Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelaksanaan Otonomi daerah di Indonesia telah menganut sistem

desentralistik yang mana pemerintah pusat memberikan sebagian

kewenangan urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah untuk

melaksanakan urusan pemerintahan. Menurut Undang-Undang nomor 23

tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, urusan pemerintahan dapat

diklasifikasikan dalam urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan

konkuren, dan urusan pemerintahan umum. Urusan pemerintahan absolut

merupakan urusan pemerintah pusat, dan urusan konkuren adalah urusan

yang dibagi antara pemerintah pusat dan daerah provinsi dan daerah

kabupaten/kota. Sedangkan urusan pemerintahan umum dibagi atas

urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar,

urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar

dan urusan pemerintahan pilihan.

Menurut pasal 12 ayat 3 Undang-Undang nomor 23 tahun 2014

salah satu urusan pilihan adalah pertanian. Dengan demikian pemerintah

daerah memiliki kewenangan untuk melaksanakan urusan pertanian

dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan untuk mempercepat

pemenuhan kebutuhan pangan di daerah dan untuk mencapai

kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Dengan adanya kewenanganyang

diberikan kepada pemerintah daerah diharapkan dapat menyelesaikan

1
2

segala permasalahan yang berhubungan dengan pangan dan pertanian

dengan melaksanakan berbagai kebijakan pembangunan dan

pemberdayaan pertanian bagi para petani, sehingga dapat membawa

kesejahteraan bagi para petani di seluruh wilayah Indonesia.

Indonesia sebagai salah satu negara agraris terbesar di Asia

Tenggara, dikenal memiliki lahan pertanian yang amat luas. Pertanian

merupakan salah satu sektor unggulan perekonomian Indonesia serta

merupakan sumber pangan bagi seluruh rakyat. Menurut Kuncoro ( 2010 :

289) peran sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia adalah: (1)

pembentuk produk domestik bruto (PDB); (2) salah satu sumber penghasil

devisa;(3) penyedia pangan penduduk danbahan baku bagi industri; (4)

salah satu sektor yang dapat mengentaskan masalah kemiskinan; (5)

penyedia lapangan kerja; (6) salah satu sumber peningkatan pendapatan

masyarakat;(7)salah satu sumber pemantapan ketahanan pangan

nasional.

Pembangunan dibidang pertanian merupakan suatu hal yang tidak

dapat ditawar lagi terutama bagi negara negara yang sedang

berkembang seperti Indonesia, yang pada umumnya jumlah penduduknya

besar dan wilayahnya luas dan sumber daya alamnya belum diolah.

Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi

pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan industri

dalam negeri serta meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan

petani, memperluas kesempatan kerja, mendorong pemerataan

kesempatan berusaha.
3

Pembangunan di sektor pertanian telah dimulai sejak awal

kemerdekaan yang ditandai dengan plan Mengatur Ekonomi yang diketuai

oleh wakil presiden Mohammad Hatta, sampai program pembangunan

nasional ( Propenas ) pada era reformasi saat ini Subandi, (2008:146).

Pada masa orde baru berbagai instrumen kebijakan pertanian pangan pun

telah diterapkan seperti intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi pada

tahun 1980-an yang demikian rapi, terkoordinir tetapi tegas dan

berwibawa yang pada akhirnya mampu menghantarkan Indonesia

melaksanakan swsembada pangan pada tahun 1984.

Namun seiring berjalannya waktu, sektor pertanian yang menjadi

ujung tombak penyokong ketersediaan pangan mulai mengalami berbagai

masalah hingga memasuki masa reformasi sampai dengan saat ini

Indonesia masih memiliki ketergantungan beras pada negara lain.

Berbagai permasalahan pertanian yang melanda bangsa ini diantaranya

adalah kekurangan tenaga ahli dan tenaga terampil dibidang pertanian,

pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang masih rendah di bidang

pertanian menyempitnya lahan pertanian, menurunnya produksi beras,

serta rendahnya proktivitas beras pada level nasional, Hal ini diperparah

dengan kurangnya modal atau investasi untuk mengembangkan sektor

pertanian. Hal ini sangat memprihatinkan karena bangsa Indonesia

dikenal sebagai negara agraris dengan mayoritas penduduknya bermata

pencaharian sebagai petani.


4

Melihat berbagai persoalan yang melanda sektor pertanian, maka

sektor pertanian dipandang perlu untuk diberdayakan guna mencapai

ketahan pangan dan mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yaitu

memajukan kesejahteraan umum.

Salah satu upaya pemerintah untuk memberdayakan petani

adalah melalui instrumen hukum yaitu undang undang nomor 19 tahun

2013 yang mengatur tentang perlindungan dan pemberdayaan

petani.Menurut undang undang nomor 19 tahun 2013 tentang

perlindungan dan pemberdayaan petani dinyatakan bahwa pemberdayaan

petani adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan petani

untuk melaksanakan usaha tani dengan lebih baik melalui pendidikan dan

pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan

sarana pemasaran hasil pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan lahan

pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi

serta penguatan kelembagaan petani. Pemberdayaan petani merupakan

upaya untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian petani guna

memenuhi kebutuhannya serta mencapai kesejahteraan.

Demi mempercepat dan menyukseskan kegiatan pemberdayaan

petani dalam era otonomi daerah yang lebih desentralistik seperti

sekarang ini, setiap pemerintah daerah kabupaten/kota sebagai pelaksana

urasan pemerintahan pilahan di sektor pertanian, diharapkan dapat

menjalankan peranannya secara efektif guna mengatasi berbagai

permasalahan pangan di seluruh wilayah Indonesia.


5

Pemerintah daerah kabupaten Labuhanbatu merupakan salah

satu kabupaten di provinsi Sumatera Utara yang memilikilahan pertanian

yang sangat strategis karena iklim dan cuacanya yang sangat mendukung

untuk usaha pertanian dan perkebunan.Menurut data dari BPS tahun

2015kabupaten Labuhanbatu memiliki luas lahan pertanian sawah

sebesar 25. 891 ha, dan jumlah produksi padi pada tahun 2015 sebesar

130.732 ton Luas.Secara geografis kabupaten Labuhanbatu terletak pada

wilayah kabupaten labuhanbatu Utara dan Labuhanbatu Selatan, dan

memiliki luas wilayah 2.561.38 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun

2015 sebesar 887.345 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sebesar

346,35 km2. Kabupaten Labuhanbatu memiliki batas wilayah sebelah

timur denganprovinsi Riau, sebelah barat dengan kabupaten Labuhanbatu

Utara, sebelah utara dengan selat Malaka dan sebelah selatan dengan

kabupaten Labuhanbatu selatan dan kabupaten Padan Lawas (sumber

data BPS kabupaten Labuhanbatu tahun 2015) .

Kabupaten Labuhanbatu memiliki luas lahan sawah irigasi

sebesar 1.787 hektar yang terdiri dari 587 hektar luas sawah irigasi teknis,

semi teknis dan irigasi desa, sedangkan sisanya 1.200 hektar pompa.

Sedangkan luas sawah non Irigasi di kabupaten Labuhanbatu adalah

seluas 18.522 hektar (Data BPS tahun 2015).

Kabupaten Labuhanbatu memiliki kawasan pertanian persawahan

yang cukup luas dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan

pendapatan asli daerah dan pendapatan asli masyarakat karena pertanian

merupakan salah satu komoditas terbesar rakyat. Pertanian merupakan


6

mata pencaharian utama masyarakat yang memiliki peran sosial, budaya

dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat kabupaten Labuhanbatu.

Selama ini, sektor pertanian di kabupaten Labuhanbatu di hadapi

permasalahan diantaranya terbatasnya sarana dan prasarana pertanian

yang selama ini menjadi kendala para petani dalam bertani seperti belum

tersedianya Jalan Usaha Tani yang menyebabkan masyarakat sulit

mengangkut hasil panen dari sawah menuju ke lokasi perumahan warga.

Hal ini juga menyebabkan sulitnya transportasi menuju ke area

persawahan masyarakat karena kondisi medan dan jalan yang belum

mumpuni.

Selain itu, berdasarkan hasil observasi penulis di lokasi magang

bahwa jumlah irigasi yang ada belum mampu mengairi lahan pertanian

yang ada, sehingga sistem pengairan sawah sangat terganggu bahkan

tidak dapat dijangkau karena keterbatasan irigasi. Apabila pada saat

musim hujan berakhir maka sawah yang belum memiliki irigasi tidak bisa

mendapatkan suplai air. Hal ini juga menjadi penghambat dan kendala

serius yang dialami petani dikecamatan ini.Beberapa kekurangan sarana

pertanian yang dialami petani adalah keterbatasan benih padi, pupuk yang

serba terbaras, pestisida yang belum memadai dan kekurangan alat

pertanian seperti alat semprot padi, dan juga keterbasan mesin pertanian

seperti handtractor dan mesin perontok padi.

Ketersediaan benih padi, pupuk dan obat obatan merupakan

masalah yang sudah lama dialami para petani. Salah seorang petani

kepada penulis mengatakan bahwa persediaan sarana pertanian seperti


7

disebutkan diatas sangat terbatas dan tidak sebanding dengan kebutuhan

petani,sehingga kadangkala para petani harus mengeluarkan biaya

tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun ada juga petani

yang belum sanggub untuk membeli kebutuhan pertanian sehingga para

petani hanya menggunakan obat dan pestisida yang seadanya dan bukan

yang seharusnya digunakan.

Masalah lain yang dialami para petani adalah ketersediaan modal

yang amat terbatas. Selama ini para petani belum mendapatkan bantuan

modal berupa pinjaman modal, subsidi bunga kredit dan bantuan modal

lainnya dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Fakta yang

terjadi bahwa petani harus membeli berbagai kebutuhan pertanian dipasar

dengan biaya mahal, sehingga tidak semua petani dapat mencukupi

kebutuhannya. Akibatnya adalah terdapat lahan pertanian yang tidak

dimanfaatkan dikarenakan modal untuk bertani yang tidak tersedia dan

menimbulkan banyak petani yang menganggur.

Disamping beberapa permasalahan diatas salah seorang petani

padi kepada penulis mengatakan bahwa selama ini, belum ada kegiatan

sosialisasi pertanian berupa pelatihan dan lain sebagainya kepada petani

tentang cara bertani yang benar sehingga para petani sangat kekurangan

pengetahuan, informasi, dan keterampilan di bidang pertanian. Petani pun

belum memiliki akses untuk memperoleh ilmu pengetahuan, teknologi

tentang pertanian sehingga mengakibatkan keterbelakangandan

ketidakberdayaan petani di kecamatan ini.


8

Oleh karenanya berdasarkan berbagai permasalahan yang

dialami petani di kecamatan ini, diharapkan dapat menjadi pemicu

semangat dan motivasi pemerintah daerah kabupaten Labuhanbatu

melalui Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan kabupaten Labuhanbatu

untuk memberdayakan petani dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan

kemandirian Petani meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan

kehidupan yang lebih baik.

Dengan demikian berdasarkan latar belakang diatas, maka

penulis tertarik untuk mengambil judul tentang PEMBERDAYAAN

PETANI PADI OLEH DINAS PERTANIAN DAN TANAMAN PANGAN

KABUPATEN LABUHANBATU DI KECAMATAN RANTAU SELATAN .

1.2 Ruang Lingkup Fokus dan Lokasi Magang


1.2.1 Ruang Lingkup Magang

Dalam melakukan penelitian diperlukan adanya ruang

lingkup penelitian yang bertujuan untuk memberikan batasan pada

permasalahan yang akan diteliti. Dalam hal ini penulis memberikan

ruang lingkup penelitian pada Upaya Pemberdayaan Petani Padi

oleh Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten

Labuhanbatu di Kecamatan Rantau Selatan, Hal ini dilatar

belakangi oleh kondisi pertanian di kabupaten labuhanbatu yang

masih mengalami berbagai permasalahanya itu kurangnya modal

usaha yang dimiliki petani padi dan keterbatasan sarana dan

prasarana yang masih sangat terbatas. Selain itu, di kecamatan

rantau selatan belum terdapat jalan usaha tani sehingga


9

menyebabkan sulitnya transportasi dan angkutan hasil panen

petani, disamping itu petani juga belum mendapatkan sosialisasi

atau pelatihan tentang cara bertani yang benar sehingga, para

petani sangat kekurangan pengetahuan dan keterampilan di bidang

pertanian padi. Oleh karena itu, perlu adanya peran pemerintah

kabupaten labuhanbatu dalam memberdayakan petani padi melalui

dinas pertanian dan tanaman pangan kabupaten labuhanbatu.

1.2.2 Fokus Magang

Fokus Magang penulis ini adalah Pemberdayaan Petani Padi

oleh Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan kabupaten

Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara yang meliputi :

1. Apa faktor Penghambat Pemberdayaan Petani padi di

Kecamatan Rantau Selatan ?


2. Bagaimana Upaya Pemberdayaan yang dilakukan oleh Dinas

Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Labuhanbatu

terhadap petani padi di Kecamatan Rantau Selatan ?

1.2.3 Lokasi Magang

Dalam Melaksanakan kegiatan magang ini penulis akan

melaksanakan Magang di Dinas Pertanian Pertanian dan Tanaman

Pangan Kabupaten Labuhanbatu.

1.3 Maksud dan Tujuan Magang


1.3.1 Maksud Magang
10

Maksud di lakukannya magang dalam penyusunan laporan

akhir ini adalah untuk mencari, memperoleh dan menyimpulkan

data dan informasi terkait dengan pemberdayaan petani padi oleh

Dinas pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Labuhanbatu Di

Kecamatan Rantau Selatan.

1.3.2 Tujuan Magang


Adapun tujuan terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh

penulis adalah untuk :


1. Mengetahui Faktor penghambat pemberdayaan petani padi di

kecamatan Rantau Selatan kabupaten Labuhanbatu.


2. Mengetahui Bagaimana upaya pemberdayaan yang dilakukan

oleh Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten

Labuhanbatu terhadap petani padi di kecamatan Rantau

Selatan.

1.4 Kegunaan
1.4.1 KegunaanTeoretis
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis

bagi Lembaga Institut Pemerintahan Dalam Negeri yaitu :


1. Dapat dijadikan sebagai referensi dan dapat melengkapi bahan

perpustakaan Institut Pemerintahan dalam Negeri.


2. Sebagai bahan literatur untuk pengamatan sejenis.
3. Untuk membandingkan antara teori dan kenyataan yang terjadi

di lapangan.

1.4.2 KegunaanPraktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna bagi Pemerintah

DaerahKabupatenLabuhanbatu yaitu :
1. Kegiatan ini dapat memberikan masukan dan sumbangan

pemikiran terhadap penyelenggaraan pemerintah di

KabupatenLabuhanbatu.
11

2. Sebagai sumber informasi bagi penulis guna melanjutkan

penelitian untuk keperluan menyelesaikan laporan akhir.