Anda di halaman 1dari 33

1

GANGGUAN FUNGSI PENGHIDU


Meilina Wardhani, Yoan Levia Magdi, Abla Ghanie Irwan

ABSTRAK
Fungsi penghidu mempengaruhi kualitas hidup seorang manusia. Saat ini,
pengetahuan biokimiawi, fisiologi dan patologi tentang sistem-sistem penghidu
atau sistem olfaktorius telah berkembang pesat. Gangguan pada sistem olfaktorius
terbagi atas gangguan konduktif yang disebabkan oleh gangguan transmisi
stimulus bau mencapai epitel olfaktorius, dan gangguan sensorineural yang
diakibatkan oleh kerusakan epitel olfaktorius atau struktur saraf pusat yang
mengganggu transduksi penghidu. Diagnosis gangguan penghidu ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang penghidu yang bersifat kualitatif yaitu pemeriksaan
kemosensoris penghidu. Pemeriksaan kemosensoris terdiri atas pemeriksaan
ambang, diskriminasi dan identifikasi penghidu. Pemeriksaan kemosensoris yang
sudah dikenal luas misalnya Sniffin Sticks, UPSIT (University of Pennsylvania
Smell Identification Test) dan CCCRC test (Connecticut Chemosensory Clinical
Research Center Test). Penatalaksanaan gangguan penghidu bertujuan untuk
mengatasi faktor yang mendasari.

Kata Kunci : Fungsi penghidu, gangguan penghidu konduktif, gangguan


penghidu sensorineural, pemeriksaan kemosensoris.

ABSTRACT
Olfactory function signficantly influence quality of human life. In recent
years, knowledge on biochemistry, physiology and pathology of the olfactory
system progress rapidly. Distortion on olfactory system consist of conductive loss,
wich caused by distortion of odor stimulus transduction reaching olfactory
epithelium, and sensorineural loss wich caused by distortion of olfactorius
epithelium, olfactorius receptor or central pathway of olfactorius wich caused
distortion in olfactory transduction. Diagnosis for olfactory disfunction is based
on anamnesis, physical examination and additional examination. Qualitive
examination for olfactory dysfunction is chemosensorist test. Chemosensoris test
consist of odor threshold, odor discrimination and odor identification.
Chemosensoris test wich is widely known are Sniffin Sticks, UPSIT (University of
Pennsylvania Smell Identification Test) and CCCRC test (Connecticut
Chemosensory Clinical Research Center Test). Treatment of olfactory dysfunction
is overcome the underlying disease.

Keywords : Olfactory Function, conductive loss, sensorineural loss,


chemosensoris test.
2

I. PENDAHULUAN

Dari sudut pandang evolusi, penghidu merupakan indera yang paling


primitif dan paling penting dibandingkan dengan indera lainnya. Alat indera
penghidu ini mempunyai kedudukan utama di kepala, yang sesuai sebagai indera
yang dimaksudkan untuk menuntun perilaku. Penghidu mempunyai jalur yang
lebih langsung ke otak daripada indera-indera lain. Reseptor pada bagian atas
hidung, dalam olfactory ephitelium setiap rongga hidung dihubungkan langsung
tanpa sinapsis ke bulbus olfaktorius otak, yang terletak di bawah lipatan frontal
(frontal lobes).1,2
Partikel bau dapat mencapai reseptor penciuman bila
menarik napas dengan kuat atau partikel
tersebut larut dalam lendir yang terdapat di daerah olfaktorius.
Disebut hiposmia bila daya pembauan berkurang, anosmia bila
penciuman hilang, dan disosmia bila terjadi perubahan persepsi
penciuman. Disosmia terbagi lagi menjadi phantosmia (persepsi
adanya bau tanpa ada stimulus) dan parosmia atau troposmia
(perubahan persepsi terhadap bau dengan adanya stimulusb).1,2
Di Amerika Serikat, ratusan ribu pasien datang ke praktek dokter dengan
keluhan gangguan penghidu. Sebuah studi populasi oleh Murphy seperti yang
dikutip oleh Hummel7 pada pasien usia 53-97 mendapatkan bahwa 24%
mengalami gangguan penghidu, sedangkan studi lainnya pada pasien usia 20
tahun didapatkan prevalensi gangguan penciuman sebanyak 19% (hiposmia 13%
dan anosmia 6%). Didapatkan juga hubungan bermakna antara kerusakan fungsi
penghidu dengan penuaan. Sebuah penelitian pada 441 pasien di Connecticut
Chemosensory Clinical Research Centre menunjukkan bahwa penyebab tersering
gangguan penghidu adalah penyakit hidung dan sinus (30%), diikuti idiopatik
(26%) dan infeksi saluran pernapasan atas (19%). 3,4 Hasil survei tahun 1994
menunjukkan bahwa 2,7 juta penduduk dewasa Amerika
menderita gangguan fungsi penghidu, sementara 1,1 juta
dinyatakan menderita gangguan pengecapan. Penelitian yang
dilakukan sebelumnya menemukan bahwa 66% penduduk
3

merasakan bahwa mereka pernah mengalami gangguan fungsi


penghidu.1,2
Separuh penduduk Amerika berusia di atas 65 tahun dan
tiga perempat di atas usia 80 tahun menderita hiposmia dalam
derajat yang berbeda-beda. Penyebab terbanyak hiposmia
adalah usia tua. Anosmia dapat pula terjadi pada usia muda,
misalnya karena pukulan keras pada kepala, flu yang tak kunjung
sembuh, zat kimia beracun, dan beberapa penyebab lain yang
membahayakan jiwa. Studi lainnya menunjukkan penyebab tersering
gangguan penghidu adalah infeksi saluran pernapasan atas (39%), penyakit
sinonasal (21%), idiopatik (18%), trauma (17%), kongenital (3%) dan penyebab
lainnya(3%).1,2
Pasien yang mengalami hiposmia atau anosmia seringkali mengalami
masalah yang mempengaruhi kualitas hidup mereka. Masalah tersebut misalnya
tidak berselera makan atau minum, merasa tidak nyaman dan khawatir karena
tidak dapat mencium bau-bau yang berbahaya. Hal ini selain mempengaruhi
kehidupan sosial juga dapat menimbulkan depresi.2 Tanda- tanda depresi juga
terdeteksi pada 17-29% pasien dengan disfungsi penciuman. Temmel5 melaporkan
73% pasien dengan gangguan penghidu mengalami kesulitan dalam kegiatan
memasak, 68% mengalami perubahan mood, 56% mengalami kehilangan selera
makan, 50% merasa memakan makanan yang sudah rusak, 41% tidak bisa
mencium aroma tubuhnya sendiri, 8% mengalami kesulitan dalam lingkungan
kerja. Gangguan penghidu juga dapat menimbulkan depresi, anoreksia dan
penurunan berat badan.2,6,7
Fungsi penghidu dan pengecapan yang normal sangat berperan dalam
nutrisi dan penting untuk mempertahankan gaya hidup yang sehat. Gangguan
penghidu umumnya sulit didiagnosis dan sulit diobati. Terutama gangguan
penghidu yang bersifat sensorineural. Oleh karena itu, tinjauan pustaka
ini akan membahas pentingnya pemahaman patofisiologi, diagnosis dan
penatalaksanaan gejala-gejala gangguan penghidu ini. 7,8
4

II. PATOFISIOLOGI GANGGUAN PENGHIDU

2.1 Anatomi Sistem Penghidu


2.1.1. Sistem Kemosensori Hidung
Vertebrata memiliki empat buah sistem saraf untuk menghidu pada rongga
hidungnya. Keempat sistem saraf tersebut adalah sistem saraf terminalis (cranial
nerve 0/CN 0), sistem olfaktorius utama (cranial nerve I/CN I), sistem olfaktorius
asesorius (vomeronasal organ/ VNO) dan sistem somatosensoris trigeminus
(cranial nerve V/ CN V). Manusia dewasa setidaknya memiliki tiga buah sistem
kemosensoris hidung, dimana sistem vomeronasal bersifat rudimenter dan tidak
berfungsi.1,2
CN I bertindak sebagai mediator sistem penghidu yang juga
bertanggungjawab terhadap sensasi rasa. CN I ini merupakan kumpulan lebih dari
50 kumpulan saraf olfaktorius atau fila yang berasal dari epitel olfaktorius,
menuju ke otak melalui foramen lamina kribriformis. Fila berisi jutaan akson sel
reseptor. Fila olfaktorius menembus piameter , bersama dengan akson sel reseptor
membentuk lapisan pertama bulbus olfaktorius, kemudian bercabang dan
bersinaps dengan dendrit saraf tingkat kedua pada lapisan kedua bulbus
olfaktorius yang disebut sebagai lapisan glomerular.1,2
Ujung saraf bebas CN V tersebar pada mukosa hidung (termasuk epitel
olfaktorius) memperantarai sensasi sematosensoris (misal iritasi, terbakar,
kedinginan dan geli) melalui rangsang kimiawi dan non kimiawi. Sebagian besar
odoran, pada konsentrasi tinggi, merangsang aktivitas CN V. Diduga CN I dan CN
V berinteraksi secara fisiologis.1,2
Komponen perifer CN 0 terletak pada hidung. Saraf ini diketahui berisi
hormon pelepas gonadotropin (GnRH) yang tinggi, sehingga berperan sangat
besar pada proses reproduksi. Sistem ini dipengaruhi oleh estrogen. CN 0
bercabang melewati epitel hidung sebelum menyeberangi mukosa hidung dan
berjalan ke lamina kribriformis.1,2
5

Gambar 1. Jaras Olfaktorius Saraf Pusat 9

Neuroepitel olfaktorius terletak di bagian atas rongga hidung di dekat


cribiform plate, septum nasi superior dan dinding nasal superolateral. Area ini
diperkirakan seluas 100-500 mm2. Struktur ini merupakan neuroepitel berlapis
semu khusus yang di dalamnya terdapat reseptor olfaktorius utama. Sel-sel epitel
penghidu didapatkan pada ujung odour pockets yang sempit ini sehingga
pembengkakan atau edema di daerah ini akan mengurangi aliran dan konduksi
udara untuk penciuman. Dengan bertambahnya usia seseorang, jumlah neuron
olfaktorius ini lambat laun akan berkurang. Selain neuron olfaktorius, epitel ini
juga tersusun oleh sel-sel penunjang, yaitu duktus dan glandula Bowman yang
sifatnya unik pada epitel olfaktorius dan sel basal yang berfungsi pada regenerasi
epitel.1,2

Gambar 2. Penyebaran Neuroepitel Olfaktorius9

Epitel penciuman terdiri dari 6 tipe sel yang berbeda secara morfologi dan
biokimia. Tipe pertama adalah sel reseptor bipolar, di mana rangsangan
6

dihantarkan ke otak tanpa melalui sinapsis, hal ini merupakan rute mayor bagi
invasi virus dan xenobiotic ke sistem saraf pusat. Pada sebagian besar hewan
bertulang belakang jumlah sel reseptor penghidu melebihi jumlah sel sensoris
lainnya kecuali penglihatan. Manusia memiliki lebih dari 6 juta sel ini.1,2
Tipe kedua adalah sel pendukung atau sustentacular cell. Sel ini memiliki
lebih banyak mikrovilli dibanding silia, mengisolasi antar sel reseptor bipolar dan
membantu regulasi komposisi mukus. Sel ini berperan dalam deaktivasi odoran
dan membantu melindungi epitel dari zat asing. Sel pendukung ini mengandung
xenobiotic-metabolizing enzyme (misalnya sitokrom-450), memiliki duktus asinar
dan duktus glandula Bowman yang menghasilkan mukus disekitar neuroepitel
penciuman.1,2
Tipe ketiga adalah sel mikrofila yang berlokasi pada permukaan lapisan
epitel. Pada manusia sel mikrofila memiliki rasio 1:10 dengan sel reseptor bipolar.
Fungsi sel ini pada kemosensori masih belum jelas. Tipe keempat adalah sel yang
membentuk kelenjar Bowman dan duktus. Tipe kelima dan keenam adalah sel
basal horizontal (dark) dan globose (light) yang berlokasi di dekat dasar membran.
1,2
7

Gambar 3. Susunan Neuroepitel Olfaktorius9

2.1.2.Bulbus Olfaktorius
Bulbus olfaktorius terletak pada bagian dasar korteks frontalis pada fosa
anterior. Bulbus olfaktorius berfungsi sebagai stasiun penghubung pertama dalam
jaras olfaktorius, dimana saraf olfaktorius primer bersinaps dengan saraf sekunder.
Sinaps ini dan pasangan postsinaps membentuk kumpulan neurofil padat yang
disebut glomeruli. Hubungan ini menggambarkan pengumpulan informasi neuron
dari perifer ke stasiun sentral pertama. Terdapatnya interkoneksi antara banyak
glomeruli pada satu bulbus, interkoneksi antara bulbus dan hubungan aferen dan
eferen dengan otak menggambarkan proses penghidu juga berlangsung pada
tingkat bulbus. 1,2,10

2.1.3.Jaras Olfaktorius Saraf Pusat


Jaras pusat olfaktorius termasuk tuberkulum olfaktorius, korteks
prepiriformis, bagian dari nukleus amigdala dan nukleus stria terminalis dengan
penonjolan lebih jauh ke beberapa struktur termasuk hipotalamus. Walaupun
struktur ini menerima input olfaktorius, organ-organ itu juga menjalankan fungsi
lain seperti asupan makan, pengaturan suhu, pola tidur, penglihatan, pendengaran
dan rasa.1,2,10

2.2.Fisiologi Sistem Penghidu

Sensasi pembauan diperantarai stimulasi sel reseptor olfaktorius oleh


bahan-bahan kimia yang mudah menguap. Untuk dapat menstimulasi reseptor
olfaktorius, molekul yang terdapat dalam udara harus mengalir melalui rongga
hidung dengan arus udara yang turbulensinya cukup dan bersentuhan dengan
reseptor. Faktor-faktor yang menentukan efektivitas stimulasi bau meliputi durasi,
volume dan kecepatan menghirup. Tiap sel reseptor olfaktorius merupakan neuron
bipolar sensorik utama. Dalam rongga hidung rata-rata terdapat lebih dari 100 juta
reseptor. Neuron olfaktorius bersifat unik karena secara terus menerus dihasilkan
8

oleh sel-sel basal yang terletak dibawahnya. Sel-sel reseptor baru dihasilkan
kurang lebih setiap 30-60 hari. Reseptor odoran termasuk bagian dari G-protein
reseptor superfamili yang berhubungan dengan adenilat siklase. Manusia memiliki
beratus-ratus reseptor olfaktorius yang berbeda, namun tiap neuron hanya
mengekspresikan satu tipe reseptor. Inilah yang mendasari dibuatnya peta
pembauan (olfactory map). Neuron yang menyerupai reseptor yang terdapat di
epitel mengirimkan akson yang kemudian menyatu dalam akson gabungan pada
fila olfaktoria didalam epitel.1,2,10

Aspek-aspek molekuler penciuman kini telah banyak dipahami. Pada


mammalia, kemungkinan ada 300-1000 gen reseptor penciuman yang termasuk
dalam 20 keluarga yang berbeda yang terletak di berbagai kromosom dalam
kelompok-kelompok. Gen-gen reseptor ditemukan pada lebih dari 25 lokasi
kromosom manusia. Protein-protein reseptor penciuman adalah reseptor-reseptor
tergabung protein G yang ditandai oleh keberadaan domain transmembran 7 alfa-
helikal. Masing-masing neuron penciuman hanya mengekspresikan satu, atau
paling banyak beberapa gen reseptor yang menjadi dasar molekuler untuk
pembedaan bau. Diyakini hinga kini bahwa setiap sel reseptor mengekspresikan
satu gen reseptor bau dan terdapat sekitar 1000 macam sel reseptor pada epitel
penciuman hewan bertulang belakang. Pada manusia, sebagian besar gen ini
merupakan pseudogen, sehingga jumlah reseptor fungsional hanya berkisar
kurang dari 400.1,10
Mukus olfaktorius yang bersifat hidrofilik mempresentasikan odoran
dengan dipengaruhi oleh daya serap, daya larut dan reaktivitas kimia. Protein
pengikat yang bersifat mudah larut, seperti protein pengikat molekul bau,
mempermudah akses odoran ke reseptor olfaktorius.1,10
Pada mamalia informasi kimiawi dari odoran mengalami transformasi
menjadi potensial aksi listrik sebagai hasil interaksi antara odoran dan protein
reseptor pada permukaan silia olfaktorius yang disebut sebagai protein G. Protein
G mengaktifkan adenylyl cyclase yang merubah ATP menjadi pembawa pesan
kedua cyclic adenosine 3 monophosphate (cAMP), yang merupakan pembawa
pesan utama dalam proses penghantaran molekul bau. cAMP membuka saluran
ion dan menyebabkan masuknya ion natrium (Na2+) dan kalsium (Ca2+) dan
9

mencetuskan potensial aksi sepanjang akson sel olfaktorius. Akson sel olfaktorius
bgerjalan melewati lamina propria dan berubah menjadi akson tidak bermielin dan
menembus lamina kribriformis dan bersinaps dengan lapisan glomerulus bulbus
olfaktorius. Pada bulbus olfaktorius terjadi integrasi sinyal olfaktorius dan sinaps
antara akson sel reseptor olfaktorius dengan dendrit sel mitral dan rumbai.1,10

Gambar 3. Aktivasi Reseptor Olfaktorius11

Sel mitral bulbus olfaktorius menonjol keluar bulbus olfaktorius mengikuti


tiga jaras menuju sistem saraf pusat. Jaras pertama berjalan dari bulbus olfaktorius
menuju tuberkulus olfaktorius dan melewati bagian medial nukleus dorsalis
thalamus dan berakhir pada korteks orbitofrontal. Jaras ini memberikan persepsi
bau dibawah kontrol sadar.1,2,10
Jaras kedua melewati sitem limbik. Jaras ini memediasi aspek emosional
dan memori sistem penghidu. Jaras ketiga bersifat bilateral. Jaras ini
mengumpulkan informasi dari dua sisi bulbus olfktorius. Jaras dari bulbus
olfaktorius dilanjutkan ke ukleus olfaktorius anterior ipsilateral dan diteruskan ke
nukleus olfaktorius anterior kontralateral.1,2,10
Perekaman listrik dari sel reseptor pada mukosa olfaktorius pada binatang
menunjukkan setiap sel reseptor sesuai dengan kelompok kimia yang berbeda,
tidak ada sel reseptor yang meberikan respon terhadap seluruh bau-bauan.1,10
10

Gambar 5. Anatomi Jaras Olfactorius12


Odoran dikenali dengan dasar pengalaman. Asosiasi odoran, sekali
ditetapkan sangatlah sulit untuk dihapuskan dari ingatan, walaupun kejadian yang
berhubungan dalam membentuk ingatan terhadap bau telah dilupakan. Suatu
penelitian melaporkan bahwa memori terhadap molekul bau dapat bertahan
hingga 1 tahun, sedangkan memori visual hanya bertahan beberapa bulan. Yang
menarik, memori terhadap odoran difasilitasi oleh perangsangan hidung bilateral,
memori yang lebih buruk terhadap odoran.1,10

Oleh karena itu, sistem penghidu ditandai oleh tiga hal penting, yaitu:

1) Keluarga gen reseptor yang besar yang menunjukkan keberagaman yang sangat
baik sehingga memungkinkan respon terhadap berbagai bau.

2) Protein-protein reseptor yang menunjukkan spesifitas yang hebat sehingga


memungkinkan pembedaan bau, dan

3) Hubungan-hubungan bau disimpan dalam ingatan lama sesudah peristiwa


terjadinya paparan.

2.2.Prevalensi Gangguan Penghidu


Prevalensi gangguan penghidu pada populasi masyarakat umum sampai
saat ini masih diperdebatkan. Banyak penulis melaporkan frekuensi kejadian
anosmia sekitar 1-5% pada kelompok yang diteliti. National Institute on Deafness
11

and Other Communication Disorder (NIDCD) seperti dikutip oleh Venemann


melaporkan 200.000 orang Amerika berkunjung ke dokter dengan keluhan
gangguan penghidu. Survey yang dilakukan baru-baru ini di Switzerland, Austria
dan Jerman melaporkan hal yang sama pada 70.000 orang di ketiga negara
tersebut.13
Prevalensi gangguan penghidu di Indonesia saat ini masih belum
diketahui. Ruth Mindo dan kawan-kawan pada tahun 1995 di RSCM melakukan
penelitian pemeriksaan uji penghidu dengan tujuh zat yang mudah menguap pada
pasien dengan keluhan gangguan penghidu yang primer dan sekunder, yang
dicatat dalam bentuk olfaktogram penghidu normal, didapatkan 32,3% pasien
melaporkan gangguan penghidu sebagai keluhan utama, dengan etiologi tersering
yaitu inflamasi hidung dan penyakit sinus paranasal. 14

2.3 Gangguan Penghidu


Anosmia didefinisikan sebagai kehilangan kemampuan untuk menghidu.
Mikrosmia atau hiposmia didefinisikan sebagai penurunan kemampuan untuk
menghidu. Anosmia total berarti kehilangan kemampuan menghidu terhadap
seluruh bau-bauan pada kedua sisi hidung. Anosmia parsial adalah
ketidakmampuan untuk menghidu beberapa jenis bau-bauan. Anosmia spesifik
adalah ketidakmampuan untuk menghidu satu atau beberapa bau-bauan dengan
fungsi penghidu masih dikatakan normal. Hiperosmia adalah kondisi
hipersensitifitas terhadap bau-bauan.1,2,10
Disosmia adalah perubahan persepsi penghidu, terdiri atas parosmia
kakosmia dan heterosmia. Parosmia didefinisikan sebagai adanya sensasi saat
diberikan odoran, tetapi kualitas persepsi tidak sesuai dengan rangsang yang
diberikan.1,2,10
Pantosmia adalah halusinasi penghidu, dimana terdapat persepsi penghidu
tanpa adanya stimulus bau. Agnosia adalah ketidakmampuan mengenali sensasi
bau walaupun proses penghidu, kemampuan bahasa dan kemampuan intelektual
umum dikatakan normal. Agnosia biasanya terjadi pada pasien stroke dan paska
ensefalitis. Presbiosmia terkadang digunakan untuk menggambarkan kondisi
kehilangan fungsi penghidu yang disebabkan oleh proses penuaan.1,2,10
12

2.4 Etiologi

Gangguan penghidu dapat disebabkan oleh proses-proses patologis di


sepanjang jalur olfaktorius. Kelainan ini dianggap serupa dengan gangguan
pendengaran, yaitu berupa defek konduktif atau sensorineural. Pada defek
konduktif terjadi gangguan transmisi stimulus bau menuju neuroepitel olfaktorius.
Pada defek sensorineural prosesnya melibatkan struktur saraf yang lebih sentral.
Secara keseluruhan, penyebab gangguan penghidu yang utama adalah penyakit
pada rongga hidung dan/atau sinus, infeksi saluran nafas atas karena virus dan
trauma kepala. 1-3

Indera penghidu dan pengecapan tergolong ke dalam sistem penginderaan


kimia kita (chemosensation). Proses yang kompleks dari menghidu dan
mengecap dimulai ketika molekul-molekul dilepaskan oleh substansi di sekitar
kita yang menstimulasi sel syaraf khusus di hidung, mulut, atau tenggorokan. Sel-
sel ini menyalurkan pesan ke otak, dimana bau dan rasa khusus diidentifikasi. Sel-
sel olfaktori (syaraf penghidu) distimulasi oleh bau di sekitar kita. Contohnya
aroma dari mawar, bau adonan roti. Penghidu (olfaction) terjadi karena adanya
molekul-molekul yang menguap dan masuk ke saluran hidung dan mengenai
membran olfaktori. Manusia memiliki kira-kira 10000 sel reseptor penghidu. Bila
molekul udara masuk, maka sel-sel ini akan mengirimkan impuls saraf.1,2
Pada mekanisme terdapat gangguan atau kerusakan dari sel-sel olfaktorius
menyebabkan reseptor tidak dapat meneruskan impuls menuju susunan saraf
pusat. Ataupun terdapat kerusakan dari sarafnya sehingga tidak dapat
mendistribusikan impuls reseptor menuju efektor, ataupun kerusakan dari susunan
saraf pusat di otak sehingga tidak dapat menerjemahkan informasi impuls yang
masuk. Gangguan penghidu dapat juga menyebabkan kehilangan sensasi
pengecap. Penyimpangan fungsi penciuman dan pengecap menyebabkan nafsu
makan berkurang, penderita tidak dapat membedakan rasa.1-3,10

2.4.1 Gangguan Penghidu yang Bersifat Konduktif


13

Kondisi ini seringkali dapat diobati dan seringkali diakibatkan oleh


berbagai kelainan inflamasi pada hidung dan sinus, misalnya polip nasi, sinusitis
kronik, rinitis non-alergi persisten, rinitis alergi dan infeksi saluran pernapasan.
Beberapa data menunjukkan bahwa hanya gangguan penghidu akibat penyakit
hidung dan sinus yang memungkinkan untuk ditatalaksana. Dalam sebuah
penelitian, pasien dengan gangguan penghidu dan penyakit hidung serta sinus
(misalnya sinusitis, rinitis dan/atau polip) dievaluasi dan didapatkan 74%
mengalami anosmia dan 26% hiposmia. Dilaporkan pula ambang penciuman
meningkat secara signifikan pada pasien alergi dibandingkan kontrol dan 23% di
antaranya telah mengalami anosmia. Pada suatu studi oleh Seiden dan Duncan
tahun 2001 didapatkan bahwa hanya 30% pasien dengan gangguan konduktif
yang mengeluhkan obstruksi nasal, namun 58% memiliki riwayat sinusitis
kronik.15,16

Proses inflamasi/peradangan dapat mengakibatkan gangguan penghidu.


Kelainannya meliputi rhinitis (radang hidung) dari berbagai macam tipe, termasuk
rhinitis alergika, akut, atau toksik (misalnya pada pemakaian kokain). Penyakit
sinus kronik menyebabkan penyakit mukosa yang progresif dan seringkali diikuti
dengan penurunan fungsi penghidu meski telah dilakukan intervensi medis,
alergis dan pembedahan secara agresif.6-8 Sebesar 25% gangguan penghidu
disebabkan oleh rhinosinusitis.6,17

Adanya massa/tumor dapat menyumbat rongga hidung sehingga


menghalangi aliran odoran ke epitel olfaktorius. Kelainannya meliputi polip nasal
(paling sering), inverted papilloma dan keganasan. Abnormalitas developmental
(misalnya ensefalokel, kista dermoid) juga dapat menyebabkan obstruksi. Insiden
polip sebagai penyebab hiposmia bervariasi antara 41-69%.1-3,6

Pasien pasca laringektomi atau trakheotomi dapat menderita hiposmia


karena berkurang atau tidak adanya aliran udara yang melalui hidung. Pasien anak
dengan trakheotomi dan dipasang kanula pada usia yang sangat muda dan dalam
jangka waktu yang lama kadang tetap menderita gangguan penghidu meski telah
14

dilakukan dekanulasi, hal ini terjadi karena tidak adanya stimulasi sistem
olfaktorius pada usia yang dini.2,6

2.4.2 Gangguan Penghidu yang Bersifat Sensorineural


Sebagian besar kasus ini diakibatkan kelainan sensorineural. Gangguan
ini diakibatkan trauma kepala, penyakit-penyakit neurodegenaratif, paparan
terhadap substansi toksik, obat-obatan, gangguan metabolik/endokrin, kelainan
kongenital dan idiopatik. Pada kasus tumor etiologinya bisa konduktif dan
sensorineural, tergantung pada lokasi tumor. Usia lanjut juga berhubungan dengan
penurunan kemampuan penciuman. Gangguan penghidu akibat penggunaan obat-
obatan terkadang dapat dikoreksi dengan menyetop pengobatan.2,6

Proses infeksi/inflamasi dapat menyebabkan defek sentral dan gangguan


pada transmisi sinyal. Kelainannya meliputi infeksi virus (yang merusak
neuroepitel), sarkoidosis (mempengaruhi stuktur saraf), Wegener granulomatosis,
dan sklerosis multipel. Dilaporkan 14-25% pasien mengalami gangguan
pembauan setelah infeksi virus di saluran pernapasan atas. Walau dahulu pernah
dianggap sebagai defek konduktif murni akibat adanya edema mukosa dan
pembentukan polip, rhinosinusitis kronik nampaknya juga menyebabkan
kerusakan neuroepitel disertai hilangnya reseptor olfaktorius yang pemanen
melalui upregulated apoptosis.Penyebab kongenital menyebabkan hilangnya
struktur saraf misalnya Kallman syndrome. Kallman syndrome ditandai oleh
anosmia akibat agenesis bulbus olfaktorius dan hipogonadisme hipogonadotropik.
Terdapat juga insufisiensi adrenal dan pseudohipoparatiroidisme. Salah satu
penelitian juga menemukan bahwa pada Kallman syndrome tidak terbentuk
VNO.2,6

Gangguan endokrin (hipotiroidisme, hipoadrenalisme, diabetes,


hipoparatiroid) berpengaruh pada fungsi penghidu. Penyakit autoimun seperti
rheumatoid arthritis, skleroderma,lupus eritematosus sistemik dan Sjogren
syndrome juga mengakibatkan gangguan penghidu.2,6
15

Trauma kepala, operasi otak, atau perdarahan subarakhnoid dapat


menyebabkan regangan, kerusakan atau terpotongnya fila olfaktoria yang halus
dan mengakibatkan anosmia. Dilaporkan 11% pasien mengalami gangguan
penghidu setelah trauma kepala.2,6

Gangguan penghidu juga dapat disebabkan oleh toksisitas dari obat-obatan


sistemik atau inhalasi (aminoglikosida, formaldehid). Banyak obat-obatan dan
senyawa yang dapat mengubah sensitivitas bau, diantaranya alkohol, nikotin,
bahan terlarut organik, dan pengolesan garam zink secara langsung. Defisiensi
gizi (vitamin A, thiamin, zink) terbukti dapat mempengaruhi pembauan. . Toksin
di lingkungan dapat mengakibatkan gangguan sistem pembauan. Toksin masuk
melalui aliran darah maupun udara yang dihirup sehingga mengakibatkan
kerusakan neuroepitel atau nervus olfaktorius. Toksin yang mengakibatkan hal ini
misalnya arsen, benzene, karbon disulfida, cadmium, sulfur dioksida, klorine,
krom dan asap rokok.1,2,6,10,13

Jumlah serabut pada bulbus olfaktorius berkurang dengan laju 1% per


tahun. Berkurangnya struktur bulbus olfaktorius ini dapat terjadi sekunder karena
berkurangnya sel-sel sensorik pada mukosa olfaktorius dan penurunan fungsi
proses kognitif di susunan saraf pusat. Diperkirakan semua orang akan mengalami
penurunan pembauan pada usia 60-70 tahun dan di usia 80 tahun akan mengalami
anosmia.6,9 Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (penyakit Parkinson,
Alzheimer disease, proses penuaan normal) dapat menyebabkan hiposmia. Pada
kasus Alzheimer disease, hilangnya fungsi pembauan kadang merupakan gejala
pertama dari proses penyakitnya. Sejalan dengan proses penuaan, berkurangnya
fungsi pembauan lebih berat daripada fungsi pengecapan, dimana penurunannya
nampak paling menonjol selama usia dekade ketujuh.1,2,10

2.4.Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Penghidu

Kemampuan identifikasi penghidu mengalami penurunan tajam pada usia


dekade keenam dan tujuh. Kehilangan persepsi pada kemampuan penghidu yang
16

terjadi pada proses penuaan berhubungan dengan perubahan anatomi. Bhatnagar


dan kawan-kawan seperti dikutip oleh Leopold melaporkan penurunan jumlah sel
mitral dan penurunan volume bulbus olfaktorius. Liss dan gomez seperti dikutip
Leopold juga melaporkan penurunan yang ekstensif volume bulbus olfaktorius
sejalan dengan usia.7,10

Sensitifitas fungsi penghidu juga berhubungan dengan jenis kelamin.


Wanita dikatakan memiliki kemampuan penghidu yang lebih baik dan lebih tahan
lama dibandingkan pria.9 Merokok dikatakan dapat menurunkan kemampuan
identifikasi penghidu. Penurunan kemampuan identifikasi penghidu ini
berhubungan dengan banyaknya rokok yang dihisap dan lamanya riwayat rokok.
Perbaikan fungsi penghidu berhubungan dengan lamanya berhenti merokok.
Merokok dapat menyebabkan penurunan fungsi penghidu yang bersifat jangka
panjang, tapi bersifat reversibel. 7,10,13

Beberapa literatur melaporkan gangguan penghidu yang disebabkan oleh


pajanan zat kimia lingkungan . Ada yang bersifat permanen ada juga yang bersifat
reversibel. Sebagian besar zat yang menyebabkan gangguan penghidu berbentuk
gas atau aerosol yang memasuki hidung bersama aliran udara nafas. Konsentrasi
dan lamanya pajanan berhubungan dengan gangguan penghidu.1,7,10,13

Penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan gangguan pada fungsi


penghidu. Kemampuan penghidu biasanya akan kembali normal setelah obat yang
menyebabkan gangguan penghidu dihentikan.1,10

Jafek dan kawan-kawan seperti dikutip oleh Leopold melaporkan


patofisiologi gangguan penghidu yang bersifat kongenital disebabkan oleh
degenerasi atau atrofi epitel olfaktorius atau bulbus olfaktorius yang proses
perkembangannya terlambat. Pasien dengan kelainan kongenital biasanya
memiliki skor pemeriksaan fungsi penghidu yang paling rendah bila dibandingkan
dengan sebab lain. 9,13
17

III. DIAGNOSIS GANGGUAN PENGHIDU

3.1 Gejala klinis dan pemeriksaan fisik


18

Untuk mengetahui penyebab permasalahan gangguan penghidu, penting


untuk melakukan anamnesis tentang riwayat penyakit serta pemeriksaan kepala
dan leher. Mengetahui awitan dan perkembangan gangguan penghidu dapat
menjadi hal yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis etiologik. Hiposmia
unilateral jarang menjadi keluhan, hanya dapat dikenali dengan menguji bau
secara terpisah pada masing-masing lubang hidung. Di sisi lain, hiposmia bilateral
akan membuat pasien mencari pertolongan dokter. Pasien biasanya mengeluhkan
hilangnya kemampuan merasa yang sebagian besar merupakan fungsi penghidu,
meskipun ambang rasanya mungkin berada pada kisaran normal. Riwayat keluhan
penghidu yang bersifat progresif dan berfluktuasi biasanya berhubungan dengan
penyakit hidung dan sinus paranasal. Pertanyaan lain yang harus ditanyakan
mencakup riwayat alergi, riwayat pemeriksaan sebelumnya, riwayat operasi,
riwayat terapi radiasi dan penyakit sistemik. Pengobatan yang pernah didapat dan
sedang dijalani juga harus ditanyakan.
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior untuk melihat
apakah terdapat kelainan obstruksi hidung, perubahan mukosa hidung, tanda-
tanda infeksi dan adanya tumor. Pemeriksaan endoskopi mungkin diperlukan
untuk melihat patensi, keadaan kompleks osteomeatal, ada tidaknya tumor, deviasi
septum dan penebalan mukosa serta ada tidaknya sekret dan kualitas sekret.1,6,7
Rinoskopi anterior memiliki nilai diagnostik pada 51% kasus, namun
nasoendoskopi memiliki nilai diagnostik 91%.2,18 Steroid sistemik terbukti dapat
mengurangi keluhan hiposmia konduktif pada 83% pasien, sehingga hal ini dapat
dipakai sebagai tes dignostik. Steroid topikal hanya berperan pada sekitar 25%
kasus.18

3.2.Pemeriksaan Pencitraan
CT scan atau MRI kepala dibutuhkan untuk menyingkirkan neoplasma
pada fossa kranii anterior, fraktur fossa kranii anterior yang tak diduga
sebelumnya, sinusitis paranasalis, dan neoplasma pada rongga hidung dan sinus
paranasalis. Kelainan tulang paling baik dilihat melalui CT, sedangkan MRI
bermanfaat untuk mengevaluasi bulbus olfaktorius, ventrikel, dan jaringan-
19

jaringan lunak lainnya di otak. CT koronal paling baik untuk memeriksa anatomi
dan penyakit pada lempeng kribiformis, fossa kranii anterior, dan sinus. 1,7

3.3.Pemeriksaan Kemosensoris Penghidu


Banyak tes yang telah ditemukan untuk menyimpulkan adanya gangguan
fungsi penghidu. Beberapa jenis alat pemeriksaan telah dijual secara komersial.
Banyak prosedur pemeriksaan penghidu yang bersifat kuantitatif yang tersedia
saat ini untuk mengevaluasi ambang, identifikasi, diskriminasi dan memori
terhadap fungsi penghidu.
Pemeriksaan ambang penghidu didefinisikan sebagai persepsi odoran pada
konsentrasi terendah. Pemeriksaan ini mengukur konsentrasi terendah dari
stimulus yang dapat dirasakan, hanya mendeteksi tapi tidak mengenali. Biasanya
pemeriksaan ambang ini menggunakan serangkaian botol berisi feniletil alkohol
yang berbau seperti bunga mawar karena zat ini lebih sedikit merangsang
trigeminus. Odoran dipresentasikan dari konsentrsi yang terendah hingga
konsentrasi yang tertinggi sampai subjek yang diperiksa dapat mengidentifikasi
dengan benar 4 odoran pada konsentrasi yang diberikan. Urutan presentasi
menghindari adaptasi yang kemungkinan timbul jika konsentrasi tinggi diberikan
terlebih dulu. Pada saat pemeriksaan subjek yang diperiksa diberikan 2 botol dan
yang lainnya kosong. Subjek diminta memilih botol mana yang berisi
odoran.2,6,7,10,15,16
Pemeriksaan diskriminasi penghidu adalah pembedaan secara non verbal
odoran yang berbeda-beda. Pemeriksaan ini mengevaluasi kemampuan untuk
membedakan antara zat-zat pembau dan membutuhkan kemampuan untuk
membedakan apakah dua macam stimulus sama atau berbeda. Pemeriksaan
identifikasi penghidu didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali nama
odoran. Pemeriksaan ini mengevaluasi kemampuan untuk mengidentifikasi zat-zat
penghidu pada kadar diatas ambang. Penjumlahan nilai ambang, diskriminasi dan
identifikasi merefleksikan fungsi penghidu.

3.3.1.Sniffin Sticks
20

Sniffin stick merupakan pemeriksaan fungsi kemosensoris hidung dengan


menggunakan alat berbentuk pulpen yang dapat mengeluarkan bau. Pemeriksaan
fungsi penghidu ini terdiri atas pemeriksaan ambang bau, diskriminasi bau dan
identifikasi bau. Pemeriksaan ini menggunakan pulpen yang memiliki panjang 14
cm dan diameter dalam 1,3 cm. Pulpen ini berisi tampon yang diisi dengan bau-
bauan cair sebanyak 4 ml atau bau-bauan yang dilarutkan dalam propilen glikol.2,6
Pemeriksaan fungsi penghidu dilakukan dengan membuka tutup pulpen
oleh pemeriksa dan pulpen diletakkan didepan hidung pasien selama kurang lebih
3 detik dan ujung pulpen diletakkan kurang lebih 2 cm didepan hidung.2,6,10
Pemeriksaan ambang bau dilakukan dengan n-butanol dengan
menggunakan metode bertingkat tunggal dengan 3 pilihan jawaban. Pemeriksaan
dilakukan dengan mempersiapkan 16 larutan dalam seri deret hitung dimulai dari
larutan n-butanol 4% dengan perbandingan 1:2 dalam pelarut aqua deionisasi.
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan 3 buah pulpen dalam urutan acak
dengan 2 buah pulpen hanya berisi bau-bauan. Pemeriksaan dilakukan dengan
interval waktu 20 detik. Pemeriksaan secara bertingkat terbalik dilakukan ketika
bau dapat diidentifikasi secara terbalik pada pemeriksaan. Nilai ambang bau
didapatkan sebagai rata-rata dari 4 data dari 7 nilai hasil pemeriksaan bertingkat
terbalik. Nilai hasil pemeriksaan berkisar antara 0 sampai 16.2,6,7,10,16

Gambar 6 dan 7. Siffin sticks dan pemeriksaan penghidu dengan sniffin sticks11

Pemeriksaan diskriminasi bau dilakukan dengan menggunakan 3 buah


pulpen dalam urutan acak dengan 2 buah pulpen berisi bau-bauan yang sama dan
pulpen ketiga berisi bau-bauan yang berbeda. Subyek yang diperiksa harus
21

menentukan dari 3 buah pulpen yang diperiksa, pulpen mana yang baunya
berbeda. Pemeriksaan tiga serangkai pulpen dilakukan selama 20-30 detik. Nilai
hasil pemeriksaan dengan 16 pulpen berkisar antara 0 sampai 16. Ketika
dilakukan pengukuran ambang dan diskriminasi bau, kedua mata pasien ditutup
untuk menghindari identifikasi secara visual.2,6,7,10,16
Pemeriksaan identifikasi bau dilakukan dengan menggunakan 16 bau-
bauan, yaitu jeruk, peppermint, terpentin (minyak tusam), cengkeh, pisang,
bawang putih, mawar, ikan, lemon kopi adas manis, kayu manis, liqorice, apel dan
nanas. Pemeriksaan identifikasi bau dilakukan dengan beberapa pilihan jawaban
(multiple-choice). Interval pemeriksaan masing-masing bau berkisar antara 20-30
detik. Nilai hasil pemeriksaan berkisar antara 0-16. Nilai total dari hasil
pemeriksaan berupa skor TDI, yaitu jumlah dari ambang, diskriminasi dan
identifikasi.2,6,7,10,16

3.3.2.UPSIT (University of Pennsylvania Smell Identification Test)


The University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT) secara
komersial dikenal sebagai Smell Identification Test adalah pemeriksaan penghidu
yang mudah dan cepat diaplikasikan untuk menilai secara kualitatif fungsi
penghidu manusia. Pemeriksaan ini memiliki angka kepercayaan yang tinggi dan
nilai pada pemeriksaan ini berkorelasi secara kuat dengan pemeriksaan ambang
deteksi fenil etil alkohol (PEA) pada individu yang sama.2,6,7,10,16
Kekuatan pemeriksaan ini adalah kemampuan pemeriksaan ini untuk
mendiagnosa kelainan penghidu dengan membandingkan nilai pasien dengan nilai
data normatif, disediakannya nilai persentil perindividu dibandingkan berdasarkan
usia pada kelompok normal. 2,6,7,10
Pemeriksaan ini terdiri atas 40 partikel identifikasi bau yang digores dan
dihidu (stratch and sniff). Masing-masing odoran diberikan 4 pilihan
kemungkinan. Pasien harus memilih satu jawaban dari 4 pilihan nama odoran
yang diperiksa. Skor berada dalam skala 0-40, dimana 34-40 normosmia, 36-30
hiposmia menengah dan 6-18 adalah anosmia. Skor 0-5 mengindikasikan
malingering. Tes ini sangat reliabel (reliabilitas tes-retes jangka pendek r = 0,95)
dan sensitif terhadap perbedaan usia dan jenis kelamin.2,6,7,10,16
22

3.3.3.CCCRC Test (Connecticut Chemosensory Clinical Research Center Test)


Pemeriksaan ini terdiri atas pemeriksaan deteksi dan identifikasi bau.
Pemeriksaan ambang deteksi dilakukan dengan menggunakan 9 seri larutan
butanol dalam air yang mengalami deionisasi. Ambang penghidu didefinisikan
sebagai larutan pada botol n-butanol yang secara benar diidentifikasi pada 4 kali
pemeriksaan. Jika botol air yang salah dipilih pada kurang dari 4 kali
pemeriksaan, konsentrasi yang lebih tinggi selanjutnya yang diperiksakan.2,6,7,10,16
Tes identifikasi CCRC terdiri atas 7 buah rangsang olfaktorius (bedak
bayi, coklat, kayu manis, kopi, kamper, selai kacang dan sabun). Tiga buah odoran
(amonia, Vicks Vaporub, wintergreen) juga diperiksakan, untuk memeriksa sensasi
hidung yang diperantarai saraf trigeminus. Sepuluh buah toples, masing-masing
berisi 1 dari 7 stimulus bau atau 1 dari stimulus trigeminus diperiksakan dan
pasien diminta untuk memilih nama dari daftar bau-bauan. Jumlah rangsang bau
yang diidenfikasi dengan benar menentukan nilai identifikasi. Gabungan nilai tes
CCRC dihitung dengan menjumlahkan nilai ambang (maksimal 50 poin) dan nilai
identifikasi (maksimal 50 poin). Pada tes CCRC, masing-masing lubang hidung
diperiksa secara terpisah.2,6,7,10,16

3.4 Tes Neurofisiologi


Berbagai metode telah diujicoba untuk mendapatkan efek bau terhadap
respon elektrofisiologi manusia. Namun teknik ini sebagian besar masih diteliti
dan kurang sensitif dibandingkan metode psikofisikal untuk mengevaluasi
berbagai defisit penciuman. Beberapa tes neurofisiologi yang diketahui misalnya
The Human Electro-olfactogram (EOG), Olfactory Evoked Potential (OEP) dan
Contingent Negative variation (CNV).2,6,7

3.4.1.Electro-olfactogram (EOG)
Merupakan pemeriksaan elektrofisiologis penghidu yang paling perifer.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan meletakkan elektroda pada epitel olfaktorius.
Ketika odoran merangsang sel reseptor, perubahan voltase negatif perlahan
terlihat.2,6,7
23

3.4.2.Olfactory Evoked Potential (OEP)


Pemeriksaan ini menjumlahkan aktivitas listrik otak perkutaneus dan
dibuat rata-rata setelah diberikan pajanan terhadap odoran yang berulang. Kobal
dan Hummel seperti dikutip oleh Cummings melaporkan bahwa mereka dapat
menentukan kapan rangsang olfaktorius telah sampai di sel reseptor dan dapat
menunjukkan perbedaan suatu rangsangan merupakan rangsangan olfaktorius
murni atau rangsang trigeminal murni. Amplitudo maksimal dari rangsang
potensial dari zat yang sebagian atau secara khusus merangsang saraf trigeminus
(misal karbondioksida dalam konsentrasi tinggi, mentol, asetaldehid) ditemukan
pada verteks dan didefinisikan sebahai potensial aksi kemosomatosensoris.
Molekul yang secara eksklusif atau karena perluasan merangsang saraf olfaktorius
(hidrogen sulfida, vanila) menyebabkan respon maksimal dari parietal dan
didefinisikan sebagai potensial aksi olfaktorius.2,6,7

3.3.3Contingent Negative Variation (CNV)


Pemeriksaan ini paling baik berkorelasi dengan pemeriksaan subjektif
diskriminasi penghidu. Ketika pemeriksaan OEP dan CNV dilakukan secara
simultan, penilaian klinis yang bersifat objektif dapat dibuat. Pada pasien
hiposmia, ketika konsentrasi odoran tepat diatas amabang diskriminasi, amplitudo
CNV meningkat dan OEP tidak terdeteksi. Teknik ini merupakan teknik yang
berguna secara klinis tapi tidak tersedia secara umum.2,6,7

3.5.Biopsi neuroepitelium Olfaktorius


Biopsi pada neuroepitelium olfaktorius bertujuan untuk mengevaluasi
status epitel olfaktorius dan lembaran saraf olfaktorius. Lebih jauh lagi
pemeriksaan ini dapat mengetahui sampai sejauh mana akson saraf telah
digantikan oleh kolagen dan epitel olfaktorius digantikan oleh epitel
respiratorius.2,6,7
24

IV. PENATALAKSANAAN GANGGUAN PENGHIDU

4.1 Pencegahan
Kehilangan fungsi penghidu hanya bersifat sementara, dan biasanya
kembali secara spontan setelah flu atau infeksi virus. Pengobatan yang dapat
digunakan untuk memperbaiki fungsi penghidu antihistamin apabila diindikasikan
pada penderita alergi. Berhenti merokok dapat meningkatkan fungsi penghidu.
Koreksi operasi dan dekongestan nasal dapat mengurangi gangguan fungsi
penghidu. Anosmia akibat proses degenerasi tidak ada pengobatannya. Kerusakan
N. Olfaktorius akibat infeksi virus prognosisnya buruk, karena tidak dapat
diobati.1,2,6,7,10
Pencegahan hiposmia tergantung kepada penyebabnya. Bisa dilakukan
hal-hal seperti mengubah atau menghentikan pemakaian obat-obat yang diduga
menjadi penyebab terjadinya kelainan ini Setelah itu kita menunggu beberapa
minggu untuk melihat perkembangan selanjutnya. Tambahan zinc (bisa dibeli
bebas maupun dengan resep dokter) bisa mempercepat penyembuhan, terutama
pada kelainan yang timbul setelah serangan flu.2,7

4.2 Medikamentosa
4.2.1 Terapi Kortikosteroid
Banyak pasien dengan hiposmia dan anosmia mengalami perbaikan
penciuman setelah mendapatkan penatalaksanaan dengan glukokortikoid oral dan
beberapa studi menunjukkan bahwa steroid saja dapat memperbaiki fungsi
penciuman pada penyakit sinonasal.12 Steven pada tahun 2001 meneliti respons
steroid pada pasien anosmia setelah bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF),
meskipun tidak responsif dengan steroid topikal namun dengan steroid oral fungsi
penghidu kembali normal pada sebagian besar pasien.15 Mekanisme perbaikan
penghidu setelah penatalaksanaan glukokortikoid sistemik tidak bisa dipahami
sepenuhnya. Efek glukokortikoid mungkin pada pengurangan edem mukosa
hidung yang meningkatkan penetrasi bau pada mukosa penciuman.
25

Pada sebuah penelitian terhadap 25 pasien dengan rhinitis alergi


didapatkan semua pasien meningkat skor UPSIT dan VAS nya setelah 6 minggu
mendapatkan kortikosteroid nasal (betamethasone sodium phosphate)

4.2.2 Terapi non-steroid


Penatalaksanaan gangguan penciuman non-konduktif merupakan
permasalahan yang besar hingga saat ini. Quint pada tahun 2002 pernah meneliti
efek N-methyl-D-Aspartate (NMDA) antagonist, caroverine. Caroverine memiliki
efek inhibisi terhadap feedback pada bulbus olfaktorius, yaitu sebagai antagonis
aksi NMDA dan antagonis aksi eksitotoksik glutamat. Penatalaksanaan dengan
caroverine meningkatkan ambang penciuman dan identifikasi bau pada pasien
anosmia. Pada pasien hiposmia, caroverine secara bermakna meningkatkan
kemampuan identifikasi bau. Penemuan ini mengindikasikan bahwa caroverine
mungkin memiliki efektifitas dalam penatalaksanaan gangguan penciuman non-
konduktif.2,7

4.3 Pencegahan kecacatan (disability limitation)


Terapi yang efektif dalam memulihkan sensasi terhadap bau yaitu
pengelolaan alergi, terapi antibiotik, terapi glukokortikoid sistemik dan topikal
dan operasi untuk polip nasal, deviasi septum nasal, dan sinusitis hiperplastik
kronik. Tidak ada terapi dengan kemanjuran yang telah terbukti bagi kurang
penciuman sensorineural. Untungnya, penyembuhan spontan sering terjadi.
Sebagian dokter menganjurkan terapi zink dan vitamin. Defisiensi zink yang
mencolok tidak diragukan lagi dapat menyebabkan kehilangan dan gangguan
sensasi bau, namun bukan merupakan masalah klinis kecuali di daerah-daerah
geografik yang sangat kekurangan. Terapi vitamin sebagian besar dalam bentuk
vitamin A. Degenerasi epitel akibat defisiensi vitamin A dapat menyebabkan
anosmia, namun defisiensi vitamin A bukanlah masalah klinis yang sering
ditemukan di negara-negara barat. Pajanan pada rokok dan bahan-bahan kimia
beracun di udara yang lain dapat menyebabkan metaplasia epitel penciuman.
Penyembuhan spontan dapat terjadi bila faktor pencetusnya dihilangkan;
karenanya, konseling pasien sangat membantu pada kasus-kasus ini. 2,7
26

4.2 Pembedahan
Pada pasien dengan hiposmia dan anosmia akibat rinosinusitis kronik atau
polip efek bedah sinus endoskopik fungsional pada perbaikan penciuman sangat
bermakana. Penelitian terhadap 115 pasien sebelum dan 6 minggu setelah operasi
menunjukkan perkembangan signifikan pada skor gejala (VAS) dan treshold test.14
Perbaikan pada semua skor gejala penciuman berhubungan dengan peningkatan
volume rongga hidung yang diukur dengan rhinometri akustik. Penatalaksanaan
terkini hiposmia adalah dengan kombinasi operasi sinus ekstensif dan steroid
topikal dosis rendah, terutama pasien dengan polip nasi.18

4.4 Rehabilitasi (rehabilitation)


Pada penderita hiposmia dapat dilakukan rehabilitasi sebagai berikut:2,7
1. Perbaiki penyebab obstruksi hidung.
2. Pemberian Vitamin A 100.000 IU sekali sehari selama 2 minggu diikuti
50.000 sekali sehari selama 6-12 minggu.
3. Zink sulfat 220 mg/oral 3 kali sehari.
4. Prednison 60 mg/hr selama 3 hari diikuti 40 mg/hr utk 3 hari berikutnya,
20 mg/hr utk 3 hr berikutnya, 10 mg/hr selama 2 hari dan 5 mg utk hari
terakhir.
5. Penambahan aroma makanan pada masakan.
6. Mengunyah makanan lebih lama.
7. Edukasi.

Gangguan penghidu dapat menjadi penyakit yang permanen maupun


sementara. Hal ini tergantung dari perawatan penderita dan jenis pengobatan serta
penyebab penyakit anosmia tersebut. Dalam upaya penanganan penyakit anosmia
ini perlu adanya peran keluarga. Peran keluarga sangat penting untuk proses
pencegahan, penyembuhan dan pemulihan penyakit hiposmia. Peran keluarga
dapat dilakukan dengan upaya seperti:2,7
1. Memperhatikan perilaku penderita yang dapat menyebabkan penyakit
bertambah parah. Misalnya dengan melarang penderita merokok,
pengurangan obat-obat yang dapat menyebabkan gangguan penciuman
bertambah parah.
2. Pemberian suplemen seperti seng untuk penyembuhan gangguan anosmia.
27

3. Memberi makanan yang banyak mengandung vitamin A kepada penderita


untuk proses penyembuhan anosmia.
4. Selalu mendukung penderita bahwa penyakit tersbut akan sembuh
sehingga penderita tidak merasa diisolasi dan menumbuhkan semangat
penderita untuk sembuh. Hal ini dapat dilakukan dengan menganjurkan
penderita untuk mengontrol perkembangan penyakit tersebut, yaitu dengan
periksa ke dokter dan melakukan tes penciuman.
5. Memancing indera penciuman penderita dengan menggunakan benda-
benda yang berbau khas guna merangsang indera penciuman penderita
pulih kembali.
6. Apabila dalam tahap rehabilitas, maka menghindarkan penderita dari hal
yang dapat menyebabkan penyakit kambuh lagi, melakukan terapi kepada
penderita untuk menghindari kecacatan atau gangguna permanen pada
pembauan.
7. Memberikan edukasi dan informasi kepada penderita maupun anggota
keluarga yang lain yang tidak menderita anosmia tentang faktor resiko
yang dapat menyebabkan anosmia, sehingga penyakit anosmia dapat
diminimalisasi.

V. RINGKASAN

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat dibuat ringkasan bahwa


hiposmia adalah berkurangnya kemampuan penciuman/penghidu sebagian atau
total kehilangan sensasi penciuman. Anosmia terjadi akibat obstruksi saluran
28

kelenjar hidung atau kerusakan saraf. Anosmia biasanya disebabkan proses natural
dari penuaan ataupun kebanyakan karena common cold (influenza). Hiposmia
dapat juga akibat obat-obatan yang dapat mengubah kemampuan penghidu.
Sensasi penghidu menghilang karena kelainan seperti tumor osteoma atau
meningioma, sinus nasal atau operasi otak. Dapat juga disebabkan karena
defisiensi zinc/ seng. Rokok adalah konsentrasi terbanyak dari polusi yang dapat
menyebabkan seorang menderita anosmia. Faktor siklus hormonal atau gangguan
dental juga dapat menyebabkan anosmia. Anosmia dapat juga terjadi karena
beberapa bagian otak yang mengalami gangguan fungsi.
Untuk menghindari hiposmia maka yang dapat dilakukan adalah
menghindari penggunaan obat yang dapat menyebabkan hiposmia/anosmia,
mengurangi atau menghindari merokok karena sebagai salah satu penyebab
anosmia, memerbanyak makan yang mengandung zinc atau seng dan vitamin A,
meningkatkan peran serta keluarga dalam upaya penyembuhan maupun
pencegahan anosmia dan segera periksakan ke dokter apabila terjadi gangguan
pada indera penciuman untuk mengetahui diagnosis awal.
Adaptasi sensoris pada indera ini kentara sekali. Orang yang telah terbiasa
dengan lingkungannya tidak akan menyadari bau khas lingkungannya itu.
Penciuman merupakan proses yang kompleks. Para ahli sampai sekarang belum
dapat menjelaskan bagaimana gas itu merangsang saraf-saraf reseptor dalam
hidung sehingga timbul bau yang beraneka ragam.
Gangguan penciuman bisa sekunder akibat proses perjalanan penyakit atau
bisa juga sebagai keluhan primer. Daya menghidu yang hilang atau berkurang
terjadi pada kira-kira 1% dari mereka yang berusia di bawah 60 tahun dan lebih
dari 50 % pada mereka yang berusia lebih dari 60 tahun. Indera penghidu yang
merupakan fungsi nervus olfaktorius (N.I), sangat erat hubungannya dengan
indera pengecap yang dilakukan oleh saraf trigeminus (N.V), karena seringkali
kedua sensoris ini bekerja bersama-sama, sehingga gangguan pada salah satu
indera tersebut biasanya turut mengganggu fungsi indera yang satu lagi.
Sel penciuman adalah sel saraf bipolar yang terdapat di
daerah yang terbentang di atas dari konka media sampai ke
atap, dan daerah septum yang berhadapan. Akson dari sensosel
29

dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk serat saraf yang melalui


lamina kribrosa ke dalam bulbus olfaktorius. Akson dari sel-sel ini
membentuk traktus olfaktorius yang menuju ke otak.
Indera penghidu/pembau yang merupakan fungsi saraf
olfaktorius (N.I), sangat erat hubungannya dengan indera
pengecap yang dilakukan oleh saraf trigeminus (N.V), karena
seringkali kedua sensoris ini bekerja bersama-sama. Reseptor
organ penghidu terdapat di regio olfaktorius dihidung bagian
sepetiga atas. Serabut saraf olfaktorius berjalan melalui lubang-
lubang pada lamina kribrosa os etmoid menuju bulbus olfaktorius
didasar fosa kranii anterior. Hilangnya fungsi pembauan dan/atau
pengecapan dapat mengancam jiwa penderita karena penderita
tak mampu mendeteksi asap saat kebakaran atau tidak dapat
mengenali makanan yang telah basi. Diketahui, bagian dalam
hidung terlapisi mukosa atau lapisan lembut yang lembap. Sel-
sel di dalam mukosa bersentuhan dengan bagian saraf
penciuman yang disebut akson, lalu masuk rongga dalam yang
dinamakan foramina. Foramina ini berhubungan dengan
tengkorak kepala. Sel-sel dan akson-nya berjumlah sekitar 20-24,
tersusun sedemikian rupa dan bekerja sinergis dalam mendeteksi
aroma. Ujung-ujung saraf tadi berakhir dalam suatu struktur
berbentuk gelembung-gelembung penciuman. Oleh karena itu,
benturan keras di bagian kepala bisa mengakibatkan anosmia.
Selain terkena benturan, kerusakan saraf indra penciuman juga
dapat terjadi karena tekanan tumor di area hidung atau kepala.
Kondisi ini bisa mencetuskan anosmia total atau kacaunya
kinerja saraf, hingga terjadi kesalahan persepsi mengenai aroma.
Bau sampah misalnya, dikira bau tempe goreng. Halusinasi bau
ini pun bisa terjadi karena gangguan pada otak, misalnya akibat
epilepsi.
Bahaya anosmia adalah penderita tak dapat mendeteksi
bahaya dari makanan. Misalnya, apakah makanan itu sudah
30

rusak atau basi. Ancaman lainnya, mereka tidak dapat


mendeteksi bau gas berbahaya. Hidung mereka leluasa saja
menghirup racun yang melayang-layang di udara, hingga si
racun bebas menyusup ke paru-paru. Selebihnya, gara-gara tak
mampu merasakan aroma, mereka juga tak dapat menikmati
makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Dalam banyak
kasus, penderita anosmia sering kali menarik diri, lantaran
mereka tidak yakin bahwa tubuh mereka tidak menimbulkan bau
yang mengganggu orang lain.
Belakangan, sudah ada obat tertentu yang mampu
meringankan derita anosmia, namun tidak memberikan hasil
yang menggembirakan. Beberapa jenis obat cukup efektif,
namun berefek samping terlalu berat, yakni menekan sistem
kekebalan. Hiposmia kadang-kadang hanya bersifat sementara.
Tidak seperti sel reseptor indra yang lain, sel-sel indra
penciuman mengalami regenerasi. Artinya, seseorang yang tiba-
tiba kehilangan kemampuan membaui, biasanya dapat pulih
dengan berkali-kali mencoba mengenali bau-bauan tajam yang
semula tidak terdeteksi. Selebihnya, karena kondisi tertentu,
seseorang bisa kehilangan kemampuan membaui selama
beberapa menit, lalu pulih kembali pada menit berikutnya.
Misalnya karena hawa sekitar terlalu dingin atau padatnya zat
polutan.
Hiposmia adalah berkurangnya sensasi penciuman, sedangkan anosmia
adalah hilangnya sensasi penciuman. Pada manusia penciuman memiliki beberapa
fungsi. Fungsi terpenting adalah untuk kewaspadaan pada bahaya di lingkungan
sekitar, misalnya asap rokok ataupun aroma gas beracun. Penciuman juga
mempengaruhi selera makan. Dilaporkan pula bahwa sensasi penciuman
mempengaruhi asupan makanan.19 Beberapa pasien anosmia mengalami
penurunan berat badan. Peranan fungsi penciuman pada hubungan interpersonal
misalnya pada ibu dan bayinya yang baru lahir. Beberapa penelitian juga
menyebutkan bahwa wanita memilih pasangannya berdasarkan aroma tubuhnya. 2
31

Selain itu didapatkan juga adanya negative effect on mood, permasalahan dalam
hal keselamatan, kebersihan diri, interaksi sosial dan kehidupan seksual pada
pasien dengan anosmia/hiposmia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Doty RL, Bromley MS, Panganiban WD. Olfactory function and


fisfunction. Dalam: Bailey BJ, Jonas JT, editor. Head and neck surgery-
otolaringology. Philadelphia: Lippincott williams and wilkins, 2006;291-
306.
2. Blomqvist EH. Evaluation of medical and surgical treatment of anosmia/
hyposmia in association with inflammatory disease of the upper airway.
Stockholm: 2004;1-47.
3. Blomqvist EH, Bramerson A, Stjarne P, Nordin S. Consequences of
olfactory loss and adopted coping strategies. Rhinology. 2004; 43:189-94.
4. Cowart BJ. Taste Disfunction: A practical guide for oral medicine. Oral
Disease. 2011;17(11):2-6.
5. Temmel AFP, Quint C, Schickinger-Fischer B, Klimek L, Stoller E,
Hummel T. Characteristics of olfactory disorder in relation to major causes
of olfactory loss. Arch Otolaryngol Head and Neck Surg. 2002; 128): 635-
41.
6. Mann NM. Management of smell and taste problems. Clev Clin Jour Of
Med. 2002;69:329-36.
7. Hummel T, Nordin S. Quality of life in olfactory dysfunction. Smell and
Taste Clinic. Departement of Otorhinolaryngology, University of Dresden,
Departemen of Psychology, Umea University. Sweden, 2003:1-27.
8. Passali GC, Ralli M, Galli J, Calo L, Paludetti G. How relevant is the
impairment of smell for the quality of live in allergic rhinitis? Curr Op in
Allergy and Clin Immunol. 2008;8:238-42.
32

9. Bromley SM. Smell and taste disorders: a primary care approach. The
American Academy Family Physicians; 2005 (diunduh 2 november 2011).
Didapat dari: http://www.aafp.org
10. Leopold DA, Holbrook EH. Physiology of olfaction. Dalam: Cumming
CW dkk., editor. Otolaryngology Head & Neck Surgery. 4th. Philadelphia:
Mosby; 2005:884-97.
11. DeMaria S, Ngai J. The cell biology of smell. The Journal of cell biology;
2010 (diunduh 10 november 2011). Didapat dari : http://jcb.rupress.org
12. Chapter 14: Smell and taste. Dalam: Barrett KE, Barman SM, Boitano S,
Brooks H (eds). Ganongs review of medical physiology. The McGraw-
Hill companies. 23rd ed; 2009(diunduh 1 november 2011): 281-91. Didapat
dari: www. Accessmedicine.com
13. Katotomichelakis M. The effect of smoking on the olfactory function.
Rhinology. 2007;45(2):273-80.
14. Al Amini DN. Nilai normal pemeriksaan ambang, diskriminasi dan
identifikasi penghidu dengan Sniffin Sticks di RSUPN Cipto
Mangunkusumo. Universitas Indonesia; 2010:1-26.
15. Gent JF, Goodspeed RB, Zagraniski RT, Catalanotto FA. Taste and smell
problems: validation of questions for the clinical history. The Yale Jour of
Biol and Med. 1987;60:27-35.
16. Seiden AM. The initial assessment of patients with taste and smell
disorder. Dalam: Seiden AM, editor. Taste and smell disorder. New York.
Thieme. 1997;4-19.
17. Rowe-Jones JM, Medcalf M, Durham SR, Richards DH, Mackay IS.
Fungsional endoscopic sinus surgery: 5-year follow up and Result of a
prospective randomised, stratified, double-blind, placebo controlled study
of postoperative fluticasone propionate aqueous nasal spray. Rhinology.
2005;43:2-10.
18. Golding-Wood DG, Holmstrom M, Darby Y, Scadding GK, Lund VJ. The
treatment of hiposmia with intranasal steroids. The Jour of Laryngol and
Otol. 1996;110:132-5.
19. Blomqvist EH, Bramerson A, Stjarne P, Nordin S. Consequences of
olfactory loss and adopted coping strategies. Rhinology. 2004;43:189-94.
33