Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING


Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Model-Model Pembelajaran
Dosen Pengampu: Dr. Christina Ismaniati M.Pd.

Disusun oleh:
Asrofi Abdul Muhaimin 15105241040
Farid Danang Abdur Rochim 15105241045
Muhammad Khanafi Jazuli 15105244010
Yuli Ernawati 15105241025

KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang
saling bertukar informasi.interaksi antara guru dan peserta didik dalam rangka
transfer of knowlodge dan bahkan juga transfer of values, akan senantiasa menuntut
komponen-komponen yang ada pada kegiatan proses belajar mengajar diutamakan
saling menyesuaikan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan belajar bagi peserta
didik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru dituntut kreatifitasnya dalam
menciptakan pembelajaran yang PAIKEM yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan. Yang mana hal itu dapat tercapai dengan
digunakannya model pembelajaran yang tepat.
Penggunaan model pembelajaran yang bervariasi dan tepat dapat
meminimalisir kebosanan peserta didik terhadap cara mengajar guru sehingga peserta
didik akan lebih mudah memahami materi pelajaran dalam proses pembelajarannya.
Salah satu model pembelajaran yang dapat memudahkan siswa untuk memahami
materi pelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran role playing yang
selebihnya akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian model pembelajaran ?
2. Apa itu model pembelajaran role playing ?
3. Apa saja langkah-langkah dalam model pembelajaran role playing ?
4. Bagaimana penerapan model pembelajaran role playing?
5. Apa manfaat serta kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran role
playing ?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui pengertian model pembelajaran.
2. Dapat mengetahui pengertian model pembelajaran role playing.
3. Dapat memahami langkah-langkah dalam model pembelajaran role playing.
4. Dapat memahami penerapan model pembelajaran role playing.
5. Dapat mengetahui manfaat serta kelebihan dan kekurangan model pembelajaran
role playing.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran
Secara khusus istilah model dalam (Winataputra, Udin S. 2001: 3) diartikan sebagai
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu
kegiatan. Dalam pengertian lain, model juga diartikan sebagai barang atau benda
tiruan dari benda yang sesungguhnya. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang
dimaksud dengan Model Pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan
aktivitas pembelajaran. Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar
merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.

B. Model Pembelajaran Role Playing


1. Pengertian
Bermain peran atau istilah inggrisnya role-playing adalah suatu metode
mengajar yang merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar oleh sekelompok
siswa dalam memperagakan secara singkat tentang materi pembelajaran dengan
memerankan tokoh.
Menurut Joyce dan Weil (2000) Bermain peran (role-playing) adalah strategi
pengajaran yang termasuk ke dalam kelompok model pembelajaran sosial (social
models). Strategi ini menekankan sifat sosial pembelajaran, dan memandang
bahwa perilaku kooperatif dapat merangsang siswa baik secara sosial maupun
intelektual.
Bermain peran (role-playing) merupakan model pengajaran yang berasal dari
dimensi pendidikan individu maupun sosial. Model ini membantu masing-masing
siswa untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial mereka dan membantu
memecahkan dilema pribadi dengan bantuan kelompok. Dalam dimensi
sosial,model ini memudahkan individu untuk bekerja sama dalam menganalisis
kodisi sosial, khususnyamasalah kemanuasiaan. Model ini juga menyokong
beberapa cara dalam proses pengembagan siskap sopan dan demokratis dalam
menghadapi masalah. Esensi darirole playing sendiri adalah keterlibatan
partisiipan da peneliti dalam situasi permasalahan dan adanya keinginan untuk
memunculkan resolusi damai serta memahami apa yang dihasilkan dari
keterlibatan langsung ini.

2. Konsep peran
Konsep peran adalah salah satu dari dasar-dasar teoritis utama dari model bermain
peran. Ini juga merupakan tujuan utama. Kita harus mengajarkan siswa untuk
menggunakan konsep ini, untuk mengenali peran yang berbeda dan berpikir
mereka sendiri dan perilaku orang lain dalam hal peran. Pada saat yang sama, ada
banyak aspek lain untuk model ini dan banyak tingkat analisis yang sampai batas
tertentu bersaing satu sama lain. Misalnya, isi masalah, solusi untuk masalah ini,
perasaan para pemain peran, dan akting itu sendiri semua melayani untuk
melibatkan siswa dalam bermain peran. Oleh karena itu, menjadi bagian penting
dari pengalaman bermain peran, konsep peran harus terjalin, namun juga disimpan
untuk seluruh kegiatan bermain peran. Hal ini juga membantu jika sebelum
menggunakan model siswa telah diajarkan konsep ini secara langsung.

3. Asumsi yang mendasari pembelajaran role playing


Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang
mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-
nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya.
Keempat asumsi sebagai berikut:
(1) Bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman
dengan menitik beratkan isi pelajaran pada situasi di sini pada saat ini.
Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk
menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan nyata. Analogi yang
diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan
respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
(2) Bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan
perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain.
(3) Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke
taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan
tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi
pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, para
peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara
memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk
mengembangkan dirinya secara optimal.
(4) Asumsi terakhir dalam model bermain peran bahwa proses psikologis yang
tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat
diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan
demikian, para peserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai
dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu
dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit
untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.

C. Langkah-langkah Model Pembelajaran Role Playing


Keuntungan dari role playing tergantung pada kualitas yang berlaku dan
khususnya pada analisis yang mengikutinya. Hal itu juga tergantung pada persepsi
siswa dari sebuah peran yang mirip dengan situasi kehidupan nyata. Anak-anak tidak
selalu terlibat secara efektif dalam bermain peran atau analisis peran pada saat
pertama kali mereka mencobanya.
Shaftels (dalam Joyce & Weil, 1996:94-100) menyebutkan bahwa aktivitas role-
playing terdiri dari sembilan langkah, yaitu :
1. Fase satu, pemanasan/memotivasi kelompok, mencakup memperkenalkan
masalah kepada siswa sehingga mereka dapat mengetahui materi yang mana
semuanya perlu belajar untuk menanganinya.
2. Fase dua, memilih pemeran/peserta, siswa dan guru mendeskripsikan berbagai
macam karakater. Kemudian siswa secara sukarela diminta untuk
memerankan, mungkin juga mereka diminta untuk memerankan peran
tertentu.
3. Fase tiga, menyiapkan tahap-tahap peran, para pemain menggambarkan garis
besar skenario. Gambaran sederhana setting (pengaturan) dan aksi pemeranan
salah satu pemeran. Guru dapat membantu tahap-tahap peran dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan peran tersebut. Hal itu penting agar siswa merasa aman
dalam memulai aksi pemeranan.
4. Fase empat, menyiapkan pengamat, hal ini penting bahwa pengamat terlibat
secara aktif sehingga seluruh kelompok terlibat dalam pemeranan dan
kemudian dapat menganalisis permainan.
5. Fase lima, memerankan, guru membirakan pemeran mengekspresikan ide
mereka sesuai dengan tujuan. Tindakan saat ini tergantung pada anak dan
muncul sesuai dengan apa yang terjadi dalam situasi. Inilah kenapa tahap
persiapan sangat penting.
6. Fase enam, diskusi dan evaluasi, jika masalah itu penting dan pemeran serta
pengamat terlibat secara intelektual dan emosional maka kemungkinan diskusi
akan berlangsung secara spontan. Saat pertama, diskusi focus pada perbedaan
interpretasi dari penggambaran dan pada ketidakasepakatan atas bagaimana
peran itu seharusnya dilakukan. Dan yang terpenting, bagamana sebuah
konsekuensi dari aksi dan motivasi dari si pemeran.
7. Fase tujuh, memerankan ulang, apabila terdapat gagasan mengenai alternative-
alternatif pemeranan, maka pemeranan ulang dilakukan.
8. Fase delapan, diskusi dan evaluasi, dilakukan sebagai tindak lanjut dari role
playing tersebut. Diskusi dan evaluasi dilakukan untuk membahas focus dari
pemeranan ulang.
9. Fase Sembilan, berbagi pengalaman dan generalisasi, guru hendaknya
membentuk diskusi sehingga siswa setelah mengalami role playing dapat
menggeneralisasi situasi masalah dan konsekuensinya. Bentuk diskusi yang
mencukupi akan sampai pada kesimpulan yang tepat.

D. Penerapan Role Playing


Model role playing sangatlah serba guna dan dapat diaplikasikan terhadap
beberapa tujuan Pendidikan yang penting. Melalui role playing, siswa dapat
meningkatkan kemampuannya untuk mengenali perasaan orang lain dan dirinya,
mereka memperoleh cara berperilaku baru untuk mengatasi situasi yang sulit, dan
mereka juga dapat meningkatkan keterampilannya dalam memecahkan suatu masalah.

E. Manfaat serta Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Role Playing


1. Manfaat
Bobby DePorter (Santoso: 2011) mengatakan manfaat yang dapat diambil dari
role playing adalah: 1) role playing dapat memberikan semacam hidden practice
yaitu murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang
telah dan sedang mereka pelajari; 2) role playing melibatkan jumlah murid yang
cukup banyak, cocok untuk kelas besar; 3) role playing dapat memberikan kepada
murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan
bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa.
Di sisi lain, Sadali dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ada empat asumsi
yang mendasari model mengajar ini yang kedudukannya sejajar dengan model-
model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah: 1), secara implisit
bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan
menekankan dimensi di sini dan kini (here and now) sebagai isi pengajaran. 2),
bermain peran memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk
mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa
bercermin kepada orang lain.3), model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-
ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses
kelompok. 4) model mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis
yang tersembunyi (covert) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan
sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan
secara spontan dan analisisnya.
2. Kelebihan model role playing
Menurut Syaiful Sagala, kelebihan metode bermain peran (role playing) antara
lain:
a. Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan
diperankan.
b. Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif.
c. Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan
muncul atau tumbuh bibit seni peran di sekolah.
d. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-
baiknya.
e. Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab
dengan sesamanya.
f. Bahasa lisan siswa dibina dengan baik agar mudah dipahami orang.
Kemudian menurut Adelia Vera, metode bermain peran memiliki kelebihan
diantaranya :
a. Peserta didik dapat menjabarkan pengertian (konsep) dalam bentuk praktik
dan contoh-contoh yang menyenangkan.
b. Peserta didik menanamkan semangat peserta didik dalam memecahkan
masalah ketika memerankan sekenario yang dibuat.
c. Peserta didik membangkitkan minat peserta didik terhadap materi pelajaran
yang diajarkan.
d. Permainan peran bisa pula memupuk dan mengembangkan suatu rasa
kebersamaan dan kerjasama antar peserta didik ketika memainkan sebuah peran.
e. Keterlibatan para peserta permainan peran bisa menciptakan baik
perlengkapan emosional maupun intelektual pada masalah yang dibahas.

3. Kekurangan model role playing


a. Metode bermain peranan memerlukan waktu yang relatif panjang/banyak.
b. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun
murid.
c. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk
memerlukan suatu adegan tertentu.
d. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan,
bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan
pengajaran tidak tercapai.
e. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
f. Sebagian besar anak yang tidak ikut drama mereka menjadi kurang aktif.
g. Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan penonton yang kadang-
kadang bertepuk tangan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Role playing adalah suatu metode mengajar yang merupakan tindakan yang dilakukan
secara sadar oleh sekelompok siswa dalam memperagakan secara singkat tentang materi
pembelajaran dengan memerankan tokoh. Prosedur role playing terdiri atas sembilan
langkah, yaitu (1) pemanasan, (2) memilih partisipan, (3) menata panggung, (4) menyiapkan
pengamat, (5) memerankan, (6) diskusi dan evaluasi, (7) memerankan ulang, (8) diskusi dan
evaluasi, dan (9) berbagi pengalaman dan generalisasi.
Melalui role playing, siswa dapat meningkatkan kemampuan mengenal perasaanya
sendiri dan perasaan orang lain. Mereka memperoleh cara berperilaku baru untuk mengatasi
masalah seperti dalam permainan perannya dan dapat meningkatkan keterampilan
memecahkan masalah.

Daftar Pustaka
Israwan, Fandi. 2017. Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing).
Joyce, Bruce R & Weil, Marsha. 1996. Models of Teaching. USA
Uno, Hamzah B. 2008. Model Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Winataputra, Udin S. 2001. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta