Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN RESMI

MATERI : WETTED WALL COLUMN


KELOMPOK: 6 / KAMIS
ANGGOTA : 1. ABRAR HARIST (21030112120011)
2. LUH ASTLA DIVA SAVITRI (21030112140183)
3. NITA ARIANI (21030112120022)

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
LAPORAN RESMI

MATERI : WETTED WALL COLUMN


KELOMPOK: 6 / KAMIS
ANGGOTA : 1. ABRAR HARIST (21030112120011)
2. LUH ASTLA DIVA SAVITRI (21030112140183)
3. NITA ARIANI (21030112120022)

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN RESMI

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS DIPONEGORO

Materi : Wetted Wall Column


Kelompok : 6 / Kamis
Anggota : 1. Abrar Harist (21030112120011)
2. Luh Astla Diva Savitri (21030112140182)
3. Nita Ariani (21030112120022)

Semarang, 02 Desember 2014


Mengesahkan,
Dosen Pembimbing

Ir. Hantoro Satriadi, M.T.


NIP. 19600115 198810 1 001

ii
INTISARI

Wetted Wall Column (WWC) merupakan suatu alat kolom dinding terbasahi dimana
di dalamnya terjadi perpindahan massa dari fase cair ke fase gas. Praktikum ini dilakukan
untuk menentukan besarnya Kgl dalam berbagai kondisi operasi serta hubungan antara
bilangan tak berdimensi NRe dan NSh.
Pada dasarnya susunan WWC terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kolom
perpindahan massa, sistem aliran dan pengukuran fase gas serta sistem aliran dan
pengukuran fase cair. Humidifikasi adalah proses perpindahan air dari fase cair ke dalam
campuran gas yang terdiri dari udara dan uap air karena adanya kontak antara cairan yang
temperaturnya lebih tinggi dengan campurannya. Beberapa faktor bilangan yang
mempengaruhi Kgl meliputi Laju alir, bilangan reynold (NRe),bilangan sherwood (NSh) dan
faktor bentuk alat (L/D)
Percobaan ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap operasi.
Tahap persiapan meliputi kalibrasi laju alir air dan udara menggunakan skala rotameter air
dan udara. Alat wet test meter diisi 4 liter air kemudian dipasang pada pipa keluar kolom,
atur skala rotameter udara lalu catat waktu untuk sekali putaran jarum, ulangi untuk skala
lain. Untuk kalibrasi rotameter air dilakukan dengan mengalirkan air kran kemudian atur
skala rotameter air, ukur volume air yang keluar selama 10 detik, ulangi untuk skala lain.
Pada tahap operasi dilakukan dengan mengukur temperatur wet bulb dan dry bulb udara
masuk dan udara keluar pada variabel laju alir air maupun udara. Termometer untuk wet
bulb dibungkus kapas basah terlebih dahulu. Kemudian kedua termometer dimasukkan pada
pipa udara masuk dan keluar. Pengukuran suhu dilakukan setiap 10 menit untuk setiap
variabel skala.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa semakin besar laju alir air dan udara maka
nilai Kgl semakin besar. Semakin besar laju alir air dan udara, nilai NRe yang diperoleh
semakin besar. Hal ini menandakan aliran air dan udara semakin turbulen. Hubungan antara
NSh dengan NRe adalah jika nilai NRe semakin besar maka nilai NSh juga semakin besar, dapat
dinyatakan dengan persamaan NSh = 2.341 x 10-18 (NRe)5.4623 untuk air dan NSh = 5.007 x 108
(NRe)1.6876 untuk udara.
Saran untuk praktikum ini yaitu pengukuran Td dan Tw dilakukan dengan cermat dan
kedua termometer tidak saling bersentuhan. Termometer yang digunakan untuk mengukur Tw
ditutupi dengan kapas yang dibasahi dengan air secara merata. Termometer tidak saling
bersentuhan dengan dinding pipa saat tahap pengoperasian.

iii
SUMMARY

Wetted Wall Column (WWC) is a wetted column where inside of this column occurs
mass transfer from liquid phase to gas phase. The purpose of this experiment is to determine
mass transfer coefficient (Kgl) in some variety of operating conditions and to assign
relationship between dimensionless number, NRe and NSh.
Basically, WWC arrangement consists of three main parts that is mass transfer, flow
measurement system of gas phase and flow measurement system of liquid phase.
Humidification is a process of transfer water from the liquid phase into the gas mixture
consisting of air and water vapor due to the contact between the liquid temperature is higher
with the mixture. Some of the factors that influence the number of Kgl are Flow rate,
Reynolds number (NRe), Sherwood number (NSh) and appliance form factor (L/D)
This experiment conducts in two steps: preparation step dan operation step. The
preparation step includes water rotameter calibration air and air calibration with rotameter.
Wet test meter is filled with 4 liters water then mounted on output pipe of the column, set the
air rotameter scale and note the time for all round needle, repeat for the other scales. For
water rotameter calibration performed by flowing water from the valve, set rotameter scale,
measuring the volume of water that comes out for 10 seconds and repeat for the other scales.
At the operation step performed by measuring the temperature of the wet bulb and dry bulb
air in and air out at some variables flow rate of water and air. To the wet bulb thermometer
wrapped in damp cotton wool first. Then the second thermometer inserted in output and input
pipe. Temperature measurement is performed every 10 minutes for each variable scale.
From the experimental results obtained that greater of flow rate water and air, the
value of Kgl obtained greater. Greater of flow rate water and air, the value of NRe obtained
greater. This indicates the flow of water and air get turbulent. The relationship between NRe
with NSh is greater value of NRe, the value of NSh obtained greater too. It can be expressed by
the equation NSh = 2.341 x 10-18 (NRe)5.4623 for water and NSh = 5.007 x 108 (NRe)1.6876 for air.
Suggestions for this experiment is the measurement of Td and Tw is done carefully and
the second thermometer not touch each other. Thermometer are used to measures Tw covered
with cotton soaked with water evenly. Thermometer is not touching the pipe wall when the
operation step.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Operasi Teknik Kimia dengan materi
Wetted Wall Column.

Dalam penulisan laporan resmi ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan laporan resmi ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan resmi ini, khususnya kepada :
1. Kedua orang tua kami yang selalu mendoakan dan menjadi penyemangat kami.
2. Ir. Hantoro Satriadi, M.T. selaku Dosen pembimbing Laboratorium Operasi Teknik
Kimia.
3. Asisten-asisten laboratorium Operasi Teknik Kimia yang telah membimbing kami.
4. Laboran yang telah membantu dalam menyiapkan peralatan praktikum.
5. Teman-teman Teknik Kimia yang dapat bekerjasama dengan baik.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan resmi ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dengan menambah ilmu pengetahuan yang baru bagi pembaca.

Semarang, Desember 2014

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .....................................................................................................i


LEMBAR PENGESAHAN .. ....................................................................................... ii
INTISARI ................................................................................................................... iii
SUMMARY .................................................................................................................iv
KATA PENGANTAR .................................................................................................. v
DAFTAR ISI ...............................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL .......................................................................................................ix
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Percobaan ........................................................................................... 1
1.3 Manfaat Percobaan ......................................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Humidifikasi................................................................................................... 2
2.2 Wetted Wall Column ...................................................................................... 3
2.3 Bilangan Tak Berdimensi............................................................................... 4
2.4 Pengertian Tentang Koefisien Perpindahan Massa ........................................ 5
2.5 Perpindahan Massa pada Wetted Wall Column .............................................. 7
2.6 Teori Penetrasi ............................................................................................. 11
2.7 Teori Film .................................................................................................... 12
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan ................................................................. 13
3.2 Variabel Percobaan ...................................................................................... 13
3.3 Gambar Alat Utama ..................................................................................... 13
3.4 Respon ......................................................................................................... 14
3.5 Data yang Dibutuhkan ................................................................................. 14
3.6 Prosedur Percobaan ..................................................................................... 14
3.7 Analisis Hasil Percobaan ............................................................................. 15
BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan ........................................................................................... 16
4.2 Pembahasan ................................................................................................. 18

vi
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 23
5.2 Saran ............................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 24
LAMPIRAN
LAPORAN SEMENTARA
LEMBAR PERHITUNGAN
REFERENSI
LEMBAR ASISTENSI

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Wetted Wall Column ................................................................................. 3


Gambar 2.2 Pengaruh Koefisien Perpindahan Massa dari Fase Gas ke Fase Cair atau
dari Fase Cair ke Fase Gas ..................................................................... 5
Gambar 2.3 Penampang Membujur dari Wetted Wall Column untuk Bagian Dimana
Perpindahan Massa Fase Diukur ............................................................. 7
Gambar 2.4 Teori Penetrasi ........................................................................................ 11
Gambar 2.5 Teori Film ............................................................................................... 12
Gambar 3.1 Alat Praktikum Wetted Wall Column ..................................................... 13
Gambar 4.1 Grafik Hubungan Laju Alir Air terhadap Kgl Air .................................. 18
Gambar 4.2 Grafik Hubungan Laju Alir Udara terhadap Kgl Udara ......................... 18
Gambar 4.3 Grafik Hubungan Laju Alir Air terhadap NRe Air .................................. 20
Gambar 4.4 Grafik Hubungan Laju Alir Udara terhadap NRe Udara ......................... 20
Gambar 4.5 Grafik Hubungan NRe Air terhadap NSh Air ............................................ 21
Gambar 4.6 Grafik Hubungan NRe Udara terhadap NSh Udara .................................. 21

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Kalibrasi Rotameter Udara ................................................................ 16


Tabel 4.2 Hasil Kalibrasi Rotameter Air .................................................................... 16
Tabel 4.3 Hasil Variabel Laju Alir Udara .................................................................. 17
Tabel 4.3 Hasil Variabel Laju Alir Air ....................................................................... 17

ix
WETTED WALL COLUMN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perpindahan massa antar fase hampir dijumpai disetiap proses dalam teknik kimia,
sebagai contoh: ekstraksi cair-cair, leaching, distilasi, absorbsi, pengeringan, dan
pendinginan. Kontak antar fase gas dan cairan dapat terjadi dalam berbagai cara, misalnya:
peristiwa dimana cairan dilewatkan kedalam bentuk lapisan film yang bergerak melalui cairan
gas dilewatkan melalui tray tower. Dengan adanya kontak antar gas dan cairan, maka akan
terjadi perpindahan massa antara gas dan cairan. Oleh karena itu diperlukan koefisien
perpindahan massa dari fase gas ke cairan (Kgg) atau sebaliknya (Kgl).

1.2 Rumusan Masalah


Praktikum WWC (Wetted Wall Column) merupakan praktikum yang membahas
tentang perpindahan massa antar fasa, yaitu gas, dan cairan. Pada praktikum ini akan
didapatkan besarnya koefisien perpindahan massa (Kgl), kondisi operasi (temperatur, tekanan,
laju alir udara, dan laju alir air) yang mempengaruhi besarnya kgl dan nilai bilangan tak
berdimensi yaitu pengaruh bilangan Reynold terhadap bilangan Sheerwood.

1.3 Tujuan Percobaan


1. Menentukan besarnya Kgl pada berbagai variabel operasi.
2. Menentukan pengaruh bilangan tak berdimensi NRe terhadap NSh.

1.4 Manfaat Percobaan


1. Mengetahui kondisi operasi yang mempengaruhi Kgl
2. Mengetahui fenomena yang terjadi pada saat praktikum Wetted Wall Column

1
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Humidifikasi
Humidifikasi adalah proses perpindahan/penguapan air dari fase cair ke dalam
campuran gas yang terdiri dari udara dan uap air karena adanya kontak antara cairan yang
temperaturnya lebih tinggi dengan campurannya. Dalam proses humidifikasi, tergantung pada
beberapa parameter, diantaranya:
Temperature Dry Bulb
Temperature dry bulb adalah temperatur yang terbaca pada termometer terkena udara
bebas namun terlindung dari radiasi dan kelembapan. Temperatur dry bulb sering
disebut sebagai temperatur udara, sehingga tidak menujukkan adanya jumlah uap air
di udara.
Temperature Wet Bulb
Temperature wet bulb adalah temperatur kesetimbangan yang dicapai apabila
sejumlah kecil cairan diuapkan ke dalam jumlah besar campuran uap gas yang tidak
jenuh. Metode yang dapat digunakan untuk mengukur temperature wet bulb adalah
dengan menggunakan termometer yang diselubungi kapas atau kain basah kemudian
dialirkan gas yang mempunyai properties T dry dan humidity H. Pada keadaan steady
state, air akan menguap ke dalam aliran gas. Kapas atau kain basah akan mengalami
pendinginan hingga suhu konstan. Suhu inilah yang disebut T wet bulb. Dalam
penerapannya, T wet bulb digunakan untuk menentukan humidity dari campuran air-
udara.
Dew point
Dew point adalah temperatur udara saat saturasi atau temperatur dimana uap air mulai
mengembun ketika campuran udara dan uap air didinginkan.
Enthalpy
Enthalpy adalah banyaknya kalor (energi) yang ada dalam udara setiap satu satuan
massa.
Relative humidity
Relative humidity adalah perbandingan antara fraksi mol uap dengan fraksi mol udara
basah pada suhu dan tekanan yang sama (%).

2
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

Persen humidity
Persen humidity adalah besarnya kandungan uap air dalam udara kering.
( )
% humidity = 100%

Humidity dinyatakan dengan y. Nilai y dapat dicari dengan menggunakan diagram


psikrometrik, dengan mengetahui nilai temperature dry bulb dan temperature wet
bulb.

2.2 Wetted Wall Column

Gambar 2.1 Wetted Wall Column

Ketika dinding kolom dibasahi dan terisolasi dari lingkungannya sehingga sistem
operasi merupakan sistem adiabatik dan cairan diresirkulasi dari bagian dasar kolom melalui
reservoir ke puncak kolom, sistem operasi digambarkan sebagai humidifikasi adiabatik.
Dalam keadaan ini, hubungan antara komposisi gas dan suhu gas dan cairan dapat dihitung
dari termodinamika properti dan neraca massa dan energi. Berdasarkan pertimbangan, dinding
kolom yang dibasahi sebagai humidifier adiabatik dengan ketentuan untuk kontrol suhu cairan
di reservoir dan penambahan "make up" cairan ke reservoir pada suhu terkontrol. Asumsikan
bahwa gas dan cairan seluruh sistem pada awalnya pada suhu yang sama. Massa dari cairan
ditransfer sebagai proses penguapan, penurunan suhu yang diperlukan sebagai panas laten

3
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

penguapan. Suhu cairan yang jatuh di bawah suhu gas, panas ditransfer dari gas ke cairan.
Dengan cara ini gas didinginkan dan dilembabkan.
Jika cairan masuk ke puncak kolom, harus dipertahankan pada suhu cairan keluar,
tingkat suhu menurun cair, dan gradien suhu cairan melalui kolom menurun sedangkan suhu
dan kelembaban gas yang masuk tetap konstan . Suhu gas yang keluar akan menurun karena
suhu cairan berkurang karena kecepatan transfer panas yang lebih besar diperoleh dengan
perbedaan besar dalam suhu antara gas dan cairan. Suhu gas buang akan selalu lebih tinggi
dari cairan masuk. Proses pendinginan ini akan berlanjut sampai laju transfer panas dari gas
ke cairan hanya setara dengan panas laten yang dibutuhkan untuk menguapkan cairan.

2.3 Bilangan Tak Berdimensi


Terdapat beberapa faktor bilangan yang mempengaruhi koefisien perpindahan massa
(Kgl) diantaranya meliputi:
Bilangan Reynold (NRe)
Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vs)
terhadap gaya viskos (/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut
dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan ini digunakan untuk
mengidentifikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan turbulen. Dengan
perumusan nilai bilangan sebagai berikut.

Re = = =

Dimana:
Vs = kecepatan fluida
L = panjang karakteristik
= viskositas absolut fluida dinamis
= viskositas kinematis fluida: = /
= kerapatan (densitas) fluida
Bilangan Schmidt (NSc)
Bilangan Schmidt merupakan rasio dari momentum dan difusivitas massa. Bilangan
ini digunakan untuk menentukan sifat aliran-aliran fluida dimana pada aliran tersebut
proses konveksi-difusi momentum dan massa berlangsung secara simultan. Dengan
perumusan sebagai berikut.

Sc = =

Dimana:

4
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

V = viskositas kinematis (/ dalam satuan unit (m2/s)


D = difusivitas massa (m2/s)
= viskositas dinamis dari aliran fluida (N.s/m2)
= densitas dari fluida (kg/m3)
Bilangan Sheerwood (NSh)
Bilangan Sheerwood (Nusselt) merupakan bilangan tak berdimensi yang digunakan
untuk mengetahui besarnya koefisien transfer massa (Kgl) dimana merupakan rasio
dari koefisien konveksi transfer massa dengan difusivitas transfer massa.

Sh =

Dimana:
K = koefisien transfer massa (m/s)
L = panjang kolom perpindahan massa (m)
D = difusivitas massa (m2/s)

2.4 Pengertian Tentang Koefisien Perpindahan Massa


Koefisien perpindahan massa adalah besaran empiris yang diciptakan untuk
memudahkan persoalan-persoalan perpindahan massa antar fase, yang akan dibahas disini
adalah koefisien perpindahan massa dari fase gas ke fase cair atau sebaliknya dari sifat-sifat
zat untuk menekan. Hal ini dapat diperhatikan pada gambar di dasar ini:

Gambar 2.2 Pengaruh koefisien perpindahan massa dari fase gas ke fase cair atau dari fase
cair ke fase gas

Koefisien perpindahan massa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:


1. Kondisi Operasi
Kondisi operasi dapat berupa laju alir, temperatur dan tekanan.

5
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

2. Kondisi Alat
Kondisi alat meliputi diameter dan tinggi/panjang alat.
3. Sifat Bahan
Sifat bahan dapat berupa densitas, viskositas, diffusivitas.
Bila terjadi perpindahan massa dari fase cair ke fase gas pada bidang selang film, gas
cair dalam hal ini adalah penguapan dari permukaan cairan ke permukaan atau aliran udara.
NAy = JAy + XA ( HAy + NBy) (1)
Dimana :
Nay = fluks massa komponen A (dalam hal ini air) dalam arah y karena terbawa aliran
fluida (gr mol/cm2 det)
NBy = fluks massa komponen B (dalam hal ini udara) dalam arah y karena dimana aliran
fluida (gr mol/cm2 det)
XA = fraksi mol uap air difase gas yang merupakan fungsi dari y dan z
JAy = fluks massa komponen A dalam arah y karena difusi molekuler
(gr mol/cm2 det)
Maka persamaan (1) dapat ditulis kembali sebagai berikut :
NAy XA ( HAy + NBy ) = Jay..... (2)
Menurut Hukum Fid pertama, maka
JAy = C DAB XA / y.......(3)
Pemecahan persamaan (3) untuk menentukan besarnya JAy memerlukan persyaratan
bahwa XA/y diketahui lebih dulu. Untuk memecahkan persoalan yang rumit pada aliran,
maka penggunaan persamaan (3) akan sangat menyulitkan. Oleh karena itu, didefinisikan
koefisien perpindahan massa.
JAy = kg. LoC ( XAo XA )..(4)
Dimana ( XAo XA) adalah beda konsentrasi dan dinyatakan dengan fraksi mol dalam
arah perpindahan massa y. Pendefinisian ( XAo XA) ini menentukan definisi yang tepat dari
kg, LoC (tanda LoC dari fase gas diganti huruf g). Pernyataan lokal disini dimaksudkan untuk
menunjukkan bahwa kg dapat berbeda-beda dari satu posisi lain pada permukaan bidang
selang perpindahan terjadi.
Agar lebih memudahkan pemakaian, maka didefinisikan Kg rata-rata yang dinyatakan
dengan Kgl sebagai berikut :

Kgl = .. (5)

6
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

Menurut definisi dipuncak maka Kgl = harga rata-rata kg . LoC untuk seluruh
permukaan perpindahan massa J. Tentang ( XAo XA) pada umumnya dilakukan
pendefinisian sebagai berikut :
XAo = fraksi mol kompenan A pada fase gas tepat dipergunakan bidang selang
XA = fraksi mol rata-rata komponen A, difase gas atau dengan rumus :

0 = . (6)

A = luas penampang aliran gas yang tegak lurus terhadap permukaan perpindahan massa
XA = seperti didefinisikan dipuncakjuga sehingga cap-muxing arrage dari XA. LoC.

2.5 Perpindahan Massa pada Wetted Wall Coloumn


Guna menelaah perpindahan massa dalam wetted wall column, perhatikan gambar
berikut ini:

Gambar 2.3 Penampang membujur dari wetted wall column untuk bagian dimana
perpindahan massa fasa diukur/ditelaah

Kita tinjau sistem setinggi dz. Neraca material komponen A yang dilakukan terhadap
segmen tersebut menghasilkan persamaan differensial sebagai berikut :
d(W . XA) / dz = JAy D ......(7)
dimana, W = laju alir massa gas dalam arah z (gr mole/det)
Dengan menggunakan kenyataan bahwa penambahan laju alir massa dalam arah z
hanyalah karena adanya fluks massa JAy maka dapat dituliskan hubungan sebagai berikut:

= JAY D .. (8)

7
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

Persamaan (7) dan (8) akan menghasilkan hubungan :



= (1 ). . . ... (9)

Dengan menggunakan (4) maka persamaan (9) dapat diubah menjadi :


...
(1 )(0 )
= .. (10)

Dalam menyelesaikan persamaan (10) maka perlu penganggapan bahwa XA rata-rata


(lihat persamaan (6)), maka anggapan tersebut dapat digunakan. Selanjutnya dengan
mengabaikan perubahan total dari W sepanjang kolom, mka integrasi persamaan (10) untuk Z
= 0 sampai Z = L menghasilkan :
= =
=0 ...
= . (1=0
)(
.. (11)
.. 0 )

Ruas kiri adalah definisi kg,l sedang ekspansi parsiil, ruas kanan dapat dengan mudah
diintegrasikan.
( )0 (1 )
= ...(1 = ln (0)1 (1) . (12)
0 ) 0

Dengan persamaan ini maka kgl dapat ditentukan dari data percobaan.
Korelasi empiris dimensi dapat diketahui bahwa kg,l dipengaruhi oleh NRe, NSc, dan
factor geometris kolom (L/D). Pengaruh faktor-faktor tersebut dapat dinyatakan sebagai
berikut:

NSh = = (, , ).. (13)

NRe = bilangan Reynold untuk aliran gas


NSc = bilangan Schmidt untuk fasa gas
L/D = perbandingan panjang kolom terhadap diameter kolom
Suatu proses dimana terjadi suatu perpindahan suatu unsur pokok dari daerah yang
berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dinamakan perpindahan massa, Perpindahan
massa yang terjadi dari suatu unsur yang berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah
dipengaruhi oleh ciri aliran liquid, seperti pada kasus heat transfer, mekanisme perpindahan
massa terjadi dengan cepat. Jika sejumlah campuran gas yang terdiri dari dua jenis molekul
atau lebih, dimana konsentrasi masing-masing berbeda, maka masing-masing molekul ini
cenderung menuju ke komposisi yang sama seragam. Proses ini terjadi secara alami.
Perpindahan massa makroskopis ini tidak tergantung pada konveksi dalam sistem. Proses ini
didefinisikan sebagai difusi molekul.
Pada persamaan perpindahan massa ditunjukkan hubungan antara flux dari substan
yang terdifusi dengan gradient konsentrasi.

8
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN


JA,Z = - DAB

Dimana JA,Z merupakan molar flux pada Z, merupakan perubahan konsentrasi serta
DAB adalah diffusivitas massa atau koefisien diffusivitas komponen A yang terdifusi melalui
komponen B. Karena perpindahan masssa atau diffui hanya terjadi dalam campuran, maka
pengaruh dari tiap komponen harus diperhitungkan. Misalnya, untuk mengetahui laju diffusi
dari setiap komponen relative terhadap kecapatan campuran. Kecepatan campuran harus
dihitung dari kecepatan rata-rata tiap komponen.
Persamaan diatas dikenal dengan persamaan Freks law, dimana DAB adalah koefisien
diffusivitas. Koefisien diffusivitas tergantung pada:
1. Tekanan
2. Temperatur
3. Komposisi Sistem
Koefisien diffusivitas masing-masing fase berbeda-beda. Koefien diffusivitas untuk
gas lebih tinggi, yaitu antara 5.10-6 10-5 m2/s , untuk liquid 10-10 10-9 m2/s dan untuk solid
10-14 -10-10 m2/s.
Perpindahan massa konvektif termasuk perpindahan antara fluida yang bergerak atau
dua fluida yang bergerak yang tidak tercampur. Model ini tergantung pada mekanisme
perpindahan dan karakteristik gerakan fluida. Persamaan laju perpindahan massa konvektif
sebagai berikut:
NA = k A
Dimana, NA = peprindahan massa molar zat A
A = perbedaan konsentrasi antara permukaan dengan konsentrasi rata-rata fluida
k = koefien perpindahan massa konvektif
Mekanisme perpindahan massa antar permukaan dan fluida termasuk perpindahan
massa molekul melalui lapisan tipis fluida stagnan dan aliran laminar.
Beberapa operasi perpindahan massa yang termasuk difusi suatu komponen gas ke
suatu komponen yang tidak berdifusi anatara lain adalah absorbsi dan humidifikasi.
Persamaan yang digunakan untuk menggambarkan koefisien perpindahan massa konvektif
adalah:
. . 1 . 2
=
. . (2 1 ).
Dimana:
NAZ = laju perpindahan molar

9
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

DAB = diffuisivitas
P = tekanan
R = konstanta gas
T = temperature
Z = jarak
Persamaan ini diperoleh dari teori lapisan atau film theory, dimana gas melewati
permukaan liquid. Teori lapisan ini didasarkan pada model dimana tahanan untuk berdifusi
dari permukaan liquid ke aliran gas diasumsikan terjadi dalam suatu stagnan film atau laminar
film tebal. Dengan kata lain, menunjukkan tebal lapisan liquid.
1. Transfer massa dari gas ke film falling liquid
2. Transfer massa dalam wetted wall column
Kebanyakan data dari transfer massa antara diameter pipa dan aliran fluida telah
ditentukan dengan menggunakan wetted wall columns. Alasan mendasar untuk menggunakan
kolom-kolom ini untuk penyelidikan transfer massa adalah untuk mengontakkan luas area
antara 2 fase sehingga dapat dihitung dengan tepat.
Koefisien transfer massa konvektif untuk jatuhnya liquid film dikorelasikan oleh
Vivian dan pecamenet dengan korelasi:
1
1 2 3 6
= 0,433 ()2 [ 2 ] ()0,4

Dimana:
Z = panjang
DAB = diffuisivitas massa antara komponen A dan B
= densitas liquid B
= viskositas liquid B
g = percepatan gravitasi
Sc = schimdt number (dievaluasikan pada tempeartur film liquid)
Re = Bilangan Reynold

10
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

2.6 Teori Penetrasi


Teori penetrasi yang dinyatakan oleh Trey Ball menyatakan kontak 2 fluida. Pada
gambar (a) gelembung gas membesar melalui liquid yang mengabsorbsi gas. Partikel liquid
mula-mula berada di puncak gelembung dimana partikel liquid siap sepanjang permukaan
gelembung. Pada gambar (b) terlihat dimana liquid dengan gerakan turbulen memperlihatkan
arus eddy konstan.

Gambar 2.4 Teori Penetrasi

Mula-mula partikel gas terlarut tidak seragam dan mula-mula arus eddy dianggap
diam, jika arus eddy dibiarkan berkontak dengan gas pada permukaannya, konsentrasi liquid
permukaan gas Ca yang berada pada kelarutan keseimbangan gas dari liquid selama partikel
liquid menjadi penentu difusi unsteady state atau penetrasi solute pada arah Z.
Untuk waktu yang pendek dan difusinya berlangsung pelan di dalam molekul solute
yang larut tidak pernah mencapai kedalaman Zp sesuai dengan ketebalan arus eddy. Keadaan
puncak yang ada pada fenomena transfer massa dalam dinding kolom yang dibasahi adalah :
CA0 pada 9 = 0 , untuk semua Z
CA pada Z = 0 , 9 > 0
CA0 pada Z = , untuk semua 9

11
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

2.7 Teori Film


Gambar di bawah ini memperlihatkan cairan yang sedang jatuh pada lapisan (film)
dengan aliran laminer ke dasar pada permukaan rotameter yang vertikal berkontak dengan gas
A yang larut ke dalam cairan dengan konsentrasi A yang seragam CA0 dari pada A pada
puncaknya.

Gambar 2.5 Teori Film

Pada permukaan cairan, konsentrasi gas terlarut CA, yang berada dalam keseimbangan
dengan tekanan A pada fase gas karena CA > CA0 gas terlarut ke dalam cairan. Koefisien
perpindahan massa Kgl dengan sejumlah gas terlarut setelah liquid terjenuh sejauh L dan
dihitung.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan penyelesaian simultan persamaan kontinuitas.
Untuk komponen A dengan persamaan yang menggambarkan liquid yaitu persamaan laminer.
Persamaan simultan dan jumlah persamaan diferensial partikel menjadi lebih mudah
dengan beberapa asumsi :
1. Tidak ada reaksi kimia
2. Pada arah A kondisinya tidak berubah
3. Kondisinya steady state
4. Kecepatan adsorbsi gas sangat kecil.
5. Difusi A pada arah yang diabaikan dibandingkan dengan gerakan ke dasar.
6. Sifat-sifat fisiknya constan

12
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan


3.1.1 Bahan
1. Udara
2. Air
3.1.2 Alat
1. Wetted Wall Column
2. Wet Test Meter
3. Termometer
4. Stopwatch
5. Gelas ukur

3.2 Variabel Percobaan


Variabel Tetap : Waktu Kalibrasi Air = 10 detik
Volume Wet Test Meter = 4 Liter
Laju Alir Udara Tetap pada skala rotameter udara = 1100
Laju Alir Air Tetap pada skala rotameter air = 80
Variabel Berubah : Laju Alir dengan Rotameter Udara = 900, 1000, 1100, 1200, 1300
Laju Alir dengan Rotameter Air = 60, 70, 80, 90, 100

3.3 Gambar Alat Utama

Gambar 3.1 Alat Praktikum WWC

13
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

3.4 Respon
1. Kalibrasi Rotameter Air
Volume air yang ditampung (ml) dan waktu 10 detik pada setiap laju alir.
2. Kalibrasi Rotameter Udara
Waktu yang dibutuhkan (detik) untuk 1 kali putaran dengan volume wet test meter 4
L.
3. Tahap Operasi
Suhu (0C) Wet Bulb dan Dry Bulb di dasar dan puncak kolom pada variabel laju alir
air dan variabel laju alir udara pada waktu 10 menit.
4. Analisa Data Hasil Percobaan
Mahasiswa diharapkan dapat :
a) Membuat kurva hubungan koefisien transfer massa (kgl) dengan laju alir dan
dapat menyelesaikan fenomena-fenomena yang terjadi
b) Mengetahui pengaruh Nre terhadap Nsh
c) Mencari konstanta a dan b persamaan bilangan tak berdimensi yang telah
disusun
3.5 Data yang Dibutuhkan
1. Waktu untuk 1 kali putaran jarum wet test meter (sekon)
2. Volume air selama 10 detik (ml)
3. Td dan Tw input
4. Td dan Tw output

3.6 Prosedur Percobaan


Pelaksanaan pekerjaan dapat dibagi dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap
operasi.
A. Tahap Persiapan
1. Kalibrasi Rotameter Udara
Menjalankan rotameter udara
Mengisi wet test meter volume 4 liter dengan air sehingga putaran jarum konstan
Memasang wet test meter dengan air sehingga putaran jarum konstan
Mengatur skala rotameter pada penunjukkan waktu tertentu (use valve)
Menhitung waktu yang diperlukan jarum untuk satu putaran
Mengulangi sampai 3x

14
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

Ulangi langkah di atas untuk skala rotameter udara yang lain


2. Kalibrasi Rotameter Air
Mengalirkan air dengan membuka kran pada jarak tertentu
Membaca skala rotameter pada penunjuk tertentu
Mengalirkan air selama 10 detik dan menampung airnya untuk mengetahui
volumenya
Mengukur volume air
Mengulangi sampai 3x
Mengulangi langkah diatas untuk skala rotameter yang lain
B. Tahap Operasi
1. Mengalirkan air dari kran air pada penunjukkan skala rotameter tertentu
2. Mengalirkan udara pada penunjukkan skala rotameter udara tertentu
3. Mengukur suhu wet bulb (ujung termometer diselubungi kapas basah) dan dry bulb
pada puncak dan dasar kolom
4. Membaca dan mencatat suhu pada termometer
5. Ulangi langkah 1-4 sebanyak 4 skala lainnya

3.7 Analisa Hasil Percobaan


1. Dari percobaan didapat data Td dan Tw pada input serta Td dan Tw pada output
2. Dengan menggunakan Diagram Psychrometric didapat nilai Y (humidity)
3. Perhitungan Kgl
11
Kgl = ln 22

dimana X*A1 plot Tw in , XA1 = Ym dan X*A2 plot Tw out , XA2 = Yk


4. Perhitungan NSh

NSh = 2

NSh = a (NRe) b ; a dan b dicari dengan metode Least Square


5. Perhitungan Prosentase Kesalahan
| ()() |

()
% kesalahan = x 100 %

15
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan

Tabel 4.1 Hasil Kalibrasi Rotameter Udara ( volume air = 4 L )


Waktu / putaran (s) Q Udara
Skala Rata-rata (s)
I II III (m3/s)
900 24 24 25.3 24.43 0.0001637
1000 17.1 17 16.8 16.97 0.0002357
1100 14 14.8 14.6 14.77 0.0002708
1200 14.1 14.6 14.4 14.57 0.0002745
1300 14.4 14.5 14.4 14.43 0.0002772

Tabel 4.2 Hasil Kalibrasi Rotameter Air ( t = 10 s )


Volume air (ml) Rata-rata
Skala Q Air (m3/s)
I II III (ml)
60 185 180 185 183.33 0.000018333
70 215 210 210 211.67 0.000021167
80 250 245 250 248.33 0.000024833
90 260 260 270 263.33 0.000026333
100 290 295 305 296.67 0.000029667

16
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

Tabel 4.3 Hasil Variabel Laju Alir Udara ( skala rotameter air tetap = 80 )
Td in Tw in Td out Tw out
Skala Kgl NRe NSh
(oC) (oC) (oC) (oC)
900 33.3 25.9 29.1 25.5 -4.501 x 10-6 1330.46 8.3 x 1013
1000 34.5 25.9 29.8 25.5 7.013 x 10-6 1915.33 2.6 x 1014
1100 34.5 25.9 29.5 25.3 5.621 x 10-6 2200.62 2.1 x 1014
1200 34.5 26.5 30.1 25.4 5.195 x 10-6 2230.83 1.9 x 1014
1300 34.7 25.9 29.8 25.4 2.881 x 10-5 2525.42 2.1 x 1014

Tabel 4.4 Hasil Variabel Laju Alir Air ( skala rotameter udara tetap = 1100 )
Td in Tw in Td out Tw out
Skala Kgl NRe NSh
(oC) (oC) (oC) (oC)
60 32 25.5 28.5 24.7 -1.26 x 10-6 148.97 2.85 x 10-6
70 31.5 25.5 29.0 25.8 1.051 x 10-6 171.99 4.67 x 10-6
80 32.1 26.0 28.5 25.3 1.401 x 10-6 201.79 2.53 x 10-6
90 32.5 25.5 29.0 25.5 1.446 x 10-6 213.97 6.48 x 10-6
100 31.5 25.0 29.2 25.4 2.798 x 10-6 241.07 8.37 x 10-5

Hubungan NRe dan NSh


Pada variabel laju alir udara : NSh = 5.007 x 108 (NRe)1.6876
Pada variabel laju alir air : NSh = 2.341 x 10-18 (NRe)5.4623

Persen Kesalahan Rata-rata


Pada variabel laju alir udara : 14.76 %
Pada variabel laju alir air : 96.78 %

17
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh Hubungan Laju Alir terhadap Kgl

Laju alir air vs Kgl air


1,50E-05

1,00E-05 y = 0,7975x - 2E-05


R = 0,1786
5,00E-06
Kgl air

0,00E+00
0,00E+00 5,00E-06 1,00E-05 1,50E-05 2,00E-05 2,50E-05 3,00E-05 3,50E-05

-5,00E-06

-1,00E-05

-1,50E-05
Laju alir air (m3/s)

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Laju Alir Air terhadap Kgl Air

Laju alir udara vs Kgl udara


3,50E-05
3,00E-05
2,50E-05
2,00E-05
Kgl udara

1,50E-05 y = 0,1676x - 3E-05


R = 0,4315
1,00E-05
5,00E-06
0,00E+00
0,00E+00 5,00E-05 1,00E-04 1,50E-04 2,00E-04 2,50E-04 3,00E-04
-5,00E-06
-1,00E-05
Laju alir udara (m3/s)

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Laju Alir Udara terhadap Kgl Udara
Dari gambar 4.1 dan gambar 4.2 hubungan antara laju alir terhadap Kgl pada air dan
udara terlihat bahwa semakin besar laju alir air maka nilai Kgl air semakin besar pula karena
bertambahnya debit air. Kgl merupakan koefisien perpindahan massa cair gas. Semakin besar

18
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

laju alir maka semakin banyak massa yang terkandung, oleh karena itu perpindahan massa
cair gas semakin besar.
Pada variabel udara, semakin besar laju alir udara maka nilai Kgl udara juga semakin
besar karena bertambahnya debit udara. Kgl merupakan koefisien perpindahan massa cair gas.
Semakin besar laju alir maka semakin banyak massa yang terkandung sehingga perpindahan
massa cair gas semakin besar. Hal ini dapat ditunjukkan pada persamaan:

Dimana W =
(1+ )

Keterangan :
D : diameter kolom (m)
L : panjang kolom (m)
Quk : laju alir udara (m3/s)
BM : berat molekul udara
Y : Td in saturasi (100% humidity)

19
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

4.2.2 Pengaruh Hubungan Laju Alir terhadap Bilangan Reynold (NRe)

Laju alir air vs N Re air


3,00E+02

2,50E+02 y = 8E+06x - 0,0004


R = 1
2,00E+02
N Re air

1,50E+02

1,00E+02

5,00E+01

0,00E+00
0,00E+00 5,00E-06 1,00E-05 1,50E-05 2,00E-05 2,50E-05 3,00E-05 3,50E-05
Laju alir air (m3/s)

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Laju Alir Air terhadap NRe Air

Laju alir udara vs N Re udara


2,50E+03
y = 8E+06x + 9E-12
2,00E+03
R = 1
N R e udara

1,50E+03

1,00E+03

5,00E+02

0,00E+00
0,00E+00 5,00E-05 1,00E-04 1,50E-04 2,00E-04 2,50E-04 3,00E-04
Laju alir udara (m3/s)

Gambar 4.4 Grafik Hubungan Laju Alir Udara terhadap NRe Udara

Berdasarkan gambar 4.3 dan gambar 4.4 hubungan antara laju alir terhadap bilangan
Reynold (NRe) pada air maupun udara mengalami kenaikan. Dari hasil pecobaan diperoleh
bahwa semakin besar laju alir air dan udara diperoleh NRe yang semakin besar. Harga NRe
menunjukkan bahwa semakin besar NRe maka aliran air maupun udara semakin turbulen.
Semakin besar laju alir air dan udara menyebabkan aliran menjadi turbulen yang ditandai
dengan meningkatnya harga NRe.

20
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

4.2.3 Pengaruh Hubungan Bilangan Reynold terhadap Bilangan Sherwood

N Re air vs N Sh air
1,00E-04

8,00E-05
y = 7E-07x - 0,0001
6,00E-05 R = 0,5216
N Sh air

4,00E-05

2,00E-05

0,00E+00
0,00E+00 5,00E+01 1,00E+02 1,50E+02 2,00E+02 2,50E+02 3,00E+02
-2,00E-05
N Re air

Gambar 4.5 Grafik Hubungan NRe Air terhadap NSh Air

N Re udara vs N Sh udara
3,00E+14

2,50E+14
y = 1E+11x - 5E+13
2,00E+14 R = 0,5336
N Sh udara

1,50E+14

1,00E+14

5,00E+13

0,00E+00
0,00E+00 5,00E+02 1,00E+03 1,50E+03 2,00E+03 2,50E+03
N Re udara

Gambar 4.6 Grafik Hubungan NRe Udara terhadap NSh Udara

Dari gambar 4.5 hubungan antara NRe air terhadap NSh air dan gambar 4.6 hubungan
antara NRe udara terhadap NSh udara mengalami kenaikan. Semakin besar harga NRe maka
harga NSh juga semakin besar. Hal ini dikarenakan NRe yang semakin besar menunjukkan
bahwa alirannya semakin turbulen sehingga nilai Kgl semakin besar dan pada akhirnya harga
NSh juga semakin besar, sesuai persamaan :
NSh = a NRe b ; NSh berbanding lurus dengan NRe
Dari percobaan diperoleh hubungan antara bilangan Reynold dan bilangan Sherwood
pada variabel laju alir air dan laju alir udara, yaitu:

21
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

a) Variabel laju alir air


Dari percobaan didapat hubungan persamaan NSh = 2.34 x 10-18 (NRe)5.4623 dengan
persen kesalahan 96.78 %
b) Variabel laju alir udara
Dari percobaan didapat hubungan persamaan NSh = 5.007 x 108 (NRe)1.6876 dengan
persen kesalahan 14.76 %

22
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Semakin besar laju alir air dan udara maka Kgl air dan udara semakin besar.
2. Semakin besar laju alir air dan udara didapat harga NRe semakin besar.
3. Semakin besar NRe air dan udara didapat NSh udara semakin besar.
4. Hubungan antara NSh dengan NRe dapat dinyatakan dengan persamaan :
NSh = a NRe b. Dimana untuk laju alir air NSh = 2.34 x 10-18 (NRe)5.4623 dan untuk
laju alir udara NSh = 5.007 x 108 (NRe)1.6876

5.2 Saran
1. Pengukuran suhu Td dan Tw pada input maupun output dilakukan dengan cermat
dan tidak bersentuhan.
2. Kapas yang digunakan untuk pengukuran Tw dibasahi secara merata.
3. Termometer tidak bersentuhan dengan dinding pipa input maupun output.

23
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
WETTED WALL COLUMN

DAFTAR PUSTAKA

Bird, R.B., Stewart, Wt.Light., Foote, E.N. 1968. Transport Phenomena.


Mc Cabe, W.L., J Smith. 1956. Unit Operation. Mc Graw Hill. New York.
Treybal,R.E. 1980. Mass Transfer Operation. 3rd ec. Mc Graw Hill Book Co. Book of Japan.

24
LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014
LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA

Materi :

WETTED WALL COLUMN

KELOMPOK : 6 / KAMIS

ANGGOTA : ABRAR HARIST


LUH ASTLA DIVA SAVITRI
NITA ARIANI

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
A. Kalibrasi Rotameter Udara (skala rotameter air = 80)
Skala I (s) II (s) III (s)
900 24 24 25.3
1000 17.1 17 16.8
1100 14 14.8 14.6
1200 14.1 14.6 14.4
1300 14.4 14.5 14.4

B. Kalibrasi Rotameter Air (skala rotameter udara = 1100)


Skala I (ml) II (ml) III (ml)
60 185 180 185
70 215 210 210
80 250 245 250
90 260 260 270
100 290 295 305

C. Variabel Udara (skala rotameter air tetap=80)

Skala Input Output


Td (oC) Tw (oC) Td (oC) Td (oC)
900 33.3 25.9 29.1 25.5
1000 34.5 25.9 29.8 25.5
1100 34.5 25.9 29.5 25.3
1200 34.5 26.5 30.1 25.4
1300 34.7 25.9 29.8 25.4
D. Variabel Air (skala rotameter udara tetap=1100)
T
w Skala Input Output
Td (oC) Tw (oC) Td (oC) Td (oC)
60 32 25.5 28.5 24.7
70 31.5 25.5 29.0 25.8
80 32.1 26.0 28.5 25.3
90 32.5 25.5 29.0 25.5
100 31.5 25.0 29.2 25.4

Semarang, 23 Oktober 2014


Praktikan Asisten

Abrar Diva Nita Joddy Christyawan


LEMBAR PERHITUNGAN

Diameter kolom : 18.8 cm = 0.188 m


Panjang kolom : 5.987 cm = 0.05987 m
Densitas air : 0.995341 gr/ml = 995.341 kg/m3
Densitas udara : 0.0011313 gr/ml = 1.1313 kg/m3
Viskositas air : 0.83 cp = 8.3 x 10-4 kg/m sec
Viskositas udara : 0.018 cp = 1.8 x 10-5 kg/m sec
Suhu ruangan : 30oC = 303 K
Tekanan udara : 1 atm = 1.0132 x 10-5 N/m2

A. Kalibrasi Rotameter Udara (Volume = 4 Liter)


Waktu 1 putaran (t) Q Udara
Skala Rata-rata (t)
I II III (m3/s)
900 24 24 25.3 24.43 0.0001637
1000 17.1 17 16.8 16.97 0.0002357
1100 14 14.8 14.6 14.77 0.0002708
1200 14.1 14.6 14.4 14.57 0.0002745
1300 14.4 14.5 14.4 14.43 0.0002772

B. Kalibrasi Rotameter Air (Waktu = 10 Detik)


Volume (ml) Rata-rata
Skala Q Air (m3/s)
I II III (ml)
60 185 180 185 183.33 0.000018333
70 215 210 210 211.67 0.000021167
80 250 245 250 248.33 0.000024833
90 260 260 270 263.33 0.000026333
100 290 295 305 296.67 0.000029667

Rumus yang digunakan:



Quk =

Qum = x Quk

1
Vm = (1 + )22.4
273
1
Vk = 273 (1 + )22.4

Dari persamaan di atas:


Quk , Qum : debit air keluar , masuk (m3/s)
Vol : volume udara yang mengalir (m3)
Vm , Vk : volume udara masuk , keluar (m3)
Tdi , Tdo : suhu dry bulb masuk , keluar (K)
Pm , Pk : tekanan udara masuk , keluar (N/m2)
Ym , Yk : molal humidity udara masuk , keluar (mol air/mol udara kering)

Dalam percobaan Pm = Pk = 1 atm, maka persamaan menjadi:


(1 + )
=
(1 + )
Ym dan Yk dapat dicari dari diagram psikometrik.
Tw diplotkan pada garis 100% humidity kemudian tarik garis saturated adiabatic ke Td,
maka didapat:
Tw in , Td in Ym
Tw out , Td out Yk

C. Perhitungan Bilangan Reynold Air



NRe = ;v=

4
NRe air = ; D = diameter kolom

D. Perhitungan Tebal Lapisan Film


3 1/3
= [ ] ; g = konstanta gravitasi = 9.8 m/s2

E. Perhitungan Bilangan Reynold Udara


4
NRe udara = (2)

F. Perhitungan Kgl
11
Kgl = ln 22

X*A1 plot Tw in , XA1 = Ym


X*A2 plot Tw out , XA2 = Yk

Dimana, W =
(1+ )

BM udara = 28.97 kg/mol


Y = Td in saturasi (100% humidity)

G. Perhitungan Bilangan Sherwood



NSh = 2

Kgl : koefisien transfer massa udara (mol/m2 sec)


Pm : tekanan parsiil rata-rata
Pt : tekanan total = 1.0132 x 10-5 N/m2
R : konstanta gas ideal = 8.314 Nm/kmol K
T : temperature absolute = 303 K
DAB : difusivitas air udara, interpolasi dari data yang didapat dari Treyball 2-1
2.6384 x 105 m2/s
12
YA1 = X*A1 YA2 = X*A2 P1 = Pt PA1 Pm = P
ln( 1 )
2


PA1 = (1+1 ) Pt PA2 = (1+2 ) Pt P2 = Pt PA2
1 2

H. Perhitungan Bilangan Sherwood


NSh = a (NRe) b ; a dan b dicari dengan Least Square

I. Perhitungan Prosentase Kesalahan


| ()() |

()
% kesalahan = x 100 %

J. Variabel Laju Alir Air (skala udara = 1100)
Skala Air Td in (oC) Tw in (oC) Td out (oC) Tw out (oC) Ym=XA1 Yk=XA2
60 32 25.5 28.5 24.7 0.0178 0.0184
70 31.5 25.5 29.0 25.8 0.0180 0.0188
80 32.1 26.0 28.5 25.3 0.0192 0.0190
90 32.5 25.5 29.0 25.5 0.0174 0.0192
100 31.5 25.0 29.2 25.4 0.0172 0.0194

Skala Air Td in (K) Td out (K) Vm/Vk Q air NRe air


60 305 301.5 1.0111 0.000018333 148.97
70 304.5 302 1.0063 0.000021167 171.99
80 305.1 301.5 1.0121 0.000024833 201.79
90 305.5 302 1.0098 0.000026333 213.97
100 304.5 302.2 1.0054 0.000029667 241.07

Skala Air NRe udara Y W X*A1 X*A2


60 1330.46 0.0315 4.807E-06 0.0206 0.0198
70 1915.33 0.0312 6.870E-06 0.0206 0.0202
80 2200.62 0.0317 7.952E-06 0.0216 0.0206
90 2230.83 0.0321 8.311E-06 0.0206 0.0210
100 2525.42 0.0312 8.258E-06 0.0202 0.0208

Skala Air Kgl PA1 PA2 P1 P2 Pm NSh


60 -1.26 x 10-6 2081.39 2002.13 101039 101117 1.33E+13 2.85 x 10-6
70 1.051 x 10-6 2081.39 2041.78 101039 101078 2.66E+13 4.67 x 10-6
80 1.401 x 10-6 2180.29 2081.39 100940 101038 1.06E+13 2.53 x 10-6
90 1.446 x 10-6 2081.39 2120.97 101039 100999 -2.57E+13 6.48 x 10-6
100 2.798 x 10-6 2041.78 2101.19 101078 101018 -1.77E+13 8.37 x 10-5

Hubungan antara NSh dan NRe


NSh = a (NRe) b
Log NSh = log a + b log (NRe)
y = c + mx
Skala Air Log NRe (x) Log NSh (y)
60 2.173099 -5.545
70 2.235525 -5.329
80 2.304895 -5.599
90 2.330366 -5.188
100 2.3821399 -4.077

Dengan metode Least Square didapat, y = 5.4623 x - 17.631


m = b = 5.4623
c = log a = - 17.631, maka a = 2.34 x 10-18
Didapat NSh = 2.34 x 10-18 (NRe)5.4623

Perhitungan % kesalahan
| ()() |

()
% kesalahan = x 100 %

Skala Air (NSh)h (NSh)p % kesalahan


60 2.85 x 10-6 1.7342E-6 39
70 4.67 x 10-6 3.8028E-6 18
80 2.53 x 10-6 9.0996E-6 261
90 6.48 x 10-6 1.2539E-5 93
100 8.37 x 10-5 2.4041E-5 71
Rata-rata kesalahan 96.78 %

K. Variabel Laju Alir Udara (skala air = 80)


Skala Td in (oC) Tw in (oC) Td out (oC) Tw out Ym=XA1 Yk=XA2
(oC)
900 33.3 25.9 29.1 25.5 0.017 0.0205
1000 34.5 25.9 29.8 25.5 0.0175 0.0195
1100 34.5 25.9 29.5 25.3 0.0195 0.0193
1200 34.5 26.5 30.1 25.4 0.0182 0.0175
1300 34.7 25.9 29.8 25.4 0.0160 0.0181
Skala Td in (K) Td out (K) Vm/Vk Q udara NRe udara
900 306.3 302.1 1.01043 0.0001637 1330.46
1000 307.5 302.8 1.01291 0.0002357 1915.33
1100 307.5 302.5 1.01377 0.0002708 2200.62
1200 307.5 303.1 1.00565 0.0002745 2230.83
1300 307.7 302.8 1.00527 0.0002772 2525.42

Skala Q udara NRe udara Y W X*A1 X*A2


900 0.0001637 1330.46 0.33 4.807E-06 0.21 0.22
1000 0.0002357 1915.33 0.34 6.870E-06 0.215 0.21
1100 0.0002708 2200.62 0.33 7.952E-06 0.22 0.215
1200 0.0002745 2230.83 0.29 8.311E-06 0.215 0.21
1300 0.0002772 2525.42 0.32 8.258E-06 0.19 0.215

Skala Kgl PA1 PA2 P1 P2 Pm NSh


900 -4.501 x 10-6 17896 18595 85223 84524 -1.1E+12 8.3 x 1013
1000 7.013 x 10-6 18247 17896 84872 85223 2.1E+12 2.6 x 1014
1100 5.621 x 10-6 18595 18247 84524 84873 2.1E+12 2.1 x 1014
1200 5.195 x 10-6 18247 17896 84872 85223 2.1E+12 1.9 x 1014
1300 2.881 x 10-5 16464 18247 86655 84872 -4.2E+11 2.1 x 1014

Hubungan antara NSh dan NRe


NSh = a (NRe) b
Log NSh = log a + b log (NRe)
y = c + mx
Skala Log NRe (x) Log NSh (y)
900 3.124 13.919
1000 3.282 14.415
1100 3.342 14.322
1200 3.348 14.279
1300 3.353 14.322
Dengan metode Least Square didapat, y = 1.6875 x + 8.6996
m = b = 1.6875
c = log a = 8.6996 , maka a = 5.007 x 108
Didapat NSh = 5.007 x 108 (NRe) 1.6875

Perhitungan % kesalahan
| ()() |

()
% kesalahan = x 100 %

Skala (NSh)h (NSh)p % kesalahan


900 8.3 x 1013 9.36 x 1013 12
1000 2.6 x 1014 1.73 x 1014 33
1100 2.1 x 1014 2.18 x 1014 3.8
1200 1.9 x 1014 2.23 x 1014 17
1300 2.1 x 1014 2.27 x 1014 8
Rata-rata kesalahan 14.76 %
LEMBAR ASISTENSI

DIPERIKSA
KETERANGAN TANDA TANGAN
NO. TANGGAL
1 01-12-2014 INTISARI
SUMMARY
BAB III
BAB V

2 04-12-2014 LEMBAR PENGESAHAN


BAB 1
BAB 2
BAB 3
BAB 4
DAFTAR PUSTAKA
LEMBAR PERHITUNGAN
Dffwegf COVER
LEMBAR PENGESAHAN

3 04-12-2014 BAB 2
BAB 3
DAFTAR PUSTAKA
LAPORAN SEMENTARA

4 05-12-2014 LAPORAN SEMENTARA