Anda di halaman 1dari 20

PERILAKU ORGANISASI

PERSEPSI DAN SIKAP


Diserahkan kepada Dr. R. Rina Novianti Ariawaty, SE.,M.Si. untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Perilaku Organisasi

Di susun oleh :

Febby Citra Lestari (120110140031)

Yohana Inka Intan (120110140044)

Meri Siti Astuti (120110140048)

Sekar Ayu Kartika Sari (120110140061)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
mengenai persepsi dan sikap terhadap perilaku individual dengan baik.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini. Kami juga menyampaikan terimakasih kepada dosen Mata Kuliah
Perilaku Organisasi Dr. R. Rina Novianti Ariawaty, SE.,M.Si. karena telah memberikan
kepercayaan dan kesempatan kepada kami dalam menyampaikan materi ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca maupun kepada kami selaku pembuat makalah ini.

Bandung, 12 September 2015

Penyusun

2
Daftar Isi

Kata Pengantar......................................................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................................................iii

BAB I Pendahuluan...............................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................................4
BAB II Pembahasan..............................................................................................................................6
2.1 Persepsi........................................................................................................................................6
A.Persoalan Persepsi......................................................................................................................6
B.Organisasi perseptual.................................................................................................................8
C. Stereotyping..............................................................................................................................9
D. Persepsi Selektif........................................................................................................................9
E. Ciri Ciri Seorang Manajer.......................................................................................................10
F.Faktor-Faktor Situasional..........................................................................................................10
G.Kebutuhan-Kebutuhan dan Persepsi-Persepsi..........................................................................11
H. Emosi Dan Persepsi................................................................................................................11
2.2 Sikap..........................................................................................................................................11
A.Pengantar.................................................................................................................................11
B. Mengubah Sikap.....................................................................................................................14
C. Sikap Dan Nilai.......................................................................................................................14
D. Sikap Dan Kepuasan Jabatan..................................................................................................15
E. Kepuasan Dan Unjuk Kerja.....................................................................................................16
BAB III Penutup..................................................................................................................................18
3.1 Kesimpulan................................................................................................................................18
Daftar Pustaka.....................................................................................................................................19

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap usaha untuk mengetahui mengapa manusia berperilaku seperti
mereka tunjukkan di dalam organisasi-organisasi, memerlukan pemahaman
tertentu tentang perbedaan-perbedaan individual. Para manajer banyak
mencurahkan waktu mereka untuk membuat penilaian-penilaian tentang
penyesuaian antara individu-individu, tugas-tugas pekerjaan dan efektivitas.
Penilaian-penilain demikian secara tipikal dipengaruhi oleh ciri-ciri dan watak
pihak manajer yang bersangkutan dari pihak bawahannya.
Mengambil keputusan tanpa memahami perilaku akan menyebabkan
timbulnya masalah jangka panjang. Setiap pekerja berbeda dalam banyak hal.
Setiap manajer perlu bertanya bagaimana perbedaan-perbedaan demikian
mempengaruhi perilaku dan unjuk kerja para bawahannya.
Makalah ini berisikan pembahasan atas pertanyaan mengapakah kiranya
terdapat adanya perbedaan-perbedaan individual ?. Tidak tepat sama sekali untuk
mengasumsikan bahwa perbedaan-perbedaan individual sama sekali tidak
mempunyai hubungan dengan lingkungan-pekerjaan, keluarga, komunitas, dan
masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:

1. Apa pengertian dari persepsi?


2. Apa pengertian dari sikap?
3. Bagaimana persepsi dan sikap sebagai bagian dari variabel psikologikal
mempengaruhi perilaku individual?

4
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengertian dari persepsi.


2. Untuk mengetahui pengertian dari sikap.
3. Untuk mengetahui bagaimana persepsi dan sikap sebagai bagian dari
variabel psikologikal mempengaruhi perilaku individual.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Persepsi

A.Pengertian Persepsi
Persepsi seperti ditunjukan gambar di bawah, merupakan proses kognitif,
dimana seorang individu memberikan arti kepada lingkungan. Mengingat bahwa
masing-masing orang memberi artinya sendiri terhadap stimuli, maka dapat
dikatakan bahwa individu-individu yang berbeda melihat hal sama dengan cara-
cara yang berbeda. Cara seorang karyawan memandang situasi yang berlaku,
sering kali memiliki arti lebih penting untuk memahami perilaku, dari pada situasi
itu sendiri.

Menurut David Krech cs., peta kognitif seorang individu bukanlah sebuah
pencerminan fotografis dari dunia fisikal, tetapi, ia lebih merupakan sebuah
kontruksi pribadi, dimana objek-objek tertentu yang di seleksi oleh individu
tersebut untuk peranan penting tertentu, dipersepsi olehnya dengan cara
individual.
Persepsi meliputi kognisi (pengetahuan). Jadi, dengan demikian, persepsi
mencakup penafsiran objek-objek, simbol-simbol, dan orang-orang, dipandang
dari sudut pengalaman penting. Dengan kata lain persepsi meliputi aktivitas
menerima stimuli, mengorganisasi stimuli tersebut, dan menerjemah atau
menafsirkan stimuli yang terorganisasi tersebut sedemikian rupa, hingga ia dapat
mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.

6
berikut merupakan Contoh-contoh keorganisasian tentang bagaimana kiranya
perilaku dipengaruhi oleh persepsi.

Seorang manajer yang beranggapan bahwa seorang karyawan telah diberi peluang
untuk menggunakan penilaiannya sendiri tentang bagaimana melaksanakan
pekerjaannya, sedangkan karyawan yang bersangkutan merasa bahwa ia sama
sekali tidak punya kebebasan untuk melakukan penilaian-penilaian.

Reaksi seorang bawahan terhadap permintaan seorang supervisor, berlandaskan


apa yang menurut perasaannya dikatakan oleh supervisor tersebut, dan bukan
berdasarkan apa yang sesungguhnya diminta olehnya.

Seorang manajer beranggapan bahwa produk yang dijualnya berkualitas tinggi


tetapi pihak pelanggan mengeluh bahwa produk tersebut buruk kualitasnya.

Seorang karyawan dianggap oleh seorang rekannya sebagai seorang pekerja rajin
dan yang berupaya secara intensif, mungkin oleh rekan lain dianggap sebagai
pekerja yang malas, yang tidak menunjukan upaya serius untuk bekerja.

Seorang tenaga penjual yang menganggap bahwa kenaikan gajinya sama sekali
tidak memadai, sedangkan manajer penjualan justru beranggapan bahwa kenaikan
yang diberikan cukup layak.

7
Seorang pakar manajemen Rensis Likert, pernah meneliti persepsi pihak atasan
dan pihak bawahan. Berikut ini merupakan hasil penelitiannya.

Keterangan gambar:

Terlihat adanya perbedaan-perbedaan yang cukup besar, dalam persepsi


kedua kelompok. Masing-masing kelompok menganggap bahwa tipe penghargaan
yang diberikan berada pada tingkatan yang berbeda. Pihak bawahan dalam
kebanyakan kasus, melaporkan bahwa para supervisor mereka kurang
memberikan perhatian kepada mereka dan imbalan yang diberikan jarang. Dilain
pihak, para supervisor beranggapan bahwa mereka sudah memberikan varietas
luas imbalan-imbalan untuk kerja yg dinilai baik.

Studi yang dilakukan menunjukan bahwa terdapat adanya perbedaan yg


cukup besar antara persepsi para supervisor dan persepsi bawahan tentang
perilaku pihak supervisor.

B.Organisasi Perseptual
Salah satu aspek penting dari apa yang dipersepsi orang, meliputi
organisasi. Salah satu diantara prinsip-prinsip pengorganisasian elementer

8
sehubungan dengan persepsi adalah apa yang dinyatakan sebagai kecenderungan
untuk memola stimuli yang sehubungan dengan gambar-landasan (Figure
Ground Relation Ships).

Faktor yang menjadi pusat perhatian dinamakan gambar. Apa yang di


alami dan berada di luar fokus dinamakan landasan. Dalam setiap tindakan
perseptual, prinsip gambar-landasan bekerja. Perhatikan gambar berikut.

Apakah gambar tersebut menunjukan dua muka orang? Ataukah sebuah


gelas anggur? Ada pula prinsip pengelompokan yang membentuk organisasi
perseptual yang dinamakan closure (pengisisan). Ia berhubungan dengan
kecenderungan untuk menutup atau menyelesaikan sesuatu hal yang menunjukan
adanya bagian-bagian yang hilang.

9
C. Stereotyping
Dengan cara apa para manajer mengategorisasi pihak lain, sering kali
merupakan suatu refleksi dari suatu bias perseptual. Istilah stereotyp
digunakan untuk menerangkan penilaian-penilaian yang dibuat tentang orang,
yang berlandaskan keanggotaan kelompok etnik mereka. Kita pula harus waspada
terhadap stereotipe-stereotipe lainnya.

D. Persepsi Selektif
Konsep persepsi selektif amat penting bagi para manajer, mengingat
bahwa mereka kerapkali menerima informasi dan data dalam jumlah besar. Maka,
akibatnya adalah bahwa mereka cenderung menyeleksi informasi yang menunjang
sudut pandang mereka. Orang-orang cenderung mengabaikan informasi atau
petunjuk-petunjuk yang menyebabkan mereka merasa kurang nyaman.

E. Ciri Ciri Seorang Manajer


Manusia sering kali menggunakan diri mereka sendirin sebagai patokan
untuk mempersepsi pihak lain. Hasil riset yang dilakukan di luar negeri
menunjukan bahwa:

1. Mengenal diri sendiri, menyebabkan kita lebih mengenal orang lain


2. Ciri-ciri kita sendiri, memengaruhi ciri-ciri yang diidentifikasi pihak lain,
3. Orang-orang yang menerima diri mereka sendiri lebih cenderung melihat
aspek-aspek yang menguntungkan pada orang-orang lain.

Pada dasarnya, kesimpulan-kesimpulan yang dikemukakan menunjukan


kepada kita bahwa para manajer yang mempersepsi perilaku dan perbedaan-
perbedaan individual dari karyawan-karyawan mereka dipengaruhi oleh sifat-sifat
mereka sendiri. Apabila mereka memahami sifat-sifat dan nilai-nilai mereka
sendiri, maka besar kemungkinan bahwa mereka dapat melakukan pengevaluasian
yang lebih tepat tentang bawahan mereka.

10
Seorang manajer yang merupakan seorang perfeksionis, cenderung
menuntut perfeksi pula dari bawahannya, sedangkan seorang manajer yang cepat
bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan teknikal juga menghendaki kemampuan
tersebut dari pihak bawahannya.

F.Faktor-Faktor Situasional
Mendesaknya waktu, sikap orang-orang, dengan siapa seorang manajer
bekerja, dan fakor-faktor situasional lainnya, semuanya akan memengaruhi
ketepatan perseptual. Andai kata seorang manajer didesak oleh waktu, dan ia
harus segera memenuhi order tertentu, maka persepsinya akan dipengaruhi oleh
kendala-kendala waktu. Karena terdesak oleh waktu, sang manajer harus
mengabaikan hal-hal tertentu, guna mempercepat aktivitas-aktivitas tertentu dan
mengabaikan stimuli tertentu, seperti misalnya permohonan-permohonan dari
manajer lain atau dari atasannya.

G.Kebutuhan-Kebutuhan dan Persepsi-Persepsi


Persepsi-persepsi sangat di pengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan dan
keinginan-keinginan. Dengan perkataan lain, seorang karyawan, seorang manajer,
sang wakil presiden, dan direktur perusahaan yang bersangkutan ingin melihat apa
yang mereka ingin lihat.

H. Emosi Dan Persepsi


Kondisi emosional seseorang banyak berhubungan dengan persepsi-
persepsi. Emosi kuat misalnya seperti tidak disenanginya suatu kebijakan
organisasi, dapat menyebabkan orang mendapatkan kesan negatif tentang
kebijakan perusahaan. Emosi-emosi kuat seringkali menyebabkan bahwa persepsi
mengalami distorsi.

11
Sikap

A.Pengertian Sikap
Sikap adalah determinan perilaku, karena mereka berkaitan dengan
persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu keadaan siap
mental, yang dipelajari dan diorganisasi menurut pengalaman, dan yang
menyebabkan timbulnya pengaruh khusus atas reaksi seseorang terhadap orang-
orang, objek, dan situasi dengan siapa ia berhubungan. Definisi tersebut tentang
sikap menimbulkan implikasi-implikasi tertentu bagi seorang manajer.

Pertama, sikap dipelajari. Kedua, sikap menentukan predisposisi seseorang,


terhadap aspek-aspek tertentu dunia.

Ketiga, sikap memberikan landasan emosional dari hubungan-hubungan antara


pribadi seseorang, dan identifikasi dengan pihak lain.

Keempat, sikap disorganisasi dan mereka erat sekali dengan inti kepribadian.

Ada sikap tertentu yang menetap, dan berkelanjutan. Tetapi, seperti halnya
berlaku juga bagi variabel-variabel psikologikal, sikap dapat mengalami
perubahan. Sikap merupakan bagian intrinsik dari kepribadian seseorang.

Ada sejumlah teori yang mencoba menerangkan pembentukan dan


perubahan sikap. Salah satu teori menyatakan bahwa : manusia berupaya untuk
mencari suatu keselarasan antara keyakinan mereka dan perasaan mereka terhadap
objek-objek yang dihadapi mereka. Maka perubahan sikap bergantung dari upaya
mengubah perasaaan-perasaan atau keyakinan-keyakinan tersebut.

Teori tersebut kemudian mengasumsi bahwa manusia memiliki sikap yang


terstruktur yang terdiri dari berbagai macam komponen afektif dan kognitif.
Keterkaitan antara komponen tersebut berarti bahwa perubahan yang terjadi pada
salah satu komponen, akan menyebabkan timbulnya perubahan pada komponen
lain.

12
Apabila komponen-komponen tersebut tidak konsisten, ataupun
melampaui batas toleransi seseorang, maka akibatnya adalah timbul
ketidakstabilan. Teori tersebut menyatakan bahwa apa yang dinamakan Affect
kognisi dan perilaku mendeterminasi sikap-sikap, sebaliknya memengaruhi
Affect kognisi dan perilaku. Afeksi yang merupakan komponen emosional atau
perasaan. Sebuah sikap dipelajari dari orang tua, guru, dan teman. Komponen
kognitif sebuah sikap terdiri dari persepsi, opini, dan keyakinan-keyakinan
seseorang. Ia berhubungan dengan proses pemikiran dimana ditekankan persoalan
rasionalitas dan logika.

Salah satu elemen penting kognisi, adalah keyakinn evaluatif seseorang.


Keyakinan-keyakinan evaluatif, dimanifestasikan dalam bentuk impresi atau
kesan baik atau buruk yg dimiliki seseorang terhadap objek atau orang tertentu.
Komponen perilaku sebuah sikap berhubungan dengan kecenderungan
seseorang untuk bertindak terhadap seseorang atau hal tertentu dengan cara
tertentu. Seseorang misalnya dapat bertindak terhadap orang lain atau hal lain
dengan cara bersahabat, hangat, agresif, bermusuhan atau apatis, ataupun dengan
cara lain.

Gambar berikut menyajikan ketiga macam komponen sikap, sehubungan


dengan faktor-faktor lingkungan kerja seperti misalnya desain pekerjaan,
kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan,dan imbalan imbalan di luar gaji.
Stimuli tersebut menimbulkan suatu reaksi yang bersifat afektif atau emosional,
kognitif (pemikiran) dan yang mempengarhi perilaku. Pada dasarnya dapat
dikatakan bahwa stimuli menyebabkan timbulnya pembentukan sikap, yang
kemudian menyebabkan timbulnya reaksi tertentu yang bersifat afeksi-kognitif
atau behavioral.

13
Teori tentang komponen-komponen afektif, kognitif dan behavioral
sebagai determinan sikap dan perubahan sikap, mempunyai dampak penting bagi
para manajer dalam arti bahwa para manajer harus mampu menunjukan bahwa
aspek-aspek positif mereka dalam hal memberikan sumbangan kepada organisasi
yang ada, harus melebihi aspek negatif mereka. Seorang yang bernama Leon
Festinger mengajukan sebuah istilah : disonasi kognitif . Istilah disonasi kognitif
berhubungan dengan suatu situasi, dimana terdapat sebuah diskrepansi antara
komponen kognitif dan behavioral sebuah sikap.

Setiap bentuk ketidakkonsistenan, tidak nyaman, maka oleh karenanya


individu-individu berupaya untuk mengurangi disonasi tersebut. Maka dengan
demikian dapat dikatakan bahwa disonansi merupakan suatu keadaan dalam diri
seseorang yang apabila muncul menyebabkan timbulnya tindakan-tindakan yang
ditujukan untuk mengembalikan keadaan keseimbangan orang itu. Disonansi
kognitif menyebabkan timbulnya dampak orhanisatoris penting. Pertama, ia
membantu menerangkan pilihan-pilihan yang dilakukan oleh individu-individu
apabila terdapat ketidakkonsistenan sikap. Kedua, teori disonansi kognitif dapat
membantu memprediksi kecenderungan seseorang dalam perubahan sikap.

Apabila individu dipaksa untuk didesain pekerjaan atau jabatan mereka


untuk menyatakan atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan sikap pribadi
mereka, maka mereka cenderung mengubah sikap demikian, agar mereka lebih
sesuai dengan apa uang telah mereka katakan atau lakukan.

B. Mengubah Sikap
Para manajer sering kali menghadapi tugas mengubah sikap-sikap (para
karyawan) mereka, karena sikap-sikap semula yang terstruktur menimbulkan
kendala bagi performa pekerjaan mereka. Walaupun dapat dikatakan bahwa
banyak variabel memengaruhi perubahan sikap, merek semuanya dapat
dikelompokan dalam tiga macam faktor umum sebagai berikut :

14
- Kepercayaan pada pihak yang mengirimkan pesan
- Pesan itu sendiri
- Situasi yang dihadapi

Apabila para karyawan tidak mempercayai sang pengirim pesan atau


berita, maka pesan atau berita tersebut tidak akan diterima mereka, atau hal
tersebut tidak akan mengubah sesuatu sikap. Begitu pula apabila pesan yang
disampaikan tidak meyakinkan, maka tidak ada tekanan kuat untuk mengadakan
perubahan. Makin besar prestise sang komunikator, makin besar perubahan sikap
yang dihasilkan.

C. Sikap Dan Nilai


Nilai-nilai terikat dengan sikap dalam arti bahwa sebuah nilai berguna
sebagi suatu cara untuk mengorganisasi sejumlah sikap. Nilai-niali di definisi
sebagai ...konstelasi perasaan suka, tidak menyukai, sudut-sudut pandangan,
sikap, kecenderungan dalam diri sendiri, penilaian-penilain rasional maupun
irasional, prasangka-prasangka, dan pola-pola asosiasi yang memengaruhi
pandangan seseorang tentang dunia...

Apabila konstelasi nilai telah terinternalisasi, maka ia secara sadar maupun


secara tidak sadar menjadi sebuah standar memengaruhi tindakan-tindakan
seseorang. Maka tidak mengherankan apabila dinyatakan bahwa studi tentang
nilai-nilai bersifat fundamental bagi studi tentang managing. Bahkan perasaan
yang berpendapat bahwa ia sangat penting pula untuk memahami perilaku
manajerial efektif.

15
D. Sikap Dan Kepuasan Jabatan
Kepuasan jabatan merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh para individu
sehubungan dengan jabatan atau pekerjaan mereka. Ia timbul dari persepsi mereka
tentang jabatan atau pekerjaan mereka. Kepuasan jabatan timbul karena aneka
macam aspek dari jabatan atau pekerjaan seperti misalnya : imbalan berupa uang,
peluang untuk promosi, supervisor, para rekan sekerja. Kepuasan pekerjaan juga
berasal dari faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan,
misalnya:

- Gaya sang supervisor, kebijaksanaan-kebijaksanaan dan prosedur-


prosedur, afiliasi kelompok kerja, kondisi-kondisi kerja, dan imbalan-
imbalan lain di luar gaji

memang harus diakui bahwa banyak sekali dimensi yang dikaitkan dengan
kepuasan jabatan tetapi perlu dikatakan bahwa ada lima hal yang terutama
memiliki ciri-ciri penting.

Adapun kelima macam dimensi, yaitu :

- Gaji atau upah yang diterima, jumlah gaji atau upah yang diterima dan
kelayakan imbalan tersebut.
- Pekerjaan. Tingkat hingga dimana tugas-tugas pekerjaan dianggap
menarik dan memberikan peluang untuk belajar dan menerima tanggung
jawab.
- Peluang-peluang promosi. Tersedianya peluang-peluang untuk mencapai
kemajuan dalam jabatan.
- Supervisor. Kemampuan sang supervisor untuk menunjukan perhatian
terhadap para karyawan.
- Para rekan sekerja. Tingkat hingga dimana para rekan sekerja bersikap
bersahabat, kompeten, dan saling bantu-membantu.

Kelima macam dimensi kepuasan jabatan telah diukur dalam studi tertentu dimana
digunakan apa yang dinamakan Job Descriptive Index.

16
Sejumlah pekerja diminta untuk memutuskan jawaban ya atau tidak
atau tanda tanya (artinya tidak dapat memutuskan) dalam nilai apakah sebuah
istilah atau kalimat menerangkan sikap mereka tentang pekerjaan mereka masing-
masing.

E. Kepuasan Dan Unjuk Kerja


Salah satu diantara persoalan paling banyak menimbulkan perdebatan dan
yang banyak menimbulkan kontroversi pendapat adalah studi tentang kepuasan
jabatan dan hubungannya dengan unjuk kerja. Ada tiga macam pandangan
sehubungan dengannya, yaitu :

1. Kepuasan menyebbkan timbulnya unjuk kerja


2. Unjuk kerja menyebabkan timbulnya kepuasan
3. Imbalan-imbalan menimbulkan pengaruh, tetapi tidak terdapat adanya
hubungan yg bersifat inharen.

Perhatikan gambar berikut.

1. Kepuasan penyebab-penyebab performa


Jabatan pekerja yang puas lebih produktif kerja

2. Kepuasan disebabkan oleh performa


Jabatan pekerja yang puas lebih produktif-puas kerja

3. Kepuasan performa
Jabatan Tidak ada arah spesifik ataupun hubungan kerja

Seseorang karyawan yang puas tidak selalu merupakan seorang karyawan


yang menunjukan unjuk kinerja tertinggi. Upaya-upaya manajerial agar semua
karyawan puas, tidak akan memyebabkan timbulnya tingkat produksi yang tinggi.
Begitu pula asumsi yang mengatakan bahwa seorang karyawan dengan unjuk
kerja tinggi adalah karyawan yang puas.

Pandangan ketiga, bahwa faktor-faktor seperti imbalan, memengaruhi


hubungan unjuk kerja-kepuasan memang ditunjang oleh bukti-bukti riset yang
dicapai di Amerika Serikat. Hal tersebut berarti bahwa unjuk kerja atau performa

17
bukanlah suatu konsekuensi dari kpuasam ataupun sebaliknya. Tetapi, dari sudut
pandangan praktikal, kebanyakan manajer berkeinginan agar para karyawan
mereka puas dan bekerja secara produktif. Tetapi, untuk mencapai sasaran
demikian, diperlukan kerja keras dan pengambilan keputusan yang baik.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perilaku individu adalah sebagai suatu fungsi dari interaksi antara individu
dengan lingkungannya. Individu membawa tatanan dalam organisasi berupa
kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan, kebutuhan, dan pengalaman masa
lainnya. Perilaku individu didasari oleh tiga variabel dimana variabel tersebut
memberikan output yang diharapkan, salah satu yang akan dijelaskan adalah
variabel psikologis dimana variable tersebut terdapat beberapa faktor yaitu
persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi.

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu


merupakan suatu proses yang diterima stimulus individu melalui alat reseptor
yaitu alat indera. Proses penginderaan tidak dapat lepas dari proses persepsi. Alat
indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya karena
individu mengenali dunia luarnya dengan menggunakan indera. Atau juga proses
kognitif atau proses psikologis. Proses dengan mana seseorang mengorganisasikan
dalam pikirannya, menafsirkan, mengalami dan mengolah pertanda atau segala
sesuatu yang terjadi di lingkungannya.

Sikap merupakan suatu pernyataan evaluative seseorang terhadap sesuatu,


orang maupun keadaan. Pernyataan ini dapat juga terhadap benda baik yang
bersifat menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Sumber sikap dapat
berasal dari guru, orang tua maupun kerabat rekan satu pekerjaan. Tipe sikap
dapat berorientasi pada kepuasan kerja, keterlibatan kerja, dan komitmen
operasional.

19
Daftar Pustaka

Gibson, J. L., Donelly, J. H., Konopaske, R., & M.Ivancevich, J. (2012). Organizations
Behaviour, Structure, Process. New York: McGraw-Hill.

Virmanto, H. (t.thn.). blogspot. Dipetik September 12, 2015, dari


http://hendravirmanto.blogspot.co.id/2014/10/variabel-psikologi-yang-
mempengaruhi.html

Winardi. (2004). Manajemen Perilaku Organisasi. Jakarta Timur: Prenada Media.

20