Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu penyakit yang sering dijumpai pada anak-anak yaitu penyakit asma.
Kejadian asma meningkat di hampir seluruh dunia, baik Negara maju maupun Negara
berkembang termasuk Indonesia. Peningkatan ini diduga berhubungan dengan
meningkatnya industri sehingga tingkat polusi cukup tinggi. Walaupun berdasarkan
pengalaman klinis dan berbagai penelitian asma merupakan penyakit yang sering
ditemukan pada anak, tetapi gambaran klinis asma pada anak sangat bervariasi, bahkan
berat-ringannya serangan dan sering-jarangnya serangan berubah-ubah dari waktu ke
waktu. Akibatnya kelainan ini kadang kala tidak terdiagnosis atau salah diagnosis
sehingga menyebabkan pengobatan tidak adekuat.
Penyakit asma merupakan kelainan yang sangat sering ditemukan dan
diperkirakan 45% populasi penduduk di Amerika Serikat terjangkit oleh penyakit ini.
Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama dijumpai pada usia dini. Sekitar
separuh kasus timbul sebelum usia 10 tahun dan sepertiga kasus lainnya terjadi sebelum
usia 40 tahun. Pada usia kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan = 2 : 1
yang kemudian menjadi sama pada usia 30 tahun.
Asma merupakan 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal itu
tergambar dari data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di berbagai
propinsi di Indonesia. SKRT 1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke 5 dari 10
penyebab kesakitan bersama-sama dengan bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT
1992, asma, bronkitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian ke 4 di
Indonesia atau sebesar 5,6%. Tahun 1995, prevalensi asma di Indonesia sekitar 13 per
1.000 penduduk, dibandingkan bronkitis kronik 11 per 1.000 penduduk dan obstruksi
paru 2 per 1.000 penduduk.
Kira-kira 220% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Belum ada
penyelidikan menyeluruh mengenai angka kejadian asma pada anak di Indonesia,
namun diperkirakan berkisar antara 510%. Dilaporkan di beberapa negara angka
kejadian asma meningkat, misalnya di Jepang. Australia dan Taiwan. Di poliklinik
Subbagian Paru Anak FKUI-RSCM Jakarta, lebih dari 50% kunjungan merupakan
penderita asma. Jumlah kunjungan di poliklinik Subbagian Paru Anak berkisar antara
12.00013.000 atau rata-rata 12.324 kunjungan pertahun. Pada tahun 1985 yang perlu
mendapat perawatan karena serangan asma yang berat ada 5 anak, 2 anak di antaranya
adalah pasien poliklinik paru. Sedang yang lainnya dikirim oleh dokter luar. Tahun
1986 hanya terdapat 1 anak dan pada tahun 1987 terdapat 1 anak yang dirawat karena
serangan asma yang berat.
Woolcock dan Konthen pada tahun 1990 di Bali mendapatkan prevalensi asma
pada anak dengan hiperreaktivitas bronkus 2,4% dan hiperreaktivitas bronkus serta
gangguan faal paru adalah 0,7%. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan
menggunakan kuisioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood
(ISAAC), didapatkan hasil dari 402 kuisioner yang kembali dengan rata-rata umur 13,8
0,8 tahun didapatkan prevalensi asma (gejala asma 12 bulan terakhir/recent asthma),
6,2% dari 64% diantaranya mempunyai gejala klasik. Bagian anak FKUI-RSCM
melakukan studi prevalensi asma pada anak usia SLTP di Jakarta pusat pada 19951996
dengan mengunakan kuisioner modifikasi dari ATS, ISAAC dan Robertson, serta
melakukan uji provokasi bronkus secara acak. Seluruhnya 1.296 siswa dengan usia 11
tahun 5 bulan 18 tahun 4 bulan, didapatkan 14,7% dengan riwayat asma dan 5,8%
dengan recent asthma. Tahun 2001, Yunus dkk melakukan studi prevalensi asma pada
siswa SLTP se Jakarta Timur, sebanyak 2.234 anak usia 1314 tahun melalui kuisioner
ISAAC, pemeriksaan spirometri dan uji provokasi bronkus pada sebagian subjek yang
dipilih secara acak. Dari studi tersebut didapatkan prevalensi asma (recent asthma)
8,9% dan prevalensi kumulatif (riwayat asma) 11,5%.
Tahun 1993 UPF Paru RSUD dr. Sutomo Surabaya melakukan penelitian di
lingkungan 37 puskesmas di Jawa Timur dengan menggunakan kuisioner modifikasi
ATS, yaitu proyek pneumobile Indonesia dan Respiratory Sympton questioner of
Institute of Respiratory Medicine, New South Wales dan pemeriksaan arus puncak
ekspirasi (APE) menggunakan alat peak flow meter dan uji bronkodilator. Seluruhnya
6662 responden usia 13 70 tahun (rata-rata 35,6 tahun) mendapatkan prevalensi asma
sebesar 7,7 % dengan rincian laki-laki 9,2 % dan perempuan 6,6 %.
Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2% (6% pada dewasa dan 10% pada
anak). Prevalensi tersebut sangat bervariasi. Di Indonesia, prevalensi asma pada anak
berusia 6-7 tahun sebesar 3% dan untuk usia 13-14 tahun sebesar 5,2% (Kartasasmita,
2002). Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics atau NCHS (2003),
prevalensi serangan asma pada anak usia 0-17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah
anak 4,2 juta), dan pada dewasa > 18 tahun, 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta).
Jumlah wanita yang mengalami serangan lebih banyak daripada lelaki. WHO
memperkirakan terdapat sekitar 250.000 kematian akibat asma. Sedangkan berdasarkan
laporan NCHS (2000) terdapat 4487 kematian akibat asma atau 1,6 per 100 ribu
populasi. Kematian anak akibat asma jarang. Kebanyakan anak yang menderita asma
dapat berinteraksi dengan lingkungannya, kecuali pada waktu kambuh. Sedikit anak
yang tahan terhadap asma dan membutuhkan obat pencegah setiap harinya untuk dapat
melakukan olahraga dan bermain secara normal.
Beberapa anak menderita asma sampai mereka usia dewasa; namun dapat
disembuhkan. Kebanyakan anak-anak pernah menderita asma. Para Dokter tidak yakin
akan hal ini, meskipun hal itu adalah teori. Lebih dari 6 % anak-anak terdiagnosa
menderita asma, 75 % meningkat pada akhir-akhir ini. Meningkat tajam sampai 40 % di
antara populasi anak di kota.
Karena banyaknya kasus asma yang menyerang anak terutama di Negara kita
Indonesia maka kami dari kelompok mencoba membahas mengenai asma yang terjadi
pada anak ini, sehingga orang tua dapat mengetahui bagaimana pencegahan dan
penatalaksanaan bagi anak yang terserang asma.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat dari latar belakang tersebut adalah
sebagai berikut.
1. Apakah pengetian dari penyakit Asma?
2. Bagaimanakah etiologi dari penyakit asma?
3. Bagaimanakah klasifikasi dari penyakit asma?
4. Bagaimanakah tanda dan gejala dari penyakit asma ?
5. Bagaiamanakah patofisiologi dari penyakit asma?
6. Bagaimanakah manifestasi klinis dari penyakit asma?
7. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik dari penyakit asma?
8. Bagaimanakah penatalaksanaan dari penyakit asma?
9. Bagaimanakah pengkajian untuk penyakit asma?
10. Apakah diagnose dari penyakit asma?
11. Bagaimanakah intervensi keperawatan untuk penyakit asma?
12. Bagaimanakah implementasi keperawatan untuk penyakit asma?
13. Bagaimanakah evaluasi untuk penyakit asma?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui pengetian dari penyakit Asma


2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit asma
3. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit asma
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari penyakit asma
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit asma
6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit asma
7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik dari penyakit asma
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari penyakit asma
9. Untuk mengetahui pengkajian untuk penyakit asma
10. Untuk mengetahui diagnose dari penyakit asma
11. Untuk mengetahui intervensi keperawatan untuk penyakit asma
12. Untuk megetahui implementasi keperawatan untuk penyakit asma
13. Untuk mengetahui evaluasi untuk penyakit asma

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat menambah wawasan
mengenai penyakit asma pada anak meliputi konsep dasar penyakit asma pada anak
dan konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit asma khususnya
pada pasien anak anak.
BAB II

PEMBAHASAN

I. KONSEP DASAR PENYAKIT ASMA


A. PENGERTIAN
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang
menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat berulang namun
reversible, dan diantar episode penyempitan bronkus tersebut terdapat
keadaan ventilasi yang lebih normal (Sylvia A.price).
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas
yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila
terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan
aliran udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan
meningkatnya proses radang (Almazini, 2012)
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang
menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat
terjadi pada siapa saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi umumnya asma
lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan orang dewasa
pada usia sekitar 30 tahunan (Saheb, 2011)
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperresponsivitas saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang
berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk terutama malam hari dan
atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas
yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa
pengobatan (Boushey, 2005; Bousquet, 2008)
Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya terengah-engah dan
berarti serangan nafas pendek (Price, 1995 cit Purnomo 2008). Nelson (1996)
dalam Purnomo (2008) mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan
gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut;
timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari
(nocturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan
bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan penyumbatan, serta
adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarga, sedangkan sebab-
sebab lain sudah disingkirkan
Batasan asma yang lengkap yang dikeluarkan oleh Global Initiative for
Asthma (GINA) (2006) didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik
saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil,
dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan mengi
berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam
atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan
nafas yang luas namun bervariasi, yang sebagian bersifat reversibel baik
secara spontan maupun dengan pengobatan, inflamasi ini juga berhubungan
dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan.
Asma adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh keadaan saluran nafas
yang sangat peka terhadap berbagai rangsangan, baik dari dalam maupun luar
tubuh. Akibat dari kepekaan yang berlebihan ini terjadilah penyempitan
saluran nafas secara menyeluruh (Abidin, 2002).

B. ETIOLOGI
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
1. Faktor Predisposisi
- Genetik
Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi
biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit
alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor
pencetus.
2. Faktor Presipitasi
- Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contoh:
debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan
polusi.
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contoh: makanan dan
obat-obatan
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh:
perhiasan, logam, dan jam tangan.

- Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Kadang-kadang serangan berhubungan
dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau, musim
bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin, serbuk bunga, dan
debu.
- Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus asma dan
memperberat serangan asma yang sudah ada. Penderita diberikan
motivasi untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika
stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
- Olah raga/aktivitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita akan mendapat serangan juka
melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat.lari cepat
paling mudah menimbulkan serangan asma.

Sedangkan menurut Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Macam-macam pencetus asma, antara lain:

a Alergen

Faktor alergi dianggap mempunyai peranan penting pada sebagian


besar anak dengan asma (William dkk 1958, Ford 1969). Disamping itu
hiperreaktivitas saluran napas juga merupakan factor yang penting.
Sensitisasi tergantung pada lama dan intensitas hubungan dengan bahan
alergenik sehingga dengan berhubungan dengan umur. Pada bayi dan
anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah. Dengan
bertambahnya umur makin banyak jenis alergen pencetusnya. Asma
karena makanan biasanya terjadi pada bayi dan anak kecil.

b Infeksi

Biasanya infeksi virus, terutama pada bayi dan anak kecil. Virus
penyebab biasanya respiratory syncytial virus (RSV) dan virus
parainfluenza. Kadang-kadang juga dapat disebabkan oleh bakteri, jamur
dan parasit.

c Cuaca

Perubahan tekanan udara (Sultz dkk 1972), suhu udara, angin dan
kelembaban (Lopez dan Salvagio 1980) dihubungkan dengan percepatan
dan terjadinya serangan asma.
d Iritan

Hairspray, minyak wangi, asap rokok, cerutu dan pipa, bau tajam dari
cat, SO2, dan polutan udara yang berbahaya lainnya, juga udara dingin
dan air dingin.Iritasi hidung dan batuk dapat menimbulkan refleks
bronkokonstriksi (Mc. Fadden 1980). Udara kering mungkin juga
merupakan pencetus hiperventilasi dan kegiatan jasmani (strauss dkk
1978, Zebailos dkk 1978).

e Kegiatan jasmani

Kegiatan jasmani yang berat dapat menimbulkan serangan pada anak


dengan asma (Goldfrey 1978, Eggleston 1980). Tertawa dan menangis
dapat merupakan pencetus. Pada anak dengan faal paru di bawah normal
sangat rentan terhadap kegiatan jasmani.

f Infeksi saluran napas bagian atas

Disamping infeksi virus saluran napas bagian atas, sinusitis akut dan
kronik dapat mempermudah terjadinya asma pada anak (Rachelesfsky
dkk 1978). Rinitis alergi dapat memperberat asma melalui mekanisme
iritasi atau refleks.

g Psikis

Tidak adanya perhatian dan tidak mau mengakui persoalan yang


berhubungan dengan asma oleh anak sendiri atau keluarganya akan
memperlambat atau menggagalkan usaha-usaha pencegahan. Dan
sebaliknya jika terlalu takut terhadap serangan asma atau hari depan anak
juga tidak baik, karena dapat memperberat serangan asma. Membatasi
aktivitas anak, anak sering tidak masuk sekolah, sering bangun malam,
terganggunya irama kehidupan keluarga karena anak sering mendapat
serangan asma, pengeluaran uang untuk biaya pengobatan dan rasa
khawatir, dapat mempengaruhi anak asma dan keluarganya.
C. KLASIFIKASI

1. Jenis Asma
Asma dibedakan menjadi dua jenis, yakni:
a. Asma Bronkial
Penderita asma bronkial, hipersensitif dan hiperaktif
terhadap rangsangan dari luar, seperti debu rumah, bulu
binatang, asap, dan bahan lain penyebab alergi. Gejala
kemunculannya sangat mendadak, sehingga gangguan asma
bisa datang secara tiba-tiba. Jika tidak mendapatkan
pertolongan secepatnya, risiko kematian bisa
datang.Gangguan asma bronkial juga muncul lantaran
adanya radang yang mengakibatkan penyempitan saluran
pernafasan bagian bawah. Penyempitan ini akibat
berkerutnya otot polos saluran pernafasan, pembengkakan
selaput lendir, dan pembentukan timbunan lendir yang
berlebihan.
b. Asma kardial.
Asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung
disebut asma kardial. Gejala asma kardial biasanya terjadi
pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat. Kejadian
ini disebut nocturnal paroxymul dyspnea. Biasanya terjadi
pada saat penderita sedang tidur.

Menurut Mc Connel dan Holgate asma dibedakan menjadi:


1. Asma ekstrinsik : munculnya pada waktu anak-anak.

2. Asma intrinsik : ditemukan tanda-tanda reaksi


hipersensitivitas terhadap alergen.
3. Asma yang berkaitan dengan dengan penyakit paru obstruktif
kronik.

2. Derajat Asma

2.1.Pembagian derajat asma menurut GINA (Global Initiative For


Asthma):

a. Interminten

Gejala kurang dari 1 kali/minggu dan serangan singkat.

b. Persisten ringan

Gejala lebih dari 1 kali/minggu tapi kurang dari 1 kali/hari

c.Persisten sedang

Gejala terjadi setiap hari.

d.persisten berat

Gejala terjadi setiap hari dan serangan sering terjadi.

2.2. Pembagian derajat asma menurut Phelan dkk, adalah sebagai


berikut:

1. Asma episodik yang jarang.

Biasanya terdapat pada anak umur 3-6 tahun.


Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran
nafas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam satu
tahun. Lamanya serangan paling lama beberapa hari saja
dan jarang merupakan serangan yang berat.
Gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada
malam hari. Mengi (wheezing) dapat berlangsung sekitar 3-
4 hari. Sedangkan batuk batuknya dapat berlangsung 10
14 hari, manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang
didapatkan pada golongan ini. Tumbuh kembang anak
biasanya baik. Diluar serangan ditemukan kelainan. Waktu
hari berminggu minggu sampai berbulan bulan.
Golongan ini merupakan 70 75 % dari populasi asma
anak.

2. Asma episodik yang sering

Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada


umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan serangan
berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut. Pada umur
5 6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.
Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan
udara, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres. Banyak
kasus yang tidak jelas pencetusnya. Banyaknya serangan 3
4 kali dalam 1 tahun dan tiap kali serangan beberapa hari
dan beberapa minggu. Frekuensi serangan paling tinggi
pada umur 8 13 tahun. Pada golongan lanjut kadang
kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau
persisten. Umumnya gejala paling jelek terjadi pada malam
hari dengan batuk dan mengi yang mengganggu tidur.
Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada
frekuensi serangan kalau waktu antara serangan lebih 1 2
minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hay feyer
dapat ditemukan pada golongan ini eksim dapat ditemukan,
tetapi lebih jarang bila dibandingkan dengan golongan asma
kronik atau persisten, golongan ini merupakan 28 % dari
populasi asma anak, dan pada golongan ini jarang
ditemukan gangguan pertumbuhan.

3. Asma kronik atau persisten


Pada 25 % anak golongan iniserangan pertama terjadi
sebelum umur 6 bulan, 75 % sebelum umur 3 tahun, 50 %
anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan
pada 50 % sisanya serangannya episodik. Pada umur 5 6
tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran nafas
yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi tiap hari.
Pada malam hari sering terganggu oleh batuk mengi
aktivitas fisik sering menyebabkan mengi. Dari waktu ke
waktu terjadi serangan yang berat dan sering memerlukan
perawatan Rumah Sakit.
Terdapat juga golongan yang jarang mengalami
serangan berat, hanya sesak sedikit dan mengi hampir
sepanjang waktu. Setelah mendapat penanganan yang tepat
biasanya baru disadari bahwa ada perbedaan dibandingkan
sebelum mendapat penanganan. Anak dan orang tua baru
menyadari mengenai asma pada anak itu serta
permasalahannya. Obstruksi jalan nafas mencapai
puncaknya pada umur 8 14 tahun, setelah biasanya terjadi
perubahan.
Pada umur dewasa muda 50 % dari golongan ini
tetap menderita asma persisten. Jarang yang betul betul
bebas mengi pada umur dewasa muda.
Pembagian derajat asma menurut Pedoman Asma Anak Indonesia sebagai
berikut:
Parameter klinis,
Persisten Persisten
kebutuhan obat, dan Persisten berat
Ringan sedang
faal paru
1.Frekuensi serangan <1X/bulan >1X/bulan Sering
Hampir sepanjang
2.Lama serangan <1 minggu >1 minggu tahun, tidak
ada remis
Gejala siang dan
3.Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala
malam
4.Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu
5.Pemeriksaan fisik Tidak pernah
Normal Ada kelaianan
diluar serangan normal
Nonsteroid/steroid
6.Obat pengendali Steroid
Tidak perlu hirupan dosis
(anti inflamasi ) hirupan/oral
rendah
PEF/FEV1<60%
7. Uji faal paru PEF/PEF1 PEF/FEV1 Variabilitas 20-
(diluar serangan) >80% 60-80$ 30%

8. Variabilitas
faal paru Variabilitas Variabilitas Variabilitas
(bila ada >15% >30% >50%
serangan)

3. Varian bentuk asma

1. Asma episodik berat dan berulang


Dapat terjadi pada semua umur tapi biasanya pada anak
kecil dan umur sebelum sekolah . Serangan biasanya berat dan
sering memerlukan perawatan rumah sakit. Biasanya
berhubungan dengan infeksi virus saluran nafas. Diluar
serangan biasanya normal dan tanda-tanda alergi tidak
menonjol. Serangan biasanya hilang pada umur 5-6 tahun.
Tidak terdapat obstruksi saluran nafas yang persisten.

2. Asma persisten pada bayi


Mengi yang persisten dengan takhipnu untuk beberapa hari
atau beberapa minggu. Dapat terjadi pada beberapa anak umur
3-12 bulan. Mengi biasany terdengar jelas kalau anak sedang
aktif dan tidak terdengar kalu anak sedang tidur. Kaadaan
umum anak biasanya tetap baik dan tumbuh kembangnya juga
baik. Beberapa anak bahkan menjadi gemuk sehingga ada
istilah fat happy whezzer gambaran rontgen paru biasanya
normal.
Keadaan mengi yang persisten ini kemungkinan besar
berhubungan dengan kecilnya saluran nafas pada golongan
umur ini. Gejala obstruksi saluran nafas pada golongan ini
lebih banyak disebabkan oleh edema mukosa dan hipersekresi
daripada spasme ototnya.

3. Asma hiper sekresi


Biasanya terdapat pada anak kecil dan permulaan umur
sekolah. Gambaran utama serangan terdapat batuk, suara nafas
berderak (krek-krek atau krok-krok) dan mengi. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan ronki basah kasar dan ronki
kering. Jenis ini sering keliru diobati sebagai bronkitis infeksi,
karena kadang-kadang menginya tidak jelas.
4. Asma karena beban fisik (excercise induced asthma)
Serangan asma setelah melakukan kegiatan fisik sering
dijumpai pada asma episodik sering dan pada asma kronik
persisiten. Disamping itu terdapat golongan asma yang
manivestasi klinisnya baru timbul setelah ada beban fisik yang
bertambah. Biasanya pada anak besar dan akil baliq.
Penaggulangan asma jenis ini termasuk ynag biasanya
berhasil.

5. Asma dengan alergan atau sensitivitas spesifik


Pada kebanyakan anak asma biasanya banyak faktor yang
dapat mencetuskan serangan asma tetapi pada anak yang
serangn asmanya baru timbul segera setelah terkena alergen
misalnya bulu binatang, minum aspirin, zat warna tartrazine
atau makan-makanan atu minuman yang mengandung zat
pengawet bisulfit. Pada golongan ini penghindaran biasanya
jelas hasilnya.

6. Batuk malam
Batuk malam banyak terdapat pada semua golongan asma.
Batuk terjadi karena inflamasi mukosa, edema dan produksi
mukus yang banyak. Bila gejala menginya tak jelas maka tak
jarang salah diagnosis. Yaitu pada golongan asma anak yang
berumur 2-6 tahun dengan gejala utama serangan batuk malam
yang keras dan kering. Batuk biasanya terjadi pada jam 1-4
pagi, dan sering mengganggu tidur sianak dan keluarganya.
Pada golongan ini sering didapatkan tanda alergi pada anak
dan keluarganya.
7. Asma yang memburuk pada pagi hari (early morning dipping)
Disamping umumnya asma lebih sering timbul gejala pada
malam hari, ada juga golongan yang gejalanya paling buruk
jam1-4 pagi. Keadaan demikian dapat terjadi secara teratur
atau intermitten. Keadaan ini diduga berhubungan dengan
irama diurnal kaliber saluran nafas yang pada golongan ini
sangat menonjol.

D. TANDA DAN GEJALA

a. Gejala awal berupa:


- Batuk terutama pada malam atau dini hari
- Sesak napas
- Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan
napasnya
- Rasa berat di dada
- Dahak sulit keluar.
- Belum ada kelainan bentuk thorak
- Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
- BGA belum patologis

b. Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam


jiwa atau disebut juga stadium kronik. Yang termasuk gejala yang berat
adalah:
- Serangan batuk yang hebat
- Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
- Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
- Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
- Kesadaran menurun
- Thorak seperti barel chest
- Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
- Sianosis
- BGA Pa O2 kurang dari 80%
- Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)
(Direktorat Bina Farmasi dan Klinik, 2007)
Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2002) manifestasi klinis dari asma,
diantaranya:
- Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea dan mengi. Serangan
asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam
dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi dan laborius.
- Sianosis karena hipoksia
- Gejala retensi CO2 : diaforesis, takikardia, pelebaran tekanan nadi.

E. PATOFISIOLOGI
Suatu serangan akut asma akan disertai oleh banyak perubahan dijalan
nafas yang menyebabkan penyempitan: edema dan peradangan selaput lender,
penebalan membrane basa, hipersekresi kalenjar mucus dan yang lebih ringan
kontraksi otot polos. Perubahan histology yang sama dpat dijumpai pada
keadaan tanpa serangan akut akibat pajanan kronik derajat rendah ke satu atau
lebih pemicu asma. Melalui berbagai jalur, zat-zat pemicu tersebut
merangsang degranulasi sel mast dijalan nafas yang menyebabkan
pembebasan berbagai mediator yang bertanggung jawab untuk perubahan
yang terjadi. Mediator yang terpenting mungkin adalah leukotrien C, D dan E
tetapi terdapat bukti bahwa histamine, PAF, neuropeptida, zat-zat kemotaktik,
dan berbagai protein yang berasal dari eosinofil juga berperan penting dalam
proses ini. obstruksi menyebabkan peningkatan resistensi jala nafas (terutama
pada ekspirasi karena penutupan jalan nafas saat ekspirasi yang terlalu dini);
hiperinflasi paru; penurunan elastisitas dan frekuensi-dependent compliance
paru; peningkatan usaha bernafas dan dispneu; serta gangguan pertukaran gas
oleh paru.
Obstruksi yang terjadi tiba-tiba besar kemungkinannya disebabkan oleh
penyempitan jalan nafas besar, dengan sedikit keterlibatan jalan nafas halus,
dan biasanya berespon baik terhadap terapi bronkodilator. Asma yang menetap
dan terjadi setiap hari hampir selalu memiliki komponen atau fase lambat
yang menyebabkan penyakit jalan nafas halus kronik dan kurang berespon
terhadap terapi bronkodilator saja. Eosinofil diperkirakan merupakan sel
efektor utama pada pathogenesis gejala asma kronik, dimana beberapa
mediatornya menyebabkan kerusakan luas pada stel epitel bronkus serta
perubahan-perubahan inflmatory. Walaupun banyak sel mungkin sitokin
(termasuk sel mast, sel epitel, makrofag dan eosinofil itu sendiri) yang
mempengaruhi diferensiasi, kelangsungan hidup, dan fungsi eosinofil, sel T
type TH2 dianggap berperan sentral, karena sel ini mampu mengenali antigen
secara langsung. Obstruksi pada asma biasanya tidak sama, dan defek
ventilasi-perkusi menyebabkan penurunan PaO2. Pada eksaserbasi asma
terjadi hiperventilasi yang disebabkan oleh dispneu. pada awalnya banyak
keluar dan Pa CO2 mungkin rendah namun seiring dengan semakinparahnya
obstruksi, PaCO2 meningkat karena hipoventilasi alveolus. Efek obstruksi
berat yang timbul mencakup hipertensi pulmonaris, peregangan ventrik.

F. MANIFESTASI KLINIS

Gejala klinis
Serangan akut yang spesifik jarang dilihat sebelum anak berumur 2
tahun. Secara klinis asma dibagi dalam 3 stadium, yaitu:
a Stadium I
Waktu terjadinya edema dinding bronkus, batuk paroksismal karena
iritasi dan batuk kering. Sputum yang kental dan mengumpul merupakan
benda asing yang merangsang batuk.
b Stadium II
Sekresi bronkus bertambah banyak dan batuk dengan dahak yang
jernih dan berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai merasa sesak nafas
berusaha bernafas lebih dalam. Ekspirium memanjang dan terdengar
bunyi mengi. Tampak otot nafas tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi
suprasternal, epigastrium dan mungkin juga sela iga. Toraks membungkuk
kedepan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernafasan. Pada anak
yang lebih kecil, cenderung terjadi pernafasan abdominal, retraksi
suprasternal dan interkostal.

c Stadium III
Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat, aliran udara sangat sedikit
sehingga suara nafas hampir tidak terdengar. Stadiumini sangat berbahaya
karena sering disangka ada perbaikan. Juga batuk seperti ditekan.
Pernafasan dangkal, tidak teratur dan frekuensi nafas yang mendadak
meninggi.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Uji faal paru
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk menilai asma meliputi
diagnosis dan pengelolaannya. Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan
derajat obstruksi, menilai nilai provokasi bronkus, menilai nilai
pengobatan, dan mengikuti perjalanan penyakit. Uji faal paru tidak selalu
mudah dilaksanakan, terutama pada anak di bawah 5-6 tahun. Sebaiknya
tiap anak dengan asma di uji faal pada tiap kunjungan. Peak flow meter
adalah yang paling sederhana, sedangkan dengan spirometer memberikan
data yang lebih lengkap
1. Spirometri : Untuk mengukur kecepatan aliran udara dan volume
paru selama FEV1 dan digunakan sebagai gold standar dalam
mengukur aliran udara pada penyakit asma.
Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma adalah PEFR,
PEV1, PVC, FEV1/FVC.
Volume kapasitas paksa (FVC), aliran puncak ekspirasi (PEFR)
dan rasio FEV1/FVC berkurang > 15% dari nilai normalnya
Perpanjangan waktu ekspirasi paksa biasanya ditemukan, walaupun
PEFR dan FEV1/FVC hanya berkurang sedikit
Inflasi berlebihan yang biasanya terlihat secara klinis akan terlihat
dengan meningginya isi total paru (TLC), isi kapasitas residu
fungsionaldan isi residu
Di luar serangan, faal paru tersebut umumnya akan kembali normal
kecuali pada asma serangan, faal paru tersebut umumnya,
akan kembali normal kecuali pada asma yang berat.

2. Uji provokasi bronkus dilakukan bila diagnosis diragukan.


Tujuannya untuk menunjukkan adanya hiperreaktivitas bronkus,
yang dapat dilakukan dengan : (1)histamin, (2)methacholin,
(3)beban lari, (4)udara dingin, (5)uap angin, (6)alergi. Yang sering
dilakukan adalah cara 1, 2, 3. hiperreaktivitas positif bila PEFR,
FEV1 turun > 15% dari nilai sebelum uji provokasi dan setelah
diberi bronkodilator nilai normal akan tercapai lagi. Bila PEFR dan
FEV1 sudah rendah dan diberi bronkodilator naik >15%yang berarti
hiperreaktivitas positif dan uji provokasi tidak perlu.

2. Foto rontgen toraks


Pemeriksaan ini perlu dilakukan dan pada foto akan tampak corakan
paru yang meningkat. Hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada
asma kronik. Atelektasis juga sering ditemukan. Setiap anak penderita
asma yang berkunjung pertama kalinya perlu dibuat foto rontgen parunya.
Foto ini dibuat terutama untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
penyakit lain. Foto perlu diulang bila ada indikasi, misalnya dugaan
adanya pneumonia atau pneumotoraks. Rontgen foto sinus paranasalis
perlu juga bila asmanya sulit terkontrol.

3. Pemeriksaan darah, eosinofil, dan uji tuberkulin


Pemeriksaan eosinofil dalam darah, sekret hidung dan dahak dapat
menunjang diagnosis asma. Eosinofil dapat ditemukan pada darah tepi,
sekret hidung dan sputum. Dalam sputum ditemukan kristal Charcot-
Leyden dan spiral Curshman. Bila ada infeksi mungkin akan didapatkan
pula leukositosis polimorfonukleus. Uji tuberkulin penting bukan saja
karena di Indonesia masih banyak tuberkulosis, tetapi juga karena kalau
ada tuberkulosis dan tidak diobati, asmanyapun mungkin sukar dikontrol.

4. Uji kulit alergi dan imunologi


Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk.
Pemeriksaan IgE dapat memperkuat diagnosis dan pengelolaannya, tetapi
bila tidak ditemukan kelainannya diagnosis asma belum dapat
disingkirkan.

H. PENATALAKSANAAN

Tujuan tatalaksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin


tercapainya potensi tumbuh kembang secara optimal. Secara lebih rinci tujuan
yang ingin dicapai adalah :
1) Pasien dapat menjalani aktivitas normalnya, termasuk bermain dan
berolahraga
2) Gejala tidak timbul siang maupun malam hari
3) Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal yang
mencolok
4) Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan
5) Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul,
terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
6) Mencegah timbulnya serangan ulang

Sebelum memberikan pengobatan spesifik, beberapa prinsip umum


pengobatan harus ditegakkan terlebih dahulu
1) Asma adalah suatu keadaan menahun yang mengalami eksaserbasi.
Pengobatan yang diberikan harus berkesinambungan, mampu
menghilangkan keluhan, dan mencegah kekambuhan serta mampu
menekan timbulnya proses peradangan menahun pada saluran napas
2) Mencegah timbulnya eksaserbasi akut merupakan prinsip pengobatan
yang amat penting, menghindari faktor pencetus bagi penderita yang
alergi. Bagi kelompok yang toleransinya rendah terhadap latihan
jasmani, serangan asma malam hari yang berulang, terutama penderita
asm aringan sampai sedang, pemberian obat anti asma secara teratur
merupakan hal yang mutlak, terutama obat-obatan yang mempunyai
sifat anti radang
3) Pengobatan asma harus didasarkan pada mekanisme patofisiologi yang
menyebaban timbulnya serangan asma, yang ditekankan pada
bagaimana timbulnya peradangan saluran pernapasan tersebut. Bila
demikian, maka pengobatan ini harus mampu menekan komponen-
komponen keradangan yang menyebabkan timbulnya keluhan penderita.
Jadi, yang diharapkan ialah bagaimana pengobatan tersebut dapat
menekan timbulnya hyperresponsiveness saluran pernapasan dan
mencegah timbulnya obstruksi yang tidak dapat pulih kembali
(irreversible airway obstruction)
4) Berkeyakinan bahwa pengobatan tersebut dapat menyembuhkan
serangan eksaserbi akut sehingga dapat menghindari penyempitan
saluran pernapasan lebih lanjut
5) pengobatan asma merupakan tindakan yang melibatkan banyak hal,
antara lain penyuluhan (edukasi) penderita, pengawasan lingkungan, dan
pemakaian obat-obatan guna mengawasi secara objektif perjalanan
penyakit tersebut
Penatalaksanaan asma dibagi menjadi dua, yaitu secara medikamentosa
dan non-medikamentosa. Secara optimal, pengobatan non-medikamentosa
harus dilakukan pada penyakit asma, dan tindakan tersebut meliputi :
1) Penyuluhan mengenai penyakit asma kepada keluarga
2) Menjauhi bahan-bahan yang dapat menimbulkan serangan asma dan
faktor pencetus timbulnya asma
3) Imunoterapi berdasarkan kelayakan penderita asma, sesuai dengan
batasannya mempunyai kepekaan yang berlebihan pada saluran
pernapasan. Oleh sebab itu, menjauhi paparan bahan iritan adalah
mutlak. Bahan iritan dan alergen dapat menimbulkan keluhan akut dan
juga meningkatkan hyperresponsiveness saluran pernapasan. Gas iritan
yang tidak spesifik meliputi asap rokok, debu, bau yang berlebihan,
polusi bahan pabrik dan polusi yang berasal dari lingkungan. Pada
orang alergi, bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan asma dan cara
pencegahan yang paling baik ialah menghindari kontak dengan bahan-
bahan tersebut. Pengobatan imunoterapi dapat diberikan.

Tujuan pengobatan medikamentosa adalah menghilangkan obstruksi


saluran napas. Obat-obatan yang dipergunakan meliputi bronkodilator dan anti
keradangan atau keduanya. obat anti inflamasi dapat mencegah terjadinya
proses peradangan lebih lanjut. Bronkodilator bekerja dengan cara
mengendurkan kontraksi otot polos bronkus.
Obat anti inflamasi meliputi :
Kortikosteroid
Sodium cromolyn atau cromolyn-like compound (Anti Inflamasi Non
Steroid)
Anti inflamasi lainnya
Obat bronkodilator meliputi :
Beta adrenergik agonis
Metilsantin
Antikolinergik
Bronkodilator dan kortikosteroid dapat diberikan secara oral, parenteral
atau inhalasi.
Kortikosteroid
Merupakan anti radang yang efektif untuk pengobatan obstruksi jalan napas
yang reversibel. Meskipun mekanismenya belum seluruhnya jelas, namun dalam
percobaan ternyata kortikosteroid dapat mempercepat katabolisme imunoglobulin
(termasuk IgE). Di samping itu, kortikosteroid menghalangi kerja enzim
fosfolipase yang mampu mengubah fosfolipid membran sel menjadi mediator yang
berpotensi tinggi menimbulkan bronkospasme, dan yang terpenting kortikosteroid
dapat :

Menghalangi metabolisme asam arakhidonat dan menghambat pembentukan


leukotrien dan prostaglandin

Menghalangi pergerakan dan aktivitas sel-sel radang secara langsung

Meningkatkan respon reseptor beta dari otot polos saluran pernapasan

Kortikosteroid dapat diberikan dalam jangka pendek. Hasilnya cukup baik


untuk mengurangi lama dan seringnya serangan eksaserbasi akut. Pemberian
kortikosteroid oral sedini mungkin pada serangan eksaserbasi akut dapat
menghambat beratnya penyakit, mengurangi timbulnya kasus darurat paru,
mengurangi seringnya masuk RS, dan apabila masuk RS lama raawatnya jadi lebih
pendek.

Pada pemberian kortikosteroid per oral, obat mulai bekerja 3 jam setelah
pemberian, mencapai puncak setelah 6-12 jam. Pengobatan asma akut jangka
pendek yang memakai kortikosteroid per oral dosis tinggi (1-2 mg/kg BB pada
anak-anak) dapat diberikan 5-10 hari, kemudian dosis obat diturunkan perlahan-
lahan. Sedangkan dosis pemeliharaan (maintenance) diberikan bila Peak
Expiratory Flow Rate (PEFR) stabil dan mendekati nilai normal.

Kortikosteroid aerosol per inhalasi merupakan cara pengobatan pertama untuk


asma sedang maupun asma berat sesuai dengan patogenesis adanya keradangan
dan hyperresponsiveness saluran napas.

Sodium kromolin
Merupakan obat anti-inflamasi non-steroid untuk asma yang dianggap cukup
penting dan baik. Mekaniasme kerja obat ini belum sepenuhnya diketahui, namun
teori daasarnya adalah sebagai stabilisator sel mast dan mencegah pelepasan
mediator. Pemakaian sodium kromolin untuk profilaksis dapat mencegah reaksi
cepat atau lambat yang dapat menimbulkan penyempitan saluran napas setelah
terpapar dengan alergen atau setelah latihan jasmani, ataupun setelah menghirup
udara dingin.

Sodium Nedokromil
Obat ini merupakan modifikasi dari kromolin, berbentuk tablet dan
pemberiannya per oral, susunan molekulnya lebih sederhana daripada kromolin.
Bekerja sebagai stabilisator membran yang bekerja 40x lebih baik daripada sodium
kromolin.

Ketotifen
Obat ini mempunyai anti histamin dan dapat dipakai untuk pengobatan asma
ringan. Pengaruh sampingannya adalah sebagai zat penenang.

Bronkodilator
Spasme otot polos bronkus merupakan faktor utama yang menimbulkan
obstruksi pada asma. Obat-obatan beta-adrenergik agonis teofilin dan
antikolinergik terbukti dapat mengendorkan spasme otot polos tersebut. Karena
setiap obat tadi mempunyai mekanisme kerja yang berbeda, maka pemakaian obat-
obatan secara gabungan akan menambah efek masing-masing obat tersebut. Obat-
obatan tersebut meliputi :
Adrenergik : suatu bronkodilator yang spesifik
Epinefrin (Adrenalin)
Epinefrin sangat poten, kerjanya cepat secara parenteral. Efek
terapeutiknya pendek, kecuali kalau larutannya digabungkan dengan
suspensi lain yang mengandung aluminium. Epinefrin merupakan gabungan
alfa dan beta adrenergik agonis. Pemberian subkutan dengan dosis 0,01
mg/kg BB, menghasilkan bronkodilator cepat, tetapi dengan adanya alfa
adrenergik yang mempunyai aktivitas kuat, pemakaian epinefrin harus
dibatasi pada penderita tua, terutama yang menderita penyakit jantung
iskemik. Karena obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti iskemi
miokard, aritmia, dan hipertensi sistemik. Kontra indikasi ini tidak berlaku
pada semua penderita yang mengalami eksaserbasi.
Efedrin
Obat ini merupakan suatu bronkodilator ringan. Sering dikombinasikan
dengan aminofilin dan sedatif, tetapi penggunaannya terbatas pada serangan
asma ringan
Isoproterenol
Obat ini diberikan secara inhalasi dengan menggunakan nebulizer
dan dalam dosis kecil. Kerja obat baru tampak setelah 5 menit pemberian
dan waktu kerja obat sangat pendek, yaitu kurang dari 2 jam. Penderita yang
mengalami serangan asma berat dapat diberikan per injeksi. Hati-hati
pemberian obat pada penderita sakit jantung.
Beta-adrenergik Agonis Selektif
Obat ini bekerja selektif sebagai bronkodilator pada reseptor beta 2
otot polos bronkus, sehingga terjadi pelebaran saluran napas serta
memperlambat terlepasnya mediator sel mast dan basofil. Bila diberikan
per oral lama kerjanya 4-6 jam, namun bila diberikan secara aerosol efek
obat lebih lama sekitar 12-18 jam. Pemberian aerosol juga dapat
mengurangi pengaruh sampingan berdebar-debar, cemas, gemetar
dibandingkan dengan pemberian per oral atau parenteral dan pemberian
secara inhalasi lebih rasional, baik untuk pencegahan maupun eksaserbasi
akut, karena asma merupakan penyakit saluran napas
Non Adrenergik Bronkodilator
Teofilin
Teofilin dan derivatnya merupakan obat asma kelompok pertama
yang sering dipakai. Untuk pengobatan asma akut tersedia dalam
bentuk tablet tipis dengan kerjanya yang cepat, namun tidak dipakai
sebagai maintenance drug karena cepat pula dimetabolisir,. Untuk
pemakaian long acting tersedia dalam bentuk tablet sustained-release
yang efek bronkodilatornya 12-24 jam, sehingga dapat dipakai 2x
sehari. Teofilin menghambat enzim fosfodiesterase , sehingga 5-
cAMP tidak terbentuk dan konstriksi bronkus tidak terjadi. Teofilin
juga bekerja melawan adenosin yang dapat menyebabkan
bronkokonstriksi, meningkatkan pelepasan katekolamin dalam
tubuh., mempengaruhi aliran kalsium dalam sel, mempercepat
terjadinya ikatan cAMP dengan protein menjadi cAMP-protein dan
mengurangi kelelahan otot diafragma. Teofilin bebas dapat
menembus plasenta, sehingga kadar teofilin di dalam janin pada
waktu lahir sama dengan kadar teofilin dalam serum ibunya. Namun,
sampai saat ini tidak menyebabkan kelainan kongenital walaupun
bayi mengalami keracunan teofilin
Obat-obat antikolinergik
Atropin, prototipe kolinergik, digunakan sebagai obat asma terbatas karena
efek samping yang sering terjadi. Atropin diserap tubuh melalui mukosa.
Namun obat sintetiknya banyak dipakai pada pengobatan penderita penyakit
paru obstruktif menahun, yakni ipratropium bromida, dan merupakan obat yang
mempunyai kemampuan bronkodilatasi 2x lipat dengan waktu kerja yang jauh
lebih lama dibandingkan dengan atropin itu sendiri. Kombinasi anti kolinergik
dengan obat golongan adrenergik akan menghasilkan relaksasi otot polos
bronkus, dengan cepat dan lebih lama.

KELOMPOK OBAT ASMA


Obat asma dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan
obat pengendali (controller).
Obat pereda ada yang menyebutnya obat pelega, atau obat serangan. Obat
kelompok ini digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang
timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada gejala lagi maka obat
tidak digunakan lagi atau diberikan hanya bila perlu. Jenis obat pereda yang biasa
digunakan, yaitu :
o Bronkodilator : terdiri dari simpatomimetik, santin, dan antikolinergik
Simpatomimetik contohnya adrenalin, ephedrin, 2 Agonis
Santin contohnya teofilin, aminofilin
Antikolinergik contohnya iptropium bromide
o Kortikosteroid. Contohnya : kortison, hidrokortison, prednison, kenacort
o Mukolitik. Contohnya : obat batuk putih (OBP), obat batuk hitam (OBH),
bisolvon
Obat pengendali yang disebut juga obat pencegah atau obat profilaksis. Obat
ini digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma, yaitu inflamasi kronik saluran
napas. Dengan demikian pemakaian obat ini terus-menerus diberikan walaupun
sudah tidak ada gejalanya. Lama pengobatan tergantung keadaan asma dan
tujuannya. Pemberiannya diturunkan pelan-pelan yaitu 25% setiap penurunan
setelah tujuan pengobatan asma tercapai 6-8 minggu. Jenis obat pengendali yang
biasa digunakan :
o Bronkodilator
o Kortikosteroid
o Mukolitik
o Ketotifen

TATALAKSANA SERANGAN ASMA


Pengobatan Medikamentosa pada derajat serangan pada dasarnya selalu diawali
dengan tatalaksana awal berupa :
Pemberian nebulisasi - agonis dengan penambahan garam fisiologis, yang
dapat diulang 1 3 x selang 20 menit
Pada pemberian ketiga nebulisasi ditambah antikolinergik
Pada serangan berat, langsung berikan nebulisasi agonis dikombinasikan
dengan antikolinergik
Pada pasien dengan serangan berat yang diserai dehidrasi dan asidosis
metabolik, mungkin akan mengalami takifilaksis atau refrakter, yaitu respons
yang kurang baik terhadap nebulisasi agonis cukup diberikan 1x
nebulisasi kemudian secepatnya dirawat untuk mendapat obat intravena
selain diatasi masalah dehidrasi dan asidosisnya.

Kemudian, tatalaksana disesuaikan dengan derajat serangan :


(1) Serangan asma ringan
Jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan respon yang baik
(complete response), berarti derajat serangannya ringan. Pasien diobservasi
selama 12 jam, jika respons tersebut bertahan berarti serangan telah
berakhir, pasien dapat dipulangkan dan dibekali obat agonis (hirupan atau
oral) yang diberikan tiap 4 6 jam
Jika pencetus serangannya adalah virus dapat ditambahkan steroid oral
dalam jangka pendek (3 5 hari)

(2) Serangan asma sedang


Jika dengan pemberian nebulisasi 2 -3 kali , pasien hnaya menunjukkan
respon parsial (incomplete response), kemungkinan derajat serangannya
sedang. Untuk itu perlu dinilai ulang derajatnya. Steroid sistemik (oral)
metilprednisolon dengan dosis 0,5-1 mg/kg BB/hari selama 3-5 hari
Apabila alat nebuliser tidak tersedia, maka sebagai alternatif lain dapat
digunakan spacer yang dihubungkan dengan obat inhaler ( MDI = Matered
Dose Inhaler ) . pada serangan asma ringan dan sedang , metode ini sama
efektifnya dengan pemberian nebulisasi, sedangkan pada serangan berat
nebuliser masih lebih unggul.
Dengan bantuan spacer, deposit obat di paru paru akan lebih besar
dibandingkan dengan MDI tanpa spacer.

(3) Serangan asma berat


Bila dengan tiga kali nebulisasi berturut- turut pasien tidak menunjukkan
respon buruk ( poor response ), yaitu tanda dan gejala serangan masih ada
( pemakaian ulang sesuai pedoman ) maka pasien harus dirawat diruang
inap. Dalam derajat ini Pasien harus segera ditangani denagn pemberian
oksigen. Oksigen 2- 4 L / menit diberikan sejak awal harus diberikan
termasuk saat nebulisasi.. Pasang jalur parenteral dan lakukan foto toraks.
Jika sejak penilaian awal pasien mengalami serangan berat, nebulisasi cukup
diberikan satu kali langsung dengan agonis dan antikolinergik
( Ipratropium bromida ). Dahulu keadaan ini disebut dengan status
asmatikus.
Pada keadaan ini harus dicari penyebab kegagalan tatalaksana yang biasanya
adalah keadaan dehidrasi, asidosis dan adanya gangguan ventilasi akibat
atelektasis.
Terapi non-medikamentosa serangan asma :
Oksigen 4 L/menit
Mencegah anak terpapar zat / allergen/ kondisi ( cuaca ) yang dapat
memacu timbulnyaserangan asma.
Edukasi kepada pihak keluarga anak yang menderita asma mengenai
derajat penyakit dan derajat serangan asma
Diet yang bergizi, cukup istirahat
Berenang
Kasus yang perlu segera dirujuk ke Rumah Sakit terdekat adalah ketika
pasien menunjukkan gejala dan tanda henti napas. Di IGD RS harus segera
dilakukan foto toraks untuk mendeteksi sedini mungkin adanya komplikasi
pneumotoraks/ pneumomediastinum, meskipun menurut data statistik yang
didapatkan komplikasi ini jarang terjadi.

CARA PEMBERIAN OBAT ASMA

1. Peroral

2. Perinhalasi/aerosol
Umur Alat Inhalasi
< 2 tahun
Nebuliser

MDI dengan spacer Aerochamber,


Babyhaler
5-8 tahun
Nebuliser

MDI dengan spacer

DPI : Diskhaler,Turbuhaler
> 8 tahun
Nebuliser

MDI dengan spacer

DPI

MDI tanpa spacer

3. Subkutan
4. Intramukuler
5. Intravena

TERAPI MEDIKAMENTOSA JANGKA PANJANG


Asma episodik jarang
Asma episodik jarang cukup diobati dengan obat pereda berupa
bronkodilator agonis hirupan kerja pendek (short acting 2 agonis) atau golongan
santin kerja cepat bila perlu, yaitu jika ada gejala atau serangan. Anjuran
pemakaian tidak mudah dilakukan mengingat obat tersebut mahal dan tidak selalu
tersedia di semua daerah. Di samping itu, pemakaian obat hirupan memerlukan
teknik penggunaan yang benar.

Asma episodik sering


Jika penggunaan obat pereda sudah lebih dari 3x perminggu atau serangan
sedang/berat terjadi lebih dari sekali dalam sebulan, maka penggunaan anti-
inflamasi sebagai pengendali sudah terindikasi. Berarti derajat asmanya sudah
termasuk episodik sering atau pasien sejak semula menunjukkan gejala dan tanda-
tanda yang sesuai dengan kriteria episodik sering.
Anti-inflamasi lapis pertama yang digunakan adalah kromoglikat , dengan
dosis minimum 10 mg 2-4 kali perhari. Obat ini diberikan selama 6-8 minggu,
kemudian dievaluasi hasilnya. Jika asma sudah terkendali, pemberian kromoglikat
dapat dikurangi menjasi 2-3 kali perhari. Sampai sekarang, obat ini tetap paling
aman untuk pengendalian asma anak, dan efek sampingnya ringan, yaitu sesekali
menyebabkan batuk. Nedokromil merupakan obat satu golongan dengan
kromoglikat namun lebih poten dan tidak menyebabkan batuk. Dapat diberikan
pula obat pencegahan berupa steroid hirupan dosis rendah 100-200 g/1 hari.

Asma persisten
Jika setelah 6-8 minggu pemberian steroid hirupan dosis rendah gagal dan
obat serangan tetap diperlukan 3x tiap minggu maka berarti asmanya termasuk
asma persisten. Sebagai obat pengendali atau pencegahan pilihan berikutnya adalah
obat steroid hirupan dosis 200-400 g/1 hari yang masih termasuk dosis rendah.
Steroid hirupan biasanya efektif dengan dosis rendah sampai medium yaitu 100-
400 g. Diatas 400 g/hari dilaporkan adanya pengaruh efek sistemik minimal,
sedangkan dengan dosis 800 g/hari agaknya mulai berpengaruh terhadap poros
hipotalamus-pituitary-adrenal sehingga dapat berdampak terhadap pertumbuhan.
Efek sistemik steroid hirupan dapat dikurangi dengan penggunaan alat pmberi
jarak berupa perenggang ( spacer ) yang akan mengurangi deposisi didaerah
orofaringeal sehingga mengurangi absorbsi sistemik dan meningkatkan deposisi
obat di paru.
Apabila dengan pemberian steroid hirupan dicapai fungsi paru yang
optimal atau perbaikan klinis yang mantap selama 1-3 bulan, maka dosis steroid
dapat dikurangi bertahap ( step down ) sehingga dicapai dosis terkecil yang masih
bisa mengendalikan asmanya. Sementara itu penggunaan obat pelega/obat
serangan tetap diberikan bila perlu saja.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN ASMA


1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Anak yang sakit

Meliputi nama anak, umur : rentan pada anak berumur 1-14 th


dengan status gizi yang kurang dan sering mengalami penyakit
infeksi, jenis kelamin (L dan P pervalensinya sama), suku bangsa, no
register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis.

2) Keluhan utama
Anak masuk rumah sakit biasanya dengan keluhan adanya
eritema dibelakang telinga, di bagaian atas lateral tengkuk, Identitas
sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, badan panas,
enantema ( titik merah ) dipalatum durum dan palatum mole.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Pada anak yang terinfeksi virus campak biasanya ditanyakan
pada orang tua atau anak tentang kapan timbulnya panas, batuk,
konjungtivitis, koriza, bercak koplik dan enantema serta upaya yang
telah dilakukan untuk mengatasinya.
4) Riwayat kesehatan dahulu
Anak belum pernah mendapatkan vaksinasi campak dan pernah
kontak dengan pasien campak.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anak belum mendapatkan vaksinasi campak.
6) Riwayat imunisasi
Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG,
POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
7) Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan
kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari.Untuk
pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n. Status
Gizi Klasifikasinya sebagai berikut :

Gizi buruk kurang dari 60%

Gizi kurang 60 % - <80 %

Gizi baik 80 % - 110 %

Obesitas lebih dari 120 %

8) Riwayat tumbuh kembang anak.


a) Tahap pertumbuhan

Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam


kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun )
x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada
usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia
pra sekolah rata rata pertambahan berat badan 2,3
kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti
meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun
) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3
tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata
pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 7,5 cm/tahun.Pada anak
usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.

b) Tahap perkembangan.

(1) Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa


bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan
jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah
dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan
yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.

(2) Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada


fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain
dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek
( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek
( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).

(3) Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap


preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase
pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri
belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu
belum benar dan magical thinking.

(4) Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu


mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong,
melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa
menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
(5) Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan
keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar salah
untuk menghindari hukuman.

(6) Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik,


jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis
kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan
kelompoknya.

(7) Perkembangan sosial yaitu berada pada fase Individuation


Separation . Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya
terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa
mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan
sedikit atau tidak protes.

(8) Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih


dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa
merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai
objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-
nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah
sederhana.

(9) Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan


permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa
orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari
bahwa dia mempunyai lingkungan luar.

(10) Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan


orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan
dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus
yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda
tiga.

b. Pemeriksaan fisik
1) Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan,
dan tanda-tanda vital.
2) Kepala dan leher
a) Inspeksi :
Kaji bentuk kepala, keadan rambut, kulit kepala, konjungtivitis,
fotofobia, adakah eritema dibelakang telinga, di bagian atas lateral
tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.
b) Palpasi :
adakah pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan
didaerah leher belakang,
3) Mulut
a) Inspeksi :
Adakah bercak koplik di mukosa bukalis berhadapan dengan molar
bawah, enantema di palatum durum dan palatum mole, perdarahan
pada mulut dan traktus digestivus.
4) Toraks
a) Inspeksi :
Bentuk dada anak, Adakah batuk, secret pada nasofaring, perdarahan
pada hidung.Pada penyakit campak, gambaran penyakit secara klinis
menyerupai influenza.
b) Auskultasi :
Ronchi / bunyi tambahan pernapasan.
5) Abdomen
a) Inspeksi :
Bentuk dari perut anak.Ruam pada kulit.
b) Auskultasi
Bising usus.
c) Perkusi
Perkusi abdomen hanya dilakukan bila terdapat tanda abnormal,
misalnya masa atau pembengkakan.
6) Kulit
a) Inspeksi :
Eritema pada kulit, hiperpigmentasi, kulit bersisik.
b) Palpasi :
Turgor kulit menurun

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya

bronkhonstriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkus, serta

sekresi mukus yang kental.


b. Resiko tinggi ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan

peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia dan ancaman gagal nafas.


c. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap.
d. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan

dengan penurunan nafsu makan.


e. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan.
f. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang

dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas).


g. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak

adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.


3. Intervensi

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan

bronkhokonstriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkhus

sekresi mukus yang kental.


Tujuan: Dalam waktu 3 x 24 jam setelah di berikan intervensi kebersihan jalan nafas

kembali efektif
Kriteria evaluasi :

-dapat mendemostrasikan batuk efektif

-dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi

-tidak ada suara nafas tambahan dan wheezing (-)


-pernafasan klien normal (16-20x/menit) tanpa adanya penggunaan otot

bantu nafas
Rencana intervensi Rasional
Kaji warna,kekentalan dan Karakteristik sputum dapat menunjukan

jumlah sputum berat ringannya obstruksi


Atur posisi semifowler Meningkatkan ekspansi dada
Ajarkan cara batuk efektif Batuk yang terkontrol dan efektif dapat

memudahkan pengeluaran sekret

yangmelekat di jalan nafas.


Bantu klien latihan nafas dalam Ventilasi maksimal membuka lumen jalan

nafas dan meningkatkan gerakan sekret

kedalam jalan nafas besar untuk di

keluarkan
Pertahankan intake cairan Hidrasi yang adekuat membantu

sedikitnya 2500 ml/hari kecuali mengencerkan sekret dan mengefektikan

tidak di indikasikan pembersihan jalan nafas


Lakukan fisioterapi dada dengan Fisioterapi dada merupakan strategi

teknik postural crainase, perkusi, untuk mengeluarkan sekret

dan fibrasi dada


Kolaborasi pemberian obat

Bronkodilator golongan B2


Nebulizer (via inhalasi )dengan Pemberian bronkodilator via inhalasi

golongan terbutalin 0,2mg akan langsung menuju area bronkus yang

fenoterol HBr 0,1% mengalami spasme sehingga lebih cepat

Intravena dengan golongan berdilatasi.


Pemberian secara intravena merupakan
theophyline ethilenediamine usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan

(aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kg nafas dapat optimal

BB
Agen mukolitik dan ekspektoran Agen mukoliti menurunkan kekentalan

dan pelengketan sekret paru untuk

memudahkan pembersihan.

Agen ekspektoran akan memudahkan

sekret lepas dari perlengketan jalan nafas


Kortikosteroid Kortikostiroid berguna pada keterlibatan

luas dengan hipoksemia dan menurunkan

reaksi inflamasi akibat edema mukosa

dan dinding bronkus.

2. Resiko tinggi ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan

peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia dan ancaman gagal nafas.


Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam setelah di berikan intervensi pola nafas kembali

efektif.
Kriteria evaluasi : Menunjukan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam

rentang normal.
Rencana Intervensi Rasional
Kaji frequensi, kedalaman Kecepatan biasanya meningkat, dipsneu

pernafasan dan ekspansi dada, dan terjadi peningkatan kerja napas.

catat upaya, termasuk Kedaaman pernafasan bervariasi

penggunaan otot bantu/pelebaran tergantung derajat gagal nafas. Ekspansi

nasal. dada terbatas yang berhubungan dengan


nyeri dada pleuritik.
Auskultasi bunyi nafas dan catat Bunyi nafas menurun/tak ada jalan nafas

adanya bunyi nafas ventisius, obstruksi sekunder terhadap perdarahan,

seperti krekels, mengi. bekuan, jalan nafas kecil. Ronkhi dam

mengi menyertai obstruksi jalan

nafas/gagal nafas.
Tinggikan kepala dan bantu Duduk tinggi memungkinkan ekspansi

mengubah posisi. paru dan memudahkan pernafasan.


Bantu klien dalam nafas dalam Dapat meningkatkan sputum dimana

dan latihan batuk, pengisapan gangguan ventilasi dan ditambah

peroral atau nasotrakeal bila ketidaknyamanan upaya bernafas.

diindikasikan.
Kolaborasi : berikan oksigen Memaksimalkan bernafas dan

tambahan menurunkan kerja nafas


Berikan humidifikasi tambahan : Memberikan kelembaban pada membrane

nebulizer mikosa dan membantu pengenceran

secret untuk memudahkan pembersihan.

3. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma

menetap.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi pertukaran gas kembali membaik
Hasil Karakteristik :

- Bebas gejala distres pernafasan


- Frekuensi nafas 16-20x/menit
Rencana Intervensi Rasional
Kaji frekuensi, kedalaman Berguna dalam evaluasi derajat disstres

pernafasan, catat penggunaan pernafasan


otot aksesori, nafas bibir,

ketidakmampuan berbicara
Tinggikan kepala tempat tidur, Pengiriman oksigen dapat diperbaiki

bantu pasien untuk memilih dengan posisi duduk tinggi.

posisi yang mudah untuk

bernafas
Auskultasi bunyi nafas, catat Bunyi nafas mngkin redup karena

area penurunan aliran udara atau penurunan aliran udara. Adaanya mengi

bunyi tambahan mengidikasikan tertahannya sekret


Berikan oksigen tambahan Memperbaiki/mencegah hipoksia

sesuai indikasi

4. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang

berhubungan dengan penurunan nafsu makan.


Tujuan : Setelah dilakuakn intervensi diharapkan pemenuhan kebtuhan nutrisi klien

terpenuhi
Hasil Kriteria :

Menunjukan pemahaman kebutuhan diet individu


Menunjukan peningkatan berat badan sesuai tujuan dalam nilai laboratorium

normal
Rencana Intervensi Rasional
Catat status nutrisi klien pada Berguna dalam mendefinisikan

penerimaan, catat turgor kulit, derajat/luasnya masalah dan pilihan

berat badan dan derajat intervensi yang tepat

kekurangan berat badan, riwayat

mual/muntah
Pastika pola diet pasien, yang Membantu dalam mengidentifikasi

duisukai/tak disukai kebutuhan khusus. Pertimbangkan

keinginan individu dapat memperbaiki

masukan diet
Dorong orang terdekat untuk Membuat lingkungan social lebih normal

membawa makanan dari rumah selama makan dan membantu memenuhi

dan untuk membagi dengan kebutuhan personal dan cultural

pasien kecuali kontraindikasi


Rujuk ke ahli diet untuk Memberikan bantuan dalam perencanaan

menentukan komposisi diet diet dengan nutrisi adekuat untuk

kebutuhan metabolic dan diet

5. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum,

keletihan.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi diharapkan aktifitas klien terpenuhi

Hasil Kriteria : Frekuensi nafas 16-20x/menit, frekuensi nadi 60-80x/menit


Rencana Intervensi Rasional
Kaji kemampuan klien dalam Menjadi data dasar dalam melakukan

melakukan aktifitas intervensi selanjutnya


Atur cara beraktifitas klien Untuk memulihkan kondisi klien dalam

sesuai kemampuan beraktifitas


Ajarkan latihan otot pernafasan Setelah klien mempelajari pernafasan

digfragmatik, suatu program pelatihan

otot-otot yang digunakan dalam bernafas.

Program ini mengharuskan klien bernafas


terhdap suatu tahanan selama 10-15

menit setiap hari

6. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang

dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas).


Tujuan : Setelah dilakukann inervensi diharapkan rasa cemas klien berkurang
Hasil Kriteria :

Mengkomunikasikan esadaran perasaan dan cara sehat untuk menerimanya


Menunjukan perilaku pemecahan masalah untuk mengatasi situasi yang ada
Melaporkan ansietas/takut menurun sampai tingkat dapat ditangani
Tampak rileks dan tidur/istirahat sesuai
Rencana Intervensi Rasional
Identifikasi persepsi klien tentang Mendefinisikan lingkup masalah

ancaman yang ada dari situasi individu dan mempengaruhi pilihan

intervensi
Akui ansietasdan takut terhadap Memvalidasi kenyataan situasi tanpa

situasi. Hindari pemberian meminimakan dampak emosi.

keyakinan yang tak berarti bahwa Memberikan kesempatan pada klien

segalanya akan baik mulai menerima apa yang terjadi,

menurunkan ansietas
Tunjukan penggunaan teknik Memberikan manajemen aktif untuk

relaksasi, contoh focus pernafasan, menurunkan perasaan tak berdaya

bimbingan imajinasi.
Berikan aktifitas olahraga, waktu Untuk meningkatkan kualitas hidup

senggang dalam kemampuan


individu,

7. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak

adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.


Tujuan : setelah dilakukan intervensi diharapkan klien mampu memahami isi materi

pembelajaran
Hasil Kriteria :

Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.


Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an

tindakan tersebut.
Berpartisipasi dalam proses belajar.
Melakukan perubahan pola hidup.
Rencana Intervensi Rasional
Tentukan kemampuan dan keinginan Kondisi fisik dapat mencegah klien

untuk belajar terlibat dalam perawatan sebelum

dan sesudah pulang.


Diskusikan kondisi khusus yang Memberikan pengetahuan dasar

memerlukan dukungan ventilasi, untuk klien dan orang terdekat

tujuan pengobatan untuk jangka membuat keputusan berdasarkan

waktu pendek atau panjang informasi.


Identifikasi gejala yang harus Dapat menunjukan kemajuan atau

dilaporkan keperawat, contoh sulit pengaktifan ulang penyakit, atau efek

bernafas, kehilangan pendengaran, obat yang memerlukan evaluasi

vertigo lanjut

4. Implementasi Keperawatan
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat
dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini
dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan,
memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan
serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. Pada pelaksanaan keperawatan
diprioritaskan pada upaya untuk mempertahankan jalan nafas, mempermudah
pertukaran gas, meningkatkan masukan nutrisi, mencegah komplikasi,
memperlambat memperburuknya kondisi, memberikan informasi tentang proses
penyakit (DoengesMarilynn E, 2000, Remcana Asuhan Keperawatan)

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada pasien. Evaluasi yang diharapkan sesuai dengan rencana tujuan
yaitu :
1) Bersihan jalan nafas efektif
2) Ventilasi dapat ditingkatkan
3) Pemenuhan nutrisi adekuat
4) Nyeri berkurang/terkontrol
5) Aktivitas dapat ditingkatkan
6) Kecemasan orang tua berkurang/hilang, pengetahuan orang tua bertambah,
keluarga memahami kondisi pasien

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran
napas yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga
apabila terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi
tersumbat dan aliran udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan
mukus, dan meningkatnya proses radang (Almazini, 2012)
Penyebab asma yaitu seperti debu rumah, spora jamur, rerumputan.,

asap, bau bauan, Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan oleh
virus, perubahan cuaca yang ekstrem, kegiatan jasmani yang berlebihan,

lingkungan kerja dan lain-lain.


Pada Asuhan Keperawatan, Diagnosa yang mungkin muncul diantaranya :
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan

adanya bronkhonstriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan

dinding bronkus, serta sekresi mukus yang kental.


b. Resiko tinggi ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan

dengan peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia dan ancaman

gagal nafas.
c. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma

menetap.
d. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang

berhubungan dengan penurunan nafsu makan.


e. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum,

keletihan.
f. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang

dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas).


g. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang

tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan

3.2 Saran
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan namun dalam penggunaan obat-
obat yang ada saat ini hanya berfungsi untuk menghilangkan gejala saja.
Kontrol yang baik diperlukan oleh penderita untuk terbebas dari gejala
serangan asma dan bisa menjalani aktivitas hidup sehari-hari. Untuk
mengontrol gejala asma secara baik maka penderita harus bisa merawat
penyakitnya dengan cara mengenali lebih jauh tentang penyakit tersebut.
4
DAFTAR PUSTAKA

Ananda. 2014. Laporan Pendahuluan Asma. (Online). Available:


http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluan-
asma.html#.VhMyZivQOl4 (diakses pada tanggal 4 Oktober 2015 pukul
11.15 WITA)

Putri. 2013. Klasifikasi Tingkat Keparahan Asma dan Pengendalian Asma.


(Online). Available: http://www.purtierplacenta.com/klasifikasi-tingkat-
keparahan-asma-dan-pengendali-asma-menurut-naepp/ (diakses pada
tanggal 4 Oktober 2015 pukul 15.30 WITA)

Anonym. 2013. Penatalaksanaan Asma. (Online). Available:


https://fkunand2010.files.wordpress.com/2012/12/penatalaksanaan-
asma.pdf (diakses pada tanggal 5 Oktober 2015 pukul 12.19 WITA)

Carpenito, L.J. (2000). Diagnosa keperawatan. (Edisi 6). Jakarta: EGC (diakses
pada tanggal 5 oktober 2015 pukul 16.00 WITA)

Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.
(diakses pada tanggal 5 oktober 2015 pukul 19.30 WITA)