Anda di halaman 1dari 5

Langkah-langkah diagnose

1. Anamnesis
Bila ada gangguan pendengaran, perlu ditanyakan apakah keluhan tersebut pada
satu atau kedua terlinga,timbul tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap dan
sudah berpa lama diderita. Adakah riwayat trauma kepala, telinga tertampar,
trauma akustik, terpajan bising, pemakaian obat ototoksik sebelumnya pernah
menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis,influenza berat dan meningitis.
Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi sehingga terdapat gangguan
bicara dan komunikasi. Pada orang dewasa tua perlu ditanyakan apakah gangguan
ini lebih terasa ditempat yang bising atau lebih tenang.
Keluhan rasa berputar (vertigo), perlu ditanyakan apakah keluhan ini timbul pada
posisi kepala tertentu dan berkutang bila pasien berbaring dan akan timbul lagi
bila bangun dengan gerakan yang cepat.
Keluhan telinga berbunyi (tinitus), dapat berupa suara berdengung atau
berdenging,yang dirasakan dikepala atau ditelinga, pada satu sisi atau kedua
telinga. Apakah tinnitus ini disertai gangguan pendengaran atau keluhan pusing
berputar.
Bila ada keluhan nyeri di dalam teling (otalgia), perlu ditanyakan apakah pada
telinga kiri atau kanan dan sudah berapa lama. Apakah terdapat secret, apakah
secret ini keluar dari satu atau kedua telinga, disertai rasa nyeri atau tidak dan
sudah berapa lama.
2. Pemeriksaan fisik
Melakukan inspeksi dan palpasi telinga luar:
Pasien dipersilahkan duduk di kursi periksa.
Pemeriksa duduk di samping pasien dengan posisi mata pemeriksa setinggi
telinga pasien yang akan diperiksa.
Pemeriksa menggunakan lampu kepala. Pemeriksaan telinga dilakukan satu per
satu, dimulai dari telinga kanan.
Arahkan lampu kepala ke arah telinga yang akan diperiksa.
Daun telinga yang normal diliputi oleh kulit yang halus, tanpa adanya kemerahan
atau bengkak.
Bila didapatkan kelainan seperti diatas, pemeriksa mempalpasi daerah kemerahan
tersebut dengan punggung jari tangan untuk menilai apakah area tersebut lebih
hangat dibandingkan dengan kulit sekitarnya.
Bila terdapat bengkak, maka pemeriksa menggunakan jempol dan telunjukknya
untuk menilai konsistensi dan batas benjolan. Saat melakukan pemeriksaan ini,
amati wajah pasien untuk menilai adanya nyeri.
Bila didapatkan anting atau pearcing di daun telinga atu liang telinga, palpasi
juga area tersebut.
Pemeriksa kemudian menginspeksi meatus auditorius eksternal. Normalnya
bersih atau mungkin didapatkan sedikit serumen berwarna kuning kecoklatan.
Nilai pula adakah cairan atau pus yang keluar dari liang telinga.
Pemeriksa kemudian menekan tragus dan tanyakan kepada pasien apakah
terdapat nyeri.
Pegang puncak daun telinga pasien dengan jempol dan jari telunjuk dan tarik ke
arah postero superior. Saat melakukan manuver ini bagian frontal meatus
auditorius menjadi lebih mudah untuk diinspeksi.
Nilai meatus auditorius. Kadang terdapat sedikit rambut, serumen kuning
kecoklatan. Perhatikan bila ditemukan pembengkakan, kemerahan, atau terdapat
lapisan selain serumen pada liang telinga.
Tidak seperti pada pasien dewasa, pada anak, daun telinga ditarik ke arah
anteroinferior untuk melihat meatus auditorius , karena adanya perbedaan
anatominya.

Inspeksi dan palpasi prosesus mastoideus:

Pertama-tama pemeriksa menentukan letak prosesus mastoideus. Lokasinya


berada di belakang daun telinga, sedikit ke arah atas.
Saat inspeksi, nilai warna kulit yang diatas prosesus mastoideus. Perhatikan
adanya kemerahan pada area tersebut.
Palpasi prosesus mastoideus. Nilai adanya pembengkakan atau benjolan. Bila ada,
periksa apakah benjolan tersebut mobile atau melekat pada dasarnya.
Bila didapatkan kelainan, periksa juga suhu dan bandingkan dengan kulit
sekitarnya.

Pemeriksaan meatus auditorius externus dan membran timpani dengan otoskop:

Posisi pasien dan pemeriksa seperti pada prosedur sebelumnya.


Ambil otoskop dan pasang spekulum telinga dengan ukuran yang sesuai dengan
telinga pasien. Pastikan lampu otoskop menyala.
Saat memeriksa telinga kanan, pemeriksa memegang aurikula pasien dengan
tangan kanan dan menariknya ke arah posterosuperior, sedangkan tangan kiri
pemeriksa memegang otoskop. Pegang otoskop seperti memegang pinsil.
Agar posisi tangan pemeriksa yang memegang otoskop stabil, tempelkan tangan
di pipi pasien.
Saat ujung spekulum berada di depan meatus auditorius, pemeriksa melihat
melalui lensa dan dengan hati-hati memasukkan spekulum ke dalam meatus
auditorius sehingga membuat pasien merasa nyaman.
Nilai permukaan kulit pada meatus auditorius, nilai adakah kemerahan. Mungkin
liang telinga dapat tertutup oleh serumen yang menumpuk atau telah mengeras.
Apabila terlihat adanya pus, periksa apakah pus tersebut berasal dari dinding
meatus auditorius atau dari struktur lain yang terletak jauh didalam liang telinga.
Pada akhir meatus auditorius, pemeriksa dapat melihat membran timpani. Daerah
membran timpani yang dapat terlihat melalui otoskop sekitar seperempat bagian
dari seluruh permukaan membran timpani, oleh karena itu pemeriksa harus
menggerakkan otoskop secara hati-hati untuk dapat mengeksplor sehingga
seluruh permukaan membran dapat dinilai.
Saat memeriksa membran timpani, pertama-tama pemeriksa menginspeksi
pantulan cahaya. Karena membran timpani merupakan suatu struktur berbentuk
kerucut, maka saat di sorot cahaya dari sudut yang miring, pantulannya berupa
bentuk segitiga. Semakin mengerucut membran timpani, maka pantulan cahaya
semakin menyempit, semakin datar membran timpani, pantulan cahayanya
semakin lebar.
Lebar dari pantulan cahaya memberikan informasi mengenai posisi membran
timpani. Hal ini penting untuk mengetahui proses yang sedang terjadi di dalam
telinga tengah. Apabila tekanan di dalam telinga tengah menurun karena
disfungsi tuba eustachius, maka membran timpani akan tertarik ke dalam
sehingga lebih mengerucut. Apabila terdapat banyak cairan atau pus di dalam
telinga tengah, maka membran timpani akan terdorong lekuar sehingga lebih
datar.
Warna membrn timpani normalnya abu-abu seperti mutiara. Bila terjadi iritasi,
karena inflamasi atau pada anak yang menangis, membran timpani dapat
berwarna kemerahan. Sedangkan pada inflamasi berat, membran timpani dapat
berwarna merah terang.
Apabila terdapat akumulasi cairan didalam kavum timpani, maka membran
timpani dapat berwarna kuning kecoklatan, ungu kebiruan sesuai dengan jenis
cairan di belakangnya (glue ear).
lMembran timpani juga dapat ruptur akibat peningkatan tekanan yang hebat dari
telinga tengah atau akibat kerusakan dari luar (memasukkan benda tajam,
membersihkan telinga dengan benda keras). Hal ini disebut perforasi. Saat terjadi
penyembuhan dapat terbentuk jaringan ikat. Baik perforasi maupun jaringan ikat
ini dapat mempengaruhi getaran gendang telinga sehingga menyebabkan
gangguan pendengaran.
3. Pemeriksaan penunjang
Test Rinne
Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan
hantaran udara pada satu telinga pasien.
Ada 2 macam tes rinne , yaitu :
a) Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus
pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak
mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus
eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes
rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya
b) Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak
lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus
eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus
akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum
mastoid). Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus
lebih keras. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus
eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :
1) Normal : tes rinne positif
2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama)
3) Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :
a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.
b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)
c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang
mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.

Test Weber
Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara
kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala512
Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut pasien,
telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar
atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika
kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak
ada lateralisasi.
Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan
terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani
missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam
cavum timpani ini akan bergetar, biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di
sebelah kanan.
Interpretasi:
a. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke
kanan, disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya.
b. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya:
1) Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah kanan.
2) Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat.
3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu, maka di dengar
sebelah kanan.
4) Tuli persepsi pada kedua teling, tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada
sebelah kanan.
5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat.
Test Swabach
Tujuan :
Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal)
dengan probandus.
Dasar :
Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh :
Getaran yang datang melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya
osteo temporale
Cara Kerja :
Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala
probandus. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah
dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar
suara garputala, maka penguji akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala
orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bagi
pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara, atau tidak
mendengar suara.

Referensi
1. Bickley. Bates Guide to Physical Examination and History Taking 8th Edition. 2002-
08.
2. Duijnhoven, Belle. Skills in Medicine: The Pulmonary Examination. 2009