Anda di halaman 1dari 24

MANAJEMEN OBAT

OBAT PHENYTHOIN

Indikasi : Terapi semua jenis epilepsi, kecuali absence seizures

Interaksi obat : Kadar dalam serum meningkat oleh amiodaron, kloramfenikol,


klordiazepoksid, diazepam, dikumarol, disulfiram, halotan, INH, metilfenidat,
fenilbutazon, fenotiazin, salisilat, etosuksimid, sulfonamid, tolbutamid, trazodon,
estrogen, antagonis H2, asupan alkohol akut. Kadar dalam serum berkurang oleh
karbamazepin, penyalahgunaan alkohol kronik, reserpin, dan sukralfat.
Phenobarb, Na valproat, asam valproat dapat meningkatkan atau menurunkan
kadar fenitoin serum. Dapat mengganggu efikasi kortikosteroid, antikoagulan
kumarin, digitoksin, doksisiklin, furosemid, simetidin, rifamfisin, teofilin,
estrogen, kontrasepsi oral, vitamin D

Bagi wanita hamil, sesuaikan dosis dengan anjuran dokter. Sedangkan bagi wanita
yang sedang menyusui, disarankan untuk tidak mengonsumsi phenytoin.

Harap berhati-hati bagi penderita gangguan hati dan penderita suatu jenis
gangguan darah yang disebut porfiria.

SOP PEMBERIAN PHENYTOIN 100 mg

1. Pengertian :
Phenytoin adalah obat yang digunakan untuk mencegah serangan epilepsi.
Terjadinya kejang pada penderita epilepsi disebabkan oleh gangguan pada
aktivitas elektrik di dalam otak.. Phenytoin dapat dikonsumsi sebelum
makan. Namun agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal,
sebaiknya konsumsi ketika atau sesudah makan.Pastikan ada jarak waktu
yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Usahakan untuk
mengonsumsi phenytoin pada jam yang sama tiap hari untuk
memaksimalisasi efeknya.Bagi pasien yang lupa mengonsumsi phenytoin,
disarankan segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis
berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan menggandakan dosis phenytoin pada
jadwal berikutnya untuk mengganti dosis yang terlewat. Gunakan produk
nutrisi terpisah cair setidaknya 1 jam sebelum dan 1 jam setelah konsumsi
dosis Phenytoin. Tablet ini dapat dikunyah atau digerus secara menyeluruh

2. Tujuan :
Membuat penderita terbebas dari serangan, khususnya serangan kejang,
sedini/seawal mungkin tanpa mengganggu fungsi normal susunan saraf
pusat agar penderita dapat menunaikan tugasnya tanpa adanya gangguan.
a Peralatan
1) Baki berisi obat-obatan
2) Buku rencana pengobatan
3) Mangkuk disposabel buat tempat obat
4) Pemotong obat (apabila diperlukan)
5) Martil & lumpang penggerus
6) Gelas & air minum
7) Sedotan
8) Spuit sesuai ukuran
9) Sendok
10) Pipet
b Prosedur Kerja
1) Mengecek program terapi
2) Mencuci tangan
3) Menyiapkan alat
4) Mengucapkan salam kepapada pasien & keluarga serta sapa nama
pasien.
5) Menjelaskan tujuan & prosedur pelaksanaan.
6) Menanyakan apakah pasien setujuan/kesiapan pasien.
7) Menjaga privasi pasien.Menyiapkan peralatan & cuci tangan
8) Mengkaji kemampuan pasien apakah mampu untuk dapat minum
obat per oral.
9) Mengecek kembali order pengobatan ( nama pasien, nama dosis
obat, & waktu cara pemberian ), memeriksa tanggal kadaluarsa
obat.
10) Mengambil obat sesuai yg diperlukan.
11) Menyiapkan obat yg akan diberika pada pasien.
12) Memutar obat/ bolak balik agar tercampur rata sebelum dituangkan
13) Membuka penutup botol & meletakkan menghadap ke atas.
14) Memegang botol obat sehingga sisi labelnya akan berada pada
telapak tangan, & menuangkan obat ke arah menjauh dari label
15) Menuangkan obat banyaknya yg difungsikan ke dalam mangkuk
obat yang telah tersedia.
16) Sebelum menutup botol, alangkah baiknya jika mengusap bagian
bibir botol dengan kertas tisue.Memberikan obat pada waktu &
cara yg benar.
17) Mencatat obat yg sudah diberikan.
18) Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah diberikan kepada
pasien.
19) Berpamitan dengan pasien atau keluarga (apabila ada)
20) Membereskan alat.
21) Mencuci tangan kembali
22) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

OBAT METHYLDOPA

Metildopa termasuk kelompok obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan


darah. Tekanan darah tinggi, atau yang biasa disebut hipertensi, bisa merusak
pembuluh darah. Selain itu, hipertensi juga bisa membebani kerja jantung. Obat
ini bekerja untuk mengurangi tekanan darah dengan cara melemaskan dan
melebarkan pembuluh darah, akibatnya darah dan oksigen bisa bersirkulasi lebih
bebas dalam tubuh. Menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dapat
menurunkan risiko gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Metildopa adalah obat
pilihan untuk mengatasi hipertensi saat kehamilan, karena tidak berbahaya bagi
perkembangan janin. Namun, Anda tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk
menentukan dosis yang tepat.

Wanita yang sedang merencanakan kehamilan, sedang hamil, atau


menyusui, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi
metildopa.
Sebaiknya tidak mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan alat
berat, karena obat ini bisa menyebabkan kantuk.
Harap berhati-hati bagi yang memiliki gangguan hati dan ginjal,
phaeochromocytoma (tumor yang berasal dari sel-sel kromafin kelenjar
adrenal), porfiria (salah satu jenis kelainan darah), depresi, atau sedang
mengonsumsi obat lain.

SOP PEMBERIAN METHYLDOPA


1. Pengertian
Pemberian obat oral merupakan pemberian obat melalui mulut. Pada
penggunaan per oral methyldopa diserap dengan cepat melalui saluran
cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit
sampai 60 menit setelah pemberian methyldopa
diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan
dan sebagian besar dalam bentuk terkonyugasi.
2. Tujuan
a. Menyediakan obat yg memiliki efek lokal.
b. Menghindari pemberian obat yg akan menyebabkan kerusakan kulit &
jaringan
c. Menghindari pemberian obat yg mampu menyebabkan nyeri
3. Peralatan
a. Baki berisi obat-obatan
b. Buku rencana pengobatan
c. Mangkuk disposabel buat tempat obat
d. Pemotong obat (apabila diperlukan)
e. Martil & lumpang penggerus
f. Gelas & air minum
g. Sedotan
h. Spuit sesuai ukuran
i. Sendok
j. Pipet
4. Prosedur Kerja
a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
c. Menyiapkan alat
d. Mengucapkan salam kepapada pasien & keluarga serta sapa nama
pasien.
e. Menjelaskan tujuan & prosedur pelaksanaan.
f. Menanyakan apakah pasien setujuan/kesiapan pasien.
g. Menjaga privasi pasien.Menyiapkan peralatan & cuci tangan
h. Mengkaji kemampuan pasien apakah mampu untuk dapat minum obat
per oral.
i. Mengecek kembali order pengobatan ( nama pasien, nama dosis obat,
& waktu cara pemberian ), memeriksa tanggal kadaluarsa obat.
j. Mengambil obat sesuai yg diperlukan.
k. Menyiapkan obat yg akan diberika pada pasien.
l. Memutar obat/ bolak balik agar tercampur rata sebelum dituangkan
m. Membuka penutup botol & meletakkan menghadap ke atas.
n. Memegang botol obat sehingga sisi labelnya akan berada pada telapak
tangan, & menuangkan obat ke arah menjauh dari label
o. Menuangkan obat banyaknya yg difungsikan ke dalam mangkuk obat
yang telah tersedia.
p. Sebelum menutup botol, alangkah baiknya jika mengusap bagian bibir
botol dengan kertas tisue.
q. Memberikan obat pada waktu & cara yg benar.
r. Mencatat obat yg sudah diberikan.
s. Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah diberikan kepada pasien.
t. Berpamitan dengan pasien atau keluarga (apabila ada)
u. Membereskan alat.
v. Mencuci tangan kembali
w. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

OBAT PARACETAMOL

Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara


kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP) .
Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan
tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam
sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana
Darsono,2002)

Indikasi :Parasetamol merupakan pilihan lini pertama bagi


penanganan demam dan nyeri sebagai antipiretik dan analgetik. Parasetamol
digunakan bagi nyeri yang ringan sampai sedang.(Cranswick 2000)

Kontra Indikasi :Penderita gangguan fungsi hati yang berat dan penderita
hipersensitif terhadap obat ini. (Yulida,2009)

SOP PEMBERIAN PARACETAMOL

1. Pengertian
Pemberian obat oral merupakan pemberian obat melalui mulut. Pada
penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran
cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit
sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui
ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar
dalam bentuk terkonyugasi.
2. Tujuan
a. Menyediakan obat yg memiliki efek lokal.
b. Menghindari pemberian obat yg akan menyebabkan kerusakan kulit &
jaringan
c. Menghindari pemberian obat yg mampu menyebabkan nyeri
3. Peralatan
a. Baki berisi obat-obatan
b. Buku rencana pengobatan
c. Mangkuk disposabel buat tempat obat
d. Pemotong obat (apabila diperlukan)
e. Martil & lumpang penggerus
f. Gelas & air minum
g. Sedotan
h. Spuit sesuai ukuran
i. Sendok
j. Pipet
4. Prosedur Kerja
a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
c. Menyiapkan alat
d. Mengucapkan salam kepapada pasien & keluarga serta sapa nama
pasien.
e. Menjelaskan tujuan & prosedur pelaksanaan.
f. Menanyakan apakah pasien setujuan/kesiapan pasien.
g. Menjaga privasi pasien.
h. Menyiapkan peralatan & cuci tangan
i. Mengkaji kemampuan pasien apakah mampu untuk dapat minum obat
per oral.
j. Mengecek kembali order pengobatan ( nama pasien, nama dosis obat,
& waktu cara pemberian ), memeriksa tanggal kadaluarsa obat.
k. Mengambil obat sesuai yg diperlukan.
l. Menyiapkan obat yg akan diberika pada pasien.
m. Memutar obat/ bolak balik agar tercampur rata sebelum dituangkan
n. Membuka penutup botol & meletakkan menghadap ke atas.
o. Memegang botol obat sehingga sisi labelnya akan berada pada telapak
tangan, & menuangkan obat ke arah menjauh dari label
p. Menuangkan obat banyaknya yg difungsikan ke dalam mangkuk obat
yang telah tersedia.
q. Sebelum menutup botol, alangkah baiknya jika mengusap bagian bibir
botol dengan kertas tisue.
r. Memberikan obat pada waktu & cara yg benar.
s. Mencatat obat yg sudah diberikan.
t. Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah diberikan kepada pasien.
u. Berpamitan dengan pasien atau keluarga (apabila ada)
v. Membereskan alat.
w. Mencuci tangan kembali
x. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

OBAT NIFEDIPINE

Nifedipine merupakan antagonis kalsium (calcium channel Mocker) yang berefek


mengurangi konsumsi oksigen jantung, memperbaiki toleransi latihan pada pasien
angina pektoris. mengurangi kebutuhan nitroglisenn dan mengurangi perubahan
iskemik jantung saat benstirahat dan beraktivitas. Pada pasien hipertensi,
nifedipine menurunkan resistensi penfer serta tekanan darah sistolik dan diastolik,
meningkatkan volume per menit dan kecepatan jantung, juga mengurangi
resistensi koroner, meningkatkan aliran koroner dan menurunkan konsumsi
oksigen jantung. Efek antihipertensi dari nifedipine dalam dosis tunggal oral
memberi onsef sangat cepat dalam waktu 15-30 menit dan berlangsung selama 6-
12 jam.

Indikasi :Pengobatan dan pencegahan insufisiensi koroner (terutama


angina pektoris setelah infark jantung) dan sebagai terapi tambahan pada
hipertensi.

Kontraindikasi:Hipersentivitas terhadap nifedipine, karena pengalaman yang


terbatas, pemberian nifedipine pada wanita hamil hanya dilakukan dengan
pertimbangan yang hati hati.

Interaksi obat mekanisme kerja obat:

Penggunaan nifedipine bersamaan dengan p-bloker mempotensiasi efek


antihipertensi nifedipine.
Penggunaan niofedipine bersamaan dengan p-bloker pada pasien dengan
insufisiensi jantung ,terapi harus dimulai dengan dosis kecil dan pasien
harus dimonitor dengan sangat hati-hati.
Penggunaan nifedipine bersamaan dengan simetidin (tidak pada ranitidine)
meningkatkan konsentrasi plasma dan efek antihipertensi nifedipine

SOP PEMBERIAN NIFEDIPINE


1. Pengertian
Pemberian obat oral merupakan pemberian obat melalui mulut. Pada
penggunaan per oral nifedipin diserap dengan cepat melalui saluran cerna.
Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60
menit setelah pemberian.
2. Tujuan
a. Menyediakan obat yg memiliki efek lokal.
b. Menghindari pemberian obat yg akan menyebabkan kerusakan kulit &
jaringan
c. Menghindari pemberian obat yg mampu menyebabkan nyeri
3. Peralatan
a. Baki berisi obat-obatan
b. Buku rencana pengobatan
c. Mangkuk disposabel buat tempat obat
d. Pemotong obat (apabila diperlukan)
e. Martil & lumpang penggerus
f. Gelas & air minum
g. Sedotan
h. Spuit sesuai ukuran
i. Sendok
j. Pipet
4. Prosedur Kerja
a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
c. Menyiapkan alat
d. Mengucapkan salam kepapada pasien & keluarga serta sapa nama
pasien.
e. Menjelaskan tujuan & prosedur pelaksanaan.
f. Menanyakan apakah pasien setujuan/kesiapan pasien.
g. Menjaga privasi pasien.Menyiapkan peralatan & cuci tangan
h. Mengkaji kemampuan pasien apakah mampu untuk dapat minum obat
per oral.
i. Mengecek kembali order pengobatan ( nama pasien, nama dosis obat,
& waktu cara pemberian ), memeriksa tanggal kadaluarsa obat.
j. Mengambil obat sesuai yg diperlukan.
k. Menyiapkan obat yg akan diberika pada pasien.
l. Memutar obat/ bolak balik agar tercampur rata sebelum dituangkan
m. Membuka penutup botol & meletakkan menghadap ke atas.
n. Memegang botol obat sehingga sisi labelnya akan berada pada telapak
tangan, & menuangkan obat ke arah menjauh dari label
o. Menuangkan obat banyaknya yg difungsikan ke dalam mangkuk obat
yang telah tersedia.
p. Sebelum menutup botol, alangkah baiknya jika mengusap bagian bibir
botol dengan kertas tisue.Memberikan obat pada waktu & cara yg
benar.
q. Mencatat obat yg sudah diberikan.
r. Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah diberikan kepada pasien.
s. Berpamitan dengan pasien atau keluarga (apabila ada)
t. Membereskan alat.
u. Mencuci tangan kembali
v. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

OBAT CEFTRIAXONE

Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin generasi ketiga, ceftriaxone dapat


dilarutkan dengan NaCl 0,9% atau d5W. Konsentrasi dalam pelarut 1 gr
Ceftriaxone dalam 10 cc d5 atau NaCl 0,9% = 100mg/ml. Stabilitas Ceftriaxone
yang sudah dicampur dapat disimpan dalam suhu kamar 25OC selama 2 hari, dan
10 hari dalam lemari pendingin 5oC. Ceftriaxone dapat disimpan dalam suhu
kamar atau lemari pendingin.

Indikasi : untuk mengobati beberapa kondisi akibat infeksi bakteri, seperti


pneumonia, sepsis, meningitis, infeksi kulit, gonorrhea, dan infeksi pada pasien
dengan sel darah putih yang rendah, atau diberikan kepada pasien yang akan
menjalani pembedahan untuk mencegah terjadinya infeksi.

Kontraindikasi: hipersensitif terhadap cephalosporin, atau hipersensitif terhadap


penisilin.

SOP PEMBERIAN OBAT CEFTRIAXONE

1. Pengertian
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke
dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit.
2. Tujuan
a. Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada dengan
injeksi parenteral lain.
b. Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
c. Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar
3. Tempat injeksi
a. Pada lengan (vena basalika dan vena sefalika)
b. Pada tungkai (vena saphenous)
c. Pada leher (vena jugularis)
d. Pada kepala (vena frontalis atau vena temporalis)

4. Peralatan
a. Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
b. Kapas alcohol
c. Sarung tangan
d. Obat ceftriaxone 1 gr
e. Spuit 10 cc 1 buah
f. Bak spuit/ bak instumen
g. Baki obat
h. Perlak pengalas
i. Bengkok
j. Plastik sampah

5. Prosedur kerja
a. Cuci tangan
b. Siapkan obat dengan prinsip 7 benar
c. Salam terapeutik
d. Identifikasi klien
e. Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
f. Atur klien pada posisi yang nyaman
g. Cek kondisi tusukan dan kelancaran infus pasien
h. Pasang perlak pengalas
i. Pakai sarung tangan
j. Matikan tetesan infus pasien
k. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol,
dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter
sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
l. Berikan obat Ceftriaxone secara bolus dengan perlahan- lahan
m. Amati reaksi pasien
n. Tutup kembali area venflon
o. Kembalikan posisi klien dan atur kembali tetesan infus pasien
p. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan ke dalam bengkok
q. Buka sarung tangan
r. Cuci tangan
s. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
t. Evaluasi kembali reaksi pasien setelah pemberian obat (tanda-tanda
alergi).

OBAT FUROSEMIDE

Obat furosemide tidak boleh dicampur dengan larutan asam. Furosemide


kompatibel dengan NaCl 0,9% dan lebih disukai dengan RL. Simpan furosemide
pada suhu ruangan 25oC, jauhkan dari cahaya matahari langsung dan tempat
lembab. Jangan dibekukan. Obat furosemide bisa berinteraksi dengan phenytoin.

Indikasi : terapi tambahan pada edema, digunakan jika ingin terjadi diuresis
lebih cepat dan tidak memungkinkan diberikan obat oral.

Kontraindikasi: tidak boleh diberikan pada pasien dengan alergi obat sulfa,
anemia, terdapat masalah BAK, dehidrasi, hipokalemi, hipokalsemi, hipotensi,
DM, asam urat, anuria, gangguan ginjal berat.

SOP PEMBERIAN OBAT FUROSEMIDE

1. Pengertian
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke
dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit.
2. Tujuan
a. Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada dengan
injeksi parenteral lain.
b. Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
c. Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar
3. Tempat injeksi
a. Pada lengan (vena basalika dan vena sefalika)
b. Pada tungkai (vena saphenous)
c. Pada leher (vena jugularis)
d. Pada kepala (vena frontalis atau vena temporalis)
4. Peralatan
a. Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
b. Kapas alcohol
c. Sarung tangan
d. Obat furosemide 4 mg= 2 cc @1ampul
e. Spuit 3cc 1 buah
f. Bak spuit/ bak instumen
g. Baki obat
h. Perlak pengalas
i. Bengkok
j. Plastik sampah

5. Prosedur kerja
a. Cuci tangan
b. Siapkan obat dengan prinsip 7 benar
c. Salam terapeutik
d. Identifikasi klien
e. Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
f. Atur klien pada posisi yang nyaman
g. Cek kondisi tusukan dan kelancaran infus pasien
h. Pasang perlak pengalas
i. Pakai sarung tangan
j. Matikan tetesan infus pasien, bila infus pasien NaCl 0,9% atau RL
tidak perlu dilakukan pembilasan, bila infus selain NaCl 0,9% atau RL,
lakukan pembilasan dengan NaCl 0,9%.
k. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol,
dengan gerakan sirkuler dari arah dalam keluar dengan diameter
sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metode ini dilakukan untuk
membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme.
l. Berikan obat furosemide secara bolus dengan perlahan- lahan
m. Amati reaksi pasien
n. Tutup kembali area venflon
o. Kembalikan posisi klien dan atur kembali tetesan infus pasien
p. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan ke dalam bengkok
q. Buka sarung tangan
r. Cuci tangan
s. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
t. Evaluasi kembali reaksi pasien setelah pemberian obat (tanda-tanda
alergi).

KA-EN 4B

Indikasi : Suplai cairan & elektrolit utk bayi & anak <3 thn atau BB <15 kg,
dengan retensi kalium. Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga
meminimalkan risiko hipokalemia. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Kontraindikasi: Muatan natrium yg berlebihan, cedera hati berat, sindrom


malabsorpsi glukosa-galaktosa, aritmia jantung, hiperkalemia, oliguria, penyakit
Addison, luka bakar berat & azotemia.

(MIMS, 2016)
SOP Pemberian Cairan KA-EN 4B 1000 cc
1. Pengertian
Pemberian cairan KA-EN 4B ialah dengan teknik pemasangan infus.
Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan
untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien.
2. Tujuan
Tujuan utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti
cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan
kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan
mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan
asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk
pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parenteral.

3. Tempat pemberian
Menurut Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang
sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau
perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling
mudah untuk terapi intravena. Daerah tempat infus yang memungkinkan
adalah permukaan dorsal tangan (vena supervisial dorsalis, vena basalika,
vena sefalika), lengan bagian dalam (vena basalika, vena sefalika, vena
kubital median, vena median lengan bawah, dan vena radialis), permukaan
dorsal (vena safena magna, ramus dorsalis).

4. Peralatan dan bahan

a. Standar Infus

b. Set Infus

c. Cairan sesuai program medik

d. Jarum infus dengan ukuran yang sesuai

e. Pengalas

f. Torniket
g. Kapas alkohol

h. Plester

i. Gunting

j. Kasa steril

k. Betadin

l. Sarung tangan

5. Prosedur kerja
Standar Operating Procedure (SOP) memasang selang infus di RSUP Dr
Kariadi Semarang adalah:
a. Cuci tangan
b. Dekatkan alat
c. Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan
dirasakan selama pemasangan infus
d. Atur posisi pasien / berbaring
e. Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang
infus dan gantungkan pada standar infus
f. Menentukan area vena yang akan ditusuk
g. Pasang alas
h. Pasang tourniket pembendung 15 cm diatas vena yang akan
ditusuk
i. Pakai sarung tangan
j. Desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
k. Tusukan IV catheter ke vena dengan jarum menghadap ke jantung
l. Pastikan jarum IV masuk ke vena
m. Sambungkan jarum IV dengan selang infus
n. Lakukan fiksasi ujung jarum IV ditempat insersi
o. Tutup area insersi dengan kasa kering kemudian plester
p. Atur tetesan infus sesuai program medis (1000 cc/24 jam) yakni
14 tpm
q. Lepas sarung tangan
r. Pasang label pelaksanaan tindakan yang berisi: nama pelaksana,
tanggal dan jam pelaksanaan
s. Bereskan alat
t. Cuci tangan
u. Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi
keperawatan
Pencegahan komplikasi pemasangan terapi intravena.
Menurut Hidayat (2008), selama proses pemasangan infus perlu
memperhatikan hal-hal untuk mencegah komplikasi yaitu :
a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru
b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda
infeksi
c. Observasi tanda/reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan
e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir
f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum
infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus
g. Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas
plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu)
h. Gunakan alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik
sterilisasi dalam pemasangan infuse
i. Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena
yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak
stabil
j. Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus dengan tepat
k. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan
millimeter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit.

(Unimus, 2014)

D5-1/2 NS

D5 Ns adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan


serum (cairan hipertonis), sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan
dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah,
meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Cairan ini
mengandung Per 1000 ml glukosa 55 gram, NaCl 4,5 gram, air untuk
larutan injeksi ad 1.000 ml dengan PH 4,4.

Pemberian cairan ini harus dibarengi dengan pemantauan kadar osmolalitas darah.
Osmolalitas darah yang terlalu tinggi akan meningkatkan risiko gagal ginjal
(terutama pada pasien yang sebelumnya sudah mengalami vollyrfg depletion).
Kadar osmolalitas serum tidak boleh lebih dan 320 mOsmol/L.

Pada pemberian infus ini perlu dipantau adanya tromboflebitis (pada pH larutan
rendah, iritasi atau infeksi pada tempat. Trombosis atau flebitis vena yang meluas
dari tempat penyuntikan dan ekstravasasi.

Indikasi
Untuk mengatasi dehidrasi, menambah kalori, dan mengembalikan keseimbangan
elektrolit (natrium dan klorida).

Kontraindikasi
Hipernatremia, asidosis, hipokalemia, diabetes mellitus, sindrom malabsorbsi
glukosa-galaktosa. Dalam penggunaan kontradiktif dengan cairan hipotonis.

SOP Pemberian Cairan D5 Ns 1500 cc/24 jam


A. Pengertian
Pemberian terapi cairan D5 Ns dapat diberikan dengan teknik
pemasangan infus. Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian
dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh
pasien
B. Tujuan
Tujuan utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti
cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan
kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan
mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan
asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk
pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parenteral.
C. Tempat pemberian
Dapat diberikan pada vena sentral maupun perifer. Namun, Cairan D5
NS tergolong dalam cairan hipertonis sehingga disarankan untuk diberikan
pada vena sentral jika digunakan dalam jangka panjang karena sifatnya
dapat mengiritasi.
D. Peralatan dan bahan

a. Standar Infus
b. Set Infus

c. Cairan sesuai program medik

d. Jarum infus dengan ukuran yang sesuai

e. Pengalas

f. Torniket

g. Kapas alkohol

h. Plester

i. Gunting

j. Kasa steril

k. Betadin

l. Sarung tangan

E. Prosedur kerja
Standar Operating Procedure (SOP) memasang selang infus di RSUP Dr
Kariadi Semarang adalah:
a. Cuci tangan
b. Dekatkan alat
c. Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan
dirasakan selama pemasangan infus
d. Atur posisi pasien / berbaring
e. Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang
infus dan gantungkan pada standar infus
f. Menentukan area vena yang akan ditusuk
g. Pasang alas
h. Pasang tourniket pembendung 15 cm diatas vena yang akan
ditusuk
i. Pakai sarung tangan
j. Desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
k. Tusukan IV catheter ke vena dengan jarum menghadap ke jantung
l. Pastikan jarum IV masuk ke vena
m. Sambungkan jarum IV dengan selang infus
n. Lakukan fiksasi ujung jarum IV ditempat insersi
o. Tutup area insersi dengan kasa kering kemudian plester
p. Atur tetesan infus sesuai program medis (1500 cc/24 jam) yakni 21
tpm
q. Lepas sarung tangan
r. Pasang label pelaksanaan tindakan yang berisi: nama pelaksana,
tanggal dan jam pelaksanaan
s. Bereskan alat
t. Cuci tangan
u. Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi
keperawatan

(Unimus, 2014)

KCL ( Kalium Clorida)

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung
dan tempat yang lembap,Jangan dibekukan .Kalium klorida mungkin berinteraksi
dengan spironolactone, triamterene, atau amilorid, karena pemberian secara
serentak produk-produk ini dapat menghasilkan hiperkalemia berat. Larutan KCl
IV inkompatibel dengan protein hidrosilat, perak dan garam merkuri. Kelarutan :
Larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas, praktis tidak larut dalam eter,
etanol dan alkohol.

Kcl termasuk obat-obatan high alert jadi hanya disimpan di ruang rawat intensif
(ICU,PICU,HND) dan di tempat yang ditandai stiker merah. Obat high alert
tersebut diberi stiker high alert berwarna merah dan khusus untuk larutan
elektrolit pekat juga diberi penandaan stiker yang bertuliskan elektrolit
pekat,harus diencerkan sebelum diberikan

Pada pemberian kcl ini perlu dipantau adanya tromboflebitis dan ekstravasasi
akibat dari pemberian kcl

Kontra indikasi: Kerusakan ginjal yang berat kadar plasma kalium diatas 5
mmol/L. Allergi terhadap obat, penyakit Addisons, dehidrasi akut, kadar serum
kalium dalam darah tinggi
Indikasi : Mengatasi kekurangan/penurunan kadar kalium darah. Penggantian
kehilangan kalium terutama diperlukan :

1. Pada penggunaan digoksin atau obat-obatan anti arrhytmia, hal ini karena
kekurangan kalium dapat menginduksi aritmia

2. Pada pasien dengan hiperaldosteronis sekunder, misalnya stenosis arteri ginjal,


sirosis hati, sindrom nefrotik dan gagal jantung yang berat

3. Pada pasien yang banyak kehilangan kalium melalui feses, seperti : diare kronik
yang berhubungan dengan intestinal malabsorpsi atau penyalahgunaan laksatif

Kalium klorida adalah obat suplemen mineral dengan fungsi untuk mengobati
atau mencegah jumlah kalium yang rendah dalam darah.

SOP PEMBERIAN KCL

A. Pengertian
Kalium klorida adalah obat suplemen mineral dengan fungsi untuk
mengobati atau mencegah jumlah kalium yang rendah dalam darah.
B. Tujuan
Kalium juga diberikan untuk mengatasi kekurangan kalium pada penderita
lanjut usia karena asupan kalium yang kurang memadai (lihat peringatan
pada insufisiensi ginjal). Selain itu juga diperlukan selama penggunaan
obat jangka panjang yang diketahui dapat menginduksi kehilangan kalium
(seperti kortikosteroid). Suplemen kalium jarang diperlukan pada
penggunaan dosis rendah diuretik pada pengobatan hipertensi; untuk
mencegah terjadinya hipokalemia pada penggunaan diuretik seperti
furosemid atau tiazida untuk menghilangkan oedema, lebih
direkomendasikan penggunaan diuretik hemat kalium dari pada
memberikan penambahan suplemen kalium pada obat-obat tersebut.
Kekurangan kalium sering berhubungan dengan kekurangan klorida dan
metabolik alkalosis dan gangguan ini memerlukan perbaikan.
C. Tempat pemberian
Dapat diberikan pada vena sentral maupun perifer. larutan elektrolit
pekat,harus diencerkan sebelum diberikan dalam cairan isotonis sehingga
disarankan untuk diberikan pada vena sentral jika digunakan dalam jangka
panjang karena sifatnya dapat mengiritasi.

D. Peralatan dan bahan


a. Melalui infus (infusion pump /drip)
b. Cairan isotonis
c. Obat KCL 50 meq
d. Spuit 20 cc
e. IV cateter no.18/ 20
f. Labeling
g. Kapas alkohol
h. Bengkok
i. Buku catatan pemberian obat

E. Prosedur kerja

a. Ucapkan salam
b. Perkenalkan diri
c. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
(Perawat menjelaskan jenis obat, indikasi, efek samping, kontra
indikasi obat, dosis obat, cara / rute pemberian obat KCL) dengan
menggunakan prinsip 7 benar
b. Tanyakan kesiapan pasien
c. Cuci tangan
d. Dekatkan alat-alat
e. Masukan kcl 50 meq ke dalam spuit 20 cc lalu kcl tsb dicampur
kedalam cairan isotonis,tapi sebelumnya area penusukan di cairan
isotonis tsb di desinfektan kapas alkohol dulu.
f. Beri label di cairan infus tersebut dan stiker high alert
g. Hentikan aliran infus dan lakukan aspirasi,pastikan jalur iv line
baik dengan adanya darah saat melakukan aspirasi,tidak ada
plebitis,tidak ada ektra vasasi.
h. Pasang kcl 50 meq+ cairan isotonis
i. Atur tetesan infus dengan menggunakan/memasang infus
pump(setting infus pump sesuai program)
j. Tempatkan infus pump pada tempat yang terjangkau dan aman
k. Lepas sarung tangan
l. Rapikan pasien
m. Lakukan evaluasi
n. Sampaikan rencana tindak lanjut
o. Berpamitan
p. Bereskan alat
q. Cuci tangan
r. Catat pada lembar dokumentasi perawat

LEVOFLOXACIN 750 mg

Levofloxacin merupakan obat antibiotik:kuinolon.Obat ini kompatible dengan


larutan nacl 0.9 %,dextrose,dan RL. Stabilitas pencampuran 72 jam dalam suhu
ruangan,14 hari dalam lemari pendingin. Bisa disimpan dalam suhu kamar.dalam
lemari pendingin, hindari cahaya langsung. Usahakan untuk memberikan
levofloxacin pada jam yang sama tiap hari untuk memaksimalisasi efeknya.

Indikasi : Sinusitis maksilaris akut, bronkitis kronis dengan eksaserbasi bakteri


akut, pneumonia, infeksi kulit dan struktur kulit tanpa komplikasi, infeksi saluran
kemih dengan komplikasi dan pielonefritis akut. Levofloxacin bekerja dengan
cara menghambat duplikasi DNA bakteri sehingga mencegah perkembangannya.

Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap levofloxacin, epilepsi, riwayat gangguan


tendon, anak-anak dan remaja, serta wanita hamil dan menyusui.

SOP PEMBERIAN OBAT LEVOFLOXACIN

1. Pengertian

Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke


dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit atau drip

2. Tujuan
a. Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada dengan
injeksi parenteral lain.
b. Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
c. Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar

3. Tempat injeksi

a. Pada lengan (vena basalika dan vena sefalika)


b. Pada tungkai (vena saphenous)
c. Pada leher (vena jugularis)
d. Pada kepala (vena frontalis atau vena temporalis)

4. Peralatan
a. Buku catatan pemberian obat atau kartu obat
b. Kapas alcohol
c. Sarung tangan
d. Obat levoflocaxin 750 mg
e. Bak spuit/ bak instumen
f. Baki obat
g. Bengkok
h. Plastik sampah
i. Infus pump

5. Prosedur kerja

a. Cuci tangan
b. Siapkan obat dengan prinsip 7 benar
c. Salam terapeutik
d. Identifikasi klien
e. Beritahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
f. Atur klien pada posisi yang nyaman
g. Cek kondisi tusukan dan kelancaran infus pasien
h. Pakai sarung tangan
i. Matikan tetesan infus pasien
j. Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol, dengan
gerakan sirkuler dari arah dalam. Tunggu sampai kering. Metode ini
dilakukan untuk membuang sekresi dari kulit yang mengandung
mikroorganisme.
k. Berikan obat levofloxacin 750 mg dengan menggunakan infus pump atur
tetesan sesuai program
l. Amati reaksi pasien
Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan ke dalam bengkok
m. Buka sarung tangan
n. Cuci tangan
o. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
p. Evaluasi kembali reaksi pasien setelah pemberian obat (tanda-tanda
alergi).
DAFTAR PUSTAKA

http://www.Dexa-medica.com/our-product/searchs/tricefin diunduh pada 12


Desember 2016

https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ka-en%204b/?type=full#Indications

http://pio.binfar.depkes.go.id/ diunduh 2 Desember 2016

http://formulasisteril.blogspot.co.id/2008/05/preformulasi-infus.html diunduh 2
Desember 2016

https://www.alodokter.com/levofloxacin di unduh 12 desember 2016


MIMS. (2016). KA-EN 4B. Retrieved December 19, 2016, from
http://www.mims.com/indonesia/:
http://www.mims.com/indonesia/drug/info/ka-en%204b/?type=full

Potter, Perry, 2006. Fundamental Keperawatan: Volume 2. Penerbit Buku


Kedokteran EGC: Jakarta

Smeltzer, Suzanne C. 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner


dan Suddarth., Edisi 8, EGC : Jakarta

Unimus. (2014). Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Infus.


Retrieved December 19, 2016, from http://digilib.unimus.ac.id/:
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/132/jtptunimus-gdl-muchaminud-
6570-3-babii.pdf