Anda di halaman 1dari 27

aspek legal etik terapi jiwa komunitas

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perawat merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan
langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional,
keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan
ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri
sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta
ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung.

Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek
keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat
dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan
memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek
keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Dalam melakukan praktek
keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa
pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik
disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik
pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan.

Etika merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etika berhubungan dengan
hal yang baik dan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban moral. Etika merupakan metode
penyelidikan yang membantu orang memahami moralitas perilaku manusia (yaitu ilmu yang
mempelajari moralitas), praktik atau keyakinan kelompok tertentu (misalnya, kedokteran,
keperawatan, dll), dan standar perilaku moral yang diharapkan dari kelompok tertentu sesuai
dalam kode etik profesi kelompok tersebut (Kozier, B : 2010).

Pelayanan kepada umat manusia merupakan fungsi utama perawat dan dasar adanya profesi
keperawatan. Kebutuhan pelayanan keperawatan adalah universal. Pelayanan profesional
berdasarkan kebutuhan manusia- karena itu tidak membedakan kebangsaan, warna kulit, politik,
status sosial dan lain-lain.Keperawatan adalah pelayanan vital terhadap manusia yang
menggunakan manusia juga, yaitu perawat. Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa
perawat akan berbuat hal yang benar, hal yang diperlukan, dan hal yang mnguntungkan pasien
dan kesehatannya. Oleh karena manusia dalam interaksi bertingkah laku berbeda-beda maka
diperlukan pedoman untuk mengarahkan bagaimana harus bertindak.

Asuhan keperawatan jiwa ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan klien dan kemandirian
klien serta membantu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya baik fisik maupun
psikologis, baik pada individu, keluarga maupun kelompok masyarakat (komunitas). Dalam
upaya penanganan masalah kesehatan jiwa salah satu terapi spesialis yang dapat diberikan pada
klien dengan gangguan jiwa adalah berupa terapi kelompok/ therapeutic community. Oleh akrena
itulah asuhan keperawatan harus bersifat holistik. Selain bersifat holistik, pendekatan humanistik
dalam mengimplementasikan berbagai terapi harus benar-benar diperhatikan. Dengan demikian,
siapapun yang melakukan terapi keperawatan, khususnya psychoterapi harus mempunyai
kemampuan dalam mengatasi masalah pasien secara ilmiah, memperhatikan legasl dan etis agar
tindakannya tidak bertentangan dengan norma yang ada baik dalam menjalankan standar asuhan,
dalam berhubungan dengan profesi lain dan juga secara humanistik dalam memperlakukan
pasien sebagai subjek dan objek dalam pelaksanaan asuhan (G.W Stuart. 2013). Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah untuk memahami mengenai aspek legal dan etik terapi
keperawatan di komunitas.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Standar Keperawatan Psikiatri

Keperawatan kesehatan jiwa sering dihadapkan pada situasi etik yang komplek dalam perawatan
pasien dan keluarga, serta komunitas. Perawat harus mempunyai perhatian, pengetahuan,
kesadaran diri dan kemampuan untuk memfokuskan kegiatan klien. Untuk itu diperlukan
pedoman tanggung jawab standar etik yang tinggi dalam pelaksanaan praktek asuhan
keperawatan. Dalam memahami standar legal dan etik dalam terapi keluarga perlu diketahui
terlebih dahulu definisi standar etik dan legal secara umum.

Standar keperawatan adalah pernyataan otoritatif yang digunakan oleh profesi keperawatan
untuk mendeskripsikan tanggung jawab dan peran perawat secara akuntabilitas, yang
memberikan kewenangan bagi praktek keperawatan profesional dan kerangka kerja untuk
evaluasi praktek keperawatan. Standar keperawatan juga menentukan akuntabilitas profesi
keperawatan terhadap masyarakat dan pasien sebagaimana tanggung jawab perawat (Shives,
L.R, 2012). Standar etik dalam keperawatan kesehatan jiwa mengacu dari standar keperawatan
secara umum (Shives, L.R, 2012) yaitu standar asuhan dan standar penampilan profesional.
Adapun standar asuhan keperawatan (Stuart & Laraia, 2005) ini meliputi:

1. Standar pertama yaitu pengkajian. Kegiatan yang dilakukan perawat kesehatan mental
psikiatri dalam pengkajian adalah mengumpulkan data kesehatan klien.

2. Standar kedua adalah diagnosis. Perawat kesehatan mental psikiatri menganalisa data
yang didapatkan dari pengkajian dan menentukan diagnosa berdasarkan pada analisa
yang.

3. Standar ketiga adalah identifikasi kriteria hasil. Perawat kesehatan mental psikiatri
melakukan identifikasi tujuan keperawatanyang akan dicapai oleh klien.

4. Standar keempat adalah perencanaan. Perawat kesehatan mental psikiatri


mengembangkan perencanaan asuhan yang mencakup intervensi untuk mencapai tujuan.
Pada tahap perencanaan dapat dikembangkan intervensi generalis dan intervensi spesialis
yang meliputi terapi individu, kelompok, keluarga dan komunitas.

5. Standar kelima implementasi. Kegiatan perawat kesehatan mental psikiatri adalah


mengimplementasikan intervensi yang teridentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan
yang telah dibuat berdasarkan standar keempat.

6. Standar lima a adalah konseling. Perawat kesehatan mental psikiatri menggunakan


intervensi konseling untuk membantu klien dalam memperbaiki atau mengembalikan
koping klien, meningkatkan kesehatan mental dan mencegah penyakit mental serta
ketidakmampuan.

7. Standar lima b adalah terapi millieu. Perawat Kesehatan mental psikiatri memberikan,
menyusun dan mempertahankan lingkungan terapeutik dalam berkolaborasi dengan klien
dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.

8. Standar lima c adalah self care activity. Perawat kesehatan mental psikiatri menyusun
intervensi bagi klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri baik mental
dan fisik

9. Standar lima d adalah intervensi psikobiologik. Perawat kesehatan mental psikiatri


menggunakan pengetahuan intervensi psikobiologik dan mengaplikasikan keahlian klinik
untuk memelihara kesehatan klien dan mencegah ketidakmampuan klien untuk masa
yang akan datang .

10. Standar lima e adalah pendidikan kesehatan. Perawat kesehatan mental psikiatri melalui
pendidikan kesehatan, membantu klien mencapai kepuasan, produktivitas dan pola hidup
sehat sehari-hari

11. Standar lima f adalah manajemen kasus. Perawat kesehatan mental psikiatri melakukan
manajemen kasus untuk koordinasi pelayanan kesehatan komperehensif dan asuhan
keperawatan yang berkelanjutan.

12. Standar lima g adalah promosi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan. Perawat
kesehatan mental psikiatri melakukan strategi dan intervensi untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan mental serta mencegah penyakit mental.

13. Standar lima h adalah psikoterapi . Perawat kesehatan mental psikiatri menggunakan
psikoterapi pada individu kelompok dan keluarga untuk membantu klien dalam
memperbaiki kesehatan mental, mencegah penyakit mental dan ketidakmampuan serta
perbaikan atau pengembalian status kesehatan dan kemampuan fungsional.

14. Standar lima i adalah peresepan agen farmakologik. Spesialis bersertifikasi menggunakan
peresepan agen farmakologik dalam lingkup aktivitas praktek keperawatan, untuk
penatalaksanaan gejala penyakit psikiatrik dan memperbaki status kesehatan fungsional.
15. Standar lima j adalah konsultasi. Spesialis bersertifikasi memberikan konsultasi kepada
pemberi pelayanan kesehatan dan orang lain dalam lingkup perencanaan asuhan klien dan
untuk meningkatkan kemampuan klien bagi pemberian pelayanan psikiatrik dan asuhan
kesehatan mental dan efek perubahan dalam sistem. Standar lima h sampai j ini
dilakukan hanya oleh keperawatan kesehatan mental psikiatri spesialis bersertifikat

16. Standar lima k adalah evaluasi. Perawat Kesehatan mental psikiatri mengevaluasi
perkembangan klien dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan .

Standar penampilan profesional terdiri atas delapan standar yaitu sebagai berikut:

1. Standar pertama adalah kualitas asuhan. Perawat kesehatan mental psikiatri secara
sistematik mengevalusi kualitas asuhan dan kefektifan praktek keperawatan kesehatan
mental psikiatri.

2. Standar dua adalah penilaian penampilan. Perawat kesehatan mental psikiatri


mengevaluasi diri atau praktek keperawatan kesehatan mental psikiatrik yang dimiliki
dalam hubungan dengan standar praktek profesional dan status yang relevan

3. Standar tiga adalah pendidikan. Perawat kesehatan mental psikiatri dapat


mempertahankan pengetahuan mutakhir dalam praktek keperawatan.

4. Standar kempat adalah colegiality. Perawat kesehatan mental psikiatri berkontribusi pada
pengembangan kelompok profesional kolega dan profesi lainnya.

5. Standar lima adalah etik. Keputusan perawat kesehatan mental psikiatri dan tindakannya
pada klien ditentukan berdasarkan pada kode etik keperawatan.

6. Standar enam adalah Kolaborasi. Perawat kesehatan mental psikiatri berkolaborasi


dengan klien, orang terpenting bagi klien dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain
dalam pemberian asuhan.

7. Standar tujuh adalah riset. Perawat kesehatan mental psikiatri berkontribusi pada
keperawatan dan kesehatan mental melalui penggunaan riset.

8. Standar delapan adalah pemanfaatan sumber-sumber. Perawat kesehatan mental psikiatri


mempertimbangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan keamanan keefektifen dan
pembiayaan dalam perencanaan dan pemberian asuhan kepada klien.

2.2 Tinjauan Standar Etik dan Legal dalam Keperawatan Mental Psikiatri

Etik adalah cabang filosofi yang berkaitan dengan nilai nilai berdasarkan suatu standar moral
dari kelompok atau profesi (Shives, 2012). Menurut Aiken (2004) Etik adalah seluruh
pernyataan tentang benar atau salah dan apa yang seharusnya dilakukan. Menurut Mandle,
Boyle, dan ODonohoe (1994), dikutip dari Kozier etik mengatur bagaimana seseorang harus
bertindak dan bagaimana mereka melakukan hubungan dengan orang lain. Dari definisi diatas
dapat disimpulkan bahwa etik berhubungan dengan bagaimana seseorang bertingkah laku dan
bertindak yang seharusnya dengan menghormati diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Etik merupakan suatu standar perilaku atau nilai yang diyakini baik secara individual ataupun
kelompok. Hal ini lebih menggambarkan apa yang dikehendaki daripada mengenai apa tujuan
yang disampaikan oleh individu. Standar ini perlu dipelajari melalui sosialisasi, pertumbuhan,
dan pengalaman. Standar etik, petunjuk-petunjuk, dan prinsip-prinsip yang tidak legal dapat
dilaksanakan kecuali akan berkaitan dengan hukum yang berlaku (Reid, 2002 dalam Stuart &
Laraia, 2005).

Etik dapat mengendalikan atau mengatur individu dan keluarga, kelompok dan masyarakat
dalam bertindak. Etik berkembang dari nilai-nilai yang mendasarinya. Berikut ini akan
dikemukakan nilai-nilai yang melandasi etika keperawatan yang mengacu pada Canadian Nurses
Association 1997 yang dapat digunakan untuk melandasi terapi keluarga yang diberikan secara
universal ( Yani, dkk 2002 ):

1. Health and well being

Perawat menghargai nilai sehat, sejahtera dan memberikan bantuan terhadap keluarga dalam
rangka mencapai derajat sehat yang optimal dalam kondisi sehat, sakit atau proses kematian
secara wajar.

2. Choise

Perawat menghormati dan mendorong agar keluarga memiliki otonomi serta membantu mereka
untuk mengekspresikan kebutuhan kesehatannya maupun nilai-nilai sehat serta memperoleh
informasi dari pelayanan kesehatan.

3. Dignity

Perawat menghargai dan melakukan advokasi terhadap kemulian atau martabat keluarga

4. Confidentiality

Perawat melindungi kepercayaan klien mengenai informasi yang diperolehnya dalam hubungan
profesional untuk tidak dibahas diluar tim kesehatan, kecuali jika seizin keluarga.

5. Fairness

Perawat menerapkan prinsip keadilan dan keterbukaan dalam rangka membantu klien menerima
pengobatan dan pelayanan kesehatan secara objektif dan proposional sesuai kebutuhan dasar
klien.

6. Accountability
Perawat bertindak sedemikian rupa konsisten dengan tanggung jawab profesinya serta standar
praktek keperawatan

7. Practice environments conducive to safe, competent and ethical care.

Perawat melakukan advokasi terhadap lingkungan prakteknya yang dapat menciptakan suatu
sistem yang terorganisasi dengan baik dan memberi dukungan secara manusiawi serta
menetapkan alokasi sumber dana dan daya yang diperlukan dalam rangka pemberian pelayanan
keperawatan yang aman, kompeten dan etis

Selain nilai-nilai yang melandasi etik, berbagai prinsip yang melandasi etik perlu diketahui oleh
perawat mental psikiatri yakni :

1. Otonomi

Otonomi adalah kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi klien. Klien yang memiliki
otonomi akan menghargai orang lain tanpa adanya keterikatan atau mengharapkan keuntungan
dari orang lain.

2. Benefisence

Merupakan wujud perbuatan baik atau menguntungkankan orang lain

3. Nonmalefisience

Adalah prinsip melakukan tindakan tanpa bahaya, tidak menambah penderitaan, tidak
membunuh dan tidak mengurangi kebebasan orang lain.

4. Veracity

Perawat dituntut bicara jujur untuk menyampaikan hal yang sebenarnya dan terkait dengan
konsep bahwa seseorang harus mengatakan secara meneyeluruh secara benar

5. Justice

Memperlakukan orang lain secara adil tanpa membedakan status sosial, ras, agama dan
sebagainya.

6. Fidelity

Mempertahankan komitmen atau janji.

Perawat psikiatri mempunyai hak dan tanggung jawab membantu tiga peran legal yaitu: perawat
sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat sebagai pegawai, dan perawat sebagai warga
negara. Perawat mungkin akan mengalami konflik antara ketiga hak dan tanggung jawabnya.
Penilaian keperawatan profesional memerlukan pemeriksaan yang teliti dalam konteks asuhan
keperawatan, konsekuensi yang mungkin terjadi akibat tindakan seseorang, dan alternatif
tindakan yang mungkin dilakukannya (Stuart & Sundeen, 1995).

Keterampilan utama yang harus dimiliki oleh perawat psikiatri dalam praktiknya menurut
Robert (2002) dalam Stuart & Laraia ( 2005), yaitu:

1. Mampu untuk mengenali pertimbangan etik dalam praktik psikiatri, meliputi bekerja
dengan pengetahuan mengenai konsep etik sebagai dasar aplikasi dalam memberikan
pelayanan pada penyakit mental

2. Mampu menyadari mengenai nilai-nilai diri sendiri, kekuatan, dan penyimpangan-


penyimpangan sebagaimana aplikasi dalam merawat pasien, meliputi kemampuan untuk
mengenal rasa ketidaknyamanan dirinya sendiri sebagai satu indikator dari potensial
masalah etik.

3. Mampu untuk mengidentifikasi keterbatasan keterampilan dan kompetensi klinik yang


dimilikinya

4. Mampu untuk mengantisipasi secara spesifik adanya dilema etik dalam perawatan

5. Mampu untuk mengkaji sumber-sumber etik di klinik, untuk memperoleh konsultasi etik,
dan untuk mengkaji supervisi berkelanjutan untuk kasus sulit

6. Mampu untuk mengenal perlindungan tambahan dalam perawatan klinik pasien dan
memonitor keefektifannya.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Stuart & Laraia (2005) bahwa langkah-langkah dalam penyelesaian
dilema etik dan pengambilan keputusan etik, dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Langkah pertama dapatkan informasi yang menjadi latar belakang terjadinya masalah
untuk memperoleh kejelasan gambaran masalah

2. Langkah selanjutnya adalah identifikasi komponen dari etik atau asal dari dilema, seperti
kebebasan berlawanan dengan paksaan atau tindakan perawatan berlawanan dengan
penerimaan hak untuk menolak tindakan

3. Langkah ketiga adalah klarifikasi mengenai hak dan tanggung jawab terkait dengan
semua agen etik atau yang meliputi pengambilan keputusan

4. Semua pilihan yang mungkin harus diekplorasi dengan kejelasan mengenai tanggung
jawabnya pada setiap orang, dengan tujuan dan kemungkinan yang timbul dari setiap
pilihan yang ada
5. Perawat kemudian terlibat dalam aplikasi prinsip, dengan berdasar dari falsafah
keperawatan, pengetahuan keilmuan, dan teori etik. Ada empat pendekatan yang dapat
dilakukan, yaitu:

1. Utilitarianism, yang berfokus pada konsep tindakan

2. Egoism merupakan posisi yang mana individu mencari solusi yang terbaik secara
personal

3. Formalism, pertimbangan dari asal tindakan itu sendiri dan prinsip yang ada

4. Fairness merupakan dasar dari konsep keadilan, dan manfaat terkait dengan
keuntungan sesuai dengan norma yang menjadi dasar masyarakat dalam
pengambilan keputusan

6. Langkah terakhir, yaitu resolusi dalam tindakan. Berhubungan dengan konteks harapan
sosial dan kebutuhan legal, keputusan perawat dengan tujuan dan metode yang
diimplementasikan.

Sedangkan aspek legal untuk kesehatan mental psikiatri menurut Townsend (2005), meliputi:
confidentiality and right to privacy (kerahasiaan dan hak atas privacy), informed consent,
restrain and seclusion. Menurut Hamid (2005) prinsip etik dalam kesehatan jiwa terkait dengan
hak klien, adalah:

1. self determination; menolak tritmen, mencari saran/pendapat, memilih bentuk tritmen


lain

2. Informed concent

3. Least restrictive environment/pengekangan seminimal mungkin

4. Tidak bersalah karena gangguan jiwa

5. Hukum dan sistem perlindungan klien gangguan jiwa

6. Keputusan berorientasi pada peningkatan kualitas kehidupan klien

Menurut hukum, semua orang mempunyai hak untuk memutuskan mau menerima atau menolak
terhadap tindakan (Guido, 1997 dalam Townsend, 2005). Sebagai seorang pemberi pelayanan
keperawatan dapat dibebani dengan adanga sergapan dan serangan untuk menyediakan tindakan
yang menopang kehidupan bagi klien yang tidak menyetujui dengan tindakan tersebut. Doktrin
secara rasional tersebut dikatakan sebagai informed concent yang merupakan suatu pemeliharaan
dan perlindungan dari otonomi individual dalam penentuan apa yang harus dan apa yang tidak
harus terjadi terhadap tubuh seseorang (Guido, 1997 dalam Townsend, 2005).
Menurut Townsend (2005), peranan perawat dalam penerapan informed concent adalah biasanya
digambarkan sebagai agen pengambil kebijakan. Seorang perawat menandatangani format
persetujuan sebagai saksi bagi tandatangan klien. Perawat bertindak sebagai advocat bagi klien
untuk memastikan bahwa ada tiga elemen utama yang harus ada dalam informed concent, yaitu:

1. Pengetahuan bahwa klien memiliki penerimaan informasi yang adekuat dengan dasar
keputusan dari klien sendiri

2. Kompetensi bahwa kognitif klien tidaklah terganggu secara menyeluruh yang


bertentangan dengan pengambilan keputusan atau jika demikian, bahwa individu
memiliki hak secara legal

3. Kemauan bebas bahwa individu diberikan persetujuan secara sukarela tanpa adanya
tekanan atau paksaan dari orang lain.

Banyak sekali negara yang memiliki perlindungan terhadap kerahasiaan untuk perekaman dan
komunikasi klien. Hanya individu yang mempunyai hak untuk mengobservasi klien atau
mempunyai akses untuk informasi medis yang meliputi perawatan medis klien. Terkait dengan
informasi medis mungkin dihubungkan tanpa persetujuan pada situasi yang mengancam
kehidupan. Jika informasi terkait dengan kondisi emergensi, informasi harus direkam dalam
catatan klien: tanggal penyingkapan, seseorang yang diberi informasi mengenai penyingkapan,
alasan penyingkapan, alasan menulis persetujuan yang tidak diperkenankan, dan informasi
penyingkapan secara spesifik.

Banyak negara yang menyinggung mengenai keistimewaan komunikasi. Walaupun kode yang
dibuat berbeda dari negara ke negara, lebih banyak menjamin kepastian profesional secara
istimewa selain mereka menolak untuk mengungkapkan informasi, dan komunikasi dengan
klien. Di beberapa negara bagian, doktrin mengenai keistimewaan komunikasi diterapkan untuk
psikiater dan pengacara: psikolog, alim ulama, dan juga meliputi perawat. Perawat yang bekerja
di area psikiatri harus melindungi privacy klien mereka dengan sebaik-baiknya.

Pada seting psikiatri klinik, pemahaman mengenai hukum dan hak untuk pasien dengan pasien
gangguan mental, ditambah dengan kualitas perawatan yang terbaik untuk menurunkan resiko
malpraktik dalam proses pengadilan. Issue legal dapat terjadi dalam berbagai seting praktik
meliputi situasi seperti penganiayaan anak, pelanggaran terhadap kerahasiaan, kegagalan dalam
melakukan informed concent, kekerasan dalam keluarga, mental retardasi, ketergantungan obat
pada prenatal, perkosaan, serangan seksual, penyiksaan pada pasangan, dan bunuh diri.

Berdasarkan fungsi kode etik yang sangat penting tersebut Persatuan Perawat Nasional Indonesia
(PPNI) menyusun kode etik keperawatan di Indonesia. Kode etik keperawatan di Indonesia
terdiri atas 5 (lima) pokok etik yaitu

1. Perawat dan klien.

1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan


martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama
yang dianut serta kedudukan sosial.

2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara


suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan
kelangsungan hidup beragama dari klien.

3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan


asuhan keperawatan.

4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan


tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

2. Perawat dan praktek

1. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang keperawatan melalui


belajar terus menerus.

2. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai


kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.

3. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan
mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan
konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain.

4. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan


selalu menunjukkan perilaku profesional.

3. Perawat dan masyarakat

Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung
berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.

4. Perawat dan teman sejawat.

5. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan
tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja
maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

6. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal.

5. Perawat dan profesi.


6. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan
keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan
keperawatan.

7. Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan.

8. Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara
kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu
tinggi.

2.3Etik dan Legal Terapi Komunitas

Para agen pelayanan menyediakan pelayanan di komunitas meliputi: public health agencies,
traditional home care agencies, home hospice care, community mental health centres, day care
centres for the older adult, and ambulatory care dialysis centre (Ellis & Hartley, 1998). Pada
penjelasan selanjutnya difokuskan hanya pada community mental health centres, karena yang
akan dibahas lebih lanjut adalah mengenai terapi keluarga sebagai salah satu bentuk terapi
individual dan atau merupakan bagian dari terapi komunitas. Menurut Ellis & Hartley (1998)
pusat kesehatan mental masyarakat ditujukan untuk memberikan pelayanan secara individual
dengan masalah psikiatri agar dapat kembali pada komunitas mereka.

Keuntungan lain dari adanya pusat kesehatan mental di komunitas adalah bahwa seseorang yang
mencari bantuan lebih siap saat hal ini diperlukan di komunitas. Biasanya pekerja di pusat
kesehatan mental komunitas ini terdiri dari berbagai tim, yaitu terdiri dari psikiater, psikolog
klinis, pekerja sosial, konselor perkawinan dan keluarga, perawat psikiatri, dan pekerja
komunitas. Pelayanan yang diberikan meliputi konseling dan terapi individual, konseling
kelompok atau keluarga, evaluasi dan rujukan.

Berikutadalah tahapan yang harus diperhatikan dalam membuat keputusan legal etis dalam
memberikan terapi pada kelompok masyarakat (komunitas) dalam keperawatan jiwa:

1. Assesment: mengumpulkan data subyektif dan obyektif tentang situasi.


mempertimbangkan nilai-nilai pribadi serta nilai-nilai lain yang terlibat dalam
masyarakat.

2. Identifikasimasalah:mengidentifikasikonflik antaradua atau lebih serta identifikasi


alternatif tindakan.

3. Rencana: mengeksplorasi manfaatdan konsekuensi darisetiap terapi yang diberikan.


mempertimbangkanprinsipteori etika kemudian memilihalternatif terapi.

4. Implementasi: bertindak atas keputusan yang dibuat dan berkomunikasi tentang


pengambilan keputusan yang dibuat bersama-sama anggota kelompok.
5. Evaluasi: mengevaluasi hasil dari terapi yang diberikan.

Selain tahapan diatas, terdapat prinsip-prinsip dasar dalam sebuah terapeutik komunitas agar
sesuai dengan legal etik yaitu sebagai berikut:

1. Terpenuhinya kebutuhanfisiologis dasar manusia: individu dalam sebuah kelompok harus


berfungsi secara maksimal. Fungsi dalam akan menjadi maksimal jika
kebutuhanfisiologis dasaruntuk makanan, air, tidurudaraterpenuhi.

2. Fasilitasfisikyang kondusif bagipencapaian tujuanterapi: ruang yangdisediakan harus


memadai sehinggasetiap klien memilikiprivasiyang cukup, sertaruang fisikuntuk
interaksidenganterapilainnya. semuanyadisusununtuk menyajikansuasana nyaman dalam
ruangyang mengakomodasikebutuhan komunikasi.

3. Memberikan kebebasan kepada anggota untuk berpartisipasi dalam mengambil


keputusan:dalam therapeutic community, klien berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan dan pemecahan masalah yang mempengaruhi jalannya terapi. Seperti halnya
pengaturan jadwal pertemuan dengan anggota kelompok. Pertemuan ini dihadiri oleh
perawat dan klien, dan semua individu memiliki hak yang sama dalam diskusi. Pada
pertemuan ini, norma-norma atau aturan dan batasan perilaku ditetapkan bersama-sama.
Hal ini bertujuan untuk memperkuatnilai kebersamaan, karena ini hal ini akan
memberikan dampak bahwa semua klien sama.

4. Tanggung jawab yang ditugaskan sesuai dengan kemampuan klien: meningkatkan harga
diri adalah tujuan akhir dari therapeutic community. Oleh karena itu, klien diharapkan
tidak gagal dalam bertanggung jawab sesuai tingkat kemampuan. Dengan menetapkan
rasa tanggung jawab pada klien, harga dirinya akan bertambah. Perawat juga dapat
meberikan perlindungan harga diri dan memberikan progresi ke derajat yang lebih tinggi
dari tanggung jawab sebelumnya agar klien kembali berfungsi dengan baik di
masyarakat.

5. Kegiatan sesuai dengan program yang terstruktur dan sesuai jadwal karena bagian dari
program pengobatan: setiap program terapi klien terdiri dari kegiatan kelompok di mana
interaksi interpersonal dan komunikasi dengan orang lain ditekankan. Waktu juga
dikhususkan untuk masalah-masalah pribadi. Berbagai kegiatan kelompok dapat dipilih
oleh klien dengan kebutuhan khusus. Misalnya klien yang mengekspresikan
kemarahannya dengan tidak tepat, manajemen agresif atau bagi individu yang mengalami
kecemasan. Jadwal kegiatan terstruktur adalah fokus utama dari therapeutic community.
Melalui kegiatan ini, perubahan kepribadian dan perilaku klien dapat dicapai. strategi
koping baru dan keterampilan sosial adalah hal yang telah ia pelajari untuk
mempersiapkan klien untuk kembali berfungsi di masyarakat.

Masyarakat dan keluarga yang termasuk dalam program terapi dalam upaya untuk memfasilitasi
program terapi: dilakukan dengan cara memasukkan anggota keluarga, serta aspek-aspek tertentu
dari masyarakat yang mempengaruhi klien, dalam program terapi. Penting juga untuk
menyimpan sebanyak mungkin hubungan kedalam kehidupan klien di luar terapi (Towsend,
2009).

Sebagai salah satu contoh menurut Staunton & Whyburn ((2000) dikatakan bahwa di New South
Wales dalam rangka memberikan fasilitasi pada pendekatan profesi, maka tindakan rujukan
dilakukan sebagai bentuk konseling di komunitas dan perawatan komunitas. Tindakan yang
diberikan pada area komunitas memiliki ketentuan hukum yang memaksa seseorang untuk
melakukan kunjungan rumah sebagai suatu agen pelayanan kesehatan atau dilakukan di rumah
dalam waktu-waktu tertentu setiap hari atau setiap minggu untuk menerima pengobatan, terapi
atau rehabilitasi serta pelayanan pendukung lainnya.

Menurut Ellis & Hartley (1998) praktisi perawat terlibat dalam memberikan pelayanan
keperawatan primer. Perawat bekerja sesuai spesialisasi perannya sebagai perawat primer dan
perawat praktisi. Dalam hal ini, perawat perlu memiliki dasar pendidikan tambahan sebagai dasar
untuk lisensi (biasanya pada level master) dan mempunyai suatu sertifikat pada spesialis tertentu.
Perawat praktisi dapat bekerja di kantor atau di klinik, atau fungsi mereka secara mandiri sebagai
perawat klinik. Bahkan ada beberapa negara bagian yang memberikan wewenang bagi perawat
praktisi untuk menulis resep obat. Namun hal ini masih menjadi suatu perdebatan hangat bagi
beberapa negara lainnya yang tidak menyetujui pilihan tersebut.

Kode etik keperawatan Indonesia mengatur hubungan perawat dan klien serta profesi dengan
memperhatikan otonomi klien sebagai orang yang menerima tanggung jawab dan tanggung
gugat asuhan keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat. Dalam pelaksanaan praktek
terapi komunitas seorang perawat harus mempunyai kemampuan etik. Kemampuan etik yang
penting dalam praktek psikiatrik terutama pemberian terapi komunitas adalah: 1) Kemampuan
untuk mengenali pertimbangan etik dalam praktek psikiatri, termasuk pengetahuan cara kerja
konsep etik yang disediakan untuk perawatan kesehatan mental 2) Kemampuan untuk menyadari
nilai-nilai pribadi, kekuatan dan penyimpangan yang ada pada saat menghadapi pasien, termasuk
kemampuan merasakan ketidaknyamanan diri sendiri sebagai suatu indikator potensial terjadinya
masalah etik 3).kemampuan untuk mengidentifikasi batas kompetensi dan kemampuan klinik 4)
Kemampuan untuk mengantisipasi dilema etik yang khusus dalam pengobatan 5) Kemampuan
untuk mengakses sumber-sumber etik klinik, untuk mendapatkan konsultasi etik, dan untuk
mengakses supervisi yang berkelanjutan dari kasus yang sulit 6) Kemampuan untuk
mengenalkan surat pengantar tambahan ke klinik perawatan klien dan memonitor
keefektifannya.

Keputusan Menteri Kesehatan Indonesia nomor 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktek
keperawatan dapat digunakan sebagai aspek legal dalam pelaksanaan wewenang keperawatan.
Dengan adanya aturan tentang registrasi dan praktek keperawatan diIndonesia diharapkan dapat
melindungi hak-hak klien dan keluarga yang mendapatkan terapi keluarga. Hal ini juga sesuai
dengan undang-undang perlindungan konsumen nomor 8 tahun 1999 yang menjelaskan hak-hak
klien atau keluarga sebagai penerima asuhan keperawatan khususnya terapi keluarga. Dengan
berpedoman pada aturan perundang-undangan dan standar keperawatan serta etik, diharapkan
pelaksanaan terapi komunitas mampu memfasilitasi klien dan komunitas mencapai tingkat
kesehatan jiwa secara optimal. Dengan demikian terapi komunitas yang diberikan dapat dilandasi
oleh aspek etik dan legal yang menghormati hak-hak individu dan keluarga sebagai penerima
asuhan kperawatan dalam ikut berpartisipasi dan menentukan asuhan keperawatan yang
komprehensif. Aspek etik dan legal ini digunakan dengan memperhatikan dan menghormati hak-
hak dan kewajiban individu/ klien sebagai bagian dari sistem baik keluarga, kelompok maupun
komunitas dalam menjawab permasalahan dan dilema etik yang muncul dalam terapi komunitas.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Aspek etik dan legal ini digunakan dengan memperhatikan dan menghormati hak-hak dan
kewajiban individu/ klien sebagai bagian dari sistem baik keluarga, kelompok maupun
komunitas dalam menjawab permasalahan dan dilema etik yang muncul dalam terapi
komunitas.

2. Dalam upaya penanganan masalah kesehatan jiwa salah satu terapi spesialis yang dapat
diberikan pada klien dengan gangguan jiwa adalah berupa terapi kelompok/ therapeutic
community.

3.2 Saran

Dengan berpedoman pada aturan perundang-undangan dan standar keperawatan serta etik,
diharapkan pelaksanaan terapi komunitas mampu memfasilitasi klien dan komunitas mencapai
tingkat kesehatan jiwa secara optimal. Dengan demikian terapi komunitas yang diberikan dapat
dilandasi oleh aspek etik dan legal yang menghormati hak-hak individu dan keluarga sebagai
penerima asuhan kperawatan dalam ikut berpartisipasi dan menentukan asuhan keperawatan
yang komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Boyd, M.A. (1998). Psychiatric nursing: contemporary practice. Philadelphia: Lippincott

Ellis, J.R. (1998). Nursing in todays world: challenges, issues, and trend. (6th ed). Philadelphia:
Lippincott

Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2000). Kode etik keperawatan, lambang,
panji PPNI, dan ikrar keperawatan. Jakarta

Shives, L.R. (1998). Basic concept psychiatric mental health nursing. (4th ed). Philadelphia:
Lippincolt.
(2012). Basic concept psychiatric mental health nursing. (8th ed). Philadelphia:
Lippincolt.

Staunton, P. & Whyburn, B. (2000). Nursing and the law. (4th ed). Philadelphia: Harcourt

Stuart, G.W. (2012). Principles and practice of psychiatric nursing. (7th edition). St.Louis :
Mosby

Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2001). Principles and practice of psychiatric nursing. (7th edition).
St.Louis : Mosby

Stuart, G.W. & Sundeen, S.J. (1995). Buku saku keperawatan jiwa: pocket guide to psychiatric
nursing. alih bahasa: Achir Yani S.Hamid.(ed.3). Jakarta: EGC

Townsend, M.C. (2005). Essentials of psychiatric mental health nursing. (3rd ed.) Philadelphia:
F.A.Davis Company

(2009). Essentials of psychiatric mental health nursing. (5rd ed.) Philadelphia:


F.A.Davis Company

http://fauzistks.blogspot.com/2011/08/teori-perilaku-dan-kognitif.html

TEORI PERILAKU DAN KOGNITIF

BAB I

PENDAHULUAN

A. Ruang Lingkup

Dalam pembahasan teori perilaku dan kognitif ini terdiri dari dua teori
yang saling berkaitan, yaitu: Terapi model perilaku, berasal dari teori
pembelajaran psikologis dan terapi model kognitif, berasal dari teori psikologi
tentang persepsi dan proses informasi. Teori ini bersifat psikologis sehingga tidak
bisa diterapkan pada suatu kelompok ataupun masyarakat. Poin-poin penting
dalam bahasan ini adalah sebagai berikut;
1. Fokus pekerjaan kognitif-behavioural yaitu menentukan dan menunjukkan
masalah perilaku manusia, khusunya yang berkaitan tentang pobia sosial.
Kegelisahan dan depresi.

2. Kedalaman asesmen dan pengawasan kemajuan sering digunakan sebagai


alat ukur dalam teori ini.

3. Keefektifan penelitian secara factual sangat dibutuhkan dan penting dalam


teori maupun prakteknya.

4. Teknik utama yaitu penentuan secara tepat dan menggunakan teknik-teknik


yang sudah ditentukan termasuk respondent conditioning, operant
conditioning, pembelajaran sosial, pelatihan ketrampilan dan membentuk
kognisi seseorang sesuai dengan system yang ada.

5. Teknik pembelajaran sosial seperti asertifitas dan latihan ketrampilan


merupakan bagian dari pekerjaan sosial kelompok dan digunakan dalam
praktek feminis.

6. Teknik-teknik khusus yang digunakan dalam seting klinis dimana pengawasan


dan ketrampilan juga diterapkan.

Untuk menerapkan teori-teori tersebut di atas dapat menggunakan


konsep-konsep sebagai berikut;

1. Perilaku, kognitif dan terapi kognitif-behavioural, mempunyai fokus pada


perilaku dan pikiran.

2. Teori pembelajaran sosial, mempunyai fokus pada proses pembelajaran


seseorang terhadap persepsi dan pengalaman sosialnya.

3. Perilaku yang digeneralisasi berasal dari kehidupan sehari-hari.

4. Extinction bagian perilaku yang tidak bisa diperbaiki.


5. Pelatihan asertivf membantu orang untuk lebih bisa meningkatkan rasa
kepercayaan diri.

6. Penguatan/dukungan adalah perilaku-peralaku yang sangat berguna.

7. Modeling adalah bagian dari pembelajaran sosial dimana seseorang


memahami dan mencontoh prilaku-perilaku yang baik dari model nilai yang
ada.

8. Memperbaiki perilaku yaitu dengan memberikan dukungan-dukungan pada


setiap perubahan kecil.

9. Reward/hadiah sebaiknya diberikan setelah adanya perubahan perilaku.

B. Kajian Teoritik

Kognitif atau pemikiran dan behavioral atau perilaku adalah dua teori
yang berkaitan dalam Teori psikologi. Pada awalnya, teori pembelajaran
merupakan teori yang muncul terlebih dahulu, dan berkembang kedalam
psikologi klinis yang digunakan untuk terapi perilaku. Sheldon (1995)
menyatakan bahwa teori pembelajaran sebagai pemisah antara perilaku dan
pikiran dari keseluruhan identitas psikologis seseorang. Psikodinamik dan
pandangan konvensional mengatakan bahwa perilaku berasal dari proses yang
terjadi dalam pikiran manusia. Hal tersebut mempunyai hubungan antara ide
filosofis yang ada dalam pikiran dan kemudian mendasari sisi kemanusiaan
seseorang, atau dengan kata lain adalah jiwa.

Teori pembelajaran sosial (Bandura, 1977) memperluas ide-ide


sebelumnya tentang dengan menyatakan bahwa kebanyakan pembelajaran
didapatkan oleh persepsi masyarakat dan pemikiran dari apa yang pernah
mereka lakukan (pengalaman). Mereka belajar dengan cara mengkopi contoh-
contoh yang ada disekitar mereka. Membantu dalam proses tersebut dapat
memperkaya cara-cara terapi.

Teori kognitif adalah bagian dari perkembangan teori perilaku dan terapi,
yang menjadi dasar bagi teori pembelajaran sosial. Teori kognitif menjelaskan
bahwa perilaku dipengaruhi oleh persepsi atau interpretasi di lingkungannya
selama proses belajar berlangsung. Munculnya perilaku yang abnormal
dilatarbelakangi oleh adanya misinterpretation dan misperception. Dengan
adanya terapi, maka pemahaman yang salah dapat di koreksi sehingga
memunculkan perilaku yang sesuai dengan lingkungannya.

Gambrill (1995) mengidentifikasi hal-hal utama dalam behavioural work


( pekerjaan perilaku):

1. Fokus terhadap perilaku-perilaku yang ada dalam klien atau sekitarnya. Jika
ada perilaku yang berubah, pindah kepada fokus yang lainnya.

2. Berdasarkan pada prinsip-prinsip perilaku dan teori pembelajaran.

3. Peksos membuat suatu analisis yang benar dan memberikan penjelasan-


penjelasan, yang didasarkan pada hasil pengamatan. Metode-metode
asesment, intervensi dan evaluasi ditetapkan secara benar.

4. Faktor-faktor perilaku yang dipengaruhi, diidentifikasi berdasarkan factor-


faktor perubahan sesuai denga situasi yang ada dan mencari hasil
perubahan tersebut.

5. Aset klien harus ditemukan dan digunakan.

6. Orang-orang yang berperan dalam lingkungan klien harus difungsikan.

7. Intervensi didasarkan pada efektivitas dan factual

8. Progesitas dimonitor secara objektif dan subjektif, membandingkan data


sebelum dilakukan intervensi dan sesudah intervensi dilakukan.

9. Peksos harus memperhatikan nilai yang dicapai oleh klien.

10. Perilaku yang berubah tersebut (klien) harus sesuai dengan situasi pada
umunya dan menjaganya.
Munculnya perilaku disebabkan adanya antecedens, yaitu suatu
keadaan yang terjadi sebelumnya, dan ketika seseorang mulai memberi respon
maka akan memunculkan suatu konsekuensi tertentu. Dalam gambar .1
ditunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dalam proses perubahan
perilaku. Gambril (1995) menjelaskan dasar dari pekerjaan perilaku adalah bisa
menghubungkan antara antecedence dengan perilaku yang dimunculkan.
Gambrill juga menjelaskan bahwa adanya hubungan antara beberapa
pendekatan. Fokus teori pembelajaran sosial yaitu bagaimana kita belajar dari
situasi sosial dengan cara proses belajar, yang kemudian memberikan dampak
yang baik. Metode kognitif-behaviuoral adalah prosedur terapi, yang mempunyai
fokus pada perubahan pikiran, perasaan dan perilaku. Radical behavioursm
menyatukan pikiran dan perasaan sebagai perilaku, dan perilaku tersebut
memunculkan suaut perilaku laiinya. Pikiran dan perasaan tersebut dapat diubah
seperti pada perilaku-perilaku tertentu yang dapat diubah pula. Neo-
behaviourism lebih berkonsentrasi pada masalah stress dan kegelisahan.

BAB II

PRAKTIK TEORI PERILAKU DAN KOGNITIF

A. Proses Praktek Teori

Beberapa masalah penting dalam teori pembelajaran dan perilaku dapat


dipahami secara baik dengan menggunakan pendekatan-pendekatan. Sheldon
(1998) mengidentifikasi beberapa hal penting dalam terapi perilaku:

1. Responden atau pengkondisian secara klasik / respondent or classical


conditioning ( stimulus-respon Jakson and King, 1982)

2. Operant Conditioning adalah praktek perilaku, yang menitikberatkan


pada perubahan perilaku yang bisa dipengaruhi, dan menimbulkan
konsekwensi.

3. Learned helplessness adalah menggali kemampuan dan


pengetahuanyang dimiliki.
4. Pembelajaran sosial dan modeling membantu banyak orang untuk
menghargai bahwa model tersebut tidak menimbulkan akibat yang
merugikan (Sheldon 1998:20).

5. Faktor-faktor kognitif, (Scott dan Dryden.1996) mengklasifikasi kan


terapi kognitif-perilaku kedalam empat kategoris:

a. Ketrampilan mengkopi (coping skills). Ketrampilan ini mempunyai dua


element yaitu bahasa verbal dengan dia sendiri (self-verbalization)

b. Memecahkan masalah (Problem solving). Yang mempunyai fokus


melihat kehidupan manusia sebagai sebuah proses memecahkan
isu-isu kehidupan

c. Cognitive restructuring atau membangun kembali pola-pola kognisi.


Kategori ini bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang harus dikuasai
termasuk terapi kognisi Beck (CT) dan terapi perilaku rasional emosi
(REBT/RET).

d. Structural cognitive therapy atau terapi kognisif structural. tiga


struktur kepercayaan yang ada dalam pikiran klien.

B. Penerapan Teori

Implikasi dari pandangan ini sugest bahwa pendekatan perilaku


mungkin tidak berfungsi dengan baik beberapa tujuan sosial yang lebih
luas dan isu-isu dalam pekerjaan sosial. Thomas (1968, 1971) di Amerika
Serikat dan Yehu (1967, 1972). Teori kognitif mendirikan sebuah posisi
dalam pekerjaan sosial terutama teori tahun 1980-an meskipun karya
Goldstein (1981, 1984), yang berusaha menggabungkan ide-ide lebih
manusiawi di dalamnya. Kemungkinan ini disarankan oleh keprihatinan
perilaku dasar ide-ide dengan sifat pikiran. Bersekutu dengan ide-ide
kognitif, ini memungkinkan penerimaan keakuratan klien memahami
dunia. Ada, oleh karena itu, tidak perlu melihat clien sebagai salah
persepsi dan menyerang mereka. Unsur ini menjadikan penerimaan terapi
kognitif dan behavioris dengan cara-cara yang tampak lebih alami
konvensi kerja sosial. Termasuk elemen humanistik, maka aspek curial
Goldstein pekerjaan dan kemudian menulis Werner (1986).

Teori-teori kognitif-perilaku yang utama model barat praktek, karena


mereka emprises perubahan psikologis individu, penilai dari tujuan sosial yang
lebih luas yang mungkin lebih relevan di negara-negara berkembang, dan
menggunakan negara. Kelompok teori ini adalah, misalnya, tidak dibahas dalam
Kuma's (1995) meninjau india sosial teori sosial minat timur berbasis bukti
praktek thyer dan clamed di kant's (2004) edited tes tentang praktik berbasis
bukti, yang meliputi bab dari Hong Kong dan selatan Afrika. Namun, bab ini
terutama tentang ovulasi proyek-proyek sosial dan pembangunan sosial,
daripada praktek perilaku-kognitif.

Prinsip-prinsip dasar dan metode kerja perilaku yang describedabove. Ini


diterapkan dalam situasi terapeutik (Sheldon). Sebuah jadwal terapi penguatan
perilaku dan kognitif sebagai berikut:

Penguatan terus-menerus setiap contoh perilaku yang dikehendaki akan


bekerja dengan cepat.

Membentuk berarti memperkuat langkah kecil menuju perilaku yang


dikehendaki.

Memudar berarti terus mengurangi jumlah atau jenis perilaku thedesired


penguatan setelah tercapai, sehingga perilaku dapat ditransfer ke
pengaturan baru.

Intermiten penguatan digunakan ketika perilaku tidak selalu diperkuat.

Rasio jadwal memperkuat penguatan berselang setelah serangkaian kejadian


beberapa perilaku yang diinginkan.
Interval jadwal memperkuat setelah periode satu set perilaku yang diinginkan.

Jadwal ratio atau interval mungkin tetap atau mungkin bervariasi


seputar sebuah periode tipikal atau jumlah perilaku. Jadwal variable paling
bertahan dari gangguan dan lebih praktikal sehingga penekanan yang sangat
konsisten tidak mungkin dilakukan.

C. Teknik perilaku berkelompok

Fischer dan Gochros (1975;115-119) dan Hutson dan Macdonal


(1986;165) membagi studi pendekatan perilaku yang dapat dipakai secara
efektif dalam pekerjaan kelompok contohnya suporter. Salah satu metode yang
berguna dalam pekerjaan kelompok adalah melalui latihan ketrampilan sosial.
Rose ( 1986 ) membahas pekerjaan kelompok dengan pendekatan kognitif
dengan memakai pembelajaran sosial tentang pengendalian diri dan pengopian
hasil pengamatan.

Burgess et.al. ( 1980 ), sebuah kelompok pelajar, menggambar-kan


tentang pemakaian latihan ketrampilan sosial terhadap kelompok pelanggar sex
di penjara dengan cara memberikan contoh yang baik melalui teknik teknik
yang diaplikasikan. tiga tehnik kombinasi tersebut adalah :

- Microteaching of small elements of skills in interactions with others ( Proses


Pengajaran mikro tentang elemen elemen dalam ketrampilan sosial untuk
berinteraksi dengan orang lain ) seperti dengan memakai suara, kontak mata
dan postur.

- Assertiveness training ( latihan ketegasan ) akan membantu para narapidana


untuk mengungkapkan ide idenya dan mencari ketertarikan tanpa menyakiti
orang lain.

- Role playing yaitu para narapidana bisa berkembang dan berperan dalam
kelompoknya. Contohnya pembagian kelompok sesuai dengan permasalahan
narapidana tersebut.

D. Politik teori kognisi-perilaku


Behavioris melancarkan serangan tajam pada model psikodinamik
pekerjaan sosial. Mereka kritikus yang sakit-hasil ditetapkan berdasarkan
asumsi tentang struktur psikologis dalam pikiran yang tidak dapat kita
memeriksa secara empiris. Argumen yang kuat bagi perilaku dan metode
kognitif, yang ditekan terus-menerus menggeliat tentang mereka, adalah
mereka diuji secara empiris keberhasilan dalam mencapai hasil. Metode-
metode perilaku kognitif terbatas atteinade digunakan dalam pengaturan
khusus sedikit pun kelompok-kelompok klien tertentu. Ada sering
digunakan untuk Scholl fobia, masalah masa kanak-kanak dan pengaturan
inpsikiatric, sary dalam kasus metode kognitif, dengan kegelisahan dan
depresi mil satu jatah untuk ini adalah bahwa psikologi klinis, dan sampai
sejauh leaser medis dan keperawatan lainnya dalam pengaturan tersebut,
dapat menawarkan pengawasan dan menyediakan lingkungan yang
simpatik dan berpusat pada pasien dan pengaturan untuk metode
terapeutik. Keuntungan seperti itu jarang tersedia dalam pekerjaan sosial
konvensional lembaga

Menggabungkan kognitif metode dalam sengketa. Beberapa


penulis (seperti Sheldon, 1995) memperlakukan ini sebagai dasar
pengembangan metode perilaku, seperti teori pembelajaran sosial telah.
Lain, seperti Scott (1989), memiliki lebih langsung memasukkan ide-ide
dari teori kognitif dalam pekerjaan sosial formulasi. dari penggabungan
teori kognitif dalam pekerjaan sosial formulasi. Hudson dan macDonnald
(1986) yang meragukan tentang penggabungan pendekatan kognitif
menjadi model terapi perilaku. Kebanyakan penulis kontemporer
menganggap mereka besar dan baru seperangkat teknik yang berbeda,
yang harus dikembangkan secara mandiri tingkat tertentu. Akan
menyebabkan mereka memperkenalkan kepedulian terhadap proses
mental internal, beberapa orang berpikir mereka merusak kredibilitas
ilmiah metode perilaku, walaupun dalam praktis untuk mencapai validasi
riset mereka sendiri (Scott dan Dryden, 1996). Fokus pada persepsi
pemikiran dan juga menghubungkan dengan berbagai teori-teori
pekerjaan sosial lainnya, yang memiliki dampak karena banyak praktek
kerja sosial masyarakat berurusan di reaksi persepsi dan pengalaman
sosial. Sebuah fokus pada perilaku ketat lonceng kurang baik dengan
tuntutan social yang dibuat pada pekerjaan sosial.

Kesulitan besar dengan perilaku-kognitif methodsis karakter teknis


mereka, dengan banyak istilah dan jargon prosedur resmi, tampaknya
bekerja dalam sistem. Untuk sebagian pekerja tampaknya ini non-
manusia. Namun demikian, pendekatan terhadap masalah-masalah yang
dapat dengan jelas dan dibenarkan. Ada juga keberatan atas dasar etis,
karena memanipulasi perilaku pekerja daripada itu berada di bawah
kendali klien. Hal ini bisa mengakibatkan teknik behavioris pekerja
memaksakan kehendak pada klien tidak bersedia, dalam mengejar sosial
atau kebijakan politik yang bisa, di ekstrem, akan digunakan untuk politik
otoriter.

Behaviourists berpendapat bahwa persetujuan masyarakat


diperlukan secara etis dan praktis yang diperlukan untuk sukses. Watson
(1980: 105-15) berpendapat bahwa ini bukan jawaban yang memadai
terhadap masalah etika. Behaviorisme inheren mengasumsikan bahwa
semua perilaku ini disebabkan. Jika orang memutuskan bahwa mereka
ingin perubahan yang mungkin dicapai dengan metode perilaku, maka
mereka bertindak menggunakan penalaran mereka sendiri dengan bebas,
dalam arti memutuskan tanpa kendala pada keputusan mereka.

Sheldon (1995: 232-4) berpendapat bahwa tidak ada metode


pekerjaan sosial, termasuk perilaku metode, begitu kuat sehingga mereka
dapat mengatasi hambatan, dan jenis pekerjaan lainnya juga melibatkan
kontrol dan pembatasan kebebasan. Namun, tampaknya ini protes yang
lemah ketika metode perilaku terutama mengklaim bahwa mereka sukses
di luar pekerjaan sosial lainnya atau teknik terapi. Selain itu, kita
seharusnya tidak menempatkan orang dalam posisi harus menolak, tetapi
harus melindungi mereka dari hal ini. Sheldon lebih jauh berpendapat
bahwa kita harus mengukur kerugian apapun model samping keuntungan,
dan ini akan berlaku dengan kelemahan teori-teori lain: bukti-bukti untuk
efektivitas metode kognitif-perilaku tidak ditemukan dalam model teoritis
lainnya.

Model perilaku kadang-kadang disalahgunakan. Perawatan


perumahan rumah, misalnya, telah menggunakan pahala dan hukuman
aspek metode perilaku dalam cara-cara opresif atau kasar. Satu contoh
adalah 'pin-down' skandal di rumah tinggal untuk anak-anak di Britania
(Levy dan Kahan, 1991). Di sini, ide-ide perilaku tertentu dibenarkan
mengunci anak-anak untuk hari waktu lama tanpa pakaian. Sheldon
(1995: 237-41) berpendapat bahwa dalam situasi semacam ini, beberapa
metode yang digunakan di mana orang-orang corcerned sudah
termotivasi untuk menindas klien. Setiap metode dapat disalahgunakan
untuk melakukannya.

Perilaku kerja sosial memiliki pengaruh yang cukup besar,


terutama di Amerika Serikat, tetapi belum berhasil mendapatkan
penggunaan luas, kecuali dalam pengaturan atau untuk speciaist
khususnya masalah-masalah yang relevan.

BAB III

KESIMPULAN

Kebanyakan penulis bihavioural penutup tanah yang sama. Sheldon's


(1995) terapi perilaku kognitif-digunakan di sini sebagai axample teks untuk
menunjukkan bagaimana perilaku kognitif diimplementasikan ide-ide dalam
pekerjaan sosial karena ia menawarkan laporan lengkap dari praktek perilaku,
tetapi juga mengambil beberapa rekening kontribusi kognitif, maju dari edisi
sebelumnya. Penulis baru-baru ini penting lainnya adalah Cigno (2002) dan
Cigno dan Bourn (1998) di Inggris dan Gambrill (1977, 1995) dan Thyer (1987,
1989) di Amerika Serikat. Banyak rekening atau praktek empiris yang
diinformasikan oleh teori-teori kognitif-perilaku.

Sebuah Assessment merupakan aspek krusial dari pekerjaan cognitive-


behavioural karena hal ini tergantung pada pemahaman detail dari
perilaku.Bentuk assessment yang tepat adalah:

Mendapatkan gambaran masalah dari titik pandang yang berbeda

Mendapatkan contoh siapa yang terkena dan bagaimana

Gali awal masalah, bagaimana mereka berubah dan apa yang


menyebabkannya

Kenali bagian yang berbeda dari masalah dan bagaimana mereka


terjadi bersamaan

Assess motivasi untuk berubah

Kenali pola dan perasaan yang datang sebelumnya, selama dan


sesudah masalah terjadi

Kenali kekuatan dalam dan seputar klien.

Pendekatan tingkah laku dengan menampilkan kelompok mayoritas


kedua dari teori Residential work. ( Hudson 1982 ; Ryan 1979 ). Pendekatan
umumnya melalui faktor ekonomi. Faktor ekonomi sangat berguna untuk latihan
pembedaan / penggolongan dalam perilaku. (Sheldon 1982, hal.156, Fischer
dan Gochros ,1975 hal 287). Dan ini akan membantu orang dalam menyeleksi
tingkah laku sesuai dengan keadaan sosial tertentu.

(Pizzat.1973) menerangkan tentang kelompok penguat (reinforce) yang


bervariasi sedangkan (Sheldon:1982) menerangkan bahwa faktor ekonomi
dapat ditunjukkan keberhasilannya melalui perubahan tingkah laku.
Pendekatan perilaku dapat diaplikasikan secara jelas dan luas dalam
bentuk perawatan/pemulihan yang seluruhnya didukung oleh suatu penelitian.
(Patterson 1986 ) In relation to conselling menyatakan bahwa modifikasi
perilaku yang konvensional perlu ditambahkan lagi. (Mc Auley:1980) membahas
tentang metode pengalaman perilaku yang biasa dilakukan dalam pekerjaan
sosial. (B. Hudson:1978 ) mengatakan bahwa ada langkah awal dari sebuah
kegiatan untuk membantu pasien yang terkena schizophrenic dalam
masyarakat dengan memakai teknik pendekatan perilaku.