Anda di halaman 1dari 15

PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM ADIWARMAN

AZWAR KARIM

Firda Zulfa
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Faqih Asyari
Sumbersari Kediri

Abstrak
Perkembangan dan pembangunan ekonomi syariah di Indonesia
merupakan buah dari pemikiran dan dedikasi para cendekiawan
muslim Indonesia, salah satu yang paling poluper diantara mereka
adalah Adiwarman Azwar Karim. Beliau adalah salah satu tokoh
ekonomi syariah di Indonesia dan bahkan beliau juga terkenal
dengan julukan Begawan Ekonomi Islam. Kontribusi Adiwarman
dalam pengembangan perbankan dan ekonomi syariah di Indonesia
bukan saja sebagai praktisi, tetapi juga sebagai intelektual dan
akademisi. Ia menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi
ternama seperti UI, IPB, Unair, IAIN Syarif Hidayatullah dan
sejumlah perguruan tinggi swasta untuk mengajar perbankan dan
ekonomi syariah. Adiwarman berusaha menyelaraskan antara
perjuangan ekonomi Islam secara praktis dan teoritis. Beliau
menempatkan dirinya pada posisi fundamentalis-intelektual-
rasional. Pendekatan dan metode yang ia gunakan dalam
membangun keilmuan ekonomi Islam dapat dipetakan menjadi
pendekatan sejarah, pendekatan fikih dan ekonomi. Pokok-pokok
pikiran beliau diantaranya adalah tentang: Redefinisi dan Rancang
Bangun Ilmu Ekonomi Islam dan Integrasi Intelektual dan
Harakah: Kampus-Pemerintah-Praktisi.

Kata kunci: Pemikiran Ekonomi Islam dan Adiwarman Azwar


Karim.

Pendahuluan
Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia juga tidak terlepas dari
jasa para pemikir ekonomi syariah. Mereka memberikan sumbangsih yang
tidak sedikit, tidak hanya dari pemikiran cemerlang mereka tentang ekonomi
syariah tetapi juga atas dedikasi dalam perkembangan dan pembangungan
ekonomi syariah di Indonesia. Di antara para ahli ekonomi tersebut antara lain

el-Faqih: Jurnal Pemikiran & Hukum Islam,


Volume 1, Nomor 2, Desember 2015
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

Dawam Rahadjo, A.M. Saefudin, Karnaen Perwata Atmaja, M. Amin Aziz,


Muhammad Syafii Antonio, Zainal Arifin, Mulya Siregar, Riawan Amin, dan
juga Adiwarman Karim. Namun dalam tulisan ini, penulis lebih memfokuskan
pembahasan tentang pemikiran salah satu pakar ekonomi Indonesia yaitu
Adiwarman Karim. Karena tidak dipungkiri, beliau juga memiliki andil besar
dalam perkembangan ekonomi Islam di Indonesia, di antaranya lewat karya
tulisnya yang mampu memperkaya khazanah keilmuan khususnya di bidang
ekonomi Islam, dan juga lewat kontribusinya dalam perkembangan perbankan
syariah di Indonesia. Bahkan Adiwarman Azwar Karim juga dijuluki
Begawan Ekonomi Islam.1

Biografi
Nama lengkap dan gelarnya adalah Ir. H. Adiwarman Azwar Karim,
S.E., M.B.A., M.A.E.P., lahir di Jakarta pada 29 Juni 1963. Adiwarman atau
Adi (nama panggilan) merupakan cerminan sosok pemuda yang mempunyai
hobi belajar. Pendidikan tingkat S1 ia tempuh di dua perguruan tinggi yang
berbeda, IPB dan UI. Gelar Insinyur dia peroleh pada tahun 1986 dari Institut
Pertanian Bogor (IPB). Pada tahun tahun 1988 Adiwarman berhasil
menyelesaikan studinya di European University, Belgia dan memperoleh gelar
M.B.A. setelah itu ia menyelesaikan studinya di UI yang sempat terbengkalai
dan mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1989. Tiga tahun
berikutnya, 1992, Adiwarman juga meraih gelar S2-nya yang kedua di Boston
University, Amerika Serikat dengan gelar M.A.E.P. Selain itu ia juga pernah
terlibat sebagai Visiting Research Associate pada Oxford Centre for Islamic
Studies.
Modal akademis dan konsistensinya pada bidang ekonomi
menghantarkannya untuk meniti berbagai karir prestisius. Pada tahun 1992
Adiwarman masuk menjadi salah satu pegawai Bank Muamalat Indonesia,
1
Adin Surachim,Ekonomi-Syariah Karya Bp. Syafi'i Antonio & Bp. Adiwarman A. Karim
dalam http://www.mail-archive.com/ekonomi-syariah@yahoogroups.com/msg06833.html.
Diakses pada tanggal 22/09/2015.

18
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

setelah sebelumnya sempat bekerja di Bappenas. Karir Adi di BMI terbilang


cemerlang, karir awalnya sebagai staf Litbang. Enam tahun kemudian ia
dipercaya untuk memimpin BMI cabang Jawa Barat. Jabatan terakhirnya di
pionir bank syariah tersebut adalah Wakil Presiden Direktur. Jabatan tersebut
dipegang sampai dengan tahun 2000, ketika ia memutuskan untuk keluar dari
BMI. Menurutnya, memutuskan keluar dari BMI bukan perkara gampang.
Sebab, bekerja di bank syariah sudah menjadi keinginannya sejak masih
menjadi mahasiswa. Karena itu ia baru berani memutuskan untuk keluar dari
BMI setelah melakukan shalat istikharah selama 6 bulan. Keluarnya
Adiwarman dari BMI disebabkan ia memiliki agenda yang lebih besar yang
ingin dicapai, yaitu memperjuangkan dibukanya divisi syariah di bank-bank
konvensional. Hasil dari upaya Adiwarman tersebut dapat dilihat sekarang ini,
dengan dibukanya divisi-divisi, unit dan gerai syariah di beberapa bank
konvensional, meskipun itu bukan satu-satunya faktor penyebabnya.
Setelah melepas jabatannya di BMI, pada tahun 2001 dengan modal Rp.
40 juta Adiwarman kemudian mendirikan perusahaan konsultan yang diberi
nama Karim Business Consulting. Semula, banyak pihak termasuk yang
bergabung di perusahaannya, awalnya memandang pesimis prospek
perusahaan yang dipimpinnya. Hal ini bisa dimaklumi, sebab ketika itu bank
syariah di Indonesia hanyalah BMI. Tetapi, seiring perkembangan ekonomi
Islam dan perbankan syariah di Indonesia, saat ini perusahaan yang
dipimpinnya telah menjadi rujukan pertama dari berbagai masalah ekonomi
dalam perbankan Islam atau Syariah.
Kontribusi Adiwarman dalam pengembangan perbankan dan ekonomi
syariah di Indonesia bukan saja sebagai praktisi, tetapi juga sebagai
intelektual dan akademisi. Ia menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan
tinggi ternama seperti UI, IPB, Unair, IAIN Syarif Hidayatullah dan sejumlah
perguruan tinggi swasta untuk mengajar perbankan dan ekonomi syariah. Di
beberapa perguruan tinggi tersebut ia juga mendirikan Shariah Economics
Forum (SEF), suatu model jaringan ekonomi Islam yang bergerak di bidang

19
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

keilmuan. Lembaga tersebut menyelenggarakan pendidikan non-kurikuler


yang diselenggarakan selama dua semester dan dipersiapkan sebagai sarana
islamisasi ekonomi melalui jalur kampus.
Pada 1999, Adiwarman bersama kurang lebih empat puluh lima tokoh
dan cendikiawan Muslim Indonesia bersepakat mendirikan lembaga IIIT-I
(The International Institute of Islamic Thought-Indonesia). IIIT-Indonesia,
sebagai induk organisasinya yang berkedudukan di Amerika Serikat adalah
lembaga kajian pemikiran Islam yang berupaya mengeksplorasi Islamisasi
ilmu pengetahuan sebagai respon Islam atas perkembangan ilmu-ilmu
pengetahuan. Upaya itu semula digagas oleh beberapa cendikiawan Muslim di
Amerika Serikat pada tahun 1981. Di Indonesia, upaya serupa telah dilakukan
lewat pengembangan dan eksplorasi ilmu ekonomi Islam. Meruahnya respon
atas upaya ini terbukti salah satunya dengan semakin banyaknya institusi-
institusi perbankan yang mengadopsi sistem syariah.
Sama seperti induk organisasinya, IIIT-Indonesia berkembang sebagai
sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di wilayah pemikiran dan
kebudayaan. IIIT-Indonesia bersifat independen, tidak berafiliasi dengan
gerakan lokal mana pun. Misi yang diembannya adalah mengembangkan
pemikiran Islam berikut metodologinya dalam kerangka meningkatkan
kontribusi umat Islam dalam membangun peradaban bersama yang lebih baik.
Bersama dengan IIIT-I inilah Adiwarman menebarkan gagasanya tentang
ekonomi Islam.
Kepakaran Adiwarman di bidang ekonomi Islam semakin diakui dengan
ditunjuknya ia sebagai anggota Dewan Syariah Nasional dan terlibat dalam
mempersiapkan lahirnya Undang-Undang Perbankan Syariah.
Saat ini Adiwarman sudah dikaruniai tiga orang anak yang diberi nama
Abdul Barri Karim (12 tahun), Azizah Mutia Karim (11 tahun), dan Abdul
Hafidz Karim (6 tahun) dari pernikahannya dengan Rustika Thamrin (35
tahun), seorang Sarjana Psikologi UI, pada usia 25 tahun.2

2
A. Dimyati, Studi atas Pemikiran Ekonomi Islam Adiwarman Azwar Karim, dalam

20
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

Karya-karya
Beberapa tulisan Adiwarman yang telah diterbitkan antara lain;
Ekonomi Islam, Suatu Kajian Kontemporer yang merupakan kumpulan
artikelnya di Majalah Panji Masyarakat, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam,
sebuah kumpulan tulisan pakar ekonomi yang ia terjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, Ekonomi Mikro Islami dan Ekonomi Islam, Suatu Kajian Ekonomi
Makro. Ketiga tulisan yang disebut terakhir merupakan bahan kuliah wajib di
berbagai perguruan tinggi tempatnya mengajar. Terakhir ia menulis satu buku
yang berusaha memberikan pandangan secara komprehensif tentang
perbankan Islam dengan memberikan analisis dari perspektif fikih dan
ekonomi (keuangan). Buku tersebut diberi judul Bank Islam, Analisis Fiqih
dan Keuangan.3 Serta lebih dari 50 artikel tentang ekonomi Islam yang
disajikan dalam berbagai forum nasional dan internasional, seperti Konferensi
Ekonomi Islam Internasional Ketiga, Keempat dan Kelima yang disponsori
oleh Islamic Development Assosiation yang ke-76. Saat ini dia dipercaya
menjadi anggota Dewan Syariah Nasional MUI dan Dewan Pengawas Syariah
pada beberapa Lembaga Keuangan Syariah, seperti Asuransi Great Eastern
Syariah, Bank Danamon Syariah dan HSBC Syariah, serta Dewan Syariah
pada BPRS Harta Insani Karimah.4

Pemikiran Adiwarman Karim tentang Ekonomi Islam


1. Fundamentalis-Intelektual-Profesional
Bersama beberapa tokoh ekonomi Islam Indonesia lainnya, seperti A.M.
Saefudin, Karnaen Perwata Atmaja, M. Amin Aziz, Muhammad Syafii
Antonio, Zainal Arifin, Mulya Siregar, Riawan Amin dan sebagainya, oleh
Dawam Rahadjo, Adiwarman dimasukkan dalam kelompok pemikir
fundamentalis dalam bidang ekonomi Islam.5

http://didim76.multiply.com/journal/item/5. Diakses pada tanggal 22/09/2015.


3
Ibid.
4
M Syaifuddin Zuhri,Pemikiran Adiwarman A. Karim tentang Mekanisme Pasar Islami,
dalam http://etd.eprints.ums.ac.id/7743/2/I000040054.pdf. Diakses pada tanggal 22/09/2015.
5
A. Dimyati, Studi atas Pemikiran Ekonomi Islam Adiwarman Azwar Karim, dalam

21
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

Kelompok Islam fundamentalisme, dengan beragam sebutan yang


disandangnya, memiliki kesamaan ciri khas, yaitu cita-cita tegakkanya syariat
Islam. Meskipun demikian, dalam hal metode atau cara perjuangannya,
mereka tidak satu kata dan terbelah menjadi dua aliran besar. Sebagian
memilih menempuh cara-cara revolusioner (karenanya mereka disebut
kelompok fundamental radikal), sebagian yang lain mencoba berkompromi
dengan penguasa dan mengedepankan jalur demokrasi-parlementer. Ada juga
yang membedakan pola gerakan fundamentalisme Islam menjadi; 1) Islam
politik yang menempuh jalan mencapai kekuasaan sebagai alat untuk
menegakkan syariat; dan 2) Islam kultural yang memilih jalur budaya dan
kemasyarakatan. Yang pertama bertujuan menegakkan syariat Islam sekaligus
negara Islam, sementara yang kedua bertujuan menciptakan masyarakat Islam,
peradaban Islam, atau masyarakat madani.
Misi penegakkan syariat yang diusung oleh Islam fundamentalis
mendapat reaksi dari kelompok liberal yang mengkampanyekan sekularisme.
Perbedaan pendapat antara kedua kelompok tersebut juga terjadi dalam
menyikapi isu-isu aktual seputar ekonomi dan perbankan syariah atau Islam di
Indonesia. Di bidang ini, kelompok fundamentalis berusaha memperjuangkan
berlakunya syariat Islam dalam sistem ekonomi Islam, khususnya perbankan
Islam, sama halnya dengan keinginan kawan-kawan mereka yang
memperjuangkan syariat Islam di bidang politik dan hukum. Bedanya, jika
perjuangan melalui jalur politik dilakukan dengan cara-cara radikal, sementara
perjuangan menegakkan ekonomi Islam cenderung memilih cara-cara gradual
dan demokratis.
Di Indonesia, fundamentalis yang memperjuangkan tegaknya ekonomi
Islam dapat dibedakan menjadi dua kelompok lagi, yaitu kelompok
profesional dan kelompok intelektual. Kelompok fundamentalis professional
berorientasi pada praktik. Mereka merasa tidak perlu menunggu
perkembangan teori Islam menjadi mapan, serta mencukupkan diri dengan

http://didim76.multiply.com/journal/item/5. Diakses pada tanggal 22/09/2015.

22
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

piranti teori yang sudah ada, yaitu fikih muamalah setelah dikonseptualisasi.
Golongan profesional inilah yang berada di balik pendirian BMI dan bank-
bank Islam lainnya.
Berbeda dengan fundamentalis profesional, fundamentalis intelektual
justru berorientasi pada teori. Mereka berupaya menyediakan bangunan teori-
teori ekonomi yang kokoh terlebih dahulu sebagai dasar pijakan bagi
terlaksananya ekonomi Islam secara baik dan benar serta dapat diterima secara
luas oleh masyarakat (ilmiah).
Berdasarkan pemetaan di atas, agak sulit menentukan di mana posisi
Adiwarman. Pada satu sisi ia terlibat secara aktif dalam gerakan
pemberdayaan ekonomi Islam melalui institusi-institusi praktis (semisal
perbankan, menjadi konsultan dan sebagainya), tetapi pada sisi lain ia juga
concern terhadap upaya meletakkan dasar-dasar teoritis bagi pengembangan
ilmu ekonomi Islam di Indonesia. Nampak kesan bahwa Adiwarman berusaha
menyelaraskan antara perjuangan ekonomi Islam secara praktis dan teoritis.
Karena itulah, dapat dikatakan bahwa Adiwarman menempatkan dirinya pada
posisi fundamentalis-intelektual-rasional.

2. Pendekatan dan Metode


Membaca tulisan-tulisan Adiwarman, setidaknya terdapat beberapa
pendekatan dan metode yang ia gunakan dalam membangun keilmuan
ekonomi Islam. Pendekatan yang ia gunakan dapat dipetakan menjadi
pendekatan sejarah, pendekatan fikih dan ekonomi.6
Pendekatan sejarah sangat kental dalam berbagai tulisan Adiwarman.
Dalam setiap tulisannya (terutama buku), Adiwarman selalu berupaya
menjelaskan fenomena ekonomi kontemporer dengan merujuk pada sejarah
Islam klasik, terutama pada masa Rasulullah. Selain itu ia juga mengelaborasi
pemikiran-pemikiran sarjana besar muslim klasik dan mencoba

6
A. Dimyati, Studi atas Pemikiran Ekonomi Islam Adiwarman Azwar Karim, dalam
http://didim76.multiply.com/journal/item/5 akses tgl 22-09-2015.

23
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

merefleksikannya dalam konteks kekinian, tentu saja menurut perspektif


ekonomi.
Selain pendekatan sejarah, Adiwarman juga menggunakan pendekatan
fikih. Dalam pandangannya, fikih tidak hanya berbicara pada aspek ubudiyah
semata. Fikih berbicara aspek sosial masyarakat yang lebih luas, terutama
ketika dibingkai dalam wadah fiqh al-wa>qiiy (fikih realitas). Dalam format
yang demikian, fikih lebih merupakan suatu respon atas problematika
kontemporer sebagai suatu upaya menemukan jawaban dan solusi yang tepat
bagi suatu masyarakat tertentu dalam konteks tertentu pula. Karena itu
Adiwarman selalu berpegang pada adagium li kulli maqa>m, maqa>l. Wa likulli
maqa>l, maqa>m (setiap kondisi butuh ungkapan yang tepat. Dan setiap
ungkapan, butuh waktu yang tepat pula).
Pendekatan fikih yang digunakan Adiwarman tidak berdiri sendiri.
Untuk dapat merespon fenomena ekonomik, prinsip-prinsip fikih yang
diformulasikan ulama masa lalu ditarik pada perspektif ekonomi.
Sederhananya Adiwarman menggunakan istilah-istilah dan prinsip-prinsip
fikih dalam membahas masalah-masalah ekonomi. Sebagai contoh ia
menjelaskan fenomena distorsi permintaan dan penawaran (false demand dan
false supply) berdasarkan prinsip al-bai al-najsy, ia juga menganalisis
monopolic behaviour berdasarkan teori tadli>s dalam fikih dan masih banyak
lagi.
Meskipun begitu, Adiwarman menghindari melakukan islamisasi
ekonomi dengan cara mengambil ekonomi Barat lalu dicari ayat al-Quran dan
hadisnya. Menurutnya hal itu tidak dapat dibenarkan, karena itu memaksakan
al-Quran dan hadis cocok dengan pikiran manusia. Ekonomi Islam bukan
ekonomi konvensional lalu ditempeli al-Quran dan hadis. Itulah sebabnya
metode yang ditempuh oleh Adiwaman adalah dengan melakukan interpretasi
bebas terhadap teks-teks al-Quran, Sunah dan fikih dalam perspektif
ekonomi.

24
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

3. Pokok-Pokok Pikiran
a. Redefinisi dan Rancang Bangun Ilmu Ekonomi Islam
Berbicara tentang ekonomi Islam, selama ini definisi yang sering
ditemukan adalah ekonomi yang berasaskan al-Quran dan Sunah. Seringkali
definisi seperti itu tidak disertai dengan penjelasan yang tuntas, sehingga
terkesan bahwa ekonomi Islam adalah ekonomi apa saja yang dibungkus
dengan argumen-argumen dari ayat-ayat atau hadis-hadis tertentu. Bagi
banyak kalangan, penjelasan yang sekedar itu tidak mampu memberikan
jawaban yang memuaskan. Sebab bisa jadi ekonomi konvensional dapat
dikatakan islam(i) sepanjang dapat dilegitimasi oleh ayat tertentu, dan itulah
yang oleh Adiwarman disebut dengan pemaksaan ayat.
Menurut Adiwarman Karim, ekonomi Islam diibaratkan satu bangunan
yang terdiri atas landasan,tiang,dan atap.7 Sadar akan hal itu, Adiwarman
menawarkan pengertian ekonomi Islam sebagai ekonomi yang dibangun di
atas nilai-nilai universal Islam. Nilai-nilai yang ia maksud adalah tauhid
(keesaan), adl (keadilan), khilafah (pemerintahan), nubuwwah (kenabian) dan
maad (return). Secara singkat korelasi prinsip-prinsip tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Tauhid, bermakna ke-Maha Tunggal-an Allah sebagai pencipta, pemilik
semua yang ada di bumi dan di langit, pemberi rezeki yang Maha Adil yang
berkuasa atas segalanya. Pengingkaran atas nilai tauhid dapat membawa
manusia menjadi megalomania, merasa dirinya hebat, semua bisa diatur
dengan uang. Maka konsep keesaan Tuhan memberikan arah bagi pelaku
ekonomi bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, manusia hanyalah
pemegang amanah. Karena itu ada sistem pertanggung jawaban bagi setiap
tindakan ekonomi. Pada akhirnya, dalam skala makro prinsip
pertanggungjawaban tersebut mendorong terwujudnya keadilan (`adl) ekonomi
dalam suatu masyarakat. Akan tetapi, untuk dapat merealisasikan keadilan
tersebut diperlukan adanya intervensi khilafah (pemerintah) sebagai regulator.

7
Adiwarman Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press,
2001), 176-177.

25
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

Contoh terbaik terlaksananya sistem regulasi yang dijalankan pemerintah


dalam masalah ekonomi ini dapat merujuk pada struktur sosial ekonomi pada
masa Nabi (nubuwwah), terutama era Madinah.8 Prinsip nubuwwah di sini
mengandung arti bahwa konsep ekonomi Islam adalah konsep untuk manusia,
bukan untuk malaikat, serta mampu dijalankan oleh manusia, bukan oleh
malaikat. Nubuwwah adalah jawaban akan kebutuhan ini sebagaimana yang di
contohkan Rasulullah tentang bagaimana melakukan kegiatan ekonomi yang
membawa kesuksesan dunia akhirat. Tujuan akhir dari semua aktifitas
ekonomi yang tersusun secara rapi melalui sistem tersebut tidak lain adalah
maksimisasi hasil (maa>d, return) yang tidak hanya menggunakan ukuran
materiil, tetapi juga aspek agama. Karena untuk menciptakan ekonomi yang
kuat, tentu harus ada motivasi yang kuat bagi para pelakunya. Itu sebabnya,
ekonomi Islam adalah ekonomi yang mencari laba. Namun dalam ekonomi
Islam, untung tidak semata untung di dunia tetapi juga untung di akhirat.9
Setelah membicarakan tentang landasan ekonomi Islam, maka kini
masalah tiangnya yang meliputi: multiple ownership, freedom to act, serta
social justice. Islam mengakui adanya kepemilikan pribadi, kepemilikan
bersama (shirkah), dan kepemilikan Negara. Hal ini sangat berbeda dengan
konsep kapitalis klasik yang hanya mengakui kepemilikan pribadi dan konsep
sosialis yang hanya mengakui kepemilikan bersama oleh negara. Multiple
ownership (kepemilikan multi jenis) merupakan derivasi dari prinsip tauhid, di
mana manusia sebagai pemegang amanah di muka bumi diberi hak dan
tanggung jawab yang sama dalam mengelola sumber daya yang tersedia.
Tetapi kebebasan manusia untuk mengeksploitasi sumber daya dibatasi oleh
suatu tujuan bersama, yaitu terciptanya keadilan sosial (social justice) dan
kesejahteraan (return, maa>d) yang merata. Sementara proposisi kebebasan
berusaha (freedom to act) memberikan motivasi kepada pelaku ekonomi

8
A. Dimyati,Studi atas Pemikiran Ekonomi Islam Adiwarman Azwar Karim, dalam
http://didim76.multiply.com/journal/item/5. Diakses pada tanggal 22/09/2015.
9
Adiwarman Karim, Ekonomi Islam, 176-177.

26
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

dalam berusaha, baik dalam kapasitasnya sebagai individu maupun pemerintah


sebagai pemegang regulasi, sebagaimana dipraktekkan pada masa Nabi.
Selain prinsip-prinsip di atas, terciptanya sistem ekonomi Islam juga
memerlukan suatu tatanan norma atau hukum yang menjadi payung (atap) dan
jaminan bagi keberlangsungannya. Dalam istilah Adiwarman, sistem norma
atau hukum ini disebut sebagai akhlak ekonomi Islam.

b. Integrasi Intelektual dan Harakah : Kampus-Pemerintah-Praktisi


Dalam pandangan Adiwarman, ekonomi Islam tidak akan bisa bangkit di
Indonesia dengan hanya menekankan pada salah satu aspek pengembangan,
teoritis atau praktis. Kedua aspek tersebut harus berjalan bersamaan, serentak.
Gerakan yang demikian disebut oleh Adiwarman sebagai h{arakah al-
iqtis}o>diyah al-isla>miyah al-Indonesiyah (Gerakan Ekonomi Islam Indonesia).
Menurutnya, keberhasilan perkembangan ekonomi Islam di Indonesia dalam
tahap yang sekarang ini tidak lepas dari model h{ara>kah tersebut. Dengan
pendekatan h{ara>kah, dimaksudkan sebagai gerakan serentak masing-masing
sel; praktisi, akademisi, serta pemerintah.
Menurut Adiwarman, h{arakah al-iqtis}o>diyah sebagai suatu model
pengembangan ekonomi Islam di Indonesia dapat dilakukan melalui tiga
tahap. Pertama, mengupayakan wacana ekonomi Islam masuk ke dalam
kampus melalui kurikulum, atau bentuk-bentuk yang lain (buku, kelompok
studi, seminar dan sebagainya). Tahap pertama ini nampaknya sudah
menemukan hasilnya, terbukti dengan dibukanya beberapa jurusan, fakultas
bahkan perguruan tinggi yang khusus memepelajari ekonomi Islam.
Kedua, pengembangan sistem. Tahap ini bisa dilakukan melalui
pembentukan undang-undang, atau peraturan daerah. Hal ini diperlukan sekali,
sebab tanpa payung hukum yang jelas dan tegas, ekonomi Islam di Indonesia
yang merupakan konsep baru dan tidak didukung oleh permodalan yang kuat
akan sulit berkembang bahkan bisa mati suri. Tahap kedua ini juga telah

27
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

berhasil dengan disahkannya berbagai peraturan yang mendukung


beroperasinya perbankan, pegadaian dan perekonomian Islam di Indonesia.
Ketiga, pengembangan ekonomi ummat. Tahap ketiga inilah yang
sangat berat dan tidak bisa diwujudkan hanya melalui jalur-jalur akademik
maupun legislasi. Untuk mencapai tahap ketiga ini diperlukan kepedulian dan
kemauan kuat dari para praktisi agar tetap berkomitmen mempraktikkan
ekonomi Islam dalam setiap kegiatan ekonomi mereka. Dalam hal ini, praktek
ekonomi yang dimaksud tidak hanya berkisar pada masalah riba saja, tetapi
bagaimana ekonomi Islam diwujudkan secara profesional dan profitable.
Karena itu, menurut Adiwarman slogan lebih baik untung sedikit tapi berkah
itu tidak ada dalam Islam. Islam itu harus untung besar dan berkah.10

4. Argumen atas Islam dan Perbankan Syariah


Islam adalah suatu pandangan atau cara hidup yang mengatur semua sisi
kehidupan manusia yang terlepas dari ajaran Islam, termasuk aspek ekonomi.
Dalam us}u>l al-fiqh, ada kaidah yang menyatakan bahwa ma> la> yatimmu al-
wa>jib illa> bihi fa huwa wa>jib, yaitu sesuatu yang harus ada untuk
menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Mencari nafkah (yakni
melakukan kegiatan ekonomi) adalah wajib. Dan karena pada zaman modern
ini kegiatan ekonomi tidak sempurna tanpa adanya lembaga perbankan, maka
lembaga perbankan ini pun wajib diadakan. Dengan demikian maka kaitan
Islam dengan perbankan menjadi jelas.11
Kita mengetahui bahwa karena permasalahan ekonomi (bank) ini
termasuk dalam bab muamalah, maka Rasulullah pun tentu tidak memberikan
aturan yang rinci mengenai bab ini. Rasul mengatakan antum alamu bi umu>ri
dunya>kum (kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian). Namun apabila kita
menelusuri praktik perbankan yang dilakukan umat muslim, maka dapat
disimpulkan bahwa meskipun kosakata fikih Islam tidak mengenal kata
10
A. Dimyati, Studi atas Pemikiran Ekonomi Islam Adiwarman Azwar Karim, dalam
http://didim76.multiply.com/journal/item/5. Diakses pada tanggal 22/09/2015.
11
Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2004), 14-15.

28
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

bank, tetapi sesungguhnya bukti-bukti sejarah menyatakan bahwa fungsi-


fungsi perbankan telah dipraktikkan oleh umat muslim bahkan sejak zaman
Rasulullah. Dapat dikatakan bahwa konsep bank bukan konsep yang asing
bagi umat muslim, sehingga ijtihad untuk merumuskan konsep bank modern
yang sesuai syariah tidak perlu dimulai dari nol.12 Al-Quran dan Sunah hanya
memberikan prinsip-prinsip filosofi dasar dan menegaskan larangan-larangan
yang harus dijauhi. Maka yang harus dilakukan hanyalah mengidentifikasi hal-
hal yang dilarang oleh Islam. Selain itu, semuanya diperbolehkan dan kita
dapat melakukan inovasi dan kreatifitas sebanyak mungkin.
Menurut Adiwarman Karim, pertumbuhan aset perbankan syariah di
Indonesia ke depan akan sangat mengesankan. Tumbuh kembangnya aset bank
syariah ini dikarenakan semakin baiknya kepastian dari sisi regulasi serta
berkembangnya pemikiran masyarakat tentang keberadaan bank syariah.
Namun perkembangan perbankan syariah ini juga harus didukukng oleh
sumber daya insani yang memadai, baik dari segi kualitatif maupun
kuantitatif. Tetapi realitas yang ada menunjukkan bahwa masih banyak SDM
yang selama ini terlibat dalam institusi syariah tidak memiliki pengalaman
akademis maupun praktis dalam Islamic banking. Tentunya kondisi ini cukup
signifikan mempengaruhi produktifitas dan profesionalisme perbankan syariah
itu sendiri. Inilah yang memang harus mendapat perhatian dari kita semua,
yaitu mencetak SDM yang mampu mengamalkan ekonomi syariah di semua
lini karena sistem yang baik tidak mungkin dapat berjalan dengan baik jika
tidak didukung oleh SDM yang baik pula.

12
Ibid., 26-27.

29
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

Penutup
Pemikiran dan kontribusi yang dipersembahkan Adiwarman Karim
terhadap perkembangan ekonomi Islam di Indonesia memang sangat luar
biasa. Dengan berbagai bekal keilmuan dan pengalaman yang dimilikinya,
mampu menjadikan beliau sebagai salah satu orang yang berpengaruh
terhadap perkembangan ekonomi Islam khususnya di Indonesia. Hal itu
seharusnya bisa menjadi contoh dan bahan introspeksi bagi kita sebagai
praktisi ataupun akademisi di bidang ekonomi Islam yang nantinya diharapkan
mampu melanjutkan perjuangan yang telah dicontohkan para pakar ekonomi
Islam terdahulu seperti halnya Ir.H. Adiwarman Azwar Karim, S.E., M.B.A.,
M.A.E.P.

30
Vol. 1, Nomor 2, Desember 2015

Daftar Pustaka

Dimyati, A. Studi atas Pemikiran Ekonomi Islam Adiwarman Azwar Karim,


dalam http://didim76.multiply.com/journal/item/5. Diakses pada
tanggal 22/09/2015.

Karim, Adiwarman, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta :


Gema Insani Press, 2001.

-----------, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, Edisi 2, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004.

-----------, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, Edisi 3, Jakarta: Rajawali
Press, 2009.

Surachim, Adin, Ekonomi-Syariah Karya Bp. Syafi'i Antonio & Bp.


Adiwarman A.Karim, dalam http://www.mail-archive.com/ekonomi-
syariah@yahoogroups.com/msg06833.html. Diakses pada tanggal
22/09/2015.

Zuhri, M.Syaifuddin, Pemikiran Adiwarman A. Karim tentang Mekanisme


Pasar Islami, dalam
http://etd.eprints.ums.ac.id/7743/2/I000040054.pdf. Diakses pada
tanggal 22-09-2015.

31