Anda di halaman 1dari 9

EPILEPSI

A. Pengertian

Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang
dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-
sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000).

Menurut Nagstiyah (1997) epilepsy merupakan suatu manifestasi lepas muatan listrik
yang berlebihan di sel neuron saraf pusat. Keadaan ini merupakan gejala terganggunya fungsi
otak.Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor fisiologis, biokimiawi, anatomis, atau
gabungan faktor tersebut.

B. Etiologi

Penyebab dari epilepsi yang dikutip oleh Wong (1997), antara lain:
1. Idiopatik
2. Faktor hereditas
3. Prenatal: fetal distress,perdarahan pervagina,ketuban pecah dini, infeksi virus TORCH.
Perinatal: Trauma persalinan,persalinan dengan vacuum,forcep,partus lama,Seksio kaesar
Pasca natal: Asfeksia,hiperbilirubin,hipoglikemi,
4. Radang otak (encepalitis)
5. Trauma kapitis gangguan peredaran darah otak
6. Tumor otak
7. Kejang demam
8. Gangguan peredaran darah
9. Anomali congenital otak
10. Gangguan metabolism.
11. Kelainan degeratif susunan saraf pusat
12. Gangguan metabolism

C. Manifestasi Klinis
a. Kehilangan kesadaran
b. Aktivitas motorik
1) Tonik klonik
2) Gerakan sentakan, tepukan atau menggarau
3) Kontraksi singkat dan mendadak disekelompok otot
4) Kedipan kelopak mata
5) Sentakan wajah
6) Bibir mengecap ecap
7) Kepala dan mata menyimpang ke satu sisi
c. Fungsi pernafasan
1) Takipnea
2) Apnea
3) Kesulitan bernafas
4) Jalan nafas tersumbat

D. Patofisiologi

Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah fokus
kejang atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan patologik. Aktivitas
kejang sebagian bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut. Lesi di otak
tengah, talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar bersifat apileptogenik, sedangkan
lesi di serebrum dan batang otak umumnya tidak memicu kejang.
Di tingkat membran sel, sel fokus kejang memperlihatkan beberapa fenomena
biokimiawi, termasuk yang berikut :
Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan.
Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan menurun dan
apabila terpicu akan melepaskan muatan menurun secara berlebihan.
Kelainan polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau selang waktu dalam
repolarisasi) yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau defisiensi asam gama-
aminobutirat (GABA).
Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit, yang
mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan depolarisasi neuron.
Gangguan keseimbangan ini menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter
aksitatorik atau deplesi neurotransmitter inhibitorik.
Perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama dan segera setelah kejang
sebagian disebabkan oleh meningkatkannya kebutuhan energi akibat hiperaktivitas neuron.
Selama kejang, kebutuhan metabolik secara drastis meningkat, lepas muatan listrik sel-sel
saraf motorik dapat meningkat menjadi 1000 per detik. Aliran darah otak meningkat,
demikian juga respirasi dan glikolisis jaringan. Asetilkolin muncul di cairan serebrospinalis
(CSS) selama dan setelah kejang. Asam glutamat mungkin mengalami deplesi selama
aktivitas kejang.
Secara umum, tidak dijumpai kelainan yang nyata pada autopsi. Bukti histopatologik
menunjang hipotesis bahwa lesi lebih bersifat neurokimiawi bukan struktural. Belum ada
faktor patologik yang secara konsisten ditemukan. Kelainan fokal pada metabolisme kalium
dan asetilkolin dijumpai di antara kejang. Fokus kejang tampaknya sangat peka terhadap
asetikolin, suatu neurotransmitter fasilitatorik, fokus-fokus tersebut lambat mengikat dan
menyingkirkan asetilkolin.

E. Klasifikasi

Epilepsi diklasifikasikan menjadi dua pokok umum yaitu klasifikasi epilepsi dengan
sindrom epilepsi dan klasifikasi berdasarkan tipe kejang

a. klasifikasi epilepsi dan sindrom epilepsi


Berdasarkan penyebab

1. Epilepsi idiopatik: bila tidak diketahui penyebabnya, epilepsi pada anak dengan
paroksimal oksipital
2. Simtomatik: bila ada penyebabnya, letak fokus pada pada semua lobus otak
b. klasifikasi tipe kejang epilepsi (browne, 2008)
1. Epilepsi kejang parsial (lokal, fokal)
a) Epilepsi parsial sederhana, yaitu epilepsi parsial dengan kesadaran tetap normal
- Dengan gejala motorik:
Fokal motorik tidak menjalar: epilepsi terbatas pada satu bagian tubuh saja
Fokal motorik menjalar: epilepsi dimulai dari satu bagian tubuh dan
menjalar meluas ke daerah lain. Disebut juga epilepsi Jackson.
Versif: epilepsi disertai gerakan memutar kepala, mata, tuibuh.
Postural: epilepsi disertai dengan lengan atau tungkai kaku dalam sikap
tertentu
Disertai gangguan fonasi: epilepsi disertai arus bicara yang terhenti atau
pasien mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu
- Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (epilepsi disertai
halusinasi sederhana yang mengenai kelima panca indera dan bangkitan yang
disertai vertigo).
Somatosensoris: timbul rasa kesemuatan atau seperti ditusuk-tusuk
jarum.
Visual: terlihat cahaya
Auditoris: terdengar sesuatu
Olfaktoris: terhidu sesuatu
Gustatoris: terkecap sesuatu
Disertai vertigo
- Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi epigastrium, pucat,
berkeringat, membera, piloereksi, dilatasi pupil).
- Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)
Disfagia: gangguan bicara, misalnya mengulang suatu suku kata, kata
atau bagian kalimat.
Dimensia: gangguan proses ingatan misalnya merasa seperti sudah
mengalami, mendengar, melihat, atau sebaliknya. Mungkin mendadak
mengingat suatu peristiwa di masa lalu, merasa seperti melihatnya lagi.
Kognitif: gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah.
Afektif : merasa sangat senang, susah, marah, takut.
Ilusi: perubahan persepsi benda yang dilihat tampak lebih kecil atau
lebih besar.
Halusinasi kompleks (berstruktur): mendengar ada yang bicara, musik,
melihat suatu fenomena tertentu, dll.

b) Epilepsi parsial kompleks, yaitu kejang disertai gangguan kesadaran.


Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran : kesadaran mula-
mula baik kemudian baru menurun.
Dengan gejala parsial sederhana A1-A4. Gejala-gejala seperti pada golongan
A1-A4 diikuti dengan menurunnya kesadaran.
Dengan automatisme. Yaitu gerakan-gerakan, perilaku yang timbul dengan
sendirinya, misalnya gerakan mengunyah, menelan, raut muka berubah
seringkali seperti ketakutan, menata sesuatu, memegang kancing baju,
berjalan, mengembara tak menentu, dll.
Dengan penurunan kesadaran sejak serangan; kesadaran menurun sejak
permulaan kesadaran.

c) Epilepsi Parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik,


klonik).
Epilepsi parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan umum.
Epilepsi parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum.
Epilepsi parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu
berkembang menjadi bangkitan umum.

2. Epilepsi kejang umum


a. Lena Atau Kejang absant (Petit mal)
Petit mal disebut juga sebagai kejang murni (typical absence) atau simple
absence. Bangkitan berlangsung singkat hanya beberapa detik (5-15 detik). Pada
serangan epilepsy jenis petit mal yang terlihat sebagai berikut:
1) Pasien tiba-tiba berhenti melakukan apa yang sedang ia lakukan.
2) Ia memandang kosong, melongo. Pada saat ini tidak bereaksi bila diajak
berbicara atau bila dipanggil karena ia tidak sadar.
3) Setelah beberapa detik kemudian ia sadar dan meneruskan lagi apa yang
sedang ia lakukan sebelum serangan terjadi.

b. Grandmal
Sejenis epilepsy yang paling sering dijumpai pada anak. Pada jenis grandma
primer, pasien tidak ingat atau tidak tahu adanya serangan sejak semula. Sejak
permulaan serangan pasien telah kehilangan kesadaran. Sedangkan epilepsi jenis
sekunder berarti sebelumnya pasien menderita Jenis eplipesi lain.
Grandmal merupakan kejang umum yang terdiri dari fase tonik dan fase klonik.
Pada kejang umum jenis klonik pasien menjadi tidak sadar tanpa didahului oleh
fase tonik. Setelah fase klonik selesai pasien tertidur.
c. Status petit mal
Bila serangan epilepsy terjadi berturut-turut atau beruntun, dan serangan
berikutnya telah mulai sebelum pasien pulih dari serangan sebelumnya, hal ini
disebut status epleptikus (bangkitan epilepsy beruntun).
d. Infantil spasm
Infantile spasm ditandai oleh serangan yang berbentuk spasmus yang masif dari
otot-otot badan. Didapatkan fleksi dari badan dan anggota gerak bawah dengan
abduksi serta fleksi dari lengan. Terdapat gerakan kejutan dari otot fleksor
ekstremitas dan kepala. Gerak kejut ini berlangsung singkat dan dapat berulang
beberapa kali.
e. Sinkop
Pasien dengan sinkop biasanya mengalami gejala-gejala seperti berikut sebelum
ia kehilangan kesadaran. Merasa badannya dingin atau panas dan berkeringat
dingin, telinga berdengung, pandangan kabur atau benda yang dilihatnya tampak
hitam. Ia merasa pusing.
F. pemeriksaan Diagnostik
a. CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal
abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral. Epilepsi simtomatik
yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT scan atau
magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi
dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik yang
jelas
b. Elektroensefalogram(EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
c. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
menilai fungsi hati dan ginjal
menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya
infeksi).
Pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain:
1. Elektrolit (natrim dan kalium), ketidak seimbangan pada dan dapat berpengaruh

atau menjadi predisposisi pada aktivitas kejang


2. Glukosa, hipolegikemia dapat menjadi presipitasi ( percetus ) kejang
3. Ureum atau creatinin, meningkat dapat meningkatkan resiko timbulnya aktivitas kejang
atau mungkin sebagai indikasi nefrofoksik yang berhubungan dengan pengobatan
4. Sel darah merah, anemia aplestin mungkin sebagai akibat dari therapy obat
5. Kadar obat pada serum : untuk membuktikan batas obat anti epilepsi yang teurapetik
6. Fungsi lumbal, untuk mendeteksi tekanan abnormal, tanda infeksi, perdarahan
7. Foto rontgen kepala, untuk mengidentifikasi adanya sel, fraktur
8. DET ( Position Emission Hemography ), mendemonstrasikan perubahan metabolik
( Dongoes, 2000 : 202 )

H. Penatalaksanaan
a. Atasi penyebab dari kejang
b. Tersedia obat obat yang dapat mengurangi frekuensi kejang yang didalam seseorang
Anti konvulson
Sedatif
Barbirorat
( Elizabeth, 2001 : 174 )
Obat yang dapat mencegah serangan epilepsi
fenitoin (difenilhidantoin)
karbamazepin
fenobarbital dan asam valproik
Dalam memberikan terapi anti epilepsi yang perlu diingat sasaran pengobatan yang
dicapai, yakni:

Pengobatan harus di berikan sampai penderita bebas serangan.


Pengobatan hendaknya tidak mengganggu fungsi susunan syaraf pusat yang normal.
Penderita dapat memiliki kualitas hidup yang optimal.
c. Operasi dengan reseksi bagian yang mudah terangsang
d. Menanggulangi kejang epilepsi
1. Selama kejang
a) Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang ingin tahu
b) Mengamankan pasien di lantai jika memungkinkan
c) Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari bendar keras, tajam
atau panas. Jauhkan ia dari tempat / benda berbahaya.
d) Longgarkan baju . Bila mungkin, miringkan kepalanya kesamping untuk
mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan.
e) Biarkan kejang berlangsung. Jangan memasukkan benda keras diantara giginya,
karena dapat mengakibatkan gigi patah. Untuk mencegah gigi klien melukai lidah,
dapat diselipkan kain lunak disela mulut penderita tapi jangan sampai menutupi
jalan pernapasannya.
f) Ajarkan penderita untuk mengenali tanda2 awal munculnya epilepsi atau yg biasa
disebut "aura". Aura ini bisa ditandai dengan sensasi aneh seperti perasaan
bingung, melayang2, tidak fokus pada aktivitas, mengantuk, dan mendengar bunyi
yang melengking di telinga. Jika Penderita mulai merasakan aura, maka sebaiknya
berhenti melakukan aktivitas apapun pada saat itu dan anjurkan untuk langsung
beristirahat atau tidur.
g) Bila serangan berulang-ulang dalam waktu singkat atau penyandang terluka berat,
bawa ia ke dokter atau rumah sakit terdekat.

2. Setelah kejang
a) Penderita akan bingung atau mengantuk setelah kejang terjadi.
b) Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi. Yakinkan bahwa
jalan napas paten.
c) Biasanya terdapat periode ekonfusi setelah kejang grand mal
d) Periode apnea pendek dapat terjadi selama atau secara tiba- tiba setelah kejang
e) Pasien pada saaat bangun, harus diorientasikan terhadap lingkungan
f) Beri penderita minum untuk mengembalikan energi yg hilang selama kejang dan
biarkan penderita beristirahat.
g) Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang (postiktal), coba untuk
menangani situasi dengan pendekatan yang lembut dan member restrein yang
lembut
h) Laporkan adanya serangan pada kerabat terdekatnya. Ini penting untuk pemberian
pengobatan oleh dokter.

I. Pencegahan
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk
pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat
antikonvulsi (konvulsi: spasma autau kekejangan kontruksi otot keras dan terlalu banyak
disebabkan oleh proses pada sistem saraf pusat, yang menimbulkan pula kekejangan pada
bagian tubuh) yang digunakan sepanjang kehamilan.
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Melalui
program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, yaitu
tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat
cedera kepala. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar
belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di
identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya
menyebabkan kejang yang sering terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan.
Program skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan
program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan secara
bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana pencegahan ini.
J. Komplikasi

Komplikasi Epilepsi adalah kondisi-kondisi sekunder, gejala, atau kekacauan lain


yang disebabkan oleh Epilepsi. Dalam banyak kasus pembedaan antara gejala epilepsi dan
komplikasi epilepsi belum jelas. komplikasi Epilepsi: Daftar komplikasi yang telah disebut
dalam berbagai sumber untuk Epilepsi meliputi:

1. Status epileptikus
2. Kematian mendadak tidak diterangkan
3. Permasalahan tingkah laku
4. Permasalahan emosional
5. Kerusakan otak terutama status epileptikus dengan serangan Grand Mal

DAPUS
Doenges, marilynn E. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta, EGC
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta. EGC
Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta.
Wong,D.L. (1997). Buku ajar Keperawatan Pediatrik. (Wong,s Essentials of Pediatrik Nursing).
Edisi 8. EGC. Jakarta