Anda di halaman 1dari 11

PENAMBAHAN LIMBAH UDANG PADA PAKAN BUATAN

UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN NILA MERAH

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Bapak Drs. Pidekso Adi, M.Pd

Oleh
Dania Merit Novitasari
160342606251

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Desember 2016

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Oreochromis niloticus merupakan nama ilmiah ikan nila merah yang
digunakan sekitar 30 tahun yang lalu. Sebelumnya, ikan nila merah ini bernama
Tilapia nilotica dan Sarotherodon niloticus. Spesies Tilapia merupakan jenis ikan
nila merah pembuat sarang untuk pemijahan dan penetasan telur, sedangkan
spesies Sarotherodon dan Oreochromis merupakan jenis ikan yang menetaskan
telurnya didalam mulut sang induk. Pada genus Sarotherodon telur ditetaskan
didalam mulut induk baik betina maupun jantan, sedangkan pada Oreochromis
telur ditetaskan hanya di dalam mulut induk betina saja.
Masyarakat Indonesia sangat menggemari makanan yang kaya akan
protein hewani, salah satu komoditas perikanan yang digemari oleh masyarakat
Indonesia adalah Oreochromis nileticu atau yang biasa disebut ikan nila merah.
Ikan nila merah sangat digemari, karena memiliki daging yang tebal serta rasa
yang enak. Ikan nila merah juga merupakan ikan yang berpotensial untuk
dibudidayakan, karena mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan dengan
kisaran salinitas yang luas. Tetapi, terdapat kendala dalam usaha budidaya
perikanan yang banyak dikeluhkan peternak ikan, salah satunya adalah mahalnya
harga pakan komersil.
Salah satu cara untuk menanggulangi mahalnya harga pakan komersil
adalah dengan membuat pakan buatan. Penggunaan bahan pakan yang berkualitas
untuk pembuatan pakan buatan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi.
Pemanfaatan bahan pakan buatan lokal bisa didapat dari produk perikanan yaitu
dari limbah udang. Limbah adalah produk buangan yang dihasilkan dari proses
produksi baik industri maupun proses rumah tangga yang kehadirannya tidak
dikehendaki oleh lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis, sehingga
perlu mengalami proses pengolahan. Proses pengolah dapat dilakukan melalui
fermentasi. Penggunaan fermentasi dari limbah udang dapat digunakan sebagai
pakan buatan ikan nila merah karena dapat mengurangi biaya pakan yang
dikeluarkan.

Selain dapat mengurangi biaya pakan yang dikeluarkan, tepung limbah


udang mengandung protein kasar, kalsium karbonat, kitin, dan karotinoid berupa
astaxantin yang merupakan provitamin A untuk pewarnaan pada kulit. Kandungan

1
protein dan mineral yang cukup tinggi dari limbah udang dapat dijadikan sebagai
pakan alternatif untuk ikan nila merah.
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji pengaruh pemberian
tepung limbah udang pada pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan nila merah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana solusi untuk mangatasi mahalnya harga pakan ikan nila merah?
2. Apa saja kandungan yang terdapat dalam limbah udang?
3. Bagaimana cara membuat pakan buatan dengan menggunakan tepung limbah
udang?
4. Bagaimana pengaruh pemberian tepung limbah udang pada pakan buatan
terhadap pertumbuhan ikan nila merah?

1.3 Tujuan
1. Menciptakan solusi untuk mangatasi mahalnya harga pakan ikan nila merah.
2. Mengetahui kandungan yang terdapat dalam limbah udang.
3. Mengetahui cara membuat pakan buatan ikan nilai merah dengan tepung
limbah udang.
4. Mengetahui pengaruh pemberian tepung limbah udang pada pakan buatan
terhadap pertumbuhan ikan nila merah.

2. Bahasan
2.1 Solusi untuk Mengatasi Mahalnya Harga Pakan Ikan Nila Merah.
Oreochromis niloticus atau yang biasa disebut ikan nila merah merupakan
salah satu komoditas perikanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia dalam
memenuhi kebutuhan protein hewani karena memiliki daging yang tebal serta rasa
yang enak. Menurut Hadi (2009), ikan nila merah juga merupakan ikan yang

2
potensial untuk dibudidayakan karena ikan nila merah mampu beradaptasi pada
kondisi lingkungan dengan kisaran salinitas yang luas.

Gambar 1. Ikan nila merah (Oreochromis niloticus)


Sumber: bptkp-diy
Ikan nila merah merupakan jenis ikan air tawar yang banyak dikonsumsi
oleh masyarakat Indonesia. Permintaan pasar ikan nila merah sangat tinggi
sehingga perlu adanya peningkatan produksi ikan nila merah guna memenuhi
kebutuhan masyarakat Indonesia. Ikan nila merah juga merupakan salah satu jenis
ikan yang dicanangkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan sebagai ikan
yang termasuk kedalam peningkatan produksi pada tahun 2013. Ikan nila merah
memiliki banyak keunggulan diantaranya, dapat berkembang biak dengan mudah,
pertumbuhannya cepat, ukuran badan relatif besar, pemakan segala makanan, dan
memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Maksud dari
kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan adalah ikan nila merah dapat hidup
pada media pemeliharaan dengan salinitas yang tinggi serta mempunyai nilai gizi
yang cukup tinggi sebagai sumber protein hewani. Ikan nila merah dapat
dibudidayakan di areal bekas tambak udang.
Salah satu kendala yang banyak dikeluhkan oleh peternak ikan nila merah
adalah mahalnya harga pakan komersil ikan nila merah. Pakan yang merupakan
sumber energi untuk tumbuh dan berkembang termasuk kedalam komponen biaya
produksi yang jumlahnya tinggi. Menurut Rohmana (2009), selain komponen
biaya, pakan komersil memiliki kandungan protein sekitar 26-30% sehingga, jika
manajemen pemberian pakan kurang baik maka dapat menyebabkan akumulasi

3
amonia yang jika dilakukan secara terus-menerus dapat mempercepat penurunan
kualitas air.
Pakan buatan untuk ikan nila merah dapat menggunakan protein yang
berasal dari sumber nabati dan hewani secara bersama-sama untuk mencapai
keseimbangan nutrisi dengan harga relatif murah. Pakan yang diberikan untuk
ikan nila merah harus bermutu baik sesuai dengan kebutuhan ikan, tersedia setiap
saat, dapat menjamin kesehatan, dan harganya murah. Salah satu bahan pakan
alternatif sebagai sumber protein hewani adalah limbah udang yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pakan buatan ikan nila merah.

2.2 Kandungan yang Terdapat pada Limbah Udang.


Limbah adalah produk buangan yang dihasilkan dari proses produksi baik
industri maupun proses rumah tangga, yang kehadirannya tidak dikehendaki oleh
lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis sehingga perlu mengalami
proses pengolahan. Proses pengelolaan limbah merupakan rangkaian proses yang
dilakukan untuk menguji manfaat benda atau barang dari sisa-sisa sampai tidak
mungkin untuk dimanfaatkan kembali. Salah satu usaha pengolahan limbah
adalah menjadikannya sebagai pakan buatan ikan. Proses pengolahan limbah
menjadi pakan ikan dapat dilakukan secara kering dengan mengeringkannya dan
juga bisa dengan fermentasi.
Salah satu pilihan sumber protein untuk ikan nila merah adalah tepung
limbah udang. Limbah udang merupakan limbah industri pengolahan udang yang
terdiri dari kepala dan kulit udang. Limbah udang mengandung protein kasar 25-
40%, kalsium karbonat 45-50%, dan kitin 15-20%. Limbah udang mengandung
karotinoid berupa astaxantin yang merupakan provitamin A untuk pembentukan
warna kulit. Kandungan protein dan mineral yang cukup tinggi dari limbah udang
dapat dijadikan sebagai pakan alternatif untuk ikan nila merah (Muzzarelli dan
Joles, 2000).

4
Gambar 2. Limbah Udang
Sumber : Institute Pertanian Bogor
Perbandingan kandungan nutrisi antara tepung limbah udang dan tepung
ikan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Tepung Limbah Udang dan Tepung Ikan.
Nutrien TLU tanpa TLU Tepung
diolah olahan Ikan
Air (%) 8,96 14,60 8,21
Bahan kering (%) 91,04 86,40 91,79
Protein kasar (%) 39,62 39,48 49,81
Lemak (%) 5,43 4,09 4,85
Serat kasar (%) 21,29 18,71 1,78
Abu (%) 30,82 30,94 16,29
Kalsium (%) 15,88 14,63 3,17
Fosfor (%) 1,90 1,75 0,37
Khitin (%) 15,24 9,48 -
Metionina (%) 1,16 0,86 1,58
Lisin (%) 2,02 1,15 3,51
Triptopan (%) 0,53 0,35 0,59
Retensi nitrogen (%) 55,23 66,13 77,20
Energi metabolis (kkal/kg) 1984,87 2204,54 3080,00
Kecernaan protein (in vitro) 52,00 70,47 80,62
Sumber : Mirzah, 2007.
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa kandungan nutrisi yang dimiliki
oleh tepung limbah udang cukup baik meskipun tidak sebaik yang dimiliki oleh
tepung ikan. Hal ini memperlihatkan bahwa potensi tepung limbah udang dapat
direkomendasikan kepada peternak ikan nila merah untuk menggantikan tepung
ikan karena selain mudah untuk didapatkan, bahan ini tentu saja lebih ekonomis
bila dibandingkan dengan menggunakan tepung ikan. Tabel diatas menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan kandungan nutrisi antara tepung limbah udang tanpa
diolah dan tepung limbah udang yang telah mengalami proses pengolahan.

5
Tepung limbah udang bila dipakai sebagai pengganti tepung ikan memiliki
kelemahan yaitu, kandungan protein kasar yang tinggi dalam limbah kulit udang
tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena faktor pembatas dalam kulit
udang yaitu kandungan khitin yang tinggi.
Khitin adalah polisakarida alami yang menyebabkan kerasnya kulit udang,
kerang, dinding sel fungi, dan alga tertentu. Pada kulit udang, khitin terdapat
dalam bentuk senyawa kompleks yang berikatan erat dengan protein, garam
anorganik, kalsium karbonat, dan lipid serta pigmen-pigmen.
Menurut Purwaningsih (2000), kandungan khitin pada kulit udang yaitu
30% dari bahan keringnya. Protein yang terkandung dalam kulit udang berikatan
erat dengan khitin dan kalsium karbonat sehingga, dalam penggunaanya pada ikan
nila merah akan menurun terutama dalam saluran pencernaan. Dalam kasus yang
signifikan, penggunaan kulit udang berpengaruh terhadap ikan nila merah karena
tidak mempunyai enzim khitinase pada saluran pencernaanya.
Berdasarkan hasil analisis data diatas, terlihat bahwa kandungan protein
kasar dari tepung limbah udang cukup baik untuk dijadikan sebagai bahan pakan
ikan. Tingginya kandungan serat kasar yang terdapat pada udang menjadi kendala
dalam penggunaannya. Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan tepung limbah
udang dengan cara fermentasi. Fermentasi bisa digunakan untuk mengolah bahan
pakan yang sulit dicerna menjadi lebih mudah dicerna.
Tepung limbah udang terbuat dari limbah udang sisa hasil pengolahan
udang. Penggunaannya dilakukan setelah pengambilan bagian daging dari udang
tersebut sehingga, yang tersisa adalah bagian kepala, cangkang, dan udang kecil
dalam jumlah sedikit. Kualitas dan kandungan nutrien limbah udang sangat
tergantung pada proporsi bagian kepala dan cangkang udang.

2.3 Cara Membuat Pakan dengan Tepung Limbah Udang.


Untuk meningkatkan kualitas pemanfaatan limbah udang maka, sebelum
diberikan pada pakan buatan ikan perlu dilakukan pengolahan. Pengolahan pakan
yang tepat memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas nutrisi limbah udang
yang sangat diperlukan agar pemanfaatan proteinnya maksimal.

6
Menurut Mirzah (2007) proses pembuatan tepung limbah udang terdiri
dari beberapa tahapan, antara lain :
a) Mempersiapkan limbah udang, dapat diperoleh dari pasar tradisional,
industri pengalengan atau pembekuan udang.
b) Membersihkan limbah udang dari benda-benda asing yang melekat
dan dicuci dengan air segar.
c) Melakukan perendaman dengan menggunakan filtrat air abu sekam
20% selama 48 jam. Untuk memperoleh larutan abu sekam padi 20%
dilakukan dengan melarutkan 200g abu sekam padi dalam 1 liter air
bersih. Larutan ini dibiarkan selama 24 jam, lalu disaring, untuk
memperoleh filtratnya dan siap digunakan.
d) Mepanaskan dengan menggunakan autoclave selama 45 menit,
kemudian langsung digiling menjadi bentuk pasta.
e) Melanjutkan proses fermentasi dengan dosis 20 ml/100 gram substrat,
dengan lama fermentasi 11 hari.
f) Mengeringkan dengan cahaya matahari lalu digiling.

Gambar 3. Tepung Limbah Udang


Sumber : Aries Munandi, omkicau.com
2.4 Pengaruh Pemberian Tepung Limbah Udang terhadap Pertumbuhan
Ikan.
Kualitas tepung ikan lebih baik daripada tepung limbah udang. Namun,
tepung ikan menghasilkan laju pertumbuhan yang rendah. Tepung ikan yang
dipakai mempunyai kualitas protein dan komposisi asam amino rendah yang
disebabkan oleh cara penyimpanan, cara pembuatan, dan adanya subalan.
Peningkatan laju pertumbuhan terjadi karena tepung limbah udang yang
difermentasi mengambil peran asam amino yang dikandung oleh tepung ikan.
Protein dalam pakan yang diberikan dapat dicerna dengan baik oleh ikan nila
merah, serta kandungan asam amino yang terdapat dalam pakan buatan tersebut
dapat menunjang dalam pertumbuhan ikan nila merah.

7
Asam amino yang dibutuhkan untuk pertumbuhan adalah arginin, lisin,
dan histidin. Arginin merupakan asam amino yang diperlukan bagi pertumbuhan
optimal ikan nila muda. Disamping berperan dalam sintesa protein, arginin juga
berperan dalam biosintesis urea. Histidin merupakan asam amino esensial bagi
pertumbuhan larva dan anak-anak ikan. Histidin diperlukan untuk menjaga
keseimbangan nitrogen dalam tubuh.
Serat kasar yang terkandung dalam limbah udang terdegradasi karena
proses fermentasi. Fermentasi yang dilakukan oleh bakteri mengakibatkan
perubahan kimia dari suatu senyawa yang bersifat kompleks menjadi senyawa
yang sederhana, sehingga dapat memberikan efek positif (Haetami, 2006).

3. Penutup

Permintaan pasar ikan nila merah yang sangat tinggi menyebabkan


terjadinya peningkatan produksi ikan nila merah yang dilakukan guna memenuhi
kebutuhan masyarakat Indonesia. Tingginya permintaan pasar ikan nila merah
tidak sebanding dengan pengeluaran peternak ikan nila merah dalam komponen
pakan. Disamping itu, Indonesia merupakan negara penghasil udang terbesar
ketiga didunia setiap tahun. Untuk memanfaatkan kedua hal tersebut, diperoleh
gagasan pembuatan pakan buatan dari limbah udang sebagai pengganti pakan
komersil untuk meningkatkan pertumbuhan ikan nila merah.

8
Berdasarkan teori, limbah udang mengandung beberapa komponen yaitu :
protein kasar, kalsium karbonat, kitin, dan karotinoid berupa astaxantin yang
merupakan provitamin A untuk pembentukan warna kulit ikan. Kandungan protein
dan mineral yang cukup tinggi dari limbah udang dapat dijadikan sebagai pakan
alternatif untuk ikan nila merah.
Dari dasar kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peningkatan laju
pertumbuhan ikan nila merah dikarenakan tepung limbah udang yang difermentasi
mengambil peran asam amino yang dikandung oleh tepung ikan. Protein dalam
pakan yang diberikan dapat dicerna dengan baik oleh ikan serta kandungan asam
amino dalam pakan tersebut dapat menunjang pertumbuhan ikan nila.

Daftar Rujukan

Hadi, M., Agustono. & Y, Cahyoko. 2009. Pemberian tepung limbah udang yang
difermentasi dalam ransum pakan buatan terhadap laju pertumbuhan, rasio
konversi pakan dan kelangsungan hidup benih ikan nila. Jurnal Ilmiah,
(Online), 09 (1): 2-14, (http://journal.unair.ac.id), diakses 03 Desember
2016.

Haetami, K., I. Susangka. & I, Maulina. 2006. Suplementasi Asam Amino Pada
Pelet yang Mengandung Silase Ampas Tahu dan Implikasinya terhadap
Pertumbuhan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Skripsi tidak
diterbitkan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas
Padjadjaran : Bandung.

9
Mirzah. 2007. Penggunaan Tepung Limbah Udang yang Diolah dengan Filtrat Air
Abu Sekam dalam Ransum Ayam Broiler. Jurnal Ilmiah, (Online) 03 (03):
189-197, (http://repository.ipb.ac.id), diakses 04 Desember 2016.

Muzzarelli, R.A.A. & P.P. Joles. 2000. Chitin and Chitinases Biochemistry of
Chitinase, (Online), (http://portalgaruda.org/article), diakses 04 Desember
2016.

Purwaningsih, S. 2000. Teknologi Pembekuan Udang. Jurnal Ilmiah, (Online), 16


(1): 100-112 (http://www.samakia.aperiki.ac.id), diakses 04 Desember
2016.

Rohmana, D. 2009. Konversi limbah budidaya ikan lele, Clarias sp menjadi


biomassa bakteri heterotrof untuk perbaikan kualitas air dan makanan
udang galah, (Online), (http://repository.ipb.ac.id), diakses 04 Desember
2016.

10