Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peranan lingkungan dan keluarga sangat penting dalam upaya meningkatkan prestasi
belajar siswa disamping guru. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam hal
menumbuhkembangkan minat siswa untuk meraih prestasi dalam bidang pelajaran tertentu
termasuk matematika. Untuk itu seorang guru perlu mencari strategi alternatif dalam
menumbuhkan minat siswa agar mau belajar dengan gembira (tanpa merasa dipaksa), sehingga
dapat menimbulkan percaya diri pada siswa, yang pada akhirnya mereka dapat mengembangkan
kemampuan yang telah ada tanpa mereka sadari. Tampaknya menggali kemampuan siswa
dengan cara menumbuhkembangkan kemampuan yang telah ada belum pernah dilakukan oleh
guru SDN Kedunghalang 3, sehingga pendidikan itu terkesan memaksa dan menjemukan. Lebih-
lebih siswa tumbuh pada lingkungan dan keluarga yang kurang memahami pentingnya
pendidikan. Orang tua tidak mengerti, lingkungan tidak mendukung, di sekolah merasa dipaksa
mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dan berakhir dengan pengambilan keputusan untuk berhenti
sekolah. Seperti halnya siswa SDN Kedunghalang 3, Kecamatan Bogor Utara, Bogor. Anak-anak
usia sekolah di Bogor banyak yang putus sekolah. Mereka putus sekolah mungkin disebabkan
oleh faktor ekonomi, lingkungan, atau mungkin saja akibat strategi pembelajaran di kelas kurang
menarik dan tidak dapat membuat siswa merasa gembira datang ke kelas. Sekolah Dasar (SD)
memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan. Keberhasilan siswa di SD sangat
berpengaruh terhadap keberhasilannya di sekolah lanjutan. Menurut informasi dari guru SDN
Kedunghalang 3 Bogor diperoleh bahwa rata-rata prestasi belajar matematika siswa kelas V
selalu di bawah enam. Dalam proses pembelajarannya, guru berupaya memberikan penjelasan
materi secara lengkap. Dalam hal ini siswa cendrung dituntut untuk mengikuti contoh yang telah
diberikan oleh guru.Tentunya pembelajaran seperti ini tidak relevan dengan tuntutan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK). Dari kenyataan ini jelaslah guru tersebut perlu dibantu dengan
melibatkan yang bersangkutan pada suatu penelitian tindakan kelas dengan maksud agar
disamping guru memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan pembelajaran yang sesuai
dengan tuntutan KBK, juga dapat mengembangkan kompetensi siswa sesuai dengan yang
digariskan dalam kurikulum. Dalam proses pembelajaran, guru memulai dengan menjelaskan
memberi contoh latihan soal. Jadi siswa secara langsung diberikan rumusrumus matematika
tanpa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang
berorientasi pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pembelajaran hendaknya diawali dari
dunia nyata dan rumus diharapkan ditemukan oleh siswa sendiri. Sebagai contoh: sebelum
menjelaskan sifat distributif yaitu a x (b+c) = (axb)+(axc) siswa diberi pertanyaan sebagai
berikut. Wayan disuruh membeli beras sebanyak 9 kg. Harga beras per kg Rp.2900,-. Berapa
rupiah Wayan harus membayar?. Cara siswa menjawab kemungkinan bervariasi. Beberapa
kemungkinan cara siswa menjawab adalah: 9 x (3000-100) = (9x3000) (9x100), atau (10-
1)x2900 = (10x2900) (1x2900) atau cara lainnya. Jadi jenis jawaban beragam Pendekatan
pembelajaran yang cocok dengan KBK adalah pendekatan kontekstual atau Contextual teaching
and learning (CTL).
Pada pembelajaran CTL guru tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta tetapi guru
hendaknya mendorong siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui
CTL siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghapal. Dalam pembelajaran,
guru perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki siswa dan mengaitkan dengan konsep yang
akan dipelajari.
Konsepsi awal ini dapat direkam dari pekerjaan siswa dalam LKS dan dari jawaban siswa
terhadap pertanyaan-pertanyaan guru yang disampaikan pada awal pembelajaran. Dalam
pembelajaran biasanya siswa malu atau takut bertanya kepada gurunya dan lebih suka bertanya
kepada teman-temanya. Oleh karena itu implementasi pendekatan kontekstual melalui
pembelajaran kooperatif berbantuan LKS perlu diterapkan. Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah: (a) meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDN Plalangan 03 dengan
implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS., (b)
mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap implementasi pendekatan kontekstual melalui
pembelajaran kooperatif berbantuan LKS.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian
tindakan kelas yang berjudul Implementasi Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan
Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN Kedunghalang 3 Bogor.

B. Rumusan Masalah
Masalah adalah segala rintangan tentang hambatan dan kesulitan yang memerlukan
pemecahan jawaban agar usaha pencapaian tujuan dimaksud dapat berhasil dengan baik. Adapun
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Adakah peningkatan prestasi siswa melalui implementasi pendekatan konstektual pada siswa
Kelas V SDN Kedunghalang 3 Bogor Kecamatan Bogor Utara Kotamadya Bogor?

C. Tujuan Perbaikan
Tujuan utama penelitian ini adalah :
Menghasilkan model pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan prestasi
matematika pada siswa Kelas V SDN Kedunghalang 3 Bogor Kecamatan Bogor Utara
Kotamadya Bogor

Mengetahui adanya peningkatan prestasi belajar melalui impelementasi pendekatan konstektual


pada siswa Kelas V SDN Kedunghalang 3 Bogor Kecamatan Bogor Utara Kotamadya Bogor

Meningkatkan keaktifan siswa pada kegiatan pembelajaran yang akan membawa peningkatan
prestasi belajar melalui impelementasi pendekatan konstektual pada siswa Kelas V SDN
Kedunghalang 3 Bogor Kecamatan Bogor Utara Kotamadya Bogor
D. Manfaat Perbaikan
Setelah penelitian ini selesai diharapkan dapat bermanfaat.
Bagi kepala sekolah sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan bahan pertimbangan
dalam mengambil kebijaksanaan untuk mendorong guru dalam menciptakan metode yang tepat
untuk menentukan keberhasilan pengelolaan pembelajaran di sekolah.
Bagi guru, sebagai bahan masukan untuk dijadikan dasar yang akan dikerjakan dalam
pelaksanaan kegiatan guru lebih berkembang dan terarah dalam mengtelola situasi dan kondisi
kelas.
Bagi siswa, dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar, dapat memanfaatkan
waktu dengan baik dan tepat, mampu menyelesaikan soal yang tak terbatas dalam waktu yang
relatif singkat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berusaha tingkah laku
atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996:14)
Sependapat dengan pernyataan tersebut Soetomo (1993:68) mengemukakan bahwa
pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan
sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku
tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan tingkah laku yang
bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam
kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain (Soetomo,
1993:120)
Pasal 1 Undang undang No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional
menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada
suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada siatuasi tertentu.

B. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SD dan MI


Standar kompetensi mata pelajaran Matematika untuk SD dan MI berdasarkan kurikulum
2004, adalah sebagai berikut :
Kemampuan Matematika yang dipilih dalam standar kompetensi ini dirancang sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan siswa dengan memperhatikan perkembangan pendidikan matematika
di dunia sekarang ini. Untuk mencapai kompetensi tersebut dipilih materi-materi matematika
dengan memperhatikan struktur keilmuan, tingkat kedalaman materi, serta sifat esensial materi
dan terpakainya dalam kehidupan sehari-hari secara rinci, standar kompetensi tersebut, adalah
sebagai berikut :
a. Bilangan
Menggunakan bilangan dalam pemecahan masalah.
Menggunakan operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah.
Menggunakan konsep bilangan cacah dan pecahan dalam pemecahan masalah.
Menentukan sifat-sifat operasi hitung, faktor, kelipatan bilangan bulat dan pecahan serta
menggunakannnya dalam pemecahan masalah.
Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pemecahan, serta menggunakannya dalam
pemecahan masalah.
b. Pengukuran dan Geometri
Melakukan pengukuran, mengenal bangun datar dan bangun ruang serta menggunakannya
dalam pemecahan masalah sehari-hari.
Melakukan pengukuran, menemukan unsur bangun datar dan menggunakannya dalam
pemecahan masalah.
Melakukan pengukuran keliling dan luas bangun datar dan menggunakannya dalam pemecahan
masalah.
Melakukan pengukuran, menentukan sifat dan unsur bangun ruang, menentukan kesimetrian
bangun datar serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.
Mengenal sistem koordinat pada bidang datar.
c. Pengolahan Data
Mengumpulkan, menyajikan dan menafsirkan data.

C. Pengertian Belajar Matematika


Menurut Nana Surjana, ( 1987 : 28 ) Proses belajar berlangsung dalam waktu tertentu
dan merupakan proses yang panjang dari satu fase ke fase berikutnya. Belajar adalah suatu
proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, bukan menghafal atau
mengingat.
Herman Hudoyo, ( 1979 : 89 ). Begitu juga dengan belajar matematika karena melibatkan
suatu struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat tertinggi yang dibentuk atas dasar apa yang
telah terbentuk sebelumnya. Ros Effendi, ( 1980 : 148 ). Belajar matematika berarti mempelajari
fikiran-fikiran manusia, yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Mohammad Soleh,
( 1998 : 3 ). Belajar matematika adalah belajar tentang bilangan, belajar menjumlah, mengurangi
dan membagi yang terdapat dalam aljabar, aritmatika, dan geometri.
Jadi belajar matematika adalah melibatkan diri yang berhubungan dengan ide, proses dan
penalaran yang semuanya telah tersusun secara hirarki dari konsep-konsep yang rendah sampai
konsep-konsep yang lebih tinggi.

D. Pendekatan Kontektual
Sistem pembelajaran saat ini masih dominan dengan istilah belajar yang diartikan sebagai
kegiatan-kegiatan berupa duduk, dengar, catat kemudian pulang untuk dihapal. Melihat kondisi
yang demikian, peserta didik akan merasakan kejenuhan yang berkepanjangan. Untuk
menghindari dan mengantisipasi kejenuhan itu, maka perlu adanya pembentukan konsep penting
yang harus dilaksanakan dalam praktik pembelajaran. Salah satu di antaranya adalah
pembelajaran kontektual (contextual teaching and learning).
Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual,guru memilih
konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan
kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang
berlaku dalam masyarakatnya (http.//www.contextual.org.id). Pemahaman, penyajian ilmu
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang
dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen, 2001: 8).
Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran
agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk
mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa
depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah
membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi
daripada memberi informasi. Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa
pengetahuan, keterampilan dari hasil menemukan sendiri dan bukan dari apa kata guru.
Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk
mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan
sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan
mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran
kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum,
2002: 6). Lebih lanjut Schaible, Klopher, dan Raghven, dalam Joyce-Well (2000: 172)
menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya
dalam penelitian dengan menghadapkan anak didik pada bidang penelitian, membantu mereka
mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan
mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah.
Pembelajaran kontekstual dilaksanakan sebagai aplikasi dalam pemaknaan belajar dan
proses belajar dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini didasarkan pada landasan teoritis tentang
belajar aktif yang tidak semata-mata menekankan pada pengetahuan yang bersifat hapalan saja.
Siswa harus aktif mencari, menemukan pengetahuan tersebut dengan keterampilan secara
mandiri. Peran guru dalam contextual learning berbeda dengan perannya dalam kelas tradisional.
Dalam kelas tradisional, guru merupakan satu-satunya penguasa dan pemberi informasi, guru
memberikan informasi pengetahuan dan siswa yang baik menyerap pengetahuan tersebut tanpa
banyak bertanya. Di sisi lain, pada kelas kontekstual, setelah pembelajaran berlangsung guru
berperan sebagai fasilitator; guru sekedar memberikan informasi untuk merangsang pemikiran.
Para siswa didorong untuk bertanya dan mengemukakan ide-idenya.

E. Hasil Belajar
siswa adalah nilai yang diperoleh siswa selama kegiatan belajar mengajar. Belajar
diartikan sebagai gejala perubahan tingkah laku yang relatif permanen dari seseorang dalam
mencapai tujuan tertentu De Cecco (dalam Witjaksono, 1985:6). Menurut Gagne (dalam
Witjksono, 1985:6) belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam disposisi atau kapabilitas
seseorang, dalam kurun waktu tertentu, dan bukan semata-mata sebagai proses pertumbuhan.
Pendapat senada juga diutarakan oleh Susanto (1991:1) yang menyatakan bahwa belajar
merupakan proses dimana otak atau pikiran mengadakan reaksi terhadap kondisi-kondisi luar
dan reaksi itu dapat dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya.
Melalui proses belajar anak dapat mengadaptasikan dirinya pada lingkungan hidupnya. Adaptasi
itu dapat berupa perubahan pikiran, sikap, dan ketrampilan.
Selaras dengan pernyataan di atas Bloom (dalam Budiningsih, 2005:75) menekankan
perhatiaannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu. Tujuan belajar yang dikemukakannya
dirangkum kedalam tiga kawasan yang terkenal dengan taksonomi Bloom adalah sebagai
berikut:

1. Domain kognitiif, terdiri atas 6 tingkatan yaitu:

a. Pengetahuan (mengingat, menghafal)


b. Pemahaman (mengintepretasikan)
c. Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)
d. Analisis (menjabarkan suatu konsep)
e. Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
f. Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode, dsb)

2. Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan yaitu:

a. Peniruan (menirukan gerak)


b. Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c. Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
d. Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
3. Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan yaitu:

a. Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)


b. Merespon (aktif berpartisipasi)
c. Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu)
d. Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayainya)
e. Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagian bagian dari pola hidupnya)
Hasil belajar yang diukur pada pembelajaran yang berlandaskan kurikulum 2004 meliputi
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Maka guru tidak hanya menilai siswa dari aspek
intelektual tetapi kemampuan sosial, sikap siswa selama proses belajar mengajar serta keaktifan
siswa dalam kegiatan pembelajaran juga dinilai oleh guru. Siswa yang telah mengalami
pembelajaran diharapkan memilki pengetahuan dan ketrampilan baru serta perbaikan sikap
sebagai hasil dari pembelajaran yang telah dialami siswa tersebut. Pengukuran hasil belajar
bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa dalam menyerap materi. Sebaiknya hasil
belajar yang telah dinilai oleh guru diberitahukan kepada siswa agar siswa mengetahui
kemajuan belajar yang telah dilakukannya serta kekurangan yang masih perlu diperbaiki.
Penilaian hasil belajar pada akhirnya sebagai bahan refleksi siswa mengenai kegiatan belajarnya
dan refleksi guru terhadap kemampuan mengajarnya serta mengevaluasi pencapaian target
kurikulum.
Benjamin S. Bloom dalam Taxonomy of Education Objectives (Winkel, 1996:274)
membagi hasil belajar kedalam tiga ranah:
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif (berkaitan dengan daya piker, pengetahuan, dan penalaran) berorientasi pada
kemampuan siswa dalam berfikir dan bernalar yang mencakup kemampuan siswa dalam
mengingat sampai memecahkan masalah, yang menuntut siswa untuk menggabungkan konsep-
konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Ranah kognitif ini berkenaan dengan prestasi belajar
dan dibedakan dalam enam tahapan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analsisi,
sintesis, dan eveluasi. Pada siswa SMP diutamakan pada ranah pengetahuan, pemahaman, dan
penerapan.
Pengetahuan mencakup kemampuan mengingat tentang hal yang telah dipejari, dan
tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, kaidah, prinsip,
teori, dan rumus. Pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan
dalam bentuk mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).
Pemahaman mencakup kemampuan untuk menyerap makna dan arti dari bahan yang
dipelajari. Kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu dapat dilihat dari kemampuaannya
menyerap suatu materi, kemudian mengkomunikasikannya dalam bentuk lainnya dengan kata-
kata sendiri.
Penerapan mencakup kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh
dalam kegiatan pembelajaran untuk menghadapi situasi baru dalam kehidupan sehari-hari.
Tingkat penerapan ini dapat diukur dari kemampuan menggunakan konsep, prinsip, teori, dan
metode untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
2. Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor berorientasi kepada ketrampilan fisik, ketrampilan motorik, atau
ketrampilan tangan yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan
koordinasi antara syaraf dan otot. Simpson (dalam Winkel, 1996:278) menyatakan bahwa ranah
psikomotor terdiri dari tujuh jenis perilaku yaitu: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing,
gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.
Sedangkan menurut Kibler, Barker, dan Miles (dalam Dimyati dan Mudjiono, 1994:195-196)
ranah psikomotor mempunyai taksonomi berikut ini:
a. Gerakan tubuh yang mencolok, merupakan kemampuan gerakan tubuh yang menekankan
kepada kekuatan, kecepatan, dan ketepatan tubuh yang mencolok.
b. Ketepatan gerakan dikordinasikan, merupakan ketrampilan yang berhubungan dengan gerakan
mata, telinga, dan badan .
c. Perangkat komunikasi non verbal, merupakan kemampuan mengadakan komunikasi tanpa
kata
d. Kemampuan berbicara, merupakan kemampuan yang berhubungan dengan komunikasi secara
lisan Untuk kemampuan berbicara, siswa harus mampu menunjukkan kemahirannya memilih
dan menggunakan kata atau kalimat sehingga informasi, ide, atau yang dikomunikasikannya
dapat diterima secara mudah oleh pendengarnya.
3. Ranah Afektif
Ranah afektif (berkaitan dengan perasaan/kesadaran, seperti perasaan senang atau tidak
senang yang memotivasi seseorang untuk memilih apa yang disenangi) berorientasi pada
kemampuan siswa dalam belajar menghayati nilai objek-objek yang dihadapi melalui perasaan,
baik objek itu berupa orang, benda maupun peristiwa. Ciri lain terletak dalam belajar
mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar. Menurut Krochwall Bloom (dalam
Winkel 1996:276) ranah afektif terdiri dari penerimaan, partisipasi, penilaian, dan penentuan
sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup.Untuk ranah kognitif, guru menilai kemampuan
kognitif siswa berdasarkan hasil tes yang diberikan kepada siswa pada akhir pelaksanaan siklus 1
dan 2.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian


1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk
memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN Kedunghalang 3 Kelas 5
tahun pelajaran 2009/2010
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini
dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2009 semester genap.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa-siswi kelas V SDN Kedunghalang 3 pada mata pelajaran
matematika materi pecahan

B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih
Proyek PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang
dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan
tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta
memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis, 2000:
3).
Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat
sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang
dilakukan.
Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek
pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan
budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5).

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini
menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6),
yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi
planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa
identifikasi permasalahan.
Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran
dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan
yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran
dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan
kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana Pelajaran (RP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam
mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indicator
pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
3. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data
hasil eksperimen.
4. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
a. Lembar observasi pengolahan metode pembelajaran demonstrasi, untuk mengamati kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran.
b. Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama
proses pembelajaran.

5. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes formatif ini diberikan
setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda (objektif). Sebelumnya
soal-soal ini berjumlah 46

D. Metode Pengumpulan Data


Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan
metode pembelajaran demonstrasi, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.

E. Teknik Analisis Data


Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu
diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu
suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data
yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk
memperoleh respon siswa terhadap kegiata pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses
pembelajaran.
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses
belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes
tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1. Untuk menilai ulangan atu tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi
dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat
dirumuskan:
Dengan : = Nilai rata-rata

X = Jumlah semua nilai siswa


N = Jumlah siswa

2. Untuk ketuntasan belajar


Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu
seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut
tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama
dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Item Butir Soal


Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrumen penelitian berupa tes dan
mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisi. Uji coba dilakukan pada
siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilakukan meliputi:

1. Validitas

Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat
digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini. Dari perhitungan 45 soal diperoleh 15 soal
tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa
Soal Valid Soal Tidak Valid
1, 2, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 36, 3, 4, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32,
37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 33, 34, 35, 40,

2. Reliabilitas

Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil
perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 775. Harga ini lebih besar dari harga r
product moment. Untuk jumlah siswa (N = 22) dengan r (95%) = 0,423. Dengan demikian soal-
soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat reliabilitas.

3. Taraf Kesukaran (P)


Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis
menunjukkan dari 45 soal yang diuji terdapat:
- 20 soal mudah
- 15 soal sedang
- 10 soal sukar

4. Daya Pembeda

Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal dalam


membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 15 soal,
berkriteria cukup 20 soal, berkreteria baik 10 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang
digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya
pembeda.

B. Analisis Data Penelitian Persiklus


1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana
pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 April
2009 di kelas V dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.
Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan.
Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I
No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan
T TT T TT
1 60 12 60
2 70 13 80
3 70 14 70
4 60 15 80
5 80 16 70
6 80 17 90
7 70 18 60
8 70 19 60
9 60 20 70
10 80 21 70
11 50 22 60
Jumlah 750 7 4 Jumlah 770 8 3
Jumlah Skor 1520
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai 69,09

Keterangan: T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 15
Jumlah siswa yang belum tuntas :7
Klasikal : Belum tuntas

Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I


No Uraian Hasil Siklus I
1 Nilai rata-rata tes formatif 69,09
2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 15
3 Persentase ketuntasan belajar 68,18

Dari tabel 4.2 dan tabel 4.3 di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan
pendekatan kontekstual pada pembelajaran matematika diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar
siswa adalah 69,09 dan ketuntasan belajar mencapai 68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa
sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal
siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 68,18%
lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan
karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru
dengan menerapkan pendekatan kontekstual.

2. Siklus II
a. Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana
pelajaran 2, LKS 2, soal tes formatif II, dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 20 April
2009 di kelas V dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.
Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi
pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa selama proses belajar mengajar yang telah dilakukan.
Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II
adalah sebagai berikut
Tabel 4.4. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
Keterangan Keterangan
No. Urut Nilai No. Urut Nilai
T TT T TT
1 60 12 90
2 80 13 80
3 80 14 80
4 90 15 80
5 90 16 80
6 60 17 60
7 80 18 80
8 70 19 70
9 60 20 60
10 80 21 80
11 90 22 80
Jumlah 840 8 3 Jumlah 840 9 2
Jumlah Skor 1680
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai 76,36

Keterangan: T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 17
Jumlah siswa yang belum tuntas :5
Klasikal : Belum tuntas
Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
No Uraian Hasil Siklus II
1 Nilai rata-rata tes formatif 76,36
2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 17
3 Persentase ketuntasan belajar 77,27

Dari tabel 4.4 dan tabel 4.5 di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah
76,36 dan ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas
belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah
megalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini
karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes
sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga
sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan
pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika.
3. Siklus III
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana
pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3, dan alat-alat pengajaran yang mendukung
b. Tahap kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 27
April 2009 di kelas V dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai
guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan
revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada
siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan.
Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil peneitian pada siklus III
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus III
Keterangan Keterangan
No. Urut Nilai No. Urut Nilai
T TT T TT
1 90 12 90
2 90 13 90
3 90 14 90
4 80 15 60
5 90 16 90
6 80 17 80
7 90 18 70
8 60 19 70
9 90 20 80
10 90 21 90
11 60 22 80
Jumlah 910 9 2 Jumlah 890 10 1
Jumlah Skor 1800
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai 81,82

Keterangan: T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 19
Jumlah siswa yang belum tuntas :3
Klasikal : Tuntas

Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III


No Uraian Hasil Siklus III
1 Nilai rata-rata tes formatif 81,82
2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 19
3 Persentase ketuntasan belajar 86,36

Berdasarkan tabel 4.6 dan tabel 4.7 diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar
81,82 dan dari 22 siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa belum mencapai
ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 86,36%
(termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari
siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya
peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan kontekstual sehingga siswa
menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam
memahami materi yang telah diberikan. Pada siklus III ini ketuntasan secara klasikal telah
tercapai, sehingga penelitian ini hanya sampai pada siklus III.
c. Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih
kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pendekatan kontekstual. Dari data-
data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:
1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik.
Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk
masing-masing aspek cukup besar.
2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar
berlangsung.
3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan
sehingga menjadi lebih baik.
4) Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan.

d. Revisi Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan pendekatan kontekstual dengan baik dan dilihat
dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan
dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk
tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan
tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pendekatan
kontekstual yang dilaksanakan dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai.

C. Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual dalam
pembelajaran matematika memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang
disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing
68,18%, 77,27%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah
tercapai.
2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif
terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata
siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
matematika materi pecahan yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan
alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa
dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah
pembelajaran pendekatan kontekstual dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang
muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan
LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan
balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan
berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap
siklus, yaitu siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%).

2. Penerapan pendekatan kontekstual mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat


meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan
sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat
dengan pendekatan kontekstual sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.

B. Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar
matematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka
disampaikan saran sebagai berikut:

1. Untuk melaksanakan pendekatan kontekstual memerlukan persiapan yang cukup matang,


sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa
diterapkan dengan pendekatan ini dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil
yang optimal.

2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih
siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana
siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan
keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang
dihadapinya
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Joyce, Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of Teaching Model. Boston: A Liyn dan Bacon.

Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes. Surabaya: Universitas Press.

Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah Panitia Pelatihan Penulisan Karya
Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press. Universitas Negeri
Surabaya.

Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa Cipta.

Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Widoko. 2002. Metode Pembelajaran Konsep. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

http://contextual.org diakses tanggal 15 April 2009

Lampiran 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


SIKLUS 1
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/ Semester :V/2
Alokasi Waktu: 2 x 35 menit
Hari, Tanggal : Senin, 13 April 2009

Standar Kompetensi
5 Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar
5.4.Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala
Indikator
Melakukan operasi hitung dengan menggunakan perbandingan
Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran berlangsung diharapkan siswa dapat:
1. menghitung perbandingan dengan benar
2. menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan
Materi Ajar
Perbandingan dan Skala
Metode Pembelajaran
Ceramah
Diskusi
Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Awal

Salam, Absensi
Apersepsi : Guru menunjuk dua orang siswa kemudian menanyakan umur keduanya kemudian
guru membuat perbandingannya
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti
Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok
Siswa dalam kelompok dibagikan sebuah permasalahan tentang perbandingan
Siswa mendiskusikan permasalahan tersebut
Guru memberi bimbingan cara memecahkan masalah perbandingan

Kegiatan Akhir

Evaluasi
Guru dan siswa menarik kesimpulan
Salam
Alat, Bahan dan Sumber Belajar
Kurikulum Matematika Kelas V, KTSP
Buku Matematika Kelas V, Pusat Perbukuan Depdiknas
Buku Matematika Kelas V, Erlangga
Penilaian

Bentuk Penilaian

Tes Tulis

Instrumen Penilaian

Soal
1. Jika umur Ana 12 tahun dan umur Ani 6 tahun, perbandingan umur mereka adalah
2. Perbandingan umur Sita dan Dewi 2 : 3, jika jumlah umur keduanya 15 tahun, Umur Sita
adalah..
3. Ayah mempunyai kambing 36 buah, Kakek mempunyai kambing 108, perbandingan umur
mereka adalah...
4. Perbandingan umur Nina dan Nini adalah 4 : 6, jika jumlah umur keduanya 20, umur Nini
adalah..
5. Marlena dan Anti mempunyai buku tulis dengan jumlah sebagai berikut, Marlena 50 dan Anti
100, perbandingan jumlah buku Marlena dan Anti adalah.
Kunci Jawaban
1. 12 : 6 = 2 : 1
2. Umur Sita 6 tahun
3. 36 : 108 = 1 : 3
4. Umur Nini = 12 tahun
5. 50 : 100 = 1 : 2

Bogor , 13 April 2009

Guru Kelas/ Peneliti

MARLIANA TEA
NIM. 814081866
Lampiran 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


SIKLUS 2

Mata Pelajaran : Matematika


Kelas/ Semester :V/2
Alokasi Waktu: 2 x 35 menit
Hari, Tanggal : Senin, 20 April 2009

Standar Kompetensi
5 Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar
5.4.Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala
Indikator
Melakukan operasi hitung dengan menggunakan perbandingan
Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran berlangsung diharapkan siswa dapat:
1. menghitung perbandingan dengan benar
2. menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan
Materi Ajar
Perbandingan dan Skala
Metode Pembelajaran
Ceramah
Diskusi
Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Awal
Salam, Absensi
Apersepsi : Guru melakukan tanya jawab seputar materi perbandingan untuk mengukur
kemampuan awal siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti

Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok


Siswa dalam kelompok mengambil undian soal/ permasalahan pada kotak yang disediakan guru
Siswa mendiskusikan permasalahan tersebut
Siswa menyampaikan cara mengerjakan soal tersebut, jika penyelesaian kurang tepat maka guru
melemparkan kepada kelompok lain
Guru memberi bimbingan cara memecahkan masalah perbandingan secara kelompok dan
individu

Kegiatan Akhir

Evaluasi
Guru dan siswa menarik kesimpulan
Salam
Alat, Bahan dan Sumber Belajar
Kurikulum Matematika Kelas V, KTSP
Buku Matematika Kelas V, Pusat Perbukuan Depdiknas
Buku Matematika Kelas V, Erlangga
Penilaian

Bentuk Penilaian

Tes Tulis

Instrumen Penilaian
Soal
1. Jika umur Jane 12 tahun dan umur Ani 8 tahun, perbandingan umur mereka adalah
2. Perbandingan umur Dino dan Dion 2 : 4, jika jumlah umur keduanya 24 tahun, Umur Dion
adalah..
3. Ayah mempunyai kerbau 30 ekor, Kakek mempunyai kerbau 120, perbandingan jumlah kerbau
mereka adalah...
4. Perbandingan umur Nina dan Nini adalah 5 : 6, jika jumlah umur keduanya 44, umur Nini
adalah..
5. Perbandingan jumlah coklat milik Tina dan Tini adalah 1 : 3, berapakah jumlah coklat Tina jika
jumlah coklat semuanya 16 ?

Kunci Jawaban
1. 12 : 8 = 6 : 4
2. Umur Dion 16 tahun
3. 30 : 120 = 1 : 4
4. Umur Nini = 20 tahun
5. Coklat Tina = 4

Bogor , 20 April 2009

Guru Kelas/ Peneliti

MARLIANA TEA
NIM. 814081866
Lampiran 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


SIKLUS 3

Mata Pelajaran : Matematika


Kelas/ Semester :V/2
Alokasi Waktu: 2 x 35 menit
Hari, Tanggal : Senin, 27 April 2009

Standar Kompetensi
5 Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar
5.4.Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala
Indikator
Melakukan operasi hitung dengan menggunakan perbandingan
Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran berlangsung diharapkan siswa dapat:
1. menghitung perbandingan dengan benar
2. menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan
Materi Ajar
Perbandingan dan Skala
Metode Pembelajaran
Ceramah
Diskusi
Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Awal

Salam, Absensi
Apersepsi : Guru melakukan tanya jawab seputar materi perbandingan untuk mengukur
kemampuan awal siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti

Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok


Siswa dalam kelompok mendiskusikan pemecahan soal perbandingan dengan sesuai dengan
pilihan sendiri
Siswa mendiskusikan permasalahan tersebut
Siswa menyampaikan cara mengerjakan soal tersebut, jika penyelesaian kurang tepat maka guru
melemparkan kepada kelompok lain
Siswa dalam kelompok kembali mendiskusikan cara pemecahan soal, sampai semua anggota
kelompok memahami cara pemacahan
Guru menunjuk secara acak satu siswa di masing-masing kelompok untuk memecahkan masalah
perbandingan di papan tulis

Kegiatan Akhir

Evaluasi
Guru dan siswa menarik kesimpulan
Salam
Alat, Bahan dan Sumber Belajar
Kurikulum Matematika Kelas V, KTSP
Buku Matematika Kelas V, Pusat Perbukuan Depdiknas
Buku Matematika Kelas V, Erlangga
Penilaian

Bentuk Penilaian

Tes Tulis

Instrumen Penilaian

Soal
1. Jika umur Jane 15 tahun dan umur Ani 35 tahun, perbandingan umur mereka adalah
2. Perbandingan umur Dino dan Dion 3 : 4, jika jumlah umur keduanya 49 tahun, Umur Dion
adalah..
3. Ayah mempunyai kerbau 60 ekor, Kakek mempunyai kerbau 120, perbandingan jumlah kerbau
mereka adalah...
4. Perbandingan umur Nina dan Nini adalah 3 : 6, jika jumlah umur keduanya 54, umur Nini
adalah..
5. Perbandingan jumlah coklat milik Tina dan Tini adalah 1 : 3, berapakah jumlah coklat Tina jika
jumlah coklat semuanya 200 ?

Kunci Jawaban
1. 15 : 35 = 3 : 7
2. Umur Dion 28 tahun
3. 60 : 120 = 1 : 2
4. Umur Nini = 36 tahun
5. Coklat Tina = 50

Bogor , 27 April 2009


Guru Kelas/ Peneliti

MARLIANA TEA
NIM. 814081866

Lampiran 4

DATA KEADAAN SISWA KELAS V SDN KEDUNGHALANG 3


TAHUN PELAJARAN 2009-2010
NAMA PEKERJAAN
NO NAMA SISWA L/P ALAMAT
ORTU ORTU
1 Ayum Adi Putra L BOGOR Hasan Basri
2 Ayumi Milasari P BOGOR Ali Imron
3 Ba`diyah P BOGOR Suhari
4 Bahrul L BOGOR Hartono
5 Faridatun Nafi`ah P BOGOR Jumain
6 Hoirul Basri L BOGOR Karimulla
7 Indrawati P BOGOR Anton
8 Irfaniati P BOGOR Moh. Iklas
9 John Refen L BOGOR Kasmini
10 Mega Silvi Putri P BOGOR Wawan K
11 Moh. Dikri L BOGOR Hendrik
12 Moh. Andika L BOGOR Moh. Arif
13 Mohammad Arfa L BOGOR Joko Putro
14 Mohammad Fausi L BOGOR Moh. Ihsan
15 Mohammad Hasim L BOGOR Sujamil
16 Mohammad Nuri L BOGOR Samsuri
17 Mohammad Yasin L BOGOR Sarno
18 Samsul Arifin L BOGOR Abdullah
19 Siti Fatimah P BOGOR Qomaruddin
20 Siti Sa`diyah P BOGOR Tatang
21 Suparman L BOGOR Moh. Fahrur
22 Uswatun Hasanah P BOGOR Sainudin

Lampiran 5

TABEL REKAPITULASI HASIL BELAJAR PER SIKLUS

NILAI
NO NAMA SISWA
SIKLUS 1 SIKLUS 2 SIKLUS 3
1 Ayum Adi Putra 60 60 90
2 Ayumi Milasari 70 80 90
3 Ba`diyah 70 80 90
4 Bahrul 60 90 80
5 Faridatun Nafi`ah 80 90 90
6 Hoirul Basri 80 60 80
7 Indrawati 70 80 90
8 Irfaniati 70 70 60
9 John Refen 60 60 90
10 Mega Silvi Putri 80 80 90
11 Moh. Dikri Hidayat K. 50 90 60
12 Mohammad Andika 60 90 90
13 Mohammad Arfa 80 80 90
14 Mohammad Fausi 70 80 90
15 Mohammad Hasim 80 80 60
16 Mohammad Nuri 70 80 90
17 Mohammad Yasin 90 60 80
18 Samsul Arifin 60 80 70
19 Siti Fatimah 60 70 70
20 Siti Sa`diyah 70 60 80
21 Suparman 70 80 90
22 Uswatun Hasanah 60 80 80
RATA-RATA 69,09 76,36 81,82

Lampiran 6
Format Kesedian sebagai Teman Sejawat dalam
Penyelenggaraan PKP

Kepada
Kepala UPBJJ BOGOR
Di Bogor

Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa :


Nama :
NIP :
Tempat Mengajar :
Alamat Sekolah :
Telepon :-

Menyatakan bersedia sebagai teman sejawat untuk mendampingi dalam pelaksanaan PKP
atas nama :

Nama : MARLIANA TEA


NIM : 814081866
Program Studi : S1 PGSD
Tempat Mengajar : SDN Kedunghalang 3
Alamat Sekolah : Jl. Pesantren
Telepon :-

Demikian agar surat pernyataan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bogor ,9 April 2009

Mengetahui, Teman Sejawat,


Kepala Sekolah

DASUKI, S.Pd. SURYANI


NIP. 19580508 197907 2 002 NIP. 19540512 197702 2 002

Lampiran 7

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : MARLIANA TEA


NIM :
UPBJJ-UT : BOGOR

Menyatakan bahwa:
Nama : SURYANI
Tempat Mengajar : SDN KEDUNGHALANG 3
Guru Kelas :6

adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran,yang
merupakan tugas mata kuliah PDGK 4904 Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Bogorr, 13 April 2009

Teman Sejawat Yang Membuat Pernyataan


Mahasiswa,

SURYANI. MARLIANA TEA


NIP. 19540512 197702 2 002 NIM. 814 081 866

Lampiran 8

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : MARLIANA TEA


NIM : 814081866
UPBJJ-UT : BOGOR

Menyatakan bahwa:
Nama : SURYANI
Tempat Mengajar : SDN KEDUNGHALANG 3
Guru Kelas :6

adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran,yang
merupakan tugas mata kuliah PDGK 4904 Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Bogor, 20 April 2009

Teman Sejawat Yang Membuat Pernyataan


Mahasiswa,

SURYANI. MARLIANA TEA


NIP. 19540512 197702 2 002 NIM. 814 081 866

Lampiran 9

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : MARLIANA TEA

NIM : 814081866
UPBJJ-UT : BOGOR
Menyatakan bahwa:

Nama : SURYANI
Tempat Mengajar : SDN KEDUNGHALANG 3
Guru Kelas :6

adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran,yang
merupakan tugas mata kuliah PDGK 4904 Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Bogorr, 27 April 2009

Teman Sejawat Yang Membuat Pernyataan


Mahasiswa,

SURYANI. MARLIANA TEA


NIP. 19540512 197702 2 002 NIM. 814 081 866