Anda di halaman 1dari 69

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK
LAPORAN PENDAHULUAN
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA STUDIO ARSITEKTUR 6
Kelas E | Dosen Pengampu : Ir. Soesilo Boedi Leksono, M.T.
Anggota Kelompok :
Jeckhi Heng (11 01 13756)
Judha Herdanta (11 01 13766)
Monica Dyah Pramusita (11 01 13778)
Margaretha L Bunga Naen (11 01 13795)
Elisabeth Nadia Adriani (11 01 13803)
Weliam (11 01 13821)
Theodorus Cahyo Wicaksono (11 01 13828)
Hadiendra Bagus Wijayanto (11 01 13876)

Hotel dan Stasiun Kereta Api


HOTEL DAN
STASIUN KERETA API

BAB I
STUDI PRESEDEN BANGUNAN

Mata Kuliah : Studio Arsiterktur 6| Kelas E | Dosen Pengampu : Ir. Soesilo Boedi Leksono, M.T.
STUDI PRESEDEN BAB I
STASIUN KERETA API
01. Stasiun MRT Jurong East
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_MRT_Jurong_East

Stasiun MRT Jurong East (kode NS1 / EW24) adalah stasiun melayang Jalur Utara Selatan dan Jalur Timur Barat di Singapura dan pernah
menjadi bagian dari Jalur Cabang (Branch Line) sebelum 1996. Stasiun ini merupakan persimpangan dua jalur. Terletak di bagian timur daerah
Jurong, melayani lingkungan Jurong Timur 1, 2 dan 4 juga rencana pusat perdagangan Jurong Gateway di Distrik Danau Jurong.

Di Jalur Utara Selatan, stasiun ini adalah stasiun pertama menuju jurusan selatan dan menjadi stasiun terakhir untuk tujuan utara. Untuk Jalur
Timur Barat, stasiun ini berada di antara Chinese Garden dan Clementi. Selama jam padat pagi dan sore hari, akan ditambah kereta di peron
tengah yang akan berakhir di Yew Tee dan Ang Mo Kio. Pada jadwal terakhir kereta di jalur tengah akan berakhir di Ang Mo Kio dan Toa Payoh.

Pagar Pengaman Peron

Seperti halnya banyak stasiun di


Jalur Timur Barat dan Jalur Utara
Selatan, stasiun ini dibangun tanpa
Pagar Pengaman Peron untuk
menghindari jatuhnya penumpang
ke rel kereta. Pada tanggal 18
Desember 2009 pintu pengaman
telah dipasang. Stasiun ini adalah
stasiun ketiga yang memiliki Pagar
Pengaman Peron.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


1
STUDI PRESEDEN
STASIUN KERETA API
01. Stasiun MRT Jurong East

Hotel dan Stasiun Kereta Api


2
STUDI PRESEDEN
HOTEL
Sumber : http://mercurejakartasimatupang.com/
02. Hotel Jakarta Simatupang
Address :
Jl. R.A Kartini No. 18
Lebak Bulus, Jakarta Selatan 12440
Tel : (62-21) 75 999 777
Reservation : (62-21) 75 999 789
Fax : (62-21) 75 999 798
E-mail : h6680@accor.com
Twitter : @mercure_smtpg
Facebook : MercureJakartaSimatupangHotel

Hotel Jakarta Simatupang terletak di daerah Jakarta Selatan. Hotel Mercure Simatupang
dengan jumlah kamar 232-kamar dekat dengan Central Business District, Pondok Indah
International Golf Course dan menawarkan akses yang mudah menuju ke pusat
perbelanjaan trendi di sekitarnya. Semua kamar kontemporer yang dihiasi dengan suasana
tradisi dan budaya lokal. Para tamu dapat bersantai di atap lounge bar atau menikmati
masakan yang menarik di restoran inventif hotel tersebut.
Hotel dengan jumlah kamar 232 kamar, dirancang dengan dasar untuk menunjukkan
keaktifan kota, yaitu kota Jakarta yang terlihat dalam karikatur Jakarta pada bagian kepala
tempat tidur atau gambar raksasa Monas, sehingga menciptakan suasana yang canggih dan
nyaman. Selain dari interior, semua kamar memiliki TV layar datar dengan saluran TV
kabel, individu control kondisi udara, mini bar dan layanan pembuat kopi / teh. Koneksi
internet Wi-Fi juga tersedia di kamar dan area umum.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


3
STUDI PRESEDEN
HOTEL
E. Priviledge 2 Single Bed Room
02. Hotel Jakarta Simatupang Kamar dilengkapi dengan 2 Single Bed dan fasilitas tambahan seperti
Jenis-Jenis Kamar : mesin Espresso. Lokasinya di lantai khusus untuk privasi yang lebih
A. Standard Room besar ruangan juga dilengkapi dengan pemandangan indah kota.
Kamar standar kontemporer dilengkapi dengan 1 tempat tidur ukuran F. One Bedroom Suite
king, akses internet WiFi dan pemandangan kota yang luar biasa. Kamar dilengkapi dengan 2 Single Bed
B. Superior 1 King Sized Bed Room dan fasilitas tambahan seperti mesin
Kamar superior kontemporer dilengkapi Espresso. Lokasinya di lantai khusus
dengan tempat tidur ukuran 1 King sized untuk privasi yang lebih besar ruangan
Bed. Kamar mandi dengan shower. juga dilengkapi dengan pemandangan
Dilengkapi dengan Plasma TV, WiFi indah kota.
akses internet dan pemandangan indah
kota.
C. Superior 2 Single Bed Room
Kamar superior kontemporer dilengkapi
dengan 2 tempat tidur single bed. kamar
mandi dengan shower. Dilengkapi
dengan Plasma TV, WiFi akses internet,
dan pemandangan indah kota.
D. Privilege 1 King Bed Room
Kamar terlihat keistimewaan dilengkapi
dengan 1 King Bed dan fasilitas tambahan
seperti mesin Espresso. Lokasinya terletak
di lantai khusus untuk privasi yang lebih
besar ruangan juga dilengkapi dengan
pemandangan indah kota.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


4
STUDI PRESEDEN
HOTEL
02. Hotel Jakarta Simatupang

Hotel dan Stasiun Kereta Api


5
STUDI PRESEDEN
HOTEL
02. Hotel Jakarta Simatupang

Hotel dan Stasiun Kereta Api


5
STUDI KOMPARASI
STASIUN KERETA API
01. Stasiun Semarang Tawang
Stasiun Semarang Tawang (kode SMT) adalah stasiun induk
di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara,
Kota Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan
bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini.
Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di
Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada
tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke
Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada
tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo
Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di
Yogyakarta. Dulu, selain ada rel ke Stasiun Semarang
Gudang, terdapat juga rel menuju Demak.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


6
STUDI KOMPARASI
STASIUN KERETA API
01. Stasiun Semarang Tawang
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Semarang_Tawang

Hotel dan Stasiun Kereta Api


7
STUDI KOMPARASI
STASIUN KERETA API
02. Stasiun Manggarai Jakarta
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Manggarai

Stasiun Manggarai terletak di Kotamadya Jakarta Pusat, tepatnya di jalan Manggarai Utara
1, Stasiun manggarai adalah salah satu stasiun kereta api besar di Jakarta, Indonesia yang
terletak di Manggarai, Jakarta Pusat. Stasiun ini mulai dibangu sekitar tahun 1910 memiliki
jalur hampir sebanyak stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini kebanyakan hanya melayani kereta
ekonomi komuter tujuan Bogor, Tanah Abang, dan Bekasi. Penumpang tujuan Bogor
kebanyakan buruh. Sore hari ada kereta tujuan Nambo dan kereta Tanah Abang Ekspres
koridor Bogor-Tanah Abang parkir disini sebelum masuk dipo Bukit Duri.

Kawasan StasIun Manggarai Gambar persil stasiun manggarai

Koefisien Dasar Bangunan : 0,6 | Koefisien Lantai Bangunan : 2


Ketinggian Bangunan : 3 lantai | GSB : 3 meter (dari Jl. Manggarai Utara 1)
Luas Tapak : + 12.000 m
Rencana Jumlah Lantai adalah 3 lantai
Maka luas lantai dasar adalah 0,6 x 12000 = 7200m

Hotel dan Stasiun Kereta Api


8
STUDI KOMPARASI
STASIUN KERETA API
02. Stasiun Manggarai Jakarta
Pendekatan Fungsi
Fungsi dari Stasiun Manggarai Centre adalah sebagai berikut :
1. Sebagai stasiun pusat kegiatan keberangkatan dan kepergian
kereta dari luar Jakarta ataupun jabodetabek yang bertujuan
untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan di bidang
transportasi kereta api dalam jangka waktu proyeksi 10
tahun ke depan (2020).
2. Sebagai gerbang masuk pemberhetianpertama kereta-
kereta dari luar Jakarta yang harus mewakili image kota
Jakarta.

Pendekatan Pelaku
Pendekatan pelaku kegiatan didasari oleh data yang ada pada
Stasiun Sudirman (Dukuh Atas). Klasifikasinya adalah sebagai
berikut :
1. Penumpang Kereta Komuter (KA Jabotabek) Pelaku aktivitas
kegiatan utama adalah penumpang kereta komuter yang
naik atau turun dari kereta. Merupakan pelaku yang
kegiatannya cenderung sibukdan menginginkan kepraktisan
dan keefisiensian dalam segala hal, termasuk pelayanan
perjalanan. Pada kasus Stasiun Manggarai, penumpang
kereta komuter sebagian besar adalah para pegawai
perkantoran di daerah Jabodetabek.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


9
STUDI KOMPARASI
STASIUN KERETA API
02. Stasiun Manggarai Jakarta

Hotel dan Stasiun Kereta Api


10
STUDI KOMPARASI
HOTEL
01. Wisma MMUGM Hotel
Sumber : http://www.mmugmhotel.com/

Wisma MMUGM merupakan jenis hotel


bintang 3 di Yogyakarta dengan layanan
kamar 24 jam. Hotel ini terletak di posisi
yang mudah dijangkau dari Mesjid
Kampus UGM, Galeria Mall Yogyakarta,
Stadion Kridosono.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


11
STUDI KOMPARASI
HOTEL
01. Wisma MMUGM Hotel

Hotel dan Stasiun Kereta Api


12
STUDI KOMPARASI
HOTEL
02. Pops! Hotel Yogyakarta
Sumber : www.pophotels.com

Hotel dan Stasiun Kereta Api


13
HOTEL DAN
STASIUN KERETA API

BAB II
STUDI KELAYAKAN PROYEK

Mata Kuliah : Studio Arsiterktur 6| Kelas E | Dosen Pengampu : Ir. Soesilo Boedi Leksono, M.T.
STUDI KELAYAKAN
BAB II
PROYEK STASIUN
LATAR BELAKANG FUNGSI
Stasiun Tugu Yogyakarta dan Hotel Transit
Pada dekade terakhir, perkembangan kegiatan pendidikan,
permukiman, perdagangan, jasa, dan pariwisata di Yogyakarta JUDUL PROYEK
meningkat cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dari pemberitaan Stasisun Kereta Api Tugu Yogyakarta dengan penambahan fungsi Hotel
di berbagai media tentang kegiatan pameran, konferensi dan yang terintegrasi
seminar, serta wisata baik wisata alam-wisata budaya-wisata DEFINISI JUDUL PROYEK
belanja dalam berbagai bentuk dan skala, baik dalam skala Stasiun Kereta Api : Tempat pemberhentian kereta api untuk
regional maupun skala nasional. Perkembangan ini menuntut member kesempatan kepada penumpang untuk membeli tiket dan
wadah yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan naik ke dalam kereta api ataupun turun dari kereta api. Disamping itu
berdasarkan proyeksi penduduk dan kegiatan beberapa tahun juga terdapat fasilitas mengirim dan menerima barang dari bagasi.
ke depan. Penambahan : proses, cara, perbuatan menambah(kan)
Fungsi : guna, kegunaan
Bangunan mixed useyang terintegrasi dengan muatan nilai-nilai Hotel : Bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat
kearifan local - tropis merupakan salah satu wadah yang menginap dan tempat makan orang yang sedang dalam perjalanan
dibutuhkan untuk memenuhi issue perkembangan penduduk Integrasi : kesatuan
dan kegiatan di atas. Diharapkan dengan adanya konsep mixed
use pada bangunan ini, dapat menciptakan efisiensi dari segi Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian
waktu, tempat serta jarak bagi pengunjung, yang implikasinya judul Stasiun Kereta Api dengan Penambahan Fungsi Hotel yang
pada efisiensi transport dan efisiensi energy, sesuai dengan terintegrasi adalah tempat pemberhentian kereta api yang didalamnya
semangat seminar nasional SCAN (Sustainable Culture terdapat berbagai macam fasilitas untuk penumpang dan fasilitas
Architecture and Nature) yang digagas oleh Arsitektur UAJY. pengiriman barang dimana didalamnya juga terdapat penambahan
fasilitas hotel yang digunakan sebagai tempat transit sementara bagi
penumpang. Adanya perencanaan yang terintegrasi membuat stasiun
dan hotel menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


15
STUDI KELAYAKAN
PROYEK STASIUN
FUNGSI Pengelola Stasiun
Gedung stasiun kereta api merupakan bagiandari stasiun Pengelola stasiun adalah orang yang bekerja di stasiun untuk mengurus
kereta api yang digunakan untukmelayani pengaturan kegiatan operasional stasiun dan kereta api. Pengelola stasiun dibedakan
perjalanan kereta apidanpengguna jasa kereta api. menjadi 2 kelompok operasional, yaitu:
*) PM 29 tahun 2011 Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun 1. Pengelola non-teknis
Kereta Api Pengelola non-teknis adalah orang yang bertanggungjawab terhadap
administrasi stasiun, seperti:
PENGGUNA STASIUN a. Kepala stasiun
Penumpang b. Pimpinan perjalanan kereta api
Penumpang adalah orang yang menggunakan jasa trasnportasi c. Kepala keuangan dan staff
kereta api. Penumpang kereta api memiliki dua jenis d. Kepala tata usaha dan staff
berdasarkan kegiatan yang berbeda, yaitu: e. Kepala dinas luar
Penumpang berangkat (departure) : penumpang yang f. Kepala penjualan karcis dan staff
berangkat dari stasiun yang bersangkutan menuju stasiun 2. Pengelola teknis
tujuan di daerah yang lain. Pengelola teknis adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kegiatan
Penumpang datang (arrival) : penumpang yang datang atau operasional stasiun, seperti:
turun di stasiun yang bersangkutan dari stasiun asal di daerah a. Bagian loket
yang lain. b. Bagian penerimaan
c. Pengawas peron
Pengantar atau Penjemput d. Bagian komunikasi
Hal yang tidak bisa terlepaskan dari keberangkatan atau e. Juru Langsir
kedatangan penumpang di stasiun adalah adanya pengantar f. Pengatur Sinyal
atau penjemput. Keberadaan pengantar atau penjemput tidak g. Mandor Stasiun
bisa diabaikan dalam proses perancangan stasiun kereta api h. Kondektur
karena akan menentukan besaran ruang stasiun, lobby dan i. Juru Gerbong
ruang tunggu. j. Satuan Pengamanan Kereta api

Hotel dan Stasiun Kereta Api


16
STUDI KELAYAKAN
PROYEK STASIUN
STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA STASIUN KERETA API JENIS RUANG BERDASARKAN KEGIATAN

Gedung untuk kegiatan pokok, yang terdiriatas:


KSB
1. Hall
2. Perkantoran kegiatan stasiun
WKSB 3. Loket Karcis
4. Ruang Tunggu
Tata Usaha
Administrasi
Bendahara &
staff
Mandor (bongkar
muat &
Pimpinan
Perjalanan Kereta 5. Ruang Informasi
6. Ruang Fasilitas Umum
kebersihan) Api

Kepala kiriman
Pekerja stasiun Pengawas Peron Juru rumah sinyal Penjaga lintasan kantor kawal
7. Ruang Fasilitas Keselamatan
8. Ruang fasilitas Keamanan
barang hantaran

penjaga pintu
9. Ruang Fasilitas Penyandang cacat dan Lansia
Loket Pekerja stasiun
depan
10. Ruang Fasilitas Kesehatan
Pembuat laporan
Pekerja Stasiun
KA
Gedung untuk kegiatan jasa pelayanan khusus, yang terdiriatas:
Juru langsir 1. Ruang tunggu penumpang
2. Bongkar muat barang
3. Pergudangan
Gedung untuk kegiatan penunjang ,yang terdiri atas: 4. Parkir kendaraan
1. Pertokoan 5. Penitipan barang
2. Restoran 6. Ruang atm
3. Perkantoran 7. Ruang lain yang menunjang baik secara Langsung maupun tidak langsung
4. Perparkiran kegiatan di Stasiun kereta api
5. Perhotelan
6. Ruang lain yang menunjang langsung
7. Kegiatan stasiun kereta api *) PM 29 tahun 2011 Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun Kereta Api

Hotel dan Stasiun Kereta Api


17
STUDI KELAYAKAN
PROYEK STASIUN
PERSYARATAN PENEMPATAN RUANG

Gedung Kegiatan Pokok Gedung Kegiatan Penunjang Stasiun Kereta Api dan Gedung Jasa
a. Lokasi sesuai dengan pola operasi perjalanan kereta api. Pelayanan Khusus di Stasiun Kereta Api
b. Menunjang operasional sistem perkeretaapian. a. Lokasi sesuai dengan pola operasi stasiun kereta api.
c. Tata letak ruang sesuai dengan alur proses kedatangan dan b. Tata letak ruang tidak menggangu alur proses kedatangan dan
keberangkatan penumpang kereta api serta tidak keberangkatan penumpang kereta api dan pengaturan perjalanan
mengganggu kereta api.
pengaturan perjalanan kereta api. c. Menunjang kegiatan stasiun kereta api dalam rangka pelayanan
d. Tidak mengganggu Iingkungan. pengguna jasa stasiun.
e. Terjamin keselamatan dan keamanan operasi kereta api. d. Terjamin keselamatan dan keamanan operasi kereta api.

PERSYARATAN OPERASI
Gedung Kegiatan Pokok Gedung Kegiatan Penunjang Stasiun Kereta Api dan Gedung Jasa
a. Pengoperasian gedung stasiun harus sesuai dengan alur Pelayanan Khusus Di Stasiun Kereta Api
proses a. Tidak mengganggu pergerakan kereta api.
kedatangan dan keberangkatan penumpang kereta api serta b. Tidak mengganggu pergerakan penumpang dan/atau barang.
tidak c. Menjaga ketertiban dan keamanan.
mengganggu pengaturan perjalanan kereta api. d. Menjaga kebersihan lingkungan.
b. Menjamin bangunan stasiun dapat berfungsi secara e. Tidak mengganggu bangunan dan Iingkungan sekitar stasiun serta
optimal dari segi tata disesuaikan dengan daya tampung dan kebutuhan.
letak ruang gedung stasiun, sehingga pengoperasian sarana
perkeretaapian dapat dilakukan secara nyaman. *) PM 29 tahun 2011 Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun Kereta
c. Pengoperasian gedung stasiun sesuai dengan jam Api
operasional kereta
api dan ketersediaan sumber daya manusia.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


18
STUDI KELAYAKAN
PROYEK STASIUN
PERSYARATAN TEKNIS INSTALASI PENDUKUNG

INSTALASI LISTRIK PEMADAM KEBAKARAN


Fungsi. Fungsi.
Instalasi listrik merupakan peralatan, komponen dan instalasi listrik yang Sebagai fasilitas pemadam kebakaran jika terjadi gejala atau kebakaran
berfungsi untuk mensuplai dan mendistribusi tenaga Iistrik dalam memenuhi di gedung stasiun kereta api.
kebutuhan operasional stasiun dan kereta api.
Jenis.
Jenis. a. Hydran dengan selang dan/atau tabung.
a. Jaringan penyediaan Iistrik umum. b. Sprinkle.
b. Sumber tenaga listrik sendiri.
PersyaratanPenempatan.
Persyaratan Penempatan. Ditempatkan di area yang strategis dan terjangkau jika terjadi kebakaran
Ditempatkan di area di luar dan/atau di dalam gedung stasiun yang dengan memperhatikan letak tata ruang gedung yang tidak mengganggu
memenuhi standar persyaratan umum instalasi listrik. pergerakan penumpang dan operasional kereta api.

INSTALASI AIR PERSYARATAN TEKNIS PERON


Fungsi. Fungsi.
Instalasi air merupakan peralatan, komponen dan instalasi air yang berfungsi Sebagai tempat yang digunakan untuk aktifitas naik turun penumpang
untuk mensuplai dan mendistribusi air dalam memenuhi kebutuhan kereta api.
operasional stasiun dan kereta api.
Jenis.
Jenis. a. Peron tinggi.
a. Instalasi air bersih. b. Peron sedang.
1. Jaringan penyediaan air umum; dan c. Peron rendah.
2. Olahan.
b. Instalasi air kotor atau limbah. PersyaratanPenempatan.
a. Oi tepi jalur (side platform).
Persyaratan Penempatan. b. Oi antara dua jalur (island platform)
Ditempatkan di area yang strategis dan terjangkau dan memenuhi
persyaratan instalasi air dengan memperhatikan letak tata ruang gedung *) PM 29 tahun 2011 Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun Kereta Api
yang tidak mengganggu pergerakan penumpang dan operasional kereta api.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


19
STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL
ESENSI PROYEK
Hotel adalah Suatu bentuk bangunan yang menyediakan pelayanan jasa untuk publik, meliputi jasa penginapan, tempat makan-
minum, dan pelayanan jasa lainnya (laundry, pengangkut barang). Di mana fasilitas-fasilitas tersebut digunakan untuk memenuhi
kebutuhan publik.
PENGINAPAN
MENGAKOMODASI
KEBUTUHAN
MAKANAN - MINUMAN PENGGUNA
BANGUNAN FASILITAS DOMESTIK

LAUNDRY
MANCANEGARA
PENGANGKUTAN
BARANG

LATAR BELAKANG
Yogyakarta sebagai kota pariwisata yang paling banyak diminati wisatawan dari dalam negeri, maupun mancanegara. Seiring waktu
mengalami peningkatan jumlah wisatawan yang datang untuk mengunjungi objek wisata di Yogyakarta, sehingga kebutuhan tempat
mengakomodasi jumlah pengunjung yang datang untuk berwisata ataupun bekerja dan belajar semakin bertambah pesat. Maka untuk
memenuhi kebutuhan akomodasi yang semakin meningkat di butuhkan suatu bangunan yang dapat mengakomodasi lonjakan
pengunjung yang datang ke Yogyakarta.
SMALL ( 28 )
CITY KATEGORI
MEDIUM ( 28-299 )
HOTEL
LARGE ( > 300 )
Hotel dan Stasiun Kereta Api
20
STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL
KONSEP SISTEM LINGKUNGAN
A. KONTEKS KULTURAL
Sebagai kota budaya dan bersejarah, sebagai kota pariwisata, Daerah Istimewa Yogyakarta terbukti terkenal
sebagai daerah tujuan wisata domestik maupun mancanegara. Mempertimbangkan 6 elemen Gentz, Daerah
Yogyakarta memenuhi persyaratan tujuan wisata konvensi yang mencakup :
1. INFRASTRUKTUR
2. AKOMODASI
3. TRANSPORTASI
4. ATRAKSI
5. PEDAGANG PENGECER (RETAIL)
6. SARANA REKREASI / HIBURAN
B. KONTEKS FISIKAL BANGUNAN
Konteks fisikal wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang mempengaruhi perencanaan City Hotel
Yogyakarta adalah kondisi geografis dan kondisi klimatologis. Letak yang dekat Gunung Merapi mendukung
dalam tata peletakan massa orientasi bangunan yang menggunakan sumbu utara-selatan yang merupakan
sumbu dari Gunung Merapi-Keraton Yogyakarta- Laut Selatan.
Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 1,88 mm 39,85 mm
per hari yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. Sehingga dalam perancangan City Hotel
Yogyakarta ini akan membutuhkan adanya kemiringan atap dan tritisan air hujan pada bangunan

Hotel dan Stasiun Kereta Api


21
DATA STATISTIK WISATAWAN DI YOGYAKARTA STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL

Grafik Jumlah Wisatawan yang menggunakan Jasa


Grafik Lama Tinggal Wisatawan di DIY Tahun 2008 -
Akomodasi di DIY Tahun 2008 - 2012
2012

Diagram Perkembangan Peringkat Sepuluh Besar Wisatawan Grafik Perkembangan Wisatawan ke DIY
Mancanergara ke DIY Tahun 2010-2012 Tahun 2008 - 2012
Hotel dan Stasiun Kereta Api
22
STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL
KONSEP SASARAN PEMAKAI
1. Pelaku Kegiatan City Hotel Yogyakarta
TAMU YANG MENGINAP
TAMU
PELAKU TAMU YANG TIDAK MENGINAP

PENGELOLA

1. Kegiatan City Hotel Yogyakarta


a. Kegiatan Utama :

PELAKU KEGIATAN
TAMU HOTEL DATANG
PARKIR KENDARAAN
CHECK IN / INFORMASI
MENYEWA KAMAR
TIDUR ISTIRAHAT MCK
KEGIATAN PENDUKUNG DAN
PELENGKAP

Hotel dan Stasiun Kereta Api


23
STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL
b. Kegiatan Pendukung :

PELAKU KEGIATAN
PEBISNIS / TAMU SEMENTARA DATANG
PARKIR KENDARAAN
MENIKMATI FASILITAS PUBLIK
SEMINAR
RAPAT
MAKAN
MCK

c. Kegiatan Pelayanan :

PELAKU KEGIATAN
PENGELOLA DATANG
PARKIR KENDARAAN
MENGELOLA
ISTIRAHAT - MAKAN
MCK

Hotel dan Stasiun Kereta Api


24
STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL
KONSEP KARAKTERISTIK KEGIATAN
Karakter kegiatan dalam City Hotel Yogyakarta terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu :

HORIZONTAL

ZONA
ENTRANCE PUBLIK SEMI PRIVAT
PRIVAT

ZONA RUANG-RUANG
ZONA
PRIVAT ENTRANCE LOBBY
PUBLIK R. SEMINAR, R. PERTEMUAN,
LOUNGE, DLL (FASILITAS TAMU
VERTIKAL SEMI PRIVAT HOTEL)
SEMI PRIVAT R. PENGELOLA, R. UTILITAS
PRIVAT R. KAMAR
ENTRANCE PUBLIK

Hotel dan Stasiun Kereta Api


25
STUDI KELAYAKAN
PROYEK HOTEL
KONSEP PERENCANAAN JENIS RUANG
Kegiatan Utama Kegiatan Pelayanan
PELAKU KEBUTUHAN JENIS RUANG
PELAKU KEBUTUHAN JENIS RUANG
TAMU HOTEL PARKIR
LOBBY PENGELOLA PARKIR
KAMAR HOTEL R. PENGELOLAAN
RESTORAN R. GANTI
ATM DAPUR
TEMPAT KEBUGARAN PANTRY
PIJAT-REFLEKSI TOILET
RUANG LOKER
Kegiatan Pendukung
GUDANG
PELAKU KEBUTUHAN JENIS RUANG R. UTILITAS

PEBISNIS / PARKIR
TAMU LOBBY
SEMENTARA RUANG RAPAT
RUANG KONVENSI
LOUNGE
RESTORAN
TEMPAT KEBUGARAN
ATM
PIJAT REFLEKSI

Hotel dan Stasiun Kereta Api


26
HOTEL DAN
STASIUN KERETA API

BAB III
LOKASI DAN PEMILIHAN SITE

Mata Kuliah : Studio Arsiterktur 6| Kelas E | Dosen Pengampu : Ir. Soesilo Boedi Leksono, M.T.
LOKASI DAN BAB
III
PEMILIHAN SITE

Peta Kecamatan Gedongtengen


Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta

Lokasi Stasiun Tugu Yogyakarta Terletak di Jalan P.


Mangkubumi Nomor 1 Yogyakarta. Berbatasan
langsung dengan Jalan Wongsodirjan dan Jalan
Suryonegaran di sebelah utara, Jalan P. Mangkubumi di
sebelah timur, Jalan Pasar Kembang di sebelah selatan,
dan Jalan Perintis Kemerdekaan di sebelah barat.

Peta Kota Yogyakarta


Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta

Hotel dan Stasiun Kereta Api


27
LOKASI DAN
PEMILIHAN SITE

Lokasi terletak Pusat Kota


Yogyakarta. Berdasarkan
Rencana Pemanfaatan
Pola Ruang Kota
Yogyakarta, lokasi ini
termasuk dalam kawasan
sarana transportasi.
Sedangkan di
sekelilingnya merupakan
kawasan perkantoran,
perdagangan, dan jasa.
Beberapa tempat penting
yang ada di sekitar site
antara lain, kawasan
wisata Malioboro, Kopi
Joss, dan beberapa
kantor pemerintahan
DIY. Selain itu eksisting
Stasiun Tugu merupakan
salah satu cagar budaya
yang perlu dilestarikan
keberadaannya, sehingga
banyak hal yang perlu
diperhatikan dan
dipertimbangkan dalam
proses mendesain.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


28
PEMILIHAN SITE
SUB SITE 1
Sub site 1 untuk pengembangan hotel terletak di
sebelah timur Stasiun Tugu. Berbatasan langsung
dengan Jalan Wongsodirjan di sebelah utara, Jalan
P. Mangkubumi di sebelah timur, area parkir
stasiun di sebelah selatan, dan Gedung Stasiun
Tugu di sebelah barat.

Kondisi eksisting berupa jalur rel kereta api untuk


langsir dan ada juga yang sudah tidak digunakan.
Site juga ditumbuhi oleh berbagai macam vegetasi.

KDB pada bangunan stasiun kereta api sebesar 70%,


dengan KLB Maks adalah 4, KDH min adalah 20%
dengan ketinggian 3 lantai.

Berdasarkan Luas lahan > 1000 m2, Tinggi


bangunannya adalah 20 m, dengan KDB 80% dan
KLB adalah 3,0. Jarak bangunan dengan pagar 4 m.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


29
LOKASI DAN
PEMILIHAN SITE

126,12 m

34 m

50 m

72,81 m

48,38 m

Luas: 5682,4 m

Hotel dan Stasiun Kereta Api


30
PEMILIHAN SITE
SUB SITE 2
Sub site 2 terletak di tepi Jalan Pasar
Kembang. Berbatasan langsung
dengan Stasiun Tugu di bagian utara
dan timur, pertokoan di sebelah
barat, dan Jalan Pasar Kembang di
sebelah selatan.
Kondisi eksisting berupa lapangan
parkir pengunjung Stasiun Tugu
yang sudah beraspal, serta terdapat
kios-kios makanan dan pelayanan
jasa. Terdapat terowongan bawah
tanah yang menjadi penghubung
dengan gedung stasiun.

KDB pada bangunan stasiun kereta


api sebesar 70%, dengan KLB Maks
adalah 4, KDH min adalah 20%
dengan ketinggian 3 lantai.
Berdasarkan Luas lahan > 1000 m2,
Tinggi bangunannya adalah 20 m,
dengan KDB 80% dan KLB adalah 3,0.
Jarak bangunan dengan pagar 4 m.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


31
LOKASI DAN
PEMILIHAN SITE

Luas: 7230 m

Hotel dan Stasiun Kereta Api


32
LOKASI DAN
PEMILIHAN SITE
KELEBIHAN
SUB SITE 1
Berada tepat di sebelah pintu gerbang depan
Stasiun Tugu (menyatu dengan stasiun) KEKURANGAN
Akses site mudah, jalan di depan site ramai SUB SITE 1
dilalui kendaraan
Kebisingan
Banyak eksisting mendukung di sekitar site
Site dilewati jalur kereta
Dekat dengan sektor pariwisata (Malioboro &
Kopi Joss) Jarak site dengan stasiun cukup jauh
View dari site dapat ke Stasiun Tugu & ex Jalan Mangkubumi 1 arah
Hotel Toegoe
SUB SITE 2
SUB SITE 2
Kebisingan di area site tinggi.
Site berada tepat di pinggir jalan, sehingga
Kondisi site sekarang merupakan area
akses menuju site mudah
kumuh
Jaringan utilitas pada site memadai
Akses ke Malioboro tanpa kendaraan cukup
Site berada dekat dengan wilayah pusat jauh.
kegiatan (banyak eksisting pendukung)
Site dekat dengan sektor pariwisata
Terdapat akses langsung ke Stasiun Tugu (ada
terowongan yang menghubungkan peron
dengan site)

Hotel dan Stasiun Kereta Api


33
PEMILIHAN SITE
SKORING TAPAK
No. Kriteria penilaian Site 1 Site 2

1 Akses Site 1 terletak di Jl. Mangkubumi yang Site 2 terletak di Jl. Pasar kembang yang
merupakan jalan 1 arah, namun site ini merupakan jalan 2 arah, sehingga memiliki
tergabung dengan area parkir stasiun akses kendaraan yang mudah.
tugu sudah memiliki sirkulasi kendaraan
yang cukup baik.
2 Kebisingan Site 2 berbatasan dengan Jl. Site 2 berada di muka jalan sehingga
Mangkubumi yang merupakan jalan 1 kebisingan di dalam site cukup tinggi
arah sehingga memiliki tingkat dikarenakan lalu lintas kendaraan di depan
kebisingan tinggi. site.
3 Jaringan Utilitas Jaringan listrik di sekitar site baik. Jaringan listrik di sekitar site baik.
4 Keistimewaan Lokasi Site 1 terletak dengan kawasan Site 2 berada dekat dengan kawasan
Malioboro dan berbatasan dengan area Malioboro yang bisa menjadi eksisting
kopi jos yang bisa menjadii eksisting pendukung untuk desain hotel dan stasiun.
pendukung.
5 View View dari dalam site ke luar site berupa View dari dalam site menuju luar site kurang
Stasiun Tugu dan Ex Hotel Tugu. menarik dikarenakan site memungkinkan
untuk dihadapkan ke arah utara.
6 Kondisi Lingkungan Kondisi eksisting saat ini berupa rel Kondisi eksisting site saat ini berupa kios
kereta api yang merupakan tempat makanan dan pelayanan jasa serta terdapat
perpindahan jalur pada kereta. kantor reservasi tiket Stasiun Tugu.
7 Kebersihan Site 1 terlihat bersih. Sumber limbah Sebelah timur site saat ini dijadikan tempat
yang memungkinkan pada site 1 berupa pembuangan sampah sehingga terkesan
limbah buangan dari pengguna jalan kumuh. Sumber limbah site saat ini berupa
atau penduduk sekitar limbah aktivitas manusia.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


34
PEMILIHAN SITE
SKORING TAPAK

No Kriteria Penilaian Site 1 Site 2


.
1 Akses 7 9
2 Kebisingan 3 3
3 Jaringan Utilitas 8 8
4 Keistimewaan Lokasi 9 8
5 View 8 7
6 Kondisi Lingkungan 7 8
7 Kebersihan 8 6
Total 50 49

Hotel dan Stasiun Kereta Api


35
HOTEL DAN
STASIUN KERETA API

BAB IV
STUDI PERATURAN DAERAH

Mata Kuliah : Studio Arsiterktur 6| Kelas E | Dosen Pengampu : Ir. Soesilo Boedi Leksono, M.T.
STUDI PERATURAN BAB
DAERAH IV

PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA


NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG
BANGUNAN GEDUNG
Bagian Kedua Penetapan Fungsi Bangunan
Pasal 5
(1) Bangunan gedung yang mempunyai fungsi :
fungsi usaha mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan usaha yang meliputi bangunan gedung perkantoran,
perdagangan, perindustrian, perhotelan/penginapan, wisata dan rekreasi, terminal dan bangunan gedung tempat penyimpanan;
(2) Prasarana dan Sarana bangunan gedung berfungsi sebagai berikut :
a. fungsi sebagai pembatas/penahan/pengaman yang meliputi pagar, tanggul/retaining wall, Turap batas kavling/persil;
b. fungsi sebagai penanda masuk lokasi yang meliputi gapura, gerbang;
c. fungsi sebagai perkerasan yang meliputi jalan, lapangan upacara, lapangan olah raga terbuka;
d. fungsi sebagai penghubung yang meliputi jembatan, box culvert;
e. fungsi sebagai kolam bawah tanah yang meliputi kolam renang, kolam pengolahan air , bak air di bawah tanah, sumur peresapan
air hujan, sumur peresapan air limbah, septic tank;
f. fungsi sebagai menara yang meliputi menara antena, menara bak air dan cerobong.
g. fungsi sebagai monumen yang meliputi tugu, patung;
h. fungsi sebagai instalasi / gardu yang meliputi instalasi listrik, instalasi telepon/ komunikasi, instalasi pengolahan;
i. fungsi reklame/papan nama yang meliputi billboard, papan iklan, papan nama (berdiri sendiri atau berupa tembok pagar); dan
j. fungsi fasilitas umum.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


36
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 14
(1) Setiap bangunan gedung yang didirikan tidak boleh melebihi ketentuan maksimal kepadatan dan ketinggian yang ditetapkan dalam
dokumen perencanaan kota.
(2) Perhitungan KDB dan KLB wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar;
b. Luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1,2 m (satu koma dua) di atas
lantai ruangan tersebut dihitung penuh 100 % (seratus per seratus);
c. Luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1,2 m (satu
koma dua) di atas lantai ruangan dihitung 50 % (limapuluh per seratus), selama tidak melebihi 10 % (sepuluh per seratus)
dari luas denah yang diperhitungkan;
d. Overstek atap (konsul/tritisan) yang melebihi lebar 1,5 m (satu koma lima) maka luas mendatar overstek atap tersebut
dianggap sebagai luas lantai denah penuh 100 % (seratus per seratus);
e. Luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB, asal tidak melebihi 50
% (lima puluh per seratus) dari KLB yang ditetapkan, selebihnya diperhitungkan 50 % (lima puluh per seratus) terhadap
KLB dan tidak melebihi ketinggian yang ditetapkan dalam dokumen perencanaan kota;
f. Ram dan tangga terbuka dihitung 50 % (lima puluh per seratus), selama tidak melebihi 10 % (sepuluh per seratus) dari
luas lantai dasar yang diperkenankan;
g. Dalam perhitungan KDB dan KLB, luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang Garis Sepadan Pagar (GSP);
h. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock), perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total
seluruh lantai dasar bangunan, dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut terhadap total
keseluruhan luas kawasan;
i. Dalam perhitungan ketinggian bangunan, apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m
(lima meter), maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai;
j. Mezanin (lantai antara yang terdapat di dalam ruangan) yang luasnya melebihi 50 % (lima puluh per seratus) dari luas lantai
dasar dianggap sebagai lantai penuh.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


37
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 15
(1) Setiap bangunan gedung yang didirikan tidak boleh melanggar ketentuan minimal jarak bebas bangunan gedung yang ditetapkan
dalam dokumen perencanaan kota.
(2) Ketentuan Garis Sempadan terdiri dari GSB, Garis Sempadan Pagar, Garis Sempadan Konsul/Kantilever/Balkon, Garis Sempadan
Sungai/Saluran, Garis Sempadan Jaringan Umum.
(3) Ketentuan jarak bebas bangunan gedung ditetapkan dalam bentuk:
a. garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan dan atau tepi sungai; dan
b. jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, jarak antar bangunan gedung dan jarak antara tepi rencana jalan dengan
pagar halaman yang diizinkan pada lokasi yang bersangkutan diberlakukan setiap persil.
(4) Penetapan garis sempadan bangunan gedung dengan tepi jalan, tepi sungai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi
didasarkan pada pertimbangan keselamatan dan kesehatan.
(5) Penetapan jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang diizinkan
pada lokasi yang bersangkutan harus didasarkan pada pertimbangan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
(6) Penetapan jarak bebas bangunan gedung atau bagian bangunan gedung yang dibangun di bawah permukaan tanah didasarkan
pada jaringan utilitas umum yang ada atau yang akan dibangun.
(7) Garis sempadan ditetapkan berdasarkan fungsi bangunan.
(8) Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan bangunan berimpit (GSB sama dengan nol), maka bagian muka bangunan
harus ditempatkan pada garis tersebut.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


38
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 16
(1) Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun.
(2) Jarak bebas antara dua bangunan gedung dalam suatu tapak minimal 2 (dua) meter dengan ketentuan sebagai berikut:
a. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan, maka jarak antara dinding atau bidang tersebut paling
sedikit 2 (dua) kali jarak bebas yang ditentukan;
b. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan
atau berlubang, maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditentukan.
c. Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan, maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak
bebas yang telah ditetapkan.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


39
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 16
(3) Pada kawasan yang intensitas bangunannya padat/tinggi, maka jarak bebas samping dan belakang bangunan wajib memenuhi persyaratan :
a. Bidang dinding, struktur dan pondasi bangunan terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan.
b. Untuk bangunan gedung bertingkat sampai dengan 3 (tiga) lantai, bidang dinding, struktur dan pondasi bangunan terluar dapat
berhimpitan dengan batas persil, apabila tidak berhimpitan maka jaraknya sekurang-kurangnya 1 (satu) meter ke arah dalam dari batas
persil.
c. Untuk bangunan gedung bertingkat sampai dengan 5 (lima) lantai, bidang dinding, struktur dan pondasi bangunan terluar batas persil
jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan sekurang-kurangnya 2 m (dua) meter ke arah dalam dari batas persil untuk
lantai sampai dengan 3 (tiga) lantai. Dan untuk penambahan jumlah lantai di atasnya, jarak bebas ditambah 1 (satu) meter dari jarak
bebas lantai di bawahnya.
d. Untuk bangunan gedung bertingkat lebih dari 5 (lima) lantai, bidang dinding, struktur dan pondasi bangunan terluar batas persil jarak
bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan sekurang-kurangnya 4 m (empat) meter ke arah dalam dari batas persil untuk
lantai sampai dengan 3 (tiga) lantai. Dan untuk penambahan jumlah lantai di atasnya sampai dengan 5 (lima) lantai jarak bebas
ditambah 1 (satu) meter dari jarak bebas lantai di bawahnya. Dan lantai ke 6 (enam) dan seterusnya jarak bebas dapat sama dengan
lantai di bawahnya.
e. Untuk bangunan gedung yang memiliki bangunan di bawah tanah (basement) jarak bidang dinding, struktur dan pondasi bangunan
terluar sekurang-kurangnya 1 (satu) meter ke arah dalam dari batas persil.
f. Bangunan gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran jarak dinding terluar sekurang-kurangnya 250 cm (dua ratus
lima puluh sentimeter) ke arah dalam dari batas persil.
g. Untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan
sebelahnya disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


40
STUDI PERATURAN
DAERAH
Paragraf 3
Persyaratan Arsitektur Bangunan
Pasal 18

(1) Penampilan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 harus dirancang dengan
mempertimbangkan kaidah-kaidah estetika bentuk, karakteristik arsitektur dan lingkungan sekitarnya sesuai
dengan ketentuan tata ruang.
(2) Penampilan bangunan gedung di kawasan cagar budaya harus dirancang dengan mempertimbangkan kaidah
pelestarian.
(3) Penampilan bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan gedung yang dilestarikan,
harus dirancang dengan mempertimbangkan kaidah estetika bentuk dan karakteristik dari arsitektur bangunan
yang dilestarikan.
(4) Penampilan bangunan gedung pemerintahan, fasilitas umum milik pemerintah dan bangunan umum non
pemerintah wajib menambahkan unsur-unsur ornamen arsitektur lokal Yogyakarta sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
(5) Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (4) adalah bangunan gedung cagar budaya atau bangunan gedung
yang berada di kawasan cagar budaya.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


41
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 20

(1) Keseimbangan, keserasian dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya sebagaimana dimaksud Pasal
17 harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung dan ruang terbuka hijau yang seimbang,
serasi dan selaras dengan lingkungannya.
(2) Ruang luar bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disesuaikan dengan Koofisisen Dasar
Bangunan (KDB) yang berlaku.
(3) Ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib disediakan dengan memanfaatkan ruang terbuka
dari luas lahan/persil setelah dikurangi luas dasar bangunan sesuai dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB).
(4) Ruang luar bangunan gedung dan ruang terbuka hijau diwujudkan dalam pemenuhan persyaratan daerah
resapan, penghijauan, akses penyelamatan, sirkulasi kendaraan dan manusia serta terpenuhinya kebutuhan prasarana
dan sarana di luar bangunan gedung.
(5) Penyediaan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Walikota.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


42
STUDI PERATURAN
DAERAH

Paragraf 4
Persyaratan Pengendalian Dampak Lingkungan
Pasal 21
(1) Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 hanya berlaku
bagi bangunan gedung yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
(2) Setiap mendirikan bangunan gedung yang menimbulkan dampak terhadap lingkungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), wajib memenuhi kajian lingkungan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang
pengelolaan lingkungan hidup.

Paragraf 5
Pembangunan Bangunan Gedung di atas dan atau di bawah tanah, di atas dan atau di bawah air, prasarana atau
sarana umum.

Pasal 22
Pembangunan Bangunan Gedung di atas dan atau di bawah tanah, di atas dan atau di bawah air, prasarana atau
sarana umum dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


43
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 23

(1) Pembangunan bangunan gedung di bawah tanah yang melintasi prasarana dan atau sarana umum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 harus :
a. sesuai dengan dokumen perencanaan kota;
b. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal;
c. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana kota yang berada di bawah tanah;
d. memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan gedung;
e. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan gedung;
dan
f. mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

(2) Pembangunan bangunan gedung di bawah dan atau di atas air sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22 harus:
a. sesuai dengan dokumen perencanaan kota;
b. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan, dan fungsi lindung kawasan;
c. tidak menimbulkan perubahan arus air yang dapat merusak lingkungan;
d. tidak menimbulkan pencemaran; dan telah mempertimbangkan faktor keselamatan, kenyamanan,
kesehatan, dan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


44
STUDI PERATURAN
DAERAH
(3) Pembangunan bangunan gedung diatas/dibawah prasarana dan atau sarana umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 wajib:

a. sesuai dengan dokumen perencanaan kota;


b. tidak mengganggu fungsi prasarana dan sarana yang berada di bawahnya dan atau di sekitarnya;
c. tetap memperhatikan keserasian bangunan gedung terhadap lingkungannya; dan
memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan sesuai fungsi bangunan gedung.

(4) Ketentuan lebih lanjut tentang pembangunan bangunan gedung di atas dan atau di bawah tanah, air,
dan atau prasarana dan sarana umum mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


45
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 24

(1) Pembangunan bangunan di bawah tanah (basement) wajib memperhatikan :

a. pada galian bangunan di bawah tanah (basement) harus dilakukan perhitungan terinci mengenai keamanan galian.

b. untuk dapat melakukan perhitungan keamanan galian, harus dilakukan test tanah yang dapat mendukung perhitungan tersebut
sesuai Standar Teknis dan Pedoman Teknis serta ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. angka keamanan untuk stabilitas galian harus memenuhi syarat sesuai Standar Teknis dan Pedoman Teknis serta ketentuan
peraturan perundang-undangan. Faktor keamanan yang diperhitungkan adalah dalam aspek sistem galian, sistem penahan tanah
lateral, heave dan blow in.

d. analisis pemompaan air tanah (dewatering) harus memperhatikan keamanan lingkungan dan memperhatikan urutan pelaksanaan
pekerjaan. Analisis dewatering perlu dilakukan berdasarkan parameter-parameter desain dari suatu uji pemompaan (pumping test)

(2) Kebutuhan bangunan di bawah tanah (basement) dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan
dokumen perencanaan kota.

(3) Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai, lantai bangunan di bawah tanah (basement) pertama (B-1) tidak dibenarkan
keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman
sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


46
STUDI PERATURAN
DAERAH
Bagian Ketiga Persyaratan Keandalan Bangunan Paragraf 1
Umum

Pasal 28

(1) Setiap bangunan gedung, kecuali rumah tinggal tunggal dan rumah deret sederhana, harus dilindungi terhadap
bahaya kebakaran dengan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif.
(2) Penerapan sistem proteksi pasif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada fungsi/klasifikasi risiko
kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan
gedung.
(3) Penerapan sistem proteksi aktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas,
ketinggian, volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.
(4) Setiap bangunan gedung dengan fungsi, klasifikasi luas, jumlah lantai dan/atau dengan jumlah penghuni tertentu
harus memiliki unit manajemen pengamanan kebakaran.

Pasal 36
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan gedung wajib dilengkapi dengan sistem air bersih,
sistem pembuangan air kotor dan atau air limbah, kotoran, tempat sampah, dan sistem saluran peresapan air hujan.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


47
STUDI PERATURAN
DAERAH
PERATURAN DAERAH TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA
YOGYAKARTA TAHUN 2010-2029.
Bagian Keempat Penetapan Citra Kota
Paragraf 1
Lokasi
Pasal 73
(1) Inti pelestarian Citra Kota terdapat pada 13 lokasi baik bangunan, rumah, taman, jalan maupun ornamen yang memiliki kekhususan kawasan
kota dengan spesifik sebagai berikut:
Sumbu Krapyak Kraton Tugu (Jalan DI. Panjaitan, Trikora, Ahmad Yani, Malioboro, Mangkubumi) sebagai jalur kota yang menyiratkan citra
filosofis dan peninggalan budaya;
Paragraf 2
Pengaturan
Pasal 75
(1) Pengaturan Inti pelestarian Citra Kota meliputi hal-hal sebagai berikut :
Sumbu Krapyak Kraton Tugu (jalan DI Panjaitan, Trikora, Jend. Ahmad Yani, Malioboro,Mangkubumi), tidak boleh diubah
geometri dan pandangan bebas dikiri kanan jalan, melalui pembentukan ruang jalan dengan perbandingan antara lebar jalan dengan
tinggi bangunan pembatas sebesar 2 : 1 atau tidak melebihi garis imajiner sudut 45 derajat dari sumbu jalan kearah samping.
Suasana jalur dibentuk dengan pengaturan tata hijau sebagai pengarah dan pembentuk suasana, estetika dengan tanaman yang
mencerminkan tata hijau lingkungan Keraton;

Hotel dan Stasiun Kereta Api


48
STUDI PERATURAN
DAERAH
Tabel 4
Peraturan Pengembangan dan Peletakan Bangunan Kota Yogyakarta

Keterangan
Kawasan Peruntukan Pemanfaatan Ruang
KDB KLB KDH Ketinggian
maks maks min (jml. lantai)
(%) (%)
1 2 4 5 6 7
Fungsi Hunian 80 1,5 10 3
Perumahan & Fungsi Campuran 70 4,0 10 3
Permukiman Kondominium/ 7
60 4,0 20
Apartemen/ Flat
Pendidikan (TK- 3
70 4,0 20
SLTA)
Universitas/ 6
70 4,0 20
Fasilitas Umum & Akademi
Sosial Kesehatan 70 4,0 20 4
KAWASAN
BUDIDAYA Keagamaan 70 4,0 50 2
Perkantoran 5
70 4,0 20
Pemerintahan
Pusat Perbelanjaan 8
70 4,0 15
Moderen/ Mall
Pertokoan Retail & 6
70 4,0 15
Grosir
Perdagangan & Rental Office 70 4,0 15 10
Jasa Hotel & Jasa Keterangan 10
70 4,0 15
Kawasan Penginapan lainnya
Jenis Kawasan
KDB KLB KDH Ketinggian
Bank maks
70 maks
4,0 min
15 (jml. 8lantai)
Pasar (%)
70 4,0 (%)
15 4
1 2 Jasa Lainnya 4
60 5
4,0 6
20 7
6
Taman Kota 10 0,5 70 1
Kaw. Gelanggang 4
Sarana & Prasarana 80 3 15
Olahraga
Lainnya
Kws. aneka Industri 3
80 1,5 10
(Rumah Tangga)
Pergudangan 70 1,5 20 3 Lampiran II - 18
Terminal 70 4 20 3
Station Kereta Api 70 4 20 3
KAWASAN Kws Perlindungan Sempadan Sungai
LINDUNG Setempat Ruang Terbuka
90
Hijau (RTH)
Cagar Budaya & Inti Pelestarian
Ilmu pengetahuan pada Citra Kota
Rawan Bencana

Hotel dan Stasiun Kereta Api


WALIKOTA YOGYAKARTA
49
STUDI PERATURAN
DAERAH
PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA
NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG
BANGUNAN GEDUNG
Paragraf 1
Pengembangan Struktur Ruang Kota
Pasal 15
(1) Pengembangan struktur ruang kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a dimaksudkan untuk memeratakan
pertumbuhan pembangunan diseluruh wilayah kota Yogyakarta yang meliputi :
a. kawasan pusat kota di wilayah Kecamatan Danurejan, Kecamatan Gedongtengen, dan Kecamatan Gondomanan;
b. kawasan wisata budaya dikembangkan di kecamatan kraton, kecamatan pakualaman dan Kecamatan Kotagede
c. Kecamatan Umbulharjo merupakan kawasan prioritas yang harus dikembangkan dibandingkan dengan kecamatan-
kecamatan lain yang relatif sudah berkembang.

(2) Pembagian Kawasan Kota akan dibagi berdasarkan karakter kawasan dan kondisi kawasan fisik alami dan wilayah
administrasi kota.

(3) Rencana struktur ruang kota Yogyakarta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) sebagaimana tersebut dalam Peta
02 pada Lampiran I Peraturan Daerah ini.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


50
STUDI PERATURAN
DAERAH
Bagian Kedua Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah
Pasal 10

(1)Kebijakan pengembangan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a meliputi :

a. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup

b. pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup

c. memantapkan fungsi lindung melalui pemeliharaan dan pelestarian terhadap kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan serta
pencegahan dampak negatif kegiatan manusia terhadapnya.

d. memantapkan fungsi lindung dan upaya menyelamatkan manusia serta kegiatan hidupnya terutama pada kawasan rawan bencana.

(4) Strategi untuk memantapkan fungsi lindung melalui pemeliharaan dan pelestarian terhadap kawasan cagar budaya dan ilmu
pengetahuan serta pencegahan dampak negatif kegiatan manusia terhadapnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c Pasal ini
meliputi :
a. mengelola kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan memadukan kepentingan pelestarian budaya Daerah dan
pariwisata budaya

b. mengelola kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan mengembangkan pariwisata rekreasi dan pendidikan

Hotel dan Stasiun Kereta Api


51
STUDI PERATURAN
DAERAH
c. melarang kegiatan budidaya apapun yang tidak berkaitan dengan fungsinya dan tidak berkaitan dengan nilai-nilai budaya yang
terkandung di dalamnya.

Pasal 11
(3) Strategi pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b meliputi :

a.melarang segala bentuk industri yang menimbulkan pencemaran lingkungan


b. mengembangkan bentuk-bentuk industri mikro, kecil dan menengah yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan
c. mengembangkan cluster-cluster kawasan pariwisata
d. melestarikan nilai-nilai budaya bangsa dan obyek-obyek budaya, ilmu pengetahuan dan pendidikan serta benda cagar budaya
dengan penetapan Citra Kota
e. memanfaatkan secara bijaksana obyek dan benda cagar budaya untuk kegiatan pariwisata
f. mengoptimalkan lahan permukiman di kawasan padat penduduk dengan pengembangan hunian secara vertikal;
g. mengembangkan wilayah Daerah dengan mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara vertikal dan kompak
h. mempertahankan pasar tradisional sebagai salah satu bentuk pelayanan ekonomi masyarakat
i. meningkatan sarana dan prasarana fasilitas umum lainnya seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, rekreasi dan olah raga,
perkantoran, dan pemakaman

Hotel dan Stasiun Kereta Api


52
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pengembangan Struktur Ruang Kota
Pasal 15

(1)Pengembangan struktur ruang kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a dimaksudkan untuk memeratakan
pertumbuhan pembangunan diseluruh wilayah kota Yogyakarta yang meliputi :

a.kawasan pusat kota di wilayah Kecamatan Danurejan, Kecamatan Gedongtengen, dan Kecamatan Gondomanan

b. kawasan wisata budaya dikembangkan di kecamatan kraton, kecamatan pakualaman dan Kecamatan Kotagede

c. Kecamatan Umbulharjo merupakan kawasan prioritas yang harus dikembangkan dibandingkan dengan kecamatan-
kecamatan lain yang relatif sudah berkembang.

(2) Pembagian Kawasan Kota akan dibagi berdasarkan karakter kawasan dan kondisi kawasan fisik alami dan wilayah
administrasi kota.

(3) Rencana struktur ruang kota Yogyakarta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) sebagaimana tersebut dalam
Peta 02 pada Lampiran I Peraturan Daerah ini.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


53
STUDI PERATURAN
DAERAH
Pasal 19

(1) Sistem pusat-pusat pelayanan kota berlokasi di Kecamatan Danurejan, Kecamatan Gedongtengen, dan Kecamatan
Gondomanan, subpusat kota tersebar di masing-masing kecamatan, sedangkan pusat pelayanan lingkungan tersebar di
seluruh kelurahan dan sekitar kawasan permukiman.

2) Penjabaran kriteria pusat pelayanan dan fasilitas pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Walikota.

Bagian Kedua
Kawasan Lindung Daerah
Pasal 60

(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf a adalah kawasan sepadan sungai dan
ruang terbuka hijau Kota Yogyakarta.

(2) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud Pasal 59 huruf b adalah kawasan yang
menunjukkan pentingnya untuk dilestarikan.

(3) Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf c adalah kawasan yang rawan gempa, tanah
longsor dan erupsi vulkanis Gunung Merapi.

Hotel dan Stasiun Kereta Api


54
Hotel dan Stasiun Kereta Api
55
STUDI PERATURAN
DAERAH

Hotel dan Stasiun Kereta Api


56
STUDI PERATURAN
DAERAH

PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA


NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG
BANGUNAN GEDUNG

Hotel dan Stasiun Kereta Api


57
Hotel dan Stasiun Kereta Api
58