Anda di halaman 1dari 14

A.

RUMAH ADAT SULAWESI SELATAN

1. Kabupaten Toraja (Rumah Adat Tongkonan)

Rumah Adat Sulawesi Selatan Rumah Tongkonan adalah rumah adat bagi masyarakat suku
Toraja dan telah ditetapkan sebagai rumah adat Sulawesi Selatan. Rumah adat ini sangat terkenal
bahkan sampai ke penjuru dunia karena keunikan arsitektur serta nilai nilai filosofis yang
terkandung di dalamnya.
1. Struktur dan Arsitektur Rumah Adat
Secara umum, rumah tongkonan memiliki struktur panggung dengan tiang-tiang
penyangga bulat yang berjajar menyokong tegaknya bangunan. Tiang-tiang yang menopang
lantai, dinding, dan rangka atap tersebut tidak di tanam di dalam tanah, melainkan langsung
ditumpangkan pada batu berukuran besar yang dipahat hingga berbentuk persegi. Dinding dan
lantai rumah adat tongkonan dibuat dari papan-papan yang disusun sedemikian rupa. Papan-
papan tersebut direkatkan tanpa paku, melainkan hanya diikat atau ditumpangkan
menggunakan sistem kunci. Kendati tanpa dipaku, papan pada dinding dan lantai tetap kokoh
kuat hingga puluhan tahun. Bagian atap menjadi bagian yang paling unik dari rumah adat
Sulawesi Selatan ini. Atap rumah tongkonan berbentuk seperti perahu terbaling lengkap
dengan buritannya. Ada juga yang menganggap bentuk atap ini seperti tanduk kerbau. Atap
rumah tongkonan sendiri dibuat dari bahan ijuk atau daun rumbia, meski pun kini penggunaan
seng sebagai bahan atap lebih sering ditemukan.
2. Fungsi Rumah Adat
Selain dianggap sebagai identitas budaya, rumah tongkonan pada masa silam juga
menjadi rumah tinggal bagi masyarakat suku Toraja. Rumah Tongkonan dianggap sebagai
perlambang ibu, sementara lumbung padi yang ada di depan rumah atau biasa disebut Alang
Sura adalah perlambang ayah. Adapun untuk menunjang fungsinya sebagai rumah tinggal,
rumah adat Sulawesi Selatan ini dibagi menjadi 3 bagian, yakni bagian atas (rattiangbanua),
bagian tengah (kale banua) dan bawah (sulluk banua).
- Bagian Atas atau disebut juga rattiang banua adalah ruangan yang terdapat di loteng
rumah. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan benda pusaka yang dianggap memiliki
nilai sakral. Benda-benda berharga yang dianggap penting juga di simpan dalam ruangan
ini.
- Bagian Tengah atau disebut juga kale banua adalah bagian inti dari rumah adat Sulawesi
Selatan. Bagian ini terbagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan fungsi-fungsi
khususnya, yaitu bagian utara, bagian tengah, dan bagian selatan.
Bagian utara disebut dengan istilah ruang Tengalok. Ruangan ini berfungsi sebagai
tempat menerima tamu dan meletakan sesaji (persembahan). Selain itu, jika pemilik
rumah sudah mempunyai anak, maka ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur
anak.
Bagian pusat disebut Sali. Ruangan ini digunakan untuk beragam keperluan, seperti
sebagai tempat pertemuan keluarga, dapur, ruang makan, sekaligus tempat meletakan
mayat yang dipelihara.
Bagian selatan bernama Ruang Sambung. Ruangan ini khusus digunakan sebagai kamar
kepala keluarga. Tidak sembarang orang dapat masuk ke ruangan ini tanpa seizin
pemilik rumah.
- Bagian Bawah atau disebut juga sulluk banua adalah bagian kolong rumah. Bagian ini
digunakan sebagai kandang hewan atau tempat menyimpan alat-alat pertanian.
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Selain dari bentuk atapnya yang seperti tanduk kerbau, ada beberapa ciri khas lain dari
rumah tongkonan yang membuatnya begitu berbeda dengan rumah adat dari suku-suku lain
di Indonesia. Ciri-ciri tersebut di antaranya:
- Memiliki ukiran di bagian dinding dengan 4 warna dasar, yaitu merah, putih, kuning dan
hitam. Masing-masing warna memiliki nilai filosofis, merah melambangkan kehidupan,
putih melambangkan kesucian, kuning melambangkan anugerah, dan hitam
melambangkan kematian.
- Di bagian depan rumah terdapat susunan tanduk kerbau yang digunakan sebagai hiasan
sekaligus ciri tingkat strata sosial si pemilik rumah. Semakin banyak tanduk kerbau yang
dipasang, maka semakin tinggi kedudukan pemilik rumah. Tanduk kerbau sendiri dalam
budaya toraja adalah lambang kekayaan dan kemewahan.
- Di bagian yang terpisah dari rumah tongkonan terdapat sebuah bagunan yang berfungsi
sebagai lumbung padi atau disebut alang sura. Lumbung padi juga berupa bangunan
panggung. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari batang pohon palem yang licin sehingga
tikus tidak bisa masuk ke dalam bangunan. Lumbung padi dilengkapi pula dengan ukiran
bergambar ayam dan matahari yang melambangkan kemakmuran dan keadilan.
2. Kabupaten Pinrang (Rumah Adat Saoraja)
Berdasarkan status sosial orang yang menempatinya, Rumah Saoraja (Sallasa) berarti
rumah besar yang di tempati oleh keturunan raja (kaum bangsawan) dan Bola adalah rumah
yang di tempati oleh rakyat biasa. Tipologi kedua rumah ini adalah sama-sama rumah
panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya sama yaitu
empat persegi panjang. Perbedaannya adalah saoraja dalam ukuran yang lebih luas begitu
juga dengan tiang penyangganya, atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang
biasa di sebut timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan
kedudukan penghuninya.
Rumah bugis sebenarnya tahan gempa dan banjir. Karena Rumah bugis yang sebenarnya
menggunakan parelepang (fattoppo dan fadongko) yang tidak disambung. Karena struktur
kayu yang tidak disambung dapat meredam getaran hingga getaran yang frekuensinya
tinggi.Namun sekarang mencari kayu yang sangat panjang sangatlah sulit, sehingga
parelepang diganti dengan pattolo (ukurannya lebih kecil). Jadi, kalau tinggal di daerah
rawan gempa, Rumah bugis adalah solusi yang tepat agar rumah Anda tidak terpora-
porandakan gempa. Begitu juga dengan banjir, asal banjirnya tidak melebihi 2 meter dan
pondasinya tidak mudah terbawa arus.

1. Alliri (Tiang)
Model rumah bugis pada mulanya hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan.
Misalnya, hanya mereka yang boleh menggunakan tiang segi empat atau segi delapan,
sedangkan orang biasa hanya boleh menggunakan tiang bundar. Tiang rumah (alliri)
bertumpu di atas tanah dan berdiri hingga ke loteng serta menopang berat atap. Tetapi
sekarang, makin banyak rumah besar yang tiangnya tidak di ditanam lagi, tetapi
ditumpukan di atas pondasi batu. Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya.
jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri
dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.
2. Awa Bola ( Kolong Rumah )
Awa bola ialah kolong yang terletak pada bagian bawah, yakni antara lantai dengan
tanah. Kolong ini biasa pada zaman dulu dipergunakan untuk menyimpan alat pertanian,
alat berburu, alat untuk menangkap ikan dan hewan-hewan peliharaan yang di
pergunakan dalam pertanian.
3. Arateng dan Ware ( Penyangga Lantai dan Penyangga Loteng)
Pada setiap tiang dibuat lubang segi empat untuk menyisipkan balok pipih penyangga
lantai (arateng) dan balok pipih penyangga loteng (ware), yang menghubungkan panjang
rangka rumah. Dahulu, rumah yang tiangnya ditanam tidak menggunakan balok
penyangga loteng, dan balok penyangga lantai tidak disisipkan pada tiang, tetapi diikat.
4. Ale Bola ( Badan Rumah)
Ale bola ialah badan rumah yang terdiri dari lantai dan dinding yang terletak antara lantai
dan loteng. Pada bagian ini terdapat ruangan-ruangan yang dipergunakan dalam aktivitas
sehari-hari seperti menerima tamu, tidur, bermusyawarah, dan berbagai aktifitas lainnya.
Badan rumah tediri dari beberapa bagian rumah seperti: Lotang risaliweng, Pada bagian
depan badan rumah di sebut yang berfungsi sebagai ruang menerima tamu, ruang tidur
tamu, tempat bermusyawarah, tempat menyimpan benih, tempat membaringkan mayat
sebelum dibawa ke pemakaman.

5. Posi Bola (Pusat Rumah)


Rumah Bugis memiliki struktur dasar yang terdiri atas 3 kali 3 tiang (3 barisan tiang
memanjang dan 3 baris melebar) berbentuk persegi empat dengan satu tiang ditiap
sudutnya, dan pada setiap sisi terdapat satu tiang tengah, serta tepat di tengah persilangan
panjang dan lebar terdapat tiang yang disebut pusat rumah(posi bola). Umumnya,
rumah orang biasa terdiri atas empat tiang untuk panjang dan empat untuk lebar rumah.
6. Timpa Laja
Berbagai ciri khas juga ditambahkan pada rumah-rumah kalangan bangsawan tinggi
untuk menunjukkan status sosial mereka. Ciri paling menonjol adalah jumlah bilah papan
yang menyusun dinding bagian muka atap rumah (timpa laja, dari bahasa Melayu tebar
layar): Dua lapis untuk tau deceng, Tiga untuk anacera, lima untuk ana matola,dan
tujuh untuk penguasa kerajaan-kerajaan utama bugis,luwu,bone, wajo,soppeng, dan
sidenreng. Sementara itu, hanya golongan ana cera ke atas yang berhak menggunakan
tangga yang naik membujur.
7. Addengeng (Tangga)
Sementara itu, hanya golongan ana cera ke atas yang berhak menggunakan tangga yang
naik membujur. Dan hanya kalangan bangsawan tertinggi boleh menggunakan tangga
berupa latar miring tanpa anak tangga, terbuat dari bila-bila bambu yang, notabene,
sangat licin dan disebut sapana ( bahasa Sansekerta yang mungkin diadopsi lewat bahasa
Melayu: Sopana tangga).
8. Tamping
Pada sisi panjang (bagian samping badan rumah) biasanya ditambahkan tamping, yakni
semacam serambi memanjang yang lantainya sedikit lebih rendah, dengan atap tersendiri;
pintu masuk bagian depan berada di ujung depan tamping dan jika ruang dapur tidak
terpisah dapurnya berada di ujung di belakang tamping. Kalaupun ada tambahan lain,
dengan rancangan lebih kompleks, bentuk segi empat tetap jadi pola dasar.
9. Rakkeang ( Langit-langit )
Rakkeang, adalah bagian diatas langit - langit (eternit). Dahulu biasanya digunakan untuk
menyimpan padi yang baru di panen.
10. Anjong
Selain sebagai hiasan rumah, anjong juga memiliki makna tertentu bagi orang bugis.
Anjong merupakan salah satu ciri khas orang bugis, dimana pada rumah orang
bangsawan memiliki lebih dari dua anjong.Sedangkan anjong pada rumah orang biasa
tidak lebih dari dua. Pada dasarnya, rumah tersebut memiliki atap (pangate) dua latar
dengan sebuah bubungan lurus (alekke), yang berbeda dengan bubungan lengkung yang
terdapat pada rumah toraja, Batak, dan Minangkabau, serta pada rumah Jawa.
Dindingnya (renring) terbuat dari bahan ringan, sementara lantainya (salima) berjarak
sekitar 2 meter / kadang-kadang lebih dari permukaan tanah dan kolong rumah (awa
bola) biasanya dibiarkan terbuka.
3. Kota Makassar (Balla lompoa)
Balla Lompoa adalah rumah adat Makassar/Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Sebelum dialihfungsikan sebagai Museum Balla Lompoa, rumah ini dulunya merupakan
sebuah istanah yang dibangun pada tahun 1936 oleh Raja ke-31 yaitu I Mangngi-mangngi
Daeng Matutu yang berkuasa pada tahun 1906-1946. Sekarang tempat ini juga berfungsi
sebagai objek wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Dalam bahasa Makassar, Balla
Lompoa berarti rumah besar atau rumah kebesaran.
Arsitektur bangunan museum ini berbentuk rumah panggung, dengan sebuah tangga
setinggi lebih dari dua meter untuk naik ke ruang teras. Seluruh bangunan terbuat dari kayu
Hitam. Kepala kerbau tergantung diujung atap menandakan derajat kebangsawanan sang
pemilik rumah. Bangunan museum ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang utama seluas
60 x 40 meter dan ruang teras (ruang penerima tamu) seluas 40 x 4,5 meter. Di dalam ruang
utama terdapat tiga bilik, yaitu: bilik sebagai kamar pribadi raja, bilik tempat penyimpanan
benda-benda bersejarah, dan bilik kerajaan. Ketiga bilik tersebut masing-masing berukuran 6
x 5 meter. Bangunan museum ini juga dilengkapi dengan banyak jendela yang masing-
masing berukuran 0,5 x 0,5 meter.
Museum Balla Lompoa menyimpan koleksi benda-benda berharga yang tidak hanya
bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau
batu mulia lainnya. Di museum ini terdapat sekitar 140 koleksi benda-benda kerajaan yang
bernilai tinggi, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris dan benda-benda lain yang
umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu ruby, dan permata. Di antara
koleksi tersebut, rata-rata memiliki bobot 700 gram, bahkan ada yang sampai atau lebih dari
1 kilogram. Di ruang pribadi raja, terdapat sebuah mahkota raja yang berbentuk kerucut
bunga teratai (lima helai kelopak daun) memiliki bobot 1.768 gram yang bertabur 250
permata berlian. Di museum ini juga terdapat sebuah tatarapang, yaitu keris emas seberat
986,5 gram, dengan pajang 51 cm dan lebar 13 cm, yang merupakan hadiah dari Kerajaan
Demak. Selain perhiasan-perhiasan berharga tersebut, masih ada koleksi benda-benda
bersejarah lainnya, seperti: 10 buah tombak, 7 buah naskah lontara, dan 2 buah kitab Al
Quran yang ditulis tangan pada tahun 1848.
4. Kabupaten Soppeng (Rumah Adat Sao Mario)
Rumah Adat Sao Mario terletak di Desa manorang Salo, Marioriwa, Soppeng. Di dalam
kompleks rumah adat ini terdapat rumah adat Bugis, Makassar, Mandar, Toraja,
Minangkabau dan Batak. Hampir keseluruhan di sini memiliki 100 tiang, sehingga
masyarakat sekitar meyebutnya dengan bola seratue. Di dalam kompleks ini pula terdapat
rumah lontar yang dinding, lantai, tiang, rangka serta perabotannya berbahan baku lontar.
Saat ini, rumah adat ini berfungsi sebagai museum. Barang-barang yang terdapat di Sao
Mario antara lain barang antik dari berbagai daerah di Indonesia, senjata tajam, dan berbagai
macam batu permata. Di komplek rumah adat ini juga ada rumah makan yang berbentuk
perahu pinisi.
5. Kabupaten Sinjai (Rumah Adat Karampuang)

Kampung tradisional karampuang terletak di desa Tompobulu Kec. Bulupoddo, kurang


lebih 30 km dari pusat kota Sinjai. Karampuang adalah nama dari sebuah dusun/kampung
yang memiliki sejarah dan kebudayaan yang unik, yang keasliannya tetap dipelihara hingga
saat sekarang ini. Lokasi dan tempat bermukim para pendukung budaya karampuang
dianggap sebagai suatu wilayah adat karampuang, yang didalamnya berdiri dengan kokoh
dua buah rumah adat berstruktur Bugis kuno. Salah satunya didiami oleh To Matoa (Raja)
dan yang satunya lagi didiami oleh Gella (Kepala Pemerintahan Adat). Rumah Adat
Karampuang pada dasarnya menyimbolkan perempuan dengan pola pembuatannya tetap
bernuansa tradisional. Untuk merenovasi atau mengganti salah satu tiang atau alat-alat
penting dari rumah adat tersebut, ramuan kayunya harus diambil dari dalam hutan kawasan
adat. Kayu-kayu tersebut harus ditarik dan pantang sekali dipukul. Upacara pengangkutan
kayu dari dalam hutan ke kawasan rumah adat dikenal dengan nama upacara adat madduik.
Bentuk keunikan lainnya, terutama karena dalam wilayah adat karampuang tersebut masih
terdapat perangkat-perangkat adat yang lengkap dan utuh, yang masih tetap dipertahankan
dan tetap berfungsi turun temurun hingga saat ini.
6. Kabupaten Barru (Rumah Adat Saoraja Lapinceng)
Rumah Adat Saoraja Lapinceng. Rumah yang dibangun pada tahun 1895, tepatnya masa
pemerintahan Andi Muhammad Saleh Dg. Parani ini menyimpan kekayaan tradisi dan
sejarah masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kerajaan Balusu di Kabupaten Barru.
Jika dilihat dari sejarahnya, Rumah Adat Saoraja Lapinceng merupakan saksi bisu
perjuangan Kerajaan Balusu menentang penjajahan Belanda. Pada masa pemerintahan Andi
Muhammad Saleh Dg. Parani, Kerajaan Balusu dikenal memiliki keadaan yang aman dan
damai. Beliau juga terkenal sebagai Raja yang gagah berani yang membuatnya diberi gelar
Petta Sulle Datue
Rumah Adat Saoraja Lapinceng berada di Lapasu, Kecamatan Balusu. Letaknya sendiri
berjarak sekitar 17 km kearah utara dari Kabupaten Barru. Pengunjung dapat menggunakan
kendaraan roda empat atau roda dua untuk mengunjungi lokasi objek wisata ini.

7. Kabupaten Bone (Rumah Adat Bola Soba Bone)


Bangunan tradisional Bugis bermaterial kayu ini berdiri di atas lahan seluas hampir 1/2
hektar di ruas Jalan Latenritatta, Watampone. Kokohnya bangunan ini menandakan bahwa
masyarakat Bone pada masa lampau telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil
yang mumpuni. Bola Soba dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30, La Pawawoi
Karaeng Sigeri sekitar tahun 1890. Awalnya, diperuntukkan sebagai kediaman raja.
Selanjutnya, ditempati oleh putra La Pawawoi, Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian
diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima perang) Kerajaan Bone. Seiring dengan
ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai Sulawesi, termasuk Kerajaan Bone pada masa
itu, maka Saoraja Petta Ponggawae ini pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai
markas tentara. Tahun 1912, difungsikan sebagai mes atau penginapan untuk menjamu tamu
Belanda. Berawal dari sinilah penamaan Bola Soba yang berarti rumah persahabatan.
Bola Soba memiliki panjang 39,45 meter terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego
(teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21 meter), lari-larian/selasar penghubung rumah
induk dengan bagian belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang diperuntukkan
sebagai ruang dapur (4,30 meter). Dindingnya dilengkapi dengan ukiran pola daun dan
kembang sebagai ciri khas kesenian Islam dan banji (model swastika) yang diperkenalkan
oleh orang Tionghoa. Bola Soba telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Awalnya,
terletak di Jalan Petta Ponggawae yang saat ini menjadi lokasi rumah jabatan bupati Bone.
Selanjutnya, dipindahkan ke Jalan Veteran dan terakhir di Jalan Latenritatta sejak tahun 1978.
Peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saat itu,
Prof Dr Daoed Joesoef. Sebagai bangunan peninggalan sejarah, Bola Soba didesain untuk
mendekati bangunan aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga mengalami perubahan,
baik perbedaan bahan maupun ukurannya aslinya.
Memasuki bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental yang bisa
menjelaskan historis bangunan tersebut dengan detail, sedangkan di bagian lain ruangan
terdapat bangkai meriam tua, potret lukisan Arung Palakka, silsilah raja-raja Bone, serta
beberapa benda-benda tertentu yang sengaja disimpan pengunjung sebagai bentuk melepas
nazar. Nampak yang jelas hanya beberapa perlengkapan kesenian, seperti kostum tari dan
gong dimana setiap harinya bangunan Bola Soba telah ini menjadi tempat latihan salah satu
sanggar kesenian yang ada di kota ini.

8. Kota Palopo (Istana Datu Luwu, Rumah Adat LangkanaE)

Sebagaimana daerah lain yang dahulu berbentuk kerajaan, pasti memiliki kediaman
(istana) untuk para rajanya. Demikian juga Kota Palopo yang dahulu merupakan Kerajaan
Luwu. Di dalam kompleks Istana ini, selain terdapat Istana Kedatuan Luwu, juga terdapat
rumah adat LangkanaE yang merupakan rumah adat khas kerajaan Luwu. Komplek
bangunan ini direhabilitasi Belanda pada tahun 1920 dan saat ini masih berdiri kokoh di
tengah-tengah jantung kota Palopo. Di kompleks istana ini sering dijadikan sebagai tempat
kegiatan sanggar budaya dan kegiatan adat lainnya. Saat ini, istana Kedatuan Luwu sudah
dialihfungsikan menjadi sebuah museum dengan nama Museum Batara Guru dan terbuka
untuk masyarakat umum. Museum Batara Guru diresmikan pada tanggal 26 Juli 1971 oleh
Andi Achmad yang saat itu menjabat sebagai Bupati Luwu. Anda Achmad merupakan salah
seorang ahli waris dari Datu Luwu.

Koleksi Museum Batara Guru terbilang cukup banyak, jumlahnya adalah 831 buah
yang terdiri dari berbagai benda pusaka zaman kerajaan misalnya trisula, tongkat bercabang
dua, keris dan lain-lain, benda-benda antik seperti keramik, guci, piring antik dan bosara, ada
juga benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan para Datu Luwu, serta peralatan dan
perlengkapan yang digunakan untuk upacara adat. Di dalam museum juga ada sepasang
manekin yang berpakaian pengantin ala Luwu, pelaminan khas adat Luwu, silsilah 23
generasi Pajung-e ri Luwu atau pohon famili dari raja-raja Kedatuan Luwu. Juga terpampang
kisah legenda Batara Guru
9. Kabupaten Bulukumba (Rumah Adat Suku Kajang)
Terbagi dalam 3 tingkat. Bagian atas disebut Para merupakan tempat yang dianggap suci
biasanya dipakai untuk menyimpan bahan makanan, bagian tengah disebut Kale Balla
sebagai tempat manusia menetap atau bertempat tinggal, bagian bawah disebut Siring sebagai
tempat menenun kain atau sarung hitam (topeh leleng) merupakan pakaian khas masyarakat
Ammatoa. Konsep ini sekaligus merupakan wujud fisik manusia yang terdiri dari kepala,
badan, dan kaki. Pada bagian badan
(Kale balla) terdapat bagian yang dianalogikan dengan bahu pada bagian badan manusia
yakni berupa rak 60 cm yang berada di bagian luar dinding tepat di bawah atap yang
menjorok keluar dan memanjang sepanjang bangunan. Bagian ini disebut Para-para.
Ketinggan para-para setinggi telinga/mata pemilik rumah, yang dimaksudkan agar si pemilik
rumah bisa melihat/mendengar jika ada yang bermaksud jahat. Para-para ini difungsikan
sebagai tempat menyimpan 16 peralatan dapur. Sedang langit-langit rumah (Kajang: para)
difungsikan sebagai lumbung tempat menyimpan bahan makanan seperti padi dan juga
sebagai tempat menyimpan benda pusaka. Bagian paling atas adalah merupakan penutup
para/atap (Kajang: Ata). Pada bagian muka dan belakang dari atap ( ata ) ini terdapat timpa
laja yakni atap pada bagian muka dan belakang berbentuk segitiga sama kaki selain sebagai
penutup para untuk melindungi bahan makanan dari tempiasan air hujan juga terdapat lubang
kecil sebagai pengahawaan Timpa laja ini terdiri atas 2 susun dan terdapat hanya pada
Bola/Balla Hanggang (rumah yang tiangnya ditanam) dan ini merupakan ciri khas yang
menunjukkan keseragaman dan memberikan indikasi keturunan Ammatoa yang tidak
melihat strata sosial dari bentuk dan model rumah. Untuk rumah yang sudah mengalami
perubahan (Bola/Balla paleha), tiang tidak lagi ditanam, susunan timpak laja sudah ada yang
terdiri atas 3 atau 5 susun. Ini ditemukan umumnya pada ibukota desa Tanatoa (dusun Bagian
lain adalah tiang pusat (pocci balla) yang merupakan analogi dari Pusar pada tubuh manusia
dimana nutrisi ditransfer ke embrio dan tempat yang ditujukan untuk perlindungan. Oleh
karena itu Pocci Balla ini dianggap sebagai pusat yang membentuk keseimbangan, selain itu
secara mistik mempunyai nilai religius, dianggap keramat (suci). Pada tiang ini mendapat
perhatian yang paling penting diikuti dengan syarat-syarat termasuk bahan/jenis kayu dan
tata cara mendirikannya. Tiang rumah ditanam ke dalam tanah dan tingginya diukur sesuai
dengan aktivitas yang dapat dilakukan dibawahnya. Tangga dan pintu masuk hanya ada di
depan bagian tengah agak ke kanan atau kekiri dari lebar rumah. Sistem konstruksinya masih
sangat sederhana berupa sistem ikat dan pasak. Begitupula dengan desain pintu dan jendala
yang masih sangat sederhana dengan sistem konstruksi menggunakan sistem geser (sliding
door and sliding window).
Bentuk rumah adat suku kajang sangat unik. Bangunan rumah khas Sulawesi selatan
secara umum adalah rumah panggung. Tapi suku kajang mempunyai keunikan bentuk rumah
panggung tersendiri yaitu dapurnya terltak di depan menghadap jalan utama. Ini
melambangkan kesederhanaan, dan mau menunjukan apa adanya. Mereka senantiasa
menyembunyikan rumah di balik hutan. Di dalam setiap rumah adat suku kajang, tidak ada
satupun peralatan rumah tanggga. Tidak ada kursi ataupun kasur. Bahkan mereka tidak
menggunakan satu barang elektronik pun. Mereka menganggap modernitas dapat
menjauhkan suku kajang dengan alam dan leluhurnya.

10. Kabupaten Jeneponto (Rumah Adat Binamu)


Rumah adat Binamu terletak di Kelurahan Pabiringa yang juga dikenal oleh masyarakat
sebagai Kampung Jeneponto lama. Denah rumah memiliki bentuk dasar segi empat.
Menurut masyarakat setempat, sebagaian besar bahan dan bentuknya masih asli. Salah satu
khas dari rumah adat Binamu yaitu ukuran tiang rumahnya yang pendek tidak seperti
rumah adat Makassar lainnya.
Beberapa regalia Kerajaan Binamu masih disimpan oleh pewaris Kerajaan Binamu dan
pada waktu tertentu masih digunakan untuk upacara-upcara adat. Selain aspek arsitekturnya
yang tidak kalah penting adalah aspek keruangannya (spatial), karena tempat tersebut
merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah Kerajaan Binamu.
11. Kabupaten Sidrap (Rumah Adat Datae)

Denah rumah pada umumnya masih mengikuti kaidah-kaidah arsitektur tradisional Bugis.
Hal ini terwujud dalam pembagian ruangan atau petak (lontang/latte), yang tetap dibagi-bagi
menjadi tiga bagian:
a. Lontang risaliweng (ruang depan), berfungsi untuk menerima tamu dan tempat tidur tamu
(public)
b. Lontang retengngah (latte retengngah) atau ruang tengah, berfungsi untuk tempat tidur
kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa, tempat makan (private).
c. Lontang rilaleng (latte rilaleng): tempat tidur anak gadis, dapur, dan kamar mandi.
12. Kabupaten Pangkep (Rumah Adat Karaeng Labakkang)
Merujuk kepada struktur bangunan rumah adat tersebut, untuk kapasitas 250 orang maka
yang digunakan untuk pertemuan hanya 4 lontang, satu lontang panjang 3 meter memanjang
ke belakang dan 4 lontang pada lebarnya, praktis yang digunakan layaknya Aula Mini
adalah 12 x 12 meter. Rumah adat Labakkang sebagaimana umumnya rumah adat Bugis
Makassar berbentuk sulapa eppa, terdiri atas tangga bagian depan (11 anak tangga), lego
lego (paladang), 6 lontang pada bangunan utama (lontang ri saliweng/padaserang dallekang,
lontang ri tengnga/paddaserang tangnga, lontang ri laleng (paddaserang ri boko), 2 lontang
pada bangunan tambahan Annasuang/Appaluang), hanya saja ukuran lontangnya sekitar
4 meter.
13. Kabupaten Maros (Rumah Adat Karaeng Loe Ripakere)
Rumah Adat Karaeng Loe Ripakere Rumah adat ini dahulunya adalah istana raja
Marusu pertama Karaeng Loe Ripakere sekitar abad XV. Rumah adat ini berada di lokasi
Desa Pakere Kecamatan Simbang yang merupakan salah satu rumah adat yang ada di
Kabupaten Maros

14. Kabupaten Bantaeng (Balla Lompoa Lantebung)


Rumah Adat ini terletak di Jl. Bolu kampung Lantebung kelurahan Letta, Kecamatan
Bantaeng dalam kota Bantaeng. Balla Lompoa berarti rumah besar dalam bahasa
indonesia. Balla lompoa yang dikenal sebagai Rumah Adat Bantaeng ini luas tanahnya
sekitar 1.617 meter persegi. Rumah ini merupakan tempat kediaman Karaeng Bantaeng
dan keluarga kerajaan. Rumah tradisional Makassar ini bentuknya seperti rumah
panggung.Bangunan ini terdiri dari bangunan induk dan bangunan tambahan samping
sebagai serambi. Bubungan atap berbentuk segitiga, terdapat anjungan dari kayu berbentuk
kepala naga pada bagian depan dan berbentuk ekor naga pada bagian belakang.
15. Kabupaten Takalar (Rumah Adat Karaeng Lainkang)
LAIKANG atau Desa Laikang yang berada dalam wilayah Kecamatan
Mangarabombang Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan pada abad ke 15 berdiri sebuah
kerajaan yang dikenal bernama Kerajaan LAIKANG. Raja pertama Kerajaan Laikang
dipimpin oleh Karaeng TUNIPASSAYYA, Raja kedua bernama ARU CINA dan Raja ke
Tiga adalah PETTA PANGGAUKA. Petta Panggauka mempunyai Permaisuri bernama
BASSE DAENG NGALUSU dan dikaruniai oleh anak perempuan bernama MAMMINASA
DAENG ROSO.
Pada pemerintahan Raja ke Tiga, Kerajaan LAIKANG tenteram dan damai. Beliau
memimpin Kerajaan kurang lebih 30 Tahun lamanya dan setelah itu digantikan oleh putrinya
(Raja Ke 4) yang bernama MAMMINASA DAENG ROSO. Pada masa pemerintahan
Mamminasa Daeng Roso (Raja Ke 4) Kerajaan Laikang dilanda musibah dan bencana silih
berganti. Raja Mamminasa Daeng Roso tidak mampu memimpin Kerajaan Laikang dan
menyerahkan Tampuk Pimpinan ke Kelembagaan Adat yang pada saat itu bernama BAKU
APPAKA (Pati). Pada saat itu terjadi pertemuan antara Raja Laikang dan Kelembagaan adat
dan menghasilkan kesepakatan yaitu mengutus TELIK SANDI ke Kerajaan BONE untuk
mencari pemuda yang pantas menjadi Raja Laikang.
OLEH :
1. FAJRATIN RIDWAN
2. KEISYA PUTRI RAMLI
3. MUH. FIQRI
4. MUH. YAHYA