Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN TUTORIAL

BLOK MATA

Kenapa Mata Saya Kabur?

Kelompok A6
1.Afrinda Darmawan G0012005
2.LD Mukhlis A G0012113
3.Raka Aditya Pradana G0012175
4.Zakka Zayd Z J G0012241
5.Monica Fradisha Zukhri G0012135
6.Aulia Zhafira G0012035
7.Asti Swari P G0012031
8.Lusiani Puspita G0012117
9.Rahmi Syuadzah G0012173
10.Noni Kartika Sari G0012151
11.Arini Hidayati G0012027
12.Umi Hani Vismayanti L G0012223
13.Anandhita Ayu Trisnaningsih G0010017

Tutor :
Prof.Dr. KIYATNO, dr.,PFK.,M.Or, AIFO

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2014
BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO I

KENAPA MATA SAYA KABUR?


Pada saat stase di Poliklinik Mata RSUD Dr. Moewardi, dokter muda Cyntia
mendapatkan 2 pasien dengan keluhan yang sama yaitu penurunan visus.
Pasien pertama, seorang perempuan usia 45 tahun dengan keluhan penglihatan kabur sejak
1 bulan yang lalu meskipun sudah memakai kacamata. Pasien tidak mengeluhkan mata
merah. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan kondisi: VOD 4/60, VOS 6/15 mata
tenang, dilakukan uji pinhole visus membaik. Setelah dilakukan koreksi OD dengan S
-4.25 D visus mencapai 6/6, koreksi OS dengan S -0.75 D C -0.50 D axis 90 0visus
mencapai 6/6. Untuk membaca dekat dikoreksi dengan S +1.50 D. Dengan koreksi
tersebut pasien merasa nyaman. Kemudian Cyntia menuliskan resep kacamata. Setelah
disetujui oleh staf resep diberikan kepada pasien dan pasien diperbolehkan pulang.
Pasien kedua, seorang laki-laki usia 40 tahun dengan kondisi mata kanan: visus 6/6 E,
mata tenang. Adapun kondisi mata kiri: visus 1/300, mata tenang, tetapi sering merasa
nyeri pada bola mata. Mata kiri setelah dilakukan koreksi tidak mengalami kemajuan.
Kemudian staf meminta untuk dilakukan pemeriksaan: persepsi warna, proyeksi sinar,
tonometri schiotz, konfrontasi dan refleks fundus
BAB II
DISKUSI DAN PEMBAHASAN

A. Jump 1: Klarifikasi Istilah dan Konsep


Berikut adalah istilah penting yang dibahas
1. Visus : suatu bilangan yang menunjukkan ketajaman penglihatan. kemampuan
seseorang untuk dapat melihat suatau objek dengan jelas tanpa akomodasi
2. Uji pinhole: uji yang dilakukan dengan cara penderita diperintahkan untuk melihat
lagi huruf snellen melalui sebuah lempengan dengan lubang kecil untuk mencegah
sebagian besar berkas yang tidak terfokus memasuki mata.
3. VOD : Visus Oculi Dextra, menunjukkan ketajaman penglihatan pada mata kanan.
4. VOS: Visus Oculi Sinistra, menunjukkan ketajaman penglihatan pada mata kiri.
5. Koreksi OD dan OS : koreksi okuli dextra et sinistra
6. S -0,75 D C-0,50 D : lensa sferis cekung dengan kekuatan -0,75 dioptri dan lensa
silinder dengan kekuatan -0,50 dioptri
7. Tonometri : suatu tindakan untuk melakukan pemeriksaan tekanan intraocular
dengan alat yang disebut tonometer
8. Reflex fundus: fundus adalah permukaan dalam mata, yang terletak bertentangan
dengan lensa. Bisa dilihat menggunakan oftalmoskop, dilihat melalui pupil pada
jarak 30cm. Bila media refraksi jernih, refleks fundus berwarna merah kekuningan
pada seluruh lingkaran pupil. Media refraksi tidak jernih, refleks fundus ada
bercak hitam di depan latar merah kekuningan.
9. Pemeriksaan konfrontasi : pemeriksaan yang digunakan untuk menilai lapang
pandang penderita. Penderita diminta untuk melihat gerak dan jumlah tangan
pemeriksa dari delapan arah yang berbeda.
10. E : Emetrop, istilah medis untuk mata normal, tidak miop, tidak hipermetropi,
tidak astigmatisma. Daya bias normal
11. Mata tenang : istilah tidak terjadinya tanda-tanda inflamasi atau tanda infeksi dan
injeksi pada mata
12. Persepsi warna : Pemeriksaan untuk menilai fungsi retina sentral. Persepsi warna
baik bila pasien bisa menyebutkan warna merah dan hijau. Persepsi warna buruk
bila pasien tidak bisa/salah menyebutkan warna merah dan hijau.
13. Proyeksi sinar: pasien yang berada di ruang gelap disuruh melihat jauh dan
kemudian diberikan sinar dengan sentolop pada meridian yang berbeda.
Kemudian pasien disuruh menyatakan arah datangnya sinar.Bila pasien dapat
menerangkan semua arah dari mana datangnnya sinar maka secara kasar dapat
dikatakan keadaan retina perifer pasien adalah normal
B. Jump 2 : Menetapkan dan Mendefinisikan Masalah
Berikut masalah yang ditetapkan dari skenario
Pasien I
1. Mengapa pasien tetap mengeluh mata kabur walau sudah menggunakan
kacamata?
2. Adakah hubungan jenis kelamin, usia, dengan penglihatan kabur?
3. Apakah interpretasi dari hasil pemeriksaan?
4. Bagaimanakan jaras penglihatan?
5. Apa yang disebut resep kacamata?
6. Mengapa uji pinhole dan koreksi pada pasien I hasilnya membaik sedangkan
pasien II tidak?
7. Mengapa koreksi pasien I ditambahkan koreksi membaca dekat?
8. Bagaimana proses dan tahap koreksi visus?
Pasien II
9. Mengapa pasien II sering merasa nyeri?
10. Mengapa dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk pasien II?
11. Apa arti mata merah dan tidak?
12. Apa saja penyebab penurunan visus?
13. Mengapa mata pasien tenang tapi visusnya turun?
14. Bagaimana prognosis pasien berkacamata?
15. Apa saja diagnosis banding mata tenang visus turun?

C. Jump 3 : Analisis Masalah


1. Anatomi Mata
2. Fisiologi
air mata
jaras penglihatan dan lapang pandang
proses refraksi
3. Tahap pemeriksaan mata pada pasien
4. Pemeriksaan organ mata
Uji visus
Uji pinhole
Pemeriksaan persepsi warna
Pemeriksaan proyeksi sinar
Pemeriksaan tonometri schiotz
Pemeriksaan konfrontasi
Pemeriksaan refleks fundus
Pemeriksaan ophtalmoskopi
5. Interpretasi hasil pemeriksaan pasien I dan pasien II
6. Rumus kacamata pasien I dan rumus kacamata pasien presbiopi
7. Penentuan koreksi refraksi
8. Klasifikasi penyakit mata
9. Penyebab penurunan visus
10. Penyebab mata nyeri
11. Diagnosis banding pasien I dan pasien II
Glaukoma
Ambliopia
Neuritis
Ablasi retina
Retinopati
Katarak
Kelainan refraksi

D. Jump 4 : Menginventaris penjelasan yang didapat dari jump 3


1. Anatomi Mata
Organon visus (alat penglihatan) merupakan salah satu indera yang kita miliki untuk
melihat, mengenal dan mempelajari fenomena alam sekitar. Organon visus terletak dalam
suatu ruangan yang disebut cavum orbita. Cavum orbita ini penting karena selain
ditempati oleh organon visus juga ditempati oleh arteri-arteri, vena-vena, dan nervus yang
penting dalam proses penglihatan. Secara anatomis organon visus terdiri atas :
Oculus
a. Bulbus oculi
Terdapat di dalam cavum orbita, berbentuk bulat, ujung frontal disebut polus
anterior dan ujung occipital disebut polus posterior. Garis yang menghubungkan
antara kedua polus disebut axis bulbi dan yang menghubungkan polus anterior dengan
fovea centralis disebut axis opticus. Dinding bulbus oculi tersusun atas 3 lapis dinding
yaitu :

a) Tunica fibrosa, lapisan terluar bola mata, terdiri dari cornea dan sclera.
CORNEA
Lapisan penutup bola mata di bagian anterior, avaskuler, dan
transparan. Berfungsi sebagai media refrakta bagi cahaya yang masuk ke
mata. Terdiri dari 5 lapis (dari luar ke dalam) yaitu lamina epithelial
anterior/epitel cornea, lamina limitans anterior (membrane Bowman),
substantia propia (stroma), lamina limitans posterior (membrane
Descemet), dan lamina mesothelium/endotel.
SCLERA
Merupakan bagian putih mata yang ada di posterior bulbus oculi,
lanjutan dari cornea kea rah posterior yang antara keduanya dipisahkan
oleh limbus cornea. Keras, padat, tidak transparan, avaskuler. Terdiri dari
2 lapis (dari luar ke dalam) yaitu substantia propia sclera dan lamina
fusca.
b) Tunica vasculosa (uvea), lapisan tengah bulbus oculi dan lapisan
berpigmen serta vaskuler. Terdiri dari iris, corpus ciliare, dan lamina
choroidea.
IRIS
Terletak paling depan dari lapisan ini. Berfungsi sebagai diafragma
dan kontraktil dengan lubang ditengahnya yaitu pupil. Iris membagi ruang
antara cornea dan lensa menjadi camera oculi anterior (COA) dan camera
oculi posterior (COP) yang berisi cairan humor aquosus. Iris terdiri dari 3
lapis (dari luar ke dalam) yaitu lamina endothelium, stroma iridis, dan
stratum pigmenti iridis serta pars iridis retinae. Pada iris ada 2 otot yang
mengatur besar kecilnya pupil yaitu m.dilatator pupil (melebarkan
pupil/midriasis) dan m.constrictor pupil (mengecilkan pupil/miosis).
Warna iris sendiri tergantung dari jumlah pigmen yang ada di stroma iridis
dan stratum pigmenti iridis.
CORPUS CILIARE
Lanjutan iris kea rah posterior, terdiri dari 3 lapis (dari luar ke
dalam) yaitu m.cilliaris, lamina fibrosa dan atratum pigmenti corpus
ciliaris serta pars ciliaris retinae. M.ciliaris berfungsi untuk memfokuskan
pandangan dengan cara kontraksi dan relaksasi. Ketika m.ciliaris
berkontraksi maka zonula zinnia/zonula ciliaris/lig.suspensorium lentis
akan relaksasi sehingga lensa akan lebih panjang dan lebih lonjong
sehingga dapat melihat benda yang dekat. Proses ini disebut proses
akomodasi.
LAMINA CHOROIDEA
Lanjutan ke posterior dari corpus ciliare. Berfungsi memberikan
nutrisi untuk retina. Terdiri dari 4 lapis (dari luar ke dalam) yaitu lamina
suprachoroidea, lamina vasculare, lamina choriocapillaris, dan lamina
basalis (membrane vitrea).
c) Tunica nervosa/retina
Lapisan terdalam bulbus oculi yang terdiri dari 2 lapis (dari luar ke
dalam) yaitu stratum pigmenti/pars pigmentosa retina dan stratum
cerebrale/pars nervosa retina. Disini terdiri dari 3 kelompok sel yaitu sell
conus, cel baccilus, sel bipolar dan sel ganglion. Pada bagian posterior
retina terdapat bintik kuning yang disebut macula lutea, ditengahnya ada
cekungan yaitu fovea centralis yang merupakan daya lihat paling jelas.
Sebelah nasalnya ada discus nervi optici sebagai tempat masuk dari
n.opticus dimana pada bagian tengahnya ada cekungan yang tidak
mempunyai stratum pigmenti, lamina choroidea, sel conus dan sel baccilus
sehingga disebut macula caeca/bintik buta.

Bulbus oculi tersusun atas


a) Humor aquosus
Cairan menyerupai lmphe yang mengisi COA dan COP, dihasilkan
oleh processus ciliaris. Berfungsi untuk menyokong dinding bola mata
sehingga memberi bentuk bola mata, memberikan nutrisi cornea dan lensa
yang avaskuler serta menentukan tekanan bola mata (TIO). TIO dapat
meningkat pada keadaan produksi humor aquosus yang meningkat,
pengeluaran humor aquosus yang menurun, atau keduanya sehingga dapat
mendesak lensa dan struktur di dalam bola mata termasuk n.opticus dan
menyebabkan kerusakan.
b) Lensa crystallina
Bangunan biconveks, avascular, tidak berwarna, difiksasi oleh
lig.suspensorium lentis. Berfungsi sebagai media refrakta dengan kekuatan
+20D. Kemampuan lensa untuk menambah daya refraksinya disebut daya
akomodasi.
c) Corpus vitreum, berupa badan kaca transparan, tidak berwarna.
d) Nervus opticus
Nervus opticus merupakan serabut saraf yang terletak antara discus
nervi optici sampai chiasma opticum, sedangkan tractus opticus terletak antara
chiasma nervi optici sampai corpus geniculatum laterale.

Organa oculi accessoria


a. Mm.bulbi oculi
Terdiri dari m.rectus bulbi lateralis, m.rectus bulbi medialis, m.rectus bulbi
superior, m.rectus bulbi inferior, m.obliquus bulbi superior dan m.obliquus bulbi
inferior yang berfungsi untuk abduksi, adduksi, elevasi, depresi, intorsi da ekstorsi
dari bola mata.
b. Palpebrae
Terdiri dari jaringan ikat longgar dan elastis yang dapat digerakkan.
c. Apparatus lacrimalis
Terdiri dari pars sekretorius yang menghasilkan air mata dan pars ekskretorius
yang mengalirkan air mata, dimana keduanya berfungsi untuk membasahi bola mata.
Pars sekretorius terdiri dari glandula lacrimalis dan glandula lacrimalis accessoria
sedangkan pars ekskretorius terdiri dari punctum lacrimale, canaliculi lacrimale,
saccus lacrimalis dan ductus nasolacrimalis.

2. Fisiologi
a. Air mata
Air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimalis yang terletak masing- masing
di bagian lateral atas mata. Kelenjar ini dipersyarafi oleh syaraf parasimoatis
N.VII . Cairan air mata merupakan cairan encer
yang mengandung garam, sedikit mucus,
lisozim, dan enzim bacterisida. Fungsi cairan ini
untuk melindungi, membersihkan, melubrikasi,
dan melembabkan bola mata. Normalnya air
mata akan menghilang dengan penguapan atau
mengalir ke duktus nasolakrimalis di meatus nasi
inferior. Berikut urutan jalannya air mata dari
kelenjar lakrimalis hingga ke duktus nasolakrimalis
Glandula lacrimalis 6-12 ductus ekskretorius lacrimalis
permukaan konjungtiva di kelopak mata atas air mata berjalan ke
medial mata melalui permukaan anterior bola mata punctum
lacrimale canaliculi lacrimale saccus lacrimalis ductus
nasolarimalis meatus nasi inferior.

b. Jaras penglihatan dan lapang pandang


Jaras reflex kontraksi pupil
Cahaya masuk retina SBN1 N.opticus keluar dari bulbus oculi
occipitonasalis canalis opticus sulcus chiasmatis chiasma
opticum (serabut nasale saling bersilangan) tractus opticus
nucleus pretectalis nucleus Edinger westpal, SBN2 n.ciliaris
brevis kontraksi pupil.
Jaras penglihatan
Cahaya masuk retina SBN1 N.opticus keluar dari bulbus oculi
occipitonasalis canalis opticus sulcus chiasmatis chiasma
opticum (serabut nasale saling bersilangan) tractus opticus corpus
geniculatum laterale radiation optica cortex primer di area 17
Broadmann SBN2 dan cortex visual sekunder di area 18 dan 19
Broadmann.
Lapang pandang
Retina adalah reseptor permukaan untuk informasi visual. Seperti pada
nervus optikus, retina merupakan bagian otak, meskipun lokasi fisiknyaa di
perifer saraf prat. Koomponen retina yang paling penting adalah sel-sel reseptor
sensorik atau fotoreseptor, dan berbagai tipe neuron jaras visual. Lapisan selular
retina yang terdalam mengandung fotoreseptor berupa sel batang dan kerucut; dua
lapisan yang lebih superfisial mengandung foto neuron bipolar dan ganglion.
Ketika jatuh di retina, cahaya mencetuskan reaksi fotokimiawi di sel
batang dan kerucut, yang mengakibatkan pembentukan impuls yang akhirnya
dihantarkan ke korteks visual. Sel batang sejak lama dianggap berperan untuk
persepsi terang dan untuk penglihatan pada pencahayaan gelap, sedangkan sel
kerucut dianggap menyediakan persepsi warna dan penglihatan pada pencahayaan
yang terang. Namun, penelitian terbaru memiliki bukti untuk meragukan hipotesis
ini. Mekanisme yang mendasari proses ini mngkin jauh lebih kompleks.
Fovea adalah lokasi penglihatan tertajan di retina dan hanya mengandung
sel kerucut, yang berproyeksi ke sel-sel bipolar lapisan neuronal berikutnya
dalam hubungan satu-satu. Bagian retina lainnya memiliki gabungan sel batang
dan kerucut. Gambaran retina terhadap objek yang dipersepsikan secara visual
adalah terbalik.
Sel-sel bipolar retina menerima input ke dendritnya dari sel batang dan
kerucut dan menghantarkan impuls lebih jauh ke arah sentral ke lapisan sel
ganglion. Akson panjang sel ganglion melewati papila optika dan meninggalkan
mata sebagai nervus optikus, yang mengandung satu juta serabut. Separuhnya
menyilang di chiasma opticum, dan sisanya tidak menyilang (yang berasal dari
bagian nasal). Dengan demikian, di posterior chiasma opticum serabut dari
separuh bagian temporal retina ipsilateral dan sparuh bagian nasal retina
kontralateral bergabung dalam tractus opticus.
Beberapa kelompok serabut nervus opticus bercabang ke tractus opticus
dan berjalan ke colliculus superior dan ke nuclei di area pretectalis. Serabut-
serabut ini mengandung aferen berbagai refleks visual, dan, secara khusus, refleks
cahaya pupil yang penting.
Traktus optikus berakhir di korpus geniculatum laterale, yang mengandung
enam lapisan selular. Sebagian besar serabut berakhir di sini, membentuk sinaps
dengan neuron genikulatum laterale. Serabut ini kemudian keluar dan berjalan di
bagian paling belakang kapsula interna dan kemudian membentuk pita lebar yang
berjalan mengelilingi kornu temporale dan oksipitale ventrikel lateral yang
disebut radiasio optika. Serabut-serabut radiasio optika akan berakhir di korteks
visual yang terletak di permukaan medial lobus oksipitalis di dalam, di atas, dan
di bawah fissura calcarina (area Broadmann 17). Serabut yang berasa; dari
makula menempati area terbesar korteks visual. Meskipun serabut-serabut jaras
visual sebagian menyilang di chiasma opticum, organisasi somatotropik satu-satu
pada setiap serabut saraf secara ketat tetap terjaga di sepanjang perjalanannya dari
retina hingga korteks visual.
Kerusakan pada bagaian-bagian jaras penglihatan disebut hemianopsia
atau quadrinopsia tergantung pada tempat terkena lesi.

c. Proses refraksi
Sinar berjalan lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan
misalnya air dan kaca. Ketika masuk ke
suatu medium dengan densitas tinggi,
berkas cahaya melambat (yang
sebaliknya juga berlaku). Arah berkas
berubah jika cahaya tersebut mengenai
permukaan medium baru dalam sudut
yang tidak tegak lurus. Berbeloknya
berkas sinar dikenal sebagai refraksi.
Pada permukaan melengkung seperti
lensa, semakin besar kelengkungan
semakin besar derajat pembelokan dan
semakin besar kuat lensa. Ketika suatu
berkas cahaya mengenai permukaan
lengkung suat benda dengan densitas lebih besar maka arah refraksi bergantung
pada sudut kelengkungan. Permukaan konveks (cembung) melengkung keluar,
sementara permukaan konkaf (cekung) melengkung ke dalam. Permukaan
konveks menyebabkan konvergensi berkas sinar, membawa berkas0berkas
tersebut lebih dekat satu sama lain. Karena suatu konvergensi sangat penting
untuk membawa suatu bayangan ke titik focus, maka permukaan refraktif mata
berbentuk konveks. Permukaan konkaf membuyarkan berkas sinar (divergensi).
Lensa konkaf bermanfaat untuk mengoreksi kesalahan refraktif mata, misalnya
berpenglihatan dekat
Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah
kornea dan lensa. Permukaan kornea yang melengkung, struktur pertama yang
dilewati oleh sinar sewaktu sinar masuk mata, berperan besar dalam kemampuan
refraktif total mata karena perbedaan densitas pada pertemuan udara-kornea jauh
lebih besar daripada perbedaan dalam densitas antara lensa dan cairan
disekitarnya. Kemampuan refraktif seseorang tidak berubah, karena kelengkungan
kornea tidak berubah. Sebaliknya, kemampuan refraktif lensa dapat diubah-ubah
dengan mengubah kelengkungannya sesuai kebutuhan untuk melihat dekat atau
jauh.
Berkas cahata dari sumber sinar yang berjarak lebih dari 20 kaki (6 meter)
dianggap parallel pada saat sinar tersebut mencapai mata. Sebaliknya, berkas
cahaya yang berasal dari benda dekat masih tetap berdivergensi ketika mencapai
mata. Untuk kemampuan refrakti mata, diperlukan jarak lebih jauh dibelakang
lensa untuk membawa berkas divergen suatu sumber cahaya yang dekat ke titik
focus daripada membawa berkas parallel suatu cahayayang jauh ke titik focus.
Akan tetapi, pada mata tertentu, jarak antara lensa dengan retina selalu sama.
Karena itu, tidak terdapat jaraka yang lebih jauh setelah lensa membawa bayangan
benda dekat ke titik focus. Namun agar penglihatan jelas, maka struktur-struktur
refraktif mata harus membawa bayangan dari sumber cahaya jauh atau dekat ke
focus retina. Jika suatu bayangan sudah terfokus ketika mencapai retina, maka
bayangan tersebut akan terlihat kabur. Untuk membawa bayangan dari sumber
cahaya dekat dan jauh jatuh ke titik focus di retina, maka harus digunakan lensa
yang lebih kuat untuk sumber cahaya dekat. (Sherwood, 2011)

3. Tahap pemeriksaan mata pada pasien


Urutan pemeriksaan pencatatan sistematik berkaitan dengan fungsi:
Kelainan tajam penglihatan
Posisi bola mata
Fungsi otot-otot penggerak bola mata
Kelainan adneksa mata
Kelainan pada bola mata : bentuk, simetris, tekanan intra okuler, konjungtiva,
sclera, kornea, bilik mata depan, iris, pupil, lensa, retina dan syaraf optic
Kelainan pada fungsi lapang penglihatan, penglihatan binocular, serta
stereopsis dilakukan sesuai keperluan
Bila ada riwayat sakit, tindakan operasi mata, dilakukan pemeriksaan silang
tentang kondisinya saat ini (Sidarta, 2010)

4. Rumus kacamata pasien I dan rumus kacamata presbiopi


Rumus kacamata pasien I
Rumus kacamata presbiopi
Pada orang-orang tua terjadi kejadian fisiologis dimana mata tidak dapat
berakomodasi secara maksimum sehingga memerlukan kaca mata baca.
Perhitungan dioptri kaca mata baca adalah untuk membaca sejauh 33 cm secara
maksimal, sehingga dioptri maksimum yang dapat dicapai adalah +3.0 D.

Jump 5 : Merumuskan tujuan pembelajaran


Dikarenakan keterbatasn waktu maka masalah yang belum terjawab dari Jump 3
dijadikan sebagai tujuan pembelajaran pada skenario ini.
1. Pemeriksaan organ mata
Uji visus
Uji pinhole
Pemeriksaan persepsi warna
Pemeriksaan proyeksi sinar
Pemeriksaan tonometri schiotz
Pemeriksaan konfrontasi
Pemeriksaan refleks fundus
Pemeriksaan ophtalmoskopi
2. Interpretasi hasil pemeriksaan pasien I dan pasien II
3. Penentuan koreksi refraksi
4. Klasifikasi penyakit mata
5. Penyebab penurunan visus
6. Penyebab mata nyeri
7. Diagnosis banding pasien I dan pasien II
Glaukoma
Amblopia
Neuritis
Ablasi retina
Retinopati
Katarak
Kelainan refraksi

Jump 6: Mahasiswa mencari informasi mandiri

Jump 7: Melaporkan, membahas dan menata kembali informasi baru yang diperoleh.
1. Pemeriksaan Organ Mata
a. Uji visus

Menggunakan 'chart', yaitu membaca 'chart' dari jarak yang ditentukan,


biasanya 5 atau 6 meter. Digunakan jarak sepanjang itu karena pada jarak tersebut
mata normal akan relaksasi dan tidak berakomodasi. Kartu yang digunakan ada
beberapa macam, yaitu Snellen chart, E chart, Cincin Landot.

Snellen chart, kartu bertuliskan beberapa huruf dengan ukuran yang


berbeda(untuk pasien yang bisa membaca).

Cara memeriksa :

- Kartu diletakkan pada jarak 5 atau 6 meter dari pasien dengan


posisi lebih tinggi atau sejajar dengan mata pasien. Bila jarak 5
meter, maka visus normal akan bernilai 5/5 artinya mata normal
dapat melihat pada jarak 5 meter, pasien juga dapat melihat pada
jarak 5 meter. Bila berjarak 6 m, berarti visus normalnya 6/6.
Satuan selain meter ada kaki = 20/20, ada juga log (logaritma).

- Pastikan cahaya harus cukup

- Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata kiri harus
ditutup dan pasien diminta membaca kartu.

Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :

- Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 5/5 atau
6/6, maka tidak usah membaca pada baris berikutnya visus
normal

- Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas
visus normal, cek pada 1 baris tersebut

- Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya terletak


pada baris tersebut dengan false 1.

- Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada baris


tersebut dengan false 2.
- Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf yang
ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas baris yang tidak
dapat dibaca.

- Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat pada
baris di atasnya.

- Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan


pinhole (alat untuk memfokuskan titik pada penglihatan pasien)

- Bila visus tetap berkurang berarti bukan kelainan refraksi

- Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya berarti


merupakan kelainan refraksi

Bila tidak mampu melihat huruf di chart dilakukan penghitungan jari.


Dapat menghitung jari pada jarak 6 m berarti visusnya 6/60.
Bila tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 m, maka maju 1 m dan
lakukan penghitungan jari. Bila pasien dapat membaca, visusnya 5/60.
Begitu seterusnya, bila tidak dapat menghitung jari 5 m, di majukan jadi
4 m, 3 m, sampai 1 m di depan pasien.
Bila tidak bisa menghitung jari dari jarak 1 meter dilakukan pemeriksaan dengan
lambaian tangan.
Lambaian tangan dilakukan tepat 1 m di depan pasien.
Dapat berupa lambaian ke kiri dan kanan, atau atas bawah. Bila pasien
dapat menyebutkan arah lambaian, berarti visusnya 1/300.
Bila tidak bisa melihat lambaian tangan dilakukan penyinaran menggunakan pen
light
Bila dapat melihat sinar, berarti visusnya 1/~.
Bila pasien dapat menyebutkan dari mana arah sinar yang datang, berarti
visusnya 1/~ dengan proyeksi baik.
Bila tak dapat menyebutkan dari mana arah sinar yang datang, berarti
visusnya 1/~ dengan proyeksi salah.
Bila tidak dapat melihat cahaya berarti visus = 0.

b. Uji Pinhole
Uji pinhole/uji lubang kecil untuk mengetahui apakah tajam penglihatan
yang kurang terjadi akibat kelainan refraksi atau kelainan organik media
penglihatan. Penderita duduk menghadap kartu Snellen dengan jarak 6 m.
Penderita disuruh melihat huruf terkecil yang masih terlihat dengan jelas.
Kemudian pada mata tersebut ditaruh lempeng berlubang kecil (pinhole atau
lubang sebesar 0,75 mm). Bila terdapat perbaikan tajam penglihatan dengan
melihat melalui lubang kecil berarti terdapat kelainan refraksi. Bila terjadi
kemunduran tajam penglihatan berarti terdapat gangguan pada media penglihatan,
mungkin diakibatkan kekeruhan kornea, katarak, kekeruhan badan kaca, dan
kelainan makula lutea.

c. Pemeriksaan Persepsi Warna


Uji persepsi warna berguna untuk mengetahui adanya buta warna. Pasien
diminta untuk mengidentifikasi bulatan-bulatan warna pada plat berwarna. Pasien
yang tidak dapat membedakan warna tidak akan mendapatkan polanya. Beberapa
contoh tes persepsi warna sederhana:
Ishihara test adalah sebuah metode pengetesan buta warna yang
dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara.. Tes buta warna Ishihara terdiri
dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna
dan ukuran.Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran.
Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak
akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.
Tes Farnsworth Munsell. Tes ini merupakan tes kelanjutan dari tes
ishihara.Pada tes ishihara, hasil yang didapat hanyalah mendiagnosa apakah
pasien mengalami buta warna parsial atau tidak. Sedangkan pada tes
farnsworth munsell, tes ini bisa mendiagnosa dengan melakukan screening
kelemahan warna tertentu, seperti kelemahan terhadap warna merah
(protan), kelemahan terhadap warna hijau (deutan), dan kelemahan terhadap
warna biru (tritan).
Holmgren Test, kemampuan membedakan warna. Sekumpulan benang wol
yg dicampur, kemudian dapat menyamakan benang satuan dan memisahkan
dari campuran benang wol serta dapat mengurutkan dari warna muda ke
warna tua dan sebaliknya.

d. Pemeriksaan Proyeksi Sinar


Uji proyeksi sinar adalah pemeriksaan dengan menggunakan berkas
cahaya dari berbagai arah. Proyeksi sinar ini dicek dari 4 arah. Hal tersebut
berguna untuk mengetahui apakah tangkapan retina masih bagus pada 4 sisinya
yaitu sisi temporal, nasal, superior, dan inferior. Apabila pasien dapat
menerangkan semua arah datangnya cahaya dengan benar maka retina perifer
pasien normal.

e. Pemeriksaan tonometri schiotz


Tonometri Schiotz merupakan tonometer indentasi atau menekan
permukaan kornea dengan beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya.
Beban yang diletakkan pada bola mata (kornea) akan menekan bola mata
kedalam dan mendapatkan perlawanan tekanan dari dalam melalui kornea.
Keseimbangan tekanan tergantung beban tonometer dimana interpretasi
bergantung pada beban yang biasanya ada 3 jenis : 5.5gr, 7.5gr, dan 10gr dengan
skala pengukuran busur 0-15 yang masing-masing ada di tabel hasil uji schiotz,
Pasien diminta rileks dan tidur telentang
Mata diteteskan pantokain dan ditunggu sampai pasien tidak merasa perih
Kelopak mata pasien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari, jangan sampai bola
mata tertekan
Pasien diminta melihat lurus keatas dan telapak tonometer Schiotz diletakkan
pada permukaan kornea tanpa menekannya
Baca nilai tekanan skala busur schiotz yang berantara 0-15. Apabila dengan
beban 5.5 gr (beban standar) terbaca 2 atau kurang dari itu maka ditambahkan
beban 7.5 atau 10 gr.

f. Pemeriksaan konfrontasi
Tes ini dilakukan untuk melihat apakah lapang pandang pasien berkurang
atau tidak. Tes ini mensyaratkan pemeriksa dengan lapang pandang normal.
Caranya adalah dengan pemeriksa dan pasien menutup mata yang berhadapan,
kemudian pemeriksa menggerakkan jari secara horizontal dan vertikal secara
perlahan hingga pasien merasa tak dapat melihat jari tersebut. Hal tersebut
dilakukan kembali ke mata sebelahnya. Hasil yang didapat adalah lapang
pandang pasien berkurang atau normal.

g. Pemeriksaan Refleks fundus


Mata ditetesi dengan midriatikum dan di biarkan 5 menit dalam kamar
gelap. Pemeriksa dan penderita dalam kamar gelap disamping mejadan lampu.
Sinar yang datang dari lampu dipantulkan oleh cermin datar/cekung, masuk ke
pupil penderita. Pemeriksa menilai kejernihan cornea, lensa dan korpus vitreum.
Intepretasi: bila media refraksi jernih, refleks fundus berwarna merah
kekuningan pada seluruh lingkaran pupil. Media refraksi tidak jernih, refleks
fundus ada bercak hitam di depan latar merah kekuningan.

h. Pemeriksaan Ophtalmoskopi
Oftalmoskop merupakan alat untuk melihant bagian dalam mata atau
fundus okuli. Pemeriksaan dengan oftalmoskop dinamakan oftalmoskopi.
Oftalmoskopi dibedakan menjadi dua, yaitu oftalmoskopi langsung dan tidak
langsung. Pemeriksaan oftalmoskopi dilakukan di kamar gelap.
Oftalmoskopi langsung
Oftalmoskopi langsung memberikan gambaran normal atau tidak
terbalik pada fundus okuli. Pemeriksaan dilakukan dengan pasien duduk dan
dokter berdiri di sebelah mata yang diperiksa. Mata kanan diperiksa dengan
mata kanan demikian pula sebaliknya. Jarak pemeriksaan antara kedua mata
pemeriksa dan pasien adalah 15 cm. Setelah terlihat refleks merah pada pupil
maka oftalmosokop didekatkan hingga 2-3 cm dari mata pasien. Bila kelopak
memperlihatkan tanda menutup maka kelopak tersebut ditahan dengan tangan
yang tidak memegang alat oftalmoskop. Untuk memperluas lapang
penglihatan maka pasien dapat disuruh melirik ke samping ataupun ke bawah,
dan ke atas.
Oftalmoskop tidak langsung
Oftalmoskop tak langsng memberikan bayangan terbalik, dan kecil,
serta lapangan penglihatan yang luas di dalam fundus okuli pasie. Jarak
periksa adalah 50cm atau sejarak panjang lengan. Oftalmoskop tak langsung
juga dipergunakan lensa 15-20 dioptri yang diletakkan 10cm dari mata
sehingga letak fundus berada di titik api lensa.
Terdapat dua kegunaan oftalmoskop: memeriksa adanya kekeruhan
pada media penglihatan yang keruh, seperti pada kornea, lensa dan badan kaca
serta untuk memeriksa fundus okuli terutama retina dan papil saraf optik.
Pemeriksaan dilakukan dengan oftalmoskop, dan dilihat :pupil, pembuluh
darah retina (lihat bentuk pembuluh darah, vena, arteri, rasio arteri dan vena)
2. Penentuan koreksi refraksi
Pasien diminta duduk sejajar dengan jarak 6 meter dari optotype snellen (=d).
Pemeriksaan dilakukan dengan menunjukkan huruf-huruf pada optotype snelen mulai
dari deretan huruf terbesar sampai deretan huruf terkecil yang masih dapat dilihat atau
dibaca dengan jelas dan lengkap (=D). Disebelah kanan deretan huruf tersebut, tertera
angka yang menunjukkan jarak dalam meter yang masih dapat dibaca mata normal
(emmetrop). Ketajaman penglihatan ditentukan dengan rumus snellen yaitu V= d/D,
harga d selalu 5 atau 6 meter.
Bila hasil visus awal adalah 6/6, maka kemungkinan keadaan mata adalah
emmetropia atau hipermetropia dengan akomodasi. Pemeriksaan dimulai dengan
memberikan lensa speris positif (+)0,25D. Ulangi pemeriksaan dengan meminta
penderita membaca semua deretan huruf snellen dari yang terbesar hingga terkecil
yang masih dapat dibaca dengan jelas dan lengkap.
Bila dengan lensa ini deretan huruf 6/6 yang semula jelas menjadi kabur maka
berarti mata penderita adalah emmetropia. Pada hipermetropia, mata dapat melihat
huruf-huruf yang lebih kecil dari 6/6 dengan akomodasi. Untuk koreksinya, pemeriksa
mulai dengan memberikan lensa positif (+)0,25D, berturut-turut meningkat 0,25D.
Hal ini adalah usaha untuk membuat mata menjadi emmetrop dengan mengurangi
akomodasi, sebagai hasilnya diharapkan penderita dapat melihat deretan huruf 6/6
dengan jelas tanpa akomodasi. Lensa positif terkuat dimana mata hipermetropia masih
dapat melihat deretan huruf 6/6 dengan jelas menunjukkan besar kelainan
hipermetropianya.
Bila visus kurang dari 6/6, lanjutkan dengan tes pinhole dengan meletakkan
pinhole didepan mata yang diperiksa. Bila dengan tes pinhole ketajaman penglihatan
menjadi lebih baik maka terbukti pasien mengalamai kelainan refraksi, namun bila
pada tes pinhole tidak mengalami perbaikan maka pasien tidak mengalami kelainan
refraksi dan perlu dirujuk untuk pemeiksaan mata lebih lanjut.
Seseorang dengan miopia bila diberikan lensa bantu negatif yang terlalu lemah
akan menimbulkan ketidaknyamanan karena membuat orang tersebut berakomodasi
untuk dapat melihat dengan jelas atau pada hiperopia yang diberikan lensa positif
terlalu kuat akan menyebabkan pandangan orang tersebut kabur. Jadi bila pasien
miopia dikoreksi dengan -3,0D memberikan tajam penglihatan 6/6, dan demikian juga
bila diberi -3.25D, maka sebaiknya diberikan lensa koreksi -3,0 agar untuk
memberikan istirahat mata dengan baik sesudah dikoreksi.
Pemeriksaan adanya presbiopia berhubungan dengan keluhan membaca dekat
dan usia lanjut, karena presbiopia biasanya terjadi pada usia diatas 38 tahun. Metode
yang digunakan adalah near refraction dengan kartu baca dekat. Sebelumnya sesuakan
jarak pupil penglihatan dekat pada kaca mata coba. Berikan lensa speris (+) umumnya
disesuaikan umur S+1,00D (usia 40 tahun), S+1,50D (45 tahun) hingga S+3,00D (60
tahun). Minta penderita untuk membaca kartu baca dekat pada jarak baca yang baik
(30 cm).

3. Interpretasi pemeriksaan pasien I dan pasien II


Koreksi mata pasien pertama:
a. OD S -4,25 D: menunjukkan bahwa mata kanan pasien dikoreksi dengan
lensa negatif 4,25 D. Lensa negatif digunakan untuk penderita myopia dimana
kondisi lensa pasien terlalu cembung, sehingga terdapat gangguan dalam
melihat benda yang jauh.
b. OS S -0,75 D: menunjukkan bahwa mata kiri pasien dikoreksi dengan lensa
negatif 0,75 D. Lensa negatif digunakan untuk penderita myopia dimana
kondisi lensa pasien terlalu cembung, sehingga terdapat gangguan dalam
melihat benda yang jauh.
c. C -0,50 D axis 900 : menunjukkan bahwa mata pasien dikoreksi dengan lensa
silinder. Lensa silinder digunakan untuk menderita astigmatisme dimana
pasien tidak bisa melihat garis lurus dengan tepat.
d. S +1,50 D : menunjukkan bahwa mata pasien dikoreksi dengan lensa positif
1,5 D. Lensa positif digunakan untuk penderita yang mengalami kesulitan
melihat atau membaca dekat.
\ Kesimpulan : pada pasien ini, dilihat dari koreksi mata pasien dan faktor lain seperti
umur dapat disimpulkan bahwa pasien ini menderita myopia, presbiopia dan
astigmatisme.
Interpretasi hasil pada pemeriksaan pasien kedua
Mata kanan :
- Visus 6/6 E: ketajaman penglihatan normal
- Mata tenang: mata normal, sklera berwarna putih, dan kornea
bening/transparan
Mata kiri :
- Visus 1/300 pada mata kiri: pasien hanya dapat melihat lambaian
tangan yang diperlihatkan pada jarak 1 meter, dimana pada orang
normal bisa dilihat pada jarak 300 meter.
- Mata tenang: mata normal, sklera berwarna putih dan kornea
bening/transparan
- Nyeri pada bola mata: biasanya terjadi pada pasien glaukoma. Namun
pada pasien ini belum bisa dipastikan apakah nyeri pada bola mata
terjadi karena glaukoma atau tidak. Baru bisa dipastikan setelah
dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis.

4. Klasifikasi penyakit mata


a. Mata merah, visus tidak turun
Prinsipnya mengenai struktur yang bervaskuler (konjungtiva atau sklera) yang
tidak menghalangi media refraksi. Contoh: konjungtivitis murni, trakoma,
mata kering, xeroftalmia, pterigium, pinguekula, episkleritis, skleritis.
b. Mata merah, visus turun
Prinsipnya mengenai struktur bervaskuler dan media refraksi (kornea, uvea,
atau seluruh mata). Contoh: keratitis, keratokonjungtivitis, uveitis, glaukoma
akut, endoftalmitis, panoftalmitis.
c. Mata tenang, visus turun mendadak
Contoh: uveitis posterior, perdarahan vitreous, ablasio retina, oklusi arteri atau
vena retinal, neuritis optik, neuropati optik akut karena obat (misalnya
etambutol), migrain, tumor otak.
d. Mata tenang, visus turun perlahan
Contoh: katarak, glaukoma, retinopati penyakit sistemik, retinitis pigmentosa,
kelainan refraksi.
e. Trauma mata
Dapat berupa: trauma fisik (tumpul dan tajam), trauma kimia (asam dan basa),
trauma radiasi (ultraviolet dan infrared).

5. Penyebab penurunan visus


Kerusakan penglihatan mencakup semua masalah pada penglihatan yang
mempengaruhi lapang pandang dan/atau kemampuan untuk melihat benda dekat dan
jauh dengan jelas, untuk menilai kedalaman, untuk membedakan warna, dan untuk
melihat satu bayangan secara bersamaan (penglihatan warna). Penyebab kerusakan
penglihatan mencakup:
a. Kelainan kongenital (misalnya kelainan genetik)
b. Anomali perkembangan [misalnya strabismus (juling)
c. Akibat sekunder penyakit sistemik (misalnya retinopati diabetes)
d. Penyakit primer pada mata itu sendiri (misalnya glaukoma, degenerasi makula
terkait usia). Glaukoma - peningkatan tekanan dalam mata, yang paling sering
menyakitkan. Visi akan normal pada awalnya, tapi seiring waktu Anda dapat
mengembangkan visi miskin malam, bintik-bintik buta, dan kehilangan
penglihatan untuk kedua sisi. Glaukoma juga dapat terjadi tiba-tiba, yang
merupakan keadaan darurat medis.
e. Kelainan refraksi (misalnya miopia, hipermetropia, astigmatisme). Kelainan
refraksi adalah suatu kondisi ketika sinar datang sejajar pada sumbu mata
dalam keadaan tidak berakomodasi yang seharusnya direfraksikan oleh mata
tepat pada retina sehingga tajam penglihatan maksimum tidak direfraksikan
oleh mata tepat pada retina baik itu di depan, di belakang maupun tidak
dibiaskan pada satu titik. Kelainan ini merupakan bentuk kelainan visual yang
paling sering dan dapat terjadi akibat kelainan pada lensa ataupun bentuk bola
mata (Istiqomah, 2004). Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan
tegas tidak dibentuk pada retina (Ilyas, 2004).
f. Trauma (misalnya cedera tembus)
g. Kerusakan pada jalur penglihatan (misalnya setelah stroke);
h. Trakoma disebabkan oleh Chlamydia trachomatis;
i. Defisiensi vitamin A (xeroftalmia)

6. Penyebab mata nyeri

Pengaturan tekanan intraokular

Tekanan intraokular tetap konstan pada mata yang normal, biasanya


2mmHg dari nilai normalnya, yang rata-rata sekitar 15 mmHg. Besarnya tekanan
ini ditentukan terutama oleh tahanan terhadap aliran keluar humor aquosus dari
kamera okuli anterior ke dalam kanalis Schlemm. Tahanan aliran keluar ini
dihasilkan dari retikulum trabekula yang dilewati, tempat penyaringan cairan yang
mengalir dari sudut lateral ruang anterior ke dalam dinding kanalis Schlemm.
Trabekula ini mempunyai celah terbuka yang sangat kecil, yaitu antara 2 sampai 3
mikromete. Kecepatan aliran cairan ke dalam kanalis meningkat secara nyata
karena tekanan yang meningkat. Dengan tekanan kurang lebih 15 mm Hg pada
mata normal, biasanya jumlah cairan yang meninggalkan mata melalui kanalis
Schlemm rata-rata 2,5 l/meni (Guyton et al., 2008). Sehingga keadaan pada
tekanan intraokuler meningkat yang bisa disebabkan berlebihnya humor aqueous
atau aliran yang tidak baik dapat menyebabkan penekanan pada bola mata, dan
bermanifestasi nyeri pada bola mata.
7. Diagnosis banding

a. Presbiopi
Gangguan akomodasi pada usia lanjut karena penurunan keelastisitasan otot
bola mata untuk akomodasi. Penyebabnya adalah daya akomodasi lensa mata tidak
bekerja dengan baik yan mengakibatkan lensa mata tidak dapat memfokuskan
cahaya ke titik kuning dengan tepat.
Normalnya, mekanisme akomodasi terjadi peningkatan daya refraksi mata
karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul
sehingga lensa menjadi cembung. Dengan bertambahnya usia, maka lensa menjadi
keras dan kehilangan daya elastisitasnya untuk menjadi cembung, maka
kemampuan melihat dekat semakin berkurang.
Presbiopi diklasifikasikan menjadi beberapa jenis.
Presbiopi insipien: tahap awal perkembangan presbiopi, dari anamnesis
didapati pasien memerlukan kaca mata untuk membaca dekat, tapi tidak
tampak kelainan bila dilakukan tes, dan pasien biasanya akan menolak
preskripsi kaca mata baca
Presbiopi fungsional: amplitudo akomodasi yang semakin menurun dan akan
didapatkan kelainan ketika diperiksa
Presbiopi absolut: peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional, di
mana proses akomodasi sudah tidak terjadi sama sekali
Presbiopi prematur: presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan
biasanya berhubungan dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan
Presbiopi nocturnal: kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap
disebabkan oleh peningkatan diameter pupil.

Gejala presbiopi antara lain


kesulitan membaca tulisan dengan cetakan huruf yang halus/kecil
setelah membaca, mata menjadi merah, berair, dan sering terasa pedih
membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca karena tulisan tampak kabur
pada jarak baca yang biasa (titik dekat mata makin menjauh
perlu sinar yang lebih terang untuk membaca

Tatalaksana presbiopi
Digunakan lensa positif untuk koreksi presbiopia. Tujuannya adalah untuk
mengkompensasi ketidakmampuan mata untuk memfokuskan objek-objek
yang dekat
Kekuatan lensa mata yang berkurang ditambahkan dengan lensa positif sesuai
usia dan hasil pemeriksaan subjektif sehingga pasien mampu membaca tulisan
pada kartu Jaeger 20/30
Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka penambahan +3.00 D adalah lensa
positif terkuat yang dapat diberikan pada pasien. pada kekuatan ini, mata tidak
melakukan akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm, karena tulisan yang
dibaca terletak pada titik fokus lensa +3.00

b. Glaukoma
Glaukoma adalah sekelompok penyakit yang memiliki karakteristik berupa
kerusakan saraf optic neuropathy dan berkurangnya terjadi penyempitan luas
lapangan pandang serta biasanya disertai adanya peningkatan tekanan intraokuli
(Salmon, 2009).

Etiologi dan Faktor Resiko


Glaukoma terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara proses produksi
dan ekskresi/ aliran keluar aqueous humor . Beberapa faktor resiko yang dapat
memicu terjadinya glaukoma adalah tekanan darah yang tinggi, diabetes melitus,
miopia, ras kulit hitam, pertambahan usia dan pascabedah (Simmons et al, 2007-
2008).

Klasifikasi
Berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokuli, glaukoma dapat
diklasifikasikan menjadi glaukoma sudut terbuka danglaukoma sudut tertutup.
Glaukoma sudut terbuka merupakan gangguan aliran keluar aqueous humor
akibat kelainan sistem drainase sudut bilik mata depan. Sedangkan glaukoma
sudut tertutup adalah gangguan akses aqueous humorke sistem drainase (Salmon,
2009). Glaukoma sudut terbuka terdiri dari kelainan pada membran pratrabekular
(seperti glaukoma neovaskular dan sindrom Irido Corneal Endothelial), kelainan
trabekular (seperti glaukoma sudut terbuka primer, kongenital, pigmentasi dan
akibat steroid) dan kelainan pascatrabekular karena peningkatan tekanan
episklera.
Sedangkan glaukoma sudut tertutup terdiri dari glaukoma sudut tertutup
primer, sinekia, intumesensi lensa, oklusi vena retina sentralis, hifiema, dan iris
bomb (Salmon, 2009).

Patogenesis dan Patofisiologi


Glaukoma Sudut Terbuka
Glaukoma yang sering ditemukan adalah glaukoma sudut terbuka.
Glaukoma sudut terbuka terjadi karena pembendungan terhadap aliran keluar
aqueous humor,sehingga menyebabkan penimbunan. Hal ini dapat memicu
proses degenerasi trabecular meshwork, termasuk pengendapan materi
ekstrasel di dalam anyaman dan di bawah lapisan endotel kanalis Schlemm
(Salmon, 2009).
Mekanisme kerusakan neuron pada glaukoma sudut terbuka dan
hubungannya dengan tingginya tekanan intraokular masih belum begitu jelas.
Teori utama memperkirakan bahwa adanya perubahan-perubahan elemen
penunjang struktural akibat tingginya tekanan intraokular di saraf optikus,
setinggi dengan lamina kribrosa atau pembuluh darah di ujung saraf
optikus(Friedman dan Kaiser, 2007). Teori lainnya memperkirakan terjadi
iskemia pada mikrovaskular diskus optikus (Kanski, 2007). Kelainan
kromosom 1q-GLC1A (mengekspresikan myocilin) juga menjadi factor
predisposisi(Kwon et al,2009).
Glaukoma Sudut Tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi apabila terbentuk sumbatan sudut
kamera anterior oleh iris perifer. Hal ini menyumbat aliran aqueous humor
dan tekanan intraokular meningkat dengan cepat, menimbulkan nyeri hebat,
kemerahan, dan penglihatan yang kabur. Serangan akut sering dipresipitasi
oleh dilatasi pupil, yang terjadi spontan di malam hari, saat pencahayaan
kurang (Salmon, 2009)
- Glaukoma Sudut Tertutup Akut
Pada glaukoma sudut tertutup akut terjadi peningkatan
tekanan bola mata dengan tiba-tiba akibat penutupan pengaliran
keluar aqueous humor secara mendadak. Ini menyebabkan rasa
sakit hebat, mata merah, kornea keruh dan edematus, penglihatan
kabur disertai halo (pelangi disekitar lampu). Glaukoma sudut
tertutup akut merupakan suatu keadaan darurat (Salmon, 2009)
- Glaukoma Sudut Tertutup Kronis.
Pada glaukoma tertutup kronis, iris berangsur - angsur
menutupi jalan keluar tanpa gejala yang nyata , akibat terbentuknya
jaringan parut antara iris dan jalur keluar aqueous humor. Glaukoma
sudut tertutup biasanya bersifat herediter dan lebih sering pada
hipermetropia. Pada pemeriksaan didapatkan bilik mata depan
dangkal dan pada gonioskopi terlihat iris menempel pada tepi kornea
(Salmon, 2009)
.Glaukoma Kongenital
Glaukoma kongenital adalah bentuk glaukoma yang jarang ditemukan.
Glaukoma ini disebabkan oleh kelainan perkembangan struktur anatomi mata
yang menghalangi aliran keluar aqueous humor. Kelainan tersebut antara lain
anomali perkembangan segmen anterior dan aniridia (iris yang tidak
berkembang). Anomali perkembangan segmen anterior dapat berupa sindrom
Rieger/ disgenesis iridotrabekula, anomali Peters/ trabekulodisgenesis
iridokornea, dan sindrom Axenfeld (Salmon, 2009).
Glaukoma Sekunder
Glaukoma sekunder merupakan glaukoma yang timbul akibat adanya
penyakit mata yang mendahuluinya. Beberapa jenis glaukoma sekunder antara
lain glaukoma pigmentasi, pseudoeksfoliasi, dislokasi lensa, intumesensi
lensa, fakolitik, uveitis, melanoma traktus uvealis, neovaskular, steroid,
trauma dan peningkatan tekanan episklera (Salmon, 2009).
Glaukoma Tekanan-Normal
Beberapa pasien dapat mengalami glaukoma tanpa mengalami
peningkatan tekanan intraokuli, atau tetap dibawah 21 mmHg. Patogenesis
yang mungkin adalah kepekaan yang abnormal terhadap tekanan intraokular
karena kelainan vaskular atau mekanis di kaput nervus optikus, atau bisa juga
murni karena penyakit vaskular. Glaukoma jenis ini sering terjadi di Jepang.
Secara genetik, keluarga yang memiliki glaukoma tekanan-normal memiliki
kelainan pada gen optineurin kromosom 10. Sering pula dijumpai adanya
perdarahan diskus, yang menandakan progresivitas penurunan lapangan
pandang (Salmon, 2009).

Terapi Medikamentosa dan Pembedahan


Terapi glaukoma dapat dilakukan dengan medikamentosa dengan cara
menurunkan produksi humor aquous dan melancarkan aliran aquous.
- Miotika:
Pilocarpine : 0.5% - 4%
Carbachol : 0.75% - 3%
Esserine : 0.25% - 1%
- Carbonic-Anhydrase Inhibitors
Sistemik :
Acetazolamide: Diamox,glaupax,glaukon
Methazolamide: Naptazone
Ethoxzolamide: Cardrase
Dichlorphenamide: Daramide
Topikal :
Brinzolamide 1% (Azopt) 3 kali
Dorzolamide 2% (Trusopt) 3 kali
- Symphatomemetic :
Epinephrine / Adrenaline
Levo-epinephrine
- Adrenergic Antagonist:
Non selektif : Timolol Maleat 0.25%- 0.50%

Terapi bedah dan laser merupakan terapi yang paling efektif dalam
menurunkan tekanan intraokuli. Pada glaukoma sudut tertutup, tindakan
iridoplasti, iridektomi, iridotomi perifer merupakan cara yang efektif
mengatasi blokade pupil. Sedangkan pada glaukoma sudut terbuka, pengguaan
laser (trabekuloplasti) merupakan cara yang efektif untuk memudahkan aliran
keluar aqueous humor(Salmon, 2009). Trabekulotomi adalah prosedur yang
paling sering digunakan untuk memintas saluran-saluran drainase normal
sehingga terbentuk akses langsung aqueous humor dari bilik mata depan ke
jaringan subkonjungtiva dan orbita (Salmon, 2009)
b. Ambliopia
Ambliopia berasal dari bahasa Yunani amblys yaitu kabur, dan ops adalah
penglihatan. Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan
tidak mencapai optimal sesuai dengan usia dan intelegensinya walaupun sudah
dikoreksi kelainan refraksinya. Anak-anak rentan menderita ambliopia hingga usia
7 tahun dan biasanya terjadi pada satu mata, namun dapat juga terjadi pada kedua
bola mata. Keadaan ini tidak berhubungan langsung dengan kelainan struktur
mata atau kelainan pada jalur visual posterior. Kurangnya tajam penglihatan pada
ambliopia tidak dapat dikoreksi dengan kaca mata dan tidak ditemukan kausa
organik pada pemeriksaan fisik mata. Pada kasus yang keadaannya baik dapat
dikembalikan fungsi penglihatan dengan pengobatan.
Patofisiologi
Proses penglihatan mengalami perkembangan dimulai sejak bayi. Terdapat
beberapa periode penting untuk mencapai tingkat kematangan. Periode pertama
yang paling menentukan ialah 6 bulan pertama kehidupan, kemudian sampai 2
tahun, berikutnya sampai 5 tahun. Sesudah 5 tahun masih ada perkembangan,
tetapi sudah tidak begitu pesat lagi sampai usia 9 tahun. Selama masa ini sistem
penglihatan peka terhadap faktor ambliopiagenik yaitu deprivasi cahaya, kurang
fokusnya alat optik dan strabismus.
Sistem penglihatan saat lahir belum sempurna dengan tajam penglihatan 1
per tak terhingga. Perkembangan tajam penglihatan berlangsung selama bulan
pertama kehidupan. Retina, nervus optikus dan korteks visual mulai berkembang
pada umur 1 minggu. Mielinisasi saraf optik, perkembangan korteks visual dan
pertumbuhan badan genikulatum lateral berlangsung selama dua tahun pertama
kehidupan. Fovea yang merupakan bagian dari retina yang paling sensitif,
berkembang sempurna pada umur 4 tahun. Rangsangan penglihatan penting untuk
perkembangan penglihatan yang normal. Perkembangan jaras penglihatan di
sistem saraf pusat membutuhkan otak yang menerima bayangan dengan jelas
dan seimbang. Berbagai proses yang mempengaruhi atau menghambat
perkembangan jaras penglihatan pada otak dapat menimbulkan ambliopia.
Tabel Perkembangan Penglihatan Milestones

Pada ambliopia didapati adanya kerusakan penglihatan sentral, sedangkan


daerah penglihatan perifer dapat dikatakan masih tetap normal. Secara umum,
ambliopia dipercayai akibat dari stimulus foveal atau retina perifer yang
inadekuat (disuse), atau interaksi binocular abnormal yang menyebabkan input
visual yang berbeda dari foveae.

Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi 4 :
Ambliopia Strabismik = Akibat diplopia dan confusion yang diikuti supresi
fovea. Hasil interaksi binokuler abnormal yang berlanjut dengan supresi
monokuler mata yang mengalami deviasi.
Ambliopia Anisometropik = Gangguan fusi akibat perbedaan refraksi
antara mata kanan dan kiri. Bayangan di fovea kedua mata berlainan
bentuk dan ukurannya. Anisometropia miopik baru akan menimbulkan
ambliopia yang bermakna bila perbedaannya > 5 D. Anisometropia
hiperopik 1,5 D dapat menimbulkan ambliopia bermakna, Hiperopik > 3 D
akan menimbulkan ambliopia berat dengan visus 6/60
Ambliopia Ametropik = Akibat kelainan refraksi bilateral tinggi pada anak
yang tidak dikoreksi (hiperopia > 5 D atau miopia > 10 D)
Ambliopia ex-anopsik = Hilangnya penglihatan bentuk karena kekeruhan
media refrakta atau ptosis. Anak-anak rentan sejak lahir 8 tahun,
Ambliopia pada anak < 5 tahun sering irreversible.

c. Neuritis
Neuritis optik terjadi akibat saraf optik yang merupakan yang membawa
impuls penglihatan ke otak mengalami peradangan serta sarung mielin yang
membungkus saraf tersebut mengalami kerusakan (proses ini disebut juga
demielinisasi). Terjadinya sangat khas pada salah satu mata (70%) yang
menyebabkan gangguan penglihatan yang cepat dan progresif tetapi bersifat
sementara. Sekitar 30% penderita terjadi pada kedua mata. Neuritis optik
cenderung menyerang dewasa muda dengan usia rata-rata 30-an. Tujuh puluh lima
persen penderita merupakan wanita.
Kerusakkan saraf terjadi pada bagian saraf optik yang letaknya di belakang
bola mata dan disebut juga neuritis retrobulbar serta sering dikaitkan dengan
penyakit sklerosis multipel. Peradangan saraf optik dan edema (pembengkakan)
terjadi akibat tekanan intrakranial pada tempat dimana saraf masuk ke dalam bola
mata. Peradangan di tempat tersebut disebut papilitis.

Penyebab dan Gejala-Gejala


Gejala-gejala neuritis optik adalah jika ditemukan satu atau lebih gejala
berikut ini:
penglihatan kabur
bintik/bercak buta, terutama pertengahan lapang pandang
nyeri saat pergerakkan bola mata
sakit kepala
buta warna mendadak
gangguan penglihatan pada malam hari
gangguan ketajaman penglihatan

Neuritis optik sering diakibatkan oleh penyakit sklerosis multipel.


Penyebab lainnya adalah infeksi virus, jamur, ensefalomielitis, penyakit-penyakit
otoimun atau tumor yang menekan saraf penglihatan atau penyakit-penyakit
pembuluh darah (misalnya radang arteri temporal). Beberapa bahan kimia
beracun seperti metanol dan timah hitam dapat menyebabkan kerusakkan saraf
optik. Kerusakn saraf optik dapat juga dikarenakan penyalahgunaan alkohol dan
rokok. Neuritis optik dapat juga disebabkan karena gangguan sistem kekebalan
tubuh.

Diagnosis
Pemeriksaan mata lengkap termasuk pemeriksaan ketajaman penglihatan,
pemeriksaan buta warna serta pemeriksaan retina dan diskus optik dengan
menggunakan oftalmoskop. Tanda-tanda klinis seperti gangguan reaksi pupil jelas
terlihat selama pemeriksaan mata tetapi pada beberapa keadaan mata terlihat
normal. Riwayat medis penderita dapat digunakan untuk mengetahui apakah
pernah terpapar/kontak dengan bahan-bahan beracun seperti timah hitam yang
dapat menyebabkan neuritis optik.Pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan
MRI (magnetic resonance imaging) diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
Dengan MRI dapat dibuktikan tanda-tanda sklerosis multipel.

Terapi
Pengobatan neuritis optik tergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Gangguan penglihatan yang disebabkan infeksi virus akan membaik sendiri
setelah diberikan pengobatan terhadap virus. Neuritis optik yang disebabkan
bahan-bahan beracun dapat diatasi bila sumber-sumber/kontak dengan racun
dihindari.
Pemberian kortikosteroid suntikan yang dilanjutkan dengan pemberian
oral pada penderita neuritis optik akibat sklerosis multipel sangat cepat
memperbaiki penglihatan penderita, tetapi masih diperdebatkan penggunaanya
untuk mencegah kekambuhan. Terapi Percobaan Neuritis Optik menunjukkan
bahwa steroid yang diberikan dengan suntikkan intravena efektif untuk
mengurangi serangan neuritis optik akibat penyakit sklerosis multipel hingga 2
tahun, tetapi perlu penelitian lebih lanjut. Prednison yang diberikan secara oral
tampaknya dapat meningkatkan serangan berulang neuritis optik sehingga terapi
ini tidak dianjurkan.

Prognosis
Gangguan penglihatan yang disebabkan karena neuritis optik biasanya
bersifat sementara. Remisi (penyembuhan) spontan terjadi dalam dua hingga lima
minggu. Saat masa pemulihan, 65% 80% ketajaman penglihatan penderita
menjadi lebih baik. Prognosis jangka panjang tergantung pada penyebab yang
mendasarinya. Jika serangan ini ditimbulkan oleh infeksi virus maka akan
mengalami penyembuhan sendiri tanpa meninggalkan efek samping. Jika neuritis
optik dipicu oleh sklerosis multipel, maka serangan berikutnya harus dihindari.
Tigapuluh tiga persen penderita neuritis optik akan kambuh dalam lima tahun.
Tiap kekambuhan menyebabkan pemulihannya tidak sempurna bahkan
memperburuk penglihatan seseorang. Ada hubungan yang kuat antara neuritis
optik dengan sklerosis multipel. Pada orang yang tidak mengalami sklerosis
multipel maka separuh dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan akibat
neuritis optik akan menderita penyakit ini dalam 15 tahun.

Pencegahan
Pemeriksaan mata secara teratur untuk menjaga kesehatan mata.
Pengobatan dini terhadap masalah penglihatan dapat mencegah kerusakkan
permanen pada saraf mata.

d. Ablasi Retina
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang
retina dengan dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel masih
melekat erat dengan membran Bruch. Lepasnya retina mengakibatkan gangguan
nutrisi retina dari pembuluh darah koroid terhambat dan apabila berlangsung lama
akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap.

e. Retinopati
Retinopati merupakan suatu kelainan pada mata yang tidak disebabkan
oleh radang. Cotton wool patches merupakan gambaran eksudat pada retina akibat
penyumbatan arteri prepapil sehingga terjadi daerah nonperfusi pada retina.
Retinopati ini terjadi jika ada penyakit pesertanya seperti hipertensi, diabetes,
penyakit kolagen, anemia, Hodgkins Disease, dan keracunan Monooksida.

f. Katarak
Katarak merupakan penyebab terbanyak kebutaan di dunia.Proses
terjadinya Katarak sangat berhubungan dengan faktor usia. Meningkatnya usia
harapan hidup juga berperan dalam hal meningkatnya penderita buta
Katarak.Katarak adalah kekeruhan Lensa. Katarak memiliki derajat kepadatan
yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, tetapi berkaitan
dengan proses penuaan.

Faktor risiko
Faktor resiko terjadinya Katarak sangat bervariasi bergantung dari proses
patogenesis. proses umur, genetik, makanan, Diabetes Melitus, radiasi ultra
violet, merokok merupakan faktor penyebab terjadinya Katarak.Katarak adalah
penyakit degenerative yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor intrinsik
maupun faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik yang berpengaruh antara lain adalah
umur, jenis kelamin dan faktor genetik, sedangkan faktor ekstrinsik yang
berpengaruh antara lain adalah pendidikan dan pekerjaan yang berdampak
langsung pada status sosial ekonomi dan status kesehatan seseorang serta faktor
lingkungan,dalamhubungannya dengan paparan sinar ultraviolet.
Pekerjaan, dalam hal ini erat kaitannya dengan paparan sinar matahari.
Lingkungan (Geografis), katarak khususnya lebih banyak dijumpai di negara
berkembang yang berlokasi di khatulistiwa. Hampir semua studi
epidemioologi melaporkan tingginya prevalensi katarak di daerah yang
banyak terkena sinar ultraviolet
Pendidikan, prevalensi katarak lebih tingi pada kelompok yang
berpendidikan lebih rendah. Meskipun tidak ditemukan hubungan langsung
antara tingkat pendidikan dan kejadian katarak, namun tingkat pendidikan
dapat mempengaruhi status sosial ekonomi temasuk pekerjaan dan status
gizi.
Nutrisi, beberapa penelitian mendapatkan bahwa multivitamin, vitamin A,
vitamin C, vitamin E, niasin, tiamin, riboflavin, beta karoten, dan
peningkatan protein mempunyai efek protektif terhadap perkembangan
katarak. Lutein dan zeaxantin adalah satu-satunya karotenoid yang dijumpai
dalam lensa manusia, dan penelitian terakhir menunjukkan adanya penurunan
resiko katarak dengan peningkatan frekuensi asupan makanan tinggi lutein
(bayam, brokoli).
Perokok, merokok menyebabkan penumpukan molekul berpigmen -3
hydroxykhynurine dan chromophores, yang menyebabkan terjadinya
penguningan warna lensa. Sianat dalam rokok juga menyebabkan terjadinya
karbamilasi dan denaturasi protein.
Diare, dideskripsikan oleh Harding, diare berperan dalam kataraktogenesis
melalui 4 cara yaitu malnutrisi, asidosis, dehidrasi, dan tingginya kadar urea
dalam darah.
Diabetes Mellitus, dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksi,
dan amplitudo akomodatif. Dengan meningkatnya kadar gula darah, maka
meningkat pula kadar glukosa dalam akuos humor. Oleh karena glukosa dari
akuos masuk ke dalam lensa dengan cara difusi, maka kadar glukosa dalam
lensa juga meningkat. Sebagian glukosa tersebut dirubah oleh enzim aldose
reduktase menjadi sorbitol, yang tidak dimetabolisme tapi tetap berada dalam
lensa.
Alkohol, secara langsung bekerja pada protein lensa dan secara tidak
langsung dengan cara mempengaruhi penyerapan nutrisi penting pada lensa.
Obat-obatan, obat-obatan yang meningkatkan resiko katarak adalah
kortikosteroid, fenotiazin, miotikum, kemoterapi, diuretik, obat penenang,
obat rematik, dan lain-lain.
Gender, tingginya prevalensi pada perempuan terutama untuk resiko
terjadinya katarak kortikal.

Gejala Klinis
Kekeruhan lensa dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, dan dijumpai
pada pemeriksaan mata rutin. Gejala ka tarak yang sering dikeluhkan adalah :
Silau. Pasien katarak sering mengeluh silau, yang bisa bervariasi
keparahannya mulai dari penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan
yang terang hingga silau pada saat siang hari atau sewaktu melihat lampu
mobil atau kondisi serupa di malam hari. Keluhan ini khususnya dijumpai
pada tipe katarak posterior subkapsular.Pemeriksana silau (test glare)
dilakukan untuk mengetahui derajat gangguan penglihatan yang disebabkan
oleh sumber cahaya yang diletakkan di dalam lapang pandangan pasien.
Diplopia monokular atau polypia. Terkadang, perubahan nuklear terletak pada
lapisan dalam nukleus lensa, menyebabkan daerah pembiasan multipel di
tengah lensa.Daerah ini dapat dilihat dengan refleks merah retinoskopi atau
oftalmoskopi direk.Tipe katarak ini kadang-kadang menyebabkan diplopia
monokularatau polypia.
Halo. Hal ini bisa terjadi pada beberapa pasien oleh karena terpecahnya sinar
putih menjadi spektrum warna oleh karena meningkatnya kandungan air
dalam lensa.
Distorsi. Katarak dapat menyebabkan garis lurus kelihatan bergelombang,
sering dijumpai pada stadium awal katarak.
Penurunan tajam penglihatan. Katarak menyebabkan penurunan penglihatan
progresif tanpa rasa nyeri.umumnya pasien katarak menceritakan riwayat
klinisnya langsung tepat sasaran, dan pasien menceritakan kepada dokter
mata, aktivitas apa saja yang terganggu. Dalam situasi lain, pasienhanya
menyadari adanya gangguan penglihatan setelah dilakukan
pemeriksaan.Setiap tipe katarak biasanya mempunyai gejala gangguan
penglihatan yangberbeda-beda, tergantung pada cahaya, ukuran pupil dan
derajat miopia.Setelah didapat riwayat penyakit, makapasien harus dilakukan
pemeriksaan penglihatan lengkap, dimulai dengan refraksi. Perkembangan
katarak nuklear sklerotik dapat meningkatkan dioptri lensa, sehingga terjadi
miopia ringan hingga sedang.

g. Kelainan refraksi

Hipermetropi

Sinar yang berjalan sejajar dengan sumbu mata tanpa akomodasi


dibiaskan dibelakang retina (misalnya tajam penglihatan 5/10). Dengan
berakomodasi, titik pembiasan tersebut dapat digeser ke depan, sehingga
jatuhnya pada retina (tajam oenglihatan menjadi 5/5). Untuk mengetahui
apakah tajam penglihatan 5/5 yang mungkin emetropi atau hipermetropi,
kita meletakkan lensa S +0.50 di depan matanya. Pada mata yang
emetropi, tajam penglihatan akan terliaht kabur, akrena titik pembiasan
akan bergeser ke depan retina. Pada mata yang hipermetropi, tajam
penglihatan akan bertambah baik atau tetap sama.

Hipermetropi dapat disebabkan beberapa hal. Sumbu mata (jarak


kornea-retina) terlalu pendek, dinamakan hipermetropi sumbu. Daya bias
kornea/lensa/aquous humor terlalu lemah dinamakan hipermetropi
pembiasan

Oleh karena seseorang dengan hipermetropi harus terus


berakomodasi untuk mendapatkan tajam penglihatan terbaik, maka akan
timbul keluhan-keluhan lelah, pusing, sakit kepala dan sebagainya.
Keluhan-keluhan seperti ini disebut astenopia akomodatif. Oleh karena
akomodasi juga disertai dengan konvergensi, maka kemungkinan posisi
kedua mata dalam keadaan strabismus konvergen. Jika derahat
hipermetropi pada satu mata lebih tinggi dari mata lainnya, maka mungkin
mata yang pertama tidak dipergunakan sehingga tajam penglihatan
semakin lama semakin berkurang (ambliopia). Mata yang ambliopia sering
menggulir ke temporal disebut strabismus divergen (eksotropia).

Seseorang dengan hipermetropi diberi lensa S + yang terbesar (S +


B)agar ia dapat melihat dengan baik tanpa melakukan akomodasi. Lensa S
+ B adalah derajat hipertrofi manifest. Jika otot-otot untuk akomodasi
dilumpuhkan dengan tetes mata sikloplegik, akan dibutuhkan lensa yang
lebih besar (S + Bb) guna mencapai tajam penglihatan terbaik. Ini
dinamakan derajat hipermetropi total. Selisih (b) dinamakan derajat
hipermetropi laten. (Sidarta, 2010)

Miopi

Sinar-sinar yang berjalan sejajar dengan sumbu mata tanpa


akomodasi dibiaskan didepan retina. Tajam penglihatan selalu kurang dari
5/5.

- Miopia ringan adalah myopia antara 0-3 D

- Miopia sedang adalah myopia antara 3-6 D

- Miopia tinggi adalah myopia di atas 6 D


Miopi dapat disebabkan beberapa hal. Sumbu mata (jarak korena-
retina) terlalu panjang, dinamakan myopia sumbu. Daya bias kornea, lensa
atau aquous humour terlalu kuat, dinamakan myopia pembiasan.

Gejala yang dialami penderita miopi berupa penglihatan untuk jauh


kabur, sedangkan untuk dekat jelas. Jika derajat miopianya terlalu tinggi,
sehingga letak punctum remotum kedua mata terlalu dekat, maka kedua
mata harus selalu melihat dalam kondisi konvergensi, dan mungkin hal ini
menimbulkan keluhan (astenovergen). Mungkin juga posisi konvergensi
itu menetap sehingga terjadi strabismus konvergen (esotropia). Apabila
terdapat myopia pada satu mata jauh lebih tinggi dari mata yang lain, dapat
terjadi ambliopia pada mata yang miopianya lebih tinggi. Mata ambliopia
akan menggulir ke temporal yang disebut strabismus divergen (eksotropia)

Seorang dengan myopia diberi lensa (S-) yang terkecil agar ia


dapat melihat dengan baik tanpa akomodasi (Sidarta, 2010)

Astigmatisme

Jika tajam penglihatan dengan lensa sferis saja tidak tercapai tajam
penglihatan 5/5, harus dipikirkan adanya astigmat. Pada astigmat, sinar
yang sejajar dengan sumbu penglihatan tidak dibiaskan pada satu titik,
melainkan pada banyak titik. Titik-titik pembiasan mungkin letaknya:

- Tidak teratur (astigmat ireguler) disebabkan karena permukaan kornea


tidak teratur atau pada lapisan-lapisan kornea terdapat kekeruhan.
Permukaan kornea yang tidak teratur dapat dilihat dengan cakram
placid, dimana lingkaran-lingkarannya dicerminkan sebagai lingkaran-
lingkara yang tidak teratur. Mungkin suatu lensa kontak dapat
memperbaiki tajam penglihatannya, sedangkan penurunan tajam
penglihatan oleh kekeruhan lapisan dalam kornea dapat
dipertimbangkan keratoplasti.

- Teratur (astigmat regular). Semua titik pembiasan letaknya pada


sumbu penglihatan. Pada stigmat regular didapatkan dua bidang
utama, dengan daya pembiasan terkuat dan terlemah. Kedua bidang
utama itu jalannya melalui dua meridian kornea. Meridian-meridian
kornea dinyatakan dengan meridian derajat. Misalnya meridian 90
derajat adalah meridian vertical. Biasanya, daya pembiasan melalui
bidang 90 derajat adalah terkuat sedangkan 180 derajat adalah
terlemah (Sidarta, 2010)
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN
Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami, pasien pertama pada skenario ke-1
diperkirakan menderita presbiopia dan pada pasien kedua menderita glaukoma.

SARAN
1. Semua anggota kelompok diharapkan lebih berpartisipasi aktif dalam diskusi.
2. Menyiapkan materi sebelum melakukan diskusi sehingga pada saat pertemuan
kedua tutorial berjalan dengan baik dan lancar
3. Lebih menghargai pendapat setiap anggota kelompok.
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA