Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang..................................................................................................2

B. Tujuan...............................................................................................................2

C. Rumusan Masalah.............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Gas Karbondioksida (CO2)............................................................3

B. Pengaruh Peningkatan CO2 pada Pertumbuhan Tanaman................................3

C. Dampak yang Ditimbulkan Oleh Peningkatan Kadar CO2...............................5

D. Peranan CO2 dan Proses CO2 dalam Pertumbuhan Pohon...............................6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.....................................................................................................18

B. Saran...............................................................................................................18

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karbondioksida (CO2) merupakan salah satu gas penting dalam pertumbuhan tanaman,
namun juga merupakan salah satu gas rumah kaca yang jumlahnya terus meningkat dari tahun
ke tahun. Peningkatan ini merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global (global
warming). Akibat dari pemanasan global, suhu bumi diperkirakan akan meningkat 3-5oC serta
menyebabkan perubahan iklim yang drastis pada 50 100 tahun yang akan datang.
Peningkatan gas-gas rumah kaca saat ini berpengaruh besar terhadap sektor pertanian.
Peningkatan kandungan CO2 udara akan memberikan efek baik positif maupun negatif
terhadap metabolisme tanaman. Peningkatan CO2 diprediksi dapat menstimulasi produksi
pangan dengan istilah CO2 Fertilization. Namun demikian, penelitian terhadap pengaruh
peningkatan kandungan CO2 udara terhadap berbagai jenis tanaman menunjukkan efek yang
beragam dari mulai efek positif, negatif maupun tidak berpengaruh sama sekali terhadap
kondisi tanaman.
Kenaikan kadar CO2 yang semakin meningkat akibat penggunaan gas-gas berbahaya
saat ini tentu sangat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar juga. Seperti penggunaan
bahan bakar kendaraan dan limbah pabrik yang tidak ramah lingkungan menjadi salah satu
pemicu kenaikkan kadar CO2 di bumi. Dari hal tersebut juga sangat berpengaruh terhadap
respon tanaman dalam perkembangannya. CO2 yang menjadi bahan utama dalam fotosintesis
cukup banyak diperlukan bagi tanaman, namun jika kenaikkan kadar CO 2 yang tidak disertai
dengan penambahan jumlah tanaman juga dapat berpengaruh buruk bagi lingkungan sekitar.
B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh peningkatan
kadar CO2 di atmosfer akibat adanya global warming terhadap pertumbuhan tanaman.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah CO2 itu?
2. Apakah pengaruh peningkatan kadar CO2 pada pertumbuhan tanaman?
3. Apakah dampak yang ditimbulkan dari peningkatan kadar CO2 pada pertumbuhan
tanaman ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Gas Karbondioksida (CO2)


Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa
kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom
karbon. Ia berbentuk gas pada temperatur dan tekanan standar dan ada di atmosfer bumi.
Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan
volume walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon
dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah
dengan kuat.
Karbon dioksida dihasilkan oleh manusia, semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi,
dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses
fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus
karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil.
Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya
seperti pada mata air panas (Tjasyono, 1986).

2. Pengaruh Peningkatan CO2 pada Pertumbuhan Tanaman


Peningkatan kosentrasi CO2 di atmosfer sudah terjadi sejak beberapa ratus tahun
yang lalu, namun lajunya mengalami peningkatan yang sangat tinggi dalam beberapa dekade
terakhir. Hal ini memicu terjadinya adaptasi tanaman terhadap perubahan karakteristik dalam
tubuhnya. Sebuah pengamatan dengan menggunakan mikroskop elektron menunjukkan
adanya penipisan pada dinding bundle seath cell pada tanaman yang ditanam pada kosentrasi
CO2 700 l l-1 dibandingkan dengan tanaman yang ditanam pada kosentrasi 350 l l-1. Hal
ini diakibatkan oleh penurunan jumlah suberin pada dinding sel dan menyebabkan terjadinya
peningkatan permeabilitas bundle seath cell terhadap CO2. Sedangkan peningkatan kosentrasi
CO2 tidak menunjukkan perubahan nyata pada jumlah stomata serta panjang sel penjaga
(Walting et. al., 2000).

Respon tanaman terhadap peningkatan gas CO2 di atmosfer berbeda-beda


tergantung dari jenis tanaman serta kombinasi faktor-faktor pertumbuhan yang lain. Secara
umum, hasil tanaman dipengaruhi oleh proses-proses penting seperti fotosintesis dan respirasi

3
yang sangat tergantung dengan kondisi CO2 di udara. Perubahan terhadap kosentrasi CO2
udara akan berpengaruh terhadap proses-proses tersebut sebagai suatu bentuk adaptasi
tanaman. Berbagai penelitian untuk menunjukkan bahwa respon terhadap peningkatan
kosentrasi CO2 udara terjadi mulai dari perubahan anatomi hingga proses fisiologis tanaman.
Luas daun kacang tanah meningkat ketika ditanam pada kandungan CO2 yang
tinggi (800 mol) pada suhu 25/15 derajat celcius dibandingkan dengan tanaman yang
ditanam pada lingkungan dengan kandungan CO2 sebesar 400 mol, namun demikian kondisi
tersebut tidak terjadi pada suhu yang lebih tinggi (Pilumwong et. al., 2007).

a. Fotosintesis
Tanaman terbagi atas dua kelompok utama yaitu C3 dan C4, yang dibedakan
oleh cara mengikat CO2 dari atmosfer dan produk awal yang dihasilkan dari proses
asimilasi. Pada tanaman C3, enzim yang menyatukan CO2 dengan RuBP (RuBP
merupakan substrat untuk pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis) dalam
proses awal asimilasi, juga dapat mengikat O2 pada saat yang bersamaan untuk proses
fotorespirasi (fotorespirasi adalah respirasi, proses pembongkaran karbohidrat untuk
menghasilkan energi dan hasil samping, yang terjadi pada siang hari), sehingga ada
kompetisi antara CO2 dan O2 dalam menggunakan RuBP (Farquhar and Caemmerer,
l981).
Jika konsentrasi CO2 di atmosfer ditingkatkan, hasil dari kompetisi antara CO2
dan O2 akan lebih menguntungkan CO2, sehingga fotorespirasi terhambat dan asimilasi
akan bertambah besar. Contoh tanaman C3 antara lain : kedelai, kacang tanah, kentang,
sedangkan contoh tanaman C4 adalah jagung, sorgum dan tebu.
Hasil tanaman sangat tergantung dari proses fotosintesis. Terjadi perbedaan
respon fotosintesis antara jenis tanaman C3 dan C4 terhadap perubahan kosentrasi CO2
di udara. Beberapa tanaman mengalami perubahan biokimia sebagai tanggapan atas
peningkatan CO2. Fotosintesis pada tanaman C3 mengalami peningkatan dengan
bertambahnya kosentrasi CO2 di udara. Aktivitas Rubisco pada mesofil mengalami
peningkatan yang cukup tinggi sebagai respon dari peningkatan CO2 udara. Beberapa
penelitian menggunakan tanaman C3 (padi, gandum dan kedelai) menunjukkan adanya
peningkatan total fotosintesis dan hasil pada kondisi elevated CO2 dibandingkan dengan
ambient CO2 (Tjasyono, 1986).

4
Jika CO2 di permukaan daun dikurangi, mencapai suatu titik dimana CO2 yang
diserap tanaman sama dengan yang dihasilkannya, maka titik ini disebut CO2
compensation point (titik kompensasi CO2).

b. Respirasi

Terdapat asumsi bahwa peningkatan CO2 di atmosfer akan menurunkan


pengambilan O2 oleh tanaman, namun demikian sebuah penelitian dengan enam ratus
kali pengukuran pada sembilan jenis tanaman yang dilakukan di Illinois terhadap
peningkatan kosentrasi CO2 dalam jangka waktu yang panjang menunjukkan tidak
adanya penurunan pengambilan O2 respirasi tanaman (Davey et al., 2004).

Penurunan konduktansi stomata yang terjadi pada kosentrasi elevated CO2


hanya merupakan adaptasi sementara namun tidak terjadi dalam jangka panjang. Selain
itu pada beberapa penelitian tidak terjadi perubahan pada karakteristik stomata.
Respirasi tidak mengalami perubahan pada kosentrasi CO2 yang ditingkatkan hingga
dua kali lipat dari kondisi normal (Tjasyono, 1986).

3. Dampak yang Ditimbulkan Oleh Peningkatan Kadar CO2


Dampak langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah peningkatan
tingkat fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan meningkat sampai kadar
CO2 mendekati 1000 ppm. Hasil paling pasti adalah tanaman tumbuh cepat dan lebih
besar. Ada perbedaan antara spesies. Spesies C3 lebih peka terhadap peningkatan kadar
CO2 dibanding C4. Terjadi juga pertambahan luas dan tebal daun, berat per luas, tinggi
tunas, percabangan, bibit dan jumlah dan berat buah. Ukuran tubuh meningkat seiring rasio
akar-batang. Kemudian rasio C/N bertambah. Lebih dari itu semua hasil panen meningkat,
terutama pada kentang, ubi jalar, kedelai. Dengan meningkatnya kadar CO2 menjadi
sekarang secara global, hasil pertanian diperkirakan akan meningkat sampai 32% dari
sekarang. Perkiraan sementara saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan produksi pertanian
adalah akibat kenaikan kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2 terhadap pertumbuhan dan
produktifitas tanaman saat ini telah dikenal luas. Banyak pengujian yang dilakukan dalam
lingkungan terkontrol secara penuh atau sebagian terhadap beberapa tanaman komersial
(padi, jagung, gandum, kedelai, kapas, kentang, tomat, ubi jalar, dan beberapa tanaman
hutan) yang membuktikannya.

5
Efek langsung dari kadar CO2 dalam atmosfer terhadap fotosintesis tanaman C4
adalah meningkatkan efisiensi air dalam fotosintesis. Pada tanaman C4 dan C3 mengurangi
membukanya stomata, hal ini ditunjukan oleh Roger et. al. pada tanaman kedelai. Tanaman
dengan cara fotosintesis C3 mendapat keuntungan dengan 3 cara. Pertama meluasnya
ukuran daun, kedua peningkatan tingkat fotosintesis perunit luas daun, dan terakhir
efisiensi penggunaan air.
Aspek penting dari peningkatan kadar CO2 dalam atmosfer adalah kecenderungan
tanaman untuk menutup sebagian dari stomata pada daunnya. Dengan tertutupnya stomata
ini penguapan air akan berkurang, dan dengan itu berarti efisiensi penggunaan air
meningkat. Kekurangan air adalah faktor pembatas utama dari produktifitas tanaman. Bukti
yang selama ini dikumpulkan menunjukan bahwa peningkatan CO2 di atmosfer
meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal ini adalah penemuan yang penting bagi bidang
pertanian dan juga bagi ekologi. Implikasi dari hal itu bermacam-macam, salah satunya
adalah peningkatan daya tahan terhadap kekeringan dan berkurangnya kebutuhan air untuk
pertanian.

4. Peranan CO2 dan proses CO2 Dalam Pertumbuhan Pohon


Tumbuhan membutuhkan CO2 untuk pertumbuhannya. Tumbuh-tumbuhan mengurangi
kadar karbon dioksida di atomosfer dengan melakukan fotosintesis, disebut juga sebagai
asimilasi karbon, yang menggunakan energi cahaya untuk memproduksi materi organik
dengan mengkombinasi karbon dioksida dengan air. Oksigen bebas dilepaskan sebagai gas
dari penguraian molekul air, sedangkan hidrogen dipisahkan menjadi proton dan elektron, dan
digunakan untuk menghasilkan energi kimia via fotofosforilasi. Energi ini diperlukan untuk
fiksasi karbon dioksida pada siklus Kalvin untuk membentuk gula. Gula ini kemudian
digunakan untuk pertumbuhan tumbuhan melalui repirasi.
Tumbuh-tumbuhan juga mengeluarkan CO2 selama pernafasan, sehingga tumbuhan
yang berada pada tahap pertumbuhan sajalah yang merupakan penyerap bersih CO2. Sebagai
contoh, hutan tumbuh akan menyerap berton-ton CO2 setiap tahunnya, namun hutan matang
akan menghasilkan CO2 dari pernafasan dan dekomposisi sel-sel mati sebanyak yang dia
gunakan untuk biosintesis tumbuhan. Walaupun demikian, hutan matang jugalah penting
sebagai buangan karbon, membantu menjaga keseimbangan atmosfer bumi. Selain itu,
fitoplankton juga menyerap CO2 yang larut di air laut, sehingga mempromosikan penyerapan
CO2 dari atmosfer.

6
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa penghijauan mempunyai manfaat yang cukup
banyak. Penghijauan itupun berkaitan dengan usaha untuk mengurangi CO2 yang ada di
udara. Menurut PP RI no.63/2002, fungsi penghijauan di perumahan adalah sebagai penyerap
CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan (logam berat, debu, belerang), peredam kebisingan,
penahan angin dan peningkatan keindahan.
Gas CO2 merupakan sumber karbon utama bagi pertumbuhan pohon. Konsentrasi CO2
di atmosfir saat ini belum optimal, sehingga penambahan CO2 kepada pohon di dalam industri
pertanian di dalam rumah kaca merupakan kegiatan normal untuk meningkatkan pertumbuhan
pohon. Pengaruh fisiologis utama dari kenaikan CO2 adalah meningkatnya laju asimilasi (laju
pengikatan CO2 untuk membentuk karbohidrat,fotosintesis) di dalam daun. Efisiensi
penggunaan faktor-faktor pertumbuhan lainnya (seperti cahaya, air dan unsur hara) juga akan
ikut meningkat.
Hubungan antara CO2 (dapat diartikan sebagai kondisi normal CO2 di atmosfir) dengan
proses fotosintesis, baik di tingkat daun maupun di tingkat kanopi pohon, dan kontribusinya
terhadap akumulasi biomasa telah banyak diteliti. Energi untuk terlaksananya proses
fotosintesis datang dari cahaya pada panjang gelombang tertentu (PAR, Photosynthetically
Active Radiation, 400-700 mikrometer). Baik PAR, maupun CO2, konsentrasinya masih sub-
optimal, sehingga fotosintesis akan meningkat dengan meningkatnya CO2, pada kondisi PAR
rendah maupun tinggi.
Tumbuhan terbagi atas dua grup utama, C3 dan C4, yang dibedakan oleh cara mereka
mengikat CO2 dari atmosfir dan produk awal yang dihasilkan dari proses asimilasi. Pada
pohon C3, enzim yang menyatukan CO2 dengan RuBP (RuBP merupakan substrat untuk
pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis) dalam proses awal asimilasi, juga dapat
mengikat O2 pada saat yang bersamaan untuk proses fotorespirasi ( fotorespirasi adalah
respirasi,proses pembongkaran karbohidrat untuk menghasilkan energi dan hasil samping,
yang terjadi pada siang hari), sehingga ada kompetisi antara CO2 dan O2 dalam menggunakan
RuBP . Jika konsentrasi CO2 di atmosfir ditingkatkan, hasil dari kompetisi antara CO2 dan O2
akan lebih menguntungkan CO2, sehingga fotorespirasi terhambat dan asimilasi akan
bertambah besar.
Dalam fotosintesis C3 berbeda dengan C4,pada C3 karbon dioxida masuk ke siklus
calvin secara langsung. Struktur kloroplas pada tanaman C3 homogen. Tanaman C3
mempunyai suatu peran penting dalam metabolisme, tanaman C3 mempunyai kemampuan

7
fotorespirasi yang rendah karena mereka tidak memerlukan energi untuk fiksasi sebelumnya.
Tanaman C3 dapat kehilangan 20 % carbon dalam siklus calvin karena radiasi, tanaman ini
termasuk salah satu group phylogenik. Konsep dasar reaksi gelap fotosintesis siklus Calvin
(C3) adalah sebagai berikut:
CO2 diikat oleh RUDP untuk selanjutnya dirubah menjadi senyawa organik C6 yang
tidak stabil yang pada akhirnya dirubah menjadi glukosa dengan menggunakan 18ATP dan 12
NADPH.Siklus ini terjadi dalam kloroplas pada bagian stroma.Untuk menghasilkan satu
molekul glukosa diperlukan 6 siklus C3.
Naungan
Merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi intensitas cahaya yang terlalu tinggi.
Pemberian naungan dilakukan pada budidaya tanaman yang umumnya termasuk kelompok C3
maupun dalam fase pembibitan .Pada fase bibit, semua jenis tanaman tidak tahan IC penuh,
butuh 30-40%, diatasi dengan naungan. Pada tanaman kelompok C3, naungan tidak hanya
diperlukan pada fase bibit saja, tetapi sepanjang siklus hidup tanaman. Meskipun dengan
semakin dewasa umur tanaman, intensitas naungan semakin dikurangi. Naungan selain
diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya yang sampai ke tanaman pokok, juga
dimanfaatkan sebagai salah satu metode pengendalian gulma Di bawah penaung, bersih dari
gulma terutama rumputan. Semakin jauh dari penaung, gulma mulai tumbuh semakin cepat
Titik kompensasi gulma rumputan dapat ditentukan sama dengan IC pada batas mulai ada
pertumbuhan gulma. Tumbuhan tumbuh ditempat dg IC lebih tinggi dari titik kompensasi
(sebelum tercapai titik jenuh), hasil fotosintesis cukup untuk respirasi dan sisanya untuk
pertumbuhan.
Dampak pemberian naungan terhadap iklim mikro
_ Mengurangi IC di sekitar sebesar 30-40%
_ Mengurangi aliran udara disekitar tajuk
_ Kelembaban udara disekitar tajuk lebih stabil (60-70%)
_ Mengurangi laju evapotranspirasi
_ Terjadi keseimbangan antara ketersediaan air dengan tingkat transpirasi tanaman
Pada tanaman C4, CO2 diikat oleh PEP (enzym pengikat CO2 pada tanaman C4) yang
tidak dapat mengikat O2 sehingga tidak terjadi kompetisi antara CO2 dan O2. Lokasi
terjadinya assosiasi awal ini adalah di sel-sel mesofil (sekelompok sel-sel yang mempunyai
klorofil yang terletak di bawah sel-sel epidermis daun). CO2 yang sudah terikat oleh PEP

8
kemudian ditransfer ke sel-sel "bundle sheath" (sekelompok sel-sel disekitar xylem dan
phloem) dimana kemudian pengikatan dengan RuBP terjadi. Karena tingginya konsentasi
CO2 pada sel-sel bundle sheath ini, maka O2 tidak mendapat kesempatan untuk bereaksi
dengan RuBP, sehingga fotorespirasi sangat kecil and G sangat rendah, PEP mempunyai daya
ikat yang tinggi terhadap CO2, sehingga reaksi fotosintesis terhadap CO2 di bawah 100 m mol
m-2 s-1 sangat tinggi. , laju assimilasi tanaman C4 hanya bertambah sedikit dengan
meningkatnya CO2. Sehingga, dengan meningkatnya CO2 di atmosfir, tanaman C3 akan lebih
beruntung dari tanaman C4 dalam hal pemanfaatan CO2 yang berlebihan.
Tanaman C4 selain mengambil CO2 dari udara, juga mengambil CO2 dari malat atau
oksaloasetat yang didapatkan dari siklus Calvin yang dilakukannya di siang hari. Malat atau
oksaloasetat dapat digunakan tanaman sebagai sumber CO2 untuk proses pembentukan gula di
malam hari karena siklus Calvin tidak membutuhkan sinar matahari dalam prosesnya, jika
kandungan ion H+ di dalam tubuh tanaman tersebut mencukupi. Tanaman ini umumnya
merupakan tanaman yang mampu memproduksi polisakarida (glukosa, amilum, dsb) dalam
waktu.
Tebu (Saccharum officinarum), jagung (Zea mays), dan tumbuhan tertentu lain tidak
mengikat karbon dioksida secara langsung. Pada tumbuhan ini senyawa pertama yang
terbentuk setelah jangka waktu pelaksanaan fotosintesis yang sangat pendek, bukanlah
senyawa 3-C asam fosfogliserat (PGA), melainkan senyawa 4-C asam oksaloasetat (OAA).
Metode alternatif fiksasi karbon dioksida untuk fotosintesis ini disebut jalur Hatch-
Slack. Tumbuhan yang menggunakan jalur ini disebut tumbuhan C4 atau tumbuhan 4 karbon.
Menurut penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman
Departemen Pekerjaan Umum, tanaman penghijau rumah dapat dibagi berdasarkan
kemampuan pohon sebagai penyerap CO2 dan polutan udara serta kemampuan meredam
kebisingan dan juga tanaman produktif.
1. Tanaman Penyerap CO2
Beringin (Ficus Benyamina), Puring (codiaeum interuptum), Sri rejeki (aglaonema costatum),
Palem kuning (pandanus utiis), Pisang-pisangan (Heliconia).
2. Tanaman penyerap logam berat
Kenikir yang sering digunakan sebagai sayuran ternyata dapat menyerap logam berat. Teh-
tehan yang sering dimafaatkan sebagai pagar hijau juga bisa menyerap logam berat.
2. Tanaman peredam kebisingan

9
3. Bambu jepang yang sering digunakan untuk menghiasi dinding halaman rumah ternyata
mampu meredam kebisingan.
Seperti halnya tumbuhan pohon pun juga dapat digunakan untuk mengurangi CO2. Ada
banyak manfaat pohon bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya di muka bumi ini.
Antara lain, mengurangi polutan gas CO2 yang lepas ke udara dan terakumulasi di atmosfer.
Pohon adalah pelahap CO2 yang rakus.
Dalam pertumbuhannya, sebatang pohon membentuk masa batang, utamanya dari
karbondisoksida yang diserap untuk fotosintesis. Sebatang pohon mampu menyerap 6 kg
CO2/tahun. Karena itu 1 acre ( 4.047 m2) hutan berisi pepohonan muda menyerap 2,5 ton
CO2/tahun.
Pohon mencapai kemampuan maksimalnya menyerap CO2 sekitar usia 10 tahun.
Sebatang pohon yang ditanam di perkotaan (yang notabene memiliki kadar polusi CO2 lebih
tinggi) setara nilainya dengan penyerapan CO2 oleh 15 pohon di hutan Pepohonan
membersihkan udara yang kita hirup. Partikel debu, CO, SO2, dan polutan-polutan lain akan
diserap oleh tanaman sehingga kita bisa menghirup udara yang lebih baik kualitasnya.
5. Peranan O2 dan prose O2 Dalam Pertumbuhan Pohon
Carbon , Oksigen dan Hidrogen merupakan bahan baku dalam pembentukan jaringan
tubuh tanaman, berada dalam bentuk H2O (air), H2CO3 ( asam karbonat) dan CO2 (gas
karbondioksida). Karbon adalah unsur penting sebagai pembangun bahan organik, karena
sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik. Unsur Karbon ( C ), ini
diserap tanaman dalam bentuk gas CO2 yang selanjutnya digunakan dalam proses yang sangat
penting yaitu FOTOSINTESIS : CO2 + H2O--------> C6H12O6 , tanpa gas CO2 proses
tersebut akan terhambat sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman pun akan terhambat.
Landegrardh (1924) menyatakan bahwa:
*CO2 pada permukaan tanah sekitar 0.053 - 0.28 %
*Diatas daun 0.04 - 0.06 %
*Satu meter di atas tanah + 0.07 %
Sama halnya dengan karbon, ternyata Hydrogen (H) merupakan elemen pokok
pembangunan bahan organik dan unsur H ini diserap oleh tanaman dalam bentuk H2O. Esensi
unsur ini bagi tanaman adalah pada proses fotosintesis ( CO2 + H2O ----> C6H12O6 ) di sini
jelas terlihat bahwa, unsur H sama pentingnya dengan unsur C. Sedangkan Oksigen ( O ) juga
terdapat dalam bahan organik sebagai atom dan termasuk pembangun bahan organik, diambil
oleh tanaman dalam bentuk gas O2 esensi utama dari unsur. Oksigen ini berperan pada proses
respirasi. Proses respirasi tanaman adalah proses perombakan gula (karbohidrat) hasil.

10
fotosintesis dan hasil akhir dari proses respirasi yaitu terbentuknya ATP yang merupakan
sumber energi utama bagi tanaman untuk melakukan semua kegiatan seperti absorbsi,
transpirasi, transportasi, pembelahan sel, pembungaan maupun fotosintesis. Oksigen
digunakan di mitokondria untuk membantu menghasilkan adenosina trifosfat (ATP) selama
fosforilasi oksidatif. Reaksi respirasi aerob ini secara garis besar merupakan kebalikan dari
fotosintesis, secara sederhana:
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + 2880 kJmol-1

6. Peranan Sinar Matahari Dan Prose Penyerapan Sinar Matahari Dalam Pertumbuhan
Pohon
Matahari merupakan sumber energi terbesar di alam semesta. Energi matahari
diradiasikan kesegala arah dan hanya sebagian kecil saya yang diterima oleh bumi. Energi
matahari yang dipancarkan ke bumi berupa energi radiasi. Disebut radiasi dikarenakan aliran
energi matahari menuju ke bumi tidak membutuhkan medium untuk mentransmisikannya.
Energi matahari yang jatuh ke permukaan bumi berbentuk gelombang elektromagentik yang
menjalar dengan kecepatan cahaya. Panjang gelombang radiasi matahari sangat pendek dan
biasanya dinyatakan dalam mikron.
Jika dihubungkan dengan fotosintesis, tanaman dibedakan menjadi 3, yaiu tanaman C3,
C4 dan tanaman CAM. Perbedaan yang mendasar antara tanaman tipe C3, C4, dan CAM
adalah pada reaksi yang terjadi di dalamnya. Pada tanaman yang bertipe C3 produk awal
reduksi CO2 (fiksasi CO2) adalah asam 3-fosfogliserat atau PGA. Terdiri atas sekumpulan
reaksi kimia yang berlangsung di dalam stroma kloroplas yang tidak membutuhkan energi dari
cahaya mataharai secara langsung. Sumber energi yang diperlukan berasal dari fase terang
fotosintesis. Sekumpulan reaksi tersebut terjadi secara simultan dan berkelanjutan.
Memerlukan energi sebanyak 3 ATP. PGAL yang dihasilkan dapat digunakan dalam peristiwa
yaitu sebagai bahan membangun sel, untuk pemeliharaan sel dan disimpan dalam bentuk pati.
Berdasarkan proses reaksi yang terjadi pada tanaman C3, telah diketahui bahwa tanaman C3
dapat tumbuh baik dibawah naungan tau ditempat yang intensitas mataharinya rendah.
Tanaman C4 adalah tanaman yang mampu hidup di lahan yang terpapar intensitas
matahari penuh. Pada tanaman tipe C4 yang menjadi cirinya adalah produk awal reduksi CO2
(fiksasi CO2) adalah asam oksaloasetat, malat, dan aspartat ( hasilnya berupa asam-asam yang
berkarbon C4). Reaksinya berlangsung di mesofil daun, yang terlebih dahulu bereaksi dengan
H2O membentuk HCO3 dengan bantuan enzim karbonik anhidrase. Memiliki sel seludang di

11
samping mesofil. Tiap molekul CO2 yang difiksasi memerlukan 2 ATP. Tanaman c4 juga
mengalami siklus calvin seperti peda tanaman C3 dengan bantuan enzim Rubisko.
Sedangkan pada tanaman tipe CAM yang menjadi ciri mendasarnya adalah memiliki
daun yang cukup tebal sehingga laju transpirasinya rendah. Stomatanya membuka pada
malam hari. Pati diuraikan melalui proses glikolisis dan membentuk PEP. CO2 yang masuk
setelah bereaksi dengan air seperti pada tanaman C4 difiksasi oleh PEP dan diubah menjadi
malat. Pada siang hari malat berdifusi secara pasif keluar dari vakuola dan mengalami
dekarboksilasi. Melakukan proses yang sama dengan tanaman C3 pada siang hari yaitu daur
Calvin. Melakukan proses yang sama dengan tanaman C4 pada malam hari yaitu daur Hatch
dan Slack.
Proses tanaman mendapatkan energi
Pada kegiatan budaya pertanian, Pengaruh unsur cahaya menjadi perhatian serius. Hal
tersebut dikarenakan hampir semua objek agronomi berupa tanaman hijau yang memiliki
kegiatan fotosintesa. Penerapan energi pelengkap dalam bentuk kerja manusia dan hewan,
bahan bakar, mesin, alat-alat pertanian, pupuk, dan, obat-obatan tidak lain adalah sebagai
usaha untuk meningkatkan proses konversi energi matahari ke dalam bentuk produk tanaman.
Tidak semua energi cahaya matahari dapat diabsorpsi oleh tanaman. Hanya cahaya
tampak saja yang dapat berpengaruh pada tanaman dalam kegiatan fotosintesisnya. Cahaya itu
disebut dengan PAR (Photosynthetic Activity Radiation) dan mempunyai panjang gelombang
400 mili mikron sampai 750 mili mikron.Tanaman juga memberikan respon yang berbeda
terhadap tingkatan pengaruh cahaya yang dibagi menjadi tiga yaitu, intensitas cahaya,
kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran.
Oleh tumbuhan radiasi matahari berupa cahaya tampak ditangkap oleh klorofil pada
tanaman dalam proses yang disebut proses fotosintesis. Hasil fotosintesis menjadikan bahan
utama untuk proses pertumbuhan dan cadangan makanan tanaman.
Proses fotosintesis pada tanaman dilakukan di siang hari dikala matahari menyinari
bumi. Dengan menggunakan cahaya matahari tumbuhan mengubah gas karbondioksida dan
unsur-unsur mineral dalam tanah serta air untuk menghasilkan gula (glukosa) dan oksigen.
Proses ini dilakukan oleh zat hijau daun bernama klorofil yang berada di daun dan dilindungi
oleh lapisan lilin untuk mencegah penguapan. Gula hasil fotosintesis disimpan tumbuhan
sebagai cadangan energi, dan oksigen sebagai hasil sampingannya.
Gula yang telah dibuat kemudian digunakan oleh tumbuhan untuk proses
metabolismenya. Pemanfaatan energi gula oleh tumbuhan memerlukan serangkaian proses

12
sehingga energi yang ada dalam bentuk gelombang elektromagnetik tersebut dapat diubah
menjadi energi kimia (ATP dan NADPH) yang dikenal dengan reaksi terang. Hasil reaksi
terang ini (ATP dan NADPH) selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam reaksi metabolisme
khususnya reduksi CO.
Pengaruh cahaya terhadap kehidupan tanaman
Radiasi matahari yang ditangkap klorofil pada tanaman yang mempunyai hijau daun
merupakan energi dalam proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini menjadi bahan utama dalam
pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Selain meningkatkan laju fotosintesis,
peningkatan cahaya matahari biasanya mempercepat pembungaan dan pembuahan.
Sebaliknya, penurunan intensitas radiasi matahari akan memperpanjang masa pertumbuhan
tanaman. Jika air cukup maka pertumbuhan dan produksi padi hampir seluruhnya ditentukan
oleh suhu dan oleh radiasi matahari.
Radisasi matahari merupakan faktor penting dalam metabolisme tanaman yang
mempunyai hijau daun, karena dapat dikatakan bahwa produksi tanaman dipengaruhi oleh
tersedianya sinar matahari. Akan tetapi pada umumnya terjadi fluktuasi hasil panen (hasil
fotosintesis) dari tahun ke tahun, hal tersebut dikarenakan faktor-faktor lain seperti curah
hujan, suhu udara, hama penyakit dan lainnya turut mempengaruhi hasil panen (hasil
fotosintesis).
Pengaruh unsur cahaya pada tanaman tertuju pada pertumbuhan vegetatif dan generatif.
Tanggapan tanaman terhadap cahaya ditentukan oleh sintesis hijau daun, kegiatan stomata
( respirasi, transpirasi), pembentukan anthosianin, suhu dari organ-organ permukaan, absorpsi
mineral hara, permeabilitas, laju pernafasan, dan aliran protoplasma . Secara teoritis, semakin
besar jumlah energi yang tersedia akan memperbesar jumlah hasil fotosintesis.
Intensitas cahaya matahari menunjukkan pengaruh primer pada fotosintesis, dan pengaruh
sekundernya pada morfogenetik. Pengaruh terhadap morofogenetik hanya terjadi pada
intensitas rendah (Fitter dan Hay, 1991:54). Pengaruh tanaman dalam kaitannya dengan
intensitas cahaya salah satunya adalah penempatan daun dalam posisi di mana akan diterima
intersepsi cahaya maksimum. Daun yang menerima intensitas maksimal adalah daun yang
berada pada tajuk utama yang terkena sinar matahari.
Masing-masing tanaman memiliki reaksi yang berbeda terhadap intensitas cahaya.
Berdasarkan perbedaan reaksi tersebut, tanaman dibedakan menjadi tanaman C3, C4, CAM.
Tanaman C3 adalah tanaman yang hidup baik pada intensitas cahaya rendah, dan tanaman C4

13
adalah tanaman yang hidup baik pada intensitas cahaya tinggi, sedangkan tanaman CAM
adalah tanaman yang hidup didaerah kering.
Penelitian yang dilakukan oleh Grime dalam Fitter dan Hay (1991:55) membuktikan
bahwa tanaman yang terbiasa hidup tanpa naungan seperti Arenaria servillifolia
memperlihatkan kondisi yang tidak dapat berkembang dan tumbuh jika diberi naungan. Hal
tersebut terbukti oleh habisnya persediaan karbohidat.
Cahaya memberikan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman/pohon secara
langsung melalui tumbuhan hijau atau melalui organisme lain, hal ini tergantung kepada zat-
zat organik yang disintesa oleh tumbuhan hijau. Kualitas cahaya berkaitan erat dengan
panjang gelombang, dimana panjang gelombang ungu dan biru mempunyai foton yang lebih
berenergi bila dibanding dengan panjang gelombang jingga dan merah. Kualitas cahaya
dibedakan berdasarkan panjang gelombang menjadi.
Panjang gelombang 750-626 adalah warna merah.
Panjang gelombang 626-595 adalah warna orange/jingga.
Panjang gelombang 595-574 adalah warna kuninga.
Panjang gelombang 574-490 adalah warana hijau.
Panjang gelombang 490-435 adalah warna biru.
Panjang gelombang 435-400 adalah warna ungu.
Semua warna-warni dari panjang gelombang ini mempengaruhi terhadap fotosintesis dan juga
mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan pohon baik secara generatif maupun
vegetatif, tetapi kuning dan hijau dimanfaatkan oleh tanaman sangat sedikit, panjang
gelombang yang paling banyak diabsorbsi beada di wilayah violet sampai biru dan orange
sampai merah.
7. Peranan air Dan Prose Penyerapan air Dalam Pertumbuhan Pohon
Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dandibutuhkan dalam jumlah
besar untuk pertumbuhan dan perkembangantanaman. Sebanyak 85-90% dari bobot segar sel-
sel dan jaringantanaman tinggi adalah air. Di alam, air terdapat dalam tiga bentuk:padat,
cairdan gas. Sel hidup, 70% lebih terdiri dari air,termasuk badan manusia. Kekurangan air
beberapa persen saja sudah cukup membuat badan ini lemah, dan kekurangan beberapa puluh
persen dapat menyebabkan kematian.
Kehidupan sangat bergantung dari sifat-sifat dari air yang unik dibanding liquid yang
lain. sifat-sifat ini berasal dari struktur dan interaksi molekul air .Air memiliki apa yang
dinamakan ikatan hidrogen yang anehnya cukup kuat. Ikatan ini memberikan air lebih struktur
daripada liquid yang lain, dan memberikan kohesi yang tinggi yang membantu transport

14
dalam tumbuhan. Ikatan ini juga memberikan tegangan permukaan air yang cukup kuat, dan
memberikan bentuk butir-butir air. Demikian pula air mempunyai tingkat adhesi yang tinggi
dengan kebanyakan material. Imbibisi (proses merasuknya air ke dalam struktur berpori-pori)
membantu penyerapan air ke dalam biji dan memecahkan kulit biji sehingga biji tersebut
dapat tumbuh.
Ikatan hidrogen juga menyebabkan air mempunyai kapasitas panas yang tinggi
sehingga dapat berfungsi sebagai tempat penampung panas yang efektif. Pada waktu musim
panas air menampung panas dan pada waktu musim dingin mengeluarkannya perlahan,
sehingga menjaga level temperatur yang stabil yang penting bagi iklim dan kehidupan. air
juga memerlukan energi yang banyak untuk menguap sehingga memoderasi panas dari
matahari, menjaga temperatur ekosistem air, dan menjaga temperatur organisma dari ekses
panas. Air juga mempunyai sifat anomali, yaitu mengembang ketika didinginkan kurang dari
4 derajat. Hal ini terjadi karena perubahan struktur air menjadi tetrahedral. Hal ini menjaga air
di kedalaman menjadi beku. Karena berat jenis es lebih ringan, es terbentuk dipermukaan
dulu. Ketika air membeku, panas dibebaskan ke lapisan di bawahnya dan mengisolasinya. Hal
ini juga membuat transisi antara musim tidak terjadi dengan tiba-tiba.
Air yang di butuhkan oleh tanaman adalah air yang berada di dalam tanah yang di tahan oleh
butir-butir tanah . air ini berasal dari cadangan dalam tanah yang telah ada sebelum tanaman di
tanam dan curah hujan yang turun senbelumnya. Peranan air bagi tumbuhan guna menjamin
kelangsungan proses fisiologis dan biologi pertumbuhannya yaitu :
Merupakan 90 95% penyusun tubuh tanaman
Aktivator enzim
Pereaksi dalam reaksi hidrolisis
Sumber H dalam fotosintesis
Penghasil O2 dalam fotosintesis
Pelarut dan pembawa berbagai senyawa
Menjaga p sel yang penting untuk pembelahan, pembesaran, pemanjangan sel,
mengatur bukaan stomata, gerakan daun dan bunga (misal epinasti)
Pemacu respirasi
Mengatur keluar masuknya zat terlarut ke dan dari sel
Mendukung tegaknya tanaman, terutama pada tanaman herbaceus
Agensia penyebaran benih tanaman
Mempertahankan suhu tanaman tetap konstan pada saat cahaya penuh

15
Fungsi air bagi tumbuhan
Berikut ini adalah beberapa fungsi penting air bagi tumbuhan :
1. Penyusun utama protoplasma. Molekul - molekul makro dalam protoplasma seperti protein,
karbohidrat, pektin dan lain - lain membentuk struktur yang unik berasosiasi dengan molekul
air dalam bentuk koloid.
2. Menjadi pelarut bagi zat hara yang diperlukan tumbuhan.
3. Menjadi alat transpor untuk memindahkan zat hara. Bahan yang diangkut dapat berupa
bahan mineral dari dalam tanah, bahan - bahan organik hasil fotosintesa, dan olahan sel
lainya.
4. Menjadi medium berlangsungnya reaksi-reaksi biokimia. Kita tahu terkadang proses reaksi
terjadi dalam bentuk larutan dan air adalah pelarut yang sangat baik.
5. Menjadi bahan dasar untuk reaksi - reaksi biokimia. Seperti pada fotosintesis, tanpa adanya
air yang berperan sebagai donor elektron, fotosintesis tidak dapat berlangsung.
6. Sebagai sistem hidrolik. Air dapat memberikan tekanan hidrolik pada sel seliingga
menimbulkan turgor pada dinding sel tumbuhan. memberikan kekuatan mekanik pada
jaringan-jaringan yang tidak memiliki sokongan struktur (zat kayu) pada dinding selnya,
misalnya pada parenkim. Sistem hidrolik juga dapat di jumpai pada membuka dan
menutupnya stomata.
7. Stabilisasi dan pemindahan panas. Tingginya panas jenis yang dimiliki air, telah
memungkinkan air berperan sebagai penyangga (buffer) dalam pengaturan panas tubuh
tumbuhan. Penyerapan sejumlah besar panas (radiasi) oleh tumbuhan, hanya akan mengubah
suhu tubuh sedikit saja. Sebab sebagian besar panas (radiasi) tersebut dikembalikan lagi ke
lingkungannya dengan cara penguapan air dari permukaan tubuhnya.
8. Sebagai alat gerak misalnya pada pulvinus tangkai daun pada gerak nasti. Air di dalam sel
berada dalam bentuk bebas dan terikat. Keterikatan air itu dapat dengan ion atau molekul
polar, terkait dengan ikatan H pada molekul lain, terikat pada koloid atau terikat secara
kapiler. Air bebas terdapat pada vacuola sebagai cairan encer. Apabila tumbuhan kekurangan
air, air bebaslah yang hilang lebih dulu. Sebagai larutan air dalam sel mempunyai potensial
air lebih kecil dari nol. Besamya potensial air larutan cairan sel dipengaruhi oleh temperatur,
adanya bahan pelarut lain, adanya imbibiban yaitu zat yang mampu mengadakan imbibisi. dan
adanya tekanan atau tegangan (tekanan hidrostatik).

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tumbuhan membutuhkan CO2 untuk pertumbuhannya. Tumbuh-tumbuhan mengurangi


kadar karbon dioksida di atomosfer dengan melakukan fotosintesis, disebut juga sebagai
asimilasi karbon, yang menggunakan energi cahaya untuk memproduksi materi organik
dengan mengkombinasi karbon dioksida dengan air. Oksigen berfungsi dalam reaksi
metabolisme tumbuhan karena oksigen penting dalam respirsi yang menghasilkan energi. Jika
kekurangan oksigen, respirsi terganggu dan energi berkurang sehingga pertumbuhan
terganggu. Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara
fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme
yang lain di dalam tanaman. Sedangkan air merupakan sumber kehidupan, tanpa air tidak ada
makhluk yang dapat hidup.

B. Saran
Dalam mengoptimalkan pertumbuhan pohon itu perlu adanya pengaruh CO2, O2, sinar
matahari dan air yang cukup untuk mendukung petumbuhan pohon. Jika faktor ini tidak tidak
tidak tersedia maka pertumbuhan pohon akan hidup merana dan hingga akhirnya akan
mengalami kematian. Jadi kita sebagai manusia marilah bersama-sama menjaga alam ini agar
bisa tetap terjadi keseimbangan, antar makhluk hidup maupun dengan lingkungan.
Meningkatnya kadar CO2 dalam atmosfer dapat menimbulkan dampak terhadap
adaptasi fisiologis dan anatomis tanaman, terutama pada proses fotosintesis. Dengan
bertambahnya CO2 maka tingkat fotosintesis meningkat, pertumbuhan dan produksi tanaman
tentu juga akan meningkat. Selain itu juga meningkatkan efisiensi penggunaan air dalam
respirasi dan fotosintesis.

17
DAFTAR PUSTAKA

Davey, P.A., S, Hunt., G.J, Hymus., E.H, Delucia., B.G, Drake., D.F, Karnosky dan S.P, Long.
2004. Respiratory oxygen uptake is not decreased by an instaneous elevation of CO2,
but is increase with long-term growth in the field at elevated CO2. Plant Physiology
(134) : 520 527

Farquhar G.D., von Caemmerer S. 1981. Some relationships between the biochemistry of
photosynthesis and the gas exchange of leaves. Planta 153, 376387.
Pilumwong.J., C.Senthong., S.Srichuwong and K. T. Ingram. 2007. Effects of Temperature
and Elevated CO2 on Shoot and Root Growth of Peanut (Arachis hypogaea L.) Grown
in Controlled Environment Chambers. Science Asia 33 : 79-87.
Tjasyono, Bambang. 1986. Iklim dan Lingkungan. PJ Cendekia Jaya Utama : Bandung
Watling, J.R., M.C, Press dan W.P, Quick. 2000. Elevated CO2 induces biochemical and
ultrastructural changes in leaves of the C4 cereal sorghum. Plant Physiology (123) :
1143-1152

18