Anda di halaman 1dari 5

DCS Dalam Industri Kimia

Industri petrokimia merupakan salah satu industri dengan tingkat kompleksitas yang
tinggi. Hal ini diakibatkan oleh rumitnya proses yang terdapat pada industri tersebut.
Oleh karena itu dibutuhkan system pengontrolan yang handal agar dapat mengatur
proses secara keseluruhan sehingga dapat berjalan dengan baik.

DCS (Distributed Control System) merupakan salah satu system pengontrol yang
biasa digunakan dalam industri. Salah satu keunggulan dari DCS adalah
kemampuannya dalam mengontrol plant yang kompleks. Akibat keunggulannya ini,
keberadaan DCS menjadi sangat penting dalam industry terutama pada industri
petrokimia yang memiliki banyak parameter yang
harus dikontrol. Penggunaan DCS sebagai sistem kontrol pada industri, khususnya
pada industri petrokimia, menjadi sebuah keharusan. Oleh karena itu dituntut
kemahiran dalam mengoperasikan DCS untuk mengontrol proses pada pabrik.
Kemahiran dalam mengoperasikan DCS pada pabrik bertujuan agar pengontrolan
proses yang dilakukan oleh DCS dapat berlangsung secara optimal. Di pabrik, yang
bertugas untuk mengoperasikan DCS adalah operator. Agar dapat mengoperasikan
DCS secara optimal, operator harus memahami proses yang akan dikontrol. Selain
pemahaman terhadap proses yang dikontrol, operator juga harus mengetahui setiap
parameter proses yang dikontrol serta tindakan apa saja yang harus diambil jika
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Untuk mengambil contoh, dibawah ini ialah contoh system DCS dan komponen
komponennya:
DCS Centum CS3000 Yokogawa
Distributed Control System (DCS) adalah sistem control terdistribusi dimana
pengontrolnya tidak terpusat melainkan terbagi pada tiap sub-sistem. DCS biasanya
digunakan pada industri manufaktur, industri proses, termasuk industri petrokimia,
dan industri yang melibatkan proses-proses dinamik. Karena arsitektur DCS yang
menempatkan pengontrolnya secara terdistribusi maka DCS dapat menghindari
kegagalan jika terjadi kerusakan pada suatu sub-sistem tertentu. Salah satu
keunggulan dari DCS adalah kemampuannya dalam mengontrol pabrik yang
kompleks karena keseluruhan pengontrol saling terhubung satu sama lain sehingga
memungkinkan terjadinya saling komunikasi. Hal ini tentu akan mempermudah
operator dalam melakukan pengontrolan. Terdapat tiga komponen utama pada DCS,
yakni FCS, HIS dan field instrument. Ketiga komponen ini saling terhubung sehingga
membentuk sebuah sistem.
a. FCS (Field Control Station)
merupakan suatu perangkat keras yang berfungsi sebagai otak dari DCS. FCS
menerima sinyal masukan dari sensor, kemudian FCS akan melakukan
tindakan pengontrolan berdasarkan data dari sinyal masukan tersebut dan
menggerakkan aktuator. Field instrument merupakan perangkat keras yang
berupa sensor maupun aktuator. Perangkat ini umumnya berada di lapangan
dan bersentuhan langsung dengan proses yang dikontrol.

b. HIS (Human Interface Station)


merupakan perangkat lunak yang berfungsi sebagai penghubung antara
manusia dan DCS. HIS menampilkan proses-proses yang berlangsung
sedemikian rupa sehingga manusia dapat mengerti dan dapat melakukan
pengontrolan terhadap proses-proses tersebut. HIS memiliki fasilitas
pemrograman yang disebut dengan function block. Dengan menggunakan
function block dapat dilakukan pengubahan konfigurasi FCS yang
memungkinkan dibuatnya simulasi terhadap suatu proses dengan
menggunakan blok-blok perhitungan sesuai dengan pemodelan dinamik dari
proses tersebut.

c. Human Machine Interface (HMI).


Selain melakukan pengubahan konfigurasi kontrol dari FCS, HIS juga
berfungsi untuk menjadi penghubung antara manusia (operator) dengan DCS.
Fasilitas yang membantu fungsi ini adalah Human Machine Interface (HMI).
HMI berfungsi untuk menampilkan kerja DCS secara sederhana, membantu
dalam melakukan pengontrolan serta pengubahan parameter-parameter dari
proses. Selain menampilkan proses, HMI juga dapat menampilkan dinamika
dari parameter-parameter proses dalam sebuah trend.

d. I/O Module
I/O Module merupakan interface antara control module dengan field
instrument. I/O module berfungsi menangani input dan output dari suatu nilai
proses, mengubah sinyal dari digital ke analog dan sebaliknya. Modul input
mendapatkan nilai dari transmitter dan memberikan nilai proses kepada FCU
untuk diproses, sedangkan FCU mengirimkan manipulated value kepada
modul output untuk dikirim ke actuator. Setiap field instrument pasti
memiliki alias di I/O module. Setiap field instrument memiliki nama yang
unik di I/O Module.

REFERENSI
- Yokogawa Electric Corporation, (1998), Users Manual CS3000/CS1000,
Yokogawa Electric Corporation
- Liptak, Bela G., (2003) Instrument Engineers Handbook : Process Control
Volume 3, New York : CRC Press,