Anda di halaman 1dari 7

DNA merupakan suatu polimer heliks ganda yang terdiri dari nukleotida,

setiap nukleotida terdiri dari tiga komponen; satu basa nitrogen, satu gula pentose
yang disebut deoksiribosa, dan satu gugus fosfat. Basa nitrogennya bisa adenine
(A), timin (T), guanine (G), atau sitosin (S). adenine dan guanine adalah purin,
basa nitrogen dengan dua cincin organik. Sebaliknya, sitosin dan timin adalah
anggota famili basa nitrogen yang dikenal sebagai pirimidin, yang mempunyai
satu cincin tunggal (Hawab, 2004). DNA terdapat pada nukleus, mitikondria, dan
kloroplas. Perbedaan ketiganya adalah DNA nukleus berbentuk linier dan
berasosiasi sangat erat dengan protein histon, sedangkan DNA mitokondria dan
kloroplas berbentuk sirkular dan tidak berasosiasi dengan protein histon
(Lehninger, 1982).
Menurut Harborne (1987), ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat
atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan
termasuk biota laut. Zat-zat aktif terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan
hewan berbeda demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi
dengan pelarut tertentu dalam mengekstraksinya. Ekstraksi ini didasarkan pada
prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan
mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.
Kromosom dibentuk dari DNA yang berikatan dengan beberapa protein
histon, maka semakin banyak kromosom, semakin banyak pula jumlah DNA-nya
(Reflinur dan Puji, 2015). Bawang putih (Allium sativum) memiliki kromosom
diploid dengan rumus karyotype 2n=16 dan bentuk kromosom didominasi tipe
metasentris. Bawang putih juga memiliki ukuran kromosom yang besar (Setyawan
dan Sutikno, 2000). Manusia memiliki kromosom diploid (2n) dengan jumlah
kromosom sebanyak 46 (Clarke, 1996). Kiwi memiliki alel berupa hexaploid (6n)
dengan jumlah kromosom 174 (6n=174) (Atkinson, dkk., 1997).
Pada percobaan isolasi DNA buah kiwi dan bawang putih, terdapat
beberapa perlakuan yaitu buah kiwi dan bawang putih dimasukkan ke dalam
blender lalu masing-masing ditambahkan air sabun. Air sabun berfungsi untuk
melisiskan sel secara kimiawi. Setelah ditambahkan air sabun, buah kiwi dan
bawang putih diblender yang bertujuan untuk melisiskan sel secara mekanik.
Hasil dari blender kemudian disaring yang bertujuan untuk menghilangkan residu-
residu dari buah kiwi dan bawang putih sehingga benang-benang DNA dapat
mudah teramati.
Hasil saringan buah kiwi dan bawang putih, masing-masing diberi
perlakuan, ada yang ditambahkan jus nanas dan ada yang ditambah dengan
pelunak daging. Jus nanas berfungsi sebagai enzim lisis, dimana di dalam nanas
terdapat enzim bromelin yang dapat menghancurkan dinding sel dengan cara
melisiskan ikatan peptide sehingga proteinnya rusak. Bahan dari pelunak daging
yang digunakan adalah enzim papain (papaya), enzim ini berfungsi untuk
melunakan dinding sel sehingga mudah untuk lisis. Selanjutnya dilalukan
penambahan ethanol 95% yang bertujuan untuk terjadinya presipitasi. Menurut
Langga dkk (2012), ethanol tidak melarutkan DNA dan berat jenis ethanol yang
lebih ringan dari air membuat DNA naik dan melayang-layang di permukaan.
Ethanol 95% ditambahkan dengan cara dituang sedikit-sedikit lewat dinding
tabung supaya DNA-nya dapat terangkat ke atas.
Isolasi kedua yang dilakukan adalah isolasi DNA dari saliva probandus.
Pada isolasi ini terdapat beberapa perlakuan yaitu probandus berukumur dengan
menggunakan mouthwash yang bertujuan untuk mengoleksi DNA dari saliva
probandus. Hasil kumuran kemudian dimasukkan ke mikrotube untuk di
sentrifugasi. Prinsip utama sentrifugasi adalah memisahkan substansi berdasarkan
berat jenis molekul dengan cara memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi
yang lebih berat akan berada di dasar, sedangkan substansi yang lebih ringan akan
terletak di atas (Kimball, 2005). Hasil dari sentrifugasi ada 2 lapisan yaitu pellet
dan supernatant, pellet berisi sel-sel yang akan dipanen sedangkan supernatant
dibuang. Pemanenan sel diulang sebanyak 6 kali yang bertujuan untuk pemanenan
bertingkat.
Buffer lisis (TE pH 8+ 1% SDS) ditambahkan pada hasil sentrifugasi.
Buffer ini mengandung SDS yang berfungsi untuk melisiskan sel. Setelah
ditambahkan buffer lisis, larutan kemudian divortex untuk menghomogenkan
larutan. Setelah homogen, larutan kemudian ditambahkan proteinase K atau jus
nanas. Proteinase K berfungsi untuk menghilangkan protein dimana di dalamnya
terdapat enzim lisis yang digunakan untuk pemurnian isolasi DNA. Jus nanas
berfungsi sebagai enzim lisis, dimana di dalam nanas terdapat enzim bromelin
yang dapat menghancurkan dinding sel dengan cara melisiskan ikatan peptide
sehingga proteinnya rusak. Larutan kemudian diinkubasi ke dalam waterbath
selama 10 menit supaya kondisi lingkungan lebih optimal.
NaCl ditambahkan ke dalam larutan setelah inkubasi telah selesai.
Penambahan garam ini bertujuan untuk memekatkan DNA. Ion Na + yang
terkandung dalam garam akan mampu membentuk ikatan dengan kutub negatif
pada ikatan fosfat DNA, saat ion Na+ dari garam tersebut berikatan dengan fosfat,
pada saat itulah DNA akan berkumpul atau memekat. Menurut Langga dkk
(2012), ethanol tidak melarutkan DNA dan berat jenis ethanol yang lebih ringan
dari air membuat DNA naik dan melayang-layang di permukaan. Ethanol 95%
ditambahkan dengan cara dituang sedikit-sedikit lewat dinding tabung supaya
DNA-nya dapat terangkat ke atas.
Antara bawang putih dan kiwi, DNA yg didapat lbh banyak adalah kiwi.
Kenapa DNA kiwi lebih banyak? karena jumlah kromosom kiwi lebih
banyak daripada bawang putih. Hasil yang diperoleh sesuai dari teori yang
menyatakan bahwa komponen penyusun kromosom adalah DNA dan
protein, maka semakin banyak jumlah kromosom, semakin banyak juga
DNA yang terkandung. Hal ini didukung dg teori dari Atkinson dkk (1997)
yg menyatakan bahwa kiwi memiliki alel berupa hexaploid (6n) dengan
jumlah kromosom sebanyak 174, sedangkan bawang putih menurut
Setyawan dan Sutikno (2000) memiliki kromosom diploid (2n) dengan
jumlah kromosom 16.
Bawang putih & Kiwi
Yg lbh banyak menghasilkan DNA adalah pelunak daging. Knp pelunak
daging lbh bnyk mghslkan DNA drpd jus nanas? Krna pelunak daging
lngsng dlm bntk murni enzimnya (papain), sedangkan jus nanas diekstrak
sendiri, tidak murni dr enzimnya. Bisa juga terjadi kesalahan pada teknis
yaitu kesalahan melakukan blender yg mybabkan DNA ikut rusak.
Antara mouthwash dg air yg lbh banyak mnghslkan DNA adlh air. Knp air
lbh bnyk mhslkan DNA drpd mouthwash? Seharusnya lebih bagus
menggunakan mouthwash. Karena mouthwash
Pada mouthwash dan air, yg paling banyak menghslkan DNA adalah yg
proteinase K drpd jus nanas. Knp proteinase K lbh bnyk mhslkan DNA
drpd jus nanas? Karena proteinase K yg diberikan ke saliva itu dlm bntk
enzim murni, sdngkan jus nanas diekstrak sendiri, tidak murni dr
enzimnya.
DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R., Cipriani, G., Whittaker, D.J. dan Gardner, R. 1997. The
allopolyploid origin of kiwifruit, Actinidia deliciosa (Actinidiaeceae).
Plant Systematics and Evolution 2 (205): 111-124.

Clarke, C. A. 1996. Genetika Manusia dan Kedokteran. WidyaMedika, Jakarta.

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Edisi Kedua. ITB, Bandung.

Hawab, H. M. 2004. Pengantar Biokimia. Bayumedia, Bogor.

Kimball. 2005. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Langga, I.F., Muh, R. dan Tutik, K. Optimalisasi suhu dan lama inkubasi dalam
ekstraksi DNA tanaman bitti (Vitex cofassus Reinnw) serta analisis
keragaman genetik dengan teknik RAPD-PCR. Jurnal Sains & Teknologi
12(3): 265-276.

Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Gramedia, Jakarta.

Reflinur dan Puji, L. 2015. Penentuan lokus gen dalam kromosom tanaman
dengan bantuan marka DNA. J.Litbang Pertanian 34(4): 117-186).

Setyawan, A.D. dan Sutikno. 2000. Karyotipe kromosom pada Allium sativum L.
(bawang putih) dan Pisum sativum L. (kacang kapri). BioSMART 2(1): 20-
27.
LAMPIRAN

Gambar 1. Penampakan DNA buah kiwi dengan campuran pelunak daging (kiri)
dan dengan campuran jus nanas (kanan) (Dokumentasi pribadi, 2017).

Gambar 2. Penampakan DNA bawang putih dengan campuran jus nanas (kiri) dan
dengan campuran pelunak daging (kanan) (Dokumentasi pribadi, 2017).
Gambar 3. Isolasi DNA saliva dengan mouthwash campuran proteinase K (kiri)
dan campuran jus nanas (kanan) (Dokumentasi pribadi, 2017).

Gambar 3. Isolasi DNA saliva dengan air campuran jus nanas (kiri) dan campuran
proteinase K (kanan) (Dokumentasi pribadi, 2017).