Anda di halaman 1dari 6

Hematoma tentorial traumatis pada pengendara roda dua: Korelasi dengan

penggunaan helm
Deepak Agrawal dan Pankaj Dawar
Abstrak
Latar Belakang: Hematoma tentorial sering terlihat pada pasien cedera otak
traumatis traumatis brain injury (TBI), terutama pada pengendara motor roda dua
yang menyertai cedera kepala. Namun relevansi dan makna prognostiknya tidak
diketahui.
Tujuan: Untuk mengevaluasi pasien TBI dengan hematoma tentorial
menggunakan sistem penilaian yang sederhana dan berusaha untuk
mengkorelasikan gradasi tersebut dengan faktor-faktor seperti penggunaan helm
dan outcome neurologis.
Bahan dan metode: Penelitian prospektif selama periode 1 tahun yang
melibatkan pasien dengan TBI dengan hematoma tentorial pada initial head plain.
Pasien dibagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan temuan CT awal: Grade I:
Isolated hematoma tentorial, Grade II: hematoma tentorial dengan pergeseran
garis tengah akan tetapi cisterna terbuka dan Grade III: hematoma tentorial
dengan sisterna yang telah hilang. Catatan klinis dan radiologi pasien meliputi
GCS dan GOS pada saat pulang dalam semua kasus juga dinilai.
Pengamatan: Sebanyak 1.786 pasien TBI diadmisi selama masa studi. Dari
jumlah tersebut, 106 (5,9%) pasien memiliki hematoma tentorial. 84,9% (n = 90)
adalah laki-laki dan 15,1% (n = 16) perempuan dengan usia rata-rata 36,5 tahun
(kisaran 2-66 tahun). Rata-rata GCS admisi adalah 13, 11 dan 8 masing-masing
pada pasien dengan hematoma tentorial grade I, II dan III. 43,4% (n = 46) dari
pasien termasuk dalam hematoma tentorial grade I, 32,1% (n = 34) grade II dan
24,5% (n = 26) pasien grade III. Tujuh puluh satu pasien (84,5%) mengendarai
kendaraan bermotor roda dua dengan 63 (89%) memakai helm. Sebagian besar
pasien yang memakai helm (58,8%) mengalami hematoma grade I, 35% (n = 22)
grade II dan hanya 6,3% (n = 4) yang grade III. Secara keseluruhan, ada 20
kematian. 50% (n = 10) kematian terjadi pada pasien dengan hematoma grade III
dan 40% (n = 8) kematian terjadi pada pasien grade II. Ada dua (10%) kematian
pada pasien dengan grade I (keduanya tidak berhubungan dengan cedera kepala).
Rata-rata GOS saat pulang masing-masing pada pasien dengan tentorial
hematoma grade I, II dan III adalah 5, 4.1 dan 2.2.
Kesimpulan: hematoma tentorial sangat umum terjadi pada pengendara roda dua
dengan TBI dan bisa menjadi penanda bagi tekanan tidak langsung seperti tekanan
rotasi yang dirasakan ketika mengenakan helm.
Kata kunci: cedera kepala, helm, kematian, outcome, perdarahan tentorial,
hematoma tentorial, cedera otak traumatis.
Pendahuluan
Pengendara motor roda dua memiliki insiden cedera otak traumatis (TBI) yang
secara proporsional lebih tinggi dibandingkan dengan moda transportasi lainnya.
Di seluruh dunia, helm telah terbukti sangat efektif dalam mengurangi kejadian
serta keparahan TBI pada populasi yang rentan ini.[1] Penurunan mortalitas dan
morbiditas ini mungkin karena penyerapan dan defleksi kekuatan kinetik oleh
helm. Redistribusi kekuatan dapat berkonsekuensi baru seperti pembentukan
hematoma tentorial. Penulis senior telah mengamati bahwa hematoma tentorial
sangat umum pada pengendara motor roda dua berhelm yang menderita cedera
kepala dan hipotesis ini dibuat lebih kuat dengan studi sebelumnya yang telah
menunjukkan bahwa keberadaan hematoma tentorial menandakan kekuatan rotasi
dan akselerasi-deklerasi yang terjadi di sekitar batang otak. [1]
Secara sporadis gambaran hematoma dari cerebelli tentorial dan sekitarnya juga
dapat menjadi faktor prediktif untuk outcome pada pasien setelah TBI. Namun,
kriteria diagnostik radiologis yang tegas untuk hematoma tentorial masih kurang
dan kehadiran hiperdensitas di wilayah cerebelli tentorial pada CT kepala polos
yang menyertai trauma umumnya dianggap sebagai bukti dari hematoma tentorial.
[2] Dalam studi ini kami mengusulkan sistem penilaian yang sederhana untuk
hematoma tentorial dan mencoba untuk mengkorelasikan sistem penilaian ini
dengan faktor-faktor seperti penggunaan helm dan outcome neurologis.
Bahan dan metode
Penelitian prospektif ini dilakukan dari Januari 2009 sampai Desember 2009 pada
pasien TBI yang dirawat di departemen Bedah Saraf. Hanya pasien yang memiliki
CT scan awal dilakukan dalam waktu 24 jam dari cedera dilibatkan dalam
penelitian tersebut. CT scan dievaluasi untuk keberadaan hematoma tentorial-nya
oleh dua ahli bedah saraf (DA dan PD). Hematoma tentorial didefinisikan sebagai
hiperdensitas pada fossa posterior dekat dengan tentorial ceribelli dengan satuan
hounsefield 60-90 di CT kepala polos.
Pasien dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan sistem penilaian yang dibuat
oleh penulis:
Catatan demografi, klinis dan radiologi pasien meliputi GCS admisi dan GOS
pulang dinilai dalam semua kasus.
Hasil
Demografi
Dari 1.786 pasien yang terdaftar selama masa studi, 106 memiliki hematoma
tentorial pada CT kepala awal. Ada 90 laki-laki dan 16 pasien perempuan dengan
usia rata-rata 36,5 tahun (kisaran 2-66 tahun). Ada 46 pasien hematoma tentorial
di grade 1, 34 di grade 2 dan 26 di grade 3 [Tables 1 dan 2]. Rata-rata GCS admisi
adalah 13, 11 dan 8 pada pasien dengan hematoma tentorial grade I, II dan III.
Kecelakaan lalu lintas/road traffic injury (RTI) adalah penyebab paling umum dari
cedera kepala yang terlihat pada 84 (79,24%) pasien, diikuti oleh kekerasan pada
13 (12,3%). Jatuh dari ketinggian hanya menyumbang sembilan kasus (8,4%). Di
antara RTI, 84,5% (n = 71) karena cedera motor roda dua (63 memakai helm) dan
sisanya cedera kendaraan roda empat sebesar 15,5%.
Dari 63 pasien cedera karena kendaraan bermotor roda dua berhelm dengan
hematoma tentorial, 37 (58,8%) memiliki hematoma grade I. 22 (35%) memiliki
hematoma grade II dan hanya 4 (6,3%) pasien yang memiliki hematoma grade III.
Manajemen
Kelompok hematoma tentorial Grade I (n = 46). Kebanyakan pasien (65,2%)
yang dikelola secara konservatif. Empat pasien memerlukan kraniektomi
dekompresi ketika ICP tetap tinggi (> 20 mmHg) pada pemantauan ICP. Dua
pasien meninggal (tidak berhubungan dengan cedera kepala).
Kelompok hematoma tentorial grade II (n = 34). Intervensi bedah dilakukan
pada 27 pasien (enam meninggal kemudian) dan hanya lima pasien yang dikelola
secara konservatif. Dua pasien tambahan secara hemodinamik tidak stabil dan
meninggal sebelum intervensi dapat dilakukan.
Kelompok hematoma tentorial Grade III (n = 26). Intervensi bedah dilakukan
pada 21 pasien (5 meninggal kemudian) dan lima pasien secara hemodinamik
tidak stabil dan meninggal sebelum intervensi dapat dilakukan.
Outcome
Rata-rata GOS pada saat pemulangan pada pasien tentorial hematoma grade I, II
dan III, masing-masing adalah 5, 4.1 dan 2.2. Ada 20 kematian. Lima puluh
persen (n = 10) kematian pada pasien dengan hematoma grade III dan 40% (n = 8)
kematian pada pasien dengan hematoma grade II. Ada dua (10%) kematian pada
pasien dengan hematoma grade I (keduanya tidak berhubungan dengan cedera
kepala).
Pembahasan
Insiden cedera kepala terus meningkat di negara-negara dengan perkembangan
urbanisasi dan meningkatnya populasi kendaraan. Kecelakaan lalu lintas jalan
menyebabkan mayoritas cedera kepala dalam kehidupan masyarakat sipil dan
dalam penelitian kami RTI adalah penyebab paling umum dari TBI, terlihat pada
84 (79,24%) dari 106 kasus. Hal ini juga diketahui bahwa pengendara roda dua
lebih rentan untuk mengalami cedera kepala berat dan korban jiwa.[3,4,5,6]
Penggunaan helm telah terbukti secara dramatis mengurangi keparahan cedera
kepala dan sebagian besar negara memiliki undang-undang untuk wajib
menggunakan helm saat naik kendaraan roda dua.[1,3,4,5,6,7,8,9] Namun, karena
berbagai alasan pengendara tidak mengenakan helm yang berkualitas baik dan
bahkan jika mereka memakai helm, talinya tidak dipasang dengan benar.[10]
Alasan tersebut memberikan efek negatif dari penggunaan helm yang mengarah
pada peningkatan kejadian dan keparahan TBI.
Hasil pengamatan penulis senior (DA) menunjukkan bahwa hematoma tentorial
sering terlihat pada pasien cedera kepala yang mengenakan helm. Penelitian ini
dilakukan untuk menilai kejadian hematoma tentorial dan untuk melihat korelasi
yang mungkin dari penggunaan helm. Namun, saat merancang penelitian, disadari
bahwa definisi yang tegas dari hematoma dari cerebelli tentorial dalam literatur
masih kurang. Cerebelli tentorial terdiri dari lapisan dura dan memiliki batas yang
bebas dan tetap. Sebagian besar bagian ditempatkan tetap secara anterior, disebut
ligamen sphenopetrous yang berjalan dari proses clinoid posterior ke puncak
bagian petrosa dari tulang temporal dan kemudian berjalan secara bilateral sebagai
struktur berlapis ganda di sepanjang sinus melintang naik sepanjang tulang
occipital untuk bergabung dengan falx cerebri di garis tengah.[11] Darah dapat
mengumpul di bawah permukaan yang lebih rendah, di atas permukaan superior
atau antara dua lapisan dural karena robeknya sinus tentorial atau bridging veins.
[11,12] Tentorial biasanya sedikit hyperdense, dan hematoma kecil sulit untuk
divisualisasikan. Namun, sebagian besar hematoma tampak jelas terlihat sebagai
hyperdensity di sepanjang permukaan tentorial dengan unit Hounsfield (HU),
biasanya antara 60 dan 90 HU [Gambar 1-3]. Oleh karena itu kami merancang
sistem penilaian yang sederhana untuk menilai hematoma tentorial. Sistem
penilaian sangat sederhana untuk diterapkan dan didasarkan pada CT kepala polos
awal. CT scan berulang mungkin tidak akurat dalam menilai hematoma tentorial
seperti dalam penelitian kami karena hematoma berakhir dengan cepat selama 48-
72 jam.
Adalah penting untuk dicatat bahwa hemotoma tentorial (grade berapapun) jarang
terjadi pada populasi TBI (5,9% dalam penelitian kami). Temuan yang paling
signifikan dari studi kami adalah hubungan yang sangat tinggi hematoma tentorial
dengan menggunakan helm (89%). Namun, seperti yang kami kecualikan yaitu
bentuk lain dari kendaraan roda dua (seperti sepeda dimana helm tidak sering
dipakai), kami tidak dapat menarik kesimpulan tentang kejadian dan pola cedera
hematoma tentorial terisolasi pada bukan pengguna helm. Namun demikian, fakta
bahwa hematoma tentorial terisolasi sering terlihat pada sebagian besar pasien
berhelm (59%), menunjukkan bahwa meskipun helm menawarkan perlindungan
terhadap cedera otak langsung, transmisi rotasi dan tekanan tidak langsung di
sekitar batang otak dapat mengakibatkan hematoma tentorial. Studi sebelumnya
yang dilakukan oleh Richter et al. juga menunjukkan bahwa helm menurunkan
tekanan langsung tetapi tidak cukup untuk mencegah tekanan rotasi tidak
langsung. [1] Atas alasan tersebut menjadikan keprihatinan dan perlunya
perubahan lebih lanjut dalam desain helm yang dapat menjamin untuk
menurunkan tekanan-tekanan tersebut.
Outcome klinis saat pulang terbatas pada GOS dan tetap menjadi keterbatasan
penelitian ini. Hanya ada dua mortalitas di rumah sakit pada tentorial hematoma
grade I, kedua pasien tersebut (salah satu pasien tersebut memiliki riwayat jatuh
dari ketinggian dan lainnya karena serangan) memiliki politrauma dan meninggal
karena penyebab yang tidak terkait dengan cedera kepala. Ada delapan kematian
pada hematoma tentorial grade II (tiga diantaranya adalah pengendara motor roda
dua). Maksimum (n = 10) kematian pada grade III. Hal ini menunjukkan bahwa
sistem penilaian kami dapat dengan mudah diterapkan dalam praktek bedah saraf
untuk memprediksi outcome dan prognosis pasien ini.
Karena kami tidak memasukkan pasien tanpa hematoma tentorial, maka
perbandingan antara kelompok tidak dapat dilakukan. Namun, tujuan dari
penelitian ini adalah untuk melihat korelasi hematoma tentorial dengan
penggunaan helm dan hasil tersebut dicapai dalam penelitian kami. Kami berharap
penelitian ini akan mendorong studi di masa depan untuk lebih menjelaskan
makna prognostik dan signifikansi pada perdarahan tentorial pada pasien cedera
kepala.
Kesimpulan
Hematoma tentorial sangat umum pada pengendara bermotor roda dua terutama
pada mereka yang memakai helm dan bisa menjadi penanda bagi tekanan tidak
langsung seperti tekanan rotasi yang dialami saat mengenakan helm.