Anda di halaman 1dari 14

a Zona Subtidal

Sebagai zona yang masih memperoleh cahaya (zona fotik), zona


subtidal masih memiliki keragaman spesies cukup banyak. Keragaman
biota yang menghuni zona subtidal seperti lamun, siput laut, bintang laut,
ganggang, dan anemone metridium. Flora dan fauna ini memiliki adaptasi
dan karakteristik masing-masing. Informasi mengenai beberapa biota
penghuni zona subtidal :

a Siput Laut

Siput laut memang mirip dengan siput yang biasa kita jumpai di daratan
tapi tanpa cangkang dan memiliki variasi warna yang sungguh sangat indah. Siput
laut sering juga disebut nudibranch. Nudibranch berasal dari bahasa Latin nudus
yang berarti telanjang, dan bahasa Yunani brankhia yang berarti insang.
Nudibranch memiliki kepala bertentakel, yang sangat sensitif terhadap sentuhan,
rasa, dan bau. Rhinophore berbentuk seperti pentungan berperan untuk
mendeteksi bau (hidung). Mereka merupakan hewan hermafrodit, tetapi jarang
melakukan fertilisasi sendiri. Nudibranch adalah hewan karnivora. Beberapa
memakan spons, yang lain hydroida, atau bryozoa, dan beberapa kanibal,
memakan siput air lainnya, dan pada situasi tertentu, bahkan anggota spesies
mereka sendiri. Bentuk tubuh bervariasi. Ukuran berkisar antara 40 hingga 600
mm. Hewan kecil ini terdapat di seluruh dunia pada semua kedalaman, tetapi
mereka mencapai ukuran terbesar dan bervariasi pada perairan hangat dan
dangkal.Siput Laut merumput di hewan sessile kecil seperti coelenterates, spons,
dan Bryozoa. Siput laut tertentu yang memakan karang dan anemon laut menelan
sel penyengat mangsa mereka tanpa pemakaian mereka; ini kemudian lulus dari
saluran pencernaan siput terhadap ceratia, di mana mereka digunakan oleh siput
untuk pertahanan sendiri.

Persebaran Siput Laut

Siput Laut (nudibranch) tersebar di seluruh dunia, dengan jumlah terbesar


dan jenis terbesar ditemukan di perairan tropis.
Karakteristik Fisik Sifut Laut

Siput laut memiliki panjang kurang dari 1 in (2,5 cm), yang terbesar
ditemukan di Great Barrier Reef of Australia, mencapai 12 inci (30 cm).
Merupakan hewan laut yang indah dengan susunan warna indah dan
berpola. Memiliki struktur berbulu (ceratia) di bagian belakang, sering dalam
warna kontras. Kebanyakan siput laut memiliki dua pasang tentakel di kepala,
yang digunakan untuk penerimaan taktil dan chemosensory, dengan mata kecil di
dasar sungut masing-masing. selain itu dalam rangka kamuflase hewan ini juga
dapat memanipulasi warna tubuhnya sehingga menjadi lebih mirip dengan
lingkungan sekitarnya.

Contoh siput laut Tinctoria:

Secara umum siput Laut diklasifikasikan dalam :

Filum : Moluska

Kelas : Gastropoda

Subclass : Opisthobranchia

Famili : Nudibranchiata

b Lamun
Lamun adalah kelompok tumbuhan berbunga (angiospermae) yang
berbiji tertutup (Angiospermae), berkeping tunggal (monokotil) dan
mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah serta mampu hidup
secara permanen di bawah permukaan air laut. Kehadiran jenis tumbuhan
lamun pada suatu lingkungan perairan sangat dipengaruhi oleh faktor
biologis, fisika dan kimia lingkungan perairan dan penyebarannya hampir
di seluruh zona intertidal dan zona subtidal, sepanjang masih dapat
dijangkau oleh cahaya matahari. Lamun sangat bermanfaat baik secara
ekologis maupun ekonomis. Terdapat di perairan pantai yang landai, di
dataran lumpur/pasir. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di
perairan tenang dan terlindung. Sangat tergantung pada cahaya matahari
yang masuk ke perairan. Mampu melakukan proses metabolisme secara
optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur
generative. Mampu hidup di media air asin. Mempunyai sistem perakaran
yang berkembang baik
Jenis-jenis lamun tersebut membentuk padang lamun baik yang
bersifat padang lamun monospesifik maupun padang lamun campuran
yang luasnya diperkirakan mencapai 30.000 km2 (Nienhuis 1993).

Karakteristik Ekologi

a Suhu

Pengaruh nyata perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara


lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan
kelangsungan hidup lamun. Marsh et al. (1986) melaporkan bahwa pada
kisaran suhu 25 - 30C fotosintesis bersih akan meningkat dengan
meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan
meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35C.
b Salinitas

Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur.


Lamun yang tua dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman
1986). Ditambahkan bahwa Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,5-
60 /o, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum
untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 /0.
Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas,
kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis
antartica biomassa, produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan
pada salinitas 42,5 /o. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan
meningkatnya salinitas, namun jumlah cabang dan lebar daun semakin
menurun (Walker 1985).

c Kekeruhan

Kekeruhan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan


lamun karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan oleh
lamun untuk berfotosintesis masuk ke dalam air. Kekeruhan dapat
disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-
partikel hidup seperti plankton maupun partikel-partikel mati seperti
bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya.

Erftemeijer (1993) mendapatkan intensitas cahaya pada perairan


yang jernih di Pulau Barang Lompo mencapai 400 u,E/m2/dtk pada
kedalaman 15 meter. Sedangkan di Gusung Tallang yang mempunyai
perairan keruh didapatkan intensitas cahaya sebesar 200 uJ3/m2/dtk pada
kedalaman 1 meter.

Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor


pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo 1997). Hamid
(1996) melaporkan adanya pengaruh nyata kekeruhan terhadap
pertumbuhan panjang dan bobot E. acoroides.
d Kedalaman

Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara


vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga
mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir
yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan
Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi
zona intertidal bawah (Hutomo 1997).

Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap


kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan
pertumbuhan tertinggi

E. acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi. Selain


itu di Teluk Tampa Florida ditemukan kerapatan T tertinggi pada
kedalaman sekitar 100 cm dan menurun sampai pada kedalaman 150 cm
(Durako dan Moffler 1985).

e Nutrien

Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang


lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor
pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan
yang jernih (Hutomo 1997).

Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara,


terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat
dipertukarkan yang dapat dimanfeatkan oleh lamun (Udy dan Dennison
1996).

Ditambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam


menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana
sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi.
Di Pulau Barang Lompo kadar nitrat dan fosfet di air antara lebih
besar dibanding di air kolom, dimana di air antara ditemukan sebesar 45,5
uM (nitrat) dan 7,1118 uM (fosfet), sedangkan di air kolom sebesar 21,75
uM (nitrat) dan 0,8397 uM (fosfet) (Noor et al 1996).

Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar.


Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah
tropik (Dawes 1981). Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar
lamun (Erftemeijer 1993).

Mellor et al. (1993) melaporkan tidak ditemukannya hubungan antara


faktor biotik lamun dengan nutrien kolom air.

f Substrat

Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di


Indonesia padang lamun dikelompokkan ke dalam enam kategori
berdasarkan karakteristik tipe substratnya, yaitu lamun yang hidup di
substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan
batu karang (Kiswara 1997). Tipe substrat juga mempengaruhi standing
crop lamun (Zieman 1986). Selain itu rasio biomassa di atas dan dibawah
substrat sangat bervariasi antar jenis substrat. Pada Thalassia, rasio
bertambah dari 1 : 3 pada lumpur halus menjadi 1 : 5 pada lumpur dan 1 :
7 pada pasir kasar (Zieman 1986).

c Bintang Laut

Contoh species : Nardoa variolata


Karakteristik bintang laut
Bintang laut dicirikan oleh simetri radial, dan jumlah lengan (5 atau
dikalikan dengan 5) menjulur dari badan pusat. Mulut dan anus saling
berdekatan, anus berada di pusat disk bersama-sama dengan madreporite.
Memiliki pedicellaria yang membuat lengannya mampu bergerak bebas.

Ekologi Bintang Laut


Bintang laut ini hidup di mana-mana di terumbu karang dan pada pasir atau batu.

Perilaku bintang laut

Sebagian besar bintang laut karnivora dan memakan spons, bryozoa,


ascidia dan moluska. Bintang laut lainnya adalah pemakan dentritus.

Bintang laut memiliki kemampuan regenerasi. Sebuah hewan baru dengan


bagian tubuh lengkap dapat tumbuh dari sebuah fragmen kecil seperti
lengan. Dalam beberapa spesies (Linckia multifora dan Echinaster luzonicus)
salah satu bisa menarik diri sendiri dan lepas dari tubuh semula, meregenerasi dan
membentuk hewan baru. Autotomy (amputasi sendiri) biasanya adalah fungsi
perlindungan, kehilangan bagian tubuh untuk menghindari predator bukannya
dimakan. Tapi di sini berfungsi sebagai bentuk reproduksi aseksual. Dalam
spesies lain bintang laut (Allostichaster polyplax dan Coscinasterias calamaria)
jika tubuh dipotong menjadi bagian-bagian yang tidak sama maka anggota tubuh
yang hilang atau terlepas akan beregenerasi.

d Bulu Babi (Echinoidea)


Karakteristik bulu babi
Badan simetris radial dengan kerangka kitin eksternal dan terletak di pusat
rahang (disebut lentera Aristoteles) dengan gigi horny. Mulut terdiri dari
pengaturan kompleks otot dan pelat sekitarnya pembukaan melingkar. Anus
terletak di permukaan atas. Beberapa bulu babi memiliki bola, bola seperti kloaka
(untuk menyimpan feces) yang menonjol dari pembukaan dubur. Hal ini dapat
ditarik masuk ke shell.

Tergantung pada spesies, duri memiliki berbagai ukuran dan bentuk, duri
melekat pada tubuh. Sering berupa duri tajam, berdiri tegak dan dalam beberapa
kasus bahkan berbisa. Memiliki penjepit pedicellaria untuk meraih mangsa kecil.
Beberapa pedicellaria juga beracun.

Ekologi dan berbagai bulu babi


Diantara bebatuan dan pasir. Kelimpahan bulu babi dapat menjadi tanda
untuk kondisi air yang jelek.

Tingkah laku bulu babi


Bergerak dengan kaki tabung tetapi juga dapat bergerak dengan duri di
bagian bawah tubuh. Bulu babi bersifat nocturnal, pada siang hari bersembunyi di
celah karang. Namun beberapa bulu babi seperti Diadema kadang hidup di tempat
yang terbuka.

Beberapa jenis bulu babi dapat menyamar. Mereka berlindung dengan


menggunakan duri dan bersembunyi di bawah bebatuan. Beberapa bulu babi
bahkan membawa karang lunak hidup atau anemone untuk melindungi diri.

Kebanyakan bulu babi adalah pemakan alga tetapi, ada juga yang
memakan spons, bryozonan dan ascidia. Ada juga yang pemakan dentritus.

Bulu babi memiliki jenis kelamin terpisah dan mudah terbentuk secara
tidak langsung oleh fusi sperma dan telur dilepaskan ke dalam air.

e Ganggang

Ganggang atau yang sering disebut alga didefinisikan sebagai berbagai


organisme fotosintetik yang tidak mempunyai akar dan daun sesungguhnya,
bersifat non vaskuler, mengandung klorofil a dan mempunyai struktur reproduksi
yang sederhana. Salah satu contoh dari alga ini adalah rhodophyceae.

Rhodophyceae
Rhodophyceae memiliki kromatofer yang berwarna biru-merah
mengandung pigmen seperti fikoeritrin merah, dan fikosianin biru; bahan
makanan cadangannya berupa zat tepung floridean, yaitu polisakarida yang mirip
dengan zat tepung; struktur tubuh berbentuk benang sederhana sehingga sangat
kompleks, bentuk motil tidak diketahui; kecuali pada beberapa jenis, sel
rhodophyceae memperlihatkan hubungan protoplasmik; reproduksi seksual
bertipe oogami lanjut, organ kelamin jantan menghasilkan gamet nonmotil dan
organ kelamin betina mempunyai leher penerima yang panjang; setelah
melakukan reproduksi seksual, dihasilkan spora khusus (karpospora), beberapa
diantaranya hidup di perairan tawar dan laut. Contohnya seperti Padina sp.

Padina sp.

Bouket dari ganggang coklat ini terdapat dan tersebar di berbagai pantai
kita, terutama di daerah Pantai selatan. Spesies ini banyak ditemukan di bebatuan
yang tebal, dan puing-puing koral. Spesies ini juga terkadang dipanggil telinga
putri duyung.

Strukturnya berbentuk corong. Tiap corong memiliki diameter selebar 3-


5cm, dengan lingkaran yang konsentrik dan daerah tepinya seperti berguling. Tiap
corong biasanya daerah tepinya sobek. Ikatan-ikatan dari spesies ini biasanya
terdapat di permukaan yang keras dan muncul seperti bouket yang indah ketika
terendam oleh air. Ganggang coklat ini kadang tampak kebiruan atau berwarna
putih yang bersemburat. Warna putih tersemburat yang terdapat pada spesies ini
dikarenakan kalsium karbonat yang terdapat di dalamnya. Padina sp. adalah satu-
satunya ganggang coklat yang memiliki kalsium.

Berdasarkan dari alga-alga yang telah diketahui, terdapat kurang lebih 30


spesies padina. Padina dikonsumsi di beberapa tempat. Spesies ini juga sering
dimanfaatkan sebagai pakan hewan, saringan ikan, dan digunakan sebagai obat-
obatan tradisional.

f Anemon Metridium ( Anemon Laut

Merupakan class terbesar dari phylum Coelenterata adalah


Anthozoa atau Actinozoa. Termasuk di dalamnya coelenterata laut dan
palypoid coelenterata, hidup berkoloni, dalam fase medusa semuanya
hidup sendiri-sendiri. Koloni Anthozoa terdiri dari banyak coral dari
jenis yang berbeda-beda. Koloni Anthozoa adalah anemone laut, masuk
ke dalam ordo Actinaria. Jumlahnya melimpah dan dikenal sebagai
hewan-hewan yang mendiami perairan hangat di seluruh dunia. Genus
umumnya Adamsia, Edwarsia, Metridium, dan Urticina. Studi
kebanyakan mempelajari Metridium (L., metricus), dan umumnya
adalah spesies M. marginatum.

Klasifikasi Metridium marginatum :

Phylum : Coelenterata

Class : Anthozoa (Actinozoa)

Subclass : Hexacoralia

Ordo : Actiniaria

Genus :Metridium

Species : Metridium marginatum

Metridium merupakan anemone laut yang mendiami perairan


pantai yang hangat sepanjang sepanjang pantai Atlantik dan Pasifik.
Metridium juga hidup di air dangkal atau zona litoral, kebanyakan
melekat pada bebatuan dan substrat keras.Hewan karnivora, memakan
crustacean, cacing. (Kotpal, 2009). Makanan akan melewati rongga
pencernaan, kemudian akan dicernakan oleh enzim yang dihasilkan
oleh filament. Anemon laut memiliki banyak tentakel yang berukuran
pendek. Tentakel ini berfungsi untuk berpegangan pada benda padat
dalam laut di zona subtidal dan laut dalam.(Karmana, 2007).

Kualitas Air Bagi Anemon Laut

Adapun kualitas air yang optimum untuk pemeliharaan anemon laut


adalah: suhu air 24 - 29 0C, oksigen terlarut 2,4 - 6 mg/l, atau 4 - 7 mg/I, nitrit
0,551 - 0,552 mg/I atau 0,5 mg/I , Ammonia 0,01 - 0,021 mg/l atau 0,1 mg/l dan
pH 7,2 - 8,3 atau 8 - 8,3. Syarat hidup anemon yang baik berada pada kisaran suhu
29-32 0C dan dengan kadar salinitas berkisar antara 31 - 33 . Anemon akan
optimum hidup pada perairan yang memiliki intensitas cahaya matahari yang
hangat dan nutrient yang melimpah, seperti pada ekosistem terumbu karang
dimana pada ekosistem tersebut memiliki asupan nutrient yang banyak dan
intensitas cahaya matahari yang tinggi.

Pengaruh Cahaya terhadap Metabolisme Anemon Laut

Cahaya matahari merupakan faktor penting dalam metabolisme anemon


karena cahaya matahari berperan penting dalam proses fotosintesis. Organisme
yang bersimbiosis mutualisme dengan anemon laut yaitu zooxanthellae.
Zooxanthellae merupakan faktor pengendali dalam kelimpahan dan metabolisme
anemon laut artinya semakin kecil intensitas cahaya matahari yang masuk ke
perairan maka proses fotosintesis akan berkurang atau menjadi terhambat, begitu
pula dengan zooxanthellae akan semakin berkurang populasinya karena banyak
yang mati akibat penetrasi cahaya matahari yang kurang sehingga organisme
tersebut sulit untuk membuat makanannya sendiri atau berfotosintesis. Hal ini
mengakibatkan kelimpahan dan metabolisme anemon akan terganggu. (Anonim,
2010)
b Laut Dalam

Laut dalam dikenal dengan jumlah hewan yang semakin sedikit. Aldea et
al (2008) misalnya, menemukan kalau semakin dalam semakin sedikit jenis
kerang (gastropoda dan bivalvia).

Hewan yang tinggal di dekat permukaan jumlahnya sangat banyak jika


saat mereka mati, tubuh mereka tenggelam hingga ke dasar. Kenyataannya,
Drazen (2002) menemukan kalau ikan scavenger di dasar laut, sama sekali tidak
terpengaruh oleh variasi jumlah hewan yang tenggelam. Baik ada 1000 ekor
ataupun hanya 20 ekor yang sampai ke dasar, ikan-ikan ini tidak menjadi tamak
ataupun menjadi irit makanan. Keseimbangan sepertinya sangat kuat di dasar
samudera.

Hewan dasar laut sudah beradaptasi dengan lingkungan laut dalam.


Hampir semua bahkan justru merasa tersiksa kalau naik mendekati permukaan.
Sebagai contoh, larva Echinus echinus tidak akan dapat berkembang kalau
tekanannya tidak seperti di dasar laut (Tyler dan Young, 1998).

Predasi di dasar laut sangat tinggi dan member dampak negative. Kemp et
al (2006) memburu para siluman ini tanpa hasil. Dan merekapun menisbahkan
menurunnya jumlah kepiting scavenger (Munidopsis crassa) yang disebabkan
oleh predasi Benthoctopus sp, gurita dasar laut. Seperti penghuni dasar laut
lainnya, ia bertubuh kecil (Polloni et al, 1979). Walau kecil, ia cukup mampu
memangsa kepiting yang lengah.
Kepiting scavenger, Munidopsis

Bulu babi dasar laut, Echinus

Dasar laut dipenuhi oleh para scavenger, sedikit predator dan beberapa
spesies yang tidak jelas. Dikatakan tidak jelas karena kita belum dapat
menentukan apakah ia scavenger atau predator, atau lainnya. Ilmuan sangat
berhati-hati dalam menggolongkan hewan dasar laut. Britton dan Morton (1994)
misalnya, tidak mau mengakui kalau sebuah hewan merupakan scavenger jika ia
tidak melihat langsung hewan tersebut mendekati bangkai atau memakan bangkai.

Biota laut yang hidup di dasar laut masih merupakan suatu misteri sebab belum
banyak penelitian terhadap zona ini mengingat medannya yang sulit. Survey dasar
laut, terutama daerah yang topografinya bergerigi, sulit dilakukan, sehingga
walaupun dasar laut Hawaii dalamnya lebih dari 4000 meter, hanya 2000 meter
saja kemampuan para peneliti untuk mencapainya (Borets, 1986). Hal ini
membuat banyak misteri kehidupan yang belum diketahui.