Anda di halaman 1dari 5

Dinkominfo - Data yang dirilis oleh dr.

Indah salah seorang konsultan dari CV Nindira


sangat mengejutkan, ternyata 69% remaja Kota Surabaya usia 25-29 tahun mulai
terkena proses penularan HIV-AIDS. Mereka tertular virus pada usia SMP dan SMA
bahkan mungkin pada usia SD, mengingat virus tersebut baru terdeteksi 8-10 tahun
kemudian, demikian dikatakan oleh dr. Indah, pada Seminar tentang Pengetahuan
Sikap dan Perilaku Siswa SMU Dalam Upaya Pencegahan HIV-AIDS di Kota Surabaya
yang dilaksanakan oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya di Ruang Pola
Bappeko Kota Surabaya, Kamis (20/8).

Seminar ini diikuti hampir seluruh elemen masyarakat, dan dibuka oleh Asisten
Kesejahteraan Masyarakat Pemkot Surabaya, Ir. Tri Siswanto dengan menghadirkan
narasumber dari CV Nindira (konsultan), Dinas Kesehatan Kota Surabaya serta
Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang kasus HIV-AIDS tertinggi di Jawa
Timur. Data Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2008 menunjukkan kota
Surabaya berada diperingkat pertama dengan 809 kasus, kemudian Kota Malang
571 kasus dan disusul oleh Kabupaten Sidoarjo sebanyak 217 kasus.

Di Kota Surabaya sendiri tak satupun Kecamatan yang lolos dari serangan virus
AIDS. Dan dari seluruh kasus HIV-AIDS yang terjadi di Kota Surabaya kelompok
pertama resiko yang terkena virus, adalah heteroseksual, kedua kelompok IDU
(pengguna jarum suntik), dan ketiga homoseksual.

Dari tahun ke tahun jumlah pengidap HIV-AIDS di Surabaya cenderung meningkat,


itupun banyak ditemukan pada golongan usia produktif dan juga pada ibu rumah
tangga serta bayi/balita. Virus yang menyerang kekebalan tubuh ini ditularkan
melalui hubungan seksual yang tidak sehat.

Seperti melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan, jarum suntik yang
bergantian terutama bagi mereka yang memakai Napza dengan jarum suntik,
transfusi darah, serta bisa juga melalui pemakaian pisau cukur yang bergantian.

Melihat kondisi tersebut, maka Kota Surabaya mencetuskan STOP AIDS! bahu
membahu memerangi virus ini dengan meningkatkan pemahaman kepada seluruh
elemen masyarakat akan bahayanya virus HIV-AIDS. Salah satu upaya yang telah
dilakukan adalah meningkatkan upaya pencegahannya melalui beberapa program
diantaranya promosi kondom 100% pada hubungan seks beresiko.

Serta peningkatan komunikasi, edukasi dan informasi melalui komunikasi publik,


peningkatan pelayanan klinik infeksi menular seksual (IMS), penyediaan darah
donor yang aman, dan pen ingkatan upaya pencegahan dari Ibu HIV kepada
bayinya. (pr)
Dinkominfo Sebagai upaya pencegahan penularan HIV/AIDS dikalangan
masyarakat dengan memberdayakan kaum muda sebagai agen perubahan,
Pemerintah Kota Surabaya melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota
Surabaya bekerjasama dengan PT.Unilever Tbk. Dan LSM Spektra kembali
menyelenggarakan program Surabaya Stop AIDS.

Sebagai bentuk apresiasi bagi Duta Stop AIDS 2009, dihelat Big Bang Surabaya
Stop AIDS, Sabtu (21/11), di GOR Hayam Wuruk Kompleks Kodam V Brawijaya
Surabaya. Pada perhelatan tersebut juga diumumkan pemenang lomba jingle dan
film indie Stop AIDS, performance serta Apresiasi Duta Stop AIDS bersama VJ
Franda.

Program yang telah dijalankan sejak tahun 2008 ini bertujuan memberikan
pengetahuan, pemahaman, dan penyadaran tentang bahaya HIV/AIDS, pola
penyebaran dan penularannya, melalui pendidikan di sekolah (SMP-SMA) dan
posyandu guna mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan
keluarga dan masyarakat. Perhelatan yang digelar untuk kedua kalinya ini, diikuti 19
Duta sekolah dari SMP dan SMA se-Surabaya.

Menurut Wakil Walikota Surabaya, Arif Afandi, upaya pencegahan penyabaran


HIV/AIDS bukan tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga seluruh komponen
masyarakat harus mempunyai kepedulian yang sama terhadap masalah ini.

Terlebih lagi dari data disebutkan bahwa penderita tertinggi ada pada usia
produktif. Program Surabaya Stop AIDS yang menitik beratkan pada remaja
sangatlah tepat, ditambah lagi dengan konsep School Program yang diterapkan,
jelasnya.

Sementara itu, Public Health & Educational Program manager Yayasan Unilever
Indonesia, dr. Leo Indarwahono mengatakan, Program Surabaya Stop AIDS ini
merupakan langkah awal dan baru menyentuh pada lingkup yang sangat terbatas
dibandingkan dengan penduduk Kota Surabaya yang jumlahnya lebih dari 3 juta
jiwa. Harapan kami program ini dapat berlanjut bahkan hingga ke kota-kota lain di
Jawa Timur, tambah dr. Leo.

Program Surabaya Stop AIDS diharapkan mendapatkan dukungan penuh dari


berbagai kalangan, baik pemerintah, swasta hingga media massa sehingga harapan
untuk menekan angka penderita HIV/AIDS di Indonesia dapat tercapai. (tw)
Pemkot Berkomitmen Surabaya Zero HIV/AIDS

2013-04-15 07:00:00 +0700


Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya tegaskan komitmen Pemkot Surabaya membuat Surabaya
kawasan yang zero (nol) HIV/AIDS. Ia memberikan gambaran tentang upaya yang sudah dan
akan terus dilakukan agar jumlah penderita HIV/AIDS di Surabaya bisa zero, salah satunya
dengan mengampanyekan pola hidup sehat. Menurut Risma, keberadaan lokalisasi di Kota
Surabaya menjadi kawasan terdampak HIV/AIDS. HIV/AIDS bisa mengancam 3.132.764 juta
warga Kota Surabaya.

Menurut Risma, jumlah pengidap HIV/AIDS sempat naik. Namun, pihaknya terus mencegah
dampaknya,hingga terjadi penurunan signifikan pada tahun 2011 dan 2012 ini. Jumlah pengidap
HIV/ AIDS dilihat dari jenis pekerjaannya, 126 orang merupakan ibu rumah tangga.
Jumlah terbanyak merupakan pekerja swasta yang mencapai 218 orang. Risma menuturkan, Hal
tersebut terjadi karena lokalisasi di Surabaya menjadi satu dengan kawasan rumah tangga.

Beragam upaya telah dilakukan pemkot untuk menekan jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota
Surabaya hingga angka nol. Salah satunya dengan promosi melalui media massa tentang
pentingnya hidup sehat untuk menghindari HIV/ AIDS. Selain itu, Pemkot juga melakukan
langkah preventif seperti layanan kesehatan melalui pemeriksaan dan pengobatan gratis di
Puskemas.

Inovasi terus dilakukan salah satunya melaluilayanan secara mobile agar warga tak perlu jauh-
jauh ke Puskemas. Upaya kuratif dengan menggelar home care treatment (pengobatan di rumah)
dan pemberian makanan tambahan dan suplemen kepada pengidap HIV/AIDS. Tri Rismaharini
beberapa kali berkunjung ke sekolah-sekolah mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS kepada
siswa-siswi.

Lima belas ribu class leader (ketua kelas) ditunjuk melakukan pemantauan teman-teman
sekelasnya. Termasuk menjadi teman curhat dengan didampingi psikolog dari beberapa
universitas. Walikota menambahkan, survey terus dilakukan pada kelompok berisiko tinggi
bersama LSM dan dinas terkait. Pihaknya berharap dapat memantau secara berkesinambungan.
Tiap Bulan Muncul 50 Pasien Baru HIV/AIDS di Surabaya

Suara.com - Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD dr Soetomo
Surabaya menemukan 50 penderita HIV/AIDS per bulan, baik penderita baru maupun penderita
lama yang baru diketahui.

"Selama tiga tahun ini, kami mendata sekitar 50 pasien HIV/AIDS yang ditemukan setiap bulan,"
kata Kepala UPIPI RSUD dr. Soetomo, Dr. Erwin Astha Triyono, SpPD, KPTI, FINASIM ketika
ditemui di RSUD dr. Soetomo Surabaya, Selasa.

Data tersebut, menurut dia, sangat membantu tim medis mencegah penyebaran penyakit
HIV/AIDS tersebut dengan intervensi pengobatan yang akan dilakukan oleh tim medis.

"Jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu, ketika ditemukan penderita HIV/AIDS, maka
penderita akan dibiarkan saja dan hanya dijadikan data, sedangkan pada saat ini sudah ada
pendampingan dari tim medis dan upaya penanganan pelayanan bagi mereka," ujarnya.

Ia mengatakan ada sekitar 1.780 pasien yang rutin berobat di UPIPI, sedangkan jumlah
pengunjung setiap bulannya mencapai 2.000 orang, yakni 50 di antaranya adalah pasien anak-
anak dan sisanya dewasa.

"Kebanyakan pasien berumur antara 20 hingga 30 tahun dari berbagai wilayah yang tersebari di
Jatim, seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jember, maupun Pasuruan," tuturnya.

Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), lanjutnya, akan mendapatkan pengobatan antiretroviral


(ARV) yang bisa menurunkan beban epidemi pada masyarakat dengan memutus penularan HIV
secara tepat, dengan syarat harus meminum secara teratur dan rutin.

"Dari pengalaman bertahun-tahun mendampingi, umumnya pasien setelah enam bulan rutin
meminum ARV, maka virus dalam tubuhnya tidak terdeteksi lagi, namun masih ada virus yang
tertidur. Pasien pun bisa menjalani aktivitas secara normal dengan syarat harus meminum obat
ARV secara rutin," jelasnya.

Ia mengungkapkan pengobatan ARV memiliki lima macam yang bisa disesuaikan dengan pasien
berupa pil, kapsul, atau tablet dengan berbagai anjuran minum obat, seperti diminum dua kali
sehari, sekali dalam sehari, dan sebagainya.

"Sebenarnya jika ODHA mematuhi tiga aturan dokter yaitu minum ARV dengan rutin yang
diberikan setiap bulan secara gratis di UPIPI, menjaga pola makan dengan baik, serta selalu
optimistis, karena kondisi psikologis menjadi kunci pemulihannya," paparnya.

Ia berharap agar persepsi masyarakat yang menganggap bahwa penyakit HIV/AIDS adalah
penyakit yang menakutkan itu bisa diubah, karena penyakit HIV/AIDS tidak berbeda dengan
penyakit diabetes.

"HIV/AIDS itu dikarenakan seks bebas dan penggunaan suntik narkoba, sedangkan diabetes bisa
disebabkan pola makan atau gaya hidup. Menata gaya hidup itulah yang saya kira masih sulit di
masyarakat karena terbukti perusahaan waralaba makanan junk food masih beredar dan
dinikmati banyak orang," tandasnya.

Sementara itu, untuk menanggulangi berbagai jenis penyakit infeksi menular, pihak Universitas
Airlangga (Unair) Surabaya telah menyediakan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) di Kawasan
kampus C Unair Surabaya untuk merawat penderita HIV/AIDS secara khusus.

Direktur Utama RSKI Unair, Prof Dr dr Boerhan Hidayat, mengatakan RSKI akan dikhususkan
bagi penderita HIV/AIDS dengan mendapatkan ruang perawatan yang khusus dan tidak dipungut
biaya, sehingga tidak akan sampai terjadi penularan.

"Apalagi, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini yang terbanyak adalah Jakarta, Jawa
Timur, Papua, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Ambon," katanya. (Antara)