Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Esa,


atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Sejarah Perkembangan Islam di
China

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan
waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan


bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Madiun, 13 Februari 2013

Penyusun
Sejarah Awal Perkembangan Islam di Cina

Para ahli sejarah sepakat bahwa Islam masuk ke Tiongkok (Cina) pada awal
abad pertama Hijriyah (abad ke-7 M), tepatnya pada tahun 618 M, yakni pada masa
pemerintahan Dinasti Tang (618-907 M). Pendapat ini menyatakan pula bahwa Islam
masuk ke Cina dibawa oleh sahabat yang bernama Saad bin Abi Waqqas dengan
rombongannya yang berjumlah 15 orang. Islam masuk ke Cina melalui dua jalur
utama, jalur darat disebut dengan Jalur Sutera dan jalur laut melalui pelayaran yang
disebut dengan Jalur Lada.

Sejarawan Kwantung mencatat kedatangan muslim pertama di Cina terjadi


pada permulaan pemerintahan dinasti Tang. Dalam catatan mereka disebutkan
banyaknya orang asing dari kerajaan Annam, Kamboja, Madinah dan beberapa
negara lainnya datang ke Canton. Orang-orang asing ini menyembah langit dan tidak
menyembah patung, berhala, maupun gambar-gambar di tempat peribadatan mereka.
Kerajaan Madinah terletak di dekat India dan di kerajaan ini lahir agama orang-orang
asing ini yang berbeda dengan asal-usul agama Budha. Mereka tidak makan daging
babi dan tidak pula minum arak. Kini para pemeluk agama ini disebut Hui-Hui.

Kedatangan Islam ke Cina tercatat dalam kitab sejarah Chiu Thang Shu yang
menyebutkan bahwa Cina pernah menerima kunjungan diplomatik dari orang-orang
Ta Shih (Arab) yang diutus oleh Tan mi mo ni (Amirul Mukminin), yakni Khalifah
Utsman bin Affan. Utsman menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa
ajaran Illahi ke daratan Cina. Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar
Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar lalu memerintahkan pembangunan Masjid
Huaisheng atau masjid Memorial di Canton, masjid pertama di daratan Cina.

Pada masa Dinasti Tang, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi
kosmopolitan budaya, sehingga dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal
masyarakat Tiongkok.Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang
berarti 'agama yang murni' dan menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran Buddha
Ma-hia-wu (Nabi Muhammad SAW).

Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari
Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi.
Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song
berkuasa, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada
periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang
Muslim.

Ketika tahunke 9-H ketika rasulullah masih hidup. Ketika itu, sahabat nabi
bernama saad bin lubaid al habsyi bersama rombongan pedagang arab berlayar dari
teluk aden menuju kanton (nama Bandar dagang yang paling modern). Di kanton,
saad dibantu rekannya bernama yusuf berdakwah menyiarkan agama islam. Ia
berdua sepakat membagi 2 wilayah, yaitu saad di chuan chow dan chang chow,
sedangkan yusuf di kanton. Mereka selalu bekerja sama, sehingga tampak
keberhasilannya sebagai berikut :

a. Dapat mengislamkan orang-orang arab dari teluk persi yang menetap di


kanton
b. Dapat mengislamkan sebagian penduduk asli setempat, sehingga
mempermudahh jalannya dakwah.
c. Mendirikan dua masjid tertua yaitu masjid menara cemerlang dan masjid
dengan tanduk satu

Pada zaman Wudai, China utara sering berperang dan China selatan
lebih aman, banyak penganut agama Islam telah berpindah ke China selatan.
Pada zaman itu, agama Islam telah berkembang, banyak orang China juga
menganut agama Islam.
Masjid pada zaman dinasti Tang dan Wudai masih mempunyai corak seni
Arab dan belum menerima pengaruh seni tradisional China. Kebanyakan
masjid pada zaman itu terletak di pelabuhan atau bandar, pusat politik dan
ekonomi. Masjid Huaizheng di bandar Guangzhou yang dibina pada dinasti
Tang dianggap sebagai masjid yang tertua di China. Masjid itu masih
mempunyai corak seni Arab.
Zaman Dinasti Yuan merupakan zaman yang paling penting bagi
perkembangan agama Islam di China. Agama Islam di China berkembang
paling pesat dan paling makmur pada zaman itu dan mempunyai kedudukan
yang penting, arena politik dan kehidupan masyarakat. Saudara yang
menganut agama Islam bertambah pesat, dan penduduk Islam China banyak
mengadakan perhubungan dengan dunia Arab. Masjid di China pada zaman
itu bertambah banyak, dan selain bercirikan seni Arab, reka bentuknya telah
menerima seni China, banyak menggunakan kayu yang diukir.
Pada zaman Dinasti Ming, perkembangan agama Islam di China telah
menghadapi rintangan, maharaja pertama Dinasti Ming memandang rendah
terhadap agama Islam. Baginda mengeluarkan perintah untuk melarang
rakyat menyembelih lembu secara tersendiri dan beberapa dasar yang
mendiskriminasi umat Islam, termasuk orang Islam tidak boleh menjadi
pegawai kerajaan dan lain-lainnya. Ini telah mencetuskan kemarahan umat
Islam di China dan penduduk Islam mengadakan pemberontakan di ibu kota
negara.
Di bagian selatan, maharaja malarang perdagangan melalui jalur laut,
semua kapal tidak dibenarkan berlayar. Di bagian utara, maharaja secara
besar-besaran memperbaiki Tembok China. Ini telah memutuskan hubungan
dan komunikasi antara umat Islam di China dan di Arab, agama Islam di
China berkembang secara sendiri. Sejak itu, agama Islam di China semakin
hari semakin bercorak China. Tetapi penganiaya maharaja dan tekanan
masyarakat telah mendorong peatumbuhan etnik Huizu, etnik Huizu ialah
etnik yang beragama Islam yang paling banyak di China. Sejak etnik Huizu
ditumbuhkan, satu masyarakat Islam yang kecil telah wujud dalam
masyarakat China, ini merupakan penanda sejarah perkembangan Islam di
China.
Perkembangan agama Islam pada zaman Dinasti Qing mempunyai
kedudukan yang penting dalam sejarah perkembangan agama Islam di China.
Boleh dikatakan, pada zaman Dinasti Yuan, jumlah penduduk Islam telah
meningkat secara besar-besaran, tetapi pada zaman Dinasti Qing, mutu agama
Islam telah ditingkatkan secara besar-besaran dan pengaruh Islam kepada
masyarakat China semakin hari semakin luas. Umat Islam pada Dinasti Qing
banyak mengadakan pemberontakan, yang terbesar 5 kali. Maharaja
membenci dan memandang rendah terhadap Islam, baginda juga takut akan
Islam. Di samping itu, beberapa golongan penganut Islam telah ada di China.
`Zaman Dinasti Ming dan Qing merupakan abad perkembangan dan
peralihan bagi masjid di China, seni masjid secara beransur-ansur berubah
dari seni Arab ke seni China. Tetapi hiasan di dalam masjid masih bercorak
campuran.
Kebudayaan Islam mempunyai kedudukan yang penting dalam
kebudayaan China, umat Islam di China pernah memberi sumbangan yang
besar terhadap perkembangan sains dan teknologi China. Kalender yang
dicipta oleh umat Islam pernah digunakan di China dalam waktu yang
panjang. Alat pandu arah angkasa yang dicipta oleh seorang ahli ilmu falak
yang bernama Zamaruddin pada Dinasti Yuan sangat populer di China. Ilmu
matematik yang dikembangkan dari Arab telah diterima oleh orang China.
Ilmu perobatan Arab juga menjadi sebagian daripada ilmu perobatan China.
Umat Islam juga terkenal dengan pembuatan meriam di China.
Dinasti Yuan menggunakan sejenis meriam yang dikenali sebagai
meriam etnik Huizu yang diciptakan oleh orang Islam China. Meriam itu
tidak menggunakan bahan letupan, tetapi menggunakan batu sebagai peluru,
dan meriam itu sangat populer di China pada zaman itu. Selain itu, orang
Islam juga terkenal dengan teknik pembinaan dan menenun.

Islam masuk ke Cina sekitar abad ke-7 masehi, pada masa-masa Rasulullah
masih hidup. Ada beberapa faktor-faktor atau kejadian-kejadian yang mempengaruhi
Islam dapat memasuki wilayah-wilayah Cina antara lain:
1. Hadirnya pedagang-pedagang muslim

Cina sebagai negeri yang aktif dalam perdagangan Internasional


menyebabkan pedagang-pedagang-pedagang muslim dari Arab melakukan
perdagangan ke Cina sambil menyebarkan Islam di berbagai wilayah yang
disinggahi. Pada awalnya tujuan mereka hanya untuk melakukan perdagangan
sepanjang jalan sutra atau silk road. Namun akibat dari interaksi-interaksi yang
dilakukan mereka dengan pedagang-pedagang lain termasuk pedagang-pedagang
Cina menyebabkan adanya suatu pengenalan kehidupan negeri asal pedagang-
pedagang tersebut baik dari segi sosial, budaya maupun agama termasuk pengenalan
yang dilakukan pedagang-pedagang muslim mengenai Islam yang secara tidak
langsung. Pedagang-pedagang Cina yang berinteraksi dengan pedagang-pedagang
muslim sedikit banyaknya menerima kehadiran Islam bahkan mereka memeluk Islam
sebagai agama mereka.

Para pedagang Arab dan Persia yang berniaga ke Tiongkok pada umumnya
orang-orang Islam yang datang secara perorangan itu kemudian memanfaatkan
kebebasan tersebut dengan menikahi wanita setempat. Keturunan mereka dari
generasi ke generasi memeluk Agama Islam dan menjadi penduduk di Tiongkok. Hal
yang sama juga dilakukan oleh para tentara mongol muslim yang menetap di Cina
setelah mengikuti ekspedisi ke Barat yang dipimpin oleh Genghis Khan. Selain
menikahi perempuan setempat, pedagang-pedagang dan tentara-tentara mongol ini
sudah tentu membangun pemukiman-pemukiman yang dijadikan sebagai tempat
menetap yang nyaman dan dapat melangsungkan kehidupan sehari-harinya. Mereka
membangun masjid-masjid untuk memenuhi kewajiban beribadahnya.

2.melalui jalur diplomatic

Perkembangan islam di cina tidak hanya melalui jaluur perdagangan, namun


juga melalui jalur diplomatic sebagai berikut :

a. Catatan resmi dari dinasti tang (6-18-907 M)


b. Catatan lain dari pemerintah kaisar yong hui. Kedua catatan tersebut
menyatakan bahwa kholifah usman bin affan telah menjalin hubungan
diplomatik dengan kaisar yong hui.
c. Bukti lain bahwa pada khalifah al mansyur dari bani abasiyah telah
mengirim pasukan ke cina untuk merampas pemberontak sehingga
berhasil. Setelah cina mengalami system pemerintahan dari kekaisaran
mejadi republik , keadaan islam diakui oleh pemerintah.

2. Masjid dan Perkembangan Islam di Cina


Tudingan Amerika Serikat terhadap minoritas Muslim Xinjiang dan Uighurs
menyentak dunia Islam. Bagaimana tidak, umat Islam telah lama menjadi bagian dari
Cina. Catatan tentang kehadiran Islam di Cina jauh lebih terekam dalam sejarah Cina
dibanding sejarah Islam. Baru belakangan ada sinyalemen teror yang dilakukan
Muslim minoritas di Cina.

Islam hadir di Cina sudah sangat lama. Waktunya hanya terpaut sedikit dari
masa Nabi Muhammad SAW. Menurut catatan, delegasi pertama yang datang ke
Cina pada tahun ke 29 hijriah. Utusan itu dipimpin Saad bin Abi Waqash. Dia diberi
mandat oleh khalifah ke-3 Utsman bin Affan mengajak kaisar Cina Yung Wei masuk
Islam. Sebelumnya hubungan bangsa Arab dan Cina terjalin melalui perdagangan.

Untuk menunjukkan kekaguman dan penghormatannya terhadap Islam, kaisar


lantas mendirikan masjid pertama di Cina. Masjid Canton (Memorial Mosque)
sampai saat ini masih berdiri tegak dan telah berusia 14 abad. Masjid ini adalah saksi
bisu perkembangan Islam di negeri tirai bambu itu. Setelah itu, hubungan Islam dan
Cina berkembang pesat hingga muncul perkampungan Muslim. Yang pertama
dibangun adalah Cheng Aan.

Pada tahun ke 133 Hijriah terjadi pertempuran besar yang menentukan


sejarah Islam di Asia Tengah. Pasukan Muslim dipimpin Ziyad. Meski tak jelas
berapa korbannya, Cina mengalami kekalahan menyedihkan dalam pertempuran kali
ini. Setelah kemenangan itu, Muslim mengontrol penuh hampir seluruh wilayah Asia
Tengah.Kemenangan itu membuka pintu lebar-lebar bagi ulama Islam.

Pada 138H, Jenderal Lieu Chen melakukan pemberontakan melawan Kaisar


Sehwan Tsung. Untuk menumpas pemberontakan itu kaisar memohon pertolongan
Khalifah Al Mansur dari dinasti Abbasiyah. Al Mansur menyanggupi dengan
mengirim 4 ribu tentaranya ke Cina. Bantuan ini membuat kaisar bisa menghadapi
para pemberontak. Itulah mula pertama hingga tentara Turki mulai hadir di Cina.
Mereka menetap dan lantas menikahi perempuan Cina. Saat ini ulama Cina
berkembang baik dalam bidang ilmu agama maupun filsafat dan sosial. Bahkan tak
sedikit yang ikut mewarnai filsafat Confusius.

Namun belakangan umat Islam menghadapi banyak masalah. Kehidupan


yang sangat keras dialami saat dinasti Manchu berkuasa (1644-1911 Masehi). Terjadi
perseteruan paling keras di mana terjadi lima kali perang yakni Lanchu, Che Kanio,
Singkiang, Uunanan dan Shansi. Muslim mengalami kekalahan dalam pertempuran
kali ini. Korban yang jatuh tak terhitung dan mengakibatkan menyusutnya jumlah
Muslim hingga sepertiganya saja. Setelah itu islam berkembang lagi dan
diperkirakan ada sekitar 60 juta umat.

Umat Islam punya babak baru pada masa Mao Tse Tung (1893-1976).
Negarawan besar ini juga punya hubungan khusus dengan umat Islam. Ketika dia
menetapkan markasnya ke Niyan, umat Islam Cina mendukungnya penuh. Bahkan
sebagian Musilm ikut bergabung dalam tentara Merahnya meski sebagian
menyembunyikan agama asli. Pada 1954 pemerintah menjamin kebebasan untuk
melakukan shalat, upacara ritual dan budaya serta sosial sendiri. Sebagai
perbangingan terhadap etnis minoritas lainnya, mereka juga diberi kebebasan
terutama menjalin hubungan dengan muslim lain di dunia. . Saat ini, jumlah Muslim
di Cina diperkirakan mencapai 200 juta jiwa. Tentu ini bukan data resmi karena tak
ada sensus khusus terhadap agama. Sebagian besar Muslim Cina merupakan etnis
Uygur, Kazak, Kyrgyz, Uzbek, Tatar dan Xinjiang.
Islam di Cina kental dengan muatan lokal. Kondisinya mirip dengan di
Indonesia terutama wilayah Jawa. Desain masjid atau rumah-rumah hunian Muslim
Cina mengambil budaya setempat. Warna merah, kuning dan bahkan kepercayaan
terhadap unsur yin dan yang juga diyakini umat Islam. Muslim Cina masih
menghormati dan bahkan meyakini kepercayaan leluhur.

Salah satu masjid tertua yang masih ada dan digunakan sebagai tempat untuk
beribadah ialah masjid Nujie. Masjid ini dibangun tahun 996 Masehi sewaktu Cina
berada di bawah pemerintahan dinasti Song. Masjid itu memprlihatkan cirri-ciri
budaya dan kesenian Cina, yang membedakannya dengan bangunan Cina yang lain
adalah hiasan kaligrafi dan tulisan Arab yang memenuhi seluruh ruangan masjid itu.

Masjid Nujie menyimpan banyak hal yang berkaitan dengan sejarah


perkembangan Islam ke Cina. Di sana masih menyimpan naskah tulisan tangan dan
dua makam ulama yang tersohor pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. Sewaktu
bangsa Mongol memerintah Negara Cina, kerajaannya dikenal sebagai dinasti Yuan.
Kerajaan ini telah mengamalkan dasar pemerintahan yang memihak kepada umat
Islam.

Arsitektur masjid misalnya. Kubahnya dibuat model Cina. Pada pintunya


terdapat tabir tipis dari plastik sebagai pencegah bala. Bagi masyarakat Cina,
terlarang pintu yang menghadap ke depan. Biasanya pintu dibuat agak berliku. Dan
jika langsung menghadap depan akan ada tirai yang menghalangi.

Sebuah perbedaan yang bisa disaksikan secara kasat mata adalah bahwa
Muslim tinggal berkelompok. Ini memudahkan mereka mencari makanan halal.
Hanya di perkampungan Muslim kita bisa mendapatkan daging dan makanan halal
lain. Di tempat lain makanan halal sulit ditemukan.

Buku-buku agamapun ditulis dalam bahasa Han. Hadis, fikih, ahlak dan
sejarah diterbitkan dalam bahasa lokal. Penulis seperti Ma Chu, Leo Tse dan Chang
Chung (1500-1700 Masehi) adalah tokoh yang berjasa menerjemahkan teks Arab dan
Parsi kedalam bahasa lokal. Bahkan di antara buku-buku tersebut ada yang ajarannya
bercampur dengan pengajaran filsafat Confusius. Penerjemahan Alquran pertama
dilakukan pada abad 19. Ma Pu Shu mencoba menerjemahkan lima juz saja.

Abad 20 adalah masa sukses bagi umat Islam Cina. Sejumlah ulama berusaha
meneruskan langkah Ma Pu Shu. Bukan saja Alquran, penerjemahan juga dilakukan
terhadap teks agama lain seperti hadis Arbain an-Nawawy. Adalah Syaikh Wang Jing
Chai dan Yang Shi Chian yang berjasa melakukannya. Filsafat dan ilmu pengetahuan
sosial lainnya adalah keuntungan yang diperoleh dari ulama Islam Cina. Telaah yang
dilakukan Wang Dai Yu dan Liu Tsi pada masa Dinasti Ming dan Chend sangat
berjasa bukan saja bagi pengembangan filsafat Islam tapi juga pemikiran filsafat
Cina.

Xinjiang: Penderitaan Muslim di Tanah Penuh Berkah

Tekanan dan kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah Cina semenjak


tahun 1911 1949 dalam pemerintahan Republik Cina dan 1949 sekarang oleh
RRC membuat muslim uighur maupun muslim hui menjadi sangat gerah. Di
Xinjiang, walaupun daerah tersebut sangat kaya dengan minyak dan pariwisatanya,
namun penduduk uighur hidup dalam kemiskinan dan tekanan dalam ibadah mereka.
Pemerintah Cina seolah-olah ingin mengatakan Kami mau harta di Xinjiang tetapi
tidak menginginkan orang-orang uighur. Akumulasi tekanan dan penindasan inilah
yang menjadi cikal bakal kerusuhan-kerusuhan di Xinjiang, termasuk terakhir yang
terjadi 5 Juli 2009 lalu.

Tercatat sekitar 184 orang meninggal 1434 orang dipenjara dan 1680 lainnya
terluka dalam bentrok aparat dengan muslim uighur. Dan yang lebih parah lagi,
setelah kejadian itu, pemerintah Cina seolah membiarkan ketika kejadian ini berganti
menjadi kerusuhan etnis. Setelah pemerintah dan aparat keamanan yang menghabisi
etnis uighur, giliran suku Han yang dipancing untuk menghabisi etnis uighur, dan ini
dibiarkan begitu saja oleh pemerintah Cina. Lebih menuakitkan lagi, sampai
sekarang aparat Cina mengepung kota Urumqi dengan tentara yang sangat banyak
dan melarang shalat jumat bagi orang muslim uighur.

Setidaknya ada 2 kemungkinan sebab kejadian kerusuhan Xinjiang ini terjadi:

Kota minyak di Xinjiang

1. Penindasan terhadap muslim Xinjiang dan ketidakadilan dari pemerintah


Cina adalah suatu hal yang wajar ketika kita mengetahui bahwa Xinjiang adalah
wilayah yang sangat kaya. Xinjiang menguasai 20 persen cadangan potensial minyak
di Cina, dan pemerintah Cina telah mengeluarkan laporan bahwa Xinjiang akan
menjadi pusat industri mintak Cina dalam 10 tahun kedepan. Selain itu pemerintah
Cina memperoleh pendapatan dari pariwisata rata-rata Rp. 15 trilliun/tahun .
Sehingga pemerintah Cina perlu untuk merantai Xinjiang dengan cara melakukan
penindasan-penindasan dan migrasi penduduk etnis han kesana.

2. Amerika berkepentingan untuk menjaga stabilitas di asia dengan cara


mengurung cina (containing China) dan menjaga agar jangan sampai negara-negara
yang mengelilingi Cina (Pakistan, Afghanistan, Kyrgistan, Uzbekistan, termasuk
Tibet dan Xinjiang) berada dalam pengaruh Cina. Oleh karena itu, AS pasti akan
selalu menyulut api pertikaian disini seperti yang jelas-jelas dilakukannya kepada
Kashmir, Tibet, Pakistan dan Afghanistan saat ini. Semua ini didasarkan pada
ketakutan AS atas prediksi Samuel Huntington dalam bukunya Clash of Civilization:
Remaking the World Order, bahwa tantangan paling serius bagi hegemoni Amerika
pada masa mendatang adalah revivalisme Islam dan peradaban Cina. Hal ini juga
ditegaskan oleh Will Hutton, seorang ekonom dan juga think-tank para pemimpin AS
yang menyampaikan bahwa Islam radikal merepresentasikan tantangan terbesar bagi
peradaban Barat setelah runtuhnya fasisme dan Komunisme. Senada dengan itu,
Michael Buriyev, Ketua Parlemen Rusia seolah memperingatkan AS dengan
prediksinya bahwa dunia sedang menuju menjadi 5 negara besar: Rusia, Cina,
Khilafah Islam, Konfederasi Dua Amerika, dan India jika India bisa bebas dari
cengkraman Islam yang mengurungnya. Maka AS tidak akan mau kecolongan
dengan Cina dan Khilafah, maka ia terus menghambat kemungkinan keduanuya
untuk muncul.

NAMA : DITA APRILIA P.F

KELAS : XII IPA 4

NO : 13