Anda di halaman 1dari 20

FORMULASI DAN EVALUASI SABUN PADAT TRANSPARAN

EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis)

Karya Tulis Ilmiah


Diajukan Untuk Melakukan Penelitian Sebagai Syarat
Memperoleh Gelar Ahli Madya Farmasi
Pada Program Studi D III Farmasi

Oleh :
ASRI LESTARI
NIM. 13DF277007

PROGRAM STUDI D III FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
CIAMIS
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu kosmetik yang banyak dipakai oleh semua kalangan
baik bayi, anak - anak, remaja, dan manula adalah sabun. Sabun
merupakan kosmetik pembersih yang digunakan untuk membersihkan
kulit dari pengotor, lemak, dan keringat serta membuat kulit menjadi lebih
segar (Anonim, 2007).
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi banyak
bermunculan inovasi khususnya dalam pembuatan sabun. Salah satu
yang banyak digemari oleh masyarakat adalah sabun transparan karena
memiliki berbagai bentuk yang menarik serta memiliki tampilan yang lebih
anggun. Pemanfaatan kembali bahan alam salah satunya yaitu daun teh
hijau lebih digemari oleh masyarakat karena dinilai lebih aman, praktis
dan ekonomis dan memiliki efek samping yang lebih sedikit dibanding
dengan menggunakan bahan kimia. Beberapa manfaat daun teh hijau
untuk kulit yaitu dapat meregenerasi sel kulit yang sudah mati,
melembabkan kulit dan sebagai aroma terapi pada saat pemakaian.
Teh hijau merupakan bahan alami yang banyak digunakan dalam
industri makanan maupun industri kosmetik. Tumbuhan ini banyak
digemari karena teh hijau memiliki kandungan polifenol dan tanin yang
cukup tinggi, sehingga banyak digunakan sebagai penangkal radikal
bebas. Dalam dunia kosmetik teh hijau banyak digunakan sebagai lulur,
masker, dan sampo, karena selain mengandung polifenol teh hijau
memiliki kandungan mineral yang berkhasiat untuk membuat kulit tetap
segar dan tidak kering (Anonim, 2009).
Pada penelitian ini menggunakan daun teh hijau karena di
Indonesia banyak banyak ditemui daun teh hijau, kandungan nya pun

1
2

sangat bermanfaat bila dijadikan sediaan sabun padat transparan, selain


itu harganya pun sangat terjangkau.
Daun teh hijau di masyarakat selain dibuat untuk minuman juga
digunakan sebagai bahan untuk perawatan kecantikan kulit dan
kebersihan kulit salah satunya dengan mandi memakai sabun teh hijau,
sebagaimana disebutkan dalam al-quran surat al-baqarah ayat 222 yang
berbunyi:

.......

Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan
orang-orang yang menyucikan / membersihkan diri. (Al-Baqarah : 222).

Penelitian yang akan dilakukan dalam pembutan formulasi sabun


transparan dengan zat aktif ekstrak teh hijau dan menggunakan basis
minyak zaitun. Minyak zaitun merupakan bahan alam yang memiliki
sangat banyak khasiat dan manfaat khususnya untuk kesehatan dan
kecantikan. Selain itu minyak zaitun adalah salah salah satu bahan alam
yang terdapat dalam al quran seta memiliki kandungan asam lemak tak
jenuh yaitu asam linoleat yang sangat baik untuk meregenerasi kulit,
menjaga kulit dari radikal bebas serta membuat kulit menjadi halus dan
bercahaya (Anonim, 2007). Akhir-akhir ini banyak yang menggunakan
sabun padat transparan sebagai sabun cuci muka yang sangat diminati
para konsumen, dan dengan adanya pembuatan inovasi terbaru yaitu
pembuatan sabun padat transparan untuk pemakaian sabun mandi agar
masyarakat lebih antusias untuk meggunakan sabun mandi padat
transparan yang unik dan menarik serta memberikan sensasi mandi
sabun mewah yang memiliki wangi aromatik dari daun teh tersebut. Hal
ini yang membuat penulis berkeinginan untuk membuat formulasi sabun
padat transparan dari ektrak teh hijau.
3

B. Batasan Masalah
1. Daun teh yang digunakan adalah daun teh yang berasal dari desa
sodong, kecamatan sodong hilir, kabupaten tasikmalaya.
2. Dalam penelitian ini menggunakan maserasi digesti.
3. Basis yang digunakan dalam penelitian ini adalah minya zaitun,
NaOH, asam stearat, gliserin, NaCl, alkohol, gula, pewangi.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana formulasi sediaan sabun padat transparan ekstrak teh
hijau dengan basis minyak zaitun ?
2. Bagaimana evaluasi pH, organoleptik, kadar air, busa dan kekerasan
dari sabun transparan tersebut, apakah sediaan tersebut memenuhi
syarat ?

D. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui formulasi cara pembuatan sabun padat transparan
dengan basis minyak zaitun.
2. Mengevaluasi pembuatan sabun transparan berbahan dasar teh
hijau.

E. Manfaat Penelitian
1. Untuk menambah pengetahuan serta keterampilan dalam pembuatan
sabun transparan.
2. Mengetahui hasil evaluasi dari pembuatan sabun padat transparan
tersebut.
4

F. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Nama Judul Tahun Kesamaan Perbedaan


Peneiti Peneliti Penelitian
Sani Ega Pembuatan 2010 Pembuatan Perbedaannya
Priani, Yani sabun formulasi dalam jurnal
Lukmayani. transparan sabun Sani Ega Priani,
Jurusan farmasi berbahan transparan. Yani Lukmayani
Universitas dasar minyak menggunakan
Islam Bandung jelantah serta minyak jelantah
hasil uji sebaga bahan
iritasinya utama sabun
pada kelinci. transparan,
sedangkan
dalam penelitian
ini menggunakan
minyak zaitun.
Muhammad Formulasi 2013 Pembuatan Dalam jurnal
Rozi. Fakultas sediaan formulasi Muhammad Rozi
Farmasi, sabun mandi sabun menggunakan
Universitas transparan transparan. formulasi sabun
Muhammadiyah minyak atsiri transparan
Surakarta jeruk nipis minyak atsiri
dengan jeruk nipis,
Cocoamid sedangkan
DEA sebagai dalam penelitian
surfaktan ini menggunakan
minyak zaitun.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Teh Hijau
Teh hijau merupakan nama dari salah satu jenis tanaman teh
yang dipetik serta mengalami proses pemanasan untuk pencegah
oksidasi, nama ilmiah dari teh hijau adalah Camellia Sinensis. Mungkin
hampir semua orang telah tau, bahwa teh hijau bukanlah teh biasa, teh
hijau telah terkenal memiliki ribuan manfaat bagi kesehatan tubuh kita.
Manfaat teh hijau dapat Mencegah risiko terjadinya penyakit kanker.
Beberapa penelitian telah menemukan bahwa orang yang minum teh
hijau secara berkala dapat mengurangi risiko kanker payudara, perut,
usus, ataupun penyakit kanker prostat. Teh hijau dapat menyejukkan
kulit. Teh hijau merupakan antiseptik alami untuk mengatasi gatal dan
bengkak-bengkak. Teh hijau dapat melindungi kulit (Anonim, 2008).

Gambar 2.1 Daun Teh Hijau

5
6

Daun teh (Camellia Sinensis) memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Class : Angiospermae

Subclass : Dicotyledonae

Ordo : Theales

Family : Theaceae

Genus : Camelia

Spesies : Camellia sinensis (Jelinek, 2005)

Daun teh merupakan spesies tumbuhan yang banyak


mengandung senyawa kimia. Teh hijau ini mengandung antioksidan
tinggi yang dapat melawan radikal bebas yang menyerang otak, yang
menyebabkan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Kandungan kafein
dalam teh hijau membantu menghilangkan sel kulit mati, mencegah
timbulnya jerawat dan menghaluskan kulit. Teh hijau dapat membuat
terlihat muda. Semakin sehat arteri, semakin terlihat muda dan sehat
bagi anda yang mengkonsumsinya. Setidaknya 10 ons teh hijau yang
dikonsumsi setiap hari, bisa mengabsorbsi arteri dari kelebihan lemak
dan kolesterol. Teh hijau dapat Mengurangi berat badan. Dengan
meminum teh hijau bisa membantu tubuh kita dalam proses
pembakaran kalori (Jelinek, 2005).
Teh juga mengandung bahan kimia seperti kafein 2-3 %,
theobromin, theofilin, tanin, xanthin, adenin, minyak atsiri, kuersetin,
naringenin, dan natural flourida. Tanin mengandung zat
epigalochateccin galat. polifenol, protein, karbohiadrat, kafein serat
dan pektin terhadap daun teh (Anonim, 2008).
7

2. Morfologi Tumbuhan
Daun teh berbau khas aromatik, rasanya agak sepet. Selain itu
daun teh mempunyai ciri ciri sebagai berikut :
a. Helai helai daun yang cukup tebal, kaku, berbentuk sudip melebar
sampai sudip memanjang, panjangnya tidak lebih dari 5 cm,
bertangkai pendek.
b. Permukaan daun bagian atas mengkilat, pada daun muda
permukaan bawahnya berambut jika telah tua menjadi licin.
c. Tepi daun bergerigi, agak tergulung ke bawah, berkelenjar yang
khas dan terbenam (Kartasapoetra, 2008).
3. Macam-macam Jenis Teh
a. Teh Hijau
Teh hijau yang memiliki gizi sangat tinggi, adalah teh yang
sangat terkenal khususnya di Asia. Teh asli berwarna hijau segar
dipetik dari perkebunan dan selanjutnya di keringkan dengan
dengan udara panas. Tidak melalui proses fermentasi.
b. Teh Hitam
Adalah jenis teh yang lebih teroksidasi dari pada teh oolong, teh
hijau dan teh putih. Di beberapa negara teh hitam sering dicampur
dengan beberapa jenis daun dan menghasilkan beberapa varian
minuman teh hitam.
c. Teh Putih
Terbuat dari daun teh yang masih sangat muda dan terletak
dibagian bawah pohon. Daun teh putih tidak difermentasi, namun
dikukus dan dikeringkan dibawah sinar matahari. Seduhan teh ini
memiliki warna putih keperakan, berbau harum dan manis serta
rasa yang segar.
8

d. Teh Oolong
Teh ini merupakan teh tradisional China yang dilakukan melalui
proses unik seperti pelayuan dibawah sinar matahari yang terikdan
proses oksidasi sebelum daun teh berubah melengkung dan
berputar. Kemudian proses semi-fermentasidilakukan setelah daun
diletakkan di tempat yang teduh.
4. Manfaat Tumbuhan
Teh hijau memiliki manfaat sebagai berikut :
a. Menjaga kesehatan kulit
b. Khasiat Green tea untuk mengatasi jerawat
c. Sebagai minuman diet
d. Mencegah radikal bebas
e. Mengatasi kulit berminyak
f. Mengatasi/ mencegah nafas tidak sedap
g. Anti alergi
h. Menghilangkan kekusaman pada kulit
i. Melindungi kulit dari paparan sinar matahari langsung
j. Mengatasi kulit kering
k. Menjaga kelembaban kulit (Anonim, 2008)
5. Kafein
Kafein dalam bentuk ekstraksinya berupa kristal putih panjang
tanpa warna dan berasa pahit. Kafein pertama kali di temukan dalam
biji kopi oleh seorang ilmuwan Jerman, Friedrich Ferdinand Runge,
pada tahun 1819. Disebut kafein karena zat ini di temukan pada
tanaman kopi. Sedangkan zat serupa yang di temukan pada tanaman
gurana di sebut guaranina. Yang di temukan pada tanaman teh di
sebut teina. Karena begitu banyak tanaman yang di gunakan padahal
merujuk pada zat yang sama sehingga dapat menyebabkan
kerancuan, maka akhirnya zat tersebut secara aklamasi di sebut
9

dengan kafein, sebagai komponen yang paling banyak di temukan


pada biji kopi.

Gambar 2.2 Struktur Kafein


Pada awalnya, kafein di gunakan dalam bidang pengobatan, baik
obat manusia maupun sebagai pestisida alami beberapa jenis
serangga. Kafein termasuk dalam golongan zat psikoaktif karena
dapat merangsang sistem syaraf pusat. Kemampuan kafein sebagai
obat perangsang dan stimulan sering kali di gunakan sebagai obat
penahan kantuk sementara yang sangat laku di dunia. Kafein biasanya
di tambahkan dalam berbagai jenis minuman berkarbonasi (minuman
ringan) dan minuman energi. Meski tergolong dalam zat yang memiliki
sifat psikoaktif, kafein dapat di konsumsi secara legal dan
penggunaanya tidak di batasi oleh hukum (Anonim, 2003).
6. Titrasi Iodimetri

Titrasi iodometri dan iodimetri adalah salah satu metode titrasi


yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Metode ini lebih banyak
digunakan dalam analisa jika dibandingkan dengan metode lain.
Alasan dipilihnya metode ini karena perbandingan stoikometri yang
sederhana pelaksanannya praktis dan tidak banyak masalah dan
mudah. Iodimetri adalah jika titrasi terhadap zat-zat reduktor dengan
titrasi langsung dan tidak langsung.Titrasi tidak langsung iodometri
10

dilakukan terhadap zat-zat oksidator berupa garam-garam besi (III)


dan tembaga sulfat dimana zat-zat oksidator ini direduksi dahulu
dengan KI dan iodin dalam jumlah yang setara dan ditentukan kembali
dengan larutan natrium tiosulfat baku. Dalam suatu proses analitik ,
iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida
digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri) . Relatif beberapa zat
merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung
dengan iodium . Maka jumlah penentuan iodimetri adalah sedikit . Akan tetapi
banyak pereaksi oksidasi cukup kuat bereaksi sempurna dengan ion iodida
dan ada banaykk penggunaan proses iodometrik . Suatu kelebihan ion iodida
ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan dengan pembebasan
iodium , yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium triosulfat. Reaksi
anatara iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna( Day dan
Underwood. 2002).

7. Metode Ekstraksi
a. Maserasi
Maserasi adalah cara penarikan simplisia dengan merendam
simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa ataupun
memakai pemanasan (Syamsuni, 2006).
Prinsip maserasi adalah pengambilan zat aktif yang dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang
sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari
cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding
sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya
tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan
konsentrasi rendah. Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam
sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan
11

penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh


dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Sembiring dkk, 2006).
Keuntungan dari metode maserasi adalah unit alat yang dipakai
sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam, biaya
operasionalnya relatif rendah, prosesnya relatif hemat penyari,
tanpa pemanasan.
b. Perkolasi
Perkolasi adalah suatu cara penarikan memakai alat yang
disebut perkolator yang simplisianya terendam dalam cairan
penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut akan menetes
secara beraturan sampai memenuhi syarat yang telah ditetapkan
(Syamsuni, 2006).
Keuntungan dari perkolasi adalah aliran cairan penyari
menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan
larutan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan
derajat perbedaan konsentrasi. Kerugiannya adalah serbuk yang
mengadung sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak baik bila
diperkolasi dengan alat perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan
segera menjadi pekat dan berhenti mengalir (Anonim, 1986).
c. Refluks
Refluks adalah termasuk metode berkesinambungan dimana
cairan penyari secara kontinyu menyari komponen kimia dalam
simplisia cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap
tersebut dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami
kondensasi menjadi molekul molekul cairan dan jatuh kembali ke
labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung
secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam
waktu 4 jam (Anonim, 1986).
12

Keuntungan dari metode refluks adalah dapat mencegah


kehilangan pelarut oleh penguapan selama proses pemanasan jika
digunakan pelarut yang mudah menguap atau dilakukan ekstraksi
jangka panjang. Kerugiannya adalah prosesnya sangat lama dan
diperlukan alat alat yang tahan terhadap pemanasan (Anonim,
1986).
d. Soxhlet
Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara
berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap,
uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul molekul air
oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong
dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah
melewati pipa sifon. Proses ini berlangsung hingga penyarian zat
aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang
melalui pipa sifon (Anonim, 1986).
Keuntungan dari proses soxhletasi ini adalah cara ini lebih
menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia,
tetapi melalui pipa samping. Kerugiannya adalah jumlah ekstrak
yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan metode maserasi
(Anonim, 1986).
Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi karena unit
alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam,
biaya operasionalnya relatif rendah, prosesnya relatif hemat
penyari, tanpa pemanasan.
e. Seduhan
Dilakukan dengan menggunakan air mendidih, simplisia
direndam dengan menggunakan air panas selama waktu tertentu 5 -
10 menit (Anonim, 2003).
13

8. Kosmetik
Pengertian kosmetika adalah bahan-bahan yang digunakan untuk
memberikan dampak kecantikan dan kesehatan bagi tubuh. Kosmetika
dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19, pemakaian
kosmetika mulai mendapat perhatian, yaitu selain untuk kecantikan
juga untuk kesehatan (Tranggono, 2007).
Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti
berhias. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri
ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat di sekitarnya.
Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami
tetapi juga bahan buatan untuk maksud meningkatkan kecantikan
(Wasitaatmadja, 2004). Menurut Wall dan Jellinek, 2005, kosmetik
dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19,
pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu selain untuk
kecantikan juga untuk kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta
industrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20
(Tranggono, 2007)
a. Sabun Padat Transparan
Sabun didefinisikan sebagai garam dari logam alkali,
biasanya natrium atau kalium, dari asam lemak rantai panjang.
Ketika asam lemak disaponifikasi oleh logam natrium maupun
kalium maka akan berbentuk garam yang disebut sabun dengan
gliserol sebagai produk sampingan (Barel dkk, 2009).
Sabun transparan merupakan sabun yang memiliki tingkat
transparansi paling tinggi dan menghasilkan busa lebih lembut
dikulit serta dapat memancarkan cahaya yang menyebar dalam
bentuk partikel-partikel yang kecil, sehinga objek yang berada di
luar sabun akan kelihatan jelas. Objek dapat terlihat hingga
berjarak sampai panjang 6 cm (Cavitch, 2001).
14

b. Formulasi Sabun Padat Transparan dan Fungsinya


1) Minyak Zaitun
Minyak zaitun memiliki kandungan yaitu asam oleat,
asam palmitat dan asam linoleat (Rohman, 2011). Minyak
zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan.
Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang
keras tapi lembut bagi kulit. Minyak zaitun juga bermanfaat
untuk menghaluskan dan melembabkan permukaan kulit tanpa
menyumbat pori. Minyak zaitun merupakan pelembab yang
baik untuk melembabkan kulit wajah dan tubuh (Thomssen,
1949).
2) Sodium Hidroksida (NaOH)
Natrium Hidroksida (NaOH) berupa kristal putih, dengan
sifat cepat menyerap kelembaban, bentuk batang, butiran,
masa hablur kering, keras, rapuh dan menujukkan susunan
hablur putih, mudah meleleh basah, cepat menyerap
kelembaban, sangat alkalis, segera menyerap karbondioksida,
sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P
(Hambali dkk, 2005).
3) Asam Stearat
Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang
diperoleh dari lemak dan minyak yang sebagian besar terdiri
atas asam oktadekonat dan asam heksadekonat, berupa zat
padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur putih atau
kuning pucat, mirip lemak lilin, praktis tidak larut dalam air,
larut dalam bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian klorofrm P
dan dalam 3 bagian eter P, suhu lebur tidak kurang dari 54oC.
15

Digunakan untuk mengeraskan sabun dan menstabilkan busa


(Hambali dkk, 2005).
4) Gliserin
Gliseril merupakan cairan kental, jernih, tidak berwarna,
hanya berbau khas lemah, bukan bau yang keras atau tidak
enak, rasa manis, higroskopis. Dapat bercampur dengan air,
etanol (95%) P. Digunakan sebagai humektan dengan
konsentrasi kurang dari 30%, selain itu sebagai pelarut,
perawat kulit, penambah viskositas (Hambali dkk, 2005).
5) Alkohol
Alkohol merupakan cairan jernih tidak berwarna, mudah
sekali menguap dan mudah terbakar, berbau khas menyengat
dan rasa panas (Anonim, 2008).
6) Sukrosa
Sukrosa adalah gula yang diperoleh dari tanaman
Saccharum Officinalum L. (graminae), Beta vulgaris L.
(Chenopodiaceae) dan sumber lain. Berupa hablur, massa
atau gumpalan hablur bewarna putih, tidak berbau, rasa
manis, stabil diudara. Sangat mudah larut dalam air,
digunakan sebagai humektan, perawatan kulit dan membantu
terbentuknya transparansi sabun (Hambali dkk, 2005).
7) Triethanolamide (TEA)
Digunakan untuk mengatur pH, meningkatkan dan
menstabilkan busa.
8) Natrium Klorida
NaCl berbentuk butiran berwarna putih (Weller, 1994)
Pada formulasi sabun transparan, NaCl berfungsi sebagai
elektrolit.
16

9) Pewangi
Pewangi atau pengaroma adalah suatu zat tambahan
yang ditujukan untuk memberikan aroma wangi pada suatu
sediaan agar konsumen lebih tertarik (Anonim, 2008).
10) Pengawet
Metil paraben berfungsi sebagai pengawet, pengawet di
perlukan dalam formulasi gel mengingat bahwa tingginya
kandungan air dalam sediaan gel yang dapat menyebabkan
terjadi kontaminasi mikroba.
11) Kontrol Positif Sabun Placenta
Pada penelitian ini digunakan sabun transparan Placenta
sebagai kontrol positif yang telah beredar di pasaran. Sabun
ini telah memiliki izin dari BPOM dengan No. NA
18151201995. Sabun Placenta merupakan perpaduan bahan
pencerah dan pelembab yang menjadi acuan atau
pembanding pada penelitian ini.
c. Syarat Mutu Sabun Padat
Tabel 2.1 Syarat Mutu Sabun Padat

No Jenis Uji Syarat

1 Kadar air dan zat menguap pada suhu 1050C (%) Maks 15

2 Jumlah asam lemak (%) Min 70

3 Alkali bebas dihitung sebagai NaOH (%) Maks 0,1

4 Lemak tak tersabunkan Maks 2,5

Sumber : SNI 06-3532-1994


17

B. Kerangka Konsep

Daun teh

Determinasi

Pembuatan simplisia
daun teh hijau

Pembuatan formulasi dengan


metode seduhan memakai
suhu 800 C

Didapat hasil sabun dengan


konsentrasi ekstrak teh
60%,30%, dan 15%.

Uji evaluasi sabun


transparan

Organoleptik Kekerasan pH Kadar Air Tinggi Busa

Bagan 2.1 Kerangka Konsep


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2008) Soap Making Methods. Tersedia dalam


http://www.teachsoap.com/soapmakingmethods.html. [Diakses Tanggal 17 Juni
2014]
Anonymous, (2003) Clear Bar Soap, Formulation No : GWH 96/25. Jakarta : Care
Chemical Division PT. Cognis Indonesia.
Barel, A. O., Paye, M & Maibach, H.I. (2009) Handbook of Cosmetic Science and
Technology, 3rd edition. New York : Informa Healtcare USA, Inc.
Cavitch, S. M. (2001) Choosing Yours Oil, Oil Propeties of Fatty Acid. Tersedia
dalam http://users.siloverlink.net/~timer/soapdesign.html. [Diakses tanggal 29
Januari 2015].
Ditjen POM, (1986) Sediaan Galenik, Jilid II. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Ditjen POM, (1995) Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
RI.

Hambali, E., Ani, S & Mira, R. (2005) Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan
Kecantikan. Jakarta : Penebar Plus +.

Harborne, J. B. (1996) Metode Fitokimia Penuntun Cara modern Menganalisis


Tumbuhan. Bandung : ITB.

Jellinek, S. (1970) Formulation and Function of Cosmetics. Translated. New York :


Wiley-Interscience.

Kartasapoetra, G. 2001. Sayur Dan Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Rineka


Cipta: 60-61

Rohman, A & Che Man, Y. B. (2011) Potential Use of FTIR-ATR Spectroscopic


Method for Determination of Virgin Coconut Oil and Extra Virgin Olive Oil in
Ternary Mixture Systems. Journal of FoodAnalyze Method, 4, 155-162.

Sembiring, Bagem B. R., Ma'mun & Ginting, E. I. (2006) Pengaruh Kehalusan Bahan
dan Lama Ekstraksi terhadap Mutu Ekstrak Temulawak (Curcuma Xanthorriza
Roxb). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.
Standar Nasional Indonesia 06-3532-1994, (1994) Sabun Mandi. Jakarta : Dewan
Standarisasi Nasional.

Syamsuni, A, H. (2006) Ilmu Resep. Jakarta : Buku Kedokteran, EGC.

Thomssen, E. G. & Mc Cutcheon, J. W. (1949) Soaps and Detergent. New York :


Mac Nair Dorland Company.

34
35

Wasiaatmadja, S. M. (1997) Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta : Universitas


Indonesia.

Weller, J. P & Wode, A. (1994) Handbook of Pharmaceutical Excipient 2nd edition.


London : The Pharmaceutical Press.

Wibowo, (2009) Tinggi Busa Sabun. Bandung : Universitas Islam Bandung

Williams, D F & W. H. Schmitt. (2002) Kimia dan Teknologi Industri Kosmetika dan
Produk-Produk Perawatan Diri. Terjemahan. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian
IPB.