Anda di halaman 1dari 7

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat
nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus dengan judul Anastesi
Spinal pada Sectio Caesaria. Referat ini diajukan sebagai persyaratan untuk
mengikuti ilmu anastesi di RSUD Raden Mattaher Jambi.
Selain itu saya juga mengucapkan Terima kasih kepada dr. Hj. Ade Susanti
Sp. An dan segenap staff bagian anestesi RSUD Raden Mattaher Jambi atas
bimbingan dan pertolongannya selama menjalani kepanitraan klinik bagian
anestesi dan dapat menyelasaikan penulisan dan pembahasan referat ini.
Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih
jauh dari kesempurnaan, penulis mohon maaf atas segala kesalahan, sehingga
kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk
kesempurnaan penulisan referat berikutnya.

Jambi, Juli 2016

Penulis

III
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

BAB II LAPORAN KASUS ....................................................................... 3

BAB III TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 9

BAB VI PEMBAHASAN ......................................................................... 21

BAB V KESIMPULAN ............................................................................ 24

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 25


TUGAS PERBAIKAN

Obat obat Anestesi Umum


1. Hipnotik

a. Barbiturate

Obat Penggunaan Pemberian Kosentrasi Dosis


(%) (mg/kg)
Thiopental, Induksi IV 2,5 3-6
Thiamylal

Methohexital Induksi IV 1 1-2


Sedatif IV 1 0,2-0,4
Induksi Rectal 10 25
Secobarbital, Premedikasi Oral 5 2-42
Pentobarbital IM 2-42
Rectal 3
Suppository

b. Benzodiazepine

Obat Penggunaan Pemberian Dosis (mg/kg)


Diazepam Premedikasi Oral 0,2-0,52
Sedatif IV 0,04-0,2
Midazolam Premedikasi IM 0,07-0,15
Sedatif IV 0,01-0,1
Induksi IV 0,1-0,4
Lorazepam Premedikasi Oral 0,05

c. Ketamine, Etomidate, Propovol


Obat Penggunaan Pemberian Dosis
Ketamine Induksi IV 1-2 mg/kg
IM 3-5 mg/kg
Sedatif IV 2,5-15 mcg/kg/min
Etomidate Induksi IV 0,2-0,5 mg/kg
Propovol Induksi IV 1-2,5 mg/kg
Maintanence IV 50-200mcg/kg/min
Sedatif IV 25-100mcg/kg/min

2. Analgesia

a. Opioid

Obat Penggunaan Pemberian Dosis


Morphine Postoperative IM 0,05-0,2 mg/kg
analgesia IV 0,03-0,15 mg/kg
2,5-15 mcg/kg/min
Hydromorpon Postoperative IM 0,02-0,04 mg/kg
e analgesia IV 0,01-0,02 mg/kg

Fentanyl Intaoperative IV 2-50 mcg/kg


analgesia
Postoperative IV 0,5-1 mcg/kg/min
analgesia
Sufentanil Intaoperative IV 0,25-20mcg/kg/min
analgesia

Alfentanil Intaoperative IV 8-100 mcg/kg/min


analgesia
Loading dose IV 0,05-3 mcg/kg/min
Maintanence
Remifentanil Intaoperative IV 1.0 mcg/kg
analgesia IV 0.520 mcg/kg/min
Loading dose IV 0.050.3 mcg/kg/min
Maintanence
Postoperative/
sedation
3. Relaksasi Otot

Depolarisasi Non- Depolarisasi


Short-acting Short-acting
Succinylcholine Gantacurium 1
Intermediate-acting
Atracurium
Cisatracurium
Vecuronium
Rocuronium
Long-acting
Pancuronium

MAC ( Minimum Alveolar Cocentration)


Adalah kadar minimal zat tersebut dalam alveolus pada tekanan 1 atmosfir
yang diperlukan untuk mencegah gerakan pada 50% pasien yang dilakukan insisi
standar. Pada umumnya immobilisasi tercapai pada 95% pasien, jika kadarnya
dinaikkan di atas 30% nilai MAC. Dalam keadaan seimbang, tekanan parsial zat
anestetik dalam alveoli sama dengan tekanan zat dalam darah dan otak tempat
kerja obat.

Agent MAC (%)


Nitrous oxide 1052
Halothane (Fluothane) 0,75
Isofl urane (Forane) 1,2
Desfl urane (Suprane) 6,0
Sevofl urane (Ultane) 2,0

Kenapa N2O tidak boleh diberikan 100%


Nitrous Oksida merupakan gas yang tidak berbau, tidak berwarna, tidak
berasa, lebih berat dari udara, serta tidak mudah terbakar dan meledak (kecuali
jika dikombinasikan dengan zat anestetik yang mudah terbakar seperti eter). Gas
ini dapat disimpan dalam bentuk cair dalam tekanan tertentu, serta relatif lebih
murah dibanding agen anestetik lain.
Pemberian anestesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%. Gas ini
bersifat anestesia lemah tapi analgesia kuat. Anestesia inhalasi jarang digunakan
sendirian, tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain seperti
halotan dan sebagainya. Pada akhir anestesia setelah N2O dihentikan, maka N2O
berdifusi keluar dari darah dan masuk ke alveoli secepat difusinya kedalam darah
saat induksi. Jika pasien dibiarkan menghirup udara atmosfir saja pada saat
tersebut akan mengalami hipoksia difusi. Selama beberapa menit pertama pasien
menghirup udara atmosfir, sejumlah besar volume N2O berdifusi melalui darah ke
dalam paru-paru dan dikeluarkan lewat paru-paru. Difusi N2O yang cepat dan
dalam jumlah besar ke dalam alveoli akan menyebabkan pengenceran dan
mendesak O2 keluar dari alveoli, sehingga mudah terjadi hipoksia dan juga
menyebabkan terjadinya pemindahan CO2 yang lebih besar dari darah, sehingga
akan menurunkan tekanan CO2 dalam darah dan akan memperberat hipoksia. Efek
hipoksia difusi dapat dicegah dengan pemberian O 2 100% selama minimal 3-5
menit akhir operasi.
N2O sukar larut dalam darah dan merupakan anestetik yang kurang kuat
sehingga kini hanya dipakai sebagai adjuvan atau pembawa anestetik inhalasi lain
karena kesukarlarutannya ini berguna dalam meningkatkan tekanan parsial
sehingga induksi dapat lebih cepat (setelah induksi dicapai, tekanan parsial
diturunkan untuk mempertahankan anestesia). Dengan perbandingan N2O:O2 =
85:15, induksi cepat dicapai tapi tidak boleh terlalu lama karena bisa
mengakibatkan hipoksia (bisa dicegah dengan pemberian O2 100% setelah N2O
dihentikan).
Efek terhadap kardiovaskular dapat dijelaskan melalui tendensinya dalam
menstimulasi sistem simpatis. Meski secara in vitro gas ini mendepresikan
kontraktilitas otot jantung, namun secara in vivo tekanan darah arteri, curah
jantung, serta frekuensi nadi tidak mengalami perubahan atau hanya terjadi sedikit
peningkatan karena adanya stimulasi katekolamin, sehingga peredaran darah tidak
terganggu (kecuali pada pasien dengan penyakit jantung koroner dan hipovolemik
berat).
Efek terhadap respirasi dari gas ini adalah peningkatan laju pernapasan
(takipnea) dan penurunan volume tidal akibat stimulasi SSP. N20 dapat
menyebabkan berkurangnya respon pernapasan terhadap CO2 meski hanya
diberikan dalam jumlah sedikit, sehingga dapat berdampak serius diruang
pemulihan (pasien lebih lama dalam keadaan tidak sadar).