Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MANAJEMEN

MANAJEMEN RESIKO KESELAMATAN KERJA

Oleh :

ARIES WAHID MUNIRI


NPM. 715.6.2.0657

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WIRARAJA
SUMENEP
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah senantiasa peneliti haturkan kehadirat Allah

SWT yang telah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Manajemen Resiko Keselamatan

Kerja.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas manajemen keperawatan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Wiraraja Sumenep sebagai pengganti

pelaksanaan UAS. Makalah ini diharapkan memberikan manfaat bagi penulis,

pembaca, dan ilmu keperawatan dalam menambah pengetahuan dan pemahaman

tentang manajemen Risiko Keselamatan Kerja.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kritik dan saran yang membangun sangat peneliti harapkan demi

perbaikan dimasa yang akan datang.

Penulis,

Sumenep, Desember 2016


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manajemen keselamatan kerja dirancang untuk memberikan pedoman bagi

semua unsur tripartit ILO dalam meningkatkan K3 di tingkat nasional. Manjemen

ini didasarkan pada pengalaman kalangan internasional agar dapat dipraktekkan

dalam perusahaan di anggota dan perusahaan. Manajemen ini bertujuan untuk

melindungi pekerja dari bahaya bekerja di sektor kehutanan dan mencegah atau

mengurangi penyakit akibat kerja atau kecelakaan. Pedoman ini berisi gagasan

yang bermanfaat, untuk negara-negara atau perusahaan yang masih sedikit

memiliki peraturan dan pedoman yang terkait. Bahkan, untuk negara dan

perusahaan yang telah memiliki strategi perlindungan yang baik.

Kecelakaan kerja sering terjadi akibat kurang dipenuhinya persyaratan

dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam hal ini pemerintah

sebagai penyelenggara Negara mempunyai kewajiban untuk memberikan

perlindungan kepada tenaga kerja. Hal ini direalisasikan pemerintah dengan

dikeluarkannya peraturan-peraturan seperti : UU RI No. 1 Tahun 1970 tentang

keselamatan kerja, Undang-undang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial

Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No:

Per.05/Men/1996 mengenai sistem manajemen K3.


1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah Bagaimana manajemen

resiko keselamatan kerja?

1.3 Tujuan

Menegetahui manajemen resiko keselamatan kerja

1.4 Manfaat

1. Bagi penulis

Menambah wawasan tentang manajemen risiko keselamatan kerja.

2. Bagi ilmu keperawatan

Menjadi referensi pengembangan ilmu keperawatan khususnya

manajemen keperawatan yang membahas tentang manajemen risiko dalam

keselamatan kerja.

3. Bagi pendidikan

Meningkatkan variasi cara/media pembelajaran manajemen risiko dalam

keselamatan kerja pada lingkup pendidikan keperawatan sehingga dapat

dikembangkan pada generasi berikutnya.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 K3 dan SMK3

2.1.1 K3

K3 adalah singkatan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dalam

bahasa Inggris disebut sebagai Occupational Health and Safety, disingkat OHS.

K3 atau OHS adalah kondisi yang harus diwujudkan di tempat kerja dengan

segala daya upaya berdasarkan ilmu pengetahuan dan pemikiran mendalam guna

melindungi tenaga kerja, manusia serta karya dan budayanya melalui penerapan

teknologi pencegahan kecelakaan yang dilaksanakan secara konsisten sesuai

dengan peraturan perundangan dan standar yang berlaku.

2.1.2 SMK3

SMK3 adalah singkatan dari Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja yang merupakan bagian dari sistem manajemen secara

keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggungjawab,

pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi

pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan

K3 dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna

terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.


2.2 Kecelakaan

2.2.1 Pengertian

Kecelakaan (accident) adalah suatu kejadian yang tak diinginkan,

datangnya tiba-tiba dan tidak terduga yang menyebabkan kerugian pada manusia

(luka, cacat, sakit, meninggal), perusahaan (kerusakan properti, terhentinya proses

produksi), masyarakat (rusaknya sarana, prasarana publik) dan lingkungan

(polusi, eko-sistem rusak).

2.2.2 Fase Terjadinya Kecelakaan

Mengetahui akar penyebab terjadinya kecelakaan jauh lebih penting dari

pada mengetahui besarnya kecelakaan. Maka berdasarkan teori Domino dapat

ditelusur sebab-sebab terjadinya kecelakaan/kerugian sebagai berikut.

Gambar 2.1 Fase terjadinya kecelakaan

2.3 Manajemen Risiko

2.3.1 Pengertian

1. Risiko adalah kondisi dimana terdapat kemungkinan timbulnya kecelakaan

atau penyakit akibat kerja oleh karena adanya suatu bahaya.

2. Manajemen Risiko adalah suatu proses manajemen yang dilakukan untuk

meminimalkan.
2.3.2 Tahapan Manajemen Risiko

1. Identifikasi Bahaya, yaitu mengidentifikasi jenis bahaya dari: jenis

material, alat, pekerjaan, metoda kerja, posisi/ tempat/ ketinggian, kondisi

tanah/pondasi, jalan, air tanah dsb). Termasuk identifikasi jenis kecelakaan

& penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi.

2. Penilaian Risiko, yaitu melakukan penilaian risiko dari bahaya-bahaya

yang sudah teridentifikasi, kemudian disusun untuk menentukan prioritas

penanganannya. Penilaian risiko bisa dilakukan dengan menggunakan

matrik penilaian risiko.

3. Pengendalian Risiko, yaitu mengendalikan risiko akibat bahaya, menurut

tingkat pengendalian yang paling sesuai.

4. Eliminasi, yaitu menghilangkan penggunaan bahan berbahaya pada

rangkaian proses.

5. Substitusi, yaitu mengganti penggunaan bahan berbahaya dengan bahan

yang memiliki bahaya lebih rendah.

6. Engineering Control, yaitu mendesain ulang metoda kerja, proses atau

peralatan yang digunakan melalui kegiatan antara lain:

a. Pemberian pembatas atau mendesain menjadi proses semi tertutup atau

tertutup total

b. Pemisahan lokasi proses yang berbahaya dari operator

c. Penyediaan ventilasi / bukaan umum yang memadai

d. Pemasangan ventilasi setempat (local exhaust ventilation)

7. Pengendalian Administratif, yaitu menerapkan peraturan yang ketat:

a. Pembatasan ijin masuk dalam daerah berbahaya


b. Pembatasan paparan pekerja

c. Housekeeping

d. Penetapan prosedur kerja penanganan bahan yang aman

e. Melakukan inspeksi secara reguler

f. Pelatihan bagi karyawan

8. Alat Pelindungan Diri, yaitu penggunaan alat pelindung pada Mata,

Telinga, Mulut, Hidung dan Anggota Badan lain: Kepala, Tangan, Kaki

2.3.3 Siklus Manajemen Risiko

Sebagaimana Sistem Manajemen Mutu, setiap proses harus dimulai

dengan Perencanaan (Plan), lalu melaksanaan (Do) rencana itu. Realisasi

pelaksanaan harus dicek (Check) kesesuaiannya dengan rencana melalui

monitoring dan evaluasi. Setiap penyimpangan harus ditindaklanjuti (Action)

dengan membuat rencana dan pelaksanaan yang lebih baik.

Gambar 2.2 Siklus Manjemen Resiko


2.3.4 Penilaian Resiko Secara Kuantitatif

Gambar 2.3 Penilaian resiko secara kuantitatif


BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Risiko adalah kondisi dimana terdapat kemungkinan timbulnya kecelakaan

atau penyakit akibat kerja oleh karena adanya suatu bahaya.

2. Manajemen Risiko adalah suatu proses manajemen yang dilakukan untuk

meminimalkan.

3.2 Saran

1. Bagi penulis

Penulis perlu mengembangkan metode dan referensi penulisan manajemen

risiko keselamatan kerja.

2. Bagi ilmu keperawatan

Ilmu keperawatan dapat mengaplikasikan manajemen risiko keselamatan

kerja dalam bentuk kegiatan praktik keperawatan yang berkaitan dengan

pelaksanaan asuhan keperawatan.

3. Bagi pendidikan

Pendidikan dapat memberikan dukungan pengembangan teoritis dan

praktis manajemen risiko keselamatan kerja melalui riset.


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi R. I. 2008. Peraturan Perundangan dan


Pedoman Teknis SMK3, Jakarta.

Gempur, Santoso. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Prestasi


Pustaka, Jakarta.

Ramli, Soehatman. 2010. Pedoman Praktis Manajemen Resiko dalam Perspektif K3,
Dian Rakyat, Jakarta.