Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam era modern seperti sekarang ini tuntutan profesionalisme semakin menguat, demikian
juga terhadap keperawatan dengan kondisi klien dan keluarga yang semakin kritis terhadap
upaya pelayanan kesehatan terutama bidang keperawatan.
Perawat sebagai garda terdepan dari pelayanan kesehatan dan sebagai mitra dokter (bukan
sebagai pembantu dokter) sudah seharusnya mampu untuk memberikan pelayanan kesehatan
secara maksimal dengan didukung dengan ilmu pengetahuan kesehatan, terutama ilmu
keperawatan.

Perawat sebagai seorang anggota tim kesehatan, dalam memberikan askep (asuhan keperawatan)
terhadap klien haruslah dapat memberikan informasi tentang klien yang dirawatnya secara akurat
dan komplit dan dalam waktu dan cara yang memungkinkan. Seorang klien tergantung pada
pemberi perawatan untuk mengkomunikasikan kepada yang lainnya untuk memastikan mutu
terbaik dari perawatan, sesuai dengan ilmu keperawatan yang dimilikinya.

Pada perkembangannya, ilmu keperawatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain mengingat
ilmu ini merupakan ilmu terapan yang selalu berubah menurut tuntutan zaman. Sebagai ilmu
yang mulai berkembang, ilmu ini banyak mendapatkan tekanan dari luar dan dalam.

Sebagai contoh, tekanan dari luar yang berpengaruh pada perkembangan ilmu keperawatan
adalah adanya tuntuan kebutuhan masyarakat dan industri kesehatan dan tekanan dari dalam
yaitu masalah keperawatan yang secara terus menerus ada dan selalu memerlukan jawaban.

Akhir-akhir ini ilmu ini menunjukkan perkembangannya dengan terbentuknya pola pembagian
kelompok, yang terdiri dari:

1. Ilmu keperawatan dasar

1. Konsep dasar keperawatan

2. Keperawatan profesional
3. Komunikasi keperawatan

4. Kepemimpinan dan manajemen keperawatan

5. Kebutuhan dasar manusia

6. Pendidikan keperawatan

7. Pengantar riset keperawatan

8. Dokumentasi keperawatan

2. Ilmu keperawatan klinik

1. Keperawatan anak

2. Keperawatan maternitas

3. Keperawatan medikal bedah

4. Keperawatan jiwa

5. Keperawatan gawat darurat

2 Ilmu keperawatan komunitas

1. Keperawatan komunitas

2. Keperawatan keluarga

3. Keperawatan gerontik

2 Ilmu penunjang

1. Imu humaniora

2. Ilmu alam dasar


3. Ilmu perilaku

4. Ilmu sosial

5. Ilmu biomedik

6. Ilmu kesehatan masyarakat

Untuk mencapai tingkat perkembangan yang diinginkan oleh komunitas profesional, maka upaya
yang dapat dilakukan adalah dengan menghasilkan masalah baru dalam keperawatan melalui
proses berkelanjutan. Dalam proses berkembangnya, ilmu keperawatan dituntut adanya riset dan
pengembangan sehingga diharapkan perawat dapat melakukan penelitian, selain itu dilihat juga
adanya pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan keperawatan, adanya pusat
penapis dan adaptasi teknologi keperawatan serta adanya pengembangan model pemberian
asuhan keperawatan.

Untuk menjadi ilmuwan dalam bidang ilmu keperawatan, sangat diperlukan berbagai persyaratan
antara lain prosedur ilmiah atau kegiatan ilmiahnya diakui oleh para ilmuwan lainnya, metode
ilmiahnya dapat dipergunakan oleh ilmuwan lainnya dalam bidang ilmu yang sejenis, pendidikan
formal yang ditempuh diakui secara akademis, memiliki kejujuran ilmiah sehingga tidak akan
mengklaim hasil temuan orang lain dianggap miliknya, dan harus memiliki rasa ingin tahu yang
tinggi.

Tentu saja, ilmu keperawatan adalah impian sejak kecil bagi banyak orang. Apabila Anda
memutuskan untuk mengubahnya menjadi karir, Anda dapat memperkirakan untuk menemui
orang-orang yang berada dalam masa yang paling sulit atau malah paling menyenangkan dalam
hidup mereka. Jelaslah, ilmu ini adalah karir yang serba bisa dan sangat bermanfaat.

B.RUMUSAN MASALAH

Mengacu pada latar belakang yang telah diajukan diatas ,maka rumusan masalah adalah
bagaimana riset dan perkembangan keperawatan.

C.TUJUAN
Pelaksanaan proses keperawatan secara umum bertujuan untuk menghasilkan asuhan
keperawatan yang berkualitas sehingga berbagai masalah kebutuhan klien dapat teratasi.Untuk
mencapai kebutuhan secara umum,dalam proses keperawatan terdapat beberapa tujuan khusus
sesuai dengan tahapan dari proses keperawatan,diantaranya:pertama,dapat mengidentifikasi
berbagai kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan;kedua,dapat menentukan diagnosis
keperawatan yang ada pada manusia setelah dilakukan identifikasi;ketiga,dapat menentukan
rencana tindakan yang akan dilakukan setelah diagnosis ditegakkan;keempat,dapat
melaksanakan tindakan keperawatan setelah direncanakan;kelima,dapat mengetahui
perkembangan pasien dari berbagai tindakan yg telah dilakukan,untuk menentukan tingkat
keberhasilan.serta menggunakan keahlian demi kebutuhan khusus klien,pelayanan yang
diberikan pada kliennya didasarkan pada kebutuhan yang objektif,mempunyai pertimbangan
otoritas dalam segala tindakannya serta mengetahui apa yang lebih baik untuk klien dari pada
klien sendiri, adanya perkumpulan profesi,standar pendidikan,adanya izin atau ujian masuk
dalam jenjang karier atau profesi,serta adanya batasan dalam profesi,mempunyai status dan
kekuatan dalam bidang keahlainnya dan pengetahuan yang telah dianggap khusus dan dalam
pelayanan tidak dipebolehkan mengadakan advertensi atau mencari klien.Pada tahun 1979
Flaherty MJ menyatakan karakteristik suatu profesi sesungguhnya adalah adanya pendidikan
khusus,kode etik,pengusaan keahlian/keterampilan,keanggotaan dalm organisasi profesi serta
adanya pertanggungjawaban untuk tindakan,sedangkan tahun 1985 Miller menyatakan cirri
suatu profesi adalah adanya badan pengetahuan yang diperoleh di Universitas serta orientasi
pada ilmu pengetahuan,kompetensi dengan landasan teoritik yang jelas,keterampilan dan
kompetensi merupakan batasan dari keahliannya .Menurut Shortridge tahun 1985 suatu ciri
profesi yang utama adalah adanya kode etik yang berfungsi sebagai dasar dalam pelaksanaan
standar,tanggungjawab tugas ,berorientasi pada pelayanan dan berdasarkan ilmu pengetahuan
serta mempunyai otonomi dalam kewenangan dan tanggungjawab dalam bidang keprofesian.
BAB II
LANDASAN MATERI
Dasar-Dasar Riset Keperawatan

Ilmu keperawatan merupakan suatu disiplin ilmu yang memiliki body of knowledge yang khas
sehingga akan selalu berkembang. Perkembangan ilmu keperawatan menjadi tanggungjawab
semua stakeholder keperawatan, diantaranya adalah para professional keperawatan, pendidik
keperawatan, dan mahasiswa keperawatan. Salah satu bagian penting dalam proses
pengembangan ilmu keperawatan adalah dengan adanya riset keperawatan.
Secara garis besar, riset keperawatan adalah suatu proses yang dilakukan dengan metode
tertentu untuk menemukan, menganalisa, memecahkan, dan mendokumentasikan masalah
keperawatan. Ada 2 nilai strategis mengapa riset keperawatan itu penting bagi ilmu keperawatan,
yaitu:

Pertama, riset keperawatan akan memberikan kontribusi yang positif terhadap perkembangan
dan kemajuan ilmu keperawatan;

Kedua, riset keperawatan jika dikelola dengan prinsip proaktif, profesional, dan proporsional
akan memberikan keuntungan dalam bentuk pertambahan nilai (revenue generating) bagi ilmu
keperawatan.

Riset keperawatan merupakan salah satu bentuk karya ilmiah, sehingga untuk dapat
menguasainya, pemahaman tentang dasar-dasar pembuatan karya ilmiah sangat diharuskan. Di
dalam karya ilmiah, ada 3 aspek filosofis yang harus dipahami, yaitu:

Pertama, aspek ontologis. Aspek ini meliputi objek yang akan dibicarakan dalam suatu karya
ilmiah, atau dengan kata lain aspek ontologis adalah objek kajian yang biasanya berupa tema
atau masalah yang akan dibahas. Sebuah kerangka pemikiran latar belakang yang jelas, logis,
runtut, dan alur pemikiran yang konsisten sangat diperlukan supaya objek kajian yang akan
dibahas mudah dipahami;

Kedua, aspek epistemologis. Aspek ini terkait dengan metode pemecahan masalah, baik secara
teoritis maupun secara empiris sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara rasional empiris.

Ketiga, aspek aksiologis. Aspek ini berkaitan dengan kontribusi atau nilai pemecahan masalah
yang ditemukan dalam judul atau tema kajian. Umumnya, aspek aksiologis tidak tidak harus
dimunculkan dalam bab tersendiri, namun biasanya dapat ditemukan dalam tujuan penelitian dan
manfaat penelitian, yang terdiri dari nilai pengembangan akademis, kebijakan, dan pelaksanaan
teknis.

Untuk membedakan riset keperawatan dengan karya ilmiah yang lain, perlu diketahui jenis-jenis
karya ilmiah. Ada 2 jenis karya ilmiah, yaitu:

Pertama, karya ilmiah yang dipublikasikan. Publikasi ini umumnya dilakukan dalam
pertemuan-pertemuan ilmiah atau melalui media seperti buku, jurnal, monografi, prosiding.
Karya ilmiah yang dipublikasikan diantaranya adalah artikel ilmiah, makalah, jurnal, poster hasil
penelitian, dan buku.

Kedua, karya ilmiah yang tidak dipublikasikan. Tidak dipublikasikan artinya hanya dapat
ditemukan dalam kalangan-kalangan tertentu, misalnya hanya didokumentasikan di
perpustakaan. Karya ilmiah jenis ini seperti penelitian baik oleh dosen atau mahasiswa, laporan
kegiatan mahasiswa, atau tugas akhir mahasiswa.

Kita bisa melakukan riset keperawatan dengan baik jika memiliki 2 hal, yaitu:

Pertama, penguasaan terhadap pokok-pokok metode riset keperawatan;

Kedua, pemahaman terhadap alur penelitian.

Kedua hal diatas dapat kita miliki dengan cara belajar dan berbagi dengan siapapun.

PENTINGNYA RISET KEPERAWATAN

Pada masa lalu, keperawatan dilakukan berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga
keperawatan dianggap hanya sebagai kiat tanpa komponen ilmiah. Pandangan ini telah
menempatkan keperawatan hanya sebagai pelengkap atau bagian dari disiplin kesehatan lain
dengan ketidakpastian tentang keperawatan sebagai suatu disiplin yang unik. Sementara sebagai
profesi, keperawatan harus memiliki ilmu dan kiat yang dipersyaratkan untuk dapat secara
otonom mengendalikan mutu pendidikan dan praktik keperawatan.
Riset keperawatan merupakan salah satu komponen berkembangnya disiplin
keperawatan. Karena riset keperawatan sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah
keperawatan dan mengembangkan atau memvalidasi teori yang sangat dibutuhkan sebagai
landasan dalam praktik keperawatan, serta perkembangan tubuh ilmu pengetahuan keperawatan
(body of knowledge). Mutu pelayanan dan asuhan keperawatan sangat tergantung pada upaya
kegiatan riset keperawatan yang selalu berinteraksi dengan pengembangan teori dan ilmu
pengetahuan keperawatan yang diterapkan dalam praktik keperawatan.
Riset keperawatan adalah suatu upaya yang sistematis, terkendali dan empiris dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian masalah. Riset keperawatan didefinisikan
sebagai proses ilmiah yang memvalidasi pengetahuan yang ada dan menghasilkan pengetahuan
baru yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi praktik keperawatan (Burns &
Grove, 1995).
Dengan demikian, tujuan utama riset keperawatan adalah untuk mengemgangkan
pengetahuan ilmiah yang mennjadi landasan praktik keperawatan, karena keperawatan
bertanggung gugat kepada masyarakat terhadap mutu asuhan dan mencari cara terbaik untuk
meningkatkan mutu asuhan tersebut. Landasan riset yang mantap akan memberikan fakta
(evidence) tentang tindakan keperawatan yang efektif dalam meningkatkan hasil asuhan pada
pasien. Riset keperawatan yang merupakan penelitian terapan sangat bermanfaat untuk
menyelesaikan masalah keperawatan yang selanjutnya dapat meningkatkan mutu pelayanan dan
asuhan keperawatan.
Riset keperawatan juga sangat berguna untuk mengevaluasi mutu layanan dan asuhan
keperawatan, khususnya dalam suatu program pengendalian/peningkatan mutu yang menjamin
mutu pelayanan/asuhan. Buku ajar ini akan diawali dengan uraian singkat tentang hubungan
antara riset, praktik dan teori; tahapan riset keperawatan secara ringkas dan dilanjutkan dengan
menguraikan secara terinci mengenai tahap penyusunan proposal penelitian, pelaksanaan hingga
interpretasi hasil dan penulisan laporan termasuk naskah publikasi. Mengingat cukup luasnya
pokok bahasan riset keperawatan, maka buku ajar ini akan ditulis dalam beberapa volume.
Dalam volume pertama pembahasan dibatasi pada kajian tentang alasan pentingnya melakukan
riset keperawatan, hubungan antara riset, praktik dan teori; tahapan awal riset keperawatan yaitu
rumusan masalah dan maksud penelitian, tinjauan kepustakaan/literatur yang relevan, menyusun
kerangka kerja teori/konsep penelitian serta merumuskan tujuan, pertanyaan dan hipotesa
penelitian.

II
KETERKAITAN ANTARA RISET KAPERAWATAN DENGAN DUNIA KEPERAWATAN

Riset keperawatan tidak dapat dilepasakan dari elemen keperawatan lain secara
menyeluruh. Konsep-konsep yang terkait dengan riset keperawatan digambarkan dalam satu
rentang dari dunia empirik yang konkrit sampai filosofi keperawatan yang bersifat sangat
abstrak, dan sebaliknya.
Gambar 2-1. Keterkaitan riset keperawatan dengan dunia keperawatan (sumber Burns & Grove,
1993)

Pada gambar terlihat komponen keperawatan dalam rentang yang meliputi pemikiran dari
konkrit hingga abstrak atau sebaliknya, dunia empirik (praktik keperawatan), uji realitas (riset),
proses berfikir abstrak, ilmu, teori, pengetahuan dan fisolofi. Pemikiran tentang keperawatan
berkembang sepanjang rentang dari konkrit keabstrak yang menunjukkan bahwa pemikiran
tentang keperawatan dapat berkembang baik dari konkrit keabstrak maupun dari abstrak ke
konkrit. Pemikiran yang konkrit (concrete thinking) berorientasi pada sesuatu yang dapat
disentuh atau peristiwa yang dapat diamati dan dialami dalam kehidupan nyata. Jadi fokus
pemikiran konkrit adalah kejadian langsung yang dibatasi oleh waktu dan ruang. Penyelesaian
masalah dianggap sesuatu yang penting hanya jika dapat memberikan pengaruh secara langsung.
Pemikiran abstrak menurut Burns & Grove (1993) berorientasi pada pengembangan ide
tanpa penerapan atau hubungan dengan hal tertentu, tetapi cenderung mencari arti, pola,
hubungan dan implikasi yang bersifat filosofis. Tiga proses berpikir yang penting adalah
introspeksi, intuisi dan pembenaran. Proses berpikir ini digunakan dalam praktik keperawatan,
mengembangkan danmengevaluasi teori, mengkritik dan menggunakan teemuan ilmiah,
merencanakan dan mengimplementasikan penelitian dan membangun ilmu pengetahuan (body of
knowledge).
Berbeda dengan pemikiran konkrit, pemikiran abstrak tidak dibatasi oleh waktu dan
ruang, dalam kata lain bebas waktu dan ruang. Seringkali pemikir abstrak disebut pemimpi dan
dianggap pemikirannya tidak menyelesaikan masalah secara langsung, tetapi sebenarnya
pemikiran mereka sangat diperlukan untuk mengembangkan teori dan penelitian. Riset
keperawatan membuthkan kedua keterampilan tersebut, pemikiran abstrak diperlukan untuk
mengidentifikasi masalah yang layak diteliti, merancang penelitian dan mengintrepretasikan
temuan, sedangkan pemikiran konkrit diperlukan untuk merencanakan dan
mengimplementasikan langkah-langkah pengumpulan data dan analisis data.
Ilmu dan teori adalah dua hal yang berbeda tetapi merupakan konsep yang tergantung dan
terkait dengan proses berpikir abstrak. Ilmu adalah tubuh ilmu pengetahuan (body of knowledge)
yang terdiri dari temuan penelitian dan teori yang telah diuji untuk suatu disiplin. Jadi, ilmu
terdiri dari suatu proses (metode ilmiah) dan produk (kumpulan/tubuh ilmu pengetahuan). Ilmu
keperawatan secara bertahap berkembang melalui metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Sedangkan teori adalah suatu cara untuk menjelaskan beberapa elemen dari dunia empirik. Teori
dikembangkan dan diuji melalui penelitian dan setelah diuji, berkembang menjadi bagian dari
ilmu. Bagian yang paling abstrak adalah filosofi yang berfungsi memberikan arti bagi dunia
keperawatan dan struktur yang memungkinkan terjadinya suatu proses berpikir, mengetahui dan
melakukan. Filosofi keperawatan, antara lain perspektif holistik dan pentingnya kualitas hidup
sangat berpengaruh dalam penelitian yang dilakukan dan pengetahuan yang dikembangkan pada
suatu disiplin.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian keperawatan tidak dapat
dipisahkan dari komponen keperawatan lainnya tetapi saling mempengaruhi sehingga
memungkinkan berkenbangnya ilmu pengetahuan keperawatan. Untuk lebih jelasnya pada
bagian berikut ini akan diuraikan tentang hubungan antara teori, praktik dan riset keperawatan.

III
HUBUNGAN TEORI, PRAKTIK DAN RISET KEPERAWATAN
Sebagaimana yang telah di jelaskan terdahulu, teori merupakan serangkaian pernyataan
teruji yang menguraikan, menjelaskan, memprediksikan dan mengendalikan fenomena tertentu
(meleis, 1985; dan Walker & Avant, 1995). Fenomena adalah kejadian yang ditemui atau
diamati dalam praktik keperawatan. Teori mengarah praktik dengan memberikan pernyataa yang
dapat memprediksi dan mengendalikan fenomena yang menjadi kepedulian perawat dan
memberikan landasan dalam pembuatan keputusan.
Sebaliknya, praktik keperawatan sering memberikan suatu penghayatan tentang
fenomena dan mengungkapkan kesenjangan yang terdapat dalam teori. Praktik keperawatan
dapat memberikan ide, pengamatan dan substansi, yang diperlukan ilmuan keperawatan untuk
merumuskan pernyataan hubungan (relational statement) yang memungkinkan berkembangnya
suatu teori baru atau memvaliditasi dari bangunan teori yang sudah ada.
Komponen riset dalam hubungannya dengan teori dan praktik berperan memvaliditasi
kemampuan teori untuk menguraikan, menjelaskan, memprediksi dan mengendalikan fenomena.
Melalui riset perawat dapat menetapkan apakah suatu teori mampu untuk melakukan suatu
kegiatan tersebut sehingga bermanfaat dalam membuat keputusan. Hubungan ini bersifat timbal
balik, karena riset tidak hannya mempengaruhi pengembangan teori, tetapi teori juga
mempengaruhi desain riset dengan menentukan variable yang perlu diteliti tentang masalah
tertentu. Selanjutnya, temuan riset yang dihasilkan dikembalikan pada tatanan praktik untuk
diintegrasikan dalam prkatik keperawatan, Dapat disimpulkan bahwa hubungan teori praktik-
riset yang telah dijelaskan tersebut bersifat timbal balik dan saling
mempengaruhi (lihat gambar

3-1). Untuk lebih jelasnya perliu secara ringkas diuraikan tentang karakteristik dan prioritas riset
keperawatan yang di bahas pada bagian IV.
Gambar 3-1. Komponen pengembangan disiplin keperawatan

IV
KARAKTERISTIK DAN PRIORITAS RISET KEPERAWATAN
Krakteristik riset keperawatan menurut Diers dalam Graven & Hirnle (1996), adalah :
1. Riset keperawatan harus berfokus pada variable yang dapat meningkatkan asuhan keperawatan
pada klien.
2. Riset keperawatan mempunyai potensi untuk mengkontribusi pada pengembangan teori dan
kumpulan/tubuh ilmu pengetahuan keperawatan.
3. Masalah riset merupakan masalah riset keperawatan apabila perawat mempunyai akses dan
kendali terhadap fenomena yang diteliti.
4. Perawat yang tertarik terhadap penelitian harus mempunyai keingintahuan dan pertanyaan yang
perlu dijawab secara ilmiah.

Menurut Garven & Hirnle (1996) prioritas riset keperawatan adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kemampuan untuk merawat diri sendiri bagi tiap
kelompok usia, sosial, kultural.
2. Meminimalkan atau mencegah perilaku dan lingkungan yang menimbulkan masalah kesehatan
dan berdampak pada menurunnya kualitas konsep dan produktifi

tas.
3. Meminimalkan dampak negatif dari teknologi kesehatan yang baru terhadap kemampuan adaptip
individu dan keluarga yang sedang mengalami masalah kesehatan akut dan kronik.
4. Memastikan bahwa asuhan keperawatan yang diperlukan bagi kelompokyang berisiko seperti
lanjut usia (lansia), anak-anak dengan masalah kesehatan kongienital (bawaan lahir), individu
dengan latar belakang sosial kultural yang berbeda, individu dengan ganguan jiwa, dan
masyarakat miskin, dipenuhi dengan cara yang dapat diterima dan efektif.
5. Mengklasidikasikan fenomena praktik keperawatan.
6. Memastikan prinsip etik sebagai pegangan dalam melakukan riset keperawatan.
7. Mengembangkan instrumentuntuk mengukur hasil intevensi keperawatan.
8. Mengembangkan metodologi yang integratif untuk mengkaji manusia secara holistik dalam
konteks keluarga dan gaya hidup.
9. Mendesain dan mengevaluasi model alternatif pelayanan kesehatan dan sistem pemberian
pelayanan kesehatan sehingga perawat mampu meningkatkan mutu dan menghemat biaya yang
dike;urakan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
10. Mengevaluasi keberhasilan pendekatan alternatif yang memerlukan pengetahuan yang luas dan
keterampilan yang tinggi dalam praktik keperawatan.
11. Mengindentifikasi dan menganalisis faktor-faktor historis dan kotemporer yang mempengaruhi
bentuk keterlibatan keperawatan profesional dalam mengembangkan kesehatan nasional.

V
METODE RISET KUANTITATIF DAN KUALITATIF
Metode ilmiah dalam penelitian atau riset keperawatan terdiri dari metode riset kuantitatif
dan kualitatif. Pada awalnya dalam dunia keperawatan hanya dikenal metode riset kuantitatif
yang bersifat formal, objektif, proses sistematik dengan menggunakan data numerik. Metode
riset kuantitatif ini, menurut Burns & Grove (1993) digunakan untuk menguraikan variable,
memeriksa hubungan antara variable dan menentukan interaksi sebab dan akibat antara variabel.
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa riset kuantitatif melibatkan pengumpulan informasi
numerik yang sistematik, biasanya dalam kondisi terkendali dan analisa informasi atau data
menggunakan prosedur statistik.
Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam pengumpulan
naratif bersifat subjektif menggunakan posedur dengan pengendalian yang ketat. Jika riset
kualitatif lebih sering menggunakan pendekatan deduktif, logik, dan ciri pengalaman manusia
yang dapat diukur, maka riset kualitatif cenderung menggunakan aspek pengalaman manusia
yang dinamik dengan pendekatan yang holistik (Polit & Hungler, 1995). Perbandingan kedua
metode riset kuantitatif dab kualitatif di sajikan pa da tabel 5-1.
Tabel 5-1. Peerbandingan antara riset kuantitatif dengan riset kualitatif
Aspek Riset Kuantitatif Riset Kualitatif
Fokus Fokus pada sejumlah kecil dari Mencoba untuk lebih memahami secara
konsep yang spesfik. Ringkas dan menyeluruh suatu fenomena daripada
sempit memfokuskan pada konsep spesifik
komplek dan luas.
Konsep Mulai dengan ide awal tentang Mempunyai sedikit ide awal; lebih
awal bagaimana suatu konsep saling menekankan pada pentingnya penafsiran
terikat. orang lain tentang suatu kejadian atau
lingkungan sekitar daripada penafsiran
peneliti.
Metode Menggunakan prosedur terstruktur Mengumpulkan informasi tanpa instrumen
dan instrumen formal untuk terstruktur dan formal.
mengumpulkan data.
Objek Menekankan pada objektifitas Menekankan pada data subjektif sebagai
versus dalam pengumpulan dan analisis cara untuk memahami dan menafsirkan
subjektif informasi. pengalaman manusia.
Analisis Menganalisis informasi numerik Menganalisi informasi naratif berdasarkan
dengan prosedur statik. keterampilan individual peneliti.
Elemen dasar: angka Elemen dasar : Kata
Penalaran Mengunakan logistik dan dedukatif Menggunakan dealitik dan induktif
(Reasoning)
Dasar Meneliti hubungan sebab-akibat. Meneliti pengertian/pemahaman dan
pengetahua discovery.
n
Manfaat Terutama untuk uji teori. Terutama untuk mengembangkan teori.
utama

Metode riset kuantitatif dan kualitatif berfungsi saling melengkapi karena kedua metode
ini menghasilkan jenis pengetahuan yang berbeda dan berguna untuk praktik keperawatan.
Empat jenis riset kuantitatif adalah deskriptif, kolerasi, kuansi eksperimen. Sedangkan enam
jenis riset kualitatif menurut Burns & Grove ( 1993) adalah fenomenologik (phenomenological),
grounded theory, etnografik (ethnographic), historis (historical), filosofis (philosophik iquiry),
dan critical sosial theory.
Pengetahuan dan penguasaan tentang tahapan atau langkah proses kegiatan riset sangat
diperlukan perawat untuk dapat melakukan riset melalui suatu pengalaman belajar dengan
melakukan tiap tahap riset secara sistematis.

IV
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN RISET

Proses riset kegiatan dilakukan berdasarkan metodologi riset ilniah dengan muatan
substansi ilmu pengetahuan keperawatan, yang terdiri atas tahapan (1) merumuskan masalah dan
maksud riset; (2) tinjauan kepustakaan; (3) menyusun kerangka kerja teori/konsep; (4)
merumuskan tujuan, pernyataan, dan hipotesa ; (5) menguraikan defenisi variabel riset; (6)
membuat asumsi secara eksplisit; (7)mengindentifikasi keterbatasan riset; (8) memilih desain
riset; (9) mengindentifikasikan popilasi dan sampel; (10) memilih metoda pengukuran dan
menyiapkan instrumen; (11) menyusun rencana pengumpulan dan analisis data; (12)
implementasi rencana riset; (13) mengkomunikasikan temuan riset.
Merumuskan masalah dan maksud riset . Masalah riset adalah situasi yang membutuhkan
penyelesaian masalah, peningkatan atau perubahan dan perbedaan yang terdapat antara keadaan
yang sebenarnya dengan yang seharusnya. Maksud riset diterapkan didalam masalah
Tinjauan kepustakaan. Tinjauaan kepustakaan dilakukan untukmendapatkan gambaran
tentang apa yang diketahui mengenai situasi tertentu dan kesenjangan pengetahuan yang terdapat
dalam situasi tersebut.
Menyusun kerangka kerja teori/konsep. Kerangka kerja teori/konsep adalah struktur logik
dan abstrak yang bermakna dalam menuntun pengembangan studi dan memungkinkan peneliti
untuk mengkaitkan temuan dengan tubuh pengetahuan keperawatan.
Merumuskan tujuan, pertanyaan, dan hipotesa. Tujuan, pertanyaan dan hipotesa riset
dirumuskan untuk menjembatani kesenjangan antara masalh riset yang dinyatakan secara abstrak
dengan maksud dan deseain studi, rencana pengumpulan data serta analisis masalah.
Menguraikan definisi variabel riset. Variabel adalah konsep dari berbagai tingkat
keabstrakan yang diukur, dimanipulasi, atau dikendalikan dalam studi. Variabel dioperasionalkan
dengan mengindentifikasi defenisi konsepsual dan operasional.
Membuat asumsi secara eksplisit. Asumsi adalah pernyataan yang dianggap benar,
walaupun pernyataan ini belum diuji secara ilmiah. Asumsi mempengaruhi logik suatu studi.
Mengindentifikasi keterbatasan riset. Keterbatasan studi baik yang bersifat teoritis
maupun metodologis dapat mengurangi kemampuan untuk menyimpulkan suatu temuan.
Memilih desain riset. Jenis desain riset mengarahkan pemilihan populasi, prosedur
pemilihan sampel, metode pengukuran dan rencana pengumpulan dan analisis data.
Mengindentifikasikan populasi dan sampel. Populasi adalah semua elemen yang
memenuhi kriteria tertentu. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk
studi tertentu dan anggota sampel disebut subjek.
Memilih metode pengukuran dan menyiapkan instrumen. Pengukuran adalah proses
pemberian angka kepada objek, kejadian atau situasi sesuai peraturan/petunjuk. Komponen
pengukuran berupa instrumen yang dipilih atau disusun untuk mengkaji variabel tertentu dalam
studi.
Menyusun rencana pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data yaitu kegiatan
sistematik untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan maksud riset atau tujuan spesifik,
pertanyaan atau hipotesa studi. Perencanaan analisis masalah juga mencangkup pemilihan uji
statik yang sesuai untuk menganalisis data.
Implementasi rencana riset. Pada riset tertentu implementasi rencana termasuk uji coba
instrumen.
Mengkomunikasikan teman riset. Riset dikomunikasikan dengan mendisemisikan laporan
riset pada antara lain, masyarakat keperawatan, profesi kesehatan lain atau bahkan jasa
pelayanan kesehatan.

VII
MERUMUSKAN MASALAH DAN MAKSUD PENELITIAN

Merumuskan masalah dan maksud penelitian merupakan langkah awal dalam proses
penelitian. Seringkali penelitian mengalami masalah untuk mengindentifikasikan suatu masalah.
Penelitian tidak mungkin dilakukan tanpa merumuskan masalah terlebih dahulu, oleh karena itu
peneliti perlu memahami dan menyatakan dengan jelas dan tepat dengan menggunakan istilah
yang sesuai ketika merumuskan masalah dalam proposal penelitian disusunnya.
Menurut Burns dan Grove (1996), masalah penelitian adalah suatu situasi yang
membutuhkan solusi, penigkatan dan perubahan atau kesenjangan antara kenyataan dan
seharusnya. Slanjutnya subakir (1995) menyatakan bahwa setiap kejadian, setiap fenomena yang
membangkitkan perhatian, menimbulkan pernyataan yang saat ini belum ada jawabannya, atau
masih bisa dipertentangkan, dapat merupakan latar belakang masalah penelitian.
Sumber utama penelitian keperawatan menurut Burns dan Grove (1996), meliputi
masalah praktik keperawatan, peneliti dan interaksi sejawat, tinjauan literatur, teori .