Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geologi, adalah suatu bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian yang mempelajari
segala sesuatu mengenai planet Bumi beserta isinya yang pernah ada. Merupakan
kelompok ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang
membentuk bumi, struktur, proses-proses yang bekerja baik didalam maupun
diatas permukaan bumi, kedudukannya di Alam Semesta serta sejarah
perkembangannya sejak bumi ini lahir di alam semesta hingga sekarang. Geologi
dapat digolongkan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang kompleks, mempunyai
pembahasan materi yang beraneka ragam namun juga merupakan suatu bidang
ilmu pengetahuan yang menarik untuk dipelajari. Ilmu ini mempelajari dari
benda-benda sekecil atom hingga ukuran batuan, benua, samudra, cekungan dan
rangkaian pegunungan.
Di bumi tersebut terdapat suatu proses ataupun fenomena geologi yang
memberikan dampak bagi kehidupan organisme di dalamnya baik
secara langsung maupun tidak langsung, baik dampak yang buruk
maupun dampak yang baik. Dalam memahami proses-proses tersebut
parailmuwan telah melakukan berbagai penelitian-penelitian ilmiah
yang akhirnya menghasilkan berbagai teori-teori tentang perkembangan
bumi. Teori perubahan pada muka bumi merupakan teori yang cukup
populer untuk dikembangkan, salah satunya adalah teori mengenai
perubahan bentuk muka bumi. Bumi pada awalnya merupakan satu
kesatuan yang disebut pangea, seiring dengan berjalannya waktu
sampai saat ini bumi telah berubah menjadi beberapa bagian.
Perubahan bumi ini diakibatkan oleh bumi yang bersifat dinamis, teori
ini disebut sebagai teori pengapungan benua yang dikemukakan oleh
Alfred Wegener (1915). Perubahan bumi ini diakibatkan oleh
pergerakan dari lempeng-lempeng, pergerakan lempeng-lempengg ini
akan menghasilkan batas-batas lempeng. Batas lempeng dibagi menjadi
3 yaitu batas lempeng konvergen, divergen, dan transform. Ketiga

1
lempeng saling berkesinambungan dan akan saling memperngaruhi
terhadap keadaan bumi. Salah satunya adalah pergerakan lempeng yaitu
divergen, dimana lempeng-lempeng bumi akan bergerak saling menjauh
yang diakibatkan oleh arus konveksi. Jika batas lempeng divergen lebih
dominan dibanding pergerakan lempeng lain maka dataran akan
semakin luas.

1.2 Rumusan Masalah


Apa yang dimaksud dengan divergen ?
Bagaimana proses divergen pada lempeng ?
Apa saja produk hasil proses divergen ?

1.3 Tujuan Makalah


Untuk mengetahui pengertian divergen
Untuk mengetahui proses divergen pada lempeng
Untuk mengetahui produk hasil proses divergen

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyebab Lempeng Bergerak


Penyebab lempeng bergerak adalah adanya gaya-gaya yang bekerja pada
lempeng, yaitu:
a. Ridge-push
Lempeng bergerak menjauh dari batas divergen, mendingin dan mengental.
Pendiginan dasar laut mereda ketika ketika bergerak, dan penurunan ini
membentuk lereng yang luas pada penggungan bukit tengah samudra. Bahkan
yang lebih penting bahwa lereng membentuk dasar mantel litosfer. Mantel
mengental mengubah mantel astenosfer menjadi mantel litosfer. Oleh karena
itu, batas antara keduanya.

b. Slab-pull
Proses dimana litosfer yang dingin masuk ke dalam dengan sudut yang curam
ke arah mantel yang panas sehingga menyebabkan bagian dari dasar lempeng
tersebut menjauh dari puncak punggungan bukit dan turun ke dalam mantel.
Slab- pull menyebabkan puncak penggungan bukit bergerak menjauh dari
lempeng samudera. Slab-pull menyebabkan pergerakan lempeng yang cepat.

c. Trench-suction
Gaya ini memiliki tenaga minor tetapi mungkin menjadi hal penting dalam
gerak divergen benua. Benua yang berbeda pada ujung tepi lempeng tidak
dapat digerakkan oleh slab-pull, karena bukan pada lempeng ubduksi.
Namun dapat digerakkan oleh ridge-push dari belakang, atau trench-
section dari depan. Gaya-gaya tersebut lebih lambat dari subduksi lempeng

3
2.2 Teori Tektonik Lempeng
Teori tektonik lempeng pada dasarnya adalah suatu teori yang menjelaskan
mengenai sifat-sifat bumi yang mobil/dinamis yang disebabkan oleh gaya yang
berasal dari dalam bumi. Konsep dari tektonik lempeng, lapisan kerak Bumi
(litosfir) terpecah-pecah dalam 12 lempeng utama yaitu

Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu: Lempeng Afrika,


meliputi Afrika - Lempeng benua Lempeng Antarktika, meliputi
Antarktika - Lempeng benua Lempeng Australia, meliputi
Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50 sampai 55
juta tahun yang lalu)- Lempeng benua Lempeng Eurasia,
meliputi Asia dan Eropa - Lempeng benua Lempeng Amerika
Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut - Lempeng
benua Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan -
Lempeng benua Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik -
Lempeng samudera Lempeng-lempeng penting lain yang lebih
kecil mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia, Lempeng
Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca,
Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.
Lempeng pasifik
Lempeng amerika
Lempeng eurasia
Lempeng afrika
Lempeng austria
Lempeng antartika
Lempeng nazca
Lempeng cocos
Lempeng filipina

4
Lempeng arab
Lempeng caribbean
Lempeng juan de fuca
Batas-batas dari ke 12 lempeng tersebut diatas dapat dibedakan berdasarkan
interaksi antara lempengnya sebagai berikut:
a) Batas Konvergen: Batas konvergen adalah batas antar lempeng yang saling
bertumbukan.
b) Batas Divergen: Batas divergen adalah batas antar lempeng yang saling
menjauh satu dan lainnya.
c) Batas Transform: Batas transform adalah batas antar lempeng yang saling
berpapasan dan saling bergeser satu dan lainnya menghasilkan suatu sesar
mendatar jenis Strike Slip Fault.

Gambar1, Peta Tektonik di seluruh dunia


Sumber; https://ocyfis.files.wordpress.com/2008/09/lempeng-tektonik.pdf

5
BAB III
DIVERGEN
3.1 Pengertian Divergen
Divergen, Divergen, lempeng lempeng bergerak bergerak saling
menjauh, menjauh, dapat menyebabkan menyebabkan
pembentukan pembentukan lantai samudra samudra yang baru.
Contoh The Great Rift Valey, Afrika timur
Batas Divergen terjadi jika dua buah lempeng bergerak saling
menjauh. Contoh pembentukan Batas Divergen adalah pemisahan
lempeng Amerika Utara dan Lempeng Afrika. Hasil gerakan kedua
lempeng ini adalah Perbukitan Tengah Laut yang ada di Samudera
Atlantik.

www.staff.uny.ac.id

Contohnya; gerakan saling menjauh antara lempeng Afrika dengan Amerika


bagian selatan. Zone berupa jalur tempat berpisahnya lempeng-lempeng tektonik

6
disebut Zone Divergen (zone sebar pisah). Fenomena yang terjadi, sebagai
berikut:
Perenggangan lempeng yang disertai pertumbukan kedua tepinya.
Pembentukan tanggul dasar samudera (Mid Oceanic Ridge) di
sepanjang tempat perenggangan lempeng-lempeng tersebut.
Aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa
berstruktur bantal (lava bantal) dan hamparan leleran lava encer,
Aktivitas gempa.
Contohnya, pada Lautan Atlantik, tanggul dasar samudera memanjang dari dekat
Kutub Utara sampai mendekati Kutub Selatan. Celah ini menjadikan benua
Amerika bergerak saling menjauh dengan benua Eropa dan Afrika.

3.2 Divergen Pada Lempeng Samudera

Gambar 3, Batas Divergen


Sumeber; www.hmgi.or.id

Gerakan Divergen merupakan gerakan lempeng tektonik yang saling menjauh dan
bergerak secara perlahan. Akibatnya,terjadi retakan-retakan. Retakan-retakan yang
terjadi merupakan jalan keluarnya magma yang terus menerus mengalir. Aliran
magma tadi lama kelamaaan akan muncul sedikit sampai di permukaan bumi yang

7
dapat menyebabkan timbulnya pulau-pulau vulkanik yang baru. Sedangkan jika
terjadi di dasar laut maka ini akan menimbulkan yang disebut dengan Sea Floor
Spreading atau hamparan dasar laut.
Divergen biasanya akan berhubungan dengan hotspot. Pada pergerakan lempeng
divergen yang terjadi pada oceanic plate yaitu dua lempeng samudera bergerak
saling menjauh mengakibatkan magma yang berasal dari mantel bumi akan keluar
ke permukaan bumi yang tepatnya membentuk zona MOR (Mid Oceanic Ridge).
Magma yang berasal dari mantel bumi ini bersifat basaltik, magma basaltik yang
keluar melalui celah lama kelamaan akan membentuk suatu lempeng baru.
Kemudian juga akan terbentuk gunung api perisai pada dasar laut yang sifat
magmanya adalah basaltik pada batas lempeng divergen oceanic (plate
boundaries). Pada bidang geologi, gunung api dasar laut akan menghasilkan
batuan yaitu peridotit, gabbro dan basalt, kemudian lava gunung api dasar laut
yang berkontak langsung dengan air laut akan menghasilkan batuan pillow lava.

A. Ciri Topografi Cekungan Samudera

Gambar 4, Topografi Dasar Samudera


Sumber; Sapiie, Benyamin.2012. Tektonofisik. ITB
a) Batas Benua ( Continental Margin)
Conentinental Shelf,memiliki lebar dari beberapa kilometer hingga lebih
dari 300 KM dengan kemiringan yang landau dan sebagian besar ditutupi
laut hingga kedalaman 180 M.
Kea rah laut, adalah lereng benua (continental slope), kemiringan 2 derajat
sampai 3 derajat di sepanjang batas batas pasif (passive margin) di
cekungan Atlantik

8
Submarin Canyoon berbentuk menyerupai selokan (Gully) yang di gerus
oleh erosi. Lereng ini adalah tepi continental shelf pada kedalaman 1400
hingga 3200 M.
Continental Rise menunjukkan permukaan dengan lereng rendah hingga ke
dasar samudera . lebar topografi ini sekitar 200-500 km. pada batas luarnya,
topografi ini mencapai kedalaman 5000 m sehingga merupakan batas
dengan cekungan samudra.
b) Dasar Cekungan Samudra (Ocean-basin-floor)
Ocean-basin floor berada pada kedalaman 4500-5500m
Topografi ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu
a) Abyssal plain dan hill
b) Oceanic rise
c) Seamount
Abyssal hill adalah bukit kecil yang tingginya dapat mencapai dari beberapa
puluh meter hingga beberapa ratus meter dari dasar samudra
Oceanic rise adalah area dengan luas ratusan kilometer dimana
permukaannya naik beberapa ratus meter di atas dasar samudra
Seamount adalah bukit terisolasi dengan tinggi 1000 m atau lebih dari dasar
samudra. Beberapa seamount juga terdapat di continental rise, namun lebih
banyak terdapat di litosfer samudra. Tinggi seamount dapat mencapai 3300
m dari dasar dengan lebar 40 km. Seamount di pasifik berbentuk kerucut
(conical) dengan lereng yang curam dan identifikasi sebagai gunungapi
basaltic yang sudah tidak aktif lagi.
c) Sistim Penggungan Tengah Samudera (Mid-oceanic-ridge)
Punggungan tengah samudera merupakan rangkaian punggungan di bawah
laut dengan panjang sekitar 70.000 km.
Permukaan pemantang samudera ini tidak rata ( ruggedness ) seperti di Mid-
Atlantic Ridge
Lebar punggungan ini mencapai 2000-2400 km. puncak tertinggi terletak
pada kedalaman 1500-2000 m
Pada pematang tersebut terdapat ciri depresi yang menyerupai
palung,dinamakan axial rift.
a. Axial rift ditemukan oleh Marie Tharp, di tahun 1955. Bentuk lahan
tersebut ( landform ) diduga sebagai tempat terpisahnya kerak ( pulling
apart of crust ).

9
b. Tharp juga menemukan episenter gempa dangkal yang posisinya
dengan mid-atlantic ridge,dan beberapa diantaranya terletak pada axial
rift.
Karena retaknya kerak (crustal fracturing) akibat tektonik aktif yang
menghasilkan gempa,maka episenter gempa tersebut dapat digunakan untuk
menentukan penyebaran punggungan tengah samudera di seluruh dunia
(dengan tanpa eksplorasi topografi dasar samudera ).
Penemuan hubungan gempa dengan axial rift memberikan bukti bahwa axial
rift adalah tempat kerak bergeser dengan kerak lainnya. Sekarang axiaL rift
dikenali sebagai batas pemekaran lempeng dimana litosfer samudera baru
terbentuk.
Di cekungan Pasifik ditemukan lereng atau punggungan sempit dan panjang
berarah barat-timur pada lantai samudera. Bentuk ini saling parallel satu
sama lainnya,yang saat itu dinamakan fracture zone. Fracture zone tersebut
sekarang dinamakan sesar transform yang menjadi batas aktif antara
lempeng litosfer.
Axial rift terpecah menjadi beberapa bagian, dimana ujung pecahan ini
merupakan pergeseran (offset) axial rift sepanjang fracture zone. Pergeseran
axial rift sepanjang zone ini dapat mencapai 600 km.

3.3 Divergen Pada Lempeng Benua

10
Gambar 5, Pergerakan Lempeng
Sumber; www.porosilmu.com
Pada pergerakan lempeng divergen yang terjadi pada lempeng benua (continental
plate) yaitu dua lempeng benua bergerak saling menjauh akan mengakibatkan
keretakan sehingga akan terbentuk lembah atau a rift valley form. Salah satu
lembah terbesar yang terbentuk akibat divergen pada lempeng benua adalah Great
Rift Valley di Afrika. Benua Afrika saat ini sedang mengalami peretakan benua
yang terbesar di dunia, para ahli sering menyebutnya sebagai Lembah Retakan
Besar (Great Rift Valley) Afrika Timur karena bagian timur Afrika saat ini sedang
memisahkan diri dari sisa Afrika lainnya.
Divergen menyebabkan terjadinya rekahan yang cukup besar pada daratan.
Rekahan itu akan terus meluas setiap tahunnya. Adanya bekas tarikan berlawanan
arah antara kedua lempeng, yang bisa ditandai dengan celah antara kedua
lempeng, atau bisa juga dengan adanya penipisan lempeng di pertengahan kedua
arah gaya. Pada zona ini bisa terbentuk gunungapi, dimana magma di dalam bumi
akan lebih mudah mencapai permukaan (dikarenakan lempeng yang menipis).
Dicirikan gunungapi cenderung berbentuk landai

A. Rifting valley

11
Rifting valley adalah sebuah dataran rendah yang berada diantara beberapa
dataran tinggi atau pegunungan dibentuk oleh proses geologi rift atau patahan.
Dalam pembentukan rift valley sebenarya bisa terbentuk akibat proses pergerakan
lempeng secara divergen yaitu proses rifting dan spreading . Rifting adalah proses
retaknya lempeng sehingga membentuk graben atau lembah yang rendah hal ini
diakibatkan adannya gravitasi, proses rifting merupakan proses yang hampir mirip
dengan proses pembentukan punggungan tengah samudera namun pada rifting ini
terjadi pada kerak benua sedangkan punggungan tengah samudera terbentuk pada
kerak samudera . Sedangkan proses spreading adalah proses pemekeran lempeng
yang telah patah akibat gaya tarikan atau tensional. Pergerakan lempeng ini
disebabkan oleh adanya arus konveksi dari mantel yang meleleh dan bersifat
plastis .

Gambar 6, Rifting valley


Sumber; www. searchoflife.com

B. Pemekaran oleh Mantle Plume

12
Mantel plume diasumsikan sebagai benjolan tidak beraturan dari batuan yang
panas di dalam mantle bumi. Pada kedalaman yang mendekati bumi mantle plume
menyebabkan batuan disekitarnya meleleh sehingga diasumsikan bahwa mantle
plume merupakan sumber magma dari gunung api yang menyebabkan pergerakan
lempeng. Jika tidak terjadi pergerakan lempeng maka mantle plume akan
menyemburkan magma ke permukaan sehingga menjadi lava panas dalam skala
sangat besar sebagai proses dalam mencapai kesetimbangan. Lava panas yang
naik ke permukaan (hotspot) yang keluar akan membeku dan menyebabkan
pemekaran

Gambar 7, Mantle Plume


Sumber; www.scribd.com

C. Jenis batas batas rifting

13
o Aktif rifting

Gambar 8, Aktif Rifting


Sumber ; www.scribd.com

Aktif Rifting tidak disebabkan langsung oleh gaya langsung oleh litosfer
melainkan terjadi karena erosi termal dari magma . Erosi yang tinggi menciptkan
potensial gravitasi yang tinggi hal ini menyebabkan material runtuh karena gaya
gravitasi dan menyebar sehingga terbentuk rifting

o Pasif rifting

Gambar 9, Pasif Rifting


Sumber; www.scribd.com

Pasif rifting terbentuk lebih


dominan langsung oleh gerak

14
tarikan litosfer yang berlawanan arah tekanan ini berasal dari mantle plume atau
arus konveksi dan zona penujaman

Proses rifting pasif ini terjadi akibat tarikan skala regional pada kerak benua yang
menyebabkan pelemah pada bagian litosfernya tersenderi , sehingga batuan panas
pada mantle akan menekan litosfer . Pembentukan rifting ini akan diikuti oleh
pengkubahan karena magma menerobos litoser yang makin lama semakin tipis
akibat oleh gaya tarikan .

Contoh rifting di indonesia yaitu gunung colo

Gunung Colo merupakan gunungapi yang menyendiri di Teluk Tomini dan berada
jauh dari zona subduksi. Gunungapi terdekat adalah gunung-gunung di daratan
Sulawesi Utara yang merupakan produk dari subduksi. Gunung Colo bukan
merupakan gunungapi yang terbentuk akibat proses subduksi lempeng. Dikatakan
demikian akibat beberapa hal sebagai berikut. Di wilayah Teluk Tomini terdapat
cukup banyak episentrum gempa.

Gambar 10, Gunung Colo (507 m)


Sumber; www.volcosquad.com

Umumnya, gempa bumi pada zona subduksi memiliki hiposentrum pada zona
Benioff. Zona Benioff di sekitar Gunung Colo berada pada kedalaman lebih dari
200 km (relatif lebih dalam). Bisa saja Gunung Colo terbentuk akibat subduksi
dengan Zona Benioff yang dalam ini, namun jika memang subduksi yang terjadi,
maka harusnya bukan hanya satu gunungapi saja yang terbentuk di daerah ini,

15
melainkan satu deret. Selain itu, Gunung Colo berada jauh dari zona subduksi.
Berbeda jauh dengan deretan gunungapi di Sulawesi Utara, jarak antara zona
subduksi dengan Gunung Colo ini lima kali lipatnya, bahkan lebih.

Gunung Colo diperkirakan terbentuk akibat rifting by subduction rollback. Rifting


ini terjadi pada daerah Teluk Tomini yang merupakan implikasi dari subduction
rollback. Subduction rollback merupakan peregangan kerak akibat perubahan
sudut dari lempeng yang menunjam (subducting slab). Subduksi ini terjadi di Laut
Sulawesi, strike subduksi tersebut sejajar dengan garis pantai Lengan Utara
Sulawesi. Daerah ini merupakan Palung Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench).
Dengan adanya peregangan kerak di Teluk Tomini tersebut, artinya kerak dibawah
Teluk Tomini tersebut semakin menipis. Peregangan ini sendiri terjadi pada
Pliosen hingga Pleistosen. Dahulunya, cekungan Gorontalo di Teluk Tomini tidak
sedalam sekarang. Cekungan ini mulai mendalam pada Miosen hingga Pliosen (7-
5 juta tahun yang lalu) seiring tekukan lempeng yang menunjam ke arah selatan di
Laut Sulawesi.

Akibat penipisan kerak tersebut, terjadi rifting atau pemekaran di wilayah Teluk
Tomini. Rifting ini terbentuk akibat kerak bumi yang memiliki elastisitas rendah,
sehingga bila ditarik maka akan meregang dan sedikit mekar, tidak seperti karet
tentunya. Peregangan ini terbukti dari data GPS yang menunjukkan bahwa
Lengan Utara Sulawesi bergerak menjauh relatif terhadap Lengan Timur
Sulawesi. Peregangan atau pemekaran ini tentunya menjadi zona lemah pada
batuan, sehingga dapat diterobos oleh magma atau material mantel bumi. Gunung
Colo diprediksi terbentuk akibat hal tersebut, terjadi penipisan atau peregangan
kerak bumi pada wilayah Teluk Tomini lalu ada material magmatik yang
menerobos batuan pada kerak bumi lalu muncul ke permukaan membentuk tubuh
gunungapi diatas permukaan laut.

3.4 Produk Hasil Divergen


a) Ofiolit

16
Ofiolit merupakan penggalan kerak samudera dan lapisan mantel atas di
bawahnya yang telah terangkat atau terpindahkan dan tersingkap di bagian tepi
kerak benua. Terdiri dari batuan basalt, gabbro dan peridotit. Ofiolit terbentuk
pada zona MOR dan juga dapat terbentuk pada zona suprasubduksi yaitu pada
busur kepulauan.

Contoh ofiolit di Indonesia :

Teluk Tomini berbatasan dengan beberapa wilayah dengan keadaan geologi yang
berbeda, mulai dari lengan utara yang basement-nya merupakan kerak samudera,
bagian leher di barat yang merupakan kerak benua dan lengan timur di sebelah
selatan yang merupakan ofiolit.

Gambar 11, ofiolit


Sumber; awangsatyana.blogspot.co.id

b) Batuan Basalt

Basalt adalah batuan beku vulkanik, yang berasal dari hasil pembekuan
magma berkomposisi basa di permukaan atau dekat permukaan bumi. Biasanya
membentuk lempeng samudera di dunia. Mempunyai ukuran butir yang sangat
baik sehingga kehadiran mineral mineral tidak terlihat.

Berdasarkan komposisi kimianya, basalt dapat dibedakan menjadi dua


tipe, yaitu basalt alkali dan basalt tholeitik. Perbedaan di antara kedua tipe basalt

17
itu dapat dilihat dari kandungan Na2O dan K2O. Untuk konsentrasi sio2 yang
sama, basalt alkali memiliki kandungan Na2O dan K2O lebih tinggi daripada
basalt tholeitik. Basalt alkali khas dijumpai di daerah kerak benua yang terangkat
berbentuk kubah (updomed continental crust) dan kerak benua yang mengalami
rifting (rifted continental crust), dan pulau-pulau oseanik seperti Hawai.
Basalt tholeitik khas dijumpai di lantai samudera, atau sebagai lava ekstrusi yang
sangat besar sehingga membentuk plateau di kerak benua, contohnya Deccan Trap
di India.

Gambar 12, Basalt


Sumber; taylorlhaller.wordpress.com

c) Batuan Peridotit

Peridotit adalah batuan beku ultra basa plutonik yang terjadi akibat
dari pembekuan magma berkomposisi ultra basa pada kedalaman jauh dibawah
permukaan bumi. Peridotite adalah batuan padat, kasar, beku, sebagian besar
terdiri dari mineral olivin dan piroksen.

Peridotit adalah batuan ultrabasa, batuan ini mengandung kurang dari 45% silika,
kaya akan magnesium, yang mencerminkan proporsi tinggi olivin yangkaya

18
magnesium, zat besi yang cukup.Peridotit di bumi dihasilkan pada batas lempeng
divergen pada sistem mid-ocean ridges. Arus konveksi dari dalam mantel
menghasilkan peluruhan/melting pada batuan yang ada sebelumnya. Hasil ini
akan terbentuk sebagai batas divergen yang tertarik dan meletus di dasar laut.

Gambar 13, Peridotit


Sumber; taylorlhaller.wordpress.com

d) Pillow Lava

Pilllow lava atau lava bantal memliki ukuran sekitar 30 60 cm. Berbentuk
memundar memanjang menyerupai bantal, terbentuk didalam air. Lava yang
keluar berupa kantung-kantung lava (membundar) dengan cepat terdinginkan,
tetapi besarnya tekanan lava yang keluar menyebabkan kantung yang sudah
terbentuk bocor dan membentuk kantung baru. Pillow lava di Indinesia terdapat di
Pulau Wetar, Maluku Barat daya dan juga Karangsambung

19
Gambar 14, Karangsambung
Sumber; www.andyyahya.com

e) Columnar Joint

Columnar joint mempunyai struktur berupa pori-pori atau kolom-kolom. Struktur


kolom ini terbentuk dari proses pendinginan tubuh lava pada kondisi tekanan dan
suhu yang sesuai. Columnar joint biasanya merupakan batuan basalt. Columnar
joint terdapat di Purworejo

Gambar 15, Columnar Joint,


Sumber; www.harianbernas.com

f) Seamount

Seamount, yaitu gunung di dasar laut dengan lereng yang curam dan berpuncak
runcing. Seamount terjadi pada daerah pemekaran samudra dan terjadi proses
keluarnya material bumi dari mantel bagian atas sehingga terjadi semount atau
gunung bawah laut. Sebenernya banyak sekali seamount yang ada di sekitar
Indonesia. Yang terkenal adalah yang berada disebelah selatan Jawa. Salah satu

20
gunungnya ada yang muncul kepermukaan membentuk Pulau Krismas, atau Pulau
Natal atau Christmas Island. Pulau Natal atau Chrismas Island, merupakan sebuah
kompleks gunung laut (seamount) yang sangat besar. Pulau ini sangat terkenal
sebagai tujuan wisata. Namun daerah Pulau Natal ini memang tidak termasuk
teritorial Indonesia, bahkan masuk Australia. Contoh lainnya yaitu di St. Helena,
Azores da Ascension di laut Atlantik.

Gambar 16, Komplek Seamount, Selatan Jawa


Sumber; rovicky.wordpress.com

21
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Divergen adalah batas antar lempeng yang bergerak saling menjauh satu dan
lainnya.
Pada pergerakan lempeng divergen yang terjadi pada lempeng samudera
menghasilkan Mid Oceanic Ridge (MOR).
Pada pergerakan lempeng divergen yang terjadi pada lempeng benua
mengakibatkan keretakan sehingga akan terbentuk lembah atau a rift valley
form
Produk hasil proses divergen yaitu; ofiolit, batuan basalt, batuan peridotit,
culumnar joint, pillow lava dan seamount.

4.2 Saran
Penulis menyarankan kepada mahasiwa teknik perminyakan untuk membaca
makalah ini agar menambah wawasan tentang batuan sedimen.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu penulis
menyarankan pembaca untuk juga membaca dari refensi lain .
Penulis mengharapakan kritik dan saran dari pembaca

22
DAFTAR PUSTAKA

Sapiie, Benyamin.2012. Tektonofisik. Bandung:ITB


https://www.academia.edu/7229906/PAPER
https://www.scribd.com/doc/314363009/Pemekaran-Benua
http;//hmgi.or.id/mengenal-batas-lempeng-tektonik-dan-ciri-morfologinya

https://www.scribd.com/doc/86738408/DESKRIPSI-BATUAN-ULTRABASA

https://www.scribd.com/doc/314363009/Pemekaran-Benua

https://www.academia.edu/9081363/extension_sepanjang_batas_lempeng

http://documents.tips/documents/tektonika-55f7c25068c0e.html

23
24