Anda di halaman 1dari 30

Magnesii Hydroxidum [FI IV halaman 513]

Magnesium Hidroksida [1309-42-8]


Mg (OH)
2
BM 58,32
Magnesium hidroksida yang telah dikeringkan pada suhu 105
o
selama 2 jam
mengandung tidak kurang dari 95.0% dan tidak lebih dari 100.5% Mg (OH)
2
.
Berat Molekul : 58,32
Rumus Molekul : Mg (OH)
2
Pemerian : Serbuk putih; ruah.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol; larut
dalam asam encer.
a.ii. Monografi Aluminium Hidroksida (Al(OH)
3
) [FI IV hal. 82]
Aluminium Hidroxydi Gel
Gel Aluminium Hidroksida
Aluminium Hidroksida [21645-51-2]
Al(OH)
3
BM 78,00
Gel Aluminium Hidroksida adalah suspensi dari aluminium hidroksida bentuk
amorf, sebagian hidroksida tersubstitusi dengan karbonat. Mengandung
aluminium hidroksida setara dengan tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari
110,0% Al(OH)
3
, dari jumlah yang tertera pada etiket.
Bobot Molekul : 78,00
Romus Molekul : Al(OH)
3
Pemerian : Suspensi kental, putih, jika dibiarkan akan terjadi
sedikit cairan jernih yang memisah.
pH antara 5,5 dan 8,0; lakukan penetapan secara potensiometrik.
C. Metode Titrasi
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Gugus yang terikat pada
atom pusat disebut ligan. Sebagai zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan
dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat
(dinatrium EDTA).
Reaksi pembentukan kompleks dapat dianggap sebagai suatu reaksi asam basa
Lewis dengan ligan bertindak sebagai basa, karena menyumbangkan sepasang
elektronnya kepada kation, yang merupakan asamnya. Ikatan yang terbentuk antara
atom logam pusat dengan ligan seringkali bersifat kovalen, namun dalam beberapa
kasus antaraksi tersebut berupa tarik menarik Coulomb.
Ikatan kompleks yang terbentuk antara ion logam dengan suatu kompleksing
agent juga dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
5. Ikatan Kompleks Biasa
Pada tipe ikatan ini, ion pusat berikatan dengan molekul yang hanya mempunyai
satu donor pasangan elektron sunyi.
6. Ikatan Kompleks Chelat (kelat)
Merupakan ikatan yang berbentuk cincin. Ion pusat berikatan dengan molekul
yang mempunyai dua atau lebih donor pasangan elektron sunyi. Sebagai contoh
adalah ikatan ion logam dengan EDTA.
I. Alat dan Bahan
Alasan pemilihan bahan tambahan

Untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi dan sesuai dengan persyaratan
yang ditentukan, maka diperlukan bahan bahan tambahan , diantaranya adalah
emulsifying agent, suspending agent, wetting agent, pengawet, pemanis, flavoring agen,
dll. Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan kali ini antara lain :
CMC Na (Carboxy Methyl Cellulose Sodium)
- Alasan pemiliahan : CMC tidak memiliki efek terpetik dan tidak berbahaya.
Selain itu, CMC juga berfungsi sebagai coating agent. Dalam sediaan ini CMC
digunakan sebagai emulsifying agent yaitu untuk membentuk emulsi dengan
simetikon yang berupa minyak.
- Fungsi : Sebagai suspending agent dan emulsifying agent
- Pemerian : Serbuk granular, tidak berbau, warna putih
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam aseton, etanol, eter, dan toluen. Mudah
terdispersi dalam air pada semua temperatur.
- Dalam larutan air stabil pada pH 7-9 (tepat sebagai antasid)
- Persyaratan penggunaan CMC Na 0,25-1% (excipient hal 78)
Nipagin (Methyl Paraben)
- Alasan pemilihan : Karena efektif mencegah jamur dan bakteri, toksisitasnya
kecil, dikombinasikan dengan nipasol untuk menambah kelarutan nipasol dalam
air.
- Pemerian : kristal tidak berwarna atau serbuk kristalin, berwarna putih, tidak
berbau, berbau lemah, rasa sedikit membakar.
- Kelarutan : Larut dalam 500 bagaian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5
bagian etanol (95%)Pndan dalam larutan alkili hidroksida
- Dosis : Larutan oral dan suspensi 0,015-2% (excipient hal 310)
Nipasol ( Propyl Paraben)
- Alasan pemilihan : merupakan pengawet yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba karena sediaan dalam air sangat baik untuk pertumbuhan
mikroba.Nipasol aktif dalam pH yang luas (4-8) sehingga efektif untuk antasida.
- Pemerian : putih, kristal, serbuk tidak berasa dan berwarna
- Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dan dalam
eter, sukar larut dalam ait mendidih.
Gliserin
- Alasan pemilihan : Karena gliserin dapat digunakan sebagi zat pembasah yang
dapat mendesak lapisan udara yang ada di permukaan partikel dan melapisi bahan
obat sehingga menyebabkan sudut kontak turun.
- Pemerian : Cairan jernig seperti sirup, tidak berbau, rasa manis, hanya boleh
berbau khas lemah, higroskopis, netral terhadap lakmus.
- Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidal larut dalam
kloroform, dalam eter.
Sorbitol
- Alasan pemilihan : diberikan sebagai pemanis sediaan dan dapt pula digunakan
sebagai zat pembasah agar bahan obat mudah didispersikan dalam air karena sifat
sorbitol yang mudah larut air.Sorbitol stabil pada pH 4,5-7
- Pemerian : granul atau lempengan, higroskopis, warna putih, rasa manis
- Kelarutan ; Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, dalam
metanol dan asam asetat.
Oleum Menthae Pip.
- Alasan pemilihan ; berguna sebagai corigen odoris, dipih karena dapat menuupi
rasa pahit dari bahan obat dan juga lebih disukai orang dewasa karena ada sensasi
dingin.
- Pemerian : Cairan tidak berwarna atau kuning pucat, bau khas kuat menusuk, rasa
pedas diikuti rasa dingin jika udara dihirup melalui mulut.
- Kelarutan : Dalam etanol 70% satu bagian dilarutkan dalam 3 bagian volume
etanol 70%
C. Spesifikasi dari sediaan yang dibuat
No Parameter Spesifikasi yang diinginkan
1
2
3
4
5
6
7
pH sediaan
Bj sediaan
Viskositas
Warna
Bau
Rasa
Ukuran partikel
Antara 7,3 8,5
0,2 2 g/cm
3
Mendekati 1000 cP
Putih
Menthol
Pedas, dingin jika dihirup
0,2 m atau kurang
Semua spesifikasi diatas didapat dari pustaka
Pharmaceutical Dosage Form : Disperse system volume 2
PERHITUNGAN JUMLAH BAHAN TAMBAHAN
Gliserin
- (ADI = 1-1,5 g/kg BB) Handbook of excipient 205, BJ = 1,2620 g/cm
- Sediaan = 20% x 60mL
= 12mL
= 12mL x 1,2620 g/cm
= 15,144 g
- ADI pasien
12 tahun = (32,52 kg) ( ISO Indonesia : 518 )
= 32,52 kg x 1,5 g/kg BB
= 48,78 g
- Perhitungan untuk mengetahui apakah melebihi ADI atau tidak
1x pakai = 5mL x 15,144 g
60 mL
= 1,262 g (tidak melebihi ADI)
3x pakai = 15mL x15,144 g
60mL
= 3,786 g (tidak melebihi ADI)
Nipagin (Metil paraben)
- (ADI = 10 mg/kg BB) Handbook of excipient halaman 312, BJ = 1,352 g/cm
- Penggunaan nipagin 0,015% - 0,2% excipient halaman 310
- Sediaan = 0,1% x 60mL
= 0,06mL
= 0,06mL /x 1,352 g/ cm
= 0,08112 g
= 81,12 mg
- ADI pasien
12 tahun = (32,52 kg) ISO Indonesia : 518
= 32,52 kg x 10 mg/kg BB
= 325,2 mg
- Perhitungan untuk mengetahui apakah melebihi ADI atau tidak
1x pakai = 5mL x 81,12 mg
60 mL
= 6,76 mg (tidak melebihi ADI)
3x pakai = 15mL x 81,12 mg
60mL
= 20,28 mg (tidak melebihi ADI)
CMC Na ( Carboxy methylcellulose sodium )
- BJ = 0,75 g/ cm
Sediaan = 0,5mL x 60mL
100 mL
= 0,3mL
= 0,3mL x 0,75 g/ cm
= 0,225 g = 225 mg
- Tidak ada ADI (Excipient halaman 80)
Sorbitol
- BJ = 1,49 g/ cm
Sediaan = 70mL x 60mL
100 mL
= 42mL
= 42mL x 1,49 g/ cm
= 62,58 g = 6258 mg
- ADI pasien (> 20g/hari)
- Perhitungan melebihi ADI atau tidak
12 tahun 1x pakai = 5mL x 6258mg
60 mL
= 521,5 mg
1 hari = 3x 521,5mg
= 1564,5mg (tidak melebihi ADI)
Nipasol
- BJ = 1,288 g/ cm , penggunaan nipasol 0,01% - c
- Sediaan = 0,02% x 60Ml
= 0,012mL
= 0,012mL x 1,288 g/ cm
= 0,0155 g
= 15,5 mg
- ADI pasien (10 mg/kg BB)
12 tahun = (32,52 kg) ISO Indonesia : 518
= 32,52kg x 10mg/kg BB
= 532,5mg
- Perhitungan melebihi ADI atau tidak
1x pakai = 5mL x 15,5mg
60 mL
= 1,29mg (tidak melebihi ADI)
3x pakai = 15mL x 15,5mg
60 mL
= 3,875mg (tidak melebihi ADI)
DAFTAR JUMLAH BAHAN
Nama bahan Jumlah dalam mL Jumlah dalam mg
Gliserin 12 15,144
Nipagin
Nipasol
Sorbitol
Mg(OH)2
Al(OH)
CMC Na
Ol menthae
Air panas
Simeticon
0,06
0,012
42
-
-
0,3
q.s
4
-
81,12
15,5
6258
2700
2400
225
-
-
360
VI. PENYUSUNAN CARA PEMBUATAN
A. Urutan dan tahapan pencampuran dalam skala laboratori
Pembuatan Emulsi
a. Timbang simetikon 360 mg, sisihkan
b. Timbang CMC Na 225 mg, sisihkan
c. Panasi mortir dengan menuangkan air panas kedalam mortir hingga panasnya
merata,kemudian buang airnya
d. Takar air panas 4,5 ml,masukkan mortir
e. Masukkan CMC Na ke dalam mortir yang berisi air panas, ad sampai CMC Na larut
seluruhnya
f. Tambahkan sedikit demi sedikit simetikon dalam campuran di atas, campur ad
homogeny
Pembuatan Suspensi
a. Timbang Mg(OH)
2
2400 mg, masukkan ke dalam mortir
b. Timbang Al(OH)
3
2700 mg, tambahkan ke dalam mortir, ad homogeny
c. Timbang gliserin15,144 g ambil setengah bagian kemudian masukkan mortir, aduk
ad homogen sisihkan (a)
d. Timbang sorbitol 6258 mgtambahkan ke dalam campuran di atas ad homogeny,
sisihkan
e. Timbang Nipagin 81,12 mg masukkan mortir yang berbeda, lalu sisihkan
f. Timbang Nipasol 15,5 mg tambahkan ke dalam mortir
g. Larutkan dengan sisa gliserin,aduk ad homogen
h. Campurkan ke dalam mortir (a) dan campurkan CMC Na ad homogen
i. Masukkan ke dalam botol 60 ml dan tambahkan 2 tetes ol.menthae pip
B. Bentuk Yang Diinginkan
No. Tahapan Bentuk
1. Timbang CMC Na 225 mg Serbuk putih
2. Takar 4,5 ml air panas. Taburkan CMC Na di atas air
panas
CMC Na terkembangkan
3. Tambahkan simetikon 360 mg larut
4. Timbang Mg(OH)
2
2400 mg larut
5. Tambahkan Al(OH)
3
2700 mg serbuk
6. Tambahkan gliserin 15,144 g larut
7. Tambahkan sorbitol 6358 mg larut
8. Tambahkan Nipagin 81,12 mg larut
9. Tambahkan Nipasol 15,5 mg larut
10. Tambahkan 2 tetes ol mentae pip Terbentuk suspensi
C. Alat Yang Digunakan
1. Pembuatan sediaan skala laboratorium
a. Beaker glass
b. Mortir
c. Stamper
d. Cawan porselen
e. Gelas arloji
f. Gelas ukur
g. Gelas ukur
h. Sendok tanduk
i. Penangas air
j. Timbangan analitik
k. Batang pengaduk
l. Pipet tetes
2. Pembuatan Skala Besar
a. Tangki pencampur yang dilengkapi alat pengaduk
b. Alat pengukur untuk zat padat dan air dalam jumlah kecil atau besar
c. Sistem penyaring untuk polishing akhir
VII. MERANCANG TEST AKHIR UNTUK MENGETAHUI BAHWA SEDIAAN LAYAK
EDAR / TIDAK
1. Uji Organoleptis
Bentuk : Suspensi
Warna : Putih
Essence : Oleum Menthae Pip
2. Tes pH
Ambil beberapa ml sediaan larutan yang sudah jadi

Masukkan dalam beaker glass

Tes pH larutan dengan pH meter

Jika pH terlalu asam Jika pH terlalu basa

Tambahkan basa ad pH yang diinginkan Tambahkan asam ad pH yang diinginkan


3. Tes Berat Jenis
Alat : Piknometer
a. Timbang piknometer kosong
b. Isi piknometer dengan larutan sampai tanda batas
c. Timbang dua kali
d. Ulangi tiga kali
e. Hitung
f. Lakukan pada aquadest sebagai pembanding
Cara perhitungan :
Missal : Bobot piknometer + air = a+b gram
Bobot piknometer kosong = a gram
Bobot air = b gram
Volume piknometer = air = b gram
P
air
g
/ml
= vol pikno dalam ml
Penentuan kerapatan zat cair X (etanol,aseton, dan kloroform)
a. Lakukan penimbangan zat X dengan menggunakan piknometer yang sama,
missal :
Bobot zat = C gram = (bobot piknometer + zat ) (bobot piknometer kosong )
b. Kerapatan zat cair X = C gram = C gram
V pikno (ml) V pikno (
gr
/ml)
4. Mengukur Sedimentasi
Alat : Gelas ukur
Masukkan suspensi dalam gelas ukur
Hitung volume awal yaitu 50 ml
Hitung volume pada t
15
,
30
,
45
,
60
, dan hari berikutnya.
VIII. PEMBUATAN ETIKET DAN LEAFLET
No.
Informasi yang
harus dicantumkan
Etiket
Kemasan
Luar
Brosur
Strip/
blister
Catch
cover
Ampul/
vial
1. Nama obat jadi



2.
Bobot netto/
volume/isi

-

3. Komposisi obat

-

4.
Nama industri
farmasi



5.
Alamat industri
farmasi



6. Nomor pendaftaran



7. Nomor batch

--

8. Tanggal kadaluarsa

9. Dosis * *

-
10. Cara penggunaan - -

-
11.
Cara kerja /
farmakologi
--

---
12. Indikasi * *

-
13. Kontraindikasi * *

-
14. Efek samping - *

-
15. Interaksi obat - -

-
16.
Peringatan/
perhatian
**

-
17. Cara penyimpanan

-

18.
Tanda peringatan
OBT

-
19.
Harus dengan resep
dokter/ obat keras



20.
Lingkaran tanda
khusus obat
keras/bebas/OBT

-
: informasi harus dicantumkan
* : informasi boleh menunjuk pada brosur
XI. RANCANGAN WADAH SEKUNDER
B. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
PEMBAHASAN
Pada praktikum likuida kali ini kelompok kami melakukan formulasi sediaan suspensi
obat antasida. Suspensi antasida memiliki fungsi sebagai obat maag untuk menetralkan
produksi
asam lambung yang berlebihan. Sebenarnya secara fisiologi tubuh kita telah memproduksi
bahan
yang dapat menetralkan produksi asam lambung pada keadaan normal. Namun pada kasus
sakit
maag bahan penetral dari tubuh tidak cukup karena produksi asam lebih banyak sehingga
diperlukan bahan dari luar yang membantu penetralan. Sebenarnya telah banyak obat maag
dalam bentuk sediaan tablet namun untuk mengkonsumsinya harus terlebih dahulu dikuyah,
agar
lebih efisien dalam penggunaannya dan dapat memperbaiki rasa maka dibuat sediaan bentuk
suspensi dengan pemberiaan rasa yang lebih dapat diterima selain itu dosis yang digunakan
lebih
tepat.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan suspensi antasida adalah bahan obat berupa
garam dari logam yaitu Al(OH)
3
dan Mg(OH)
2
kedua bahan dikombinasikan karena daya
menetralkan lambat, namun masa kerjanya lebih panjang.Bahan aktif lain yang digunakan
adalah simetikon yang berfungsi sebagai anti kembung dengan cara kerja mengeluarkan CO
2
yang dihasilkan dari reaksi pada lambung dengan membuangnya melalui proses sendawa.
Pertimbangan pemilihan simetikon adalah pada saat orang maag produksi CO
2
dalam lambung
berlebih sehingga menyebabkan rasa kembung yang tidak nyaman. Dari pemilihan bahan
obat
diatas semuanya tidak mudah larut dalam air sehingga bila ingin membuat sediaan berupa
larutan harus diformulasikan dalam bentuk suspensi dengan bantuan bahan suspending agent.
Selain bahan aktif, terdapat juga bahan tambahan yang digunakan untuk mendukung
kestabilan
bahan aktif dalam sediaan. Bahan bahan tambahan tersebut diantaranya adalah CMC Na
sebagai
suspending agent, Gliserin dan sorbitol sebagai pemanis dan salah satu cairan pembawa,
nipagin
dan nipasol sebagai bahan pengawet, Oleum Menthae Pip. Sebagai bahan perasa dan pemberi
sensasi rasa dingin ketika sediaan diminum.
Setelah antasida selesai diracik, kami melakukan beberapa evaluasi uji sediaan untuk
mengetahui apakah sediaan yang telah kami buat sudah memenuhi spesifikasi yang
ditentukan
yaitu :
1. Uji Organoleptis
Evaluasi organoleptis merupakan evaluasi dengan pengamatan panca indera terhadap
sediaan yang diperoleh. Adapun yang diamati yaitu bau, rasa, dan warna. Bau, rasa dan
warna yang diinginkan yaitu sediaan memiliki bau dan rasa mint serta berwarna putih.
Setelah sediaan selesai dibuat, organoleptisnya sesuai dengan yang direncanakan.dan
setelah penyimpanan, sifat organoleptis sediaan masih sama karena ditutup rapat dan
ditepatkan ditempat yang sejuk agar oleum menthae pip yang digunakan tidak cepat
menguap.
2. Uji pH
Untuk uji pH menggunakan kertas pH universal, caranya dengan mencelupkan secara
langsung kertas ke dalam larutan hasil pembuatan. Dari uji tersebut didapatkan hasil
bahwa pH dari sediaan kami yakni. Hal ini berarti pH sediaan kami masih masuk dalam
rentang dari pH sediaan yang disyaratkan yakni sekitar 6-8 dan juga memenuhi
spesifikasi dari pH efektif antasida yakni sekitar 8.
3. Uji Viskositas
Uji viskositas ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekentalan dari sediaan suspensi
kami. Kekentalan atau viskositas sediaan termasuk salah satu hal yang harus diperhatikan
dalam pembuatan sediaan. Uji viskositas dilakukan dengan viskometer, didapatkan hasil
sediaan suspensi memiliki viskositas 800 mpas.
4. Uji Bobot jenis dengan piknometer
Untuk mengetahui berat jenis dari sediaan drops dilakukan pengujian dengan cara
menimbang larutan uji pada piknometer.Hasilnya adalah :
Bobot piknometer kosong : Replikasi 1= 30,0452 g
Replikasi 2= 30,0322 g
Replikasi 3= 30,0284 g
Bobot pikno kosong rata-rata = 30,0353 g
Volume pikno=volume air = 9,907 g
Bobot pikno+larutan : Replikasi 1= 41,3699 g
Replikasi 2= 41,3756 g
Bobot sediaan rata-rata adalah 11,3375 g
Bobot jenis sediaan = Bobot sediaan/volume pikno
= 11,3375 /9,907 = 1,144 g/ml
5. Uji volume sedimentasi
Pada uji ini dilakukan pengukuran volume sedimentasi dengan mengambil beberapa mL
suspensi yang kemudian dimasukkan dalam gelas ukur 50 mL, kemudian didiamkan
selama 2 hari. Setelah 2 hari tersebut suspensi yang kami formulasi tidak menunjukkan
adanya endapan. Ini berarti suspensi yang kami buat stabil dan termasuk suspensi yang
baik. Suspensi ini tergolong dalam suspensi terdeflokulasi.
Hasil evaluasi sediaan
Bentuk sediaan : larutan suspensi
Kadar bahan aktif : - Al(OH)
3
= 225 mg/5 ml
- Mg(OH)
2
= 200 mg/5 ml
- Simetikon = 30mg/5 ml
pH sediaan : 8
warna : putih
bau : mentol
rasa : manis
viskositas : 800 cp
BJ : 1,144 g/ml
Dalam evaluasi uji sediaan kami hanya melakukan lima uji saja dikarenakan keterbatasan
waktu sehingga uji-uji yang lain tidak dapat dilakukan. Tetapi walaupun tidak dilakukan uji-
uji
yang lain sediaan kami dapat disimpulkan acceptable dikarenakan tidak terbentuk endapan
bila
disimpan pada suhu kamar.
KESIMPULAN
1. Sediaan antasida dengan bahan aktif Mg(OH)
2
, Al(OH)
3
dan simeticon.
2. Pemilihan Al(OH)
3
dan Mg(OH)
2
didasarkan pada sifat kedua bahan aktif tersebut yaitu
bersifat basa sehingga dapat menetralkan asam lambung dan masa kerjanya lama.
Sedangkan simeticon dipilih untuk melengkapi fungsi kedua bahan obat tersebut, yaitu
sebagai antikembung atau antiflatulent.
3. Bentuk sediaan yang terpilih adalah suspensi karena bahan aktif tidak larut dalam air
4. Evaluasi sediaan antasida meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji Bobot Jenis
dan uji sedimentasi.
5. Dari hasil uji yang dilakukan, sediaan yang telah dibuat memenuhi persyaratan yang
telah ditentukan yaitu sediaan dengan BJ = 1,144 g/cm3, viskositas = 800 mpas, pH =
8,0 dan tidak membentuk cake sehingga dapat diproduksi dalam skala besar.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. Britis Pharmacopera Vol II Book II. The Stationary Office : London
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatban
Republik
Indonesia
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik
Indonesia
Anonim. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients.2
nd
ed. The Pharmaceutical press :
London
Anonim. 2005. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta : Bagian farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Harvey, Ricard. 1995. Farmakologi Ulasan Bergambar. Rutger Yniversity.
Parfitt, Kathleen. 1999. Martindale. The Complete Drug Reference, 32
nd
ed. Pharmaceutical
Press : UK
Download
of 26

54825206 Lap Antasida


by robiansyah

on Jul 07, 2015

Report

Category:

Documents

Download: 6

Comment: 0

2,799

views

Share

Comments
Description

Download 54825206 Lap Antasida

Transcript
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA SEDIAAN LIKUIDA ANTASIDA
KOMBINASI Tanggal Praktikum : 20 Oktober 2010 Dosen Pembimbing : Lusia Oktora
R.K.S S.F.,M.Sc.,Apt KELOMPOK A-2 Oleh : Umi Ubaidah Anggun Hari K Riko Widya
Risma Ayu N Septi Heni P 082210101006 082210101007 082210101008 082210101009
082210101010 BAGIAN FARMASETIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
JEMBER 2010 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap tahun,
kebutuhan produk obat meningkat di masyarakat. Banyaknya permintaan obat oleh konsumen
menimbulkan produsen untuk memproduksi berbagai macam obat dengan spesifikasi
tertentu. Terlebih lagi jika konsumen menginginkan obat yang berkualitas dengan harga yang
relatif terjangkau mengingat keadaan perekonomian Indonesia yang tidak stabil sehingga
produsen harus merancang berbagai formulasi agar memenuhi kualitas mutu dan keefektifan
kerja obat. Banyaknya jenis obat yang beredar dipasaran memiliki karakteristik dan kualitas
yang beragam. Obat obat ini diproduksi untuk menghasilkan suatu formulasi yang memiliki
persyaratan mutu / kualitas yang baik dalam hal keamanan, efektifitas, acceptabilitas, dan
stabilitas dari produk obat yang diproduksi. Untuk menghasilkan suatu formulasi yang baik
perlu dilakukan seleksi pada bahan obat, agar nantinya obat yang dihasilkan memiliki mutu
terapi obat yang rasional, antara lain : the right amount, of right medicine, to the right
suspending form, given at the right time, to the right patients. Tetapi penggunaan obat-obatan
tersebut harus rasional. Saat ini banyak sekali berbagai macam jenis obat-obatan yang dijual
secara bebas di pasaran bahkan antibiotik yang rentan terhadap resistensi. Misalnya pada obat
maag, tersedia dalam berpuluh-puluh merk yang memiliki spesifikasi tertentu dan tersedia
dalam berbagai bentuk sediaan cair maupun padat. Banyak masyarakat cenderung untuk
melakukan pengobatan sendiri tanpa didasari pengetahuan yang memadai mengenai obat
yang digunakan. Namun perlu disadari dengan makin meningkatnya kecenderungan
masyarakat unuk melakukan pengobatan sendiri terutama untuk mengobati penyakit yang
umum diderita sehari-hari, maka makin meningkat pula kemungkinan terjadinya kegagalan
terapi atau resiko akibat penggunaan obat. Hal ini bisa terjadi bila penggunaan tidak disertai
dengan pemahaman yang cukup dalam pemilihan dan penggunaan obat bebas yang rasional.
Sasaran dari penggunaan obat rasional adalah agar penderita menerima manfaat
sebesarbesarnya dari obat yang diberikan dengan resiko terapi yang sekecil-kecilnya. Selain
itu penggunaan obat bebas secara rasional juga ini dimaksudkan untuk menekan serendah
mungkin biaya perawatan dan pengobatan penderita. Artinya, penggunaan obat bebas yang
rasional berarti obat bebas yang tepat, diberikan pada dosis yang tepat, pada orang yang tepat
dan digunakan untuk mengatasi penyakit yang tepat pula. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana
merancang dan membuat mutu sediaan yang homogeny dimana memenuhi spesifikasi
persyaratan mutu yaitu aman, efektif, stabil (secara kimia, fisika, mikrobiologi, farmakologi,
farmakologi, dan toksikologi) dan dapat diterima. 1.3 Tujuan Untuk dapat merancang dan
membuat suatu sediaan yang homogeny dimana memenuhi semua spesifikasi persyaratan
mutu yaitu aman, efektif, stabil (secara fisika, kimia, mikrobiologi, farmakologi, dan
toksikologi) dan dapat diterima. 1.4 Manfaat Dengan dibuatnya obat antasida dalam sediaan
liquida, diharapkan dapat membantu penggunaannya untuk anak-anak dan pada pasien
dewasa yang susah menelan obat dalam bentuk sediaan tablet. Selain itu juga diharapkan
penelitian ini bermanfaat bagi penelitian yang selanjutnya didunia kefarmasian. BAB II
TINJAUAN PUSTAKA Maag merupakan penyakit pada lambung yang dikarenakan
kelebihan asam lambung yang menyebabkan iritasi diselaput leher lambung sehingga terjadi
nyeri. Dalam kondisi normal asam diperlukan untuk membantu pencernaaan dalam
mengelolah makanan yang kita makan. Namun produksi asam lambung yang meningkat
dapat memicu iritasi dilambung dan terjadi nyeri yang biasa disebut maag. Pada dasarnya
terjadinya maag dapat dipicu oleh pola hidup kita sehari-hari,misalnya makanan yang
berminyak, makanan yang berkolesterol, minuman beralkohol, aneka makanan panggang,
makanan pedas, minuman berkafein dan lain sebagainya. Maag dapat dicegah dengan
menjaga pola hidup dan dapat ditangani dengan pemberian obat maag yang lebih dikenal
dengan antasid. Antasida merupakan basa lemah yang bereaksi dengan asam lambung untuk
membentuk air dan garam, dengan demikian menghilangkan keasaman lambung. Karena
pepsin tidak aktif pada pH lebih dari 4,0 maka antasida juga mengurangi aktifitas peptik.
Obat-obat ini juga memiliki efek lain, seperti pengurangan kolonisasi H. pylori dan
merangsang sintesis prostaglandin. Sifat-sifat kimiawi antasida Zat-zat antasida sangat
bervariasi dalam komposisi kimia, kemampuan menetralkan asam, kandungan natrium, rasa
dan harganya. Kemampuan menetralkan asam suatu antasida tergantung pada kapasitasnya
unuk menetralkan HCl lambung dan apakah lambung dalam keadaan penuh atau kosong
( makanan memperlambat pengosongan lambung, memungkinkan antasida bekerja untuk
waktu yang lebih lama ).Antasida yang biasa digunakan adalah garam aluminium dan
magnesium seperti aluminium hridroksida ( biasanya suatu campuran Al(OH)3 dan
aluminium oksidahidrat ) atau magnesium hidroksida [(Mg(OH)2] (milk of magnesia), baik
tunggal atu kombinasi. Karena garam kalsim merangsang pelepasan gastrin, maka
penggunaan antasida yang mengandung antasida, seperti kalsium karbonat (CaCO3) (Tums,
Rolaids) dapat menyebabkan produksi tambahan. Absorbsi natrium karbonat (NaHCO3)
sistemik dapat menyebabkan alkalosis metabolit sementara; antasida ini tidak dianjurakan
untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan Terapi Antasida yang mengandung
aluminium dan magnesium dapat mempercepat penyembuhan ulkus duodenum; bukti
efektivitasnya dalam pengobatan ulkus lambung akut kurang banyak tercatat. Efek samping
Aluminium hidroksida dapat menyebabkan konstipasi; magnesium hidroksida dapat
menyebabkan diare. Preparat yang menggabungkan kedua zat ini membantu dalam
menormalkan fungsi usus. Selain kemungkinan alkalosis sistemik, NaHCO3 melepaskan
CO2, menyebabkan sendawa dan kembung. Absorbsi kation dari antasida ( Mg++, Al+++,
Ca++) biasanya tidakmenjadi persoalan pada pasien dengan fungsi ginjal yang abnormal,
tetapi antasida dengan kandungan natrium dapat menjadi pertimbangan penting dengan
hipertensi atau gagal jantung kongestif. Interaksi obat adalah lebih baik untuk menghindarkan
penggunaan bersamaan antasida dengan obat-obat lain dengan mengubah pH lambung dan
urin atau memperlambat pengosongan lambung, maka antasida dapat mempengaruhi
kelarutan absorbsi, ketersediaan hayati dan eliminasi oleh ginjal berbagai macam obat.
Dengan berikatan pada obat-obat (misalnya, tetrasiklin), persenyawaan Al+++ dapat
membentuk suatu komplek yang tidak diabsorbsi. Selain itu, antasida dapat meningkatkan
kecepatan absorbsi beberapa obat, misalnya levodopa. Selain mengandung garam aluminium
dan magnesium, antasida juga mengandung simetikon yang mempunyai khasiat membantu
pengeluran kelebihan gas dalam saluran cerna.Beberapa antasida seperti aluminium karbonat
dan aluminium hidroksida dapat diberikan pada penderita dengan diet fosfat rendah, untuk
mencegah adanya hiperfosfatemia, yaitu keadaan darah dengan kadar fosfat tinggi dan dapat
juga untuk mencegah terjadinya batu ginjal. A. RANCANG FORMULA I. BAHAN YANG
TEPILIH 1. Magnesium Hidroksida Alasan Pemilihan bahan aktif : Bahan aktif ini dipilih
karena antasida yang mengandung magnesium relatif tidak larut air sehingga bekerja lebih
lama bila berada dalam lambung dan sebagian besar tujuan pemberian antasida tercapai.
Pemerian : Serbuk, putih, ruah 2. Alumunium Hidroksida Alasan pemilihan bahan aktif :
Bahan aktif ini dipilih karena memiliki daya menetralkan asam lambung lambat, tetapi masa
kerjanya lebih panjang. Alumunium ini bersifat demulsen dan absorben. Dan juga absorbsi
makanan setelah pemberian alumunium dipengaruhi dan komposisi tinja tidak berubah. Efek
samping pada antasida yang mengandung Al(OH)3 yaitu konstipasi. Pemerian : serbuk
amorf, putih, tidak berbau, dan tidak berasa. 3. Simetikon Alasan pemilihan bahan aktif :
Bahan aktif dipilih karena simetikon digunakan sebagai anti kembung (antiflatulen) dan
sebagai penurun tegangan permukaan yang bersifat anti busa. Pemerian : Cairan kental,
tembus cahaya, warna abu-abu II. PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN Karakteristik Fisika
Mg (OH)2 Kelarutan : Praktis tidak pH sediaan yang digunakan larut air dan dalam adalah
7,3-8,5 etanol, larut dalam asam Karakteristik Kimia Keterangan Khusus encer Al(OH)3
Kelarutan : Praktis tidak pH suspensi 4% b/v dalam larut air dan etanol, larut ir bebas karbon
dioksida P dalam asam mineral tidak lebih dari 10 encer dan larutan alkali hidroksida
Simetikon Kelarutan : tidak larut pH sediaan sebagai antasida dalam air dan etanol, fase tidak
kurang dari 3 dan cair dan tetapi larut dalam silikon dalam tidak lebih dari 10 eter benzena,
dioksida sisa kloroform,ndalam Suhu lebur sampai 800 C lebih tertinggal - sebagai dalam
pelarut-pelarut itu. Tahan pemanasan sampai suhu 200C Bentuk sediaan yang dipilih
adalah larutan suspensi karena bahan obat yang digunakan tidak larut air. Obat yang dibuat
diinginkan dalam saluran cerna sehingga harus dalam bentuk partikel halus. Antasida lebih
efektif bila diberikan dibentuk suspensi, karena tidak mengalami pengeringan selama
pembuatan, sehingga mengurangi daya netralisasinya seperti pada sediaan tablet. (Obat-obat
Penting hal 251) Bentuk suspensi mulai kerjanya lebih cepat dibandingkan bentuk tablet.
( Farmakologi dan Terapi hal. 505) III.PERSYARATAN MUTU 1. Dapat diterima
Mempunyai estetika, penampilan, bentuk yag baik serta menarik sehigga menciptakan rasa
nyaman pada saat pengunaan (USP XIII, pge 1346-1347) 2. Aman Aman artinya sediaan
yang kita buat harus aman secara fisiologismaupun psikologis, dan dapat meminimalisir suatu
efek samping sehingga tidak lebih toksik dari bahan aktif yang belum difornulasi. Bahan
sediaan farmasi merupakan suatu senyawa kimia yang mempunyai karakteristik fisika, kimia
yang berhubungan dengan efek farmakologis, perubahan sedikit saja pada karakteristik
tersebut dapat menyebabkan perubahan farmakokinetik, farmakodinamik suatu senyawa.
Sediaan dalam taraf aman apabila kadar bahan aktif dalam batas yang telah ditetapkan.
Magnesium Hidroksida yang telah dikeringkan pada suhu 105oC selama 2 jam mengandung
tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 100,5% Mg(OH)2 Gel Alumunium Hidroksida
adalah suspense dari alumunium gidroksida bentuk amorf, sebagian hidroksida disubstitusi
dengan karbonat. Mengandung alumunium hidroksida setara dengan tidak kurang dari 90%
dan tidak lebih dari 110% Al(OH)3 dari jumlah yang tertera pada etiket. Simetikon adalah
campuran polimer siloksan linier yang termetilasi penuh. Mengandung tidak kurang dari
90,5% dan tidak lebih dari 99% polidimetilsiloksan, [(CH3)2 SiO]n, dan tidak kurang dari
4% dan tidak lebih dari 7% silikon dioksida SiO2 3. Efektif Efektif dapat diartikan sebagai
dalam jumlah kecil mempunyai efek yang optimal. Jumlah atau dosis pemakaian sekali pakai
sehari selama pengobatan (1 kurun waktu) harus mampu mencpai reseptor dan memiliki efek
yang dikehendaki. Sediaan yang efektif adalah sediaan bila digunakan menurut aturan pakai
yang disarankan akan menghasilkan efek farmakologi yang optimal untuk tiap-tiap bentuk
sediaan dengan efek samping yang minimal. 4. Stabilitas fisika Sifat-sifat fisika organoleptis,
keseragaman, kelarutan, dan viskositas tidak berubah 5. Stabilitas kimia Secara kimia inert
sehingga tidak menimbulkan perubahan warn, pH, dan bentuk sediaan. Sediaan dibuat pada
pH 6-9 diharapkan ridak mengalami perubahan potensi. 6. Stabilitas mikrobiologi Tidak
ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama wktu edar. Jika mengandung presertvatif
harus tetap efektif selama waktu edar. Mikroorganisme yg tidak boleh ditemukan pada
sediaan : Salmonella sp., E.coli, Enterobacter sp., P. aeruginosa, Clastridium sp., Candida
albicans 7. Stabilitas farmakologi Selama penyimpanan dan pemakaian efek terapetiknya
harus tetap sama. 8. Stabilitas toksikologi Pada penyimpanan dan pemakaian tidak boleh ada
kenaikan toksisitas. IV. TAKARAN/DOSIS ZAT AKTIF a. Takaran atau dosis zat aktif dari
berbagai pustaka Dosis Al(OH) menurut Pharmaceutical Dosage Forms Dispers System
Volume 2 halaman 128 : Dalam sediaan 5mL mengandung 225mg Aluminium hidroxid.
Dosis Al(OH) menurut Martindle halaman 2 : Dalam sediaan 15mL mengandung 500-1000
gram Al(OH), hal tersebut sesuai dengan rentang dosis zat aktif pada pustaka
Pharmaceutiacal Dosage Forms Dispers System Volume 2 Dosis Mg(OH)2 menurut
Pharmaceutiacal Dosage Forms Dispers System Volume 2 halaman 128 : Dalam sediaan 5mL
mengandung 200mg Dosis Mg(OH)2 menurut Martindle halaman 82 : Dalam sediaan 15mL
mengandung 500-750mg Mg(OH)2, hal tersebut sesuai dengan literatur yang ada. Dosis
simeticon menurut Pharmaceutiacal Dosage Forms Dispers System Vo lume 2 halaman 128 :
Dalam sediaan 5mL mengandung 20-40mg. b. Menentukan waktu pemakaian Antasida
diberikan 4-6 jam sehari, karena dalam sehari pemberian antasid 3-4 kali (Martindle halaman
72) Maksimal pemakaian antasid selama 6 hari, jika lebih dari 6 hari dapat menyebabkan
naiknya pH urin (Martindle) c. Dosis persatuan takaran terkecil Volume terkecil Takaran
Digunakan untuk pasien = 60 mL = sendok teh 1x pakai = 5mL = umur 12 tahun ke atas
(dewasa) Sekali 5mL / 1 sdt Sehari 15mL / 3 sdt Maka dipilih sediaan 60mL, dengan
alasan : Pemakaian obat antasid selama 4 hari memerlukan 60mL sediaan Memudahkan
pasien dalam penggunaan karena tidak terlalu banyak ketentuan. Sasaran pasien umur 12
tahun ke atas, karena : Dalam kehidupan nyata, penggunaan obat antasid kebanyakan
berumur 12 tahun ke atas. Sehingga tingkat komersialnya lebih besar karena tingkat
konsumen lebih banyak. d. Jumlah bahan aktif Aluminium hidroxida Al(OH) Tiap 5mL
mengandung 225mg Kemasan terkecil 60mL penimbangan : 60mL x 225 mg = 2700 mg =
2,7gram 5mL - Magnesium hidroxida Mg(OH)2 Tiap 5mL mengandung 200mg Kemasan
terkecil 60mL penimbangan : 60mL x 200 mg = 2400 mg = 2,4 gram 5mL - Simeticon Tiap
5mL mengandung 30mg Kemasan terkecil 60mL penimbangan : 60mL x 30 mg = 360 mg
5mL V. PENYUSUNAN FORMULA SEDIAAN (per satuan terkecil dan per satuan
kemasan) A. Formula Sediaan R/ Al(OH)3 Mg(OH)2 Simetikon Gliserin 2,7 2,4 0,36 20%
Sorbitol CMC Na Nipagin Nipasol Ol. Menthae pip. Aqua ad B. Alasan pemilihan bahan
tambahan 70% 1% 0,1 % 0,02% 3 tetes 60 (Pharmaceutical Dosage Forms : Disperse system
vol 2 hal 131) Untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi dan sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan, maka diperlukan bahan bahan tambahan , diantaranya adalah
emulsifying agent, suspending agent, wetting agent, pengawet, pemanis, flavoring agen, dll.
Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan kali ini antara lain : CMC Na
(Carboxy Methyl Cellulose Sodium) Alasan pemiliahan : CMC tidak memiliki efek terpetik
dan tidak berbahaya. Selain itu, CMC juga berfungsi sebagai coating agent. Dalam sediaan
ini CMC digunakan sebagai emulsifying agent yaitu untuk membentuk emulsi dengan
simetikon yang berupa minyak. Fungsi : Sebagai suspending agent dan emulsifying agent
Pemerian : Serbuk granular, tidak berbau, warna putih Kelarutan : Praktis tidak larut dalam
aseton, etanol, eter, dan toluen. Mudah terdispersi dalam air pada semua temperatur. Dalam
larutan air stabil pada pH 7-9 (tepat sebagai antasid) Persyaratan penggunaan CMC Na 0,25-
1% (excipient hal 78) Nipagin (Methyl Paraben) - Alasan pemilihan : Karena efektif
mencegah jamur dan bakteri, toksisitasnya kecil, dikombinasikan dengan nipasol untuk
menambah kelarutan nipasol dalam air. - Pemerian : kristal tidak berwarna atau serbuk
kristalin, berwarna putih, tidak berbau, berbau lemah, rasa sedikit membakar. - Kelarutan :
Larut dalam 500 bagaian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol
(95%)Pndan dalam larutan alkili hidroksida - Dosis : Larutan oral dan suspensi 0,015-2%
(excipient hal 310) Nipasol ( Propyl Paraben) - Alasan pemilihan : merupakan pengawet
yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba karena sediaan dalam air sangat baik untuk
pertumbuhan mikroba.Nipasol aktif dalam pH yang luas (4-8) sehingga efektif untuk
antasida. - Pemerian : putih, kristal, serbuk tidak berasa dan berwarna - Kelarutan : Sangat
sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dan dalam eter, sukar larut dalam ait
mendidih. Gliserin - Alasan pemilihan : Karena gliserin dapat digunakan sebagi zat
pembasah yang dapat mendesak lapisan udara yang ada di permukaan partikel dan melapisi
bahan obat sehingga menyebabkan sudut kontak turun. - Pemerian : Cairan jernig seperti
sirup, tidak berbau, rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah, higroskopis, netral terhadap
lakmus. - Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidal larut dalam
kloroform, dalam eter. Sorbitol - Alasan pemilihan : diberikan sebagai pemanis sediaan dan
dapt pula digunakan sebagai zat pembasah agar bahan obat mudah didispersikan dalam air
karena sifat sorbitol yang mudah larut air.Sorbitol stabil pada pH 4,5-7 - Pemerian : granul
atau lempengan, higroskopis, warna putih, rasa manis - Kelarutan ; Sangat mudah larut dalam
air, sukar larut dalam etanol, dalam metanol dan asam asetat. Oleum Menthae Pip. - Alasan
pemilihan ; berguna sebagai corigen odoris, dipih karena dapat menuupi rasa pahit dari bahan
obat dan juga lebih disukai orang dewasa karena ada sensasi dingin. - Pemerian : Cairan tidak
berwarna atau kuning pucat, bau khas kuat menusuk, rasa pedas diikuti rasa dingin jika udara
dihirup melalui mulut. - Kelarutan : Dalam etanol 70% satu bagian dilarutkan dalam 3 bagian
volume etanol 70% C. Spesifikasi dari sediaan yang dibuat No Parameter 1 pH sediaan 2 3 4
5 6 7 Bj sediaan Viskositas Warna Bau Rasa Ukuran partikel Spesifikasi yang diinginkan
Antara 7,3 8,5 0,2 2 g/cm3 Mendekati 1000 cP Putih Menthol Pedas, dingin jika dihirup
0,2 m atau kurang Semua spesifikasi diatas didapat dari pustaka Pharmaceutical Dosage
Form : Disperse system volume 2 PERHITUNGAN JUMLAH BAHAN TAMBAHAN
Gliserin (ADI = 1-1,5 g/kg BB) Handbook of excipient 205, BJ = 1,2620 g/cm Sediaan =
20% x 60mL = 12mL = 12mL x 1,2620 g/cm = 15,144 g ADI pasien 12 tahun = (32,52 kg)
( ISO Indonesia : 518 ) = 32,52 kg x 1,5 g/kg BB = 48,78 g Perhitungan untuk mengetahui
apakah melebihi ADI atau tidak 1x pakai = 5mL x 15,144 g 60 mL = 1,262 g (tidak melebihi
ADI) 3x pakai = 15mL x15,144 g 60mL = 3,786 g (tidak melebihi ADI) Nipagin (Metil
paraben) (ADI = 10 mg/kg BB) Handbook of excipient halaman 312, BJ = 1,352 g/cm
Penggunaan nipagin 0,015% - 0,2% excipient halaman 310 Sediaan = 0,1% x 60mL =
0,06mL = 0,06mL /x 1,352 g/ cm = 0,08112 g = 81,12 mg ADI pasien 12 tahun = (32,52 kg)
ISO Indonesia : 518 = 32,52 kg x 10 mg/kg BB = 325,2 mg Perhitungan untuk mengetahui
apakah melebihi ADI atau tidak 1x pakai = 5mL x 81,12 mg 60 mL = 6,76 mg (tidak melebihi
ADI) 3x pakai = 15mL x 81,12 mg 60mL = 20,28 mg (tidak melebihi ADI) CMC Na
( Carboxy methylcellulose sodium ) BJ Sediaan = 0,75 g/ cm = 0,5mL x 60mL 100 mL =
0,3mL = 0,3mL x 0,75 g/ cm = 0,225 g = 225 mg Tidak ada ADI (Excipient halaman 80)
Sorbitol - BJ Sediaan = 1,49 g/ cm = 70mL x 60mL 100 mL = 42mL = 42mL x 1,49 g/ cm =
62,58 g = 6258 mg - ADI pasien (> 20g/hari) Perhitungan melebihi ADI atau tidak 12 tahun
1x pakai = 5mL x 6258mg 60 mL = 521,5 mg 1 hari = 3x 521,5mg = 1564,5mg (tidak
melebihi ADI) Nipasol BJ Sediaan = 1,288 g/ cm , penggunaan nipasol 0,01% - c = 0,02%
x 60Ml = 0,012mL = 0,012mL x 1,288 g/ cm = 0,0155 g = 15,5 mg ADI pasien (10 mg/kg
BB) 12 tahun = (32,52 kg) ISO Indonesia : 518 = 32,52kg x 10mg/kg BB = 532,5mg
Perhitungan melebihi ADI atau tidak 1x pakai = 5mL x 15,5mg 60 mL = 1,29mg (tidak
melebihi ADI) 3x pakai = 15mL x 15,5mg 60 mL = 3,875mg (tidak melebihi ADI) DAFTAR
JUMLAH BAHAN Nama bahan Jumlah dalam mL Jumlah dalam mg Gliserin Nipagin
Nipasol Sorbitol Mg(OH)2 Al(OH) CMC Na Ol menthae Air panas Simeticon 12 0,06 0,012
42 0,3 q.s 4 - 15,144 81,12 15,5 6258 2700 2400 225 360 VI. PENYUSUNAN CARA
PEMBUATAN A. Urutan dan tahapan pencampuran dalam skala laboratori Pembuatan
Emulsi a. Timbang simetikon 360 mg, sisihkan b. Timbang CMC Na 225 mg, sisihkan c.
Panasi mortir dengan menuangkan air panas kedalam mortir hingga panasnya
merata,kemudian buang airnya d. Takar air panas 4,5 ml,masukkan mortir e. Masukkan CMC
Na ke dalam mortir yang berisi air panas, ad sampai CMC Na larut seluruhnya f. Tambahkan
sedikit demi sedikit simetikon dalam campuran di atas, campur ad homogeny Pembuatan
Suspensi a. Timbang Mg(OH)2 2400 mg, masukkan ke dalam mortir b. Timbang Al(OH)3
2700 mg, tambahkan ke dalam mortir, ad homogeny c. Timbang gliserin15,144 g ambil
setengah bagian kemudian masukkan mortir, aduk ad homogen sisihkan (a) d. Timbang
sorbitol 6258 mgtambahkan ke dalam campuran di atas ad homogeny, sisihkan e. Timbang
Nipagin 81,12 mg masukkan mortir yang berbeda, lalu sisihkan f. Timbang Nipasol 15,5 mg
tambahkan ke dalam mortir g. Larutkan dengan sisa gliserin,aduk ad homogen h. Campurkan
ke dalam mortir (a) dan campurkan CMC Na ad homogen i. Masukkan ke dalam botol 60 ml
dan tambahkan 2 tetes ol.menthae pip B. Bentuk Yang Diinginkan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. Tahapan Bentuk Timbang CMC Na 225 mg Serbuk putih Takar 4,5 ml air panas.
Taburkan CMC Na di atas air CMC Na terkembangkan panas Tambahkan simetikon 360 mg
Timbang Mg(OH)2 2400 mg Tambahkan Al(OH)3 2700 mg Tambahkan gliserin 15,144 g
Tambahkan sorbitol 6358 mg Tambahkan Nipagin 81,12 mg Tambahkan Nipasol 15,5 mg
Tambahkan 2 tetes ol mentae pip C. Alat Yang Digunakan 1. Pembuatan sediaan skala
laboratorium a. Beaker glass b. Mortir c. Stamper d. Cawan porselen e. Gelas arloji f. Gelas
ukur g. Gelas ukur h. Sendok tanduk i. Penangas air j. Timbangan analitik k. Batang
pengaduk larut larut serbuk larut larut larut larut Terbentuk suspensi l. Pipet tetes 2.
Pembuatan Skala Besar a. Tangki pencampur yang dilengkapi alat pengaduk b. Alat pengukur
untuk zat padat dan air dalam jumlah kecil atau besar c. Sistem penyaring untuk polishing
akhir VII. MERANCANG TEST AKHIR UNTUK MENGETAHUI BAHWA SEDIAAN
LAYAK EDAR / TIDAK 1. Uji Organoleptis Bentuk Warna Essence 2. Tes pH Ambil
beberapa ml sediaan larutan yang sudah jadi Masukkan dalam beaker glass Tes pH larutan
dengan pH meter Jika pH terlalu asam Tambahkan basa ad pH yang diinginkan Jika pH
terlalu basa Tambahkan asam ad pH yang diinginkan : Suspensi : Putih : Oleum Menthae
Pip 3. Tes Berat Jenis Alat : Piknometer a. Timbang piknometer kosong b. Isi piknometer
dengan larutan sampai tanda batas c. Timbang dua kali d. Ulangi tiga kali e. Hitung f.
Lakukan pada aquadest sebagai pembanding Cara perhitungan : Missal : Bobot piknometer +
air Bobot piknometer kosong Bobot air Volume piknometer = air = a+b gram = a gram = b
gram = b gram Pair g/ml = vol pikno dalam ml Penentuan kerapatan zat cair X (etanol,aseton,
dan kloroform) a. Lakukan penimbangan zat X dengan menggunakan piknometer yang sama,
missal : Bobot zat = C gram = (bobot piknometer + zat ) (bobot piknometer kosong ) b.
Kerapatan zat cair X = C gram = C gram V pikno (gr/ml) V pikno (ml) 4. Mengukur
Sedimentasi Alat : Gelas ukur Masukkan suspensi dalam gelas ukur Hitung volume awal
yaitu 50 ml Hitung volume pada t15, 30, 45, 60, dan hari berikutnya. VIII. PEMBUATAN
ETIKET DAN LEAFLET No. 1. 2. 3. 4. Informasi yang harus dicantumkan Nama obat jadi
Bobot netto/ volume/isi Komposisi obat Nama industri farmasi Etiket Kemasan Luar
Brosur Strip/ blister Catch cover Ampul/ vial 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Alamat industri farmasi Nomor pendaftaran Nomor
batch Tanggal kadaluarsa Dosis Cara penggunaan Cara kerja / farmakologi Indikasi
Kontraindikasi Efek samping Interaksi obat Peringatan/ perhatian Cara penyimpanan Tanda
peringatan OBT Harus dengan resep dokter/ obat keras Lingkaran tanda khusus obat
keras/bebas/OBT * * * * * * * * *
20. - - : informasi harus dicantumkan * :
informasi boleh menunjuk pada brosur XI. RANCANGAN WADAH SEKUNDER B.
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN PEMBAHASAN Pada praktikum likuida kali ini
kelompok kami melakukan formulasi sediaan suspensi obat antasida. Suspensi antasida
memiliki fungsi sebagai obat maag untuk menetralkan produksi asam lambung yang
berlebihan. Sebenarnya secara fisiologi tubuh kita telah memproduksi bahan yang dapat
menetralkan produksi asam lambung pada keadaan normal. Namun pada kasus sakit maag
bahan penetral dari tubuh tidak cukup karena produksi asam lebih banyak sehingga
diperlukan bahan dari luar yang membantu penetralan. Sebenarnya telah banyak obat maag
dalam bentuk sediaan tablet namun untuk mengkonsumsinya harus terlebih dahulu dikuyah,
agar lebih efisien dalam penggunaannya dan dapat memperbaiki rasa maka dibuat sediaan
bentuk suspensi dengan pemberiaan rasa yang lebih dapat diterima selain itu dosis yang
digunakan lebih tepat. Bahan yang digunakan dalam pembuatan suspensi antasida adalah
bahan obat berupa garam dari logam yaitu Al(OH)3 dan Mg(OH)2 kedua bahan
dikombinasikan karena daya menetralkan lambat, namun masa kerjanya lebih panjang.Bahan
aktif lain yang digunakan adalah simetikon yang berfungsi sebagai anti kembung dengan cara
kerja mengeluarkan CO2 yang dihasilkan dari reaksi pada lambung dengan membuangnya
melalui proses sendawa. Pertimbangan pemilihan simetikon adalah pada saat orang maag
produksi CO2 dalam lambung berlebih sehingga menyebabkan rasa kembung yang tidak
nyaman. Dari pemilihan bahan obat diatas semuanya tidak mudah larut dalam air sehingga
bila ingin membuat sediaan berupa larutan harus diformulasikan dalam bentuk suspensi
dengan bantuan bahan suspending agent. Selain bahan aktif, terdapat juga bahan tambahan
yang digunakan untuk mendukung kestabilan bahan aktif dalam sediaan. Bahan bahan
tambahan tersebut diantaranya adalah CMC Na sebagai suspending agent, Gliserin dan
sorbitol sebagai pemanis dan salah satu cairan pembawa, nipagin dan nipasol sebagai bahan
pengawet, Oleum Menthae Pip. Sebagai bahan perasa dan pemberi sensasi rasa dingin ketika
sediaan diminum. Setelah antasida selesai diracik, kami melakukan beberapa evaluasi uji
sediaan untuk mengetahui apakah sediaan yang telah kami buat sudah memenuhi spesifikasi
yang ditentukan yaitu : 1. Uji Organoleptis Evaluasi organoleptis merupakan evaluasi dengan
pengamatan panca indera terhadap sediaan yang diperoleh. Adapun yang diamati yaitu bau,
rasa, dan warna. Bau, rasa dan warna yang diinginkan yaitu sediaan memiliki bau dan rasa
mint serta berwarna putih. Setelah sediaan selesai dibuat, organoleptisnya sesuai dengan yang
direncanakan.dan setelah penyimpanan, sifat organoleptis sediaan masih sama karena ditutup
rapat dan ditepatkan ditempat yang sejuk agar oleum menthae pip yang digunakan tidak cepat
menguap. 2. Uji pH Untuk uji pH menggunakan kertas pH universal, caranya dengan
mencelupkan secara langsung kertas ke dalam larutan hasil pembuatan. Dari uji tersebut
didapatkan hasil bahwa pH dari sediaan kami yakni. Hal ini berarti pH sediaan kami masih
masuk dalam rentang dari pH sediaan yang disyaratkan yakni sekitar 6-8 dan juga memenuhi
spesifikasi dari pH efektif antasida yakni sekitar 8. 3. Uji Viskositas Uji viskositas ini
bertujuan untuk mengetahui tingkat kekentalan dari sediaan suspensi kami. Kekentalan atau
viskositas sediaan termasuk salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan sediaan.
Uji viskositas dilakukan dengan viskometer, didapatkan hasil sediaan suspensi memiliki
viskositas 800 mpas. 4. Uji Bobot jenis dengan piknometer Untuk mengetahui berat jenis dari
sediaan drops dilakukan pengujian dengan cara menimbang larutan uji pada
piknometer.Hasilnya adalah : Bobot piknometer kosong : Replikasi 1= 30,0452 g Replikasi
2= 30,0322 g Replikasi 3= 30,0284 g Bobot pikno kosong rata-rata = 30,0353 g Volume
pikno=volume air = 9,907 g Bobot pikno+larutan : Replikasi 1= 41,3699 g Replikasi 2=
41,3756 g Bobot sediaan rata-rata adalah 11,3375 g Bobot jenis sediaan = Bobot
sediaan/volume pikno = 11,3375 /9,907 = 1,144 g/ml 5. Uji volume sedimentasi Pada uji ini
dilakukan pengukuran volume sedimentasi dengan mengambil beberapa mL suspensi yang
kemudian dimasukkan dalam gelas ukur 50 mL, kemudian didiamkan selama 2 hari. Setelah
2 hari tersebut suspensi yang kami formulasi tidak menunjukkan adanya endapan. Ini berarti
suspensi yang kami buat stabil dan termasuk suspensi yang baik. Suspensi ini tergolong
dalam suspensi terdeflokulasi. Hasil evaluasi sediaan Bentuk sediaan Kadar bahan aktif :
larutan suspensi : - Al(OH)3 - Mg(OH)2 - Simetikon pH sediaan :8 = 225 mg/5 ml = 200
mg/5 ml = 30mg/5 ml warna bau rasa viskositas BJ : putih : mentol : manis : 800 cp :
1,144 g/ml Dalam evaluasi uji sediaan kami hanya melakukan lima uji saja dikarenakan
keterbatasan waktu sehingga uji-uji yang lain tidak dapat dilakukan. Tetapi walaupun tidak
dilakukan uji-uji yang lain sediaan kami dapat disimpulkan acceptable dikarenakan tidak
terbentuk endapan bila disimpan pada suhu kamar. KESIMPULAN 1. Sediaan antasida
dengan bahan aktif Mg(OH)2, Al(OH)3 dan simeticon. 2. Pemilihan Al(OH)3 dan Mg(OH)2
didasarkan pada sifat kedua bahan aktif tersebut yaitu bersifat basa sehingga dapat
menetralkan asam lambung dan masa kerjanya lama. Sedangkan simeticon dipilih untuk
melengkapi fungsi kedua bahan obat tersebut, yaitu sebagai antikembung atau antiflatulent. 3.
Bentuk sediaan yang terpilih adalah suspensi karena bahan aktif tidak larut dalam air 4.
Evaluasi sediaan antasida meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji Bobot Jenis dan
uji sedimentasi. 5. Dari hasil uji yang dilakukan, sediaan yang telah dibuat memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan yaitu sediaan dengan BJ = 1,144 g/cm3, viskositas = 800
mpas, pH = 8,0 dan tidak membentuk cake sehingga dapat diproduksi dalam skala besar.
DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2002. Britis Pharmacopera Vol II Book II. The Stationary
Office : London Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen
Kesehatban Republik Indonesia Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1994. Handbook of Pharmaceutical
Excipients.2nded. The Pharmaceutical press : London Anonim. 2005. Farmakologi dan Terapi
Edisi 4. Jakarta : Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Harvey,
Ricard. 1995. Farmakologi Ulasan Bergambar. Rutger Yniversity. Parfitt, Kathleen. 1999.
Martindale. The Complete Drug Reference, 32nd ed. Pharmaceutical Press : UK
X

Recommended

likuid antasida

Sediaan Antasida yang di Dapar pada pH lebih kecil dari 8.0 Kelompok B1 Pemilihan Bahan
Aktif Berdasarkan karakteristik fisika-kimia maka dipilih bentuk sediaan suspensi,

FARMAKOLOGI makalah antasida

MAKALAHFARMAKOLOGI ANTASIDA DISUSUN OLEH : KELOMPOK 3 NAMA


ANGGOTA 1. AULIA AZIZAH 2. IRMA NUR FEBRIANTI 3. MAULIDA 4. NOOR IZTI
KHAIRINA 5. NUR LISNA YANTI 6. RABIATUL ADWIYAH
golongan obat antasida

Penggolongan obat antasida

Interaksi Ranitidin Dan Antasida

Interaksi Ranitidin Dan Antasida

Bpr Suspensi Antasida - Sendiri

Obat Maag Atau Antasida

Contoh obat maag dan mekanisme kerja


Farmakologi Antasida, Antagonis Reseptor H2, Obat Digestiva, Antidiare

Farmakologi Antasida, Antagonis Reseptor H2, Obat Digestiva, dan Anti Diare M. Wellyan
T.W.H. Antasida Antasida adalah obat yg digunakan untuk menetralkan keasaman lambung.

Lap. Bioteknologi

tugas biologi

Lap. pengeringan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pengeringan merupakan suatu proses penting
yang terjadi dalam industri pangan. Hal ini disebabkan karena pengeringan dapat
digunakan

Lap Perhitungan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beratus-ratus spesies dapat menghuni bermacam-
macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit karena kita
ketahui

Lap Sterilisasi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh


semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada
lagi

LAP PENJUALAN.xlsx

RRRR

Lap. Penelitian

LAPORAN PENELITIAN LAPORAN PENELITIAN PEMANFAATAN FRAKSI CAIR


ISOLAT PATI KETELA POHON SEBAGAI MEDIA FERMENTASI PENGGANTI AIR
TAJIN PADA PEMBUATAN SAYUR ASIN Oleh: Aida Pradani
Lap. Pemeliharaan

LAPORAN PRAKTIKUMILMU TERNAK POTONG DAN KERJA PEMELIHARAAN

Lap Sakitku.php

Lap Sakitku.php

lap. klimatologi

ACARA I PENGENALAN ALAT-ALAT METEOROLOGI I. A. Latar Belakang Stasiun


meteorologi pertanian adalah suatu tempat yang mengadakan pengamatan secara terus
menerus mengenai keadaan

Lap. Pendahuluan
CV. GUNA HARSA JL. Raya Pabean 71 G Sedati Sidoarjo gunaharsa@yahoo.co.id /
gunaharsa@gmail.com KATA PENGANTAR Puji Syukur Kehadirat Allah SWT, atas
Selesainya Panyusunan

Lap Mekban.docx

Lembar Pengesahan Diterima pada Laboratorium Mekanika Batuan Fakultas Teknik Jurusan
Teknik Pertambangan UVRI Makassar Disetujui ( Deslan Rante Tadung ) Mengetahui,
Koordinator

Argentrometri Lap

aa

LAP RINCIAN.xls

View more

Subscribe to our Newsletter for latest news.

About Terms DMCA Contact


STARTUP - Share & Download Unlimited