Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Musculusceletal Disorders (MSDs)

MSDs adalah cidera ataupenyakit pada sistem syaraf atau jaringan seperti

otot, tendon, ligament, tulang sendi, tulang rawan ataupun pembuluh darah. Rasa

sakit akibat MSDs dapat digambarkn seperti kaku, tidak fleksibel, panas/terbakar,

kesemutan, mati rasa, dingin dan rasa tidak nyaman. Keluhan musculosceletal

adalah keluhan pada bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang dari

keluhan ringan hingga keluhan yang terasa sakit. Apabila otot statis menerima

beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat

menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Hal

inilah yang menyebabkan rasa sakit, keluhan ini disebut keluhan musculusceletal

disorders (MSDs) atau cidera pada sistem Muskuloskeletal (Humantech, 2003

dalam Zulfiqor,2010).

Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Keluhan sementara (reversible), yaitu kelhan otot yang terjadi pada

saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut

akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan.

2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat

menetap. Walau pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit

pada otot masih terus berlanjut.

11

Universitas Sumatera Utara


12

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Keluhan Muskuloskeletal

Peter Vi (2000) dalam Tarwaka dkk (2004) menjelaskan bahwa, terdapat

beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal.

2.2.1 Peregangan Otot yang Berlebihan

Peregangan otot yang berlebihan (over exertion) sering dikeluhkan oleh

pekerja dimana aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar seperti

aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, dan menahan beban yang berat.

Peregangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengerahan tenaga yang

diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal tersebut sering

dilakukan, maka dapat mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat

menyebabkan terjadinya cedera otot skeletal.

2.2.2 Aktivitas Berulang

Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus

menerusseperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu besar, angkat-angkut dsb.

Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secara terus

menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi.

2.2.3 Sikap Kerja Tidak Alamiah

Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi

bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posos alamiah, misalnya pergerakan

tangan terangkat, punggung telalu membungkun, kepala terangkat dsb. Semakin

Universitas Sumatera Utara


13

jauh posisi bagian tubuh dari pusat gravitasi tubuh, maka semakin tinggi pula

resiko terjadinya keluhan otot skeletal. Sikap kerja tidak alamiah ini pada

umumnya karena karakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan stasiun kerja tidak

sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan pekerja.

Di indonesia, sikap kerja tidak alamiah ini lebih banyak disebabkan oleh

adanya ketidaksesuaian antara dimensi alat dan stasiu kerja dengan ukuran tubuh

pekerja. Sebagai negara berkembang, sampai saat ini Indonesia masih tergantung

pada perkembangan teknologi negara-negara maju, khususnya dalam pengadaan

peralatan industri. Mengingat bahwa dimensi peralatan tersebut didesain tidak

berdasarkan ukuran tubuh orang Indonesia, maka pada saat pekerja Indonesia

harus mengoperasikan peralatan tersebut, terjadilah sikap kerja tidak alamiah.

Sebagai contoh, pengoperasian mesin-mesin produksi di suatu pabrik yang

diimpor dari amerika dan Eropa akan menjadi masalah bagi sebagian besar

pekerja Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena negara pengekspor didalam

mendesain mesin-mesin tersebut hanya didasarkan pada antropometri dari

populasi pekerja negara yang bersangkutan, yang pada kenyataannya ukuran

tubuhnya lebih besar dari pekerja Indonesia. Sudah dapat dipastikan, bahwa

kondisi tersebut akan menyebabkan sikap paksa pada waktu pekerja

mengoperasikan mesin. Apabila hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama,

maka akan terjadi akumulasi keluhan yang pada akhirnya dapat menyebabkan

terjadinya cedera otot.

Universitas Sumatera Utara


14

2.2.4 Faktor Penyebab Sekunder

1. Tekanan

Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak. Sebagai

contoh, pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot

tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat,

dan apabila hal ini sering terjadi, dapat menyebabkan rasa nyeri otot

yang menetap.

2. Getaran

Getaran dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan kontraksi otot

bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak

lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa

nyeri otot.

3. Mikroklimat

Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan,

kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan pekerjamenjadi

lamban, sulit bergerak yang disertai dengan menurunnya kekuatan otot.

Demikian juga dengan paparan udara yang panas. Beda suhu

lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar menyebabkan

sebagian energi yang ada pada tubuh akan termanfaatkan oleh tubuh

untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Apaabila hal ini tidak

diimbangi dengan pasokan energiyang cukup, makaakan terjadi

kekurangan suplai energi ke otot. Sebagai akibatnya, peredaran darah

kurang lancar, suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme

Universitas Sumatera Utara


15

karbohidrat terhambat dan terjadi penimbunan asam laktat yang dapat

meimbulkan nyeri otot.

2.2.5 Penyebab Kombinasi

Resiko terjadinya keluhan otot skeletal akan semakin meningkat apabila

dalam melaksanakan tugasnya, pekerja dihadapkan pada beberapa faktor resiko

dalam waktu yang bersamaan, misalnya pekerja harus melaksanakan aktivitas

angkat angkut dibawah tekana panas matahari yang dilakukan oleh para pekerja

bangunan.

Disamping kelima faktor penyebab terjadinya keluhan otot tersebut diatas,

beberaoa ahli menjelaskan bahwa faktor individu seperti umur, jenis kelamin,

kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kekuatan fisik, dan ukuran tubuh juga dapat

menjadi penyebab terjadinya keluhan otot skeletal.

1. Umur

Cahffin (1979) dan Guo et al (1995) dalam Tarwaka (2004) menyatakan

bahwa pada umurnya keluhan otot skeletal mulai dirasakan pada usia

kerja, yaitu pada 25-65 tahun.keluhan pertama biasanya dirasakan pada

umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan

bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada umur setengah baya,

kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga resiko terjadinya

keluhan otot akan meningkat. Sebagai contoh, sebuah studi tentang

kekuatan statistik otot untuk pria dan wanita dengan usia antara 20 sampai

dengan diatas 60 tahun. Penelitian difokuskan untuk otot lengan,

Universitas Sumatera Utara


16

punggung dan kaki. Hasil penelitian menujukkan bahwa kekuatan otot

maksimal terjadi pada saat umur antara 20-29 tahun, selanjutnya terus

terjadi penurunan sejalan dengan bertambahnya umur. Pada saat umur

mencapai 60 tahun, rerata kekuatan otot, menurun sampai 20%. Pada saat

kekuatan otot mulai menurun, maka resiko terjadinya keluhan otot akan

menimgkat. Umur mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan keluhan

otot, terutama untuk otot leher dan bahu, bahkan ada beberapa ahli lainnya

menyatakan bahwa umur merupakan penyebab utama terjadinya keluhan

otot.

2. Jenis Kelamin

Walaupun masih ada perbedaan pendapat dari beberapa ahli tentang

pengaruh jenis kelamin terhadapt resiko keluhan otot skeletal, namun

beberapa hasil penelitian secara signifikan menunjukkan bahwa jenis

kelamin sangat mempengaruhi tingkat resiko keluhan otot. Halini terjadi

karena secara fisiologis, kemampuan otot wanita memang lebih rendah

daripada pria. Kekuatan oot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan

otot pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan

dengan wanita. Rerata kekuatan otot wanita kurang lebih hanya 60% dari

kekuatan otot pria, khususnya otot lengan, punggung dan kaki.

Perbandingan keluhan otot antara pria dan wanita adalah 1:3. Dari uraian

tersebut di atas, maka jenis kelamin perlu dipertimbangkan dalam

mendesain beban tugas.

Universitas Sumatera Utara


17

3. Kebiasaan Merokok

Sama halnya dengan faktor jenis kelamin, pengaruh kebiasaan merokok

terhadap resiko keluhan otot juga masih diperdebatkan dengan para ahli,

namun demikian, beberapa penelititan telah membuktikan bahwa

meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama dan

tingkat kebiasaan merokok. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi

merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. Ada

hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan keluhan otot

pinggang, khususnya untuk pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot.

4. Kesegaran Jasmani

Pada umumnya, keluhan otot lebih jarang ditemukan pada seseorang yang

dalam aktivitas kesehariannya mempunyai cukup waktu untuk istirahat.

Sebaliknya, bagi yang dalam kesehariannya melakukan pekerjaan yang

memerlukan pengerahan tenaga yang besar, disisi lain tidak mempunyai

waktu yang cukup istirahat, hampir dapat dipastikan akan terjadi keluhan

otot. Tingkat keluhan otot juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kesegaran

tubuh. Laporan NIOSH menyatakan bahwa untuk tingkat kesegaran tubuh

yang rendah, maka resiko terjadinya keluhan adalah 7,1 %, tingkat

kesegaran tubuh sedang 3,2%, dan tingkat kesegaran tubuh tinggi adalah

0,8%. Dari uraian di atas dapat digarisbawahi bahwa, tingkat kesegaran

tubuh yang rendah akan mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot.

Keluhan otot akan meningkat sejalan dengan bertambahnya aktivitas fisik.

Universitas Sumatera Utara


18

5. Kekuatan Fisik

Sama halnya dengan beberapa faktor lainnya, hubungan antara kekuatan

fisik dengan resiko keluhan otot skeletal juga masih diperdebatkan.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan yang

signifikan, namu penelitian lainnya menunjukkan bahwa tidak ada

hubungan anatara kekuatan fisik dengan keluhan otot skeletal.

6. Ukuran tubuh (antropometri)

Walaupun pengaruhnya relatif kecil, berat badan, tinggi badan dan massa

tubuh merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot

skeletal. Sebuah penelitian menyetakan yang dilakukan oleh vessy (1990)

menyatakan bahwa wanita yang gemuk memiliki resiko dua kali lipat

dibanding wanita kurus. Hal ini diperkuat oleh peneltian lain yang

menyatakan bahwa pasien yang gemuk (obesitas dengan massa tubuh >29)

mempunyai resiko 2,5 kali lebih tinggi dibanding dengan yang kurus

(massa tubuh <20), khususnya untuk otot laki-laki. Temuan lain

menyatakan bahwa tubuh yang tinggi umumnya sering menderita keluhan

sakit punggung, tetapi tubuh tdak mempunyai pengaruh terhadap keluhan

pada leher, bahu dan pergelangan tangan. Apabila diceramati,keluhan otot

skeletal yang terkait dengan ukuran tubuh lain disebabkan oleh kondisi

keseimbangan struktur rangka didalam menerima beban, baik beban berat

tubuh maupun beban tambahan lainnya. Sebagai contoh, tubuh yang tinggi

pada umumnya mempunyai bentuk tulang yang langsing sehingga secara

biomekanik rentan terhadap beban tekan dan rentan terhadap tekukan, oleh

Universitas Sumatera Utara


19

karena itu mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya keluhan

otot skeletal (Tarwaka, 2004).

Menurut Pheasant (1991) dan Oborne (1995) dalam Zulfiqor (2010)

hubungan sebab akibat faktor penyebab timbulnya MSDs sulit untuk di jelaskan

secara pasti. Namun ada beberapa faktor resiko tertentu yang selalu ada dan

berhubungan atau turut berperan dalam menimbulkan MSDs. Faktor-faktor

tersebut bisa diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu pekerjaan, lingkungan, dan

manusia atau pekerja.

1. Faktor Pekerjaan

a. Postur Kerja

Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan

bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiahnya. Semakin jauh

posisi bagian tubuh dari pisat gravitasi, semakin tinggi pula terjadi

keluhan otot skeletal. Sikap kerja tidak alamiah pada umumnya

karena ketidaksesuaian pekerjaan dengan kemampuan pekerja

(Grandjen, 1993).

b. Frekuensi

Frekuensi yang tinggi atau gerakan yang berulang dengan sedikit

variasi, dapat menimbulkan kelelahan dan ketegangan pada otot

dan tendon oleh karena kurang istirahat untuk pemulihan

penggunaan yang berlebihan pada otot, tendon, dan sendi, akibat

terjadinya inflamasi atau radang sendi dan tendon. Radang ini

meningkatkan tegangan pada saraf (Kurniawidjaja, 2010).

Universitas Sumatera Utara


20

c. Durasi

Durasi kerja yaitu lama waktu bekerja yang dihabiskan pekerja

dengan postur janggal, membawa atau mendorong beban, atau

melakukan pekerjaan repetitif tanpa istirahat (Kurniawidjaja,

2010).

d. Beban

Beban merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya

gangguan otot rangka. Berat beban yang direkomendasikan adalah

23-25 kg, sedangkan menurut Departemen Kesehatan mengangkat

beban sebaiknya tidak melebihi dari aturan yaitu laki-laki dewasa

sebesar 15-20 kg dan wanita (16-18 tahun) sebesar 12-15 tahun.

Untuk jenis pekerjaan angkat dan angkut, maka beban maksimum

yang diperkenankan, agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja,

sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi dan

Koperasi No.Per 01/MEN/1978 tentang Keselamatan dan

Kesehatan Kerja dalam Penebangan dan Pengangkutan Kayu.

Tabel 2.1 Beban Angkat Maksimum yang Diperkenankan


menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Transmigrasi dan Koperasi No.Per 01/MEN/1978
Jenis Dewasa Tenaga Kerja Muda
Pria (Kg) Wanita (Kg) Pria (Kg) Wanita (Kg)
Sekali-sekali 40 15 15 10-12
Terus menerus 15-18 10 10-15 6-9
Sumber: A.M Sugeng Budiono, 2003

Selain itu batasan berat beban yang dapat ditoleril untuk aktivitas
angkat yang sering dapat dilihat ditabel di bawah ini:

Universitas Sumatera Utara


21

Tabel 2.2Berat Beban yang Dapat Ditoleril Untuk Aktivitas


Angkat yang Sering
Frekuensi angkat Berat beban yang boleh diangkat (kg)
Satu kali dalam 30 menit 95
Satu kali dalam 25 menit 85
Satu kali dalam 15-20 menit 66
Satu kali dalam10-15 menit 50
Satu kali dalam 5 menit 33
Sumber: Eko Nurmianto, 1998

e. Alat Perangkai/Genggaman

Menurut Tarwaka (2004) pada saat tangan harus memegang alat

ataupun menekan tombol, maka jaringan otot tangan yang lunak

akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat, apabila hal ini

sering terjadi, dapat menyebabkan rasa nyeri otot menetap.

2. Faktor Lingkungan

Faktor yang diklasifikasikan sebagai faktor llingkungan disini pada

dasarnya hampir sama dengan faktor penyebab sekunder terjadinya

keluhan Muskuloskeletal yaitu getaran, mikroklimat, dan tekanan.

3. Faktor Pekerja

Faktor-faktor yang diklasifikasikan menjadi faktor pekerjaantara lain

adalah usia, jenis kelamin, waktu kerja, kebiasaan merokok, kesegaran

jasmani, kekuatan fisik, masa kerja dan indeks masa tubuh. Pada

dasarnya faktor yang merupakan faktor pekerja ini hampir sama saja

dengan faktor penyebab kombinasi pada terjadinya keluhan

muskuloskeletal.

Universitas Sumatera Utara


22

2.3 Jenis-Jenis Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs)

Jenis-jenis keluhan MSDs terdiri dari beberapa(Soedirman, 2014),

diantaranya adalah:

a. Sakit Leher

Merupakan peningkatan tegangan otot atau miaglia, leher miring atau

kaku leher.

b. Nyeri Punggung

Gejala nyeri punggung yang spesifik seperti herniasi lumbal, artiritis,

ataupun spasme otot.

c. Carpal Tunnel Syndrome

Kumpulan gejala yang mengenai tangan dan pergelangan tangan yang

diakibatkan iritasi dan ervus medianus.

d. De Quervains Tenosynovitis

Penyakit ini mengenai pergelangan tangan, ibu jari, dan terkadang

lengan bawah, disebabkan oleh inflamasi tenosinovium dan dua tendon

yang berada di ibu jari dan pergelangan tangan.

e. Thoracic Outlet Syndrome

Merupakan keadaan yang mempengaruhi bahu, lengan, dan tangan

yang ditandai dengan nyeri, kelemahan dan mati rasa pada daerah

tersebut.

f. Tennis Elbow

Keadaan inflamasi tendon ekstensor, tendon yang berasal dari siku

lengan bawah berjalan keluar ke pergelangan tangan.

Universitas Sumatera Utara


23

g. Low Back Pain

Terjadi apabila ada penekanan pada daerah lumbal, yaitu L4 dan L5.

Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan posisi tubuh membungkuk ke

depan, maka akan terjadi penekanan pada diskus.

2.4 Pengendalian Musculoskeletal Disorders (MSDs)

Pengendalian MSDs pada umumnya terbagi menjadi tiga (Cohen et al,

1997 dalam Zulfiqor, 2010):

1. Mengurangi atau mengeliminasi kondisi yang berpotensi baha menggunakan

pengendalian fisik.

2. Mengubah dalam praktek kerja dan kebijakan manajemen yang serng disebut

pengendalian administratif.

3. Menggunakan alat pelindung diri.

Agar tidak mengalami risiko MSDs pada saat melakukan pekerjaan, maka

ada beberapa hal yang harus dihindari. Hal tersebut adalah:

1. Jangan memutar atau membungkukkan badan ke samping.

2. Jangan menggerakkan, mendorong atau menariksecara sembarangan, karena

dapat meningkatkan risiko cidera.

3. Jangan ragu meminta tolong pada orang.

4. Apabila jangkauan tidak cukup, jangan memindahkan barang.

5. Apabila barang yang hendak dipindahkan terlalu berat, jangan melanjutkan.

6. Lakukan senam/peregangan otot sebelum bekerja.

Universitas Sumatera Utara


24

2.5 Kerangka Konsep

Berdasarkan teori-teori kelelahan diatas maka penulis menyusun variabel

untuk diteliti lebih lanjut yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan Keluhan

musculoskeletal disorders (MSDs) pada pemanen kelapa sawit sebagai variabel

independen dan Keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) sebagai variabel

dependen. Faktor-faktor yang yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletal

disorders (MSDs) diantaranya adalah usia, masa kerja, jarak angkut, frekuensi

angkut, berat beban angkut.

Karakteristik Pekerja:

- Umur
- Masa Kerja

Keluhan Musculoskeletal Disorders

(MSDs)

Beban Kerja

- Frekuensi angkut
- Jarak angkut
- Berat beban angkut

Gambar 2.1Kerangka Konsep

Universitas Sumatera Utara