Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN

Kesultanan cirebon dengan kerajaan (kesultanan) Banten


memang telah memiliki hubungan yang sangat erat. Kerajaan/ kesultanan
cirebon dan banten merupakan wilayah kekuasaan kerajaan pajajaran,
dengan rajanya sri baduga maharaja prabu siliwangi. Kedua kerajaan ini
berlokasi diwilayah jawa barat. Persamaan antara kedua kerajaan ini
bukan hanya dalam hal wilayah, melainkan sama- sama dijadikan markas
besar penyebaran islam di tatar sunda. Dalam hal posisi wilayah pun
sama, yakni di daerah pesisir yang akhirnya sama- sama memiliki
pelabuhan internasional.

Pada saat kesultanan cirebon sedang mengalami masa


kemunduran, yang dikarenakan kekosongan pemimpin, kerajaan banten
sedang mengalami masa kemajuannya bahkan mencapai kejayaanya
dalam segala bidang. Sehingga tak heran jika kerajaan ini memiliki
pengaruh yang sangat besar di wilayah tatar sunda. Yang dikemudian hari
diruntuhkan oleh bangsa barat yang kita sebut dengan sebutan VOC,yang
diawali engan sebuah perjanjian.

A. Kerajaan( Kesultanan) Banten


Banten berdiri sekitar abad 16, tepatnya sekitar tahun 1526.
Kerajaan ini didirikan oleh pangeran Sabakingking, yang kemudian hari
mendapat gelar Maulana Hasanudin. Ia putra sunan gunung jati dengan
putri kawunganteun, seorang putri Adipati Surosowan, penguasa banten
pesisir.
Pada masa kekuasan maharaja prabu siliwangi, wilayah banten
terbagi menjadi dua wilayah, yaitu banten girang (pedalaman) dan banten
pesisir. Wilayah banten girang dipimpin oleh Adipati Suranggana,
sementara banten pesisir dipimpin oleh Adipati Surosowan.
Pada tahun 1525 , pangeran sabakingking berhasil
mempersatukan kedua wilayah tersebut dalam satu kepemimpinan, entah
bagaimana cara mempersatukannya dan apa sebabnya. Namun yang
tercatat hanyalah pada tahun tersebut pangeran sabakingking berhasil
menyatukan kedua wilayah tersebut dal satu kepemimpinan.
Diceritakan bahwa, pembentukan kerajaan ini didasarkan atas
saran ayahnya, kanjeng sinuwun susuhunan gunung jati dan dikatakan
beliaulah yang memberikan gelar Maulana Hasanudin, tecatat pada
tanggal 8 oktober 1526 . Dan pusat kerajaan yang awalnya berada di
banten girang dipindahkan ke cirebon pesisir. Hal ini mungkin agar dekat
dengan pelabuhan yang menjadi pusat perekonomian sebagai negri
pesisir.
Pada awalnya, sebelum abad 16, berita- berita tentang wilayah
banten masih belum banyak diketahui, mungkin karena masih berada
dalam kekuasaan pajajaran. Namun semenjak berdiri dan merdeka tahun
1568 dari pengaruh atau kekuasaan Demak, banten menjadi kota yang
penting dan memiliki peran dan pengaruh yang sangat besar.
Ditangan Maulana Hasanudin, yang berkuasa selama 44 tahun,
yakni tahun 1526- 1570, kerajaan banten menjadi pelabuhan bandar yang
besardan pesat. Kepesatan ini dibuktikan dengan adanya tiga pasar
disekitar kota. Pasar dibelah timur, didaerah karangantu, darah ini
menjadi pusat transaksi antara pedagang dari portugis, arab, turki, china,
birma, melayu, benggala, gujarat, malabar, dan nusantara. Diwilayah
masjid agung, wilayah ini pusat penjualan rempah- rempah, buah-
buahan, textil, hewan, sayu mayur,dan berbagai macam senjata. Dan
pasar yang ketiga di daerah pecinan, yang dibuka sepanjang hari hingga
larut malam.
Pada masa pemerintahan Maualana Yusuf, banten bertambah
maju. Beliau berhasil menjadikan daerahnya menjadi daerah pergudangan
atau penyimpanan barang yang akan didistribusikan ke berbagai wilayah.
Selain itu pada masa pemerintahannya, sektor pertanian mengalami
perkembangan yang pesat. Dalam hal pengairan, baik untuk keperluan
penduduk maupun keperluan pertanian, pemerintah membuat saluran
irigasi dan membuat bendungan tasirkandi. Kemajuan ini terus
berkembang hingga mencapai puncak kejayaan pada masa sultan ageng
tirtayasa (1631-1692)1. Hingga akhirnya runtuh pada tahun 1813, yang
saat itu dipimpin oleh muhammad muhyiddin zainusshalih yang disuruh
dan dipaksa menurunkan tahtanya oleh rafles dan diasingkan ke batavia,
hingga akhirnya banten resmi dihapuskan .

B. Cirebon dalam pengaruh Banten


Setelah sunan gunung jati wafat, maka terjadilah kekosongan pemimpin
keraton cirebon. Pada awalnya, calon kuat adalah cucu sunan gunung jati,
putra pangeran pasarean yaitu dipati cirebon. Namun sayang meninggal
terlebih dahulu. Hingga akhirnya diangkatlah fathillah sebagai sultan
cirebon pada tahun 1568, dan hanya memimpin selama dua tahun, dan
meninggal pada tahun 1570.
Sepeninggal Fatahillah, keraton jatuh pada pangeran Emas,
putra tertua dipati carbon sekaligus cicit kanjeng sinuwun, yang
mendapat gelar Panembahan ratu I. Panembahan ratu I memerintah
selama 79 tahun. Pada masanya, sultan memfokuskan pada pendidikan
agama daripada ekonomi dan politik. Beliau banyak berperan sebaga
ulama daripada sebagai sultan. Sehingga pengaruh politiknya kalah oleh
mataram, sehingga berujung pada penguasaan mataram atas cirebon,
dan cirebon hanya menjadi vatsal mataram.
Sepeninggal panembahan ratu I, pimpinan dipegang oleh
cucunnya, yang mendapat gelar panembahan Ratu II ataun diknal dengan
panembahan girilaya. Dan pada tanggal 1 oktober 1684, panembahan
girilaya dan kedua putranya berangkat ke mataram guna
pengangkatannya sebagai sultan. Namun sesampainya dimataram
ketiganya tidak diperbolehkan kembali kecirebon, catatan menerangkan,
hal ini dikarenakan kekhawatitan sultan mataram, Amangkurat I. Karena
sultan mataram merasa cirebon tidak sepenuhnya mendekat kepada
matara. Hingga panembahan girilaya meninggal di mataram. Sementara
kesultaan cirebon dipimpin oleh pangeran wangsakerta.
Melihat keadaan demikian, pangeran wangsakerta merasa
khawatir dengan keadaan kedua kakaknya, hingga akhirnya meminta

1 Irma susilowati,dkk. Seru dan unik ala kota nusantara.(Tiga Ananda:Solo,2011)


hal 65-68
bantuan kepada kesultanan banten yang saat itu sedang mengalami
kejayaan, yakni masa penguasa sultan ageng tirtayasa, pada tanggal 17
september1677, dan akhirnya sultan mengiyakan dan mengabulkan
permintaan pangeran cirebon tersebut karena sultan menganggap ini
adalah peluang untuk memperbaiki diplomasi antara cirebon dengan
banten. Karena banten merasa, cirebon lebih dekat dengan mataram.
Hingga membuat hubungan antara keduanya merenggang. Hingga sultan
menganggap ini adalah peluang untuk memperbaiki hubungan.
Saat banten datang ke mataram, untuk menyelamatkan kedua
pangeran cirebon tersebut, mataram sedang menghadapi pemberontakan
trunojoyo dari madura dibantu dengan pelarian dari mataram, sehingga
tidak membutuhkan waktu lama untuk membawa pulang kedua pangeran
cirebon tersebut.
Setibanya di banten. Kedua pengeran ini dilantik menjadi sultan,
dan membagi cirebon menjadi tiga kerajaan. Setelah pengangkatan
tersebut, dua pangeran dikembalikan ke cirebon. Pembagian kekuasaan
ini memiliki tujuan, yang pertama, adalah agar cirebon menjadi buffer
bagi banten, dan yang kedua, agar cirebon tidak mendekatkan diri dengan
mataram, karena terdapat tiga kerajaan, yang berbeda pemimpin.
Setelah pemabagian kekuasaan kepada tiga pangeran tersebut
keadaan cirebon bertambah buruk, karena sering terjadi perang saudara
antara kerajaan- kerajaan tersebut. Dan tidak saling peduli antara ketiga
kerajaan tersebut karena memimpin kerajaan sendiri- sendiri hingga tidak
peduli kesusahan satu sama lain. Hingga akhirnya VOC datang dan
merebut cirebon, sedangkan sultan hanyalah simbol, sedangkan penentu
kebijakan adalah fihak VOC2.

2Zamzami Amin. Sejarah pesantren babakan ciwaringin dan perang


kedongdong 1802-1919. (Humaniora:Bandung,2015). Hal. 64-69. cet. 4
DAFTAR PUSTAKA

Irma Susilowati,dkk. Seru dan unik ala kota nusantara.(Tiga


Ananda:Solo,2011) cet. _pertama
Zamzami Amin. Sejarah pesantren babakan ciwaringin dan perang
kedongdong 1802-1919. (Humaniora:Bandung,2015) cet. 4
http://kumpulantugassejarah.blogspot.com/2011/penyebaran islam-
dikerajaan-cirebon.html