Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

FORMULASI SIRUP EKSTRAK DAUN LEGUNDI (Vitex


trifolia L.)

OLEH :

SRI FAUZIAH

N11114059

OBAT TRADISIONAL C

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Menurut survei kesehatan rumah tangga Depkes RI pada tahun

1996, gangguan saluran pernapasan seperti bronkitis, enfisema, dan

asma merupakan salah satu penyakit dalam 10 besar penyebab kematian

di Indonesia. Salah satu bahan alam yang telah digunakan masyarakat

Indonesia untuk mengobati asma ialah legundi (Vitex trifolia L). Bagian

daun dari tanaman itu digunakan oleh beberapa suku di Indonesia

sebagai jamu anti asma (Ujianto, 2005).

Daun legundi mengandung senyawa ester, alkaloid (vitrisin),

glikosida flavon (artemetin dan 7 desmetil artemetin), dan komponen non

flavonoid friedelin sitosterol, glukosida, serta senyawa hidrokarbon

(Sudarsono dkk., 2002). Viteksikarpin merupakan senyawa golongan

flavonoid yang terkandung di dalam daun legundi dan berkhasiat sebagai

antiasma. Viteksikarpin yang terdapat pada ekstrak etanol berperan

menghambat efek pelepasan histamin dari sel mast dengan cara

menstabilkan fungsi membran sel. Mekanisme penghambatan pelepasan

histamin ialah antagonis nonkompetitif (Alam dkk., 2002).

Masyarakat pada umumnya mengkonsumsi daun legundi dengan

cara direbus kemudian diminum. Hal ini dirasa kurang praktis dan cukup

merepotkan. Oleh karena itu, perlu upaya inovasi sediaan menjadi bentuk

sediaan cair yaitu sirup sehingga mempermudah penggunaan.


I.2. Tujuan Percobaan

1. Untuk mengetahui cara formulasi sediaan sirup dari daun legundi

(Vitex trifolia L.)

2. Untuk mengetahui perizinan sediaan yang beredar jika

dibandingkan dengan ketentuan oleh BPOM


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Daun Legundi (Vitex trifolia L.)

II.1.1. Klasifikasi Daun Legundi (Vitex trifolia L.)

Berdasarkan taksonomi tanaman, daun legundi termasuk dalam :

Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Lamiales

Suku : Verbenaceae

Marga : Vitex

Jenis : Vitex trifolia L.

II.1. 2. Nama Lain

Nama Daerah : Gendarasi (palembang), Lagundi, Lilegundi

(Minangkabau), Lagondi (sunda), Legundi (jawa), Galumi (sumbawa),

Sangari (bima), Lenra (makasar), Lawarani (bugis), Ai tuban (ambon).

Nama Asing : Man Jing (Cina), simpleleaf shrub chastetree (inggris)

(Heyne, 1981).

II.1. 3. Morfologi Daun Legundi (Vitex trifolia L.)

Legundi tumbuh pada tempat-tempat yang tandus, panas dan

berpasir. Ditemukan tumbuh liar dihutan jati, hutan sekunder, semak

belukar, atau dipelihara sebagai tanaman pagar.


Daun legundi

Daun legundi

Legundi merupakan tumbuhan anggota Verbenaceae. Perdu,

tumbuh tegak, tinggi 1-4 m, batang berambut halus. Daun majemuk

menjari beranak daun tiga, bertangkai, helaian anak daun berbentuk bulat

telur sungsang, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan

menyirip, permukaan atas berwarna hijau, permukaan bawah berambut

rapat warna putih, panjang 4-9,5 cm, lebar 1,75-3,75 cm. Bunga majemuk

berkumpul dalam tandan, berwarna ungu muda, keluar dari ujung tangkai.

Buahnya berbentuk bulat. Daun berbau aromatik khas dan dapat

digunakan untuk menghalau serangga atau kutu lemari (Dalimartha,

2000).
II.1.4. Kandungan dan Khasiat

Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam legundi

diantaranya camphene, L--pinene, silexicarpin, casticin, terpenyl acetate,

luteolin-7- glucoside flavopurposid, vitrisin, dihidroksi asam benzoate dan

vitamin A. Efek farmakologis legundi diantaranya sebagai obat influenza,

demam, migren, sakit kepala, sakit gigi, sakit perut, mata merah, diare,

rematik, beri-beri, batuk, luka terpukul, luka berdarah, muntah darah,

eksim, haid tidak teratur, dan pembunuh serangga (Hariana, A. 2009).

Daun legundi berkhasiat sebagai analgesik, antipiretik, obat

luka, peluruh kencing, peluruh kentut, pereda kejang, germicide

(pembunuh kuman), batuk kering, batuk rejan, beri-beri, sakit

tenggorokan, muntah darah, obat cacing, demam nifas, sakit kepala, TBC,

turun peranakan, tipus dan peluruh keringat. Pada pemakaian luar

digunakan untuk mengatasi eksim dan kurap (Sudarsono dkk, 2002).

Daun legundi dikonsumsi untuk meningkatkan daya ingat,

mengurangi rasa sakit, menghilangkan rasa tidak enak dimulut dan

menyembuhkan demam (Kirtikar and Basu, 1991).

Ekstrak daun legundi bermanfaat sebagai antikanker (Ghani,

1998). Bunga dari legundi dengan campuran madu dapat mengatasi

demam yang disertai muntah (Batthacharjee and De 2005).

II. 2. Sediaan Sirup

Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti

gula dengan atau tanpa bahan penambahan bahan pewangi, dan zat
obat. Sirup merupakan alat yang menyenangkan untuk pemberian suatu

bentuk cairan dari suatu obat yang rasanya tidak enak, sirup efektif dalam

pemberian obat untuk anak-anak, karena rasanya yang enak biasanya

menghilangkan keengganan pada anak-anak untuk meminum obat (Ansel,

1989).

Sirup merupakan sediaan obat dalam bentuk larutan. Sediaan

obat dalam larutan mempunyai banyak keuntungan, selain mudah dalam

pemakaian terutama bagi anak kecil, juga mempunyai keuntungan seperti

lebih cepat diabsorbsi dalam saluran cerna, sehingga obat cepat

diabsorbsi dan semakin cepat pula tercapainya efek terapetik. Namun

tidak semua obat dapat dibuat dalam bentuk sediaan larutan karena tidak

semua obat stabil dalam larutan (Tjay dan Rahardja, 2002).

Jenis obat yang diberikan dalam bentuk sirup-sirup obat yang

sering ditemukan adalah antitusif dan antihistamin. Ini tidak berarti bahwa

jenis obatobat lainnya tidak ada yang diformula menjadi sirup, tentu saja

banyak macam zat-zat obat dapat ditemukan dalam bentuk sirup dalam

compendia resmi dan diantara produk-produk dagang yang banyak. Sirup

(Sirupi) adalah merupakan larutan jernih berasa manis yang dapat

ditambahkan Gliserol, Sorbitol, Polialkohol yang lain dalam jumlah sedikit

dengan maksud untuk meningkatnya kelarutan obat dan menghalangi

pembentukan hablur sukrosa. Kadar sukrosa dalam sirup adalah 64-66%,

kecuali dinyatakan lain. Larutan gula yang encer, merupakan medium

pertumbuhan bagi jamur, ragi, dan bakteri (Anief,1994).


Ada tiga macam sirup yaitu:

1. Sirup simpleks mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25%

b/v.

2. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau

tanpa zat tambahan dan digunakan untuk pengobatan.

3. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat

pewangi atau penyedap lain. Tujuan pengembangan sirup ini adalah

untuk menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak (Anief,

1986).

Sebagian besar sirup mengandung komponen-komponen berikut

disamping air murni dan semua zat-zat obat yang ada:

1. Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk

memberi rasa manis dan kental

2. Pengawet antimikroba

3. Pemberi Rasa

4. Pewarna
BAB III

METODE

III.1. Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan: Daun Legundi diperoleh dari daerah

Kalibawang Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta, akuades, etanol 70 % (teknis ), n-heksana, etil asetat (p.a),

asam sitrat, propilen glikol, sakarosa dan essen anggur.

Alat yang digunakan: TLC scanner, tabung reaksi, labu takar 5

mL dan 150 mL, lempeng KLT silika gel GF 254, cawan petri, vortex mixer

H-VM- 300, gelas ukur 10 ml, corong pisah, flakon, pipet volume,

viskometer strormer, stopwatch, timbangan elektrik, gelas beker, gelas

arloji, gelas pengaduk, kompor listrik, lampu UV 254 nm, micro syringe,

toples, oven, corong buchner, wajan, penangas air, dan kipas angin.

III.2. Persiapan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian, berupa daun legundi

yang diperoleh dari daerah Kalibawang kabupaten Kulon Progo. Daun

setelah dipanen, dicuci bersih di bawah air yang mengalir guna

menghilangkan kontaminan yang melekat. Daun yang sudah dicuci

dikeringkan di dalam oven dengan suhu 50 C sampai diperoleh bentuk

yang rapuh sehingga mudah untuk diserbuk.

III. 3. Pembuatan Ekstrak Kental Daun Legundi

Ekstrak kental daun legundi dibuat dengan metode maserasi.

Satu kg serbuk kering daun legundi dimaserasi dengan 7,5 L etanol 70%.
Maserasi pertama 1 kg serbuk kering direndam 3,75 L etanol 70% selama

1 minggu dengan disertai pengadukan setiap hari. Setelah 1 minggu,

maserat disaring menggunakan kain saring. Maserasi kedua 1 kg serbuk

dari maserasi awal direndam 3,75 L etanol 70% selama 1 minggu sambil

diaduk setiap hari, baru kemudian dilakukan penyaringan menggunakan

corong buchner. Total maserat yang diperoleh diuapkan menggunakan

penangas air dan kipas angin hingga diperoleh ekstrak kental.

III. 4. Uji Kualitas Ekstrak

Uji kualitas ekstrak meliputi organoleptis, rendemen,

kekentalan, daya lekat, susut pengeringan, dan identifikasi senyawa aktif

dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

III. 5. Penentuan Dosis Ekstrak

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan kadar 0,5 mg/ml

(dengan volume pemberian 100 L/hari) ekstrak etanol daun legundi

mampu menghambat kontraksi trakhea karena pemberian histamin

(Astuti, 1997). Pada penelitian ini digunakan dosis 300 mg untuk manusia

dewasa. Ekstrak yang dibutuhkan untuk membuat 150 mL sirup yaitu 1,5g.

III. 6. Pembuatan Sirup

Pada pembuatan sirup ekstrak daun legundi, sebanyak 1,50 g

ekstrak kental dimasukkan ke dalam gelas beker. Propilen glikol yang

telah ditimbang dimasukkan bersama dengan asam sitrat dalam wadah

yang sama, dilakukan pengadukan disertai pemanasan hingga terbentuk

larutan homogen.
Propilen glikol merupakan bahan yang membantu

meningkatkan kelarutan senyawa dalam ekstrak tumbuhan obat dan

berfungsi sebagai antiseptik serta mampu melawan jamur (Owen dan

Weller, 2006). Bahan ini terbukti mampu meningkatkan kelarutan air dan

minyak permen serta air dan benzil benzoat (Martin dkk., 1990).

Penggunaan propilen glikol dalam bidang farmasetika ialah berdasarkan

atas aktivitas ikatan jembatan hidrogen, pembentukan kompleks, dan

penurunan tegangan permukaan (Gennaro, 1990)

Gula halus dilarutkan dalam akuades secara pemanasan dalam

gelas beker terpisah. Larutan gula kemudian dicampur dengan larutan

ekstrak kental dan diaduk hingga homogen. Sirup dimasukkan ke dalam

labu takar 150 mL lalu ditambahkan essen dan akuades hingga volume

tepat 150 ml, dilakukan pengadukan, dan sirup dimasukkan ke dalam

botol.
BAB IV

PEMBAHASAN

Indonesia merupakan negara yang terkenal akan

keanekaragaman flora. Tidak hanya itu, flora dapat tumbuh begitu subur di

tanah indonesia. Di antara flora tersebut, ada yang disebut sebagai

tanaman obat karena manfaatnya. Pemanfaatan tanaman obat yang

sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang ini kemudian dikenal dengan

obat tradisional. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan

Makanan HK.00.05.41.1384 tentang kriteria dan tata laksana pendaftaran

obat tradisional pasal 1 tahun 2005, obat tradisional adalah bahan atau

ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan

mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut,

yang secara turun temurun telah digunakan sebagai pengobatan

berdasarkan pengalaman.

Berdasarkan cara pembuatan, jenis klaim, logo dan tingkat khasiat

pembuktian, obat tradisional dibagi menjadi tiga macam, yaitu jamu, obat

herbal terstandar, dan fitofarmaka. Adapun sirup legundi yang diformulasi

yang telah beredar di masyarakat memiliki logo jamu sehingga obat

tradisional dari daun legundi termasuk dalam obat tradisional jamu.

Produk ini dapat dilihat pada gambar dibawah.


Produk jamu ini telah diedarkan ke seluruh wilayah Indonesi

dan beberapa negara di Asia. Jangkauan pemasaran produk jamu yang

luas maka waktu produk jamu sampai ke konsumen akan semakin lama.

Produk jamu berfungsi untuk menyehatkan konsumen yang meminumnya.


Oleh karena itu, kualitas produk jamu harus benar-benar diperhatikan.

Waktu distribusi yang lama dapat menurunkan kualitas dari produk jamu

karena sangat mudah mengalami kerusakan fisik, kimia, dan mikrobiologi.

Salah satu cara mengatasi turunnya kualitas jamu ketika sampai ke

konsumen adalah penggunaan kemasan untuk produk jamu. Tujuan dari

penggunaan kemasan untuk melindungi produk dari kerusakan fisik,

kimia, dan mikrobiologi. Selain itu, kemasan berfungsi sebagai wajah dari

produk jamu yang dapat menarik konsumen untuk membeli dan

mencantumkan berbagai informasi (spesifikasi) terkait dengan produk

jamu didalamnya. Oleh karena fungsi kemasan yang sangat penting bagi

produk jamu, maka spesifikasi kemasan produk jamu diatur oleh

pemerintah melalui Nomor Izin Edar (NIE) dan undang-undang.

Nomor Izin Edar (NIE)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI (2012), jamu hasil

produksi pabrik harus dikemas sesuai dengan ketentuan yang telah

diterapkan oleh pemerintah sehingga mendapatkan NIE Obat Tradisional.

Izin edar merupakan bentuk persetujuan pendaftaran BPOM untuk dapat

diedar di wilayah Indonesia. Izin Edar ini menjadi penandaan yang harus

ada pada kemasan jamu.

Jamu dengan adanya kemasan membuat kualitasnya tetap baik

dan menurunkan resiko rusaknya produk saat diterima oleh konsumen.

Menurut Permenkes RI nomor 007 tahun 2012 tentang Registrasi Obat

Tradisional pasal 2 bahwa obat tradisional yang akan dipasarkan wajib


memiliki Nomor Izin Edar. Izin Edar ini dikeluarkan oleh kepala BPOM

dengan masa berlaku selama 5 tahun. Izin Edar ini dapat diperpanjang

jika masih memenuhi syarat ketentuan yang berlaku.

Dalam pemberian NIE tidak diberikan secara sembarag dan

acak. Terdapat arti dan maksud pada setiap nomor. NIE obat tradisional

terdiri dari 2 kode huruf lalu diikuti 9 digit angka. Kode huruf tersebut

menandakan jenis obat tradisional, yaitu :

TR : Obat tradisional lokal

TI : obat tradisional impor

TL : obat tradisional Lisensi

HT : obat tradisional Terstandar

FF : Fitofarmaka

Setelah 2 kode huruf tersebut diikuti dengan 9 digit angka

dengan arti sebagai berikut :


Jamu dari produk ini memiliki NIE yaitu TR 192 687 991. TR

menunjukkan bahwa produk ini merupakan obat tradisional lokal. Digit 1

& 2 menunjukkan tahunnya. Digit 3 menunjukkan bentuk pabrik jamu

dengan kode 2. Digit keempat menunjukka bentuk sediaan cair yaitu kode

6. Digit 5 hingga 8 diperoleh dari BPOM sesuai dengan nomor urut jenis

produk yang terdaftar. Digit terakhir menunjukkan sebagian besar

kemasan berisi kurang dari 15 ml untuk bentuk cair. Maka dapat dikatakan

bahwa produk ini memiliki izin edar yang sesuai dengan ketentuan yang

telah ditetapkan oleh BPOM.


BAB V

PENUTUP

V.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat dikatakan bahwa

produk jamu yang diedarkan oleh PT DEXA MEDICA telah memiliki nomor

izin edar (NIE) yang sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan oleh

BPOM.
DAFTAR PUSTAKA

Alam, G., Wahyuono, S., Gandjar, I.G., Hakim, L., Timmerman, H.,

Verporte, R., 2002, Tracheospasmolytic Activity of Viteosin-A and

Vitexicarpin isolated from Vitex trifolia, Planta Medica., 68, 1047-

1049.

Anief, M. (1994). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hal. 130

Ansel,H.C., (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press.

Jakarta. Halaman 96,147.

Bhattacharjee, R. & Sil, P. C., 2007, Protein isolate from the herb,

Phyllanthus niruri L. (Euphorbiaceae), plays hepatoprotective role

against carbon tetrachloride induced liver damage via its antioxidant

properties, Food and Chemical Toxicology, 45, 817826.

Dalimartha Setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Bogor :

Trobus Agriwidya

Gennaro, A.R., 1990, Remingtons Pharmaceutical Sciences, XXII, 1317,

Mack Publishing Company, Easton, Pensylvania.

Hariana, A. 2009. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya: Sirih Merah. Seri 3.

Jakarta: Penebar Swadaya. pp. 88-9.

Heyne, K. 1981. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta:Badan Litbang

Kehutanan

Kirtikar, K.R and Basu, B.D. 1991. Indian Medicinal Plants. Basu, L.M,

Allahabad, India, 1935-1944


Martin, A., Swarbrick, J., dan Cammarata, A., 1990, Farmasi Fisik, Edisi III,

diterjemahkan oleh Yoshita, 558-561, UI Press, Jakarta.

Owen, S.C. dan Weller, P.J., 2006, Propylene Gycol, dalam Rowe, R.C.,

Sheskey, P.J., (Eds.)., Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th

Ed., 624-625, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain London,

UK.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Registrasi Obat Tradisional.

Peraturan Menteri Kesehatan No 007. Jakarta

Sudarsono, D. Gunawan, S. Wahyono, I.A. Donatus, dan Purnomo. 2002.

Tumbuhan Obat II. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional UGM

Tjay, T.H., Rahardja, K. (2002). Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan,

dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex

Media Komputindo. Halaman 540-541.

Ujianto, B., 2005, Daun Legundi Potensial Jadi Obat Asma, Suara

Merdeka, 29 Nopember 2005.