Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Metode Pengukuran Gelombang Laut


Pengukuran visual, dilakukan jika tidak ada alat ukur lain. Untuk mengestimasi
gelombang pecah dengan batang meter sebagai alat bantu.
Stadia-type wave gage, pemakaian teleskop mengikuti gerakan naik turunnya
gelombang, kemudian direkam pada sistem record.
Capacitancetype wave gage, kabel dialiri listrik sehingga naik turunnya air
mempengaruhi kapasitas listrik pada kabel.
Resistancetype wave gage, prinsip kerjanya identik dengan capacitance, namun
berbeda dalam perhitungan tahanan listrik.
Step-type wave gage, satu baris pasangan electrode yang dipasang vertikal,
dihubungkan dengan sirkuit sehingga perubahan muka air diindikasikan pada lampu
yang menyala.
Pressure-type wave gage, alat ini dipasang di dasar laut yang merekam tekanan air
akibat gelombang dipermukaan.
Ultrasonic-type wave gage (underwater emission), alat ini diletakkan di dasar laut
yang memancarkan gelombang ultrasonik pada perekam yang dipantulkan kembali,
sehingga bias merekam posisi naik turunnya tinggi muka air.
Ultrasonic-type wave gage (aerial emission), prinsip kerjanya sama dengan type
underwater emission, tetapi alat ini dipasang pada ketinggian tertentu diatas muka air.
Radio-type wave gage, alat ini seperti aerial emission tetapi yang dipancarkan berupa
gelombang radio.
Buoy- type wave gage dengan berbagai varians, a.l. marine weather buoy, submerged
buoy, batawell buoy.
Pengukuran dengan satelit, mis. GEOSAT-ALT.

(Kurniawan,2011).

2.2 Manfaat Pengukuran Gelombang Laut


Gelombang laut merupakan fenomena alam yang sangat mempengaruhi efisiensi dan
keselamatan bagi kegiatan kelautan, sehingga informasi terhadap variasi dan karakteristik
gelombang laut tentu sangat diperlukan (Kurniawan,2011).
2.3 Karakteristik Gelombang di Pantai Utara
Arah angin di perairan Laut Jawa saat Musim Barat (MB) datang dari baratbarat laut,
saat Musim Peralihan Satu (MPI) datang dari timur laut dan saat Musim Timur
(MT) datang dari timurtenggara. Kekuatan angin dan gelombang pada MB dan MT di
perairan Laut Jawa akan menghasilkan lapisan turbulen atau lapisan tercampur (mixed
layer). Kondisi arus secara umum akan homogen tergantung kepada kondisi batimetri dan
morfologi garis pantai(Wyrtki,1961).
Apabila muka laut mendapatkan tekanan angin (wind stress), terbentuklah tinggi
gelombang dan selanjutnya arus permukaan terbentuk. Jika tinggi gelombang kuat, maka
kecepatan arus berubah membesar dan terbentuklah longshore current yang kuat, yang
mengakibatkan sedikit demi sedikit pantai tersebut akan terjadi abrasi. Penentu adanya
abrasi selain oleh gelombang dan arus, juga ditentukan pula oleh kondisi batimetri yang
tidak stabil (Horikawa,1988).

2.4 Tinggi dan Periode Gelombang Laut


Menurut Nontji (1987) Tinggi gelombang dipengaruhi oleh komponen-
komponen gelombang, yaitu perbedaan frekuensi dan amplitudo. Dalam teori, jika
tinggi dan frekuensi gelombang diketahui, adalah sangat memungkinkan untuk
memprediksi secara akurat tinggi dan frekuensi gelombang terbesar. Dalam
prakteknya hal ini tidak mungkin(Hutabarat,1985).

2.4.1 Tinggi dan Periode Gelombang Maksimal (H DAN T)


Dalam pencatatan gelombang, terdapat juga tinggi gelombang maksimum ,
Hmax. Prediksi Hmax untuk perioda waktu tertentu merupakan harga yang penting
dalam desain bangunan seperti halangan banjir, instalasi pelabuhan, dan flatform
pengeboran. Untuk membangun bangunan ini tingkat keselamatan yang tinggi
seharusnya tidak mahal, tetapi dengan perkiraan Hmax yang salah dapat
menyebabkan konsekuensi yang tragis. Namun perlu diperhatikan kejadian yang acak
dari Hmax . Gelombang dengan Hmax (25 th) akan terjadi 1 kali setiap 25 tahun. Jika
kecepatan angin meningkat, maka H1/3 dalam fully developed sea meningkat.
Hubungan antara kondisi laut, H1/3 dan kecepatan angina dinyatakan oleh skala
Beaufort(Dirwana,2002).

a. tinggi gelombang maksimal

b. periode gelombang maksimal

2.4.2 Tinggi dan Periode Gelombang Minimal (H DAN T)


Parameter gelombang representatif yang dibangkitkan oleh angin maksimum
dapat berupa tinggi dan periode gelombang minimum (Hmin dan Tmin) tinggi dan
periode gelombang dibawah atau kurang dari rata-rata (H0,5 dan T0,5)
(Dirwana,2002).

a. tinggi gelombang minimal


b. periode gelombang minimal

2.5 Tinggi dan Periode Gelombang Signifikan (H DAN T)


Parameter gelombang representatif yang dibangkitkan oleh angin maksimum
dapat berupa tinggi dan periode gelombang maksimum (Hmax dan Tmax), tinggi dan
periode gelombang 10% (H0,1 dan T0,1), tinggi dan periode gelombang rata-rata
(H0,5 dan T0,5), tinggi dan periode gelombang signifikan atau 33% (Hs dan Ts) dan
lain-lain, tergantung keperluan(Dirwana,2002).

a. tinggi gelombang signifikan

b. periode gelombang signifikan

DAFTAR PUSTAKA

K. Wyrtki, Naga Report 2. Scripps Inst. Of Oceanogr., La Jolla, Calif. 1961, p.195.

K. Horikawa, (Ed.), Nearshore Dynamics and Coastal Process. Theory,


measurement and predictive model. University of Tokyo Press, 1988, p.522.

Dirwana, Iwan. 2002. Alat Pengukur Gelombang Pasang Surut Presisi Tinggi. IPB:
Bogor

Hutabarat, S dan Evans,S. 1985. Pengantar Oseanografi. UI-Press: Jakarta


Kurniawan, Roni. 2011. Variasi Bulanan Gelombang Laut Di Indonesia. Puslitbang:
BMKG