Anda di halaman 1dari 5

PSAK secara bertahap telah berubah mengikuti Standart Pelaporan Keuangan

International (International Financial Reporting Standart/IFRS) dan Standart


Akuntansi International (International Accounting Standart/IAS) mulai tahun 2008
s.d 2011. Penerapan PSAK revisi ini secara dini dalam akuntansi perusahaan dan
pendidikan sangat dianjurkan, karena pada tanggal 1 januari 2012 semua PSAK
baru WAJIB sudah diimplementasikan. Perubahan PSAK ini menuntut adanya
perubahan buku-buku akuntansi, baik di Perguruan tinggi maupun Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) jurusan akuntansi.
Sebelum membahas lebih detail tentang perkembangan di indonesia, tentu kita
akan bertanya mengapa di indonesia harus melakukan konveregensi IFRS ??
Untuk pertanyaan tersebut, tentu tidak lepas dari kepentingan global yaitu agar
dapat meningkatkan daya informasi dari laporan keuangan perusahaan-
perusahaan di indonesia disamping itu Konvergensi IFRS adalah salah satu
kesepakatan pemerintah indonesia sebagai anggota G20 forum, hasil dari
pertemuan pemimpin negara G20 forum di Washington DC, 15 November 2008
secara prinsip-prinsip G20 yang di canangkan sebagai berikut :
1.Strengthening Transparency and Accountability
2.Endhancing Sound Regulation
3.Promoting integrity in financial markets
4.Reinforcing international cooperation
5.Reforming internationalfinancial institutions
Pada bulan Desember 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mencanangkan
konvergensi PSAK ke IFRS secara penuh pada tahun 2012. Sejak tahun 2009,
Dewan Standar Akuntansi Keuangan - Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI)
melaksanakan program kerja terkait dengan proses konvergensi tersebut sampai
dengan tahun 2011.
Ditargetkan bahwa pada tahun 2012, seluruh PSAK tidak memiliki beda material
dengan IFRS yang berlaku per 1 Januari 2009. Setelah tahun 2012, PSAK akan di-
update secara terus-menerus seiring adanya perubahan pada IFRS. Bukan hanya
mengadopsi IFRS yang sudah terbit, DSAK-IAI juga bertekad untuk berperan aktif
dalam pengembangan standar akuntansi dunia.
International Financial Reporting Standards (IFRS) memang merupakan
kesepakatan global standar akuntansi yang didukung oleh banyak negara dan
badan-badan internasional di dunia. Popularitas IFRS di tingkat global semakin
meningkat dari waktu ke waktu. Kesepakatan G-20 di Pittsburg pada tanggal 24-
25 September 2009, misalnya, menyatakan bahwa otoritas yang mengawasi
aturan akuntansi internasional harus meningkatkan standar global pada Juni
2011 untuk mengurangi kesenjangan aturan di antara negara-negara anggota G-
20.
Terlepas dari trend pengadopsian IFRS tersebut, adalah suatu keharusan bagi
kita untuk mempertanyakan secara kritis, apa sesungguhnya hakikat dari
konvergensi. Melalui partisipasi global, IFRS memang diharapkan menjadi
standar akuntansi berbasis teori dan prinsip yang memiliki kualitas tinggi.
Penerapan standar akuntansi yang sama di seluruh dunia juga akan mengurangi
masalah-masalah terkait daya banding (comparability) dalam pelaporan
keuangan. Yang paling diuntungkan sudah jelas, investor dan kreditor trans-
nasional serta badan-badan internasional.
Tapi apakah konvergensi ke IFRS tidak menimbulkan masalah di tingkat domestik
masing-masing negara? Belum lama ini otoritas keuangan dan pasar modal AS
memunculkan isu kedaulatan regulasi. Beberapa negara lainnya juga
mengkhawatirkan pengaruh IASB yang semakin dominan.

Pengertian Konvergensi IFRS


Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah kumpulan dari standar
akuntansi yang dikembangkan oleh Badan Standar Akuntansi Internasional
(IASB) yang menjadi standar global untuk penyusunan laporan keuangan
perusahaan publik.
Terdiri dari 15 anggota dari sembilan negara, termasuk Amerika Serikat. The
IASB mulai beroperasi pada tahun 2001 ketika ia menggantikan Komite Standar
Akuntansi Internasional. Hal ini didanai oleh kontribusi dari perusahaan-
perusahaan akuntansi yang besar, lembaga-lembaga keuangan swasta dan
perusahaan-perusahaan industri, pusat dan bank pembangunan, rezim
pendanaan nasional, dan internasional lainnya serta organisasi profesional di
seluruh dunia. Sementara AICPA adalah anggota pendiri Komite Standar
Akuntansi Internasional, para pendahulu IASB organisasi, tidak berafiliasi dengan
IASB. IASB tidak sponsor yang mendukung maupun yang sumber daya
AICPA's IFRS website
Sekitar 117 negara memerlukan izin atau terdaftar domestik IFRS untuk
perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Uni Eropa.
Negara-negara lain, termasuk Kanada dan India, diharapkan untuk transisi ke
IFRS pada tahun 2011. Meksiko berencana untuk mengadopsi IFRS untuk semua
perusahaan yang terdaftar mulai tahun 2012. Beberapa memperkirakan bahwa
jumlah negara-negara yang memerlukan atau menerima IFRS bisa tumbuh
hingga 150 dalam beberapa tahun mendatang. Jepang telah memperkenalkan
sebuah peta jalan untuk adopsi itu akan memutuskan pada tahun 2012 (dengan
adopsi direncanakan untuk 2016). Negara-negara lain masih memiliki rencana
untuk berkumpul (menghilangkan perbedaan signifikan) standar nasional mereka
dengan IFRS.
Banyak orang percaya bahwa penerimaan IFRS di Amerika Serikat oleh SEC
untuk perusahaan publik adalah niscaya. Selama bertahun-tahun, SEC telah
menyatakan dukungannya untuk seperangkat inti standar akuntansi yang dapat
berfungsi sebagai kerangka kerja untuk pelaporan keuangan dalam penawaran
lintas batas, dan telah mendukung upaya dari Dewan Standar Akuntansi
Keuangan (FASB) dan IASB untuk mengembangkan suatu set umum berkualitas
tinggi standar global. November 14, 2008, SEC mengeluarkan komentar publik
peta jalan yang mengusulkan transisi bertahap untuk wajib adopsi IFRS oleh
perusahaan publik AS. Pada tahun 2009, krisis keuangan di SEC memfokuskan
kembali prioritas lain. Namun, belakangan pernyataan dari pejabat SEC,
termasuk kepala akuntan James Kroeker, menunjukkan bahwa Komisi akan
memberikan kejelasan pada niat untuk IFRS pada akhir tahun. Selain itu,
rancangan SEC Lima Tahun Rencana Strategis termasuk komitmen untuk standar
global.

Dalam rangka pengharmonisasian standar akuntansi, Indonesia perlu


mengadopsi standar akuntansi international untuk memudahkan perusahaan
asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian
untuk mengadopsi standar international itu bukan perkara mudah karena
memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Indonesia sudah
melakukannya namun sifatnya baru harmonisasi dan selanjutnya akan dilakukan
full adoption atas standar internasional tersebut. Adopsi standar akuntansi
international tersebut terutama untuk perusahaan publik. Hal ini dikarenakan
perusahaan publik merupakan perusahaan yang melakukan transaksi bukan
hanya nasional tetapi juga secara internasional. Jika terjadi jual beli saham di
Indonesia atau sebaliknya, tidak akan lagi dipersoalkan perbedaan standar
akuntansi yang dipergunakan dalam penyusunan laporan. Ada beberapa pilihan
untuk melakukan adopsi, menggunakan IAS apa adanya, atau harmonisasi.
Harmonisasi adalah kita yang menentukan mana saja yang harus diadopsi ,
sesuai dengan kebutuhan. Contohnya adalah PSAK no 24, itu mengadopsi
sepenuhnya IAS nomor 19. Standar berhubungan dengan imbalan kerja atau
employee benefit. Bapepam telah memberikan sinyal kepada semua perusahaan
go public tentang kerugian apa yang akan kita hadapi bila kita tidak melakukan
harmonisasi. Dalam pernyataannya Bapepam menjelaskan bahwa kerugian yang
berkaitan dengan pasar modal yang masuk ke Indonesia, maupun perusahaan
Indonesia yang listing di bursa efek di negara lain. Perusahaan Asing akan
kesulitan untuk menterjemahkan laporan keuangannya dulu sesuai standar
nasional kita sebaliknya perusahaan Indonesia yang listing di negara lain, juga
cukup kesulitan untuk membadingkan laporan keuangan sesuai standar di
negara tersebut. Hal ini akan menghambat perekonomian dunia, dan aliran
modal akan berkurang dan tidak mengglobal. Adanya harmonisasi ini,
dibutuhkan konvergensi IFRS, hal ini akan menyebabkan implikasi PSAK terbaru
terhadap pelaporan pajak di Indonesia.

Pengaruh konvergensi IFRS terhadap Perpajakan


Pengaruh konvergensi IFRS tidak hanya berpengaruh terhadap dunia bisnis saja,
tetapi juga dalam dunia Perpajakan. Perbedaan IFRS dengan perpajakan salah
satunya mencakup aset tetap (PSAK No. 16). Berdasarkan PSAK No. 16 (Revisi
2007) perusahaan diperbolehkan memilih metode biaya atau metode revaluasi,
sedangkan Peraturan Perpajakan, yaitu Peraturan Menteri Keuangan
No.79/PMK.03/2008, metode penyustan aset tetap menggunakan biaya
perolehan sesuai Pasal 10 ayat (1) UU PPh, Menteri Keuangan. Masalah
kewajiban perpajakan yang timbul atas revaluasi aset tetap adalah sebagai
berikut:
1. Nilai hasil revaluasi akan lebih tinggi dari nilai perolehan awal.
Hal ini disebabkan penilaian aset tetap dilakukan berdasarkan nilai
pasar/nilai wajar tersebut yang ditetapkan oleh jasa penilai/appraisal independen
yang disahkan oleh Menkeu. Sehingga atas hasil revaluasi ini akan muncul selisih
revaluasi aset tetap dari perolehan yang lama.
2. Apakah atas hasil revaluasi dikenakan PPh bersifat final sebesar 10%?
Jawabannya ya, hal tersebut sesuai dengan ketentuan dimaksud pada pasal 5
PMK 79/PMK.03/2008 tentang penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk
tujuan perpajakan. Adapun tatacaranya dapat dilihat pada Per-12/PJ/2009. Obyek
yang dikenakan tarif 10% tersebut adalah selisih dari nilai hasil revaluasi aset
tetap.

Contoh lainnya yang menjadi perhatian bagi pihak otoritas pajak, konvergensi
IFRS yang berimplikasi dengan perpajakan adalah sebagai berikut:
1.Pada PSAK No. 1, pos?pos dalam laporan laba rugi komprehensif, yaitu: beban
keuangan, keuntungan atau kerugian dari operasi yang dihentikan, diakui secara
keseluruhan sedangkan pada perpajakan dilakukan koreksi fiskal atas perbedaan
antara akuntansi dan Undang-Undang Pajak Penghasilan.
2.Pada No. PSAK 7, pengungkapan pihak pihak yang memiliki hubungan istimewa
adalah pihak istimewa yang terkait dengan pihak dalam transaksi yang wajar,
pengakuan beban selama periode berjalan, klasifikasi pengungkapan atas pihak?
pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Pada nama entitas induk, jika
berbeda dengan entitas anak dan pihak yang mengendalikan. Jika entitas induk
maupun pihak pengendali utama menghasilkan laporan keuangan yang tersedia
untuk keperluan umum, nama entitas induk berikutnya yang paling pertama
melakukannya juga harus diungkapkan. Dari sisi perpajakan semua pihak
istimewa harus diungkapkan dengan pengisian lampiran 3A atau 3B pada SPT
PPh badan dan membuat TP Documentation sesuai Per?43/PJ/2010.
3.Pada PSAK No. 10, pengaruh perubahan nilai tukar valuta asing, pada laporan
keuangan mata uang yang digunakan adalah: mata uang fungsional digunakan
sebagai mata uang pengukuran dan penyajian bisa berlainan dengan mata uang
fungsional. Sedangkan pada perpajakan harus menggunakan rupiah atau US
Dollar.
4.Pada PSAK No. 13, properti yang digunakan pada operating lease
Diklasifikasikan dan dicatat sebagai properti investasi, hanya jika sesuai dengan
definisi dari properti investasi dan lessee menggunakan fair value model.
Sedangkan pada perpajakan Tidak membedakan properti investasi dari aktiva
tetap, Pengalihan tanah dan/bangunan dikenakan pajak penghasilan final.

Kesimpulan dan Saran


PSAK yang sekarang berlaku, maupun nantinya diterapkan IFRS, ataupun SAK
ETAP, Undang-Undang Perpajakan kita ataupun Ditjen Pajak juga berencana
menyesuaikan perkembangan yang terjadi begitu cepat dari standar akuntansi
yang diterbitkan oleh Dewan Standar Ikatan Akuntan Indonesia. Titik temunya
adalah rekonsiliasi fiskal untuk menghitung laba kena pajak sebagaimana yang
telah berlaku selama ini. Sebagai contoh, penurunan nilai tercatat aset maupun
pemulihannya yang diperkenankan oleh standar-standar akuntansi yang berlaku
tahun 2011, tentunya akan berpengaruh besar terhadap perhitungan laba rugi
komersial entitas dan perhitungan PPh-nya. Semakin banyak pos-pos yang akan
direkonsiliasi menyesuaikan peraturan Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk
menghitung laba kena pajak menurut fiskal. Kita dituntut belajar terus menerus
menyesuaikan perkembangan standar akuntansi dan peraturan perpajakan, yang
masing-masing berjalan dengan arahnya sendiri-sendiri. Sebagai kesimpulan
bahwa tidak ada dampak IFRS convergence terhadap pelaporan pajak, karena
laporan keuangan fiskal mengacu pada aturan pajak (Undang-Undang, Peraturan
Menteri Keuangan, Peraturan Direktorat Jenderal, dll.) yang berbeda dengan
PSAK/IFRS/GAAP dan sebagainya.