Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Judul : Isolasi Eugenol


Tujuan Percobaan :
1; Mempelajari teknik pemisahan cara kimia (cair-cair).
2; Mempelajari teknik isolasi eugenol dari minyak cengkeh.
Pendahuluan
Cengkeh dikenal dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia
aromaticum. Cengkeh termasuk tanaman asli Indonesia yang tergolong dalam famili
Myrtaceae dan ordo Myrtales. Cengkeh digunakan sebagai bahan campuran rokok kretek
dan juga penyedap masakan. Aroma cengkeh yang khas dihasilkan oleh senyawa eugenol,
yang merupakan senyawa utama (72-90%) penyusun minyak atsiri cengkeh. Eugenol
berfungsi sebagai anti inflamasi dan anti bakteri karena bersifat antiseptik dan anestetik
(bius). Kandungan lain yang terdapat pada minyak atsiri cengkeh ialah tanin, asam
galotanat, metil salisilat (suatu zat penghilang nyeri), asam krategolat, beragam senyawa
flavonoid (yaitu eugenin, kaemferol, rhamnetin, dan eugenitin), berbagai senyawa
triterpenoid (yaitu asam oleanolat, stigmasterol, dan kampesterol), serta mengandung
berbagai senyawa seskuiterpen (Khamidinal, 2009).
Minyak daun cengkeh termasuk salah satu komoditi ekspor terbesar di Indonesia dan
berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Minyak cengkeh merupakan
minyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan bagian tanaman cengkeh terutama daun dan
bunga cengkeh. Tanaman cengkeh seluruhnya memiliki kandungan minyak, tetapi bunga
cengkeh memiliki kandungan minyak yang paling banyak sekitar (10-20%), tangkai (5-10%)
dan pada daun (1-4%). Minyak cengkeh mengandung beberapa komponen, tetapi komponen
utamanya yaitu eugenol (80-90%) dan kariofilen (10%) (Kardinan, 2005).
Eugenol memiliki rumus molekul C10H12O2 dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-
propenil)fenol. Eugenol memiliki tekstur kental seperti minyak dan berwarna bening
hingga kuning pucat. Eugenol memiliki titik didih 256C dan titik leleh -9C dengan
densitas atau massa jenis 1,06 g/cm3. Eugenol merupakan sumber alami dari minyak
cengkeh yang juga terdapat pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam
air namun mudah larut pada pelarut organik. Eugenol memiliki aroma yang menyegarkan
dan pedas seperti bunga cengkeh kering sehingga sering digunakan sebagai komponen untuk
menyegarkan mulut. Eugenol termasuk dalam senyawa fenolik yang bersifat asam dan
mudah dipisahkan dari senyawa non fenolik dengan cara ekstraksi cair-cair pelarut aktif
karena eugenol memiliki gugus hidroksi (Estien, 2005).
Ekstrasi adalah suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
kelarutannya terhadap dua cairan yang tidak saling larut dan berbeda. Salah satu jenis
ekstraksi yaitu ekstraksi cair-cair. Ekstraksi cair-cair merupakan ekstraksi untuk
memisahkan zat terlarut dari cairan pembawa (diluen) menggunakan pelarut cair. Campuran
diluen dan pelarut merupakan senyawa heterogen yang tidak saling bercampur. Apabila
dipisahkan terdapat 2 fase yaitu fase diluen (rafinat) dan fase pelarut (ekstrak). Perbedaan
konsentrasi zat terlarut dalam suatu fasa dengan konsentrasi pada keadaan setimbang
merupakan pendorong terjadinya pelarutan zat terlarut dari larutan tersebut. Gaya dorong
yang menyebabkan terjadinya proses ekstraksi dapat ditentukan dengan mengukur jarak
sistem dari kondisi setimbang. Fase yang terbentuk terdiri dari dua jenis, yaitu fase rafinat
dan fase ekstrak. Fase rafinat merupakan fase residu yang berisi diluen dan sisa zat terlarut,
sedangakan fase ekstrak merupakan fase yang berisi zat terlarut dan pelarut
(Sastrohamidjojo, 2004).
Proses ekstraksi cair-cair untuk satu komponen bahan atau lebih dalam suatu
campuran dapat dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair dapat dilakukan
dengan cara bertahap atau dengan cara kontinyu dalam corong pisah. Teknik yang sederhana
dan paling banyak dilakukan dengan cara bertahap dan menambahkan pelarut pengekstrak
yang tidak bercampur dengan pelarut pertama melalui corong pemisah, kemudian dilakukan
pengocokan hingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat terlarut pada kedua pelarut dan
didiamkan beberapa hingga terbentuk dua lapisan dan lapisan di bawah memiliki kerapatan
lebih besar dapat dipisahkan untuk dilakukan analisis lagi. Ekstraksi cair-cair digunakan
apabila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan seperti halnya
karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya terhadap panas. Ekstraksi cair-cair
pada dasarnya sama dengan proses ekstraksi padat-cair yang selalu terdiri dari minimal dua
tahap yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan
kedua fasa cair hingga sempurna (Estien, 2005).
Senyawa eugenol dapat dipisahkan dari minyak daun cengkeh dengan cara ekstraksi
cair-cair dengan menggunakan pelarut aktif dan pemisahan eugenol dengan asam-asam
anorganik. Eugenol juga dapat dipisahkan melalui proses penggaraman atau dengan cara
direaksikan dengan basa alkali encer. Tahapan terpenting pada isolasi eugenol dari minyak
daun cengkeh yaitu mengekstrak komponen non eugenol yang ada dalam air atau larutan
non eugenolat. Ekstraksi dilakukan dalam corong pemisah dengan cara ekstraksi cair-cair
tak kontinyu. Ekstraksi cair-cair tak kontinyu mempunyai kendala diantaranya yaitu
pengulangan berulang kali, terjadinya kenaikan tekanan internal dan emulsi dalam corong
pemisah, dan kehilangan pelarut yang relatif besar. Betakariofilen yang masih ada dalam
eugenol dihasilkan pada pemurnian eugenol dengan ekstraksi cair-cair tak kontinyu,
sehingga pada pemurnian eugenol dari minyak daun cengkeh digunakan ekstraksi cair-cair
kontinyu (Rusli, 1980).

Material Safety Data Sheet (MSDS)


Magnesium Sulfat (MgSO4)
Magnesium sulfat memiliki rumus kimia MgSO4. Magnesium sulfat berbentuk
padat, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Magnesium sulfat memiliki berat
molekul 120.38 g/mol dengan titik didih dan titik leleh tidak tersedia. Magnesium sulfat
berbahaya apabila terjadi kontak kulit, mata, tertelan dan terhirup. Pertolongan pertama
yang dapa dilakukan apabila terjadi kontak kulit segera cuci menggunakan sabun
desinfektan dan bilas dengan air mengalir. Magnesium sulfat yang terhirup segera berikan
korban pada tempat udara segar dan berikan bantuan pernapasan (Anonim, 2017).
Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida memiliki wujud padat, dingin, berbau dan berwarna putih. Titik
didihnya 1388 C dan titik leburnya 323 C. Natrium hidroksida biasanya berwujud cair,
tidak berwarna dan tidak tidak berbau. Kelarutan natrium hidroksida yaitu mudah larut
dalam air. Identifikasi bahaya dari natrium hidroksida yaitu berbahaya dalam kasus
kontak mata (iritan). Tindakan yang dilakukan adalah dengan membasuh mata yang
teriritasi dengan air mengalir selama minimal 15 menit (Anonim, 2017).
Dietil Eter
Dietil eter berwujud cair, berasa tajam dan tidak berwarana. Berat molekul dietil
eter 74,12g/mol. Titik didih dietil eter adalah 36,4C dan titik lelehnya -116,3C.
kelarutan dietil eter yaitu larut dalam aseton dan sebagian larut dalam air dingin. Dietil eter
berbahaya dalam kasus inhalasi. Tindakan yang dilakukan ssat terjadi inhalasi yaitu segera
pindahkan korban untuk menghirup udara segar (Anonim, 2017).
Asam Klorida (HCl)
Asam klorida berwujud cair, berasa peda dan berwarna kekuningan. Berat molekul
asam klorida yaitu tidak berlaku. pH asam klorida yaitu asam kuat. Titik didih asam klorida
yaitu 108,58C dan titik leburnya -62,25C. kelarutan asam klorida yaitu dalam air dingin,
panas dan dietil eter. Asam klorida sangat berbahaya saat tertelan. Tindakan pertolongan
pertama jika tertelan yaitu jangan memaksakan muntah kecuali diarahkan oleh tenaga
medis (Anonim, 2017).
Besi (III) Klorida
Besi(III)klorida memiliki rumus kimia FeCl3. Besi(III)klorida ini berbentuk
padatan dengan berat molekul sebesar 162,21 g/mol. Besi(III)klorida mempunyai titik
didih sebesar 316C dan titik lelehnya sebesar 306C. Besi(III)klorida mempunyai pH
sama dengan 2, senyawa ini berbahaya apabila tertelan dan terjadi kontak dengan mata.
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah membilas mata dengan air mengalir
15menit hingga mata benar benar bersih. Besi(III)klorida yang tertelan jangan
memuntahkan secara langsung, dan jangan memasukkan benda apapun kedalam mulut.
Apabila terjadi iritasi yang berkelanjutan segera hubungi pihak medis (Anonim, 2017).

Prinsip Kerja
Percobaan isolasi eugenol dari daun cengkeh pada percobaan kali ini dilakukan
dengan menggunakan metode ekstraksi cair-cair. Ekstraksi cair-cair merupakan ekstraksi
dengan menggunakan 2 pelarut yang berbeda di mana prinsip dari ekstraksi ini adalah
distribusi zat terlarut diantara 2 pelarut tersebut. Penambahan NaOH untuk mengekstrak
eugenol sehingga membentuk garam natrium eugenol bebas. Pengocokan kuat bertujuan
agar larutan bersifat homogen. Penambahan HCl bertujuan untuk mensubstitusi ion natrium
dalam garam natrium eugenol agar terbentuk senyawa eugenol. Uji positif eugenol dengan
FeCl3 ditandai dengan warna ungu.
Alat
Beaker glass, batang pengaduk, corong pisah, gelas ukur, pipet tetes, statif,
penangas air, termometer, erlenmeyer, tabung reaksi.
Bahan

Minyak cengkeh, NaOH 10%, petroleum, HCl 25%, kertas lakmus biru, MgSO4
anhidrat, FeCl3.

Prosedur Kerja
Dimasukkan 23,6 gram minyak cengkeh kedalam beaker glass. Ditambahkan 23,6
mL larutan NaOH 10%, kemudian diaduk sampai homogen. Ditambahkan 10 mL
petroleum kemudian dipindahkan kedalam corong pisah, dikocok kuat-kuat dan didiamkan
selama 10 menit sampai terbentuk dua lapisan. Fasa polar (anorganik), yang berada
dilapisan bawah, dipisahkan dan ditampung dalam beaker glass. Fasa non polar (organik),
yang berada dilapisan atas, ditambahkan 10 mL larutan NaOH 10% dikocok kuat-kuat, lalu
didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Fasa polar (anorganik) dipisahkan dan digabung
dengan fasa polar sebelumnya (poin 2). Ditambah HCl 25% tetes demi tetes kedalam fasa
polar (bagian bawah) sampai terbentuk gumpalan-gumpalan coklat atau mempunyai pH 3
(tes menggunakan lakmus biru). Dipindahkan dalam corong pisah, lalu ditambahkan
dietileter 10 mL. Dikocok kuat-kuat, kemudian didiamkan selama 10 menit sampai
terbentuk dua lapisan. Fasa organik ditampung dalam beaker glass. Diuapkan pelarut
petroleum yang terdapat dalam fasa organik tersebut, dalam lemari asam menggunakan
penangas air (suhu air 50C). Residu yang diperoleh ditambahkan sejumlah kecil kristal
MgSO4. Didekantasi residu yang mengandung eugenol tersebut. Ditimbang berat eugenol
dan diukur volumenya menggunakan gelas ukur. Dihitung rendemen/kadar eugenol dalam
minyak cengkeh tersebut. Uji positif akan adanya eugenol dalam residu yang diperoleh
adalah terbentuknya warna ungu jika ditambahkan larutan FeCl3.

Waktu yang dibutuhkan


No. Kegiatan Waktu
1. Preparasi sampel 20 menit
2. Pengocokan pada corong pisah 10 menit
3. Didiamkan 15 menit
4. Pemisahan fase dan penambahan NaOH 40 menit
5. Penambahan HCl 20 menit
6. Penambahan petroleum 10 menit
7. Pemisahan dengan corong 10 menit
8. Proses pemanasan 5 menit
9. Penambahan MgSO4 5 menit
10. Penambahan FeCl3 5 menit
Total 150 menit

Hasil
Hasil Pengamatan Gambar
No. Bahan Perlakuan

Minyak cengkeh
berwarna kuning cerah,
saat penambahan NaOH
berwarna kuning pucat
23,6 mL (pekat) dan terasa hangat
1. minyak + 25 mL NaOH setelah diaduk. Setelah penambahan
cengkeh NaOH

Larutan tetap berwarna


kuning pekat (kuning
+ 10 mL PE dan
kunyit). Setelah
dikocok kuat
Campuran pengocokan keluar gasa

minyak dari kran corong pisah.


2. Terbentuk 2 lapisan
cengkeh dan
(fasa). Bagian atas
NaOH
Didiamkan 10 berwarna coklat bening
menit dan bagian bawah
berwarna coklat tua.
Larutan berwarna kuning
bening, setalah
+ NaOH 10 mL
penambahan NaOH
dan dikocok
berwarna kuning pucat.
Fase nonpolar
3. bagian atas Terbentuk 2 lapisan
(organik) (fasa). Bagian atas
Didiamkan selama berwarna kuning bening
10 menit dan bagian bawah
berwarna kuning
kecoklatan.
+ HCl 25% 400 Larutan terbentuk

Fase Polar tetes sampai menjadi 2 fase. Bagian

4. bagian bawah terbentuk atas berwarna coklat dan

(anorganik) gumpalan coklat bagian bawah berwarna


dengan pH 3. putih keruh.

- Ditambah PE Larutan terbentuk

dan dikocok menjadi 2 fase. Bagian


Campuran fase
5. kemudian atas berwarna coklat tua
polar dan HCl
didiamkan dan bagian bawah

selama 10 menit berwarna putih keruh.


Larutan menguap
- Dipisahkan dari sebanyak 10mL yang
Fase nonpolar corong volume awalnya sebesar
6.
bagian atas kemudian 30mL dan tidak terjadi
diuapkan perubahan warna.
7. Larutan Minyak - Ditambah Larutan berwarna coklat
berwarna coklat MgSO4 dan tua, MgSO4 hanya larut
tua didekantasi sebagian.

- Ditambah 5 Larutan berwarna coklat


tetes FeCl3 keunguan.

Data dan Perhitungan


Diketahui :
Volume sampel = 23.6 mL
Volume rendemen = 18 mL
Ditanya :
Presentase rendemen yang dihasilkan ?
Jawab :

Pembahasan Hasil
Praktikum pertama mengenai isolasi eugenol dengan tujuan untuk mempelajari
teknik pemisahan cara kimia (cair-cair) dan juga untuk mempelajari teknik isolasi eugenol
dari minyak cengkeh. Eugenol merupakan komponen kimia dalam minyak cengkeh yang
memberikan bau dan aroma khas pada minyak cengkeh. Isolasi eugenol dari minyak
cengkeh dapat dilakukan melalui beberapa teknik isolasi diantaranya yaitu proses ekstraksi,
distilasi
fraksionasi, kromatografi kolom dan distilasi molekular. Percobaan isolasi eugenol kali ini
dari minyak cengkeh yang dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair bertahap. Teknik
yang dilakukan dengan menambahkan pelarut pengekstrak yang tidak bercampur dengan
pelarut pertama melalui corong pisah dan dilakukan pengocokan hingga terbentuk
kesetimbangan konsentrasi zat terlarut pada kedua pelarut.
Isolasi eugenol dari minyak cengkeh dilakukan beberapa tahap diantaranya yaitu
ekstraksi minyak cengkeh menggunakan NaOH dan petroleum, pengasaman dengan HCl,
ekstraksi eugenol menggunakan pelarut petroleum dan proses penguapan untuk
memurnikan eugenol yang telah didapatkan. Tahap pertama yang dilakukan yaitu
menyiapkan minyak cengkeh sebanyak 23,6 mL dan ditambahkan NaOH 10% sebanyak
25mL. Campuram minyak cengkeh dan NaOH yang terdapat didalam beaker kemudian
diaduk sampai kedua larutan tersebut menjadi homogen. Penambahan NaOH dapat
digunakan untuk mengisolasi karena pada saat NaOH ditambahkan dalam minyak cengkeh
keduanya dapat bereaksi menghasilkan garam natrium eugenolat. Reaksi yang terjadi
sebagai berikut
Na
OH O
OCH3 OCH3

NaOH

CH2 CH2
Eugenol Natrium eugenolat

Ekstraksi eugenol dalam minyak cengkeh dilakukan dengan penambahan pelarut


petroleum sebanyak 10 mL dalam corong pisah. Corong pisah yang telah ditambahkan
petroleum dikocok kuat-kuat agar eugenol dalam minyak cengkeh dapat terekstraksi dalam
petroleum. Penambahan petroleum ini bertujuan untuk mengekstrak komponen non
eugenol dari minyak cengkeh. Pengocokan yang dilakukan harus kuat untuk mempercepat
pemisahan komponen eugenol dan non eugenol dari minyak cengkeh. Saat pengocokan
terdapat gas yang dikeluarkan pada kran corong pisah. Gas tersebut berasal dari pelarut
yang bersifat volatil yaitu petroleum saat dikocok akan mengeluarkan gas, sehingga setiap
setelah dilakukan pengocokan kran corong pisah harus dibuka sesaat agar tidak
menimbulkan
tekanan gas yang dapat menyebabkan ledakan pada corong pisah. Campuran dalam corong
pisah setelah dilakukan pengocokan didiamkan selama 10 menit agar terpisah menjadi 2
fasa. Proses ini berfungsi untuk memberikan waktu sehingga campuran terbentuk 2 fase
larutan dengan kepolaran yang berbeda. Lapisan atas yang terbentuk berwarna coklat
bening, dan lapisan bawah berwarna coklat tua.
Fase polar yang berada pada bagian bawah dan fase nonpolar pada bagian atas yang
terbentuk kemudian dipisahkan. Fase nonpolar (fase organik) ini kemudian ditambah
dengan larutan NaOH sebanyak 10 mL. Penambahan NaOH bertujuan untuk mengekstrak
kembali komponen eugenol dari minyak cengkeh yang kemungkinan masih terdapat dalam
fase organik. Campuran tersebut dikocok kuat-kuat kembali dalam corong pisah kemudian
didiamkan hingga terbentuk dua lapisan lagi. Lapisan bawah atau fasa polar yang
mengandung natrium eugenolat dimasukkan dalam gelas beaker dan ditambahkan dengan
larutan HCl 25% tetes demi tetes 400 tetes hingga terbentuk gumpalan coklat dengan
warna larutan putih keruh dan bersifat asam dalam fasa polar tersebut. Keasaman larutan
dapat ditandai dengan berubahnya kertas lakmus berwarna biru menjadi merah. Larutan
yang awalnya berwarna coklat tua berubah menjadi coklat muda keruh dan terdapat
gumpalan coklat. Penambahan HCl tersebut bertujuan untuk membebaskan eugenol dari
garam natrium eugenolat dengan cara H+ dari HCl mensubstitusi Na+ dari natrium
eugenolat sehingga terbentuk senyawa eugenol. Larutan dalam beaker glass setelah
ditambahkan HCl dan telah mengandung senyawa eugenol dimasukkan ke dalam corong
pisah kembali dan ditambahkan pelarut petroleum sebanyak 10 mL. Corong pisah yang
berisi campuran tersebut dikocok kuat-kuat sambil membuka kran corong pisah agar gas
dari petroleum dapat dikeluarkan dan tidak menimbulkan ledakan. Pengocokan tersebut
berfungsi untuk mempercepat pemisahan larutan sehingga komponen eugenol dapat
terekstrak dalam pelarut petroleum. Campuran dalam corong pisah didiamkan sekitar 10
menit hingga terbentuk dua lapisan. Dua lapisan yang terbentuk terdiri dari fasa polar dan
fasa non polar. Fasa non polar berada pada bagian atas berwarna coklat tua dan
mengandung garam natrium klorida (NaCl) hasil pemisahan natrium eugenolat dengan HCl
untuk membentuk senyawa eugenol. Sedangkan pada lapisan bawah merupakan fasa polar
berwarna putih keruh yang mengandung petroleum dan ekstrak eugenol. Kedua fasa
tersebut dipisahkan dan fasa non polar yang mengandung senyawa eugenol dimasukkan ke
dalam beaker untuk diuapkan. Penguapan ini bertujuan untuk menguapkan pelarut dalam
fasa non polar yaitu petroleum dan H2O sehingga diperoleh
eugenol yang bebas dari pelarut dan diperoleh residu hasil isolasi eugenol dari minyak
cengkeh. Pemanasan dilakukan dalam penangas air hingga larutan sisa sedikit. Hasil
penguapan fasa non polar berwarna coklat.
Proses selanjutnya penambahan padatan kristal MgSO 4 ke dalam larutan yang telah
diuapkan. Penambahan MgSO4 bertujuan untuk mengikat air yang masih tersisa dalam
residu kemudian didekantasi sehingga diperoleh eugenol yang bebas dari pelarutnya. Pada
larutan tersebut MgSO4 hanya larut sebagian sehingga dapat didekantasi. Pengujian adanya
eugenol dapat dilakukan dengan penambahan FeCl3. Hasil positif adanya eugenol larutan
berubah menjadi warna ungu setelah ditambahkan FeCl3 sebanyak 5 tetes. Hal ini
menandakan minyak cengkeh yang digunakan mengandung eugenol. Percobaan yang
dilakukan seharusnya apabila kita menggunakan minyak cengkeh sebanyak 33,6 mL
dihasilkan eugenol sebanyak 18,9 Ml. Hasil yang didapat dari praktikum ini sebamyak 18
mL dengan presentase sebesar 76,27%.

Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh pada percobaan isolasi eugenol kali ini yaitu sebagai
berikut:
- Teknik ekstraksi cair-cair dilakukan untuk memperoleh ekstrak eugenol dari minyak
cengkeh. Ekstraksi cair-cair merupakan cara memisahkan komponen dalam suatu
senyawa dengan menggunakan 2 pelarut berbeda yang keduanya tidak saling
melarutkan.
- Isolasi eugenol dalam minyak cengkeh dilakukan dengan menggunakan NaOH untuk
memisahkan komponen eugenol dan komponen non eugenol dalam minyak cengkeh
kemudian menggunakan HCl untuk membebaskan eugenol dari garamnya dan
dilanjutkan dengan proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut petroleum.

Referensi
Estien, Y. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI.
Kardinan, A. 2005. Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Jakarta: Agro media Pustaka.
Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rusli. 1980. Pengaruh suhu dan kosentrasi NaOH pada isolasi eugenol dari minyak
daun cengkeh. Bogor: IPB press.
Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: UGM University Press.
Saran
Sebaiknya praktikan telah memahami prosedur kerja pada buku petunjuk praktikum
agar dapat meminimalisir kemungkinan kesalahan dan kecelakaan yang mungkin terjadi.
Sebaiknya konsep mengenai praktikum isolasi eugenol ini lebih dipahami lagi sehingga
lebih baik dan tidak terjadi kesalahan saat melakukan praktikum.

Nama Praktikan
Ageliya Dwi Pratiwi (151810301009)