Anda di halaman 1dari 14

A.

Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh lingkungan (intensitas cahaya, dan kelembapan)
terhadap kecepatan transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)?

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh lingkungan (intensitas cahaya, dan
kelembapan) terhadap kecepatan transpirasi tanaman pacar air (Impatiens
balsamina L.) dengan metode penimbangan.

C. Hipotesis
a. Ha : intensitas cahaya, dan kelembapan mempengaruhi kecepatan
transpirasi pada tanaman.
b. H0 : intensitas cahaya, dan kelembapan tidak mempengaruhi kecepatan
trasnpirasi pada tanaman.

D. Kajian Pustaka
a. Tanaman Pacar Air
Pacar air (Impatiens balsamina L.) berasal dari Asia Selatan dan
Asia Tenggara, namun ada juga yang menyebutkan dari India. Tanaman
ini diperkenalkan di Amerika pada abad ke-19. Warna bunga dari
tanaman pacar air beragam diantaranya berwarna merah muda, merah,
putih, oranye, peach, atau salem. Tinggi tanaman pacar air mencapai 30-
80 cm. Habitat dari tanaman pacar air yaitu pada daerah beriklim semi
tropikal, namun tidak dapat hidup pada daerah yang kering dan gersang
(Dalimartha, 2005).
Tanaman pacar air di Indonesia dikenal sebagai tanaman hias.
Masyarakat Bengkulu telah memanfaatkan tanaman pacar air sebagai
obat luka potong dan bengkak-bengkak. Selain itu tanaman pacar air
juga digunakan untuk memerahkan kuku (Adfa, 2008 ).
Sistematika dari tumbuhan bunga pacar air merah (Hutapea, dkk.,
1994) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Klass : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina Linn
b. Transpirasi
Kehilangan air dalam bentuk uap/gas terjadi melalui intersepsi,
evaporasi, transpirasi dan evapotranspirasi. Transpirasi adalah air yang
hilang melaui proses penguapan dari permukaan daun tanaman. Suhu
secara tidak langsung berpengaruh terhadap kehilangan air melalui
proses evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi melalui tanaman
(Susanto, 2005). Transpirasi dari permukaan tanaman dapat terjadi jika
tekanan uap air dalam sel daun lebih tinggi daripada tekanan uap air di
udara (Suyatno, 2010).
Air dalam pembuluh xilem tumbuhan yang sedang bertranspirasi
berada dalam keadaan tekanan hidrostatik negatif tegangan. Tegangan
tersebut yang dialami oleh seluruh kolam air yang terdapat dalam
pembuluh xilem, yang juga disebabkan oleh laju absorbsi air. Air yang
mengisi trakea mati dan pembuluh xilem merupakan kolam air yang
kontinu dan bergerak bebas sepanjang tubuh tumbuhan atau secara
harfiah ditarik ke atas secara utuh (Lakitan, 2004).
Air dapat diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan
unsur-unsur hara yang terlarut didalamnya, kemudian diangkut
kebagian atas tanaman, terutama daun, melului pembuluh xilem.
Pembuluh xilem yang terdapat pada akar, batang dan daun merupakan
suatu sistem yang kontinu, berhubungan satu sama lain (Lakitan, 2004).
Beberapa faktor yang mempengaruhi transpirasi atau penguapan
yakni besar-kecilnya daun, adanya lapisan lilin dan bulu pada
permukaan daun. Dengan demikian, lebar dan luas permukaan daun,
berdampak juga pada stomata dan kutikula. Terutama jumlah kutikula
dan stomata. Seperti diketahui, kedua bagian tersebut merupakan pintu
keluar air. Penguapan terbesar utamanya ditemui pada stomata
ketimbang kutikula (Trubus, 2006).
Cahaya matahari, menjadi pemicu membuka dan menutupnya
stoma. Saat terang, stoma membuka; gelap menutup. Cahaya
menghasilkan panas yang berakibat pada meningkatnya suhu. Kenaikan
suhu pada tingkat tertentu memaksa stoma melebar dan memperbesar
transpirasi. Jadi, cahaya akan memacu kegiatan transpirasi daun
(Trubus, 2006).
Transpirasi terjadi dalam setiap bagian tumbuhan, pada umumnya
kehilangan air terbesar berlangsung melalui daun. Menurut Loveless
(1991) terdapat dua tipe transpirasi yaitu :
1. Transpirasi kutikula yaitu evaporasi air yang terjadi secara
langsung melalui kutikula epidermis
2. Transpirasi stomata yang dalam hal ini kehilangan air
berlangsung melalui stomata. Hampir 97% air dari tanaman
hilang melalui transpirasi stomata (Loveless, 1991).
Air adalah komponen utama dalam proses fotosintesis,
pengangkutan asimilasi hasil proses ini ke bagian-bagian tanaman
hanya dimungkinkan melalui gerakan air dalam tanaman. Dengan
peranan tersebut di atas, jumlah pemakaian air oleh tanaman akan
berkorelasi posistif dengan produksi biomasa tanaman, hanya sebagian
kecil dari air yang diserap akan menguap melalui stomata atau melalui
transpirasi (Dwidjoseputro, 1984).

Transpirasi mempunyai arti penting bagi tanaman. Transpirasi


pada dasarnya suatu penguapan air yang membawa garam-garam
mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat di dalam
hubungan penggunaan sinar matahari, kenaikan temperatur yang
diterima tanaman digunakan untuk penguapan air (Dwidjoseputro,
1989. dalam Heddy, 1990).

Menurut Lakitan (2004) dan Anggarwulan et al (2008), Transpirasi


berfungsi untuk menjaga stabilitas suhu daun, menjaga turgiditas sel
tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal dan mempercepat laju
pengangkutan unsur hara melalui pembuluh xylem.

Proses transpirasi juga dipengaruhi oleh faktor internal dan


eksternal. Menurut Gardner (1991), terdapat lima faktor internal yang
mempengaruhi proses transpirasi:

1. Penutupan stomata
Dengan terbukanya stomata lebih lebar, air yang hilang lebih
banyak tetapi peningkatan kehilangan air lebih sedikit untuk
masing-masing satuan penambahan pelebaran stomata. Banyak
faktror yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan
stomata, yang paling berpengaruh adalah tingkat cahaya dan
kelembapan. Pada sebagian besar tanaman, cahaya dan
kelembapan dalam daun yang rendah, sel-sel pengawal
kehilangan tugornya mengakibatkan penutupan stomata.
2. Jumlah dan ukuran stomata
Kebanyakan daun dan tanaman yang produktif mempunyai
banyak stomata pada kedua sisi daunnya. Jumlah dan ukuran
stomata yang dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan.
3. Jumlah daun
Semakin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.
4. Penggulungan atau pelipatan daun
Banyak tanaman yang mempunyai mekanisme dalam daun
yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila
ketersediaan air terbatas.
5. Kedalaman dan proliferasi akar
Perakan yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dan
proliferasi akar meningkatkan pengambilan air dari suatu
satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan tanaman.

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi proses transpirasi


tumbuhan antara lain
1. Kelembapan
Pada kondisi cerah udara tidak banyak mengandung air. Pada
kondisi tersebut tekanan uap di dalam daun jauh lebih tinggi
dibandingkan tekanan uap di luar daun, sehingga molekul-
molekul air berdifusi dari konsentrasi yang tinggi (di dalam
daun) ke konsentrasi rendah (di luar daun) sehingga
melancarkan transpirasi. Sebaliknya jika kondisi udara banyak
mengandung awan maka kebasahan antara bumi dengan awan
itu sangat tinggi. Dengan demikian maka perbedaab kebasahan
udara di dalam dan di luar akan berbeda; keadaan yang
demikian ini menghambat difusi uap air dalam sel ke
lingkungan (luar daun) dengan artian menghambat transpirasi
(Dwijoseputro, 1989).
2. Temperatur
Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam dan di
luar daun, namun tekanan di dalam daun jauh lebih tinggi
dibandingkan di luar. Akibat dari perbedaan tekanan ini maka
uap air di dalam daun lebih mudah berdifusi ke lingkungan
(Dwijoseputro, 1989).
3. Sinar matahari
Sinar matahari menyebabkan membukannya stomata dan
gelap menyebabkan menutupnya stomata, sehingga banyak
sinar berarti mempercepat laju transpirasi. Karena sinar itu
juga mengandung panas, maka banyak sinar berarti juga
menambah panas dengan demikian menaikan temperatur.
Kenaikan temperatur sampai pada batas tertentu menyebabkan
melebarnya stomata dengan demikian memperbesar laju
transpirasi (Dwijoseputro, 1989).
Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara,
pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat
mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat
mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka
tutupnya stomata (Salisbury dan Ross, 1995).
4. Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling
bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air
hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembaban
udara di atas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto
air. Namun jika angin menyapu daun, maka akan
mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal
ini dapat menurunkan tingkat transpirasi (Taiz dan Zeiger,
1998).
Pada umumnya angin yang sedang menambah kegiatan
transpirasi. Hal ini dapat dimaklumi karena angin membawa
pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stomata. Dengan
demikian maka uap yang masih ada di dalam daun kemudian
mendapat kesempatan untuk berdifusi ke luar (Dwijoseputro,
1989).
5. Ketersediaan air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh ketersediaan
airtanahdan laju absorbsi airdi akar. Pada siang hari biasanya
air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan air dari
tanah. Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun
sehingga terjadi penyerapan yang besar, pada malam hari
terjadi sebaliknya. Jika ketersediaan air tanah menurun sebagai
akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk
meningkatkan defisit air di dalam daun dan menurunkan laju
transpirasi lebih lanjut (Taiz dan Zeiger, 1998).

Menurut Salisbury dan Ross (1995), Salah satu metode sederhana


yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan transpirasi adalah
menghitung berat tanaman yang telah diplot terhadap hilangnya air.
Karena jumlah air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman
kurang dari 1%, maka seluruh perubahan berat dapat diasumsikan
berasal dari adanya transpirasi.

E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : Intensitas cahaya, suhu, kelembapan.
2. Variabel kontrol : Volume awal, tinggi tanaman pacar air
(Impatiens balsamina L.), jumlah pengulangan, waktu pengambilan
data, jumlah daun tiap tanaman.
3. Variable respon : Volume akhir air, berat erlemeyer.
F. Definisi Operasional Variabel
Praktikum ini menggunakan tiga jenis variabel, yaitu variabel
manipulasi, variabel kontrol, dan variabel respon. Variabel manipulasi
merupakan variabel yang dibuat tidak sama atau dimanipulasi, hasil
manipulasi dari akan berdampak pada variabel respon. Variabel manipulasi
yang digunakan pada praktikum angkutan air adalah, intensitas cahaya,
suhu, dan kelembapan. Intensitas cahaya yang digunakan dibuat tidak sama
antara kedua erlenmeyer. Erlenmeyer A ditempatkan dengan kondisi
intensitas cahaya 0,04 cd/m2 dan erlenmeyer B ditempatkan dengan kondisi
intensitas cahaya 13,03 cd/m2. Besar nilai intensitas cahaya diukur dengan
menggunakan lux meter. Selanjutnya, kelembapan dan suhu pada praktikum
ini dibuat berbeda juga. Erlenmeyer A pada kondisi suhu 31C dan
kelembapan 91 % sedangkan erlenmeyer B pada suhu 33C dan kelembapan
86%.
Variabel kontrol merupakan variabel yang dibuat konstan dan tidak
dibuat perbedaan dalam suatu penelitian. Dalam praktikum ini, yang
termasuk variabel kontrol adalah volume awal air 150 mL tiap erlenmeyer,
jumal daun tiap tanaman, setiap tanaman memiliki 10 helai daun; tinggi
tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.), kedua tanaman memiliki tinggi
36 cm; pengulangan dilakukan sebanyak tiga kali di kedua tanaman,
masing-masing tanaman dilakukan pengulangan yang sama; tiap
pengulangan dilakukan dengan interval waktu 30 menit. Pengulangan
bertujuan untuk mendapatkan hasil data yang akurat.
Variabel respon merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel
manipulasi. Dari semua perlakuan yang berbeda-beda pada tiap tanaman
juga akan mempengaruhi hasil yang diperoleh. Variabel respon dari
praktikum ini adalah volume akhir air di tiap-tiap erlenmeyer dan berat
erlenmeyer beserta air dan tanaman.

G. Alat dan Bahan


1. Erlenmeyer 250 mL 2 buah
2. Styrofoam 2 buah
3. Timbangan 1 buah
4. Hygrometer 1 buah
5. Lux meter 1 buah
6. Vaseline secukupnya
7. Kertas grafik 3 lembar
8. Bohlam lampu 100 watt dan dudukan 1 buah
9. Pacar air (Impatiens balsamina L.) dengan
kondisi dan jenis yang sama 2 pucuk
10. Air 500 mL
11. Penggaris 1 buah
12. Stopwatch 1 buah
13. Silet 1 buah
14. Paku 1 buah

H. Rancangan Percobaan
1. Menyiapkan 2 buah erlenmeyer dengan ukuran masing-masing 250 mL
dan dua pucuk pacar air (Impatiens balsamina L.). Mengukur panjang
tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.) sepanjang 36 cm kemudian
potong miring pada pangkal batang pacar air (Impatiens balsamina L.).
Kemudian, potong cabang, bunga, bakal bunga, kuncup, dan daun yang
bolong dan sekiranya tidak utuh.
2. Menyisakan 10 helai daun pacar air (Impatiens balsamina L.) dengan
kondisi yang bagus di masing-masing tanaman. Mengolesi bekas-bekas
potongan daun, cabang, dan kuncup dengan vaselin agar proses
transpirasi hanya terjadi melalui daun yang disisakan.
3. Mengisi erlenmeyer dengan air sebanyak 150 mL dan menutup ujung
erlenmeyer dengan styrofoam. Melubangi styrofoam dengan paku
sesuai dengan besar batang pacar air (Impatiens balsamina L.) dan
memasukkan pacar air (Impatiens balsamina L.) yang sudah
dimasukkan kedalam lubang styrofoam kedalam erlenmeyer dan
dirapatkan.
4. Mengolesi antara bibir erlenmeyer dengan styrofoam dan batang pacar
air (Impatiens balsamina L.) menggunakan vaselin guna mengurangi
adanya celah-celah kecil. Menimbang kedua erlenmeyer lengkap
dengan pacar air (Impatiens balsamina L.) dan air yang ada didalamnya
kemudian mencatat berat awalnya.
5. Meletakkan erlenmeyer A ditempat dengan kondisi cahaya yang minim
dan erlenmeyer B didekat lampu pijar 100 watt dengan jarak 20 cm.
menimbang berat erlenmeyer beserta perlengkapannya setiap 30 menit
dan mencatat beratnya serta mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.
6. Menentukan luas masing-masing daun yang ada pada kedua tanaman
pacar air (Impatiens balsamina L.) menggunakan kertas grafik dengan
cara membuat pola daun pada kertas grafik dan mengukur luas daun
sesuai ketentuan, apabila kurang dari kotak dianggap nol dan bila
lebih atau sama dengan kotak dianggap satu.
I. Langkah Kerja

Dua pucuk tanaman pacar air


(Impatiens balsamina L.)

--- Menentukan panjang tanaman sepanjang 36 cm, dan memotong


miring pada pangkal batang pacar air (Impatiens balsamina
L.).
--- Memotong cabang, bunga, bakal bunga, kuncup, dan daun
yang bolong dan sekiranya tidak utuh dan menyisakan 10 daun
helai saja.
--- Mengolesi bekas potongan dengan vaselin secara merata.

2 buah erlenmeyer @ 250 mL


dan 2 buah styrofoam

--- Mengisi tiap erlenmeyer dengan air sebanyak 150 mL


--- Melubangi Styrofoam dengan paku sebesar batang pacar air (Impatiens
balsamina L.).
--- Memasukkan batang pacar air (Impatiens balsamina L.) kedalam lubang
styrofoam dan memasukkan kedalam erlenmeyer dan dirapatkan.
--- Mengolesi bibir erlenmeyer dengan styrofoam dan batang pacar air
(Impatiens balsamina L.) menggunakan vaselin.
--- Menimbang kedua erlenmeyer beserta styrofoam dan batang pacar air
(Impatiens balsamina L.) yang sudah terpasang, dan mencatat berat
awal.

Erlenmeyer A Erlenmeyer B

--- Menempatkan erlenmeyer --- Menempatkan erlenmeyer B


A di ruangan yang gelap. 20 cm dari lampu bohlam 100
watt.

--- Mengukur kondisi lingkungan sekitar (suhu, intensitas cahaya, dan


kelembapan).
--- Menimbang tiap erlenmeyer setiap 30 menit sekali dan mencatat
perubahan beratnya.
--- Mengulangi penimbangan sebanyak 3 kali dan mencatat hasil berat tiap
penimbangan.
--- Memangkas daun pacar air (Impatiens balsamina L.) dari kedua
erlenmeyer.
--- Setelah 3 kali penimbangan, mengukur luas total daun pada tiap pacar
air (Impatiens balsamina L.) dengan cara membuat pola di kertas
grafik.

Data hasil penimbangan dan luas


daun pacar air (Impatiens
balsamina L.).
J. Rancangan Tabel Pengamatan

Tabel 1. Kondisi lingkungan pada praktikum pengaruh cahaya (suhu)


terhadap kecepatan transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)
Tempat
No. Kondisi Lingkungan
Gelap Terang
1 Suhu (C) 31 33
2 Kelembapan (%) 91 86
3 Intensitas Cahaya (Cd/m2) 0,04 13,03

Tabel 2. Data hasil praktikum pengaruh cahaya (suhu) terhadap kecepatan


transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)
Berat 30 - I 30 - II 30 - III
Rerata selisih
Erlenmeyer Awal
berat
(gram) W1 S1 W2 S2 W3 S3

A (Gelap) 271,7 271,5 0,2 271,2 0,3 271 0,2 0,24

B (Terang) 276,8 275,8 0,9 275,4 0,4 275 0,4 0,57


Ket: W : berat, S : selisih
Tabel 3. Data hasil pengukuran luas daun pacar air (Impatiens balsamina
L.)
Luas Daun Ke- Rerata
Erlenmeyer (dalam cm2) Luas
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Daun
A (Gelap) 20 18 16 15 19 21 18 20 13 15 17,5 cm2
B (Terang) 17 25 23 23 20 20 16 20 19 17 20 cm2

Grafik 1. Hubungan antara intensitas cahaya terhadap kecepatan


transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)
Hubungan antara intensitas cahaya terhadap kecepatan
transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamica L.)
0.001
0.0009 0.00095
0.0008
Kecepatan Transpirasi

0.0007
0.0006
gelap
0.0005
0.0004 terang
0.00045
0.0003
0.0002
0.0001
0
Kondisi
K. Rencana Analisis Data
Berdasarkan tabel dan grafik hasil percobaan, dapat diketeahui
bahwa terjadi perbedaan kecepatan transpirasi antara tanaman pacar air
(Impatiens balsamina L.). Sesuai dengan tabel 1, kondisi lingkungan kedua
erlenmeyer berbeda, erlenmeyer A diletakkan pada kondisi intensitas
cahaya 0,04 cd/m2, kelembapan sebesar 91%, dan suhu ruangan sekitar
31C. Dengan intensitas cahaya yang hanya sebesar 0,04 cd/m2 lingkungan
erlenmeyer A merupakan tempat yang gelap dan minim cahaya. Sedangkan
erlenmeyer B diletakkan pada kondisi terang dengan intensitas cahaya
sebesar 13,03 cd/m2, kelembapan 86%, dan suhu ruangan 33C dan dengan
bantuan lampu 100 watt. Antara lingkungan erlenmeyer A dan erlenmeyer
B memiliki selisih intensitas cahaya sebesar 12,99 cd/m2. Tempat
erlenmeyer A dan B memiliki selisih suhu 2C dan selisih kelembapan 5%.
Pada awal praktikum, semua erlenmeyer dilakukan penimbangan
berat beserta tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.) dan air yang ada
didalamnya. Diperoleh data berat awal untuk erlenmeyer gelap dan terang
sebesar 271,1 gram dan 276,7 gram. Selanjutnya kedua erlenmeyer
diletakkan pada dua kondisi lingkungan yang berbeda. Untuk mengetahui
aktivitas transpirasi dilakukan penimbangan kedua erlenmeyer setiap 30
menit sekali.
Dari data tabel 2 dapat diketahui bahwa erlenmeyer A dan
erlenmeyer B mengalami penurunan berat setiap 30 menit sekali. Pada
erlenmeyer A, dengan kondisi intensitas cahaya hanya sebesar 0,04 cd/m2
mengalami penurunan berat yang semula 271,7 gram menjadi 271,5 gram
pada 30 menit pertama, 271,2 gram pada 30 menit kedua, dan 271 gram
pada 30 menit terakhir. Sehingga selama 90 menit mengalami penurunan
berat dengan rata-rata 0,24 gram. Erlenmeyer B yang diletakkan pada
kondisi intensitas cahaya 13,03 cd/m2 mengalami penurunan berat dari yang
semula 276,7 gram menjadi 275,8 gram pada 30 menit pertama, 275,4 gram
pada 30 menit kedua, dan 275 gram pada 30 menit ketiga. Sehingga
mengalami penurunan berat rata-rata sebesar 0,57 gram. Dari data tersebut
erlenmeyer B mengalami penurunan berat yang lebih besar dari pada
erlenmeyer A.
Pada akhir praktikum dilakukan pengukuran luas masing-masing
daun pada kedua tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.) dengan
menggunakan kertas millimeter. Masing- masing tanaman pacar air
(Impatiens balsamina L.) pada kedua erlenmeyer memiliki 10 helai daun.
Total luas daun pada erlenmeyer A 17,5 cm2 dan pada erlenmeyer B 20 cm2
dengan selisih 2,5 cm2.
Dari ketiga data, dibuat kalkulasi menurut perubahan berat rata-rata,
waktu, dan luas total daun, maka kecepatan traspirasi pada erlenmeyer A
sebesar 0,00045 gram/menit/ cm2. Sementara kecepatan transpirasi pada
erlenmeyer B sebesar 0,00095 gram/menit/ cm2.

L. Hasil Analisis Data


Berdasarkan hasil yang didapatkan, bahwa tanaman pacar air
(Impatiens balsamina L.) yang diletakkan pada kondisi intensitas cahaya
13,03 cd/m2 mengalami selisih penurunan berat yang lebih besar dari pada
tananaman pacar air (Impatiens balsamina L.) yang diletakkan pada kondisi
intensitas cahaya yang hanya 0,04 cd/m2. Tanaman pacar air (Impatiens
balsamina L.) erlenmeyer B yang diletakkan pada intensitas cahaya lebih
tinggi memiliki rata-rata selisih penurunan berat sebesar 0,57 gram.
Dibandingkan dengan tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)
erlenmeyer A yang diletakkan pada kondisi intensitas cahaya yang lebih
rendah, hanya memiliki rata-rata selisih penurunan berat sebesar 0,24 gram.
Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa intensitas cahaya
mempengaruhi laju proses transpirasi, sesuai dengan yang dikemukanan
oleh Dwijoseputro (1989) Sinar matahari menyebabkan membukannya
stomata dan gelap menyebabkan menutupnya stomata, sehingga banyak
sinar berarti mempercepat laju transpirasi. Karena sinar itu juga
mengandung panas, maka banyak sinar berarti juga menambah panas
dengan demikian menaikan temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada
batas tertentu menyebabkan melebarnya stomata dengan demikian
memperbesar laju transpirasi. Menurut Salisbury dan Ross (1995) Cahaya
mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara, pertama cahaya akan
mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas
transpirasi dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui
pengaruhnya terhadap buka tutupnya stomata.
Pada kondisi cerah udara tidak banyak mengandung air. Pada
kondisi tersebut tekanan uap di dalam daun jauh lebih tinggi dibandingkan
tekanan uap di luar daun, sehingga molekul-molekul air berdifusi dari
konsentrasi yang tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi rendah (di luar daun)
sehingga melancarkan transpirasi. Sebaliknya jika kondisi udara banyak
mengandung awan maka kebasahan antara bumi dengan awan itu sangat
tinggi. Dengan demikian maka perbedaab kebasahan udara di dalam dan di
luar akan berbeda; keadaan yang demikian ini menghambat difusi uap air
dalam sel ke lingkungan (luar daun) dengan artian menghambat transpirasi
(Dwijoseputro, 1989). Tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)
erlenmeyer A yang diletakkan pada kondisi kelembapan tinggi (91%)
memiliki rata-rata penurunan selisih berat yang lebih kecil dibanding
dengan tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.) erlenmeyer B yang
diletakkan pada kondisi kelembapan rendah (86%). Meskipun selisih
kelembapan antara erlenmeyer A dengan erlenmeyer B yang terpaut hanya
5%, tetapi juga mempengaruhi kecepatan transpirasi.
Semakin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi
(Gardner, 1991). Pada erlenmeyer B tanaman pacar air (Impatiens
balsamina L.) memiliki rata-rata luas daun sebesar 20 cm2. Sedangkan pada
erlenmeyer A, tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.) memiliki rata-
rata luas daun 17,5 cm2. Suhu ruang pada saat praktikum dilaksanakan
berkisar antara 33 31 C. Menurut Dwijoseputro (1989) Kenaikan
temperatur menambah tekanan uap di dalam dan di luar daun, namun
tekanan di dalam daun jauh lebih tinggi dibandingkan di luar. Akibat dari
perbedaan tekanan ini maka uap air di dalam daun lebih mudah berdifusi ke
lingkungan.
Dari semua data yang didapat kemudian dilakukan kalkulasi
menurut perubahan berat rata-rata, waktu, dan luas total daun, terdapat
korelasi antara luas total daun dan perubahan berat rata-rata terhadap
kecepatan transpirasi. Kecepatan transpirasi tanaman pacar air (Impatiens
balsamina L.) erlenmeyer A sebesar 0,00045 gram/menit/cm2 sedangkan
kecepatan transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamina L.)
erlenmeyer B sebesar 0,00095 gram/menit/cm2.

M. Kesimpulan
Berdasarkan dari data yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa, intensitas
cahaya, suhu, dan kelembapan mempengaruhi kecepatan transpirasi.
Semakin tinggi intensitas cahaya yang didapatkan oleh tanaman dapat
meningkatkan laju transpirasi. Hal ini terjadi pada tanaman pacar air
(Impatiens balsamina L.) erlenmeyer B yang ditempatkan dengan kondisi
intensitas cahaya 13,03 cd/m2 memperoleh nilai laju transpirasi sebesar
0,00095 gram/menit/cm2. Sedangkan pacar air (Impatiens balsamina L.)
erlenmeyer A yang diletakkan di kondisi intensitas cahaya 0,04 cd/m2
mengalami laju transpirasi 0,00045 gram/menit/cm2.

N. Daftar Pustaka
Adfa, M. 2008. Senyawa antibakteri dari daun pacar air (Impatiens
balsamina Linn.). Jurnal Gradien. 4(1) : 1-3.
Anggarwulan, Endang et al. 2008. Karakter Fisiologi Kimpul (Xanthosoma
Sagittifolium (L.) Schott) Pada Variasi Naungan Dan Ketersediaan
Air. Biodiversitas, 9 (4). 264-258.
Dalimartha, S. 2005. Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar. Jakarta:
Penerbit Puspa Swara.
Dwijoseputro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia.
Gardner, Et All. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta : UI Press.
Heddy, S. 1990. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Lakitan, Benjamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Loveless, A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah
Tropik. Jakarta : Gramedia.
Rahayu, Yuni Sri. Yuliani. Kusuma, Sari Dewi.2016. Petunjuk Praktikum
Fisiologi Tumbuhan. Surabaya: Jurusan Biologi FMIPA UNESA.
Salisbury, F.B., Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. jilid 1. Terjemahan
dari Plant `Physiologi 4 th Edition oleh Dish R. Lukman dan
Sumaryono. Bandung : ITB.
Susanto, R. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta : Kanisius.
Suyatno, R. 2010. Masa Depan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia.
Yogyakarta : Kanisius.
Taiz, L. dan Zeiger, E. Plant Physiology 2nd ed. Sinauer Associates, inc.
Massachucetts : Publ. 1998.
Trubus. 2009. Aglaonema. Vol. 06 www.trubus-online.co.id.

O. Lampiran
Perhitungan :
Erlenmeyer A (gelap) : V = g/menit/cm2
= 0,24/30/17,5
= 0,00045 gr/menit/cm

Erlenmeyer B (terang) : V = g/menit/cm2


= 0,57/30/20
= 0,00095 gr/menit/cm
No. Gambar Keterangan
1. Tanaman pacar air
yang digunakan

2. Erlenmeyer sebelum
diberi tanaman
pacar air

3. Erlenmeyer A dan
erlenmeyer B

4. Erlenmeyer B sedang
ditempatkan di dekat
lampu 100 watt

5. Penimbangan berat