Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF DALAM BAHAN BAKU

ASAM MEFENAMAT

Khaira Y. Nadiatul1)

1)
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Abstrak

Asam mefenamat merupakan merupakan derivat asam antranilat dan termasuk kedalam golongan
obat Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS). Dalam pengobatan, asam mefenamat digunakan untuk
meredakan nyeri dan rematik. Persyaratan kadar asam mefenamat sebagai bahan baku menurut
Farmakope Indonesia Edisi IV yaitu tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 102%. Tujuan
praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dari bahan
baku asam mefenamat. Tahapan dari praktikum meliputi pengujian organoleptis, reaksi warna,
kelarutan, dan penentuan kadar dari bahan baku asam mefenamat. Praktikum ini menghasilkan
kadar asam mefenamat yang tidak sesuai dengan literatur yaitu sebesar 50,26%.

Kata Kunci: Asam mefenamat, organoleptis, reaksi warna, kelarutan, kadar.

QUALITATIVE AND QUANTITATIVE ANALYSIS OF RAW MATERIAL


IN MEFENAMIC ACID

Abstract

Mefenamic acid is an anthranilic acid derivative and included into the class of nonsteroidal anti-
inflammatory drugs (NSAIDs). In medicine, mefenamic acid is used to relieve pain and
rheumatism. Terms of mefenamic acid levels as a raw material according to the Indonesian
Pharmacopoeia IV Edition that is not less than 98% and not more than 102%. The purpose of this
practicum is to determine the qualitative analysis and quantitative analysis of the raw materials
mefenamic acid. Stages of the lab include testing the organoleptic, color reaction, solubility, and
the determination of levels of raw material mefenamic acid. This results in a practicum
mefenamic acid levels that are inconsistent with the literature that is equal to 50.26%.

Keywords: Mefenamic acid, organoleptic, color reaction, solubility, concentration.


Pendahuluan

Analisa dapat diartikan sebagai usaha pemisahan suatu kesatuan ilmiah (dalam ilmu social) atau
suatu kesatuan materi bahan menjadi komponen penyusunnya sehingga dapat dicari secara
langsung (Sudarmadii et al, 1989). Zat yang ditetapkan tersebut sering kali dinyatakan sebagai
konstituen/analit yang menyusun sebagian besar atau sebagian kecil dari sample yang dianalisis
(Underwood, 2002).

Persyaratan kadar asam mefenamat menurut Farmakope Indonesia edisi IV (1995), yaitu tidak
kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102%. Untuk melakukan penetapan kadar obat dalam
suatu sediaan dibutuhkan suatu metode yang teliti dan akurat (Uno et al, 2015).

Titrimetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah zat kimia yang luas pemakaiannya. Hal ini
disebabkan karena beberapa alasan. Pada satu segi cara ini menguntungkan karena
pelaksanaanya mudah dan cepat, ketelitian, dan ketepatannya cukup tinggi. Pada segi lain cara
ini menguntungkan karena dapat digunakan untuk menentukan kadar berbagai zat (Rivai, 1995).

Analisis titrimetri dianggap lebih baik dalam menunjukkan proses titrasi dibandingkan dengan
analisis volumetric (Pudjaatmaka dan Setiono, 1994). Analisis titrimetric adalah pemeriksaan
jumlah zat yang didasarkan pada pengukuran volume larutan pereaksi yang dibutuhkan untuk
bereaksi secara stoikiometri dengan zat yang ditentukan (Rivai, 1995).

Metode

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu beaker glass, buret, kertas perkamen,
labu ukur, neraca analitik, penangas air, pipet tetes, tabung reaksi, tisu, spatel, dan statif.
Sementara bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain aquadest, asam
mefenamat, asam oksalat, asam sulfat, etanol 95%, FeCl3, indicator fenolftalein, kloroform,
NaOH, dan Reagent Liebermann.

Pengujian Organoleptis

Diambil 100 mg serbuk asam mefenamat kemudian diamati bentuk dan warna pada serbuk asam
mefenamat tersebut.
Pengujian Reaksi Warna dengan Asam Sulfat

Dilarutkan 0,01 g asam mefenamat dalam 2 mL asam sulfat dengan bantuan pemanasan.
Kemudian diamati warna larutan yang terbentuk.

Pengujian Reaksi Warna dengan Reagent Liebermann

Diambil 0,01 g asam mefenamat dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian
ditambahkan dengan reagent Liebermann sebanyak 2-3 tetes. Lalu panaskan di waterbath dengan
suhu 100oC. Dan kemudian diamati warna yang terbentuk.

Pengujian Reaksi Warna dengan FeCl3

Dilarutkan 30-50 mg sampel asam mefenamat dalam 1-2 mL campuran air dan etanol 95% di
dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes FeCl 3 pada sampel dan diamati
perubahan warna.

Pengujian Kelarutan Asam Mefenamat dengan Alkali Hidroksida

Ditimbang asam mefenamat sebanyak 1 g. Kemudian dilarutkan ke dalam 10-30 mL larutan


alkali hidroksida dan diamati kelarutannya.

Pengujian Kelarutan Asam Mefenamat dengan Kloroform

Ditimbang asam mefenamat sebanyak 1 g. Kemudian dilarutkan ke dalam 30-100 mL larutan


kloroform dan diamati kelarutannya.

Pengujian Kelarutan Asam Mefenamat dengan Etanol

Ditimbang asam mefenamat sebanyak 1 g. Kemudian dilarutkan ke dalam 100-1000 mL larutan


etanol dan diamati kelarutannya.

Pembakuan NaOH dengan Asam Oksalat 0,1 N

Ditimbang 1,2 g asam oksalat dan dilarutkan ke dalam 100 mL air bebas karbondioksida.
Kemudian diambil 10 mL larutan asam oksalat dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Lalu
ditambahkan indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes. Kemudian dititrasi dengan larutan NaOH
hingga larutan berubah warna menjadi merah muda. Titrasi dilakukan triplo.
Penetapan Kadar Asam Mefenamat

Diambil sampel asam mefenamat sebanyak 0,25 g. kemudian dilarutkan ke dalam 40 mL etanol
mutlak hangat yang telah dinetralkan terhadap larutan merah fenol. Kemudian dinginkan
campuran larutan, dan di add dengan etanol mutlak yang telah dinetralkan hingga 50 mL
Kemudian diambil 10 mL campuran larutan dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Ditambahkan
indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes dan dititrasi dengan larutan NaOH hingga larutan berubah
warna menjadi merah muda. Titrasi dilakukan triplo.

Hasil

Organoleptis

Dari pengamatan organoleptis terhadap asam mefenamat, diperoleh hasil serbuk berwarna putih
dan berbentuk hablur.

Reaksi warna

Reaksi warna asam mefenamat dengan asam sulfat menghasilkan larutan yang tetap berwarna
bening. Untuk reaksi warna asam dengan reagent Liebermann menghasilkan warna kuning
kebiruan dan setelah dipanaskan menghasilkan warna biru. Dan untuk reaksi warna asam
mefenamat dengan FeCl3 menghasilkan larutan berwarna coklat kemerahan.

Kelarutan

Dari percobaan uji kelarutan, diperoleh hasil bahwa 1 g asam mefenamat larut dalam 10 mL
larutan alkali hildroksida. Kemudian hanya sebagian asam mefenamat yang larut dalam 30 mL
kloroform. Dan hanya sebagian kecil asam mefenamat yang larut dalam 100 mL etanol.

Penetapan Kadar Asam Mefenamat

Sebanyak 0,25 g asam mefenamat dalam 50 mL etanol mutlak yang telah dinetralkan dihasilkan
kadarnya sebesar 50,26%.

Pembahasan

Simpulan
Pada praktikum ini dapat diketahui analisis kualitatif dan kuantitatif bahan baku asam
mefenamat. Dalam proses analisis, diperoleh hasil untuk analisis kualitatif sesuai dengan
literatur. Namun untuk analisis kuantitatif diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan literatur yaitu
didapat kadar asam mefenamat sebesar 50,26%.

Daftar Pustaka

1. Day, R. A. and A. L. Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Jakarta.
Penerbit Erlangga. Hal 394, 396-404
2. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI.
3. Pudjaatmaka dan Setiono, L,. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Edisi IV. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
4. Rivai, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI-Press. Jakarta
5. Sudarmadji, S, et al. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi I. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Liberty.
6. Uno et al. 2015. VALIDASI METODE ANALISIS UNTUK PENETAPAN KADAR
TABLET ASAM MEFENAMAT SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET.
PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 4 No. 4 NOVEMBER 2015 ISSN
2302 2493.