Anda di halaman 1dari 19

KEMISIKINAN DAN KESENJANGAN

DISTRIBUSI PENDAPATAN

Nama Anggota Kelompok:


1. Agnes Tri Wilujeng (A1C015003)

2. Ali Janul Muhlisin (A1C015006)

3. Amsa Gumai (A1C015007)

4. Arya Dwi Saputra (A1C015009)

5. Baiq Annida Isma Wardhani (A1C015013)

6. Baiq Putri Haryati Fardian (A1C015016)

7. Baiq Zulfa Khairunnisa (A1C015018)

8. Hanifah (A1C015040)

UNIVERSITAS MATARAM
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan hikmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman
mengenai Kemiskinanan dan Kesenjangan Distribusi Pendapatan di
Indonesia.

Ucapan terima kasih tidak lupa kami haturkan kepada dosen dan
seluruh anggota kelompok yang sudah bekerjasama dalam penyelesaian
makalah ini. Kami menyadari di dalam penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki,
baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian.

Oleh karena itu kami meminta maaf atas ketidaksempurnaan


makalah ini dan juga memohon kritik dan saran agar makalah ini dapat
lebih baik lagi kedepannya. Harapan kami semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat dan wawasan bagi siapapun yang membacanya.

Mataram, 21 November
2016

Page 2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................... 1

KATA PENGANTAR........................................................................ 2

DAFTAR ISI.................................................................................... 3

LATAR BELAKANG......................................................................... 4

PEMBAHASAN............................................................................... 5

A. KEMISKINAN................................................................................ 5

1. Definisi Kemiskinan................................................................. 5

2. Penyebab Kemiskinan.............................................................. 5

3. Cara Mengatasi Kemiskinan.................................................... 6

4. Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia...................................... 7

5. Upah Minumum....................................................................... 8

B. KESENJANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN..................................... 12

1. Definisi Distribusi Pendapatan................................................. 12

2. Pengukuran Distribusi Pendapatan.......................................... 12

3. Penyebab Ketimpangan Distribusi Pendapatan....................... 13

4. Cara Mengatasi Ketimpangan Distribusi Pendapatan.............. 14

5. Pengaruh Ketimpangan Distribusi Pendapatan Terhadap Kemiskinan


........................................................................................................ 15

6. Alternatif Kebijakan................................................................. 15

PENUTUP........................................................................ 17

A. Kesimpulan.................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA............................................................ 18

Page 3
LATAR BELAKANG

Berbagai masalah kemiskinan biasanya mendera bangsa-bangsa


yang sedang berkembang tak terkecuali Indonesia. Indonesia adalah satu
dari banyak negara berkembang yang mengalami banyak masalah
ekonomi seperti kelaparan, gizi buruk, pengangguran dan inflasi yang
pada akhirnya berdampak pada masalah sosial dan politik.

Masalah ekonomi tersebut dapat menimbulkan masalah-masalah


lain, seperti meningkatnya kejahatan dan kesenjangan sosial antar
individu. Selain itu dapat menyebabkan tiap individu lebih bersifat
individualis satu sama lain. Sehingga berakibat pada renggangnya
persatuan dan kesatuan antar individu masyarakat.

Masalah-masalah ekonomi seperti itu salah satunya disebabkan


oleh ketimpangan distribusi pendapatan yang terjadi di masyarakat.
Meskipun Indonesia merupakan negara yang cukup kaya, akan tetapi
distribusi pendapatan tidak merata, maka kemiskinan tidak dapat
dihindari. Dan jika ketimpangan ini dibiarkan berlarut-larut maka akan
semakin memperparah keadaan perekonomian Indonesia. Karena itu pada
makalah ini kami akan membahas tentang pengaruh distribusi
pendapatan terhadap kemiskinan di Indonesia.

Page 4
Page 5
PEMBAHASAN

A. KEMISKINAN

1. Definisi Kemiskinan

Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin,


atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini
keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk
menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya disebut
sebagai negara berkembang. Kemiskinan adalah keadaan dimana
terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti
makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh
kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami
istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya
melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dan lain-lain.

2. Penyebab Kemiskinan
a. Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan
sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si
miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan
keuangan tidak mengukur pemasukan.
b. Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan
pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah
anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan
keuangan keluarga.
c. Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan
kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan

Page 6
dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga yang mudah
tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
d. Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi
orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari
aksi orang lain lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan
oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.
e. Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan
merupakan hasil dari struktur sosial.

3. Cara Mengatasi Kemiskinan


a. Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang
miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa
sejak zaman pertengahan. Di Indonesia salah satunya berbentuk
BLT.

b. Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang


dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan
perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian
kerja, dan lain-lain.

c. Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara


langsung kepada orang miskin, banyak negara
sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan
sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau
orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat
orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
Persiapan bagi yang lemah juga dapat berupa pemberian pelatihan
sehingga nanti yang bersangkutan dapat membuka usaha secara
mandiri.

Bagaimana menangani kemiskinan memang menarik untuk disimak.


Teori ekonomi mengatakan bahwa untuk mengatasi kemiskinan dapat
dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya,
penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi. Namun,
dalam praktek persoalannya tidak semudah itu.

Page 7
Program-program kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di
berbagai negara. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat program
penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk meningkatkan kerja
sama ekonomi antar negara bagian, memperbaiki kondisi permukiman
perkotaan dan pedesaan, perluasan kesempatan pendidikan dan kerja
untuk para pemuda, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi
orang dewasa dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut.
Selain program pemerintah, juga kalangan masyarakat ikut terlibat
membantu kaum miskin melalui organisasi kemasyarakatan maupun
gereja.

Di Indonesia, program-program penanggulangan kemiskinan sudah


banyak pula dilaksanakan seperti pengembangan desa tertinggal,
perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan.
Program penanggulangan kemiskinan lebih mengutamakan pada
peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukkan
masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui
partisipasi aktif ini, masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak
hanya berkedudukkan menjadi obyek program, tetapi ikut serta
menentukan program yang paling cocok bagi mereka.

Dalam masa pemerintahan SBY, telah dicetuskan program


Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan
Indonesia (MP3KI) untuk memberantas kemiskinan. Program itu
direalisasikan melalui beberapa kegiatan, seperti pemberian bantuan
dan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, pengembangan
usaha kecil dan mikro, serta program pro-rakyat penyediaan prasarana
dan sarana murah.

4. Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia


Berdasarkan data pemerintah, seperti dilansir Badan Pusat Statistik,
jumlah orang miskin di Indonesia hingga September 2013 mencapai
28.553.930 jiwa. Sementara pendapatan negara, menurut data
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, mengalami kenaikan di

Page 8
tahun 2013. Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
tahun 2013 direncanakan Rp1.507,7 triliun atau naik 11 persen dari
target Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan 2012.
Program-program pemberantasan kemiskinan yang dianggarkan
tidak sejalan dengan fakta di lapangan. Pada tahun 2012, jumlah
angkatan kerja Indonesia tercatat 118,05 juta orang. Pada Februari
2013, jumlah angkatan kerja tercatat bertambah menjadi 121,19 juta
orang dan pada Agustus 2013 jumlah angkatan kerja tercatat 118,19
juta orang. Jumlah ini akan terus bertambah pada tahun depan yang
mencapai sekitar 124,42 juta orang. Dari angka pada Agustus 2013,
sekitar 28,4 juta orang di antaranya berpendidikan SD ke
bawah. Sektor tenaga kerja yang paling banyak diserap adalah
pertanian yang mencapai 34,36 persen, perdagangan 21,42 persen,
jasa kemasyarakatan 16,44 persen dan industri 13,43 persen.
Tingginya penyerapan di sektor pertanian disebabkan oleh rendahnya
pendidikan rakyat Indonesia.

5. Upah Minimum
Awalnya penghitungan upah minimum dihitung didasarkan pada
Kebutuhan Fisik Minimum (KFM), Kemudian terjadi perubahan
penghitungan didasarkan pada Kebutuhan Hidup Minimum (KHM).
Perubahan itu disebabkan tidak sesuainya lagi
penetapan upah berdasarkan kebutuhan fisik minimum, sehingga
timbul perubahan yang disebut dengan KHM. Tapi, penetapan upah
minumum berdasarkan KHM mendapat koreksi cukup besar dari
pekerja yang beranggapan, terjadi implikasi pada rendahnya daya
beli dan kesejahteraan masyarakat terutama pada pekerja tingkat level
bawah. Dengan beberapa pendekatan dan penjelasan langsung
terhadap pekerja, penetapan upah minimum berdasarkan KHM dapat
berjalan dan diterima pihak pekerja dan pengusaha.
Perkembangan teknologi dan sosial ekonomi yang cukup pesat
menimbulkan pemikiran, kebutuhan hidup pekerja bedasarkan kondisi

Page 9
"minimum" perlu diubah menjadi kebutuhan hidup layak. Kebutuhan
hidup layak dapat meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas
perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan
produktivitas nasional. Dari gambaran itu, timbul permasalahan,
sampai saat ini belum ada kriteria atau parameter yang digunakan
sebagai penetapan kebutuhan hidup layak itu. Penelitian ini menyusun
perangkat komponen kebutuhan hidup layak.

Upah Minimum Provinsi (UMP) 2014


Pemerintah Kota/Daerah di setiap tingkat pemerintahan (Propinsi,
Kabupaten/Kotamadya) dibantu rekomendasi dari Dewan Pengupahan
telah membuat dan menetapkan Upah Minimum baru untuk tahun
2014. Berikut adalah daftar Provinsi yang sudah menetapkan Upah
Minimum Provinsi 2014

NO PROVINSI KETERANGAN
.
2013 2014 Persentase Kenaikan
(%)

1 NANGGROE ACEH D. Rp 1,550,000 Rp 1,750,000 13%

2 SUMATERA UTARA Rp 1,375,000 Rp 1,505,850 10%

3 SUMATERA BARAT Rp 1,350,000 Rp 1,490,000 10%

4 RIAU Rp 1,400,000 Rp 1,700,000 21%

5 KEPULAUAN RIAU Rp 1,365,087 Rp 1,665,000 22%

6 JAMBI Rp 1,300,000 Rp 1,502,300 16%

7 SUMATERA SELATAN Rp 1,350,000 Rp 1,825,600 35%

8 BANGKA BELITUNG Rp 1,265,000 Rp 1,640,000 30%

9 BENGKULU Rp 1,200,000 Rp 1,350,000 13%

Page 10
10 LAMPUNG Rp 1,150,000 Rp 1,399,037 22%

11 JAWA BARAT Rp 850,000 Rp 1,000,000 18%

12 DKI JAKARTA Rp 2,200,000 Rp 2,441,301 11%

13 BANTEN Rp 1,170,000 Rp 1,325,000 13%

14 JAWA TENGAH Rp 830,000 Rp 910,000 10%

15 YOGYAKARTA Rp 947,114 Rp 988,500 4%

16 JAWA TIMUR Rp 866,250 Rp 1,000,000 15%

17 BALI Rp 1,181,000 Rp 1,542,600 31%

18 NTB Rp 1,100,000 Rp 1,210,000 10%

19 NTT Rp 1,010,000 Rp 1,150,000 14%

20 KALIMANTAN BARAT Rp 1,060,000 Rp 1,380,000 30%

21 KALIMANTAN Rp 1,337,500 Rp 1,620,000 21%


SELATAN

22 KALIMANTAN Rp 1,553,127 Rp 1,723,970 11%


TENGAH

23 KALIMANTAN TIMUR Rp 1,752,073 Rp 1,886,315 8%

24 MALUKU Rp 1,275,000 Rp 1,415,000 11%

25 MALUKU UTARA Rp 1,200,622 Rp 1,440,746 20%

26 GORONTALO Rp 1,175,000 Rp 1,325,000 13%

27 SULAWESI UTARA Rp 1,550,000 Rp 1,900,000 23%

28 SULAWESI TENGGARA Rp 11,25,207 Rp 14,00,000 24%

29 SULAWESI TENGAH Rp 995,000 Rp 1,250,000 26%

30 SULAWESI SELATAN Rp 1,440,000 Rp 1,800,000 25%

31 SULAWESI BARAT Rp 1,165,000 Rp 1,400,000 20%

32 PAPUA Rp 1,710,000 Rp 1,900,000 11%

Page 11
33 PAPUA BARAT Rp 1,720,000 Rp 1,870,000 9%

B. KESENJANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN


1. Definisi Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional adalah mencerminkan merata atau
timpangnya pembagian hasil suatu negara di kalangan penduduknya
(Dumairy, 1999).

2. Pengukuran Distribusi Pendapatan


Ada beberapa indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan
distribusi pendapatan. Berikut salah satu contohnya.
Koefisien Gini (Gini Ratio)

Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah salah satu ukuran yang paling
sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan
secara menyeluruh. Rumus Koefisien Gini adalah sebagai berikut:

dimana:

Page 12
GR = Koefisien Gini (Gini Ratio)
Pi = frekuensi penduduk dalam kelas pengeluaran ke-i
Fi = frekuensi kumulatif dari total pengeluaran dalam
kelaspengeluaran ke-i
Fi-1 = frekuensi kumulatif dari total pengeluaran dalam
kelaspengeluaran ke-(i-1)
3. Penyebab Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Ada beberapa sebab mengapa ketimpangan distribusi pendapatan
di Indonesia kian parah. Pertama, ketimpangan dalam distribusi asset.
Ketimpangan tersebut terlihat sangat parah terutama di sektor
pertanian. Lahan yang sempit tentu tidak mencukupi bagi petani untuk
memperoleh tingkat pendapatan yang layak. Untuk sektor yang lain,
bisa terlihat dengan jelas bagaimana perusahaan atau pengusaha
sedang dan besar dengan mudah mendapatkan kredit dengan agunan
hanya nama baik, sementara Usaha Menengah, Koperasi, dan Mikro
(UMKM) setengah mati untuk mendapatkan kredit.
Kedua, masih besarnya pekerja di sektor informal dengan tingkat
pendapatan yang rendah dan tiadanya jaminan kepastian usaha di
masa depan. Tingginya pekerja di sektor informal disebabkan makin
padat modalnya teknologi produksi yang digunakan oleh para
pengusaha. Hal tersebut terlihat dari makin kecilnya kesempatan kerja
yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut
terlihat jelas misalnya di Industri rokok dimana rata-rata pabrik rokok
sekarang hanya mempertahankan para pekerja lama yang rata-rata
sudah lanjut usia. Sementara untuk proses produk secara bertahap
akan digantikan oleh mesin. Sebab lain lagi adalah justru tumbuhnya
sektor-sektor jasa (yang sering disebut non-tradable) seperti
perdagangan dan jasa keunagan (bank dan lembaga keuangan lain)
yang menyerap sedikit tenaga kerja melebihi pertumbuhan sektor
produksi seperti manufaktur dan pertanian. Kondisi ini diperparah
dengan masih berlakunya sistem alih daya (out sourcing) dalam

Page 13
perekrutan tenaga kerja dimana pengusaha bisa sewaktu-waktu
memecat.
Sebab ketiga dari makin memburuknya distribusi pendapatan di
Indonesia adalah akibat kesalahan kebijakan pemerintah. Salah satu
contoh kebijakan pemerintah yang memperburuk distribusi pendapatan
adalah pemberian subsidi BBM dan listrik. Padahal subsidi BBM dan
listrik yang kian besar itu sebagian besar dinikmati oleh golongan
menengah ke atas.
Kebijakan subsidi lain yang kurang mengena pada sasaran adalah
subsidi pupuk. Hal tersebut ditengarai disebabkan oleh akses petani
kaya kepada oknum pemerintah dan distributor pupuk yang lebih besar
dibanding petani miskin dan juga modal yang besar dari petani kaya
memungkinkan mereka menumpuk pupuk dalam jumlah besar di
gudangnya.
Ketidaktepatan sasaran pemberian subsidi BBM, Listrik, dan pupuk
mempertimpang distribusi pendapatan lewat dua jalur. Jalur pertama,
memperkuat daya ekonomi (daya usaha dan pendapatan) golongan
kaya karena pengeluaran mereka bisa ditekan lewat subsidi yang
mereka nikmati. Dan jalur kedua, lewat pengeluaran dalam APBN yang
sebenarnya bisa untuk program pengentasan kemiskinan atau program
lain yang pro rakyat miskin tetapi salah alokasi untuk subsidi bagi
golongan yang seharusnya tidak menerima.

4. Cara Mengatasi Ketimpangan Distribusi Pendapatan


Pertama, harus ada kebijakan untuk meredistribusi asset agar
golongan tidak mampu bisa memperoleh asset sebagai modalnya
untuk berusaha. Cara lain adalah dengan membentuk pertanian
kolektif seperti di China, dimana lahan-lahan pertanian yang sempit
dijadikan satu (dikonsolidasikan) lalu dikerjakan secara bersama dan
hasilnya dibagi bersama. Pada sektor yang lain, Pemerintah
membentuk Badan Asuransi Kredit bagi UMKM. Dengan adanya badan

Page 14
tersebut maka akan meningkatkan akses UMKM terhadap kredit usaha
yang diberikan oleh bank.
Kedua, meminimalkan bertambahnya pekerja di sektor informal. Hal
tersebut bisa dilakukan dengan mendorong pertumbuhan sektor
produksi (pertanian dan industri) sehingga bisa menyerap lebih
banyak tenaga kerja. Untuk sektor pertanian misalnya dengan
mendorong petani beralih ke tanaman yang nilai ekonomisnya lebih
tinggi misalnya ke tanaman hortikultura. Pembatasan atau
penghapusan sistem alih daya (outsourcing) bisa pula dipertimbangkan
agar tidak mudah terjadi PHK yang kemudian mendorong orang bekerja
di sektor informal.
Ketiga, penghapusan subsidi BBM dan listrik dan diganti dengan
program lain yang lebih tepat sasaran bagi rakyat miskin perlu
dilakukan.

5. Pengaruh Kesenjangan Distribusi Pendapatan Terhadap


Kemiskinan
Penghapusan kemiskinan dan berkembangnya ketidakmerataan
distribusi pendapatan merupakan salah satu inti masalah
pembangunan,terutama di Negara Sedang Berkembang.
Todaro dan Smith (2004), mengatakan penanggulangan kemiskinan
dan ketimpangan distribusi pendapatan merupakan inti dari semua
masalah pembangunan dan merupakan tujuan utama kebijakan
pembangunan di banyak daerah. Menurut Todaro (2000), pengaruh
antara ketimpangan distribusi pendapatan terhadap kemiskinan
dipengaruhi oleh adanya peningkatan jumlah penduduk. Pertambahan
jumlah penduduk cenderung berdampak negatif terhadap penduduk
miskin, terutama bagi mereka yang sangat miskin. Sebagian besar
keluarga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak
sehingga kondisi perekonomian mereka berada di garis kemiskinan

Page 15
semakin memburuk seiring dengan memburuknya ketimpangan
pendapatan atau kesejahteraan.
Penyebab dari kemiskinan adalah adanya ketidaksamaan pola
kepemilikan sumber daya yang selanjutnya akan menimbulkan
distribusi pendapatan yang timpang.

6. Alternatif Kebijakan
Beberapa alternatif kebijakan yang mungkin diambil untuk
mengatasi masalah ketimpangan pendapatan, antara lain:
a. Memperbesar alokasi anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan
kaum miskin
b. Sistem pajak yang progresif
c. Pengurangan subsidi BBM untuk dialokasikan pada pembangunan
infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja.

Page 16
PENUTUP

Page 17
A. KESIMPULAN

Masalah kemiskinan di Indonesia memang sangat rumit untuk


dipecahkan. Dan tidak hanya di Indonesia saja sebenarnya yang
mengalami jerat kemiskinan, tetapi banyak negara di dunia yang
mengalami permasalahan ini.

Negara yang ingin membangun perekonomiannya harus mampu


meningkatkan standar hidup penduduk negaranya, yang diukur dengan
kenaikan penghasilan riil per kapita. Tidak meratanya distribusi
pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang
merupakan awal dari munculnya masalah kemiskinan.

Upaya penurunan tingkat kemiskinan sangat bergantung pada


pelaksanaan dan pencapaian pembangunan di berbagai bidang.
Khususnya melalui penyaluran distribusi yang merata. Membiarkan
kedua masalah tersebut berlarut-larut akan semakin memperparah
keadaan, dan tidak jarang dapat menimbulkan konsekuensi negatif
terhadap kondisi sosial dan politik. Pemerintah harus bijak dalam
mengambil langkah agar kemiskinan yang terjadi dapat ditanggulangi
dan pendistribusian pendapatan ekonomi dapat merata dan mencakup
seluruh jangkauan wilayah negara.

Page 18
DAFTAR PUSTAKA
Referensi yang didapat dari internet :
http://studyandlearningnow.blogspot.co.id/2013/06/definisi-
kemiskinan.html
http://alvianfirman.blogspot.co.id/2015/04/definisi-kemiskinan-
penyebab-dampak-dan.html
https://yessimiliyan05.wordpress.com/ekonomi-
pembangunan/ketimpangan-distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan/
http://nugroho-sbm.blogspot.co.id/2012/11/penyebab-ketimpangan-
distribusi.html
http://avinawidyaningtyaslestari.blogspot.co.id/2016/05/distribusi-
pendapatan-di-indonesia.html
http://guerikus.blogspot.co.id/2014/04/kemiskinan-dan-
ketimpangan-distribusi_5238.html

Page 19