Anda di halaman 1dari 19

1.

Apa fungsi dari :


a. Antimikroba
b. Antioksidan
c. Buffer
d. Zat tambahan
e. Zat pelarut
Jawab :
a.Antimikroba
1. Menurut Leon Lachman, 2008 Hal. 1300
Antimikroba berfungsi sebagai formulasi produk yang dikemas
dalam vial dosis ganda dan seringkali dimasukkan dalam
formulasi yang akan disterilkan dengan proses marginal atau
dibuat secara aseptis.
2. Menurut Depkes RI, 2000 Hal. 199
a. Menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis
lain.
b. Pembasmi mikroba yang merugikan manusia
b.Antioksidan
1. Menurut Ramali Ahmad, 2005 Hal. 42
Antioksidan berfungsi untuk mencegah oksidasi dan mengikat
radikal bebas.
2.Menurut Leon Lachman, 2008 Hal. 1300
Antioksidan berfungsi untuk melindungi suatu zat teraseptis
yang mudah mengalami oksidasi terutama pada kondisi di
percepat dengan sterilisasi panas.
c. Buffer
1. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal. 55
Buffer berfungsi untuk meningkatkan stabilitas atau
meningkatkan aktivitas fisiologi obat dan dapat pula
menghambat pertumbuhan bakteri.
3. Menurut Ramali Ahmad, 2005 Hal. 42
Buffer berfungsi untuk mencegah perubahan kadar ion
hidrogen bila ditambahkan kepada suatu larutan.

d. Menurut FI Edisi IV, 1979 Hal.


Zat tambahan berfungsi untuk mempertinggi kemantapan,
keawetan dan sebagai zat warna yang dimana tidak boleh
mengganggu atau mengurangi khasiat obat.
e.Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal. 42
Zat pelarut berfungsi dalam obat suntik sebagai air untuk injeksi
atau disebut WFI (Water For Injection).

4. Alasan sediaan steril PH harus dipertahankan


Jawab :
a. Menurut Leon Lachman, 2008 Hal. 1302
Karena apabila terjadi perubahan PH bias menyebabkan
perubahan nyata dalam laju reaksi peruraian.Dapar harus
mempunyai kapasitas untuk menjaga pH produk tersebut
terdapat pengaruh ini.
b. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal. 56
Pada pH > 9 jaringan mengalami nekrosis. Sebaliknya, bila pH
<3 jaringan akan mengalami rasa sakit, phlebitis, dan dapat
menghancurkan jaringan.
c. Menurut E. Clyde Buchanan, 2009 Hal. 21
Dibawah pH 6,6 atau diatas pH 9,0 menyebabkan iritasi, reflex
air mata, dan mata berkedip.
d. Menurut Syamsuni, 2006 Hal. 201
1. Menjamin stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek
terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya
reaksi dari obat tersebut.
2. Mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit sewaktu
disuntikkan.

5. Fungsi pengkelat
Jawab :
a. Menurut E. Clyde Buchanan, 2009 Hal. 17
Pengkelat berfungsi untuk meningkatkan keefektifan
antioksidan dan membentuk kompleks dengan jumlah sespora
sangat sedikit logam berat sehingga menghilangkan aktivitas
katalik logam selama oksidasi.

6. Apa fungsi uji viskositas


Jawab :
a. Menurut Goeswin Agoes, 2013 Hal. 133
Viskositas diperlukan untuk mencegah cairan mengalir dengan
cepat,dan pada saat yang sama memungkinkan untuk
mengontrol dosis obat (misalnya pada suspense yang cepat
sekali tersendimental). Pengontrolan viskositas dilakukan pada
formulasi akhir dan selama usia guna produk.

7. Rute pemberian injeksi


Jawab :
a. Menurut Syamsuni, 2006 Hal. 196
1. Injeksi intrakutan atau intradermal (i.c). Dalam injeksi
ini,volume yang disuntikkan sedikit (0,1-0,2 ml). Biasanya
injeksi ini digunakan untuk tujuan diagnosis,misalnya
deteksi alergi terhadap suatu zat/obat.
2. Injeksi Subkutan (s.c) atau hipoderma,injeksi ini
disuntikkan kedalam jaringan di bawah kulit kedalam
alveola. Larutan sedapat mungkin isotonic,sedangkan pH
sebaiknya netral,sehingga dapat mengurangi iritasi jaringan
dan mencegah kemungkinan terjadinya nekrosis
(mengendornya kulit). Jumlah larutan yang disuntikkan
tidak lebih dari 1 ml.
3. Injeksi Intramuskular (i.m).Injeksi ini disuntikkan kedalam
otot daging dan volume sedaoat mungkin tidak lebih dari 4
ml. Penyuntikan volume besar dilakukan perlahan-lahan
untuk mencegah rasa sakit.
4. Injeksi Intravena (i.v). Injeksi ini mengandung cairan yang
tidak menimbulkan iritasi dan dapat bercampur dengan air,
Volume pemberiannya sekitar 1-10 ml. Larutan biasanya
isotonik atau hipertonik. Jika hipertonik,maka larutan harus
diberikan perlahan-lahan.
5. Injeksi Intraarterium (i.a). Injeksi ini mengandung cairan
noniritan yang dapat bercampur dengan air. Volume yang
disuntikkan kira-kira 1-10 ml dan digunakan apabila
diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer.
Injeksi ini tidak boleh mengandung bakterisida.
6. Injeksi Intrakardial (ikd). Injeksi ini berupa larutan yang
disuntikkan kedalam otot jantung atau ventrikulus. Tetapi
,injeksi ini hanya digunakan untuk keadaan gawat dan tidak
boleh mengandung bakterisida.
7. Injeksi Intratekal (it). Intraspinal atau intradural injeksi ini
disuntikkan kedalam saluran sumsum tulang belakang
(sekitar 3-4 atau 5-6 lumbal vertebra) yang berisi cairan
cerebrospinal. Injeksi ini berupa larutan,harus isotonik dan
benar-benar steril,karena jaringan saraf di daerah ini sangat
peka.
b. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal. 15
1. Intravaskuler ialah obat langsung masuk ke sirkulasi
sistemik dan didistribusikan keseluruh tubuh seperti
intravena.
2. Ekstravaskuler ialah obat harus diabsorpsi dahulu sebelum
masuk ke peredaran sistemik seperti i.m, s.c, i.d, dan
peritoneal.

8. Keuntungan dan Kerugian sediaan Infus


Jawab :
Keuntungan sediaan infus :
a. Menurut Penuntun Farmasetika-II, 2013 hal. 9
1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
3. Bioavailabilitas sempurna atau hamper sempurna
4. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinal dapat
dihindari
5. Obat dapat diberikan pada penderita sakit keras atau sedang
dalam keadaan koma.
b. Menurut potter dan Perry, 2006
1. Mampu untuk menginfus cairan dalam jumlah besar dan
kecil dengan akurat.
2. Adanya alarm menandakan adanya masalah seperti adanya
udara diselang infus atau adanya penyumbatan.
c. Menurut Sugianto, 2012
1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
3. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau
dalam keadaan koma
4. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinal dapat
dihindarkan
5. Bioavailabilitas sempurna

Kerugian sediaan infus :


a. Menurut Penuntun Farmasetika-II, 2013 Hal. 9
1. Rasa sakit pada saat disuntik, apabila harus diberikan
berulang kali.
2. Memberikan efek fisiologi pada penderita yang takut
disuntik
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hamper tidak
mungkin diperbaiki, terutama sesudah pemberian intravena.

9. Fungsi pemberian Infus


Jawab :
a. Menurut Syamsuni, 2006 Hal. 228-229
1. Mengganti cairan tubuh dan mengimbangi jumlah electron
dalam tubuh, misalnya sol glukosa isotonis.
2. Dalam bentuk larutan koloid dapat dipakai mengganti darah
manusia misalnya larutan koloid.
3. Sebagai obat diberikan dalam jumlah besar dan terus
menerus jika tidak dapat disuntikkan secara biasa misalnya
obat anti kanker.

b. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal. 62


Larutan digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau
penyimpanan jumlah normal elektrolit dalam darah.

10. Pengertian Ampul


Jawab :
a. Menurut R. Voight, 1995 Hal. 423
Ampul adalah wadah yang kedap udara yang mempertahankan
jumlah obat steril yang dimasukkan untuk pemberian parenteral
sebagai dosis tunggalnya dapat apabila dibuka tidak dapat
ditutup rapat kembali dengan jumlah tetap steril.
b. Menurut Howard C. Ansel hal. 464
Ampul adalah wadah berbentuk silinder terbuat dari gelas yang
memiliki ujung runcing (leher) atau bidang dasar dengan wadah
takaran tunggal yang jumlah total wadah takarannya ditentukan
pemakaiannya untuk satu kali injeksi.
c. Menurut E. Clyde Buchanan, 2009 Hal. 57
Ampul seluruhnya berbahan gelas. Dipatahkan, ampul menjadi
wadah sistem terbuka untuk sekali pemakaian.

11. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Ampul


Jawab :
Keuntungan sediaan ampul :
a. Menurut R. Voight, 1995 Hal. 433
Memiliki wadah yang kedap udara yang memperthankan
jumlah obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian
parenteral sebagai dosis tunggal.
b. Menurut

Kerugian sediaan Ampul :


a. Menurut R. Voight , 1995 Hal. 433)
Bila wadah sediaan dibuka maka tidak dapat ditutup rapat
kembali karena terbuat dari gelas.
b. Menurut

12. Pengertian Vial


Jawab :
a. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal. 31
Vial adalah wadah kedap udara yang memungkinkan
pengambilan isinya perbagian berturut-turut tanpa terjadi
perubahan kekuatan, kualitas, dan kemurnian bagian yang
tertinggal.
b. Menurut E. Clyde Buchanan, 2009 Hal. 56
Vial adalah wadah plastik atau gelas yang memiliki tutup karet
yang atasnya ditutup dengan cincin logam.

13. Keuntungan dan Kerugian Vial


Jawab :
Keuntungan sediaan vial :
a. Menurut R. Voight 1995 Hal. 423
Bubuk-bubuk kering dikemas dalam wadah yang cukup besar
agar dapat dikocok baik dengan komponen cair. Komponen cair
disuntikkan secara aseptik lewat tutup karet atau plastik ke
wadah sewaktu pembentukan obat suntik.
b. Menurut Scovilles Hal.202
Lebih tepat untuk digunakan dibanding ampul.

Kerugian sediaan vial :


a. Menurut R. Voight 1995 Hal. 423
Bubuk kering cenderung berbentuk sarang tawon.
b. Menurut Scovilles Hal.202
Kemungkinan terkontaminasi pada waktu pengambilan volume
berturut-turut merupakan kerugian yang serius.
c. Menurut Goeswin Agoes,2013 Hal.197
Pada operasi penutupan secara manual sangat beresiko
menimbulkan kontaminasi.
14. Sebutkan syarat-syarat sediaan injeksi
Jawab :
a. Menurut Anief, Hal.193
1. Aman
2. Harus jernih
3. Sedapat mungkin isotonis
4. Sedapat mungkin isohidris
5. Harus steril
6. Bebas pirogen
b. Menurut Hendra Widodo,Hal.212
1. Bebas dari mikroorganisme, steril, atau dibuat dari bahan-
bahan steril dibawah kondisi yang kurang akan adanya
kombinasi mikroorganisme (proses aseptik).
2. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan
pirogenik lainnya
3. Bahan-bahan bebas dari bahan asing dari luar yang tidaak
larut.
4. Steril
5. Bebas dari bahan partikulat
6. Bebas dari pirogen
7. Stabil
8. Injeksi sedapat mungkin isotonik dengan darah.
c. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal.10
1. Sesuai antara kandungan bahan obat yang ada di dalam
sediaan dengan persyaratan tertulis dengan etiket dan tidak
terjadi pengurangan kualitas selama penyimpanan akibat
perusakan obat secara kimiawi dan lain sebagainya.
2. Tersatukan tanpa terjadi reaksi
3. Bebas kuman
4. Penggunaan wadah yang cocok, sehingga tidak hanya
memungkinkan sediaan tetap steril, tetapi juga mencegah
terjadinya interaksi antara bahan obat dan material dinding
wadah.
5. Bebas pirogen
6. Isotonis
7. Isohidris
8. Bebas partikel melayang
15. Bagaiaman cara evaluasi sediaan steril
Jawab :
a. Menurut
1. Uji kebocoran
Sediaan yang dikemas dimasukkan dalam gelas kimia yang
dilapisi kapas dalam posisi terbalik kemudian disterilisasi
akhir pada autoklaf pada suhu 121 0 C selama 15 menit.
Kemudian diamati kebocoran yang terjadi, jika terjadi
kebocoran maka volumenya akan berkurang.
2. Uji kejernihan
a. Diambil atau dikeluarkan sediaan dari autoklaf
b. Diamati adanya partikel padat yang tidak larut dengan
cara diberi kertas latar hitam dibelakang sediaan
kemudian disenter dan diamati kejernihannya.
3. Uji pirogen
a. Diambil sediaan kemudian dihitung dosis konversi
terhadap hewan uji.
b. Disuntikkan sediaan kepada hewan uji sesuai
perhitungan.
c. Diamati jika terjadi demam maka akan tercemar atau
terdapat zat yang dapat menimbulkan penyakit.

16. Berikan contoh sediaan steril


Jawab :
a. Menurut Tan Hoan Tjay Hal.19
Injeksi, pemberian obat secara parenteral (berarti diluar usus)
biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, kuat dan
lengkap.
b. Menurut Syamsuni, 2006 Hal.228
Infus, infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau
emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis
terhadap darah, dan disuntikkan langsung kedalam vena dalam
volume relatif banyak.
c. Menurut Stefanus Lukas, 2006 Hal.11
1. Obat tetes hidung adalah larutan dalam air atau dalam
pembawa minyak yang digunakan dengan meneteskannya
atau menyemprotkan kedalam lubang hidung.
2. Obat tetes telinga adalah larutan zat aktif dalam air atau
dalam pembawa lain yang digunakan dengan meneteskan
kedalam lubang telinga.
3. Obat tetes mata adalah obat tetes steril, umumnya isotonis
dan isohidris.
4. Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari
10 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi ttes
dengan bantuan peralatan yang cocok.
5. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi,suspensi,
atau serbuk yang harus dilarutkan terlebih dahulu secara
parenteral, disuntikkan dengan cara menembus atau
merobek jaringan kedalam atau melalui kulit atau selaput
lendir.
1. Jelaskan :
a. Pengertian steril ?
b. Pengertian sterilisasi ?
c. Pengertian aseptis ?
Jawab :
a. Pengertian steril
1. Menurut RPS (Remingtons Pharmaceutical Sciences 1990)
(Hal.1470) Edisi 18
Steril adalah kondisi mutlak atau layak tidak adanya
mikroorganisme.
2. Menurut Leon Lachman 2008 (Hal. 1234) Edisi ke-3
Steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua bentuk mikroorganisme.
3. Menurut RPS (Remingtons Pharmaceutical Sciences 2005)
(Hal. 776) Edisi ke-21
Steril adalah suatu keadaan mutlak tidak adanya mikroorganisme.
b. Pengertian Sterilisasi
1. Menurut Leon Lachman 2008 (Hal. 1254) Edisi 3
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan
keadaan steril.
2. Menurut Scovilles 1957 (Hal. 403) Edisi ke 9
Sterilisasi adalah proses membunuh bakteri atau mikroorganisme
lain.
3. Menurut RPS (Remingtons Pharmaceutical Sciences 1990)
(Hal.1470) Edisi 18
Sterilisasi adalah proses dimana semua bentuk layak
mikroorganisme dihapus dan dihancurkan berdasarkan fungsi
probabilitas.
c. Pengertian Aseptis
1. Menurut RPS (Remingtons pharmaceutical sciences 1990). (Hal.
1470) Edisi 18
Zat yang penangkapannya mencegah pertumbuhan
mikroorganisme dengan menghambat aktivitas mereka tanpa
harus menghancurkan mereka.
2. Menurut Leon Lachman edisi 3, 2008 Hal.1254
Aseptis menunjukkan proses atau kondisi terkendali dimana
tingkat kontaminasi mikoba dikurangi sampai suatu tingkat
tertentu, dimana mikroorganisme dapat ditiadakan pada suatu
produk.
3. Menurut Kamus Saku Kedokteran hal.11
Aseptis adalah pencegahan kontak dengan mikroorganisme.
2. Jelaskan mengapa suatu obat harus dibuat steril
Jawab :
a. Menurut Howard C.Ansel Hal.399 Edisi 4
Karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan
jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan
mudah.
b. Menurut Stefanus lucas,2006 Hal.5
Karena pengobatan yang langsung bersentuhan dengan sel tubuh,
lapisan mukosa organ tubuh dan dimasukkan langsung ke dalam
cairan atau rongga tubuh sangat memungkinkan terjadinya infeksi
bila obatnya tidak steril.
c. Menurut Leon Lachman 1994 Hal.1992
Karena sediaan menggunakan garis pertahanan pertama dari tubuh
yang paling efisien. Yakni membran kulit dan mukosa, sediaan
tersebut harus terhindar dari kontaminasi mikroba dan dari
komponen teknik dan harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi
atau luar biasa.
3. Jelaskan dan sebutkan contoh-contoh sediaan steril
Jawab :
a. Menurut Stefanus lucas 2006
1. Injeksi (Hal.45)
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspense atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu
sebelum digunakan secara parenteral.
2. Infus (Hal.73)
Infus adalah larutan dalam jumlah besar, terhitung mulai dari 10
ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan
bantuan peralatan yang cocok.
3. Obat tetes hidung (Hal.139)
Obat tetes hidung adalah larutan dalam air atau dalam pembawa
minyak yang digunakan dengan cara meneteskannya atau
menyemprotkannya kedalam lubang hidung pada daerah
nasofarin.
4. Obat tetes telinga (Hal.141)
Obat tetes telinga adalah larutan zat aktif dalam pembawah lain
atau air yang digunakan dengan meneteskannya ke dalam lubang
telinga.
4. Jelaskan cara-cara sterilisasi
Jawab :
a. Terminal sterilization (sterilisasi akhir) metode sterilisasi akhir
menurut (PDA Technical Monograph, ) dibagi menjadi 2 yaitu :
(Menurut Stefanus Lukas,2006 Hal.105-107)
1. Overkil method adalah metode sterilisasi menggunakan
pemanasan dengan uap panas pada suhu 121 C selama 15 menit
yang mampu memberikan minimal reduksi setingkat log 12 dari
berbagai mikroorganisme yang memiliki nilai 0 minimal 1 menit.
2. Biobirden sterilization adalah metode yang memerlukan
monitoring ketat dan terkontrol terhadap beban mikroba sekecil
mungkin dibeberapa lokasi jalur prochiksi sebelum menjalani
proses sterilisasi lanjutkan dengan tingkat sterilisasi yang di
persyaratkan
b. Aseptic processing adalah metode pembuatan produk steril
menggunakan saringan dengan filter khusus untuk bahan obat steril
atau bahan baku steril yang diformulasikan dan diisikan kedalam
container steril serta dilakukan di lingkungan terkontrol.
5.Jelaskan
Jawab :
a. Definisi pirogen
1. Menurut Leon Lachman edisi 3 (Hal.1296)
Pirogen adalah produk metabolism mikroorganisme umumnya
bakteri dan kapang serta virus telah dilaporkan sebagai penghasil
pirogen.
2. Menurut stefanus Lukas (Hal.99)
Pirogen adalah indotoksin yaitu hasil produksi bakteri gram
negative yang melekat kuat pada permukaan bakteri.
3. Menurut Ansel (Hal.918)
Pirogen adalah senyawa organic yang menyebabkan
demam,berasal dari pencemaran mikroba dan bertanggung jawab
untuk banyak reaksi steril yang timbul pada penderita sesudah
penyuntikan.
b. Mengapa suatu sediaan steril harus bebas pirogen
1. Menurut Leon Lachman edisi 3 (Hal. )
Karena untuk mencegah suatu sediaan steril untuk tidak
terkontaminasi oleh mikroorganisme seperti bakteri, kapang dan
virus, karena pirogen bias memasuki produk dengan
mikroorganisme atau produk pertumbuhan.
2. Menurut Stefanus Lukas (Hal.99)
Untuk mencegah timbulnya hipertemi. Hipertemi ini awalnya
terjadi leukopeni kemudian leukotosis sehingga dapat
menyebabkan kematian.
3. Menurut Ansel (Hal.418)
Untuk menghasilkan produk dari sediaan yaitu gas yang mudah
dibuang atau menjadi padatan dan tidak mudah menguap
keduanya dapat dipisahkan dari air penyulingan.
6. Tuliskan dan jelaskan komposisi sediaan steril

Jawab :
a. Zat tambahan
1. Menurut Leon Lachman edisi 3 (Hal.1298)
Zat tambahan dalam sediaan steril adalah penglarut antioksidan,
zat pembentuk kerat, dapar, pembantu pengisotonik, zat
antibakteri, zat antifungi, penghambat hidrolisis, dan berbagai zat
lain untuk tujuan khusus.
2. Menurut Ansel (Hal.409)
Zat tambahan dalam sediaan steril adalah pengawet, antimikroba,
dapar, penambah kelarutan, antioksidan, dan pembantu farmasi
lainnya.
3. Menurut E. Clyde Buchanan (Hal17)
Zat tambahan dalam sediaan steril adalah zat yang tidak
mengganggu efikasi terapetik atau hasil tes dan pengujian seperti
zat pengawet antimikroba, dapar, PH, antioksidan, zat pengkelat,
zat penisitas, zat penambah kelarutan dan zat pengemulsi.
b. Bahan tambahan produk parenteral
1. Antimikroba
2. Antioksidan
3. Buffer
4. Zat tambahan
5. Chleating agent
6. Zat pelarut
7. Surfaktan
8. Tonisitas
(Stefanus Lukas,2006 Hal.30-32).
7. Jelaskan :
a. Pengertian Tonisitas
b. Pengertian Isotonis
c. Pengertian Hipertonis
Jawab :
a. Pengertian Tonisitas
1. Menurut Stefanus Lukas 2006
Tonisitas adalah karena kandungan elektrolit dan koloid
didalam cairan air mata memiliki tekanan osmotic yang nilainya
sama dengan darah dan cairan jaringan
2. Menurut R. Voight 1994 Hal.525
3. Menurut Mima Home dkk (keseimbangan cairan elektrolit dan
asam basa, hal.11)
Tonisitas adalah molekul kecil seperti orea dengan mudah
melewati membrane dengan cepat diantara kompartemen dan
memberikan sedikit efek gerakan air.
b. Pengertian Isotonis
1. Menurut Stefanus Lukas,2006 Hal.60
Adalah suatu obat atau larutan dimana konsentrasinya dalam sel
darah.
2. Menurut R. Voight,1993 Hal.479
Yakni diisonisasikan artinya turunnya titik beku terhadap air
murni dibuat sama.
3. Menurut Ansel,Hal.544
Istilah isotonis berarti persamaan sifat tonisitas.
c. Pengertian Hipertonis
1. Menurut Lukas stefanus, Hal 50-51
Turunnya titik beku besar yaitu tekanan osmosisnya lebih tinggi
dari serum darah sehingga menyebabkan air lebih tinggi dari sel
darah merah muintasi membrane semi pumlabel dan
mengakibatkan terjadinya pencuitan sel-sel darah merah.
2. Menurut R.voigh
Hipertonis turunnya titik beku yang lebih besar, tekanan
osmotiknya lebih besar dari pada darah.
3. Menurut Ansel, Hal.544-545
Larutan dengan tekanan osmotic yang lebih besar dari cairan
fifiologisnya disebut hipertonik.
d. Pengertian Hipotonis
1. Menurut R.voigh
Hipotonis / rendahnya turunan titik beku, tekanan osmotiknya
lebih rendah dari pada darah.
2. Menurut Lukas stefanus Hal.50
Hipotonis turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosisnya
lebih rendah dari serum, sehingga menyebabkan air akan
melintasi membrane sel darah merah yang semi permiabel
memperbesra volume darah merah dan menyebabkan
peningkatan tekanan darah.
3. Menurut Ansel Hal. 544
Larutan dengan tekanan osmotic yang lebih rendah daripada
cairan tubuh atau 0,9 % larutan natrium klorida biasanya
dianggap sebagai hipotonik.
8. Tuliskan dan jelaskan perhitungan tonisitas
jawab :
a. menurut Philip J. Suhnader dkk 2007 Hal.2
gunakan perbandingan

Oleh karena itu, X = 0,4 %. Jadi , Kristal natrium klorida


ditambahkan pada larutan natrium klorida 0,4 %.
b. Menurut Alfred martin dkk 1990 Hal.484
Perhitungan tonisitas dengan harga lise, karena penurunan titik
beku larutan elektrolit lemah atau kuat lebih besar dari yang
dihitung dengn persamaan maka dipakai faktor baru L + KF
dijumpai persamaan = ATF = LC
9. Tuliskan contoh bahan pengisotonis lengkap dengan
konsentrasinya
Jawab :
a. Menurut Leon lachman 1994 Hal.1299
Gliserin konsentrasi 1,6-2,25
Nekstrosa konsentrasi 3,75-5,0
Natrium klorida konsentrasi berpariasi
b. Menurut Stefanus Lukas 2006 dalam buku pormulasi steril
Hal.60-65
Contoh bahan pengisotonis yaitu Nacl 0,9 % dan bahan obat yang
ekuivalensi dengan Nacl ialah asam askorbat ekuivalensinya 0,81
dengan faktor isotonic = 19.
c. Menurut Raymond C. Rowe dkk dalam buku handbook of
pharmaceutical exipient fifth edition,
Penggunaan bahan pengisotonis Nacl dengan concentration 0,9
%
10. Jelaskan pengertian :
a. Larutan penyangga
1. Menurut Alfred martin dkk 1990 Hal.454
Dapar adalah senyawa-senyawa atau campuran senyawa
dapat menyebabkan perubahan pH terhadap penambahan
sedikit asam atau basah
2. Menurut Buchanan dkk Hal.77
Dapar atau buffer ialah zat-zat yang menstabilkan larutan
zat kimia dalam air terhadap degradasi
3. Menurut Leon lachman dkk 2006 Hal.1302
Buffer atau dapar ialah zat yang ditambahkan untuk
menjaga suatu produk.
b. Mengapa suatu sediaan steril harus dipertahankan pH nya
1. Menurut Lachman dkk1994 Hal.302
Diisyaratkan untuk banyak produk, perubahan pH biasa
menyebabkan perunahan nyata dalam laju reaksi
peruraian.
2. Menurut R.Voigh 1995 Hal.526
Sangat berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri yang
sempurna, meskipun hal ini sangat sulit direalisasikan
oleh karena kelarutan dan stabilitas bahan obat dan
sebagian lagi bahan pembantu juga kerja optimum
disamping objek pisiologis.
c. Contoh senyawa buffer yang sering digunakan dalam sediaan
steril serta konsentrasinya
1. Menurut Lachman dkk 1994 hal.1299
Asam asetat konsentrasinya 0,22 %
Asam adipat konsentrasinya 1,0 %
Asam benzoat konsentrasinya 5,0 %
2. Menurut Farmakope Indonesia Edisi 3 Hal.15
Contoh dapar fospat isotonis larutan NaH2PO4 0,8 %
3. Menurut Buchanan Hal.17
Garam-garam asam seperti sitrat, asetat, fospat umumnya
digunakan sebagai dapar
11. Tuliskan dan jelaskan cara perhitungan buffer
Jawab :
a. Menurut Stefanus Lukas 2006 Hal.11
Misalnya : garam alcohol yang umumnya dipakai sebagai tetes
mata memiliki stabilitas maksimal pada pH 2-4 yang jelas sangat
tidak fisiologis. Dengan demikian, perlu menaikkan harga pH nya
untuk menunjukkan peningkatan kualifitas pada kornin dengan
pertimbangan dan keseimbangan fisiologis larutan didirikan
sampai pada harga pH 5,5-6,5 lebih lanjut penyumbangan
dilakukan dengan larutan dapat isotonis.
b. Menurut Alfred martin dkk 1990 Hal.464
Rumus untuk menghitung besarnya kapasitas dapar adalah
sebagai berikut :
AB
B = ApH

Keterangan
A= perubahan yang terbatas
AB= sedikit perubahan basah kuat kedalam larutan dapar
12. Jelaskan :
Jawab :
a. Pengertian antioksidan
1. Menurut anggota IKAPI
Antioksidan adalah senyawa pemberi electron.
2. Menurut Yoengsang Robert,
3. Menurut Buchanan Hal.17
Antioksidan adalah suatu bahan yang membantu mencegah
oksidasi komponen obat
b. Pengertian reduksi
1. Menurut timtinur 2014 Hal.61
Reduksi adalah pelepasan
2. Menurut lesten hitalesi 2015 hal.69
Reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen, pengikatan elektron
dan biloks
c. Pengertian oksidasi
1. Menurut timtinur 2014 Hal.16
Oksidasi adalah reaksi pengikat
2. Menurut lesten hitalesi 2015 Hal.69
Oksidasi adalah proses