Anda di halaman 1dari 7

Korelasi Kadar Ferritin dengan Hasil Tes Fungsi

Ginjal (Kadar Ureum dan Kreatinin Serum)


Pasien Talasemia -Mayor di Bagian Anak
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Umi Salamah1, Nyayu Fauziah2, Irsan Saleh3
1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
2. Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
3. Bagian Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
Jl. Dr. Muh. Ali Komplek RSMH Madang, Sekip, Palembang, 30126, Indonesia

Email: umisalamah73@yahoo.com

Abstrak

Talasemia adalah penyakit anemia herediter dan membutuhkan transfusi darah seumur hidup.Transfusi darah
menyebabkan akumulasi besi pada ginjal yang dapat dimonitor dengan pengecekan kadar ferritin. Selain itu,
penggunaan kelasi besi sebagai obat talasemia yang membuang besi dari tubuh terbukti toksik terhadap ginjal.Untuk
melihat fungsi ginjal dilakukan pengecekan kadar ureum dan kreatinin serum.Tujuan objektif dari penelitian ini adalah
menentukan korelasi kadar ferritin dengan hasil tes fungsi ginjal pada pasien talasemia.Penelitian ini menggunakan
observasi analitik dengan desain potong lintang dan uji korelasi Spearman. Data penelitian diperoleh dari rekam medik
pasien talasemia di Bagian Anak RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dan terdapat 90 data memenuhi kriteria
inklusi.Terdapat 71 pasien memiliki kadar ferritin >1000 ng/mL dengan kadar ferritin rata-rata 2445,5 ng/mL. Nilai
rata-rata kadar ureum adalah 19 ng/dL dan nilai rata-rata kadar kreatinin adalah 0,37 ng/dL. Tidak ada korelasi kadar
ferritin dengan ureum (p=0,365) dan ada korelasi kadar ferritin dengan kreatinin (p= 0,020; r= 0,244).Tidak ada
korelasi kadar ferritin dengan kadar ureum dan ada korelasi kadar ferritin dengan kadar kreatinin (p= 0,020; r= 0,244)
pada pasien talasemia di Bagian Anak RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Kata Kunci: talasemia, ferritin, ureum, kreatinin

Abstract

Correlation between ferritin level and renal Function test in -majorthalassemia patients inPediatric division rsup
dr. Mohammad hoesin Palembang. Thalassemia is a hereditary anemia disease and needs regular blood transfusion
during lifetime. Blood transfusioncause accumulation of iron in renalwhich can be monitored by ferritin level.
Moreover, using chealation as medicines which can expel iron from the body are proved renal toxicity. Renal function
tests are monitored by ureum and creatinine. The objective of the study is to determine the correlation of serum ferritin
level with the result of renal function tests inthalassemia patients. This study used an analytical observational study
with cross sectional design and Spearman correlation test. The data were obtained from medical record of thalassemia
patients in Pediatric Division RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang and there were 90 data which fulfilled the
inclusion criteria.The results showed that 71 patients had ferritin level > 1000 ng/mL and average ferritin level was
2445,5 ng/mL. Average ureum level was 19 ng/dL and average creatinin level was 0,37 ng/dL. There was no
correlation of ferrtin level with ureum (p=0,365). There wascorrelation of ferritin level and creatinin (p= 0,020; r=
0,244). There was no correlation serum ferritin level with ureum.There was significant correlation serum ferrtin level
with creatinine.

Keywords: thalassemia, ferritin, ureum, creatinin


1. Pendahuluan vaskular sistemik yang dapat menurunkan laju
filtrasi glomerulus 8.
Talasemia adalah sindrom kelainan yang Kelebihan besi juga memberikan efek
bersifat diwariskan (inherited). Talasemia toksik secara langsung pada sel epitelial
masuk ke dalam kelompok hemoglobinopati, tubulus sehingga bisa terjadi tubulopati dan
yaitu kelainan yang disebabkan oleh gangguan meningkatkan permeabilitas glomerulus yang
sintesis hemoglobin akibat mutasi pada gen dapat mengakibatkan hiperkalsiuria,
globin. Berdasarkan gangguan produksi pada hiperfosfaturia dan hiperurikosuria 9.Selain itu,
rantai globin, talasemia dibagi menjadi hasil penelitian Wirawanmenemukan adanya
talasemia dan talasemia 1. kerusakan fungsi tubulus dan glomerulus
Pada tahun 2006, WHO merilis kira- ginjal pada pasien talasemia mayor 10.Hal ini
kira 5% penduduk dunia merupakan carrier juga didukung oleh penelitian Hamed 11.
talasemia(80-90 juta membawa genetik Terapi menggunakan deferoksamin juga
talasemia-) dan sekitar 300-400 ribu bayi telah terbukti bersifat nefrotoksik dan bisa
talasemia baru akan lahir kedunia setiap tahun. menginduksi disfungsi tubulus proksimal
Jenis kelainan genetik yang sering ditemukan secara langsung dan terbuktidapat
di Asia Tenggara termasuk Indonesia adalah meningkatkan kadar serum kreatinindengan
talassemia , talassemia , dan Hb-E. mekanisme yang belum jelas12, 13.
Keseluruhan jumlah carrier talasemia pada Untuk mendeteksi ganguan fungsi ginjal
populasiIndonesia adalah 3,7%2. Frekuensi bisa dilakukan pemeriksaan kadar kreatinin
pembawa gen talassemia di Indonesia berkisar serum dan kadar ureumserum.Pada penelitian
antara 3-8%3. Di Sumatera Selatan, frekuensi sebelumnya oleh Utami tidak terdapat
pembawa sifat talasemia pada populasi hubunganantara kadar ferritin serum dengan
melayu sebesar 8% 4. kreatinin serum pada pasien talasemia di
Akibat gangguan produksi hemoglobin, RSUD Dr. Moewardi14. Namun, hasil
pasien talasemia akan mengalami anemia penelitian Fathi menemukan terdapat
herediter dari ringan hingga berat. Pada peningkatan kadar kreatinin serum tetapi tidak
talasemia -mayor terjadi anemia hemolitik ada perubahan signifikan kadar ureum serum
yang berat sehingga diperlukantransfusi darah pada pasien talasemia mayor15. Namun, hasil
seumur hidup sebagai tata laksana suportif penelitian Younusmenemukan adanya
untuk mempertahankan kadar perubahan kadar kreatinin serum dan kadar
hemoglobin5.Pemberian transfusi secara terus ureumserum pada pasien talasemia mayor
menerus berisiko meningkatkan kadar besi yang menerima transfusi darah rutin dan kelasi
darah (ferritin) pada berbagai organ tubuh, besi16.
termasuk pada ginjal. Jika kadar feritin serum Mengingat masih sedikit studi mengenai
telah mencapai 1000 ng/dL (setelah 10-20 kali kasus tersebut dan penelitian-penelitian
transfusi)maka diberikan kelasi besi untuk terdahulu yang menunjukkan bahwa efek
mengeleminasi kelebihan besi dalam tubuh 6. transfusi yang berulang dan pemberian kelasi
Kelebihan besi pada ginjal memberikan besi pada pasien talasemia dapat
efek toksisitas dan menjadi sumber mempengaruhi hasil tes fungsi ginjal, maka
stresoksidatif pada sistem biologi. pada penelitian ini akanmenganalisis korelasi
Terbentuknya hidroksi radikal bebas yang kadar ferritin serum dengan kadar ureum
berlebihan dapat memicu peroksidasi lipid. serum dan kadar kreatinin serum sebagai tes
Hal inimengakibatkankerusakan jaringan dan fungsi ginjal pasien talasemia -mayor di
disfungsi ginjal 7. Selain itu,jumlah nitrit Bagian Anak RSUP Dr. Mohammad Hoesin
oksidayang tersediaakan berkurang Palembang.
sehinggaterjadi penurunan resistensi tahananan
2. Metode Penelitian a. Pemeriksaan Laboratorium

Penelitian yang dipakai adalah analitik Dari 90 pasien didapatkan kadar ferritin
observasional dengan desain potong lintang. tertinggi 12.345 ng/mL dan kadar ferritin
Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. terendah 38 ng/mL dengan nilai tengah
Mohammad Hoesin Palembang menggunakan 2.445,5ng/mL, untuk kadar ureum tertinggi 46
data sekunder hasil pemeriksaan laboratorium ng/dL dan kadar ureum terendah 4 ng/dL
pasien talasemia. dengan nilai tengah 19 ng/dL sedangkan kadar
Sampel dalam penelitian ini adalah kreatinin tertinggi 0,71 ng/dL dan kadar
pasien talasemia yang memenuhi kriteria kreatinin terendah 0,16 ng/dL dengan nilai
inklusi berjumlah 90 orang. tengah 0,37 ng/dL.
Data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data sekunder yang diperoleh Tabel 2. Distribusi gambaran kimia klinik ginjal
melalui pencatatan rekam medik yang Parameter N Median Minimal Maksimal
tersedia di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Laboratorium
Palembang. Ferritin (ng/mL) 90 2445,5 38 12345
Data-data yang telah dikumpulkan Ureum (ng/dL) 90 19 4 46
diproses secara statistik dengan menggunakan Kreatinin 90 0,37 0,16 0,71
uji korelasi Spearman dan disajikan dalam (mg/dL)
bentuk tabel beserta penjelasan deskriptif dan
analitik
100
82
3. Hasil 80
65
55
60
Pengambilan data dilakukan pada tanggal 03- 34
40
08 Oktober 2016 di Bagian Anak RSUP Dr. 25
Mohammad Hoesin Palembang. Subjek 20 8
1
penelitian adalah rekam medik pasien
0
talasemia beta mayor yang telah mendapatkan FERRITIN UREUM KREATININ
pemeriksaan laboratorium periode 1 Januari-
31 Desember 2015 dan didapatkan pasien yang Normal Meningkat Menurun
memenuhi kriteria inklusi berjumlah 90 orang.
Berdasarkan jenis kelamin, Grafik 1. Kategori Hasil Laboratorium
pasienperempuan (63,3%) lebih banyak
dibanding pasien laki-laki (36,7%) Berdasarkan grafik diatas, sebagian
besar pasien memiliki kadar ferritin di atas
Tabel 1. Distribusi berdasarkan jenis kelamin normal sebanyak 82 orang dan sisanya 8 orang
normal. Distribusi kadar ureum di bawah
Talasemia Beta normal sebanyak 25 orang dan sisanya 65
Jenis Kelamin Mayor
Frekuensi % orang normal. Distribusi kadar kreatinin di
Perempuan 57 63,3 bawah normal sebanyak 55 orang, di atas
Laki-laki 33 36,7 normal 1 orang dan sisanya 34 orang normal.
Total 90 100,0
b. Analisis Korelasi Kadar Ferritin dengan
Tes Fungsi Ginjal

Untuk mengetahui korelasi kadar ferrtin


dengan tes fungsi ginjal maka dilakukan uji
korelasi. Sebelum dilakukan uji korelasi, kadar penelitian Utami didapatkan kadar ferritin
ferritin dan tes fungsi ginjal (ureum dan terendah 1004,2 ng/mL dan kadar ferritin
kreatinin) diuji distribusinya dengan uji tertinggi 9600 ng/mL dengan kadar ferritin
normalitas Kolmogorov-Smirnov karena rerata 4458,23 ng/mL14. Kadar ferritin
jumlah subjek >50 orang. Pada uji normalitas tertinggi dan terendah berbeda jauh dengan
Kolmogorov-Smirnov didapatkan kadar penelitianUtamidan kadar ferritin reratanya
ferritin tidak terdistribusi normal dengan nilai berbeda dua kali lipat. Hal ini dapat terjadi
p = 0,000 (p < 0,05), pada kadar ureum karena perbedaan pemberian jenis terapi kelasi
didapatkan data tidak berdistribusi normal besi yang digunakan pada pasien talasemia.
dengan nilai p = 0,009 (p < 0,05) sedangkan Hasil penelitian Ismail menyatakan bahwa
pada kreatinin didapatkan data berdistribusi pemberian kelasi besi DFO (Deferoksamin)
normal dengan nilai p = 0,200 (p > 0,05). cenderung lebih cepat menyebabkan
Selanjutnya dilakukan uji hipotesis penurunan kadar ferritin serum dibandingkan
dengan menggunakan uji korelasi Spearman dengan pemberian DFP (Deferiprone)17.
karena data tidak berdistribusi normal. Dari Meskipun demikian, penggunaan semua jenis
hasil uji korelasi Spearman, korelasi antara kelasi besi ternyata berpotensi menimbulkan
kadar ferritin dan kadar ureum adalah tidak kerusakan pada ginjal. Hasil penelitian Ali
bermakna (p=0,365) dengan nilai korelasi menyatakan kadar ferritin lebih dari 2000
Spearman sebesar 0,097. Hal ini menunjukkan ng/dL berkorelasi dengan kerusakan tubulus
tidak ada korelasi kadar ferritin dengan ureum. proksimal sekunder yang ditandai dengan
Sedangkan korelasi kadar ferritin dengan kadarN-acetyl--D-glucosaminidaseyang
kadar kreatinin adalah bermakna (p=0,020) abnormal18.
dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0,244. Besi berlebih akan menjadi sumber
Hal ini menunjukkan ada korelasi positif stress oksidatif dan katalisator yang
dengan kekuatan korelasi yang lemah. menyebabkan peroksidasi lipid sehingga dapat
mengakibatkankerusakan jaringan dan
Tabel 3. Korelasi kadar ferritin dengan tes fungsi 7
disfungsi ginjal . Gangguan fungsi ginjal pada
ginjal
pasien talasemia bisa terjadi pada glomerulus
Tes Kadar Ferritin atau tubulus ginjal, namun kelainan patologi
Fungsi p* Koefisien pada tubulus paling banyak dijumpai pada
Ginjal Korelasi biopsi ginjal19. Kerusakan tubulus ginjal pada
Ureum 0,365 0,097 pasien talasemia beta mayor dapat terjadi
Kreatinin 0,020 0,244
karena berbagai faktor, tetapi kelebihan besi
* hasil uji korelasi Spearman dan anemia kronik merupakan faktor penyebab
utama, tetapi mekanismenya masih belum jelas
4. Pembahasan 19
.
Dalam penelitian ini didapatkan kadar
Kelebihan besi pada pasien talasemia terjadi
ureum terendah 4 ng/mL dan kadar ureum
akibat transfusi darahyang rutin dilakukan
tertinggi 46 ng/mL dengan kadar ureum rerata
karena dalam satu kantong mengandung kira-
19 ng/ml.Kadar ureum pada penelitian ini
kira 250 mg besi, sementara normalnya tubuh
tidak meningkat secara signifikan
hanya bisa mengeksresi besi tidak lebih dari 1
kemungkinan karena pasien yang menjadi
mg per hari. Hal ini akan menyebabkan
sampel penelitian belum mengalami gangguan
penimbunan besi yang progresif di jaringan
fungsi ginjal. Namun, sebanyak 25 pasien
berbagai organ dan kerusakan organ 1.
mengalami penurunan kadar ureum dari batas
Dalam penelitian ini didapatkan kadar
normal (16,6-48,5). Hasil penelitian Kalman
ferritin terendah 38 ng/mL dan kadar ferritin
juga menunjukkan terdapat penurunan kadar
tertinggi 12345 ng/mL dengan kadar
ureum pada pasien talasemia20. Hal ini
ferritinrerata 2445,5 ng/mL sedangkan pada
mungkin saja berhubungan dengan insufisiensi Mansi21.Begitupun penelitian Ali mengatakan
asupan protein dari diet pada malnutrisi, pasien talasemia masih memiliki GFR yang
penyakit hati, fase lanjut dari keadaan normal18. Kadar ureum dapat dikatakan
kelaparan, konsumsi alkohol yang berlebih, sebagai tanda kerusakan ginjal apabila disertai
pemberian cairan intravena yang berlebih. pemeriksaan urin dengan hasil ureum diatas
Namun, penelitian Younus mendapatkan nilai normal dan harus didukung dengan
terjadi peningkatan kadar ureum pada pasien diagnosa klinis 22.
talasemia16. Sementara itu, hasil uji korelasi kadar
Dalam penelitian ini didapatkan kadar ferritin dengan kadar kreatinin menunjukkan
kreatinin terendah 0,16 mg/mL dan kadar hasil bermakna dengan nilai p=,020 (p<0,05).
kreatinin tertinggi 0,71 mg/mL dengan kadar Hasil penelitian Mansimenyatakan kadar
kreatinin rerata 0,37 mg/mL sedangkan pada kreatinin bisa menjadi salah satu parameter
penelitian Eko (2013) didapatkan distribusi yang peka untuk menilai gangguan yang
kadar kreatinin terendah 0,20 mg/mL dan nilai terjadi pada ginjal21. Kelebihan besi akan
tertinggi 0,50 mg/mL dengan rerata 0,30 berdisosiasi dalam suasana asam dalam
mg/mL. Dari hasil pengolahan data didapatkan tubulus proksimal. Besi tersebut akan
55 orang mengalami penurunan kadar berikatan dengan transferin dalam tubulus dan
kreatinin serta 1 orang memiliki kadar dilepaskan dalam sitosom. Selanjutnya,
kreatinin yang meningkat. Pada penelitian terbentuk besi bebas yang reaktif dalam
Younus (2012) dan Kalman didapatkan terjadi sitoplasma dan terbentuk spesies oksigen
penurunan kadar kreatinin pada pasien reaktif. Akibatnya terjadi kerusakan brush
talasemia20. Namun, pada penelitian Mansi border dan membran tubulus ginjal sehingga
dan Fathi mengatakan terdapat peningkatan terjadi jejas sel19. Selain itu, anemia kronik
kadar kreatinin pada pasien talasemia15,21. yang terjadi pada pasien talasemia juga
Kadar kreatinin menurun dapat ditemukan berkontribusi terhadap stres oksidatif yang
pada keadaan:pada orang yang massa ototnya mengakibatkan peroksidasi lipid dan
23
berkurang misalnya karena malnutrisi dan abnormalitas fungsi sel tubulus . Hal ini
penyakit otot lanjut.Kadar kreatinin dapat didukung oleh Sumboonnanonda yang
meningkat pada keadaan:penurunan kliren menyatakan terdapat korelasi antara
kreatinin dan penurunan laju filtrasi pada gagal abnormalitas tubulus ginjal dengan anemia
ginjal, pelepasan kreatinin dari otot dalam kronik yang dialami pasien talasemia7.
jumlah yang banyak, asupan makanan daging Kelebihan besi yang terjadi pada
matang (well cooked) dalam jumlah banyak subjek penelitian ini belum menyebabkan
dan pengaruh obat-obatan misalnya beberapa kerusakan ginjal yang signifikan mengingat
jenis antibiotik (trimethoprim), probenesid dan kerusakan ginjal merupakan fase terminal dari
h-2 blocker. semua organ, tetapi mungkin saja kelebihan
Setelah dilakukan uji korelasi besi akibat transfusi dan atau penggunaan
Spearman didapatkan kadar ferritin dengan kelasi besi pada pasien talasemia beta mayor
kadar ureum menunjukkan hasil tidak telah menyebabkan gangguan pada organ
bermakna dengan nilai p = 0,365 (p>0,05). Hal lainnya seperti pada jantung, hati, pankreas,
ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang limpa dan kelenjar endokrin sehingga jarang
dilakukan oleh Utami yang menyatakan bahwa sekali ditemukan pasien yang mengalami
tidak terdapat hubungan kadar ferritin dengan gangguan ginjal 10.. Toksisitas pada jantung
kadar ureum14. Menurut hasil penelitian Fathi juga menjadi penyebab utama kematian akibat
serum urea tetap dalam batas normal kelebihan besi pada pasien talasemia 21.
menandakan tidak adanya gangguan signifikan Kelebihan penelitian ini yakni
fungsi filtrasi glomerulus pada pasien penelitian pertama tentang korelasi kadar
talasemia15. Hal ini juga didukung penelitian feritin dengan hasil tes fungsi ginjal pada
pasien talasemia beta mayor di RSUP Dr. 3. Sofro, A.S.M. 1995. Molecular
Mohammad Hoesin Palembang sehingga pathology of thalassemia in
diharapkan penelitian ini dapat menjadi Indonesia. Southeast Asian Journal of
sumber informasi baru. Tropical Medical Public Health 26:
Keterbatasan penelitian ini adalah tidak 221-4.
dikendalikannya faktor perancu. Faktor 4. Safyudin. 2003. Nilai hematologi dan
perancu yang dimaksud diantaranya analisa hemoglobin: Suatu prediksi
penggunaan jenis terapi kelasi besi, lamanya jenis mutasi talasemia pada populasi
penggunaan terapi kelasi besi, lamanya melayu di Sumatera Selatan. Tesis:
transfusi, profil pertumbuhan, BMI (Body Universitas Indonesia
Mass Index) dan kelebihan besi akibat faktor 5. Kumar, V., Ramzi, S., Cotran, R. S.,
nutrisi. Selain itu, penggunaan rancangan dan Robbins, S. 2003. Robbinss
cross sectional mengakibatkan hasil korelasi Basic Pathology (edisi ke-7).
faktor risiko dengan faktor efek paling lemah Terjemahan oleh: Asroruddin, M.
dibandingkan dengan case control dan cohort Huriawati, H. dan Nurwani, D. (Editor).
24
. Jakarta: Indonesia. EGC. hal. 452-455
6. Ikram, Nadeem, Khalid Hassan,
5. Kesimpulan Muhammad Younas & Samina Amanat.
2004. Ferritin levels in patients of beta
1. Tidak ada korelasi antara kadar ferritin thalassaemia major. International
dengan ureum pada pasien talasemia - Journal of Pathology, vol.2, no.2, pp:
Mayor 71-74.
2. Ada korelasi lemah kadar ferritin dengan 7. Sumboonnanonda, A., Malasit, P.,
kreatinin pada pasien talasemia -Mayor Tanphaichitr, V. S., Petrarat, S. O. &
Vongjirad, A. 2003. Renal tubular
dysfunction in alpha-thalassemia,
Ucapan Terima Kasih Pediatric Nephrology, 18: 257260
8. Mallat, Naji S., Samir G. Mallat,
Terima kasih kepada semua pihak yang telah Khaled M. Musallam & Ali T.Taher.
berkontribusi dalammemberikan bantuan, 2013. Potential mechanisms for renal
bimbingan dan arahan terhadap penelitian ini. damage in beta-thalassemia. Jounals of
Nephrology, vol.26, no.5, pp: 821-828
Daftar Acuan
9. Bakr, Ashraf., Youssef Al-Tonbary,
Ghada Osman, and Rasha El-Ashry.
1. Atmakusuma, D, Iswari, S. 2009a.
2014. Renal complications of beta-
Dasar-dasar Talasemia Salah Satu
thalassemia major in children.
Jenis Hemoglobinopati. Terjemahan
American Journal of Blood Res, vol.4,
oleh: Sudoyo, A. W, B. Setyohadi, I.
no.1, pp: 1-6
Alwi, M.S.K, S. Setiati., (Editor), Buku
10. Wirawan, Riadi. Simon Kusnandar.
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,
Abas Suherli. & Djajadiman Gatot.
Edisi V. Jakarta: Indonesia. Interna
2003. Renal impairment in
Publishing.
thalassemia major patients receiving
2. Weatherall, DJ. & Clegg, J.B. 2001.
repeated blood transfusion. Vol 12, No
Inherited Haemoglobin Disorders: An
4.
Increasing Global Health Problem.
11. Hamed, Enas A,. and Nagla T
Public Health Reviews. Bulletin of the
ElMelegy. 2010. Renal functions in
World Health Organization 79: 704
pediatric patients with beta-thalassemia
712.
major: Relation to chelation therapy:
Original prospective study. Italian Penyandang Talasemia Mayor setelah
Journal of Pediatrics, vol.36, no.39, Pemberian Kelator Besi Deferiprone
pp:1-10. dan Deferoxamin. Majalah Kedokteran
12. Koren G, Kochavi-Atiya Y, Bentur Y& Indonesia. 60(11):513-515
Olivieri NF, 1991. The effects of 18. Ali, Ahmadzadeh., Amir Jalali. And
subcutaneous deferoxamine Siedeh Asar. 2011. Renal Tubular
administration on renal function Dysfunction in Pediatric Patients with
inthalassemia major. Int J Hematol, Beta-thalassemia Major. Saudi J
54:371-375. Kidney Dis Transpl2011;22(3):497-
13. Cianciulli, P., Sollecito D, Sorrentino F, 500,
Forte L, Gilardi E, Massa A, Papa G, 19. Musallam, Khaled., and Ali Taher.
andCarta S. 1994. Early detection of 2012. Mechanisms of Renal Disease in
nephrotoxic effects in thalassemic b-Thalassemia. J Am Soc Nephrol 23:
patientsreceiving desferrioxamine 12991302,
therapy. Kidney Int , 46:467-470. 20. Kalman S, Atay AA, Sakallioglu O,
14. Utami, Eko Ratna Dewi. 2013. Ozgurtas T, Gok F, Kurt I (2005).
Hubungan antara kadar ferritin dengan Renal tubular function in children with
kreatinin serum pada pasien thalasemia beta-thalassemia minor. Nephrology
di RSUD Dr. Moewardi. Skripsi. FK 10:427429,
Universitas Sebelas Maret Surakarta. 21. Mansi, Kamal., Talal Aburjai,
15. Fathi, Fatimah Haitham,. Yusra Ahmed Mohammed AlBashtawy & Muna
Hussein Alhially, and Ahmed Yahya Abdel-Dayem. 2013. Biochemical
Dallal Bashi. 2013. Evaluation of factors relevant to kidney functions
conventional renal function test in among jordanian children with beta-
patients with -thalassemia major using thalassemia major treated with
deferasirox. Malaysian Journal of deferoxamine. Academic Journals,
Pharmaceutical Sciences, vol.11, no.2, vol.5, no.8, pp: 374-379.
pp: 1-9, 22. Satriana, 2008. Studi Kadar Ureum dan
16. Younus, Zaid Muwafaq, Yusra Ahmed Kreatinin Serum Darah Anjing
Hussein Alhially & Ahmed Yahya Kampung (Canis familiaris) Umur 3
Dallal Bashi. 2012. Evaluation of dan 6 bulan. Skripsi. Bogor : Institut
conventional renal function test in Pertanian Bogor.
thalassemia major patients in nineveh 23. Fibach RA, Rachmilewitz E. The role
province. Tikrit Journal of of oxidative stress in hemolytic anemia.
Pharmaceutical Sciences, vol.8, no.1, Curr Mol Med 2008;42:824-9.
pp: 6-14, 24. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi
17. Ismail, Y., Lelani, R., Dany, H., (2010). Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Perbedaan Kadar Ferritin Serum Anak Cipta