Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN KONSEP DASAR

Karena penalaran dalam perekayasaan pelaporan keuangan bersifat


deduktif normatif, penyimpulan harus dimulai dari suatu premis atau asumsi
yang disepakati dan dianggap valid tanpa harus diuji kebenarannya. Akan tetapi,
ada keyakinan bahwa premis tersebut bermanfaat untuk landasan
pengembangan rerangka konseptual. Premis tersebut biasanya berbentuk
konsep dan dinyatakan secara eksplisit atau implicit. Dalam rerangka
konseptualnya, misalnya, FASB menyebut beberapa konsep seperti
conservatism,substance over form,dan accrual basis.
Konsep semacam itu sering disebut dengan berbagai nama yaitu postulat
(postulates), asumsi dasar (basic assumtions), basic features,prinsip umum
(broad principles), aksioma (axioms), doktrin (doctrines), konvensi
(conventions) ,fundamental (fundamentals), premis dasar, dan kendala
(constraints).konsep tersebut secara umum disebut sebagai konsep dasar.
Disebut konsep dasar karena kalau konsep tersebut dianut akan terdapat
implikasi atau konsekuensi akuntansi tersebut.
KONSEP DASAR
A. SUMBER KONSEP DASAR
1. Ikatan Akuntansi Indonesia
IAI mengadopsi rerangka konseptual IASC sehingga konsep dasar yang
dipilih juga mengikuti IASC. Ada dua konsep dasar yang disebut secara spesifik
dalam rerangka konseptual IASC. Konsep dasar tersebut adalah: Basis Akrual
Dan Usaha Berlanjut.
2. Paul Grady
Grady mengidentifikasi sepuluh konsep dasar yang dianggap melandasi
praktik bisnis dan akuntansi di Amerika. Grady mendeskripsi konsep dasar
sebagai konsep yang mendasari kualitas kebermanfaatan dan keterandalan
informasi akuntansi atau sebagai keterbatasan yang melekat pada satatemen
keuangan.kesepuluh konsep dasar tersebut adalah:

1. Struktur masyarakat dan pemerintah yang mengakui hak milik pribadi

2. Entitas bisnis spesifik

3. Usaha berlanjut

4. Penyimbolan secara moneterdalam seperangkat akun


5. Konsistensi antara perioda untuk entitas yang sama

6. Keanekaragaman perlakuan akuntansi diantara entitas independen

7. Konservatisma

8. Keterandalan data melalui pengendalian internal

9. Materialitas

10.Ketepatwaktuan dalam pelaporan keuangan memerlukan taksiran

3. Accounting Principles Board


APB menyebut konsep dasar sebagai cirri-ciri dasar dan memuatnya dalam
APB Statement No.04.APB mengidentifikasi tiga belas konsep dasar yang
merupakan karakteristik lingkungan ditarapkannya akuntansi, yaitu:

1. Entitas Akuntansi

2. Usaha berlanjut

3. Pengukuran sumber ekonomok dan kewajiban

4. Perioda-perioda waktu

5. Pengukuran dalam unit uang

6. Akrual

7. Harga pertukaran

8. Angka pendekatan

9. Pertimbangan

10.Informasi keuangan umum

11.Statemen keuangan berkaitan secara mendasar

12.Substansi daripada bentuk


13.Materialitas

4. Wolk,Tearney, dan Dodd


Wolk dan Tearney mendaftar empat konsep yang dianggap sebagai postulat
dan beberapa konsep lain sebagai prinsip berorientasi masukan dan prinsip
berorientasi keluaran.ke empat konsep yang di kategorikan sebagai postulat
adalah:

1. Usaha berlanjut

2. Perioda waktu

3. Entitas akuntansi

4. Unit moneter

5. Anthony, Hawkins, dan Merchant


Penulis ini mendaftar sebelas konsep .konsep dsar 1 sampai 5 dikategori
sebagai pelandas statmen keuangan sedangkan konsep dasar 6 sampai 11
dikategori sebagai pelandas statemen laba-rugi.

1. Pengukuran dengan unit uang

2. Entitas

3. Usaha berlanjut

4. Kos

5. Aspek ganda

6. Perioda akuntansi

7. Konservatisma

8. Realisasi

9. Penandingan

10.Konsistensi
11.Materialitas

6. Paton dan Littleton


Seperangkat konsep dasar yang dikemukakan P & L merupakan konsep-
konsep dasar yang dikenalkan sebelum sumber-sumber yang disebut
sebelumnya. Berikut adalah konsep-konsep dasar yang dikemukakan P & L:

1. Entitas bisnis atau kesatuan usaha

2. Kontinuitas kegiatan/usaha

3. Penghargaan sepakatan

4. Kos melekat

5. Upaya dan capaian/hasil

6. Bukti terverifikasi

7. Asumsi

B. KESATUAN USAHA
Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan dianggap sebagai suatu
kesatuan atau badan usaha ekonomik yang berdiri sendiri,bertindak atas
namanya sendiri, dan kedudukannya terpisah dari pemilik atau pihak yang
menanamkan dana dalam perusahaan dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi
pusat perhatian atau sudut pandang akuntansi.
1. Batas Kesatuan
Walaupun secara yuridis kesatuan usaha didukung keberadaannya,batas
kesatuan usaha dari segi akuntansi bukanlah kesatuan yuridis atau hukum
melainkan kesatuan ekonomik. Artinya akuntansi memperlakukan badan usaha
sebagai suatu kesatuan ekonomik daripada kesatuan yuridis. Batas kesatuan
ekonomik Adalah kendali oleh satu manajemen.oleh karena itu untuk
menentukan kesatuan usaha sebagai pusat pertanggungjawaban keuangan,
pertimbangan akuntansi adalah apakah secara ekonomik satu kegiatan usaha
atau lebih dapat dianggap berdiri sendiri sebagai satu kesatuan.
2. Pengertian Ekuitas
Karena hubungan antara kesatuan dan usaha terpisah dengan pemilik dan
hubungan tersebut dipandang sebagai hubungan bisnis, konsep kesatuan usaha
mempunyai implikasi terhadap pendefinisian ekuitas. Dengan sudut pandang
kesatuan usaha, secara konseptual ekuitas atau modal merupakan utang atau
kewajiban perusahaan kepada pemilik. Hal ini berlawanan dengan pendefinisian
secara structural bahwa ekuitas adalah hak residual pemilik terhadap asset
bersih sebagaimana didefinisi dalam rerangka konseptual FASB.Dalam hal ini
sudut pandang FASB adalah pemilik.
3. Pengertian Pendapatan
Konsep kesatuan usaha dapat menjelaskan mengapa pendapatan
didefinisi sebagai kenaikan atau aliran masuk asset. Dengan konsep kesatuan
usaha, semua sumber ekonomik yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan
merupakan asset perusahaan bukan asset pemilik. Telah disebutkan diatas,
utang kesatuan usaha kepada pemilik disebut ekuitas.pada saat terjadi
pendapatan atau kenaikan asset,pada saat yang sama utang unit usaha kepada
pemilik bertambah yang berarti ekuitas bertambah.De ngan demikian dapat
dikatakan bahwa pendapatan menambah ekuitas. Jadi, pendapatan menambah
ekuitas karena dengan konsep kesatuan usaha pendapatan sebagai kenaikan kas
menimbulkan kenaikan utang kesatuan usaha kepada pemilik.dengan demikian
definisi pendapatan menurut FASB konsisten dengan konsep kesatuan usaha.
Dengan cara berfikir yang sama dapat dijelaskan pula mengapa
pendapatan juga didefinisi sebagai penurunan kewajiban.kewajiban suatu saat
akan mengakibatkan aliran asset keluar.kalau kewajiban turun tanpa dibarengi
dengan keluarnya asset berarti jumlah rupiah asset yang tidak jadi keluar
akhirnya akan kembali ke pemilik sehinggautang kesatuan usaha kepada pemilik
bertambah.ini berarti asset yang tidak jdi keluar menjadi pendapatan.
4. Pengerttian Biaya
Definisi biaya sebagai penurunan asset atau timbulnya kewajiban dapat
dijelaskan dengan konsep kesatuan usaha. Penyerahan produk dalam rangka
menciptakan pendapatan, menyebabkan asset berkurang.berkurangnya asset
inilah yang disebut biaya. Bila pendapatan yang diperoleh diabaikan atau
dipisahkan dengan berkurangnya asset, maka berkurangnya asset sebesar kos
barang terjual ini akhirnya harus ditanggunga oleh pemilik. Jadi, dapat dikatakan
bahwa biaya mengurangi ekiutas, penalaran yang sama dapat digunakan untuk
menjelaskan mengapa biaya dapat didefinisi sebagai timbulnya
kewajiban.penyerahan barang atau produk tidak selalu berasal dari asset tetapi
dapat berasal dari kewajiban sehingga biaya dapat didefinisi sebagai timbulnya
kewajiban dalam rangka menciptakan pendapatan yang akhirnya mengakibatkan
turunnya asset. Jadi, definisi biaya oleh FASB konsisten dengan konsep kesatuan
uasaha.

5. Sistem Berpasangan
System berpasangan atau aspek ganda yang dikemukakan Antony,
Hawkins, dan Merchant, sebenarnya merupakan konsekuensi logis atau turunan
dari konsep kesatuan usaha.hubungan bisnis antara manajemen dan pemilik
mengakibatkan manajemen harus selalu mempertanggungjawabkan asset yang
dikelolanya dan sumber asset tersebut.Ini berarti bahwa pengaruh transaksi
terhadap hubungan bisnis dan posisi keuangan harus selalu ditunjukkan.untuk
melaksanakan hal ini dengan mudah dan nyaman, digunakanlah system
berpasangan.
6. Persamaan akuntansi
Persamaan akuntansi merupakan cara merepresentasi system
berpasangan.Agar penyusunan statemen keuangan dapat dilakukan dengan
cepat,system akuntansi harus diorganisasi atas dasar persamaan akuntansi.oleh
karena itu persamaan akuntansi dapat dikatakan sebagai hubungan fungsional
buku besar yang merepresentasi elemen statement keuangan.hubungan
fungsional antarbuku besar ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

A=K+E+P-B+ID

7. Artikulasi
Artikulasi sebenarnya merupakan turunan atau konsekuensi dari konsep
kesatuan usaha.dengan artikulasi akan selalu dapat ditunjukkan bahwa laba
dalam statemen laba rugi akan sama dengan laba dalam statemen perubahan
ekuitas dan jumlah rupiah ekuitas akhir dalam statemen perubahan ekuitas akan
sama dengan jumlah rupiah ekuitas dalam neraca.
Pendekatan asset kewajiban dan pendapatan biaya mengakibatkan
pendefinisian, pengukuran dan pengakuan elemen yang satu merupakan produk
samping pendefinisiasn, pengukuran, dan pengakuan elemen yang lainnya.Hal
ini terjadi karena akuntansi menganut pendekatan artikulasian, yaitu bahwa
statemen keuangan harus berartikulasi. dengan pendekatan ini semua
perubahan asset bersik akibat transaksi dengan nonpemilik dilaporkan melalui
statemen rugi laba dan laba konprehensifsehingga integritas statemen laba-rugi
dapat dipertahankan.
C. KONTINUITAS USAHA
Konsep kontinuitas usaha atau usaha berlanjut menyatakan bahwa kalau
tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala, atau rencna pasti dimasa datang bahwa
kesatuan usaha akan dibubarkan atau dilikuidasi maka akuntansi menganggap
bahwa kesatuan usaha tersebut akan berlangsung terus sampai waktu yang
tidak terbatas.
Konsep ini akan menjadi pertimbangan pada saat penyusunan statemen
keuangan atau pada saat akuntansi menghadapi berbagai pilihan dalam proses
perekayasaan aptau penyusunan standar karena kenyataan bahwa
kelangsungan hidup perusahaan dimasa datang tidak pasti.
1. Arti Penting Laporan Periodik
Dengan konsep kontinuitas usaha, perusahaan berusaha untuk maju dan
berkembang dengan jalan menciptakan laba terus-menerus dalam jangka
panjang.laba diperoleh melalui kegiatan menyerahkan barang atau jasa yang
menimbulkan biaya sebagai aliran keluar asset dan kegiatan mendatangkan
pendapatan yang merupakan aliran asset masuk akibat penyerahan barang atau
jasa tersebut.dengan demikian kesatuan usaha dapat dipandang sebagai pusat
aliran pendapatan dan biaya yang berlangsung terus.kesatuan usaha juga akan
mengubah sumber ekonomik yang satu menjadi yang lain secara terus-menerus
untuk menyediakan barag atau jasa.
2. Kedudukan Statemen Laba-Rugi
Untuk mengukur daya melaba jangka panjang, aliran kontinus sumber
ekonomik masuk dan keluar kesatuan usaha harus dipenggal-penggal dengan
perioda waktu sebagai wadah atau penakar. Penggalan pendapatan dan biaya
untuk suatu perioda dituangkan dalam statemen laba-rugi periodic sehingga
laba-rugi dipandang sebagai statemen yang paling penting dalam pelaporan
keuangan karena tingkat laba dalam rangka menilaidaya melaba.
3. Fungsi Neraca dan Penilaian Elemennya
Konsep kontinuitas usaha sangat besar penerapannya dalam mendasari
penilaian elemen atau pos neraca dan interprestasi jumlah rupiah yang dimuat
didalamnya.Dengan konsep kontinuitas usaha, tujuan pelaporan pos neraca
adalah untuk menunjukkan sisa potensi-potensi jasa atau sumber-sumber
ekonomik yang belum dikonsumsi dalam satu tahun yang berakhir pada tanggal
neraca.dengan kata lain neraca berfungsi untuk menunjukkan potensi jasa yang
masih dimiliki kesatuan usaha untuk menghasilkan pendapatan dalam perioda
berikutnya.
D. PENGHARGAAN SEPAKATAN
Konsep ini menyatakan bahwa jumlah rupiah atau penghargaan sepakatan
yang terlibat dalam tiap transaksi atau kegiatan pertukaran merupakan bahan
olah dasar akuntansi yang paling objektif terutama dalam mengukur sumber
ekonomik yang masuk dan sumber ekonomik yang keluar. Sebagai konsekuensi,
elemen-elemen atau pos-pos pelaporan keuangan diukur atas dasar
penghargaan sepakatan tersebut.
Konsep ini dilandasi pemikiran bahwa fungsi akuntansi adalah
menyediakan informasi yang berpaut dengan kegiatan perusahaan yang
sebagian besar terdiri atas transaksi pertukaran dengan perusahaan lain.objek
yang terlibat dalam tiap transaksi atau kegiatan merupakan fenomena atau
realitas perusahaan.

1. Istilah Yang Tepat


Penghargaan sepakatan dalam suatu pertukaran merupakan istilah yang
mengandung makna adanya penilaian bersama antara pembeli dan penjual.Pada
saat transaksi terjadi, pencatatan penghargaan sepakatan atau agregat harga
memang dapat dikatakan sebagai pencatatan nilai. Tetapi beberapa saat setelah
transaksi , nilai dapat berubah tetapi jumlah rupiah yang tercatat tidak. Jumlah
rupiah yang tercatat itulah yang yang akan tetap menjadi bahan olah
akuntansi.tentu saja, dengan berjalannya waktu jumlah yang tercatat tersebut
tidak dapat disebut nilai lagi.Jadi,akuntansi tidak mengolah nilai tetapi
penghargaan sepakatan.
Kalau dalam tiap ungkapan istilah penghargaan sepakatan diganti dengan
cost atau nilai, boleh jadi akan terjadi salah interprestasi.walaupun cost tidak pas
benar untuk mengganti pengharhgaan sepakatan P & L akhirnya juga memaknai
cost sebagai penghargaan sepakatan asalkan cost didefinisi dalam arti yang
paling luas.
2. Jasa Dibalik Kos
Akuntansi menggunakan satuan mata uang karena satuan tersebut paling
mudah untuk mengkuantifikasi objek atau jasa kedalam satuan yang homogenus
dan juga karena harga dalam satuan uang adalah cara yang sudah umum untuk
menyatakan sepakatan dalam pertukaran.dari segi akuntansi sebenarnya bukan
uang atau harga itu sendiri yang mempunyai arti penting melainkan justru
potensi jasa yang ada dibalik angka koslah yang mempunyai arti penting. Di
balik deretan angka-angka akuntansi terkandung potensi jasa yang berwujud
fisis maupun nonfisis.Potensi jasa tersebut adalah daya, kemampuan, atau
kapasitas yang kalu ditukarkan dapat menimbulkan daya,kemampuan, atau
kapasitas lain yang kekuatannya paling tidak sama dengan yang sebelumnya
dimiliki perusahaan yang diresentasi dalam bentuk kos.
3. Keterbatasan Informasi Akuntansi
Informasi akuntansi hanya merupakan sebagian dari informasi yang
mungkin dibutuhkan untuk mengambilan keputusan oleh pihak eksternal dan
manajemen.lebih dari itu, walaupunsegala pertimbangan dan kebijakan
didasarkan pada data akuntansi secara cukup mendalam, pada akhirnya
keputusan yang dihasilkan akan mencerminkan juga pengaruh data
nonakuntansi dan akan diwarnai dengan hal-hal yang sangat kualitatif dan
subjektif.
E. KOS MELEKAT
Konsep ini menyatakan bahwa kos melekat pada objek yang
direpresentasinya sehingga kos bersifat mudah bergerak dan dapat dipecah-
pecah atau digabung-gabungkan kembali mengikuti objek yang dilekatinya.
Dasar pikiran konsep ini adalah bahwa tujuan pengelompokan,pemecahan dan
penggabungan kos adalah untuk mengikuti aliran upaya dalam menyediakan
produk atau jasa.

1. Saat Pengakuan Nilai Tambah


Secara ekonomik, kegiatan perusahaan terdiri atas pengggabungan
berbagai factor produksi untuk menghasilkan produk baru yang manfaatnya
lebih tinggi. Kalau kegiatan produksi menggunakan bahan baku dan bermacam-
macam factor produksi, kegiatan akuntansi menggunakan kos untuk menyatakan
pemrosesan factor produksi tersebut.tujuan kegiatan akuntansi adalah mengikuti
secara tepat pengubahan tersebut dengan menggolongkan, memecah dan
mengikhtisarkan kos bahan baku,kos tenaga kerja, kos jasa mesin, dan kos factor
produksi lainnya sehinggga seluruh kos tersebut secara bersama-sama akan
membentuk kos prooduk. Jadi, konsep dasar kos melekat diperlukan karena
dalmam mengikuti aliran fisis tersebut harus ada anggapan bahwa tiap kos
mempunyai daya saling mengikat bila digabungkan dengan kos lain secara
tepat. Konsep dasar ini mempunyai implikasi penting terhadap saat pengakuan
tambahan manfaat produk fisis yang dihasilkan.
2. Wadah Penggabungan
Dalam mengikuti aliran fisis produksi, kos dipecah, dikelompokkan dan
kemudian digabung kembali mengikuti unit fisis produk. Ini berarti bahwa kos
digabungkan dengan produk sebagai wadah atau penakar penggabungan.
Setelah produk diserahkan kepada pelagganan maka kos melekat pada unit
produk yang telah diserahkan akan mengukur biaya dan secara logis dapat
disebut dengan kos barang terjual.
F. UPAYA DAN HASIL
Konsep ini menyatakan bahwa biaya merupakan upaya dalam rangga
memperoleh hasil berupa pendapatan.dengan kata lain, tidak ada hasil tanpa
upaya.
1. Perlunya Basis Asosiasi
Laba mencerminkan keefektifan manajemen dalam mengelola sumber
ekonomik dan merupakan informasi penting bagi pihak yang berkepentingan
khususnya bagi mereka yang menyediakan sumber ekonomik dan menanggung
resiko akhir.ukuran keefektifan ini akan tepat apabila hasil ditandingkan dengan
upaya yang menimbulkan hasil tersebut. Dengan demikian, Diperlukanlah dasar
asosiasi yang tepat dan rasional antara kedua komponen tersebut agar laba
mempunyai makna atau nilai sebagai pengukur kinerja yang terandalkan.
2. Penakar Asosiasi Ideal Dan Praktis
Penakar yang dimaksud disini tidak lain adalah dasar atau wadah
penandingan antara biaya dan pendapatan. Penakar yang paling cocok adalah
penakar yang dapat menunjukkan secara tepat dan objektif bahwa biaya yang
masuk dalam penakar adalah biaya yang benar-benar menyebabkan timbulnya
pendapatanyang masuk dalam penakar tersebut. Idealnya semua kos dilekatkan
pada produk sehingga asosiasi antara biaya dan pendapatan yang ditimbulkan
oleh biaya tersebut sangat jelas.
3. Laba Akuntansi Versus Ekonomik
Dengan konsep ini laba dipandang sebagai residual atauselisih
pengukuran dua elemen yang berkaitan yaitu pendapatan dan biaya.laba yang
diperoleh dengan cara seperti ini disebut dengan structural atau formal.disebut
laba formal karena laba diperoleh sebagai hasil penerapan ketentuan-ketentuan
formal.karena perbedaan konsep dasar, pengertian dan tujuan, laba akuntansi
dapar berbeda maknanya dengan laba ekonomik atau laba material yang sering
digunakan dalam ekonomika atau perpajakan. Namun demikian akuntansi juga
mengupayakan agar laba akuntansi sedapat-dapatnya merupakan representasi
atau proksi laba ekonomik.
4. Kos Actual
Kos timbul Karenna transaksi yang, kejadian atau upaya yang nyata-nyata
dilakukan. Untuk mengakui kos harus ada transaksi masa lalu.Dengan kata lain,
biaya sesungguhnya adalah biaya yang terjadi akibat suatu kegiatan yang nyata
sehingga kos hipotesis atau asumsian tidak diakui.
5. Asas Akrual Aatau Himpun
Asas akrual adalah asas dalam pengakuan pendapatan dan biaya yang
menyatakan bahwa pendapatan diakui pada saat hak kesatuan usaha
timbullantaran penyerahan barang atau jasa ke pihak luar dan biaya diakui pada
saat kewajiban timbul lantatan penggunaan sumber ekonomik yang melekat
pada barang atau jasa yang diserahkan tersebut.
6. Pengertian Depresiasi
Depresiasi adalah biaya nyata bukan hipotesis. Depresiasi untuk suatu
perioda harus diperhitungkan dan diakui sebagai biaya karena jasa yang
diberikan oleh asset tetap tidak terjadi sekaligus pada saat pemerolehan atau
pemberhentian asset tersebut. Seluruh potensi saja asset tetap jelas akan
dimanfaatkan atau dipakai dengan cara tertentu sampai jasa yang terkandung
didalamnya habis. Jadi, depresiasi adalah bagian dari kos asset yang telah
diperhitungkan sebagai biaya.
7. Kapasitas Menganggur
Biaya depresiasi yang telah dihitung dengan metoda tertentu harus tetap
merupakan biaya untuk menghasilkan pendapatan walaupun perhitungan
tersebut menimbulkan atau bahkan menambah rugi operasi. Meskipun demikian
tidak tertutup kemungkinan untuk memisahkan dalam laporan laba-rugi bagian
depresiasi tahun berjalan yang merepresentasikapasitas menganggur.
8. Pos-Pos Luar Biasa
Untuk menentukan laba periodic, konsep menandingkan yang berorientasi
jangka panjang akan memasukkan juga:

Untung luar biasa, yaitu timbulnya atau bertambahnya manfaat ekonomik


atau asset yang terjadi tanpa upaya yang jelas dan direncanakan.

Rugi luar biasa, yaitu hilangnya atau berkurangnya manfaat ekonomik


atau asset yang terjadi akibat hal-hal yang tidak ada hubungannya atau
tidak mudah dihubungkan dengan upaya untuk memperoleh hasil
G. BUKTI TERVERIFIKASI DAN OBJEKTIF
Konsep ini menyatakan bahwa informasi keuangan akan mempunyai
tingkat kemanfaatan dan tingkat keterandalan yang cukup tinggi apabila
terjadinya data keuangan didukung oleh bukti-bukti yang objektif dan dapat diuji
kebenarannya.objektivitas bukti harus dievaluasi atas dasar kondisi yang
melingkupi penciftaan, pengukuran, dan penangkapan atau pengakuan data
akuntansi. Jadi, akuntansi tidak mendasarkan diri pada objektivitas mutlak
melainkan pada objektivitas relative yaitu objektivitas yang paling tinggi pada
waktu transaksi terjadi dengan mempertimbangkan keadaan dan tersedianya
informasi pada waktu tersebut.
1. Arti Penting Untuk Pengauditan
Konsep bukti yang dapat diuji kebenarannya dan objektif menjadi penting
dalam kaitannya dengan pengauditan untuk menentukan kewajaran statemen
keuangan.salah satu criteria kewajaran adalah bahwa pos-pos statemen
didefinisi, diukur, dinilai, diakui, dan disajikan sesuai dengan PABU.
2. Objektivitas Bukti
Bukti adalah sarana untuk memastikan kebenaran atau memberikan
pembuktian.bukti yang kuat adalah bukti yang dapat memberikan keyakinan
tinggi akan kebenaran suatu pernyataan. Bukti terverifikkasi adalah bukti yang
mempunyai sifat tertentu sehingga memungkinkan untuk menjadi bahan
pembuktian kebenaran pernyataan.
3. Objektivitas Relative
Akuntansi bukan ilmu pasti sehingga objektivitas bukti dalam akuntansi
bersifat relatif. Kegiatan usaha tidak memungkinkan untuk dijadikan bahan
analisis laboraturium dan tidak pula mengikuti rumrus-rumus matemetik. Oleh
karena itu konsep objektivitas dalam penciptaan data akuntansi adalah
objektivitas yang disesuaikan dengan keadaan yang ada pada saat penentuan
fakta bukan objektivitas mutlak.
4. Objektivitas Dan Keterverifikasian Jangka Panjang
Bukti yang paling kuat dan paling diinginkan adalah bukti yang
sepenuhnya objektif. Akan tetapi bila persyaratan objektivitas semacam ini harus
diikuti secara mutlak dalam segala hal maka akuntansi akan menjadi
berpandangan jangka pendek dan bertentangan dengan konsep kontinuitas
usaha.
Bukti akuntansi juga tidak harus mendasarkan pada bukti yuridis. Itulah
sebabnya untuk dapat dinyatakan sebagai asset yang dikuasai kesatuan usaha,
suatu asset tidak harus dimiliki kesatuan usaha akan tetapi cukup dikuasai.
H. ASUMSI
1. Kontinuitas Usaha
Konsep kontinuitas usaha hanya dapat dibenarkan atas dasar pengalaman
perusahaan pada umumnya. Oleh karena itu penerapan konsep ini dalam
perusahaan tertentu adalah semata-mata asumsi dan kenyataan ini harus tetap
dipertimbangkan dalam proses pelaporan.tingkat kegagalan usaha adalah tinggi
terutama untuk perusahaan perseorangan yang kecil.
2. Perioda Satu Tahun
Pelaporan periodic dengan waktu sebagai wadah pengukuran adalah salah
satu kebiasaan penting dalam akuntansi. Untuk tujuan penakaran terhadap
pendapatan dan biaya yang menghasilkan pendapatan tersebut, interval waktu
yang digunakan adalah satu tahun, baik tahun kalender ataupun tahun
buku/fiscal. Akuntansi menganggap bahwa satu tahun adalah periodewaktu yang
tepat untuk pelaporan Karena dianggap tidak terlalu pendek dan tidak terlalu
panjang.
3. Kos Sebagai Bahan Olah
Penghargaan sepakatan yang menjadi bahan oleh akuntansi didasarkan
atas asumsi bahwa kos factor produksi yang diperoleh perusahaan menunjukkan
nilai wajar pada saat terjadinya. Asumsi dibalik penalaran tersebut adalah bahwa
para pelaku ekonomi bertindak rasional, suatu asumsi yang tidak selalu benar
dalam tiap keadaan.
4. Daya Beli Utang Stabil
Konsep bahwa rupiah yang tercatat akan tetap menunjukkan nilai
dilandasi asumsi bahwa daya beli uang adalah stabil sepanjang masa.dalam
perioda-perioda yang mengalami inflasi cukup tinggi asumsi tersebut jelas tidak
berlaku lagi untuk tujuan-tujuan tertentu.
5. Tujuan Mencari Laba
Konsepp pendapatan dan biaya sebagai aliran jumlah rupiah yang
ditandingkan sebenarnya mengandung asumsi bahwa pendapatn adalah objek
yang dituju oleh upaya yang diukur dengan kos. Perusahaan dipandang sebagai
suatu organisasi yang dibentuk untuk menghasilkan laba. Asumsi ini tidak
diragukan kelayakannya. Keinginan untuk menghasilkan laba adalah karakteristik
nyata yang melekat pada perusahaan-perusahaan komersial pada umumnya.
I. KONSEP DASAR LAIN
Konsep-konsep dasar yang diuraikan oleh P&L diatas merupakan konsep-
konsep dasar yang terpadu dan lengkap sebagai landasan konseptual untuk
merekayasa pelaporan keuangan. Berikut adalah beberapa konsep yang belum
dicakupi konsep dasar P&L:
1. Substansi Daripada Bentuk
Konsep ini menyatakan bahwa dalam menetapkan suatu konsep ditingkat
perekayasaan atau dalm menetapkan standar di tingkat penyusun standar,
akuntansi akan menekankan makna atau substansi ekonomik suatu objek atau
kejadian daripada makna yuridisnya meskipun makna yuridis mungkin
menghendaki perlakuan akuntansi yang berbeda.
2. Pengakuan Hak Milik Pribadi
Konsep ini menyatakan bahwa pengakuan hak milik pribadi harus
dilindungi atau diakui secara yuridis. Tanpa konsep ini kesatuan usaha tidak
dapat memiliki sumber ekonooomikatau asset. Pemilikan merupakan salah satu
cara untuk memperoleh penguasaan.
3. Keanekaragaman Akuntansi Antarentitas
Konsep ini menyatakan bahwa perbedaan perlakuan akuntansi
antarkesatuan usaha merupakan suatu hal yang tidak dapatdihindari karena
perbedaan kondisi yang melingkupi dan karakteristik kesatuan usaha individual.
Keunikan kesatuan usaha justru menghendaki perlakuan akuntansi yang berbeda
agar informasi keuangan lebih menggambarkan keadaan unit usaha yang
sebenarnya
4. Konservatisma
Konservatisma adalah sikap atau aliran dalam menghadapi ketidakpastian
untuk mengambil tindakan atau keputusan atas dasar munculan yang terjelek
dari ketiddakpastian tersebut. Sikap konservatif juga mendukung makna sikap
berhati-hati dalam menghadapi resiko dengan cara bersedia mengorbankan
sesuatu yang mengurangi atau menghilangkan resiko.
5. Pengendalian Internalmenjamin Keterandalan Data
Konsep ini menyatakan bahwa system pengendalian internal yang
memadai merupakan sarana untuk mendapatkan keterandalan informasi yand
tinggi. Konsep yang diajukan Grady ini dilandasi penalaran bahwa objektivitas
dalam akuntansi bukan merupakan objektivitas mutlak dan akuntansi mengakui
adanya taksiran-taksiran sehingga keterandalan data hanya dapat dijamin kalau
kesatuan uasaha mempunyai system pengendalian internal yang memadai.

J. MANFAAT KONSEP DASAR

Walupun telah disinggung sebelumnya bahwa konsep dasar berfungsi


melandasi penalaran pada tingkat perekayasaan akuntansi, konsep dasar lebih
banyak manfaatnya bagi penyusun standar dalam berargumen untuk
menentukan konsep prinsip, metoda, atau teknik yang akan dijadikan standar.
P&L menegaskan bahwa penyusun standar harus dilandasi oleh pemikiran atau
penalaran yang jelas dan jernih. Pemilihan istilah, misalnya, harus didasarkan
atas pikiran yang jernih dan kaedah kebahasaan yang baik bukannya atas selera
seseorang yang berkuasa. Demikian juga, standar akuntansi tidak harus tunduk
pada apa yang nyatanya dipraktikkan tetapi harus lebih berorientasi kemasa
depan demi perbaikan secara bertahap.
K. KESIMPULAN
Konsep dasar merupakan abstaksi atau konseptualisasi karakteristik
lingkungatan akuntansi. Konsep dasar bersifat asumsi yang validitasnya tidak
selalu dapat diuji tetapi bermanfaat sebagai bisnis penalaran. Berbagai sumber
menyajikan daftar konsep dasar yang berbeda-beda karena perbedaan persepsi
terhadap arti penting suatu konsep untuk disebut sebagai konsep dasar. Konsep
dasar yang satu dalam banyak hal merupakan turunan atau konsekuensi dari
konsep dasar yang lain.