amylum dalam sedikit sir, tuangkan pasta tersebut
kedalam 100 mL air mendidih sambil diaduk terus, dinginkan.

2. Pembakuan Larutan Na2S2O3


Pipet sebanyak 10 mL
Masukan kedalam erlenmeyer
KIO3

Tambahkan 2 mL H2SO4
2N dan KI 0,514 gram

Titrasi dengan Na2S2O3


sampai larutan berubah
warna menjadi kuning
Tamabhkan amylum 1 mL

Titrasi dilanjutkan sampai terjadi


perubahan warna dari biru menjdi
tidak berwarna

3. Penetapan Sampel
Pipet 10 mL
Masukan kedalam erlenmeyer
CuSO4
Tambahkan
2 mL H2SO4 2N dan
KI 1 gram

Titrasi dengan
hingga larutan menjadi warna kuning
Na2S2O3

Tambahkan
amylum 2 mL

Titrasi dilanjutkan sampai terjadi


perubahan warna dari biru menjdi
4. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
tidak berwarna
DATA PENGAMATAN
a. Pembakuan Larutan Na2S2O3

Titrasi ke- Volume larutan sekunder (mL)

1 11,7 mL

2 6,7 mL

Rata-rata 9,2 mL

K2CrO4 + H2SO4 + Padatan KI dititrasi larutan menjadi warna kuning

Penambahan amilum larutan menjadi warna biru

Titrasi dengan NaS2O3 warna biru larutan menjadi warna merah


bata dan terdapat endapan biru

b. Penetapan Sampel

Titrasi ke- Volume larutan standar (mL)


1 3,2 mL

2 3,6 mL

Rata-rata 3,4 mL

PERHITUNGAN
Pembakuan Larutan Na2S2O4
Diketahui : massa KIO3 : 0,514 gram
M KIO3 : 0,1 M
Volume KIO3 : 10 mL = 0,01 L
Volume Na2S2O4 : 9,2 mL = 0,0092 L
Ditanya : M Na2S2O4 = . ?
Reaksi pembakuan :
KIO3 + 5 KI + 3 H2SO4 K2SO4 + 3 H2O + 3 I2
1 mol KIO3 ~ 3 mol I2
1 mol KIO3 ~ 6 mol I-
1/6 mol KIO3 ~ mol I-
Mencari mol I-
KIO3(aq) + 5 KI(s) + 3 H2SO4(aq) K2SO4(aq) + 3 H2O(l) + 3 I2(aq)

M KIO3 = n KIO3 / V KIO3 1 mol KIO3 ~ 3 mol I2

0,I M = n KIO3 / 0,01 L 1 mol KIO3 ~ 6 mol I-


n KIO3 = 0,001 mol mol I- = 6 x mol KIO3
mol I- = 6 x 0,001 mol
mol I- = 0,006 mol
Perhitungan Hasil Titrasi

M Na2S2O4 x VNa2S2O4 = M I- x V I-

M Na2S2O4 x 0,0092 L = 0,006 mol

M Na2S2O4 = 0,006 mol / 0,0092 L

M Na2S2O4 = 0,65 M

Berdasarkan hasil perhitungan diatas diperoleh konsentrasi


Na2S2O4 sebesar 0,65 M. sedangkan data asli konsentrasi Na 2S2O4
adalah 0,1 M.
Penetapan Sampel
Diketahui : Volume CuSO4 = 10 mL = 0,01 L
Massa KIO3 = 1 gram
Volume Na2S2O4 = 3,4 mL = 0,0034 L
M Na2S2O4 = 0,1 M
-
Ditanya : konsentrasi I =?
Kadar Cu dalam sampel =?
Jawab :
Reaksi penetapan kadar
CuSO4 + 2 KI CuI2 + K2SO4
2 CuI2 2 CuI + I2
2 mol CuSO4 ~ 1 mol I2
2 mol CuSO4 ~ 2 mol I-
1 mol CuSO4 ~ 1 mol I-
BE CuSO4 = 1 mol

Hasil titrasi penetapan kadar CuSO4

M Na2S2O4 x VNa2S2O4 = M I- x V I-

0,1 M x 0,0034 L = M I- x 0,01 L

0,00034 M.mL = M I- x 0,01 L

M I- = 0,00034 M.L / 0,01 L

M I- = 0,034 M

Dari perhitungan diatas diperoleh konsentrasi I - sebesar 0,034


M. dari sini dapat diperoleh konsentrasi CuSO 4 yaitu :
1 mol CuSO4 ~ 1 mol I-
1 M CuSO4 ~ 1 mol I-
M CuSO4 = 0,034 M

mol CuSO 4
M CuSO4 = volume CuSO 4

mol CuSO 4
0,034 M = 0,01 L

Mol CuSO4 = 0,00034 mol

Massa CuSO4 = mol x Mr


Massa CuSO4 = 0,00034 mol x 159,5 gr/mol
Massa CuSO4 = 0,05423 gram

Ar Cu
Massa Cu = Mr CuSO 4 x massa CuSO4

65,37
massa Cu = 159,5 x 0,054 gram

massa Cu = 0,022 gram

massaCu
Kadar Cu2+ = massaCuSO 4 x 100%

0,022 gram
2+
Kadar Cu = 0,054 gram x 100%

Kadar Cu2+ = 40,7 %

5. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan pembakuan larutan Na 2S2O4
dan juga penetapan sampel untuk mengukur kadar Cu 2+ dalam
senyawa CuSO4. Pada percobaan pembakuan laruran Na 2S2O4
dilakukan dengan menggunakan larutan KIO 3 0,1 M yang ditambahkan
dengan H2SO4 2 N juga KI sebanyak 0,5 gram. Penggunaan asam
sulfat ini adalah untuk menjaga pH larutan supaya lebih kecil dari 8.
Sedangkan KI merupakan senyawa iodida yang digunakan pada pada
percobaan ini yang ditambahkan secara berlebih pada larutan
oksidator sehingga terbentuk I 2. KI berfungsi sebagai zat pereduksi,
yakni membebaskan iod dari iodida.
Larutan tersebut kemudian dititrasi dengan Na 2S2O4 sampai
berubah warna menjadi kuning. Titrasi harus dilakukan secara cepat
untuk meminimalisir terjadinya oksidasi iodida oleh udara bebas. Lalu
setelah itu ditambahkan amylum sebanyak 1 mL, larutan langsung
berubah menjadi biru dan titrasi dilanjutkan kembali sampai larutan
berubah warna dan terdapat endapan biru. Penambahan amylum
dilakukan menjelang akhir titrasi hal ini disebabkan oleh kompleks
amylum I2 terdisosiasi sangat lambat, akibatnya banyak I 2 yang
teradsorbsi oleh amylum jika ditabahkan amylum pada awal titrasi.
Seharusnya pada titrasi ini larutan yang semula biru setelah mencapai
titik ekuivalen berubah menjadi bening kembali, hal ini terjadi mungkin
terdapat kesalahan dalam pembuatan larutan sekunder Na 2S2O4 dan
kekurang telitian praktikan.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh konsentrasi Na 2S2O4
yaitu 0,65 M, data ini diperoleh dari hasil percobaan. Sedangkan
konsentrasi asli dari Na2S2O4 adalah 0,1 M.
Penentuan kadar Cu menggunakan larutan CuSO4 sebagai
sampel pada percobaan ini. Penentuan kadar Cu melibatkan KI yang
terbentuk sebagai agen pereduksi karena mengalami oksidasi dengan
melepas iod. Fungsi KI adalah penyedia iod. CuSO4 berfungsi sebagai
oksidator karena mengoksidasi I- menjadi I2. CuSO4 mengalami reduksi
menghasilkan tembaga (II) iodida. I2 berfungsi sebagai agen
pengoksidasi pada saat dititrasi karena mengalami reduksi menjadi I -
sedangkan Na2S2O4 berfungsi sebagai agen pereduksi karena
mengalami oksidasi dan mereduksi iod menjadi iodida.
Hasil perhitungan untuk penetapan kadar sampel ini diperoleh
kadar Cu dalam senyawa CuSO4 sebesar 40,7 %.

6. KESIMPULAN
1) Titrasi yang digunakan merupakan titrasi secara tidak langsung.
Dimana zat direaksikan dahulu dengan zat lain sebelum dititrasi.
2) Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh konsentrasi Na 2S2O4 yaitu
0,65 M, data ini diperoleh dari hasil percobaan. Sedangkan
konsentrasi asli dari Na2S2O4 adalah 0,1 M
3) Berdasarkan hasil perhitungan untuk penetapan kadar sampel
diperoleh kadar Cu dalam senyawa CuSO4 sebesar 40,7 %.

DAFTAR PUSTAKA

http://mutmainnahlatief.wordpress.com/2012/01/06/308

https://www.academia.edu/6889106/LAPORAN_PRAKTIKUM_KIMIA_ANALI
TIK_TITRASI_IODOMETRI?auto=download [25 Mei 2016]
Panduan Praktikum Kimia Analitik II Universitas Muhammadiyah Cirebon

Praktikan Dosen Pengampu

(Empat Patonah) (Indah Karina Yulina, S.Pd, M.Si)

Anda mungkin juga menyukai