Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN HOME VISIT

SCABIES
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh :
Diana Endah Nurul Rachman - 12100116229

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan analisis situasi dan

upaya Puskesmas untuk memenuhi tugas akhir di Fakultas Kedokteran

Universitas Islam Bandung salah satu tugas Ilmu Kesehatan Masyarakat Program

Pendidikan Profesi Dokter.

Terima kasih kepada Prof. Dr. M. Thaufiq S Boesoirie, dr., MS., Sp. THT.

KL-(K) selaku Rektor Unisba, Prof. Dr. Hj. Ieva B. Akbar dr.,AIF selaku Dekan

Fakultas Kedokteran Unisba, Dr. Titiek Respati, drg., MSc-PH. selaku koordinator

Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pendidikan Profesi Dokter Universitas Islam

Bandung, Fajar Awalia Yulianto., dr.,M.Epid, selaku pembimbing Ilmu Kesehatan

Masyarakat dan Arryasatul Mutaqqiyah dr. selaku kepala UPF Puskesmas

Sumbersari dan pembimbing lapangan atas segala bantuan, bimbingan, ilmu,

nasehat, dukungan, doa dan waktu yang telah di berikan kepada penulis sehingga

penulis dapat menyelesaikan tugas ini.

Semoga semua pihak yang telah membantu mendapatkan pahala dari Allah

Subhanahuwataala. Penulis memohon maaf atas segala kekurangan dalam

menyelesaikan tugas ini dan penulis berharap tugas ini dapat bermanfaat bagi

pembacanya.

Bandung, Januari 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit skabies adalah salah satu penyakit menular yang


masih banyak ditemukan di kalalangan masyarakat, termasuk di
Indonesia.1 Skabies merupakan suatu infeksi mendunia yang
berhubungan dengan gaya hidup yang tidak higienis yang
disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei.2
Penyakit skabies pada umumnya terdapat di negara-negara berkembang
terutama di Indonesia yang diakibatkan karena rendahnya tingkat pengetahuan
masyarakat dan kesadaran diri masyarakat mengenai pentingnya berperilaku
hidup bersih sehat.1
Berdasarkan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi
skabies seluruh Indonesia pada tahun 2015 adalah 5,6%-12,5%. Sedangkan
menurut WHO tahun 2015, skabies mengenai lebih dari 130 juta orang setiap
tahunnya.
Kementrian Kesehatan dan WHO sudah melakukan upaya untuk
mengurangi tingginya penyebaran penyakit skabies di seluruh dunia, terutama di
daerah yang padat penduduknya dengan cara upaya promotif, preventif, dan
kuratif. Tetapi kenyataannya, masih banyak masyarakat di negara-negara
berkembang khususnya di Indonesia yang tercatat terkena penyakit skabies. Oleh
karena itu, dibutuhkan program pengendalian secara terpadu dan menyeluruh,
serta tidak lupa memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, psikologis, dan kualitas
hidup orang yang mengalami skabies.
BAB II

STATUS PASIEN
2.1 Identitas pasien

Nama : Ny. A
Usia : 61 tahun
Alamat : Desa Sumbersari Kabupaten Bandung
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Sudah menikah
Pendidikan : SMA
Sistem pembayaran : BPJS
Tanggal pemeriksaan : 11 Januari 2017.

2.2 Anamnesis

Keluhan Utama : Gatal


Pasien datang dengan keluhan gatal di seluruh tubuh sejak
seminggu yang lalu. Gatalnya dirasakan makin parah pada saat malam hari
terutama di daerah lipatan paha, lipatan ketiak, sela-sela jari dan kaki
sampai mengganggu tidur pasien. Keluhannya disertai dengan bruntus-
bruntus merah di bagian sela-sela jari dan kaki, lipat paha, dan perutnya .
Pasien menyangkal adanya demam, nyeri kepala, batuk, dan flu.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien menyangkal adanya asma, gatal yang berulang di tempat
yang sama, gatal pada mata, hidung meler dan bersin bersin pada pagi hari.
Riwayat gigitan serangga disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga

Terdapat beberapa keluarga pasien yang memiliki riwayat penyakit seperti


Diabetes Melitus, jantung, stroke, dan alergi.

Riwayat Pengobatan

Pasien mengaku tidak mengkonsumsi obat-obatan.


2.3 Pemeriksaan

2.3.1 Kesan Umum

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos mentis

2.3.2 Tanda Vital

Tekana Darah : 110/80 mmHg


Nadi : 60 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : Afebris

2.3.3 BMI ( Body Mass Index )

Berat Badan awal : 47 kg


Tinggi Badan : 150 cm
BMI : 20,8

2.3.4 Status Generalis

Kepala
Rambut : Kering, tidak mudah rontok
Kulit wajah : Pigmentasi (-), jaringan parut (-), edema (-)
Mata : Simetris, palpebra edema (-), konjunctiva anemis (-/-),

sklera icteris (-/-), pupil bulat isokor.


Hidung : Simetris, deviasi septum (-), sekret (-/-), massa (-/-)
Mulut : Bibir tampak kering
Gigi : Tidak terdapat caries
Leher
JVP : Tidak meningkat
KGB : Tidak teraba membesar
Trakea : Tidak deviasi
Kelenjar tiroid : Tidak teraba adanya pembesaran
Thorax
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris, ictus cordis tidak tampak,

sela iga tidak melebar, retraksi intercostal (-).


Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : Batas paru hepar ICS V LMCD
Pulmo : Sonor kanan = kiri
Cor : Batas kanan : ics 5 parasternal dextra
Batas kiri: ics 5 linea midclavicular sisnitra
Batas atas: ics 2 linea midclavicular sisnitra
Auskultasi :
Cor : S1 S2 murni reguler, gallop (-), murmur (-)
Pulmo : VBS kanan = kiri, rhonki -/-, wheezhing -/-

Abdomen
Inspeksi : Datar, retraksi epigastrium (-)
Palpasi : Lembut, nyeri tekan (-) di epigastrium,

hepatosplenomegali (-)
Perkusi : Tympani, pekak pindah (-), pekak samping (-)
Auskultasi : BU (+) frekuensi normal.
Ekstremitas
Atas Ka-Ki Bawah Ka-Ki
Edema -/- Edema -/-
Sianosis (-) Sianosis (-)
Dingin Dingin
Kulit kering Kulit kering
Capillary refill < 2 detik Capillary refill < 2 detik

2.3.5 Status lokalis (status dermatologis)


Distribusi : Regional
Lokasi : sela-sela jari tangan, sela-sela jari kaki, perut, punggung,
lipat paha, dan bokong
Karakteristik
Jumlah : Multipel
Penyebaran : Sebagian diskret, sebagian konfluens
Batas : Berbatas Tegas
Bentuk : Sebagian bulat sebagian polisiklik
Ukuran :
2 dimensi : 0,2x0,2cm sampai dengan 0,5cmx0,5cm
3 dimensi : 0,1x0,1x0,1cm sampai dengan 0,5cmx0,5x0,1cm
- Kering
- Sebagian menimbul sebagian datar

2.3.6 Pemeriksaan penunjang


tidak dilakukan

2.5. Diagnosis kerja


Scabies e.c Sarcoptes Scabiei

2.6. Pencegahan
2.6.1 Pencegahan Primer

a Promotif

- Edukasi kepada pasien untuk menjaga kebersihan kulit,


mandi dengan sabun setiap hari

- Edukasi kepada pasien untuk tidak memakai pakaian dan handuk


bersamaan dengan anggota keluarga lain.

- Edukasi kepada pasien untuk membersihkan dan


menjemur perangkat tidur setiap hari di panas
matahari.

b Preventif
- Memberikan edukasi kepada pasien untuk menjaga kebersihan diri
dan lingkungan rumah
- Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga terdekat untuk tidak
memakai pakaian dan handuk bersamaan
- Memberikan edukasi pada pasien untuk mencuci tangan sebelum dan
setelah mengoleskan obat ke tubuh pasien
2.6.2 Pencegahan Sekunder
a Kuratif
Topikal
Scabimite krim 30 gr tube 1 setiap malam selama 3 hari berturut
turut.

2.7 Pengamatan Kunjungan Rumah

2.7.1 Faktor lingkungan fisik

a Luas Rumah

Rumah ini memiliki luas 10x10x5 m2 yang dihuni oleh 4

orang anggota keluarga. Dinding terbuat dari tembok, atap rumah

menggunakan genteng dan beberapa ruangan menggunakan lantai keramik dan

sebagian terbuat dari semen. Ruangan terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1

dapur, dan1 kamar mandi.


b Pencahayaan, ventilasi

Pencahayaan di ruang tamu cukup terang karena terdapat

jendela dan pintu sehingga pencahayaannya baik., dapur tidak

memiliki jendela sehingga tidak ada cahaya dan ventilasi

sehingga gelap, terasa lembab dan pengap. Kamar mandi juga

tidak memiliki jendela sehingga membutuhkan lampu untuk

meneranginya. Seluruh kamar tidur tidak memiliki jendela dan

lampu di setiap kamar redup sehingga ventilasi dan

pencahayaan kurang baik.

c Kebersihan

Lantai rumah keluarga pasien terbuat dari keramik. Tetapi ada beberapa

ruangan yang lantainya hanya terbuat dari semen. Pasien jarang membersihkan

rumahnya. Menyapu setiap 3 hari sekali dan mengepel lantai rumah hanya setiap

seminggu sekali. Tempat tidur pasien tidak pernah dibersihkan dan kasur serta

sprei tidak pernah dijemur. Dapur terlihat agak berantakan dan kotor.

d Sarana sanitasi

Pemilik rumah sudah memiliki jamban di dalam rumah. Sumber air berasal

dari sumur. Kualitas air terlihat jernih dan tidak berbau. Rumah memiliki tempat

sampah, yang sampahnya dikumpulkan kemudian diambil oleh petugas

kebersihan di lingkungan rumahnya setiap hari.

2.7.2 Faktor Lingkungan Biologis


Limbah sampah rumah diserahkan kepada petugas

kebersihan oleh keluarga pasien, sedangkan limbah biologis dari

jamban akan dialirkan ke septictank.

Pasien mempunyai hewan ternak yaitu bebek, sampai saat

ini pasien memiliki kurang lebih 15 bebek di lingkungan

rumahnya. Keluarga pasien juga menanam tanaman di depan

rumahnya.

2.7.3 Faktor Ekonomi

Pasien merupakan ibu rumah tangga dan mendapatkan

penghasilan dari hasil ternaknya. Pendapatan pasien tidak tetap

dan pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan

keluarganya sehari-hari.

2.7.4 Faktor Sosial

Pasien bergaul baik dengan tetangga. Hubungan pasien dengan keluarga

pasien juga harmonis dan tidak terdapat pertengkaran.

2.7.5 Faktor Genetik

Tidak adanya faktor genetik yang terdapat dari riwayat penyakit pada

keluarga pasien dan pada penyakit pasien.

2.7.6 Faktor perilaku

a. Membersihkan rumah dan halaman

Pasien beserta keluarga tidak memiliki jadwal khusus dalam

membersihkan rumah.

b. Membuka jendela ruang keluarga

Pasien jarang membuka jendela pada ruang tengah/ ruang keluarga


c. Perilaku Makanan dan minuman

Pasien mengaku tidak ada perubahan pola makan dan minum sebelum

sakit, saat sakit dan sedang menjalani pengobatan. Pasien mengaku sering

mengkonsumsi mie instant satu kali sehari untuk menghemat biaya

pengeluaran. Pasien juga jarang makan-makanan berupa sayur-sayuran dan

buah-buahan.

d. Membuang limbah sampah

Pasien membuang sampah ke tempat sampah, sebelumnya mengumpulkan

sampah pada kantong kresek untuk dibuang nantinya.

e. Olahraga

Pasien mengaku jarang berolahraga saat sebelum sakit sampai sekarang.

f. Pengetahuan

Pasien tidak mengetahui tentang rumah sehat seperti jumlah penghuninya,

pencahayaan, ventilasi, kebersihan yang tidak dijaga dapat memicu

perkembangan penyakitnya. Pasien tidak mengetahui bahwa penyakit

pasien bisa cepat menular ke anggota keluarga lain yang berada pada satu

rumah tersebut.

2.7.7 Pelayanan Kesehatan

a Biaya

Pasien menggunakan kartu BPJS sehingga tidak dikenakan biaya untuk

pengobatannya.

b Lokasi atau jarak tempuh

Terdapat 1 fasilitas pelayanan kesehatan yang ada yaitu Puskesmas

Sumbersari dengan jarak tempuh sekitar 5 KM.


2.8 Diagnosis Holistik

2.8.1 Aspek personal

Pasien memiliki keluhan gatal dan memburuk pada saat malam hari.

Pasien merasa khawatir dengan kondisinya karena keluhan dirasa lebih

berat daripada hari sebelumnya sehingga pasien datang ke Puskesmas

untuk berobat.

2.8.2 Aspek klinis

Pasien Ny.A 61 tahun diduga terkena penyakit scabies.

2.8.3 Aspek individual

Pasien kurang peduli terhadap higienitas dirinya sendiri.

2.8.4 Aspek psikososial

Keluarga pasien merupakan keluarga berpenghasilan rendah dan

kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.

2.8.5 Aspek fungsional

Pasien ini termasuk ke dalam derajat 1 karena pasien masih bisa

melakukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari dengan mandiri sama seperti

sebelum pasien sakit.


2.7 Genogram

Keterangan : : Laki-laki
: Wanita : Scabies

: Laki-laki meninggal : Garis pernikahan

: Wanita meninggal : Garis keturunan

: Alergi : Pasien
2.8 Permasalahan
GENETIK
tidak ada faktor genetik yang
mempengaruhi penyakit
pasien

LINGKUNGAN
(sosial, ekonomi,
budaya, pendidikan, Pasien PELAYANAN
pekerjaan) KESEHATAN
(Ny. A, 61
pencahayaan pada tahun) Pelayanan
rumah kurang, kesehatan
ventilasi yang Scabies
yang diberikan
kurang untuk sudah baik.
sirkulasi udara,
kebersihan rumah
kurang, pendapatan
dan pendidikan yang
rendah.

PERILAKU KESEHATAN
Pasien jarang membersihkan
rumah dan lingkungan sekitar,
jarang membuka jendela, pola
makan tidak teratur dan kurang
bergizi, jarang berolahraga,

Bagan 2.1 Permasalahan dengan Teori Hendrik L Blum

2.9 Denah Rumah Pasien


2.10
2.11 Kesimpulan

Berdasarkan teori Hendrik L Blum digambarkan bahwa penyakit

scabies memiliki banyak faktor resiko yang mempengaruhi yaitu, perilaku,

lingkungan, pelayanan kesehatan, dan herediter. Berdasarkan analisis

didapatkan faktor yang berpengaruh terhadap pasien tuberkulosis adalah:


1. Faktor Perilaku, yaitu:
Perilaku kesehatan dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan

sekitar yang kurang sehingga memicu timbulnya penyakit.


2. Faktor lingkungan, yaitu:

a) Ventilasi yang kurang ditmbah dengan jarangnya membuka

jendela di ruang tengah dan kamar tidur menyebabkan

sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik dan membuat

ruangan menjadi lembab.


b) Pencahayaan yang kurang sehingga dapat menyebabkan

perkembangan penyakit.pasien
c) Pendapatan dan pendidikan yang rendah juga menyebabkan

perkembangan penyakit pasien

2.10. Rencana Tindak Lanjut


Berdasarkan analisis, didapatkan rencana tindak lanjut dari permasalahan

pasien scabies sebagai berikut :

2.10.1 Primary prvevention


a. Menjelaskan kepada keluarga mengenai penyakit

scabies karena keluarga pasien belum paham

mengenai penyebab, faktor risiko, gejala klinis dan

komplikasi apabila tidak segera diobati.


b. Anjuran pada keluarga pasien untuk selalu menjaga kebersihan

rumahnya.
c. Memberikan edukasi untuk membersihkan kamar tidur dan

menjemur sprei dan kasur rumah dengan panas matahari.


d. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien untuk tidak

menggunakan barang-barang seperti pakaian dan handuk secara

bersamaan.
e. Memberikan edukasi pada keluarga pasien untuk selalu mencuci

tangan sebelum dan setelah mengoleskan obat pada pasien.

2.10.2 Secondary prevention


a. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan rumah selama

penyembuhan. Istirahat secara teratur, seperti pola tidur yang cukup

dan baik.
b. Jika keluhan bertambah buruk atau tidak ada

perbaikan, dapat di rujuk ke RSUD terdekat.


c. Memberikan informasi untuk memakai obat secara teratur sesuai

anjuran.
2.10.3 Tertiary prevention
a. Melakukan kunjungan ulang untuk melihat kondisi pasien dan

perbaikan lingkungan rumah.


b. Anjuran kepada pasien untuk datang lagi ke Puskesmas 1 minggu

kemudian untuk kontrol, bertujuan melihat perbaikan dari kondisi

pasien dan melihat ada tidaknya komplikasi.

2.11
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes
2. WHO
3. Carucci, J.A., Leffel D.J. 2008. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 7th edition. New York: McGrawHil
4. Djuanda Adhi., 2012. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi kelima .
Jakarta: Balai Penerbit FKUI

LAMPIRAN
Gambar 1.1 Tampak depan rumah pasien

Gambar 1.2 Ruang tamu/ Ruang utama

Gambar 1.3 Tempat tidur pasien


Gambar 1.4 Tempat tidur pasien

Gambar 1.5 Jamban Pasien

Gambar 1.6 Dapur


Gambar 1.7 Sesi Wawancara dengan Pasien