Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Konsep Perilaku


2.4.1 Pengertian Perilaku
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas
organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari
sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-
tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena
mereka mempunyai aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud
dengan perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas
dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas
antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah,
menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan perilaku (manusia) adalah semua kegiatan
atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang
tidak dapat diamati oleh pihak luar.(Notoadmodjo:2012)

Skinner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku


merupakan repons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan
dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya
stimulus terhadap organism, dan kemudian organisme tersebut
merespon, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus
Organisme Respons.

2.4.2 Perilaku Kesehatan


Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau
objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Dari batasan ini,
perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok :
2.4.2.1 Perilaku Pemeliharaan Kesehatan
Adalah perilaku atau usaha seseorang untuk memelihara atau
menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk
penyembuhan. Oleh sebab itu, perilaku pemeliharaan kesehatan
ini terdiri dari tiga aspek, yaitu :

9
10

a. Perilaku pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit dan


pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seeorang dalam
keadaan sehat. Kesehatan itu sangat dinamis dan relative,
maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan supaya
mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan
minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan
seseorang, tetapi sebaiknya makanan dan minuman dapat
menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan
dapat mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada
perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut. .
(Notoadmodjo:2012)

2.4.1.2 Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas


pelayanan Kesehatan
Adalah upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita
penyakit atau kecelakaan. Tindakan ini dimulai dari mengobati
diri sendiri sampai mencari pengobatan ke luar negeri. .
(Notoadmodjo:2012)

2.4.1.3 Perilaku Kesehatan Lingkungan


Bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan
fisik maupun social budaya, dan sebagainya sehingga
lingkungan tersebuttidak mempengaruhi kesehatannya.
Dengan perkataan lain, bagaimana seseorang mengelola
lingkungannya sehingga mengganggu kesehatannya sendiri,
keluarga, atau masyarakatnya. Misalnya bagaimana mengelola
pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah,
pembuangan limbah dan sebagainya. .(Notoadmodjo:2012)

Seorang ahli lain ( Becker, 1979) membuat klasifikasi lain


tetang perilaku kesehatan ini.
a. Perilaku hidup sehat (healty life style)
11

Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya


atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatannya atau gaya hidup sehatnya.
Perilaku ini mencakup antara lain :
1) Makan dengan menu seimbang (appropriate diet).
Menu seimbang di sini dalam arti kualitas
(mengandung zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh),
dan kuantitas dalam arti jumlahnya cukup untuk
memenuhi kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi juga
tidak lebih). Secara kualitas mungkin di Indonesia
dikenal dengan ungkapan empat sehat lima sempurna.
2) Olahraga teratur, juga mencakup kualitas (gerakan),
dan kuantitas dalam arti frekuensi dan waktu yang
digunakan untuk olahraga atau aktivitas fisik selain
olahraga. Dengan sendirinya kedua aspek ini akan
tergantung dari usia dan status kesehatan yang
bersangkutan.
3) Tidak merokok. Merokok adalah kebiasaan jelek yang
mengakibatkan berbagai macam penyakit. Ironisnya
kebiasaan meroko ini, khususnya di Indonesia, seolah-
olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk
Indonesia usia dewasa merokok. Bahkan dari hasil
suatu penelitian, sekitar 15% remaja kita telah
merokok.
4) Tidak minum-minuman keras dan narkoba. Kebiasaan
minum miras dan mengkonsumsi narkoba (narkotik
dan bahan-bahan berbahaya) juga cenderung
meningkat. Sekitar 1% penduduk Indonesia dewasa ini
diperkirakan sudah mempunyai kebiasaan minum
minuman keras.
5) Istirahat yang cukup. Dengan meningkatnya kebutuhan
hidup akibat tuntutan untuk penyesuaian dengan
lingkungan modern, mengharuskan orang untuk
12

bekerja keras dan berlebihan, sehingga waktu istirahat


berkurang.
6) Mengendalikan stress. Stress akan terjadi pada siapa
saja dan akibatnya bermacam-macam bagi kesehatan.
Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang
keras sperti diuraikan di atas. Kecenderungan stress
akan meningkat pada setiap orang. Stres tidak dapat
kita hindari, yang penting dijaga agar stress tidak
menyebabkan gangguan kesehatan, kita harus dapat
mengendalikan atau mengelola stress dengan kegiatan-
kegiatan yang positif.
7) Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi
kesehatan. Misalnya : tidak berganti-ganti pasangan
dalam hubungan seks, penyesuaian diri kita dengan
lingkungan dan sebagainya.
b. Perilaku sakit (illness behavior)
Perilaku sakit ini mencakup respon seseorang terhadap
sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit,
pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit,
pengobatan penyakit dan sebagainya.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Dari segi sosiologi, orang sakit mempunyai peran yang
mencakup hak-hak orang sakit (right) dan kewajiban
sebagai orang sakit (obligation). Hak dan kewajiban ini
harus diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain
terutama keluarganya) yang selanjutnya disebut perilaku
peran orang sakit (the sick role). Perilaku ini meliputi :
1) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
2) Mengenal/ mengetahui fasilitas atau sarana pelayanan
yang layak
3) Mengetahui hak dan kewajiban orang sakit.
(Notoadmodjo:2012)

2.4.3 Domain Perilaku


13

Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau
rangsangan dari luar organism (orang), namun dalam memberikan respon
sangat tergantung pada karakteristik atau factor-faktor lain dari orang yang
bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama bagi beberapa
orang, namun respon dari tiap-tiap orang berbeda. Factor-faktor yang
membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan
perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi yaitu:
2.4.3.1 Determinan atau factor internal yaitu karakteristik orang yang
bersangkutan yang bersifat given, misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat
emosional, jenis kelamin dan sebagainya
2.4.3.2 Determinan atau factor eksternal yaitu lingkungan baik lingkungan
fisik, social,budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa perilaku adalah totalitas


penghayatan dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama ata
resultant antara berbagai factor baik factor internal maupun eksternal. Dengan
perkataan lain perilaku manusia sangatlah kompleks dan mempunyai
bentangan yang sangat luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi
pendidikan membagi perilaku manusia menjadi tiga domain sesuai dengan
tujuan pendidikan. Bloom menyebutnya ranah atau kawasan yaitu kognitif,
afektif dan psikomotor. Dalam perkembangannya teori Bloom ini
dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yaitu :
2.4.3.1 Pengetahuan ( Knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui pancaindra manusia, yaitu indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang tercakup
dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
14

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dapat
menyebutkan , menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan
sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahu dan dapat diiterpretasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat
diartikan sebagai penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip dan
sebagainya dalam konteks atau situasi lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan marei atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis
ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan
sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi yang baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu
didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan
criteria-kriteria yang sudah ada.
15

2.4.3.2 Sikap ( attitude)


Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap sutu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat
secara langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari
perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya
kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan
sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus
social.

Newcomb, salah seorang ahli psikologis social menyatakan bahwa sikap


itu merupakan suatu kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu
perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan
reaksi terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek
di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
a. Komponen Pokok Sikap
Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap
mempunyai tiga komponen pokok.
1) Kepercayaan (keyakian), ide dan konsep terhadap suatu objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3) Kecenderungan untuk bertindak.

Ketiga komponen ini secara bersam-sama membentuk sikap yang


utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini,
pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan
penting.

b. Berbagai Tingkatan Sikap


Sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu :
1) Menerima (receiving)
Meneerima diartikan bahwa orng mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan.
2) Merespon (responding)
16

Memberikan jawaban apabila dittany, mengerjakan dan


menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari
sikap.
3) Menghargai (valving)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.

2.4.3.3 Praktik atau Tindakan ( Practice)


Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan
factor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara
lain dalah fasilitas. Praktik ini mempunyai beberapa tingakatan,
yaitu :
a. Respon terpimpin (guided response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan
sesuai dengan contoh, merupakan indicator praktik tingkat
pertama.
b. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan
benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan
kebiasaan maka ia sudah mencapai praktik tingkat kedua.
c. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah
berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah
dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.4.4 Determinan Perilaku


Beberapa teori yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perialku
dari analisis factor-faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku
yang berhubungan dengan kesehatan anatara lain :

2.4.4.1 teori Lawrence Green


Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan.
Kesehatan seseorang atau masyarakatdipengaruhi oleh dua factor pokok yaitu
17

factor perilaku (behavior causes) dan factor di luar perilaku (non-behavior


causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari tiga
factor, yaitu :
a. Factor-faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors) yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau
sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat
kontrasepsi, jamban dan sebagainya.
c. Factor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2.4.4.2 Teori Snehandu B.Kar
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa
perilaku itu merupakan fungsi dari :
a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau
perawatan kesehatannya (behavior intention).
b. Dukungan social dari masyarakat sekitarnya (social-support).
c. Ada atau tidak adanya informasi tentangkesehatan atau fasilitas kesehatan
(accessibility of information).
d. Otonomi pribadi, yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan
atau keputusan (personal autonomy).
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action
situation).
2.4.4.3 Teori WHO
Tim kerja dari WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang
berperilaku tertentu adalah karena adanya empat alas an pokok yaitu :
a. Pemahaman dan pertimbangan (thought and feeling) yaitu dalam
bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian
seseorangterhadap objek.
1) Pengetahuan
Pengethun diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman
orang lain.
2) Kepercayaan
Kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek.
Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan
tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
18

3) Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap
objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang
lain yang paling dekat

2.2 Konsep Hipertensi


2.2.1 Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
diastolic lebih dari 90 mmHg atau bila pasien menggunakan obat
hipertensi. (NANDA: 2012)
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
2.2.1.1 Hipertensi Primer
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui
penyebabnya. Terdapat 95% kasus pada hipertensi ini. Factor
yang mempengaruhinya yaitu genetic, lingkungan, hiperaktivitas
saraf simpatis sistem renin angiotensin dan peningkatan Natrium
dan Kalsium intraseluler. Faktor-faktor yang meningkatkan
resiko : obesitas, merokok, alcohol dan polisitemia.
2.2.1.2 Hipertensi Sekunder
Terdapat 5% kasus hipertensi sekunder. Ada penyebab
spesifiknya yaitu penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom
chusing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
(NANDA: 2012)

Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas:


2.2.1.1 Hipertensi di mana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari
140 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar dari
90 mmHg.
2.2.1.2 Hipertensi sistolik terisolasi di mana tekanan sistolik lebih besar
dari 160 mmHg dan tekanan diastolic lebih rendah dari 90
mmHg. (NANDA: 2012)

2.2.2 Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
19

2.2.2.1 Elastisitas dinding aorta menurun


2.2.2.2 Katup jantung menebal dan menjadi kaku
2.2.2.3 Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantungmemompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
2.2.2.4 Kehilangan elastisitas pembuluh darah . hal ini ini terjadi karena
kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
2.2.2.5 Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. (NANDA:
2012)

2.2.3 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
2.2.3.1 Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh
dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak
akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2.2.3.2 Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien
yang mencari pertolongan medis. (NANDA: 2012)

Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :


2.2.3.3 Mengeluh sakit kepala, pusing
2.2.3.4 lemas, kelelahan
2.2.3.5 Sesak nafas
2.2.3.6 Gelisah
2.2.3.7 Mual
2.2.3.8 Muntah
2.2.3.9 Epistaksis
2.2.3.10 Kesadaran menurun. (NANDA: 2012)

2.3 Konsep Diabetes Melitus


2.3.1 Pengertian Diabetes Melitus
American Diabetes Association (ADA) 2010 mendefinisikan Diabetes
Melitus (DM) sebagai suatu kelompok penyakit metabolic dengan
20

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,


kerja insulin atau kedua-duanya. (Ernawati :2013)

Diabetes adalah penyakit gangguan metabolisme glukosa di mana tubuh


gagal atau kurang baik dalam mengontrol glukosa yang masuk dari
makanan sehingga kadar gula darah tinggi. (Aji Prihaningtyas: 2013)

2.3.2 Klasifikasi Diabetes Melitus


Ada klasifikasi lain yang disebut dengan diabetes tipe lain atau diabetes
sekunder. Menurut The American Diabetes Assosiation, diabetes
sekunder disebabkan oleh antara lain penyakit pancreas kronis yang
dialami oleh peminum alcohol, infeksi seperti virus rubella dan CMV,
sindroma genetic tertentu yang menyebabkan gangguan sel beta pancreas
(seperti Maturity Onset Diabetes of the Young atau MODY yang terjadi
sebelum usia 25 tahun), obat-obatan seperti glukokortikoid (obat anti
radang), sindroma resistensi insulin akibat mutasi reseptor insulin
(kelainan genetic pada kerja insulin), sindroma genetic tertentu (seperti
sindrom Down, sindrom Turner, dan sindrom Klinelfelter). (Aji
Prihaningtyas: 2013)

Ada dua jenis diabetes mellitus, yaitu :


2.3.2.1 Diabetes Melitus (DM) Tipe 1
DM tipe 1 terjadi karena pancreas gagal memproduksi insulin.
Tipe 1 sampai kini belum diketahui pasti penyebabnya. Para ahli
mengatakan tipe ini terjadi karena penyakit autoimmune (sel
kekebalan tubuh merusak sel beta pancreas). The American
Diabetes Association (ADA) mengatakan bahwa kerusakan sel
beta pancreas ini bervariasi, mulai dari yang cepat (pada anak
dan bayi) hingga lambat (pada dewasa). Kejadian DM tipe 1
dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan (seperti virus).
2.3.2.2 Diabetes Melitus (DM) Tipe 2
Penderita DM tipe 2 masih bisa menghasilkan insulin, namun
jumlahnya berkurang atau sel tidak mampu menyerap glukosa
( resistensi insulin) sehingga kadar gula darah tinggi. Resistensi
insulin biasanya terjadi pada orang gemuk terutama pada gemuk
21

tipe sentral (apple shape). Jadi, meskipun penderita tidak


mengalai obesitas, biasanya terjadi peningkatan persentase lemak
di sekitar perut . oleh karena itu, meskipun riwayat keluarga juga
turut berperan, gaya hidup adalah penentu utama terjadinya DM
tipe 2. Menurut The American Diabetes Association (ADA),
resiko DM tipe 2 akan meningkat sesuai umur, berat badan,
aktivitas fisik dan wanita yang mengalami diabetes gestasional.
(Aji Prihaningtyas: 2013)

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan terjadinya diabetes antara


lain
2.3.2.1 Prediabetes, yaitu seseorang yang memiliki kadar gula darah
yang lebih tinggi dari normal namun belum memenuhi criteria
diabetes. Prediabetes berisiko menjadi diabetes jika tidak pandai
mengatur pola makan dan aktivitas.
2.3.2.2 Riwayat keluarga
2.3.2.3 Kurangnya aktivitas
2.3.2.4 Berat badan berlebih
2.3.2.5 Usia, semakin tua usia maka semakin tinggi resiko menderita
diabetes
2.3.2.6 Riwayat diabetes gestasional
2.3.2.7 Hipertensi
2.3.2.8 Profil lemak yang tidak normal ( tingginya kadar kolesterol jahat
(LDL), kadar lemak jahat trigliserida dan rendahnya kadar
kolesterol baik (HDL)
2.3.2.9 Sindrom ovarium polikistik
2.3.2.10 Stres
2.3.2.11 Pemakaian obat-obatan
2.3.2.12 Ras, orang Asia seperti Indonesia, India, Cina dan Korea lebih
rentan menderita diabetes
2.3.2.13Sindroma metabolik
2.3.2.14 Rokok
2.3.2.15 Pil KB
2.3.2.16 Kurang tidur. (Aji Prihaningtyas: 2013)

2.1 Konsep Pos Pembinaan Terpadu


2.1.1 Pengertian Pos Pembinaan Terpadu
Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) adalah suatu bentuk pelayanan yang
melibatkan peran serta masyarakat melalui upaya promotif dan preventif
22

untuk mendeteksi dan mengendalikan secara dini keberadaan factor


risiko suatu penyakit. (Puskescilteng.blogspot: 2011)

2.1.2 Pengertian Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular


Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM)
merupakan peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini,
pemantauan faktor risiko PTM yang dilaksanakan terpadu, rutin dan
periodik. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

Posbindu PTM merupakan nama generik dari pengendalian faktor risiko


penyakit tidak menular berbasis masyarakat, oleh karena itu upaya ini
dapat diberi nama lainnya sesuai dengan kebutuhan atau keinginan dari
masing-masing kelompok masyarakat yang menjalankannya. Kegiatan
ini minimal mencakup masalah konsumsi rokok, alkohol, kurang makan
sayur-buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan rumah tangga,
aktifitas fisik, Indeks masa Tubuh (IMT), analisa Lemak tubuh dan
tekanan darah, sedangkan pemantauan lengkap yaitu meliputi
pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol darah, pemeriksaan uji fungsi
paru sederhana, pemeriksaan kadar alcohol pernafasan, tes amfetamin
urin dan IVA. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.2 Tujuan Posbindu


Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan
dini faktor risiko PTM. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.3 Sasaran Kegiatan


Sasaran Posbindu PTM dibagi menjadi 3 kelompok yaitu sasaran utama,
sasaran antara, sasaran penunjang. Pendekatan terhadap ketiga sasaran
tersebut tidak dilakukan satu persatu berurutan, namun harus dilakukan
secara integratif selama proses pelaksanaan.
2.1.3.1 Sasaran Utama
Sasaran utama adalah masyarakat sehat, berisiko, dan
penyandang PTM berusia 15 tahun ke atas.
2.1.3.2 Sasaran Antara
23

Sasaran antara adalah individu/ kelompok masyarakat yang


dapat menjadi agen pengubah factor risiko PTM , dan dapat
menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mencegah dan
mengendalikan factor risiko PTM melalui penyelenggaraan
Posbidu PTM. Sasaran tersebut adalah petugas kesehatan
baik pemerintah maupun swasta, tokoh panutan masyarakat,
anggota organisasi masyarakat yang peduli PTM.
2.1.3.3 Sasaran penunjang
Sasaran penunjang adalah individu, kelompok/ organisasi/
lembaga masyarakat dan profesi, lembaga pendidikan dan
lembaga pemerintahan, yang diharapkan dapat member
dukungan baik dukungan kebijakan, teknologi dan ilmu
pengetahuan, material maupun dana, untuk terwujudnya
Posbidu PTM dan keberlangsungan aktifitasnya. Mereka
antara lain adalah pimpinan daerah/ wilayah, Perusahaan,
lembaga Pendidikan, Organisasi Profesi, dan Penyandang
Dana. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.4 Wadah Kegiatan


Posbindu PTM dapat dilaksanakan terintegrasi dengan upaya kesehatan
bersumber masyarakat yang sudah ada, di tempat kerja atau di klinik
perusahaan, di lembaga pendidikan, tempat lain di mana masyarakat
dalam jumlah tertentu berkumpul/ beraktivitas secara rutin, misalnya di
mesjid, gereja, klub olahraga, pertemuan organisasi politik maupun
kemasyarakatan. Pengintegrasian yang dimaksud adalah memadukan
pelaksanaan Posbindu PTM dengan kegiatan yang sudah dilakukan
meliputi kesesuaian waktu dan tempat, serta memanfaatkan saran dan
tenaga yang ada. Posbindu PTM diintegrasikan ke kegiatan masyarakat
yang sudah aktif berjalan baik antara lain sekolah, di tempat kerja,
maupun di lingkungan tempat tinggal dalam wadah Desa / kelurahan
Siaga aktif. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)
24

2.1.5 Pelaku Kegiatan


Pelaksanaan Posbindu PTM dilakukan oleh kader kesehatan yang telah
ada atau beberapa orang dari masing - masing kelompok/ organisasi/
lembaga/ tempat kerja yang bersedia menyelenggarakan posbindu PTM,
yang dilatih secara khusus, dibina atau difasilitasi untuk melakukan
pemantauan faktor risiko PTM di masing-masing kelompok atau
organisasinya. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.6 Bentuk kegiatan


Posbindu PTM dibina oleh Puskesmas bersama dengan kelompok/
Jejaring Kerja Pengendalian PTM di Kecamatan dan Kabupaten/ Kota.
Pada tingkat lembaga / institusi tertentu dibina oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota. Secara bertahap masyarakat dibina dan difasilitasi ke
arah kemandirian dalam melaksanakan kegiatan pengendalian termasuk
memfasilitasi alat kesehatan dan bahan pemeriksaan yang diperlukan.
(Kementrian Kesehatan RI: 2013)

Posbindu PTM dilaksanakan dengan menggunakan 5 tahapan


pelayanan yang disebut system 5 meja, namun dalam situasi kondisi
tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan
bersama. System 5 meja yaitu ;
2.1.6.1 Meja 1, yaitu meja tempat melakukan registrasi
serta
pencatatan ulang hasil pengisian ulang KMS .
2.1.6.2 Meja 2 yaitu tempat melakukan wawancara sederhana,
untuk menggali informasi tentang gaya hidup.
2.1.6.3 Meja 3 yaitu tempat melakukan pemeriksaan fisik
2.1.6.4 Meja 4 yaitu tempat melaksanakan pemeriksaan penunjang
2.1.6.5 Meja 5 yaitu tempat melaksanakan konseling serta tindak
lanjut lainnya. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

Posbindu PTM system 5 meja terurai menjadi 10 (sepuluh) kegiatan


yaitu :
2.1.6.1 Kegiatan penggalian informasi faktor risiko dengan
wawancara sederhana tentang riwayat PTM pada keluarga
dan diri pesert, aktivitas fisik, merokok, kurang makan sayur-
25

buah, potensi terjadi cedera dan kekerasan dalam rumah


tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk
identifikasi masalah kesehatan berkaitan dengan terjadinya
PTM. Aktivitas ini dilakukan saat pertama kali kunjungan
dan berkala sebulan sekali.
2.1.6.2 Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan,
Indeks Masa Tubuh (IMT), lingkar perut, analisa lemak
tubuh, dan tekanan darah sebaiknya diselenggarakan 1 bulan
sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat dilakukan pada usia
10 tahun ke atas. Untuk anak, pengukuran tekanan darah
disesuaikan ukuran mansetnya dengan ukuran lengan atas.
2.1.6.3 Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana
diselenggarakan 1 tahun sekali bagi yang sehat, sementara
yang berisiko 3 bulan sekali dan penderita gangguan paru-
paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan arus puncak
ekspirasi dengan peakflowmeter pada anak usia 13 tahun.
Pemeriksaan fungsi paru sederhana sebaiknya dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang telah terlatih.
2.1.6.4 Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu
sehat paling sedikit diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi
yang telah mempunyai factor risiko PTM atau penyandang
diabetes mellitus paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk
pemeriksaan glukosa darah dilakukan oleh tenaga kesehatan
(dokter/ perawat/ bidan/ analis laboratorium dan lainnya).
2.1.6.5 Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan
trigliserida, bagi individu sehat disarankan 5 tahun sekali dan
bagi yang telah mempunyai faktor risiko PTM 6 bulan sekali
dan penderita dislipidemia/ gangguan lemak dalam darah
minimal 3 bulan sekali. Untuk pemeriksaan gula darah dan
kolesterol darah dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ada di
lingkungan kelompok masyarakat tersebut.
2.1.6.6 Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam
Asetat) dilakukan sebaiknya 5 tahun sekali bagi individu
26

sehat, setelah hasil IVA positif, dilakukan tindakan


pengobatan krioterapi, diulangi setelah 6 bulan, jika hasil IVA
negative dilakukan pemeriksaan ulang 5 tahun, namun bila
hasil IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi
kembali. Pemeriksaan IVA dilakukan oleh bidan/ dokter yang
telah terlatih dan tatalaksana lanjutan dilakukan oleh dokter
terlatih di puskesmas.
2.1.6.7 Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan
tes amfemin urin bagi kelompok pengemudi umum yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan/
analis laboratorium dan lainnya).
2.1.6.8 Kegiatan konseling dan penyuluhan, harus
dilakukan setiap pelaksanaan Posbindu PTM. Hali ini penting
dilakukan karena pemantauan faktor risiko kurang
bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara
mengendalikannya.
2.1.6.9 Kegiatan aktivitas fisik atau olahraga bersama,
sebaiknya tidak hanya dilakukan jika ada penyelenggaraan
Posbindu PTM namun perlu dilakukan setiap minggu.
2.1.6.10 Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan
dasar di wilayahnya dengan pemanfaatan sumber daya
tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana dalam
penanganan pra-rujukan. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.7 Pengelompokkan Tingkatan Posbindu


Berdasarkan jenis kegiatan deteksi, pemantauan dan tindak lanjut yang
dapat dilakukan oleh Posbindu PTM, maka dapat dibagi menjadi 2
kelompok Tipe Posbindu PTM, yaitu :
2.1.7.1 Posbindu PTM Dasar meliputi pelayanan deteksi dini faktor
risisko sederhana yang dilakukan dengan wawancara terarah
melalui penggunaan instrument untuk mengidentifikasi riwayat
penyakit tidak menular dalam keluarga dan yang telah diderita
sebelumnya, perilaku berisiko, potensi terjadinya cedera dan
kekerasan dalam rumah tangga, pengukuran berat badan, tinggi
27

badan, lingkar perut, Indeks Masa Tubuh (IMT), alat analisa


lemak tubuh, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan uji fungsi
paru sederhana serta penyuluhan mengenai pemeriksaan
payudara sendiri.
2.1.7.2 Posbindu PTM Utama yang meliputi pelayanan Posbindu
PTM Dasar ditambah pemeriksaan klinis payudara, pemeriksaan
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), pemeriksaan kadar alkohol
pernafasan dan tes amfetamin urin bagi kelompok pengemudi
umum, dengan pelaksanaan tenaga kesehatan yang terlatih
(dokter, bidan, perawat kesehatan/ tenaga analis laboratorium).
Untuk penyelenggaraan Posbindu PTM Utama dapat dipadukan
dengan Pos Kesehatan Desa atau Kelurahan Siaga aktif, maupun
di kelompok/ lembaga/ institusi yang tersedia tenaga kesehatan
tersebut sesuai dengan kompetensinya. (Kementrian Kesehatan
RI: 2013)

2.1.8 Standar Sarana Posbindu PTM


Sarana dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan
Posbindu PTM adalah sebagai berikut :
2.1.8.1Untuk standar minimal lima set meja- kursi, pengukur
tinggi badan, timbangan berat badan, pita pengukur lingkar
perut dan tensimeter serta buku pintar kader tentang cara
pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengukuran lingkar
perut, alat ukur analisa lemak tubuh dan pengukuran tekanan
darah dengan ukuran manset dewasa dan anak, alat uji fungsi
paru sederhana (peakflowmeter) dan media bantu edukasi.
2.1.8.2Sarana standar lengkap diperlukan alat ukur kadar gula
darah, alat ukur kadar kolesterol total dan trigliserida, alat ukur
pernafasan alcohol, tes amfetaminurin kit, dan IVA kit.
2.1.8.3Kegiatan deteksi dini kanker leher rahim (IVA) dibutuhkan
ruangan khusus dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang telah terlatih dan tersertifikasi.
28

2.1.8.4 Untuk pelaksanaan pencatatan hasil pelaksanaan Posbindu


PTM diperlukan Kartu Menuju Sehat Faktor Risiko Penyakit
Tidak Menular (KMS-PTM) dan buku pencatatan.
2.1.8.5Untuk mendukung kegiatan edukasi dan konseling
diperlukan media KIE ( Komunikasi-Informasi-Edukasi) yang
memadai seperti serial buku pintar kader, lembar balik, leaflet,
brosur, model makanan dan lainnya. (Kementrian Kesehatan
RI: 2013)

2.1.9 Waktu Penyelenggaraan


Posbindu PTM dapat diselenggarakan dalam sebulan sekali, bila
diperlukan dapat lebih dari satu kali dalam sebulan untuk kegiatan
pengendalian factor risiko PTM lainnya, misalnya olahraga bersama,
sarasehan dan lainnya. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.10 Pelaksanaan kegiatan


Posbindu PTM dilaksanakan dengan menggunakan 5 tahapan layanan
yang disebut sistem 5 meja, namun dalam situasi kondisi tertentu,
dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama.
Kegiatan tersebut berupa pelayanan deteksi dini dan tindak lanjut
sederhana serta monitor terhadap faktor risiko penyakit tidak menular,
termasuk rujukan ke puskesmas. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)

2.1.11 Tindak Lanjut Posbindu


Tujuan dari penyelenggaraan Posbindu PTM yaitu agar faktor risiko PTM
dapat dicegah dan dikendalikan lebih dini. Faktor risiko PTM yang telah
terpantau secara rutin dapat selalu terjaga pada kondisi normal atau tidak
masuk dalam kategori buruk, namun jika sudah berada dalam kondisi buruk,
faktor risiko tersebut harus dikembalikan pada kondisi normal. Tidak semua
cara pengendalian faktor risiko PTM harus dilakukan dengan obat-obatan.
Pada tahap dini, kondisi faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan
melalui diet yang sehat seperti berhenti merokok, pengelolaan stress dan lain-
lain. Melalui konseling dengan kader konselor/ edukator, pengetahuan dan
keterampilan masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan faktor risiko
29

PTM dapat ditingkatkan. Dengan proses pembelajaran di atas secara bertahap,


maka setiap individu yang mempunyai faktor risiko akan menerapkan gaya
hidup yang lebih sehat secara mandiri. (Kementrian Kesehatan RI: 2013)
2.5 Kerangka Konsep
Perilaku memelihara kesehatan pada pasien hipertensi dan diabetes mellitus
dipengaruhi oleh pelaksanaan Posbindu PTM. Posbindu PTM memiliki
system 5 meja yang meliputi 10 bentuk kegiatan, yang terurai dalam kerangka
konsep sebagai berikut:

Skema 2.1 Kerangka Konsep Hubungan Pelaksanaan Posbindu dengan Perilaku


memelihara Kesehatan

: diteliti
: tidak diteliti
30

Skema 2.2 Kerangka Penelitian Hubungan pelaksanaan Posbindu dengan


Perilaku Pemeliharaan Kesehatan pada Pasien Hipertensi dan
Diabetes Melitus ke Puskesmas Lampihong

2.6 Hipotesis
31

Hipotesis adalah hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban
atas pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan di daklam perencanaan
penelitian (Notoadmodjo: 2012). Hipotesis awal (Ha) adalah Ada Hubungan
Antara Pelaksanaan Posbindu PTM dengan Perilaku Memelihara Kesehatan
pada Pasien Hipertensi dan Diabetes Melitus ke Puskesmas Lampihong
Kabupaten Balangan Tahun 2014