Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Perkembangan industri di Indonesia sangat pesat. Hal tersebut diimbangi
pula dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi fosil sebagai sumber energi
utamanya. Akan tetapi, minyak bumi yang tersedia di alam semakin sedikit.
Minyak pelumas mineral merupakan salah satu fraksi hasil destilasi minyak bumi
yang merupakan sumber daya alam tidak terbarukan dan ketersediaannya
terancam habis dalam beberapa puluh tahun ke depan. Hal ini mendorong
pemikiran mengenai sumber-sumber energi alternatif terbarukan serta
diversifikasi energi ramah lingkungan dan bersifat renewable dalam upaya
menggantikan peran minyak bumi dan gas alam.
Minyak nabati berpotensi menggantikan minyak mineral sebagai bahan
dasar untuk memecahkan masalah polusi (Gong et al., 2003; Zhu et al., 2009).
Minyak jarak kepyar memiliki kandungan ester risinoleat tinggi sehingga baik
digunakan sebagai bahan dasar pelumas. Energi alternatif yang digunakan sebagai
aditif pelumas salah satunya adalah gliserol. Gliserol dihasilkan sebagai produk
samping pembuatan biodiesel yang berasal dari reaksi minyak nabati dengan
alkohol (Ueoka dan Katayama, 2001). Produksi gliserol melalui transesterifikasi
trigliserida dalam industri biodiesel menjadi sumber utama produksi gliserol.
Namun, pertumbuhan industri biodiesel yang diikuti produksi gliserol semakin
meningkat tersebut menurunkan harga gliserol dan masalah lingkungan terkait
kontaminasi pembuangan gliserol (Lopez et al., 2009). Selain reaksi
transesterifikasi, gliserol juga dapat dihasilkan dari pembuatan sabun melalui
reaksi saponifikasi dan reaksi hidrolisis (Tamalampudi et al., 2008; Gregg dan
Goodwin, 2008).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menemukan aplikasi baru dari
gliserol yang berpotensial dikembangkan menjadi produk yang bernilai komersial.
Gliserol telah banyak digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, produk
perawatan pribadi, dan aditif makanan (Pagliaro dan Rossi, 2010; Chheda el al.,
2007). Peranannya dalam industri polimer ditambahkan sebagai stabilizer,

1
2

plasticizer, dan co-pelarut dalam polimerisasi emulsi. Gliserol juga penting


sebagai bahan baku untuk sintesis beberapa senyawa yang berharga (Guner et al.,
2006).
Viskositas gliserol menurun dengan adanya penambahan air, alkohol,
atau glikol. Sebaliknya, viskositasnya dapat ditingkatkan dengan polimerisasi
(Kern, 1966). Gliserol dimodifikasi menjadi poligliserol agar menghasilkan
viskositas yang diinginkan. Dari total konsumsi gliserol sebanyak 730.000 ton di
tahun 1999, penggunaan gliserol dalam produk kosmetik dan perawatan diri
mencapai 202.200 dan sebanyak 89.000 ton gliserol dikonversi menjadi
poligliserol (Tyson et al., 2004). Poligliserol dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pengental pada produk perawatan tubuh, kosmetik, humektan, dan bahan dasar
pelumas industri serta pelumas otomotif.
Minyak pelumas merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam
mesin piston (motor bakar) atau mesin-mesin dimana terdapat komponen yang
bergerak, seperti sharf, bearing, dan gear. Minyak pelumas berfungsi sebagai
pelumas permukaan komponen yang saling bersentuhan. Dengan adanya pelumas,
energi yang terbuang karena gesekan menjadi minimal sehingga usia pakai
komponen menjadi semakin lama. Fungsi minyak pelumas yang lain adalah
sebagai pendingin dari efek panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar
dan dari gesekan antar komponen. Bahan dasar minyak pelumas baik minyak
pelumas otomotif maupun industri umumnya berupa minyak mineral campuran
dari beberapa jenis hidrokarbon minyak bumi (Hardjono, 2001).
Era industrialisasi ini, kebutuhan minyak bumi meningkat tajam,
sedangkan cadangan minyak bumi makin menipis (Wartawan, 1983). Selain itu
minyak pelumas yang merupakan produk mineral memiliki penggunaan yang
terbatas karena renewable dan non-biodegradable. Hal ini mamacu produksi
minyak nabati sebagai bahan dasar alternatif minyak pelumas (Madankar et al.,
2013; Salih et al., 2011; Gryglewiczet et al., 2013). Terdapat pertumbuhan yang
pesat terhadap penggunaan pelumas ramah lingkungan. Di sisi lain, minyak nabati
memiliki potensi menggantikan minyak mineral sebagai bahan dasar untuk
memecahkan masalah polusi (Gong et al., 2003; Zhu et al., 2009).
3

Kelebihan minyak pelumas nabati bersifat ramah lingkungan, toksisitas


rendah, dan mudah terdegradasi dalam lingkungan. Biasanya pemurnian minyak
nabati dilakukan dengan bantuan alkali menghasilkan trigliserida dengan kadar
99% (Stefanescu et al., 2002). Trigliserida adalah ester dari asam lemak. Asam
lemak (dengan atau tanpa ikatan rangkap) dapat diklasifikasikan menjadi :
a) Asam lemak jenuh (tidak mengandung ikatan rangkap), seperti stearat dan
palmitat.
b) Asam lemak dengan satu ikatan rangkap seperti asam oleat.
c) Asam lemak dengan ikatan rangkap lebih dari satu buah, seperti asam
linoleat dan linolenat.
d) Asam lemak khusus yang mengandung radikal epoksi dan hidroksil.
(Joseph dan Duda, 1996).
Minyak nabati dengan kandungan asam oleat tinggi mempunyai karakter
lebih baik dibanding minyak nabati dengan kandungan asam lemak jenuh. Minyak
ini paling cocok digunakan dalam industri. Secara teknis asam oleat mengandung
65-72% C 18:1, kurang lebih 10% C 18:2, sejumlah kecil C 18:0 dan C 16:0
dimana angka 0,1,2 menunjukkan jumlah ikatan rangkap. Minyak nabati dengan
kandungan asam oleat tinggi dan kadar lemak tidak jenuh rendah atau tidak ada
paling baik berperan sebagai minyak pelumas. Asam lemak dengan kandungan
oleat tinggi mempunyai stabilitas lebih baik daripada kandungan oleat rendah
(Stefanescu et al., 2002).
Minyak nabati dengan kandungan asam oleat tinggi adalah minyak
bunga matahari (oleat >90%) dan minyak jarak kepyar (Ricinus communis L.)
tersusun atas 87% 1,2-hidroksi oleat (asam risinoleat). Minyak ini memiliki
standar mutu untuk digunakan sebagai minyak pelumas (Stefanescu et al., 2002).
Minyak jarak dapat digunakan sebagai bahan dasar minyak pelumas karena
minyak jarak memiliki viskositas yang tinggi, titik tuang yang rendah serta indeks
ketahanan beban yang cukup tinggi (Yanto, 2002). Minyak ini tidak kehilangan
o
massa penguapan karena memiliki titik bakar tinggi, sekitar 275-295 C
(Stefanescu et al., 2002).
Minyak jarak dapat digunakan sebagai minyak pelumas, namun masih
memiliki beberapa kekurangan seperti perubahan viskositas yang sangat besar
4

akibat perubahan temperatur dan mudah mengalami oksidasi (Sharma et al.,


2006). Untuk mencegah penurunan viskositas yang sangat besar maka perlu
ditambahkan zat aditif ke dalam minyak jarak sehingga penurunan tingkat
viskositas terhadap kenaikan temperatur dapat diperkecil (Puspasari, 2006).
Kelebihan minyak pelumas yang berbahan dasar minyak jarak pagar dan
mengandung poligliserol bersifat ramah lingkungan, memiliki toksisitas rendah,
dan mudah terdegradasi di lingkungan (Smith, 1994).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian terhadap
pengembangan pemanfaatan minyak jarak kepyar (Ricinus communis L.) sebagai
energi alternatif terbarukan bahan dasar minyak pelumas nabati serta pemanfaatan
poligliserol sebagai zat aditif pelumas tersebut.

I.2 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan :
1. Mengetahui pengaruh penambahan poligliserol terhadap karakteristik dan
indeks viskositas dalam pelumas berbahan dasar minyak jarak kepyar.
2. Karakterisasi minyak pelumas hasil penelitian menggunakan spektroskopi
inframerah dan kromatografi gas, serta menganalisis dengan uji minyak
bumi.
3. Standarisasi minyak pelumas hasil penelitian.

I.3 Manfaat Penelitian


Adapun beberapa manfaat penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan daya guna minyak jarak kepyar dan gliserol sehingga
diharapkan dapat menambah nilai ekonomisnya.
2. Menjadikan minyak jarak kepyar sebagai sumber bahan baku pengganti
minyak pelumas mineral di masa mendatang.
3. Mendapatkan minyak pelumas yang bersifat renewable dan
biodegradable.