Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebelum sejarah ditulis oleh para pujangga pada
zaman dahulu, sejarah sudah disampaikan melalui cerita.
Yang dikenal dengan tradisi kecil dan tradisi besar. Tradisi
kecil merupakan penyampaian sejarah melalui cerita lisan,
Sedangkan tradisi besar merupakan penyampaian sejarah
melalui tulisan. Tradisi kecil berlangsung sebelum ada
Tulisan, belum ada bahasa sansekerta dan tulisan jawa.
Kemudian melalui proses yang sangat panjang tradisi kecil
tersebut berkembang menjadi tradisi besar, tentu saja
seiring dengan ada dan berkembangnya tulisan, bahasa
sansekerta dan bahasa jawa; Penulisan sejarah yang ada
sebagian besar ditemukan di istana, maka penulisan
sejarah pada zaman dahulu bersifat istana sentris.
Data sejarah pada umumnya berasal dari dua
sumber, yaitu sumber verbal (lisan) maupun tulisan.
Berkaitan dengan hal tersebut, berkembanglah dua tradisi
besar. Tradisi itu adalah tradisi lisan dan tradisi tulisan.
Tradisi ( budaya ) lisan mungkin telah ada sejak adanya
manusia dimuka bumi. Sementara tradisi tulisan mulai
diperkirakan telah ada sejak zaman peradaban kuno.
Kedua tradisi ini pun berkembang pula di Indonesia. Kedua
tradisi ini berperan penting dalam proses historiografi di
Indonesia. Dan akan dijelaskan perkembangannya pada
makalah ini
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka ada beberapa
rumusan masalah yang akan penulis uraikan diantaranya
adalah;

1
1. Bagaimana Pengertian Tradisi Lisan dan Tradisi Tulisan ?
2. Bagaimana Perkembangan Tradisi Lisan dan Tradisi
Tulisan di Indonesia ?
3. Bagaimana Bentuk Tradisi Lisan dan Tradisi Tulisan ?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka kami
penulis akan menjelasakan beberapa tujuan dalam
penulisan makalah ini diantaranya adalah:
1. Mengetahui pengertian Tradisi Lisan dan Tulisan
2. Mengetahui Perkembangan Tradisi Lisan dan Tulisan
3. Mengetahui Bentuk Tradisi Lisan dan Tulisan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tradisi Tulisan
1. Pengertian Tradisi Tulisan
Tradisi tulisan atau tradisi besar yaitu penyampaian
sejarah melalui tulisan.1 Tradisi tulisan tentu saja ada setelah
manusia mengenal tulisan. Tulisan yang menjadi sasaran
penulis dipandang sebagai hasil budaya yang berupa cipta
sastra. Tulisan yang berupa naskah itu dipandang sebagai
cipta sastra karena teks yang terdapat di dalam naskah itu
merupakan suatu keutuhan dan mengungkapkan pesan.
Pesan yang terbaca dalam teks secara fungsional
berhubungan erat dengan filsafat hidup masyarakat
pendukungnya. Teks tulisan dapat berupa tulisan tangan,
tetapi dapat pula tulisan cetakan2
2. Perkembangan Tradisi Tulisan di Indonesia
Awal perkembangan penulisan sejarah di Indonesia dimulai
dengan adanya penulisan sejarah dalam bentuk naskah.
Beberapa sebutan untuk naskah-naskah yaitu babad,
hikayat, kronik, tambo dan lain-lain. Bentuk penulisan
sejarah pada naskah tersebut, termasuk dalam kategori
historiografi tradisional, sebutan ini untuk membedakan
dengan historiografi modern. Historiografi modern sudah
lebih dulu berkembang di Barat. Ciri Historiografi modern

1 Sabana,Setiawan.setiawan,Have. Legenda kertas. ( Dunia Pustaka


Jaya: 2005 ) hal 20-21

2 Noname, http://pensa-sb.info/tradisi-lisan-dan-tradisi-tulisan/

3
yang membedakan dengan tradisi tradisional adalah
penggunaan fakta. Fakta menjadi kenyataan sejarah.3
Penulisan sejarah zaman dahulu atau historiografi
tradisional pada zaman dahulu dilakukan oleh para
pujangga. Walau belum mengetahui secara pasti apa fungsi
penulisan sejarah, tapi penulisan sejarah banyak dilakukan.
Penulisan tersebut dilakukan atas dasar keinginan sendiri
atau atas dasar permintaan seorang raja4.
Tradisi tulisan atau tradisi besar yaitu penyampaian sejarah
melalui tulisan. Tradisi tulis menulis di Indonesia
diperkirakan mulai muncul sejak abad ke- 5. Hal tersebut
dibuktikan dengan ditemukannya prasasti dan yupa dari
kerajaan Tarumanegara dan Kutai5.
Tradisi tulis menulis pada zaman kerajaan dilakukan oleh
para pujangga kerajaan yang dipercaya oleh sang raja.
Historiografi pada zaman kerajaan umumnya bersifat istana
sentris, sehingga menceritakan kehidupan yang berada
dilingkungan kerajaan, dan tak jarang membanggakan raja-
rajanya, seperti kitab Arjuna Wiwaha. Huruf- huruf
yang pertama kali dikenal adalah huruf palawa dan
sansakerta. hal ini mungkin terjadi karena Indonesia telah
bersentuhan lama dengan kebudayaan india. Namun setelah
islam datang tradisi tulisan ini menggunakan huruf arab
pegon. berkaitan dengan ini, akhirnya timbul pertanyaan
mengapa bukan huruf- huruf china yang pertama kali
3Umi Fujiarti. Http://umifujiarti.blogspot.co.id/2015/04/tradisi-tulisan-
dan-tradisi-lisan.html di un nduh pada tanggal 25 Februari 2017 pukul
14:11WIB

4 Noname, http://pensa-sb.info/tradisi-lisan-dan-tradisi-tulisan di
unduh pada tanggal 28/02/2017 pada pukul 14:15

5 Sabana,Setiawan.op,cit. hal 20-21

4
digunakan atau dikenal, padahal nusantara telah menjalani
hubungan yang lama dengan daratan china, yakni sekitar
abad kedua.
Tradisi tulisan dari masa kemasa mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Mulai dari bahan yang
sederhana hingga dengan bahan yang sangat rumit. Mulai
dari bahan yang mudah dan murah didapat sampai bahan
yang sulit dan mahal didapat.
Pada awal perkembangannya, kegiatan tulis menulis
dilakukan oleh kalangan elit. Bahan yang digunakannya pun
berasal dari bahan yang berada disekitarnya. Penggunaan
kertas masih belum menggunakan kertas, karena
diperkirakan kertas masuk ke Indonesia pada abad ke- 13.6
Ada petunjuk kuat bahwa kegiatan tulis-menulis pada masa
itu dilakukan oleh para pendeta, resi atau wiku yang
berdomisili di kebuyutan atau mandala. Beberapa naskah
menyebut identitas penulis dan tempat penulisan pada
koloponnya.7
Penggunaan kertas dikalangan pribumi dilakukan oleh
pejabat kerajaan8. Hal ini disebabkan mahalnya harga kertas
saat itu. Namun setelah Indonesia mampu membuat kertas
sendiri maka kemudian menyebar kemasyarakat luar.
Kerajaan menggunakan kertas dalam kegiatan sehari-
harinya diantaranya adalah kesultanan Banten.
3. Bentuk-bentuk Tradisi Tulisan Tradisional
Di lihat dari bentuknya, karya tulis yang dihasilkan pada
masa kerajaan tarumanegara, kerajaan sunda dan galuh

6 Ibid. hal 22

7 Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran jilid 2.2009.


Pustaka Jaya : Jakarta. Hal 221-222

8 Sabana,Setiawan.setiawan, Op Cit hal 23.

5
dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu porsa, puisi dan
porsa lirik,9
1. prosa adalah ungkapan bahasa yang bebas baik berupa
pernyataan, percakapan maupun bahasan, contohnya
ialah prasasti Juru Pangambat, Prasasti Snghiyang
Tapak, prasasti Sanghyang Siksa Kandang Karesihan,
Amant galunggung, Cerita Parahiyangan, Serat Catur
Bumi, Serat Dewa Budha.
2. Puisi adalah ungkapan bahasa yang terikat oleh aturan-
aturan tertentu dalam jumlah baris, jumlah suku kata
tiap baris, tatanan bunyi, pilihan kata, nilai luhur
kemanusiaan, makna simbolis, dan lain-lain. Contohnya
adalah prasasti Kawali, prasasti Cikajang, naskah-
naskah; Ramayana, Bujangga Manik, Sri Ajnyana. Pada
umumnya teks puisi pada masa itu kalimat-kalimatnya
tersusun baris demi baris dan tiap baris terdiri dari suku
kata (octosyllabic) dengan irama dan bunyi yang teratur.
3. Prosa lirik secara umum tergolong porsa, tetapi
didalamnya terdapat ungkapan-ungkapan yang
mengandung puisi ,ritme dan rima. Porsa lirik terdapat
pada prasasti (prasasti kawali 1a dan 2) dan naskah
seperti Shyangyang Siksa Kandang Karesian, Sewaka
Darma, Sanghyang Raga Dewata, Carita Ratu Pakuan.

4. Perkembangan Tradisi Tulisan Modern Di Indonesia


Perkembangan historiografi seiring dengan perkembangan
alam pikiran manusia. Historiografi di Indonesia seiring
pula dengan perkembangan sejarah indonesia. Salah satu
perkembangan penting dalam penulisan sejarah di
indonesia yang mengarah pada bentuk historiografi yang

9 Edi S. Ekadjati, Op Cit, Hal 227-228.

6
modern adalah penulisan sejarah yang ditulis oleh orang
belanda.. sebuah tim yang terdiri dari yang terdiri dari para
sarjana ahli sejarah dan diketuai Dr. FW. Stapel, judul buku
sejarah yang di tulis tersebut adalah Geschiedenis van
Nederladsch Indie (Sejarah Hindia Belanda).
Penulisan Stapel dianggap Neerlandosentris dalam
perkembangan kemudian banyak mendapat kritikan. Sejak
awal kemerdekaan semangat penulisan sejarah indonesia
sentris telah muncul. Salah satu cara yang dilakukan oleh
para penulis sejarah indonesia, khususnya penulis buku-
buku pelajaran pelajaraan sejarah, mengubah judul buku
sejarahnya menjadi Sejarah Indonesia penulisan buku
sejarah ini khususnya diperuntukan kepentingan sekolah.
Pada masa pendudukan Jepang, pelajaran sejarah
mendapatkan pengawasan yang ketat dari badan
propaganda dan kebudayaan bentukan pemerintah Militer
Jepang. Pemerintahan Jepang salah satu upaya
menhilangkan pengaruh barat (Belanda) terhadap kaum
pribumi melaui jalur pendidikan, sehingga istilah Sejarah
Tanah Hindia diubah menjadi Sejarah Indonesia.
Berakhirnaya pendudukan Jepang, muncul buku pegangan
yang dipakai di sekolah. Buku tersebut ada yang resmi
ditulis oleh guru sendiri yang berupa diktat maupun
diterbitkan menjadi buku. Dan beberapa syarat yang harus
dipenuhi dalam penulisan sejarah Indonesia sebagai upaya
dekolonisasai yaiu :
1. Sejarah Indonesia yang wajar adalah sejarah yang
mengungkapakan Sejarah dari dalam dimana bangsa
Indonesia sendiri memegang peranan pokok.
2. Proses perkembangan bangsa masyarakat Indonesia
hanya dapat diterangakan sejelas-jelasnya dengan

7
menguraikan faktor atau kekuatan yang
mempengaruhinya, baik ekonomi, sosial, politik ataupun
kultural.
3. Pengungkapan aktivitas dari berbagai golongan
masyarakat, tidak hanya para bangsawan, atau kstaria,
tetapi juga dari kaum ulama atau petani serta golongan-
golongan lainnya.
4. Untuk menyusun sejarah Indonesia sebagai suatu
sintese, dimana digambarkan proses yang menunjukan
perkembangan kearah kesatuan geo-politik seperti yang
kita hadapi dewasa ini maka prinsip intregasi perlu
dipergunakan untuk mengukur seberapa jauh integrasi
itu dalam masa-masa tertentu telah tercapai.
Adanaya filsafat sejarah nasional agar penulisan
sejarah Indonesia mempunyai sendi yang berdasarkan
alam pikiran untuk menyusun sejarah Indonesia
kembali. Pada tahun 1963 dibentuk panitia untuk
melaksanakan penulisan kembali sejarah Indonesia,
namun karena pada tahun-tahun berikutnya di negara
kita terjadi ketegangan sosial dan krisis politik,
menyebabkan panitia tidak dapat menghasilkan
sesuatu. Titik terang dalam perkembangan penulisan
buku sejarah nasional kembali muncul dengan
diselenggarakannya Seminar Sejarah Nasional Kedua di
Yogyakarta tahun 1970. Upaya perbaikan terhadap
penulisan sejarah Indonesia terus dilakukan. Penulisan
sejarah tidak hanya dengan pendekatan
struktural,namun juga muncul pendekatan strukturis.
Historiografi Indonesia modern baru dimulai sekitar
tahun 1957, waktu diselenggarakannya Seminar
Nasional Indonesia Pertama di Yogyakarta. Agenda
Seminar itu meliputi filsafat sejarah nasional,

8
periodesasi Sejarah Indonesia, dan pendididkan sejarah.
Dari sinilah mulai nasionalisasi atau untuk
menggunakan istilah saat ini pribumisasi historiografi
Indonesia. Sebagai usaha tambahan terhadap penulisan
sejarah, dapat disebutkn usaha-usaha penerbitan arsip
yang dikerjakan oleh Arsip Nasional. Tulisan ini akan
meliputi juga kegiatan penerbitan-penerbitan yang tidak
secara khusus mengklaim sebaga penerbit sejarah,
tetapi yang dalam kenyataannya menyumbang besar
terhadap pemahaman sejarah, seperti penerbitan buku-
buku kenangan ulang tahun tokoh-tokoh sejarah.
Dalam penulisan sejarah kontemporer, misalnya,
penulis-penulis skripsi tidak saja ingat persoalan politik,
tetapi sudah menjangkau masalah-masalah sosial,
agama, budaya dengan pendekatan-pendekatan baru
berdasar pengetahuan mereka mengenai ilmu-ilmu
sosial.
B. Tradisi Lisan
1. Pengertian Tradisi Lisan
Sebelum bangsa Indonesia mengenal budaya
tulisan, bangsa Indonesia menyampaikan sejarah
( peristiwa penting ) dengan lisan. budaya lisan adalah
budaya penyampaian sejarah melalui lisan yang
disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya.
Sementara itu tradisi lisan memiliki batasan- batasan,
menurut Jan Vanisia, tradisi lisan sebagai Oral Testimony
Transmitted Verbally, From One Generation To Thenext
One Or Next10. tradisi lisan berbeda dengan sejarah lisan
, dimana sejarah lisan dalam mengungkapkan sejarah

10 Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. ( Tiara Wacana Yogya: 2003 ) hal.


25-26

9
menggunakan metode dan tekhnik, artinya dalam
sejarah lisan sumber sejarah bukan didapatkan
melainkan harus dicari datanya. Tradisi lisan mirip
dengan budaya bangsa arab yang biasa disebut dengan
istilah Ayyamul Arab dan Al Anshab. Namun
keduanya memiliki perbedaan. budaya lisan yang
berlangsung di Indonesia dikarenakan masyarakat
Indonesia benar- benar belum mengenal tulisan.
Kalaupun ada mungkin hanya sebagian kecil, dan
mungkin oleh kalangan istana saja, seperti para
pujangga dan keturunan raja. Sedangkan dua budaya
arab tersebut dikarenakan budaya atau tradisi lisan
lebih memiliki derajat yang tinggi para pelakunya.
Sehingga budaya lisan lebih banyak berkembang dan
dibanggakan.
Pada masa budaya lisan sedang Berjaya. Sejarah
disampaikan melalui syair , kidung dan pribahasa. Yang
semuanya disampaikan melalui lisan. Alasan mengapa
sejarah disampaikan dengan cara melalui syair dan
lainnya, karena dengan cara itulah sejarah atau semua
peristiwa mudah untuk diingat sehingga sangatlah wajar
jika pada masa itu muncul banyak sekali kidung- kidung
dan syair- syair.
2. Bentuk-bentuk Tradisi Lisan
Pada tahun 1518 penyusunan sanghyang siksa
kandang kareksian mencatat tiga jenis tradisi lisan di
tanah sunda yaitu pantun yang dibawakan oleh
prepantun (Juru Pantun), carita (caritera) yang
dibawakan oleh memen (dalang), kawih yang dibawakan
oleh paraguna (ahli karawitan). Dicatat beberapa cerita
pantun dan carita, Iyaitu langgalarang, banyakcatra,

10
siliwangi dan haturwangi sebagai contoh cerita pantun
serta Damarjati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana,
Pu Jayakarma, Ramayana Adiparwa, Korawasarma,
Bimasorga, Rangga Lawe, Boma, Sumana, kala Purbaka,
Jarini dan Tantri sebagai contoh carita.
Pantun sebagai tradisi lisan masih dikenal dan hidup
dalam masyarakaat sunda hingga sekarang, walaupun
makin lama makin mengalami penurunan baik kuantitas
pertunjukan kuantitas pendengar, maupun kuantitas
jurupantunnya, seperti halnya kawih , pantunpun
merangkum seni sastra dan seni suara atau seni
pertunjukan. Kedua macam seni tersebut menempati
posisi seimbang didalam pantun, unsur sastera dalam
pantun ialah lakon pantun yang bisa dikisahkan oleh
juru pantun pada waktu mengadakan pertunjukan.11
Cerita Pantun memiliki ciri-ciri khusus dalam setruktur
dan isinya, seluruh atau sebagian lakon pantun bersipat
puisi yang terpelihara iramanya serta kaya dengan
metafora dan purwakanti (persamaan bunyi)
mengandung cerita yang berulang-ulang pada waktu
melukiskan adegan tokoh yang sama12.
Dari cerita pantun yang telah diketahui dan di tuliskan
sekarang, teksnya tidak disusun berdasarkan baris
perbaris yang tiap barisnya mengandung kata-kata yan
berjumlah 8 suku kata, sebagaimana bentuk univaersal
tradisi lisan.13

11 Edi S. Ekadjati, Op Cit Hal 233.

12 Edi S. Ekadjati, Op Cit Hal 233-234.

13 Edi S. Ekadjati, Op Cit Hal 234.

11
Sejarah lisan tampak sebagai sebuah metode untuk
menggali pengalaman orang biasa, mengatasai
keterbatasan dokumen tertulis yang tidak banyak dan
sering tidak terawat. Sejarah lisan menurut
perimbangan antar berbagai prioritas yang saling
bersaing, dan banyak dari prioritas ini berkaitan dengan
kepekaan peneliti akan hubungan pribadi anatar
manusia. Sisi afektif dan emosi dalam penelitian sejarah
paling menonjol dalam sejarah lisan, karena dalam
sejarah lisan kita berdialog dengan orang-orang hidup.14
Peristiwa-peristiwa pada masyarakat yang belum
mengenal tulisan, tidak meninggalkan bukti-bukti
tertulis. Jika menjelaskan suatu asal-usul tempat, maka
yang dijadikan bukti hanya bukti benda atau artefak dari
benda itu sendiri. Penjelasan asal-usul tempat itu lebih
banyak berupa cerita lisan. Cerita tersebut akan terus
menerus diceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi
ke generasi sehingga menjadi sutu tradisi atau menjadi
tradisi lisan. Tardisi lisan merupakan cara yang
dilakukan oleh masyarakat yang belum mengenal
tulisan dalam merekam dan mewariskan pengalaman
masa lalu dari masyarakatanya.
Tradisi lisan berfungsi sebagai alat mnemonik
usaha untuk merekam, menyusun dan menyimpan
pengetahuan demi pengajaran dan pewarisannya dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Masyarakat
pendukung tradisi lisan lebih mementingkan retorika
ceritanya dari pada kebenaran faktanya. Pewarisan ini
dilakuakan agar masyarakat yang menjadi generasi
14 Umi Fujiarti. Http://umifujiarti.blogspot.co.id/2015/04/tradisi-tulisan-dan-
tradisi-lisan.html diun nduh pada tanggal 25 Februari 2017 pukul 14:11WIB

12
berikutnya memiliki rasa kepemilikan atau mencintai
cerita masa lalunya. Tardisi lisan dalam bentuk pesan-
pesan verbal yang berupa pernyataan-pernyataan lisan
yang diucapakan, dinyanyikan atau disampaikan lewat
musik. Asal tradisi lisan dari generasi sebelumnya
karena memiliki fungsi penafsiran, sedangkan di dalam
sejarah lisan, tidak ada upaya untuk pewarisan.
Tradisi lisan tidak termasuk kesaksian mata yang
merupakan data lisan. Juga tidak termasuk rerasan
masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan
dari satu generasi ke generasi lain. Tradisi lisan terbatas
dalam kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum
mengenal tulisan. Tradisi lisan mengandung nilai-niali
moral, keagamaan, adat-istiadat, cerita-cerita khayal,
peribahasa, nyanyian, mantra. Dalam ilmu antropologi
tradisi lisan sebagai sumber data bagi penelitian sudah
dipergunakan sejak awal timbulnya ilmu itu, tetapi
dalam ilmu sejarah penggunaan tradisi lisan masih
merupakan hal yang baru.
Tradisi lisan muncul berkaitan dengan usaha
mengabadikan pengalaman-pengalaman kelompok
dimasa lampau melalui cerita yang diturunkan secara
turun-temurun dari generasi ke generasi. Menurut
Vansia unsur penting dalam tradisi lisan adalah pesan-
pesan verbal yang berupa pernyataan-pernyataan yang
pernah dibuat dimasa lampau oleh generasi yang hidup
sebelum generasi yang sekarang ini. Yang perlu
diperhatikan dalam hubungan tardisi lisan ini adalah.
1. menyangkut pesan-pesan yang berupa pernyataan-
pernyataan lisan yang diucapakan, dinyanyikan atau
disampaikan lewat musik atau alat bunyi-bunyian.

13
2.Tradisi lisan berasal dari generasi sebelum generasi
sekarang, paling sedikit satu generasi sebelumnya.
Menurut Vansia, tradisi lisan bisa dibedakan menjadi
beberpa jenis15:
1.Petuah-petuah yang sebenarnya merupakan rumusan
kalimat yang dianggap punya arti khusus bagi
kelompok, yang biasannya disitat secara berulang-ulang
untuk menegaskan satu pandangan kelompok yang
diharapakan jadi pegangan bagi generasi-generasi
berikutnya. Rumusan kalimat biasannya diusahakan
tidak diubah-ubah meskipun dalam kenyataan
perubahan bisa terjadi terutama sesudah melewati
beberapa generasi, apalagi penerusannya bersifat lisan,
jadi sukar dicek dari rumusan aslinya. Namun karena
kedudukannya istimewa dalam kelompok, maka tetap
diyakini bahwa rumusan itu tidak berubah.
2. Kisah tentang kejadian-kejadian disekitar kehidupan
kelompok, baik sebagai kisah perseorangan atau
kelompok. Kisah yang sebenarnya berintikan fakta
tertentu, fakta inti dengan cepat biasannya diselimuti
unsur kepercayaan atau pencampuradukan anatar fakta
dengan kepercayaan itu. Cara penyampaian fakta
memang seperti penyampaian gosip (penuh dengan
tambahan menurut selera penuturnya. Vanisa memberi
istilah historical gossip (gosip yang berniali sejarah).
3. Cerita kepahlawanan yang berisi bermacam
gambaran tentang tindakan kepahlawanan yang
mengagumkan bagi kelompok pemiliknya yang

15 Umi Fujiarti. Http://umifujiarti.blogspot.co.id/2015/04/tradisi-tulisan-dan-


tradisi-lisan.html di un nduh pada tanggal 25 Februari 2017 pukul 14:11WIB

14
biasannya berpusat pada tokoh-tokoh tetentu dari
kelompok itu.
4. Cerita Dongeng yang umumnya bersifat fiksi belaka.
Biasanya berfungsi umtuk menyenangkan bagi yang
mendengarkannya.
Tradisi lisan sering dihubungkan dengan folklor, karena
foklor menyangkut tradisi dalam kelompok masyarakat
atau komunitas tetentu, Pewarisan melalui cara lisan
atau tutur kata. Tradisi lisan hanyalah bagian dari foklor.
Tradisi lisan mempunyai keterbatasan yaitu adanya
unsur subjektifitas lebih besar dibandingkan unsur
tertulis. Yang menjadi masalah dalam tradisi lisan
adalah penerapan konsep kausalitas dalam uraian
ceritannya. Tradisi lisan memuat informasi luas tentang
kehidupan suatu komunitas dengan berbagai
aspeknya.16
Tradisi lisan (oral tradition) mancakup segala hal yang
berhubungan dengan sastera, bahasa, sejarah, biografi,
dan berbagai pengetahuan serta jenis kesenian lain
yang disampaikan dari mulut ke mulut. Jadi tradisi lisan
tidak hanya mencakup cerita rakyat, teka-teki,
peribahasa, nyanyian rakyat, mitologi, dan legenda,
seperti yang umumya diduga orang, tetapi juga
berkaitan dengan sistem kognitif kebudayaan, seperti
sejarah hukum, dan pengobatan. Tradisi lisan adalah
segala wacana yang diucapkan atau disampaikan
secara turun-temurun meliputi yang lisan dan yang
berraksara dan diartikan juga sebagai sistem wacana

16 Umi Fujiarti. Http://umifujiarti.blogspot.co.id/2015/04/tradisi-tulisan-dan-


tradisi-lisan.html di un nduh pada tanggal 25 Februari 2017 pukul 14:11WIB

15
yang bukan beraksara. Tradisi lisan tidak hanya di
miliki oleh orang lisan saja. Implikasi kata lisan dalam
pasangan lisan tertulis berbeda dengan lisan beraksara.
Lisan yang pertama (oracy) mengandung maksud
kebebasan bersuara; sedangkan lisan kedua (orality)
dalam maksud beraksara kebolehan bertutur secara
beraksara.
Kelisanan dalam masyarakat berakasara sering
diartikan sebagai hasil dari masyarakat yang terpelajar;
sesuatu yang belum dituliskan; sesuatu yang dianggap
belum sempurna atau matang, dan sering dinilai dengan
kriteria keberaksaraan. Bila diberikan deskripsi tentang
kelisanan dengan memakai ukuran dari hal-hal yang
berasal dari dunia keberaksaraan, masih ada hal-hal
tertentu yang khas dari kelisanan yang belum terungkap
ada pula hal-hal yang diungkapkan, tetapi tidak
diwujudkan. Hal ini tidaklah berarti bahwa kelisanan
sama sekali terlepas dari dunia keberaksaraan atau
sebaiknya, dunia keberaksaraan tidak berkaitan dengan
dunia kelisanan. Hubungan di antara tradisi lisan dan
tradisi tulis khususnya dalam dunia melayu didasari oleh
anggapan bahwa dengan mengetahui interaksi
keduanya, bru dapat memahami masing-masing tradisi
tersebut. Pada beberapa tempat hubungan atau
penulisan tradisi lisan ke dalam naskah tertulis,
sebagaimana telah dijelaskan pada hakikat keselisihan
di atas, tertentu memiliki latar belakang yang berbeda-
beda dalam perjalanannya, naskah-naskah yang
berawal dari riwayat lisan menimbulkan banyak versi.

16
Hal ini dipengaruhi oleh selera penulis atau
penyaliannya.17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebelum bangsa Indonesia mengenal budaya tulisan, bangsa Indonesia
menyampaikan sejarah (peristiwa penting) dengan lisan. budaya lisan
adalah budaya penyampaian sejarah melalui lisan yang disampaikan dari
generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi tulisan atau tradisi besar yaitu penyampaian sejarah melalui
tulisan. Tradisi tulis menulis di Indonesia diperkirakan mulai muncul sejak
abad ke- 5. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya prasasti dan
yupa dari kerajaan Tarumanegara dan Kutai18. Tradisi tulis menulis pada
zaman kerajaan dilakukan oleh para pujangga kerajaan yang dipercaya
oleh sang raja. Historiografi pada zaman kerajaan umumnya bersifat
istanasentris, sehingga menceritakan kehidupan yang berada dilingkungan
17 Umi Fujiarti. Http://umifujiarti.blogspot.co.id/2015/04/tradisi-tulisan-dan-
tradisi-lisan.html di un nduh pada tanggal 25 Februari 2017 pukul 14:11WIB

18 Sabana,Setiawan.setiawan,Have. Legenda kertas. ( Dunia Pustaka


Jaya: 2005 ) hal 20-21

17
kerajaan, dan tak jarang membanggakan raja- rajanya, seperti kitab Arjuna
Wiwaha.
Penulisan sejarah yang dilakukan pujangga-pujangga pada
zaman dulu bertugas menjelaskan, menceritakan dan
menulis untuk kepentingan sejarah dan menghadirkan
kewenangan seorang raja, sehingga disusun lebih lengkap
dan bermakna dan segi konsep keagamaan.Oleh
karenanya, teks yang dibuat lebih cenderung bernuansa
simbolik yang diragukan faktanya.
B. Keritik dan Saran
Dalam penulisan makalah ini kami yang menulis
merasa sangat kurang atau mungkin banyak
kekurangannya baik itu dalam pemilihan sub bab, tema
materi atau ketidak sesuaian dari paragraf satu ke paragraf
selanjutnya karena kurang maksimalnya kami dalam
mencari sumber-sumber, untuk itu kami mohon keritik dan
saranya agar kami penulis bisa

Daftar Pustaka
Setiawan. Sabana,Have. Legenda kertas. ( Dunia Pustaka
Jaya: 2005 )
Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. ( Tiara Wacana Yogya:
2003 )
Ekadjati. Edi S, Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran jilid
2.2009. Pustaka Jaya : Jakarta.

Umi Fujiarti.
Http://umifujiarti.blogspot.co.id/2015/04/tradisi-tulisan-
dan-tradisi-lisan.html
Noname, http://pensa-sb.info/tradisi-lisan-dan-tradisi-
tulisan/

18