Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN
1.1.1. Menentukan pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan
1.1.2. Mengukur Laju Pertumbuhan sesuai dengan karakteristik pertumbuhan
tumbuhan, yang dapat digunakan untuk fitoremediasi

1.2 PRINSIP PERCOBAAN


Praktikum Propagasi ini menggunakan suatu tanaman air maupun darat yang akan
diamati pertumbuhan fisiknya dan dihitung total berat basah dan berat kering tumbuhan
dan per bagian tumbuhan.

1.3 DASAR TEORI


Tanaman ciplukan (Physalis angulata L.) merupakan tanaman obat yang belum
banyak diketahui oleh masyarakat dari segi bentuk, manfaat maupun khasiatnya, sehingga
tanaman ciplukan di petani belum ada yang membudidayakannya secara komersial.
Penelitian perbanyakan tanaman ciplukan menjadi hal penting sebagai awal untuk
membudidayakannya secara komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil
perbanyakan tanaman ciplukan secara generatif dan vegetatif. Penelitian pada cara
vegetatif ini dilaksanakan di Kebun Jurusan Agroteknologi Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung sejak bulan Mei Juni 2014, pada cara generatif
dilakukan di Rajawali Timur Gang Dunguscariang Andir Bandung sejak bulan Juni Juli
2014. Metode yang digunakan dengan cara eksperimental antara lain Cianjur, Garut, dan
Bandung. Metode pertama menggunakan cara generatif yaitu dengan membuat benih
sendiri dan uji viabilitas benih, metode kedua menggunakan vegetatif yaitu dengan cara
stek runduk. Hasil penelitian menunjukan bahwa cara generatif yaitu warna cangkap
benih berpengaruh terhadap persentase kecambah normal. Kecambah normal tertinggi
pada cangkap kuning sebanyak 11,42%, agak kuning 6% dan cangkap kering 0%,
sedangkan hasil penelitian pada cara vegetatif, tanaman ciplukan dapat diperbanyak
dengan cara vegetatif yaitu dengan cara stek runduk. Tanaman ciplukan dapat
diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif.
(Chaidir, 2015)

Jati (Tectona grandis) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil kayu
pertukangan yang penting dan populer di Indonesia. Kebutuhan kayu jati terus meningkat
namun belum dapat dipenuhi dari produksi kayu dari hutan tanaman industri. Alternatif
pemenuhan kebutuhan kayu tersebut diperoleh dari hutan rakyat. Dalam rangka
peningkatan produktivitas hasil hutan rakyat maka IPTEK penyediaan bibit unggul sangat
diperlukan. Penyediaan bibit unggul yang diperoleh dari benih unggul memerlukan waktu
untuk melakukan seleksi pada plot uji keturunan, sehingga pengembangan teknik
perbanyakan vegetatif yang tepat adalah solusi yang bisa diterapkan. Strategi yang
diperlukan dalam penerapan teknik perbanyakan vegetatif diawali dengan pemilihan
pohon induk yang baik (pohon superior), pengambilan materi genetik (bahan vegetatif
tanaman), pembuatan okulasi, pembangunan kebun pangkas, dan produksi bibit secara
masal dengan menerapkan teknik stek pucuk atau kultur jaringan. Melalui uji klon
diharapkan dapat diperoleh klon-klon unggulan yang adaptif pada lokasi pengembangan
serta memiliki produktivitas yang lebih baik.
(Adinugraha dan Mahfuz, 2014)

Dendrobium anosmum merupakan salah satu anggrek alam di Indonesia. Optimasi


komposisi media untuk perbanyakan anggrek melalui kultur in vitro diperlukan untuk
meningkatkan kemampuan multiplikasi maupun kualitas bibit. Penelitian ini bertujuan
untuk mempelajari pengaruh tingkat konsentrasi air kelapa terhadap pertumbuhan dan
perkembangan spesies anggrek D. anosmum dan untuk mendapatkan konsentrasi air
kelapa yang optimal dalam media. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap
dengan empat taraf perlakuan dan delapan ulangan. Perlakuan terdiri atas penambahan air
kelapa dengan konsentrasi: 0 ml.l (kontrol), 50 ml/l, 100 ml/l dan 150 ml/l. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian air kelapa dalam media kultur memberikan
pengaruh yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan dan perbanyakan tunas anggrek D.
anosmum. Konsentrasi air kelapa 100 ml/l merupakan konsentrasi terbaik untuk
pertumbuhan dan perbanyakan anggrek D. Anosmum, dilihat dari pertumbuhan dan
perkembangan tunas dan akar, tinggi dan bobot basah plantlet.
(Tuhuteru dkk, 2012)

Bagian tanaman sawi yang bernilai ekonomis adalah daun maka upaya peningkatan
produksi diusahakn pada peningkatan produk vegetatif untuk mendukung upaya tersebut
dilakukan pemupukan. Tanaman sawi memerlukan unsur hara yang cukup dan tersedia
bagi pertumbuhan dan perkembangannya untuk menghasilkan produksi yang maksimal.
Salah satu unsur hara yang sangat berperan pada pertumbuhan daun adalah Nitrogen.
Nitrogen ini berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif, sehingga daun
tanaman menjadi lebih lebar, berwarna lebih hijau dan lebih berkualitas.
(Erawan dkk, 2013)
Tanaman Kedelai (Glycine max. L) adalah tanaman pangan yang penting terkait
kandungan nutrisinya, terutama kandungan protein yang tinggi. Kebutuhan yang
meningkat tidak diimbangi dengan peningkatan produksinya. Salah satunya karena
pengaruh faktor cekaman genangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
pengaruh cekaman genangan terhadap pertumbuhan tanaman kedelai dan profil protein
pada kondisi stres genangan. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Kelompok (RAK) satu faktorial pada taraf kepercayaan 95% untuk analisis kuantitatif,
berupa pengamatan pertumbuhan yang meliputi parameter tinggi tanaman, jumlah
cabang, luas daun, berat basah dan berat kering, panjang akar tanaman dan jumlah akar
adventif. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa cekaman genangan mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. hal ini ditunjukkan dengan adanya penurunan pada beberapa
parameter pertumbuhan. Penurunan paling signifikan terjadi pada perlakuan cekaman
genangan dengan konsentrasi genangan 200%. Secara berturut-turut, untuk parameter
luas daun, berat basah dan berat kering serta panjang akar tanaman sebesar 15.99 cm2,
3.16 g, 0.59 g, 15.38 cm. Parameter akar adventif mengalami peningkatan seiring dengan
peningkatan konsentrasi cekaman. Peningkatan jumlah akar adventif tertinggi terjadi pada
genangan 200% dengan nilai tertinggi 18,00.
(Eka dan Triono, 2016)

Biomassa merupakan bahan-bahan organik berumur relatif muda dan berasal dari
tumbuhan, hewan, produk dan limbah industri budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan,
peternakan, perikanan).Unsur utama dari biomassa adalah bermacam-macam zat kimia
(molekul) yang sebagian besar mengandung atom karbon (C).Biomassa secara garis besar
tersusun dari selulosa dan lignin (sering disebut lignin selulosa). Komposisi elementer
biomassa bebas abu dan bebas air kira-kira 53% massa karbon, 6% hidrogen dan 42%
oksigen, serta sedikit nitrogen, fosfor dan belerang (biasanya masing-masing kurang dari
1%). Kadar abu kayu biasanya kurang dari 1%.

(Arni et all, 2014)

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Curcuma zedoaria L.) dipengaruhi oleh


dua faktor, yakni faktor dalam dan luar tanaman. Faktor dalam sering digambarkan sebagai
kemampuan genetis yang dimiliki oleh suatu tanaman. Faktor luar adalah faktor yang berasal
dari luar tanaman, seperti faktor lingkungan. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman erat
hubungannya dengan kedua faktor tersebut, apabila salah satu atau semua faktor tidak
mendukung maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak dapat berjalan dengan baik
sehingga menurunkan produksi tanaman. Upaya untuk meningkatkan produksi tanaman
sudah banyak dilakukan, seperti pemupukan dan aplikasi zat pengatur tumbuh.

(Buntoro et all, 2014)

Ketersediaan unsur hara yang cukup dan seimbang dapat mempengaruhi proses
metabolisme pada jaringan tanaman dan pembongkaran unsur-unsur dan senyawa-senyawa
organik dalam tubuh tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya(Darmawan
&Baharsyah,1983). Widodo (1996) menambahkan bahwa bila perakaran berkembang baik
dan didukung oleh bahan organik dalam tanah yang cukup maka tanaman akan tumbuh dan
berkembang dengan baik pada fase vegetatif maupun generatif.

(Hayati et all, 2012)

Dalam proses pertumbuhan tanaman sangat membutuhkan air, baik untuk kebutuhan
menjaga turgiditas sel maupun untuk melangsungkan metabolisme, khususnya untuk
fotosintesis. Proses fotosintesis membutuhkan air sebagai bahan baku dalam pembentukan
fotosintat, khususnya karbohidrat, dimana CO2 + H2O dengan bantuan cahaya akan
membentuk C6H12O6. Air terutama dibutuhkan pada fase cahaya sebagai sumber electron
untuk membentuk energy kimia dalam bentuk NADPH2 dan ATP. Energi kimia tersebut akan
digunakan untuk mereduksi CO dalam fase gelap untuk menghasilkan C6H12O6+ O2. Jika
tanaman mengalami cekaman air, maka laju fotosintesis terus menurun karena tidak mampu
membentuk NADPH2 dan ATP yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energy dalam
mereduksi CO (Sarawa, 2009). Kekurangan air merupakan salah satu faktor abiotik yang
dapat menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman (Ghannoun, 2009). Peningkatan
ketahanan tanaman terhadap kekeringan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan
produksi tanaman dan menciptakan pertanian yang berkelanjutan (Xiong et. al., 2006).
Frekuensi irigasi merupakan salah satu faktor penting dalam pengelolaan air dalam rangka
peningkatan produksi tanaman (Abdirahman et al. 2014).
(Sarawa et all, 2014)

Syarat lain kangkung dapat tumbuh di berbagai jenis / tipe tanah (tidak terpengaruh
kemasaman tanah) dan perairan tawar seperti sungai, danau, aliran air, kolam, maupun sawah.
Tumbuh yang optimal pada ketinggian 1-2.000 m dpl (dataran rendah-tinggi), curah hujan
500-5.000 mm/tahun, gembur dan subur.
(Priyono dan Sarwono, 2015)

Perlakuan penyiraman memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi


tanaman. Hasil uji lanjut anova menunjukkan bahwa penyiraman leri satu hari sekali lebih
berpengaruh. Unsur hara dan ketersediaan air yang dibutuhkan oleh tanaman lebih tercukupi
pada perlakuan penyiraman setiap hari.Interaksi antara dua perlakuan tidak berpengaruh
terhadap pertumbuhan tinggi tanaman bayam merah. Tanaman membutuhkan unsur hara yang
optimum untuk pertumbuhannya, unsur hara yang diperoleh dari pupuk kandang dan juga leri
memungkinkan kondisi yang maksimal sehingga unsur ini justru bersifat racun. pemupukan
yang tidak tepat, baik dari segi jenis, jumlah, cara pemberian, dan waktu pemberian dapat
mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

(Bukhori,2013)

Setiap tumbuhan memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan
perkembangannya. Kondisi lingkungan tempat tumbuhan berada selalu mengalami
perubahan. Perubahan yang terjadi mungkin saja masih berada dalam batas toleransi
tumbuhan tersebut, tetapi seringkali terjadi perubahan lingkungan yang dapat menyebabkan
penurunan produktivitas atau bahkan kematian pada tumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa
setiap tumbuhan memiliki faktor pembatas dan daya toleransi terhadap lingkungan.

(Purwadi, 2011)

Pengukuran biomassa dapat memberikan informasi tentang nutrisi dan persediaan


karbon dalam vegetasi dan lahan secara keseluruhan. Pada penelitian ini, penentuan biomassa
dilakukan dengan mengukur berat kering oven yang dinyatakan dalam ton/ha. Massa karbon
tersebut berasal dari unsur karbon yang diserap oleh vegetasi/pohon dari CO2 di udara
melalui proses reaksi biokimia yang dikenal dengan proses fotosintesis.

(Ariani,2014)

Laju pertumbuhan tanaman yaitu bertambahnya berat dalam komunitas tanaman


persatuan luas tanah dalam satuan waktu, digunakan secara luas dalam analisis pertumbuhan
tanaman budidaya yang ada di lapangan. Jumlah anakan dipengaruhi oleh jarak tanam,
cahaya, pasokan hara, dan faktor lingkungan lain serta kondisi kultur yang mempengaruhi
anakan. Pembentukan anakan akan berhenti apabila kandungan N dalam helaian daun
menjadi 2 %, P 0,03 % dan K 0,5 %. Laju pembentukan anakan meningkat secara linier
dengan meningkatnya kandungan N sampai 5 %, P sampai 0,2 % k sampai 1,5 % diatas nilai
tersebut tidak berpengaruh terhadap pembentukan anakan.

(Mungara, 2013)

Perkembangan tanaman meliputi pertumbuhan dan diferensiasi. Masa pertumbuhan


merupakan perubahan jumlah yang terjadi selama perkembangan dan bersifat irreversibel
atau tidak dapat balik. Pertumbuhan berarti penambahan ukuran karena organisme multisel
tumbuh dari zigot, penambahan itu bukan hanya dalam volume, tetapi juga dalam bobot,
jumlah sel, banyaknya protoplasma dan tingkat kerumitan. Penambahan volume (ukuran)
sering ditentukan dengan cara mengukur pembesaran kesatu atau dua arah, seperti panjang
(misalnya tinggi batang), diameter (misalnya diameter batang), atau luas (misalnya luas
daun ).

(Varun, 2010)

Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat penting dan diperlukan dalam
jumlah banyak untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sekitar 85-90 % dari bobot
segar sel-sel dan jaringan tanaman tinggi adalah. Air berfungsi sebagai pelarut hara, penyusun
protoplasma, bahan baku fotosintesis dan lain sebagainya. Kekurangan air pada jaringan
tanaman dapat menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta
mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman. Mengingat
pentingnya peran air tersebut, maka untuk tanaman yang mengalami kekurangan air dapat
berakibat pada terganggunya proses metabolisme tanaman yang pada akhirnya berpengaruh
pada laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
( Kurniawan
2014)

Pengolahan tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi tanaman karena dapat menciptakan struktur tanah yang remah, aerase tanah yang
baik dan menghambat pertumbuhan tanaman pengganggu. Perbedaan cara pengolahan tanah
akan mempengaruhi kesuburan tanah sehingga akan berpengaruh juga terhadap pertumbuhan
dan hasil kedelai. Perlu tidaknya tanah diolah dapat dipengaruhi oleh tingkat kepadatan dan
aerasi. Pada tingkat kepadatan yang tinggi akibat tidak pernah diolah mengakibatkan
pertumbuhan akar terbatas, sehingga zona serapan akar menjadi sempit.
( Ohorella, 2011)

Berat kering tajuk bergantung pada panjang batang dan juga jumlah daun. Semakin
banyak jumlah daun dan panjangnya batang, maka akan semakin besar juga berat kering
tajuk. Berat kering Tajuk tanaman tersebut ditimbang dengan menggunakan neraca analitik.
Berat kering tajuk menunjukkan efisiensi hasil fotosintesis sehingga semakin besar fotosintat
yang diperoleh, maka semakin besar juga berat kering yang dihasilkan oleh tanaman.
Kelangsungan simbiosis antara tanaman dan mikoriza akan berpengaruh terhadap proses
proses metabolisme tanaman seperti pada peristiwa fotosintesis akan berlangsung secara
maksimal dan mencukupi untuk digunakan pada proses pertumbuhan.

(Wahyu,2013)

Semakin cepat pertumbuhan dan semakin tinggi kerapatan (berat jenis) biomassa
(kayu) yang dihasilkan, semakin tinggi pula kemampuan tanaman tersebut dalam menyerap
karbon. Selain benih, keadaan tempat tumbuh juga merupakan penentu terpenting bagi laju
pertumbuhan dan sifat-sifat kayu yang dihasilkan. Jarak tanam dan adanya tumbuhan di
sekelilingnya menentukan tingkat persaingan bagi elemen pertumbuhan yang kritis seperti
nutrien, air, dan sinar matahari. Jika persaingannya ringan, tajuk dan sistem perakarannya
dapat berkembang dengan sempurna karena elemen kritisnya bukan merupakan pembatas dan
keadaan yang sebaliknya juga terjadi
(Marsoem, 3013)
Kekurangan air mempengaruhi semua aspek pertumbuhan tanaman, yang meliputi proses
fisiologi, biokimia, anatomi dan morfologi. Pada saat kekurangan air, sebagian stomata daun
menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis.
Selain menghambat aktivitas fotosintesis, kekurangan air juga menghambat sintesis protein
dan dinding sel .Tanaman yang mengalami kekurangan air secara umum mempunyai ukuran
yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal (Kurniasari et al.,
2010). Kekurangan air menyebabkan penurunan hasil yang sangat signifikan dan bahkan
menjadi penyebab kematian pada tanaman.

(Song Ail, 2011)


Cekaman kekeringan pada tanaman menunjukkan kekurangan air yang dialami oleh tanaman
akibat keterbatasan air dari lingkungannya, yaitu media tana. Cekaman air pada tanaman
dapat disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran. Di samping itu permintaan
air yang berlebihan oleh daun akibat laju evapotranspirasi melebihi laju absorpsi air
walaupun ketersediaan air tanah cukup juga mengakibatkan cekamn kekeringan. Oleh sebab
itu laju transpirasi, sistem perakaran dan ketersediaan air tanah mempengaruhi serapan air
oleh akar tanaman .Respons tanaman yang mengalami cekaman kekeringan dapat merupakan
perubahan di tingkat selular dan molekular yang ditunjukkan dengan penurunan laju
pertumbuhan, berkurangnya luas daun dan peningkatan rasio akar : tajuk. Tingkat kerugian
tanaman akibat kekeringan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain intensitas
kekeringan yang dialami, lamanya kekeringan dan tahap pertumbuhan saat tanaman
mengalami kekeringan. Jika mengalami kekeringan, dua macam respons tanaman yang dapat
memperbaiki status air adalah (1) mengubah distribusi asimilat baru untuk lebih mendukung
pertumbuhan akar daripada tajuk, sehingga dapat meningkatkan kapasitas akar menyerap air
serta menghambat pertumbuhan tajuk untuk mengurangi transpirasi dan (2) mengatur derajat
pembukaan stomata untuk menghambat hilangnya air melalui transpirasi

(Song Ail, 2011)

Larutan nutrisi sebagai sumber mineral merupakan faktor penting untuk pertumbuhan
tanaman, karena nutrisi digunakan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
nutrisi yang sangat penting bagi tanaman adalah unsur N (nitrogen), P (pospor) dan K
(kalium). Nitrogen berperan dalam pembentukan sel, jaringan, dan organ tanaman . Nitrogen
juga berfungsi sebagai sebagai bahan sintetis klorofil, protein, dan asam amino. Pospor
merupakan komponen penyusun beberapa enzim, protein, Adenosin Triphosphate (ATP),
Ribose Nucleict Acid (RNA), dan Deoxyribose Nucleic Acid (DNA). Pospor juga berperan
pada pertumbuhan benih, akar, bunga, dan buah. Sedangkan unsur kalium memiliki peranan
pada aktifitas stomata, enzim dan untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit
. enceng gondok dapat bertahan hidup di media yang tercemar fenol dan mampu menurunkan
konsentrasi fenol hingga 76% setelah kontak selama 68 jam pada media tanpa penambahan
nutrisi. Dari penelitian ini, diharapkan dengan penambahan nutrisi pada proses fitoremediasi,
maka laju remediasi akan lebih cepat dibandingkan jika tidak ada penambahan nutrisi, karena
nutrisi sangat berperan dalam pembentukan maupun pembaharuan sel-sel jaringan yang rusak
serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap racun.
(Purwaningsih, 2010)

Dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antara tanaman
dengan gulma untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan jarak
tanam. Dengan tingkat kerapatan yang optimum maka akan diperoleh ILD yang optimum
dengan pembentukan bahan kering yang maksimum. Jarak tanam yang rapat akan
meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma karena tajuk tanaman menghambat
pancaran cahaya ke permukaan lahan sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat,
disamping juga laju evaporasi dapat ditekan. Namun pada jarak tanam yang terlalu sempit
mungkin tanaman budidaya akan memberikan hasil yang relatif kurang karena adanya
kompetisi antar tanaman itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan jarak tanam yang optimum
untuk memperoleh hasil yang maksimum.
(Ni Nyoman, 2011)

Selain pemupukan, penggunaan varietas yang tepat akan meningkatkan produksi jagung
manis. Varietas merupakan salah satu di antara banyak faktor yang menentukan dalam
pertumbuhan dan hasil tanaman. Selain faktor lingkungan, penggunaan varietas unggul
merupakan salah satu komponen teknologi yang sangat penting untuk mencapai produksi
yang tinggi. Penggunaan varietas unggul mempunyai kelebihan dibandingkan dengan varietas
lokal dalam hal produksi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit, respons pemupukan
sehingga produksi yang di peroleh baik kuantitas maupun kualitas dapat meningkat

(Nurhayati, 2012)