Anda di halaman 1dari 24

5 Peralatan Penambangan dan Metode Penambangan

Batubara Bawah Tanah PTBA UPO

1. Alat Tambang Utama

a. Double Ended Ringing Drum Shearer ( DERDS )

Alat ini berfungsi sebagai pemotong batubara pada coal face yang bergerak di

sepanjang chain conveyor jenis armaured chain coveyor (AFC). Mesin ini mampu

mengikis habis sisa pemotongan batubara. Alat ini juga mampu naik turun, memotong,

mengisi, mengangkat atau menurunkan drum shearer sepanjang face dengan kemampuan

sendiri. Shearer juga dilengkapi dengan water spayer untuk mengatasi debu. Alat ini

menggunakan tenaga listrik dan bergerak dengan hidrolik pada mesin itu sendiri. Drum

shearer dapat memotong sampai ketinggian 2 meter tergantung pada tipe alat tersebut.

Gambar 2.4. Shearer


b. Dosco

Tipe alat ini adalah MK 2A yang lebarnya 2,4 meter yang berfungsi untuk pembuatan

lubang maju baik pada lapisan batubara maupun pada lapisan batuan, digunakan slow

speed motor (970 rpm) dengan jumlah bit (mata potong) 24 buah.

Untuk pembuatan lubang maju digunakan Fast speed motor (1.462) jumlah bit 36 buah.

Alat ini memiliki tenaga hidrolik yang dihasilkan oleh power pack, yang terdiri dari

empat bagian yang digerakkan oleh motor listrik 75 Kw.

Gambar 2.5. Road header Dosco


c. Alpine Miner

Cara kerjanya sama dengan dosco MK 2A, tetapi pada alat ini terpasang tangan-tangan

yang berfungsi untuk mengumpulkan material-material kedalam Scraper Coveyor. Tenaga

penggerak alat ini berasal dari beberapa motor listrik dengan jumlah keseluruhan

sebesar 70 Kw.

Gambar 2.6. Alpine Miner

d. Road Header S220 M

Cara kerja alat ini hampir sama dengan dosco. Dimana material hasil penggerusan di ambil

oleh Gathering Arm dan masuk ke Chain Conveyor material kemudian diteruskan ke Belt
Conveyor. Setelah itu material di bawa keluar tambang. Sistem penggerak RH S 220

menggunakan sistem hidrolik.

2. Alat Penunjang Tambang (APT)

Merupakan peralatan yang digunakan untuk menjamin kelangsungan dari kegiatan

penambangan tersebut. Adapun jenis peralatan penunjang tambang yang digunakan adalah :

a. Power Roof Support

Power roof support (PRS) berfungsi sebagai penyangga atap dari suatu lubang buka yang

biasanya digunakan untuk front penambangan. Kemampuan alat ini untuk menahan beban

adalah 325 ton dan bekerja dengan system hidrolik. Alat ini merupakan pengaman pada

saat melakukan penambangan menggunakan shearer dengan menggunakan metode

ambrukan. Pelaksanaan ambrukan atap dilakukan dengan cara memajukan PRS sehingga

terjadi ruang pada bagian belakang PRS, karena dipengaruhi gaya gravitasi atap akan

ambruk dengan sendirinya.


Gambar. 2.7. Power Roof Support (PRS)

b. Pompa

Merupakan peralatan yang digunakan untuk memindahkan zat cair atau fluida yang ada

dalam lubang tambang pada lokasi tertentu keluar mulut tambang. Jenis-jenis pompa yang

digunakan adalah :

1) Pompa sentrifugal

2) Pompa summersible

3) Pompa tegak atau sentrifugal

c. Chain conveyor

Chain conveyor merupakan alat penunjang tambang yang menggunakan rantai bergerak

pada sisi kiri dan kanan di dalam talangan, di mana pada rantai tersebut dipasang Scraper
Bar. Jika rantai bergerak maka material yang ada di atas rantai tersebut akan terbawa oleh

tarikan Scraper Bar.

Gambar 2.8. Chain Conveyor

d. Belt Conveyor

Belt conveyor merupakan alat untuk mengangkut material yang telah di tambang dengan

menggunakan sabuk (belt). Sabuk tersebut dipasang pada suatu struktur yang dimasukkan

ke dalam unit penggerak (drive unit) sehingga bergerak pada struktur yang telah terpasang

di sepanjang lokasi yang telah ditentukan.


Gambar. 2.9. Belt Conveyor

e. Mesin Angin.

Mesin angin adalah suatu pompa udara yang menghasilkan perbedaan tekanan udara pada

jalan udara sehingga menjadi jalan udara.

Berdasarkan cara kerja mesin angin terbagi dua :

1) Mesin angin sentrifugal


Udara yang masuk melalui inlet dan oleh impeles (rotor) dihasilkan energi static dan

kinetic. Pada mesin angin ini terjadi perubahan energi dari energi dinamik putar menjadi

energi dinamik radial dan axial.

Tekanan aliran udara yang mesin anginnya jenis ini berkisar dari menengah sampai

tinggi, sedangkan kuantitas udara yang dihasilkan menengah sampai besar dan daya yang

diperlukan menengah sampai besar.

2) Mesin angin axial

Aliran udara yang dihasilkan memiliki kecepatan tangenalsial. Gaya sentrifugal yang

bekerja padanya bisa diabaikan. Udara meninggalkan impeller berenergi aliran linier

yang merupakan energi putar. Tekanan aliran udara yang dihasilkan mesin jenis axial

adalah kecil, kuantitas yang dihasilkan berkisar dari menengah sampai besar dan daya

yang diperlukan kecil. Kecepatan angin yang timbul oleh mesin angin ini sangat cepat

dan biasanya banyak digunakan karena memilki effisiensi yang cukup tinggi.

Mesin angin induk dapat saja terdiri dari satu mesin angin, di mana dalam

penyusunannya dapat secara seri dan paralel. Jika mesin angin di susun secara seri, maka

kuantitas angin yang mengalir di setiap mesin angin adalah sama. Sedangkan tekanan

yang dihasilkan setiap mesin angin berbeda. Untuk mencari tekanan kombinasi dari

mesin angin yang di susun secara seri adalah dengan cara menjumlahkan tekanan yang

dihasilkan setiap mesin angin.

Jika mesin angin di susun secara parallel, maka total tekanan yang dihasilkan adalah

sama dengan tekanan yang dihasilkan oleh tiaptiap mesin angin, sedangkan kuantitas

udara yang mengalir dari mesin angin tersebut merupakan jumlah kuantitas udara yang

dialirkan oleh setiap mesin angin.


Gambar. 2.10. Mesin Angin

f. Kompresor

Dalam proses pembuatan lubang maju di Slope II digunakan kombinasi pemboran dan

peledakan. Dalam pembuatan lubang maju menggunakan alat bor. Alat bor dioperasikan

menggunakan tenaga angin yang berasal dari kompresor karena mesin bor yang digunakan
adalah Rotary jack Hammer (Mesin Bor Furukawa). Tekanan angin yang dibutuhkan

minimal 6 bar.

g. Hoist

Hoist merupakan peralatan yang digunakan untuk menarik alat transportasi yang membawa

kebutuhan material maupun peralatan penambangan dari mulut tambang. Tipetipe hoist

antara lain:

1) Endless

2) Pickross

3. Sumber Tenaga.

Sumber tenaga yang digunakan untuk kegiatan development dan penambangan sigalut di

suplai dari PLTU Sijantang. Jadi jika ada terjadi kematian listrik secara mendadak seluruh

kegiatan penambangan dihentikan. Dalam jangka 15 menit jika listrik tetap mati maka

karyawan harus keluar dari front karena tidak tercukupi jumlah udara untuk pernapasan, selain

itu mencegah terjadinya peledakan akibat akumulasi gas methan yang terdapat di dalam

lubang.

Peralatan yang digunakan untuk membantu kegiatan penambangan adalah:

a. Gate and Box

Merupakan peralatan yang digunakan untuk menghidupkan atau mematikan peralatan

tambang.

b. Magnetic switch

Merupakan peralatan yang digunakan untuk mematikan dan menghidupkan peralatan yang

dioperasikan secara otomatis.


c. Trafo

Merupakan alat yang digunakan untuk menaikkan dan menurunkan tegangan listrik

sebelum didistribusikan keperalatan.

d. Power pack

Merupakan pembangkit tenaga untuk menggerakkan PRS dan AFC.

4. Sistem Penambangan

Sistem penambangan yang digunakan oleh PTBA-UPO saat ini menerapkan metode

penambangan bawah tanah. Sistem penambangan yang pernah diterapkan di PTBA-UPO ada

lima antara lain :

a. Sand Filling (1892 1981)

Cara penggalian batubara dengan pemboran dan peledakan serta menggunakan alat gali

balincong. Cara penambangan ini dengan kemajuan arah lubang maju dan sesuai dengan

namanya, cara ini di dukung oleh pasir sebagai material pengisi pada bagian-bagian

batubara yang telah di ambil. Pengisian pasir dilakukan setiap kemajuan lubang 34

meter dengan cara memompa pulp (air dan pasir) dengan perbandingan 5 : 1 yang

diambil dari permukaan.

b. Longwall secara Manual ( 1982 1989 )

Penambangan secara manual merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan pemboran dan

peledakan serta dibantu dengan balincong dan jack hammer untuk melepaskan

bongkahan batubara. Pemuatan batubara ke chain conveyor menggunakan sekop. Arah

penambangan ini maju menuju arah lubang maju dan daerah yang telah di ambil

batubaranya dibiarkan runtuh. Untuk pengendalian reruntuhan dilakukan Midwall dan


pack, yaitu susunan kayu bulat dengan diameter 0,15 meter. Midwall di pasang setiap

1015 meter dipermukaan kerja, sedangkan pack di pasang di tail gate dan main gate.

c. Longwall secara semi Mechanis ( 1985 1989 )

Cara penggalian batubara ini menggunakan alat gali mekanis Double Ended Ranging

Drump Sharer (DERDS) dan pemuatannya langsung oleh shearer ke kombinasi alat

angkut yaitu Armoured Face Conveyor (AFC) dan belt conveyor. Alat ini dimajukan

dengan bantuan desfort chock sejauh 1015 meter. Arah kemajuan tambang dibiarkan

runtuh. Penyanggaan yang digunakan adalah hidroulic prop dan bar dengan kekuatan 25

ton.

d. Longwall secara Fully Mechanis ( 1986 )

Untuk memotong batubara digunakan DERDS dan pemuatannya langsung oleh shearer

ke AFC, dari AFC bongkahan batubara diangkut ke stage loader, selanjutnya dari stage

loader ditumpahkan ke belt conveyor. Sistem penyanggaan yang digunakan adalah PRS.

PRS akan digerakkan sesegera mungkin mengikuti kemajuan dari alat gali Shearer sejauh

1015 meter dan AFC dengan Hydraulic ram yang ada pada PRS.

e. Room and Pillar

Sistem penambangan ini dilakukan dengan membuat ruangan dibatasi pillar dan tiang.

Penambangan secara permanen dan semi permanen dari badan bijih itu sendiri.

Penambangan dilakukan dengan sistem maju. (advance).


C. Proses Pelaksanaan Pekerjaan

1. Pembuatan lubang maju ( development )

Pembuatan lubang maju di ombilin III ( Sigalut ) merupakan tahap untuk

mengambil batubara. Fungsi dan kegunaan lubang maju antara lain :

a. Sebagai sarana lubang masuk manusia atau pekerja ke lokasi penambangan batubara.

b. Sebagai sarana transportasi material kebutuhan tambang.

c. Sebagai sarana ventilasi untuk kebutuhan udara segar bagi pekerja tambang.

d. Sebagai jalan transportasi material bahan galian.

Metode Pembuatan lubang maju di Ombilin III (Sigalut) yang digunakan antara lain

1) Metoda manual dengan menggunakan pemboran dan peledakan.

Pembuatan terowongan pada (Sigalut) Ombilin III dilakukan pada lapisan batuan.

Dimana metoda yang digunakan adalah metoda Drilling dan Blasting. Pola peledakan

dan pemboran pada pembuatan lubang maju dapat dibagi tiga yaitu :

a) Full face methode

Metode ini adalah metode menggunakan peledakan secara penuh pada permukaan

kerja tambang, guna mendapatkan lubang bukaan yang besar. Juga membuka

lapisan tanah pembuka (Over Burden). Metode ini juga metode yang paling aman

digunakan untuk pembuatan lubang ukuran kecil dan menengah dengan luas

penampang antara 430 m2.

b) Top heading and benching methode


Metode ini digunakan khusus untuk teowongan jenis besar (>30 m 2). Hal ini

disebabkan karena tidak mungkin meledakkan secara Full face, mengingat jumlah

bornya yang mencapai 500 buah. Pembuatan terowongan dilakukan secara

bertahap yaitu memulai dari peledakan yang lebih atas terlebih dahulu.

c) Center heading methode

Metode ini dilakukan untuk membuat terowongan yang berukuran besar terutama

untuk jenis batuan yang sangat keras dan letaknya pada daerah terpencil sehingga

tidak mungkin menggunakan alat mekanis seperti Dosco dan Road header.

2) Metode dengan menggunakan peralatan Dosco dan Road Header (Mekanis)

Pembuatan lubang maju dilakukan dengan peralatan Dosco 3 dan Road Header S 220

M. Pembuatan lubang maju bertujuan untuk pembuatan panel-panel penambangan

yang terdiri dari lubang material utama dan lubang ban utama. Pada batas tertentu

lubang ini akan dihubungkan sehingga akan membentuk Front penambangan yang di

sebut panel.

Kedua lubang tersebut berfungsi sebagai:

a) Main gate ( lubang Utama )

Main gate berfungsi sebagai jalur pengangkutan batubara hasil pembongkaran

Shearer, yang selanjutnya akan diteruskan kelubang Ban Utama ( LBU ) menuju

keluar tambang.

b) Tail gate ( Lubang Material )


Tail gate berfungsi untuk pengangkutan material-material yang dibutuhkan di front

penambangan. Tail gate ini dihubungkan sampai keluar tambang melalui lubang

material utama.

2 Penyanggaan

Tujuan utama penyanggan tambang bawah tanah adalah membuat massa batuan

menyangga dirinya sendiri. Pemilihan penyanggaan didasarkan dari fungsi lubang bukaan

yang akan dibuat. Jenisjenis penyangga yang sering digunakan di Ombilin III ( Sigalut )

antara lain :

a. Penyangga kayu

Penyangga kayu sudah lama dikenal sebagai bahan penyangga mempunyai

keuntungan antara lain :

1) Ringan, mudah dibawa dibawa di bentuk dan dipasang.

2) Akan banyak seratnya.

3) Sisa potongan dapat digunakan sebagai pasak.

Kerugian kayu antara lain :

1) Kekuatan mekaniknya tergantung pada struktur serat dan cacat alami.

2) Kelembaban dapat mempengaruhi kekuatannya.

3) Mudah terbakar.

b. Penyangga baja

Keuntungan dari penyangga baja antara lain :

1) Dapat dibentuk sesuai kebutuhan.


2) Mempunyai modulus elastis yang besar, sehingga deformasi yang diakibatkan oleh

beban menjadi kecil.

3) Relatif mudah dalam pemasangan.

Gambar. 2.11. Penyangga Baja

3) Penyangga baut batuan

Penyangga deangan baut batuan ( Rock Bolting ) merupakan jenis penyangga yang

digunakan untuk batuan yang cukup kompak. Efek dari baut batuan adalah

a) Mengencangkan baut kendor pada batuan kokoh yang ada di belakangnya.

b) Menyatukan batuan yang berlapis atau batuan yang ada retakan, sehingga

membentuk batuan yang memperlihatkan sifat semacam palang.

4) Penyangga beton

Penyangga beton adalah campuran semen, pasir, dan air yang kadang-kadang

ditambah CaCl2 (kalsium Klorida) yang berfungsi sebagai mempercepat waktu

pengerasan ( Curring Time ).


a) Mempunyai kuat tekan tinggi.

b) Mudah dalam pelaksanaan kontruksi.

c) Tahan terhadap pengaruh cuaca.

Kerugian dari penyangga beton antara lain :

1) Mempunyai kuat tarik rendah.

2) Dapat hancur tibatiba tanpa menunjukkan tanda telebih dahulu.

3) Hancuran beton tidak dapat digunakan lagi.

Untuk mengatasi kuat tarik yang rendah, pada beton di pasang tulangan baja yang

ditanam dalam kontruksi beton sehingga membentuk satu kesatuan yang disebut beton

bertulang.

Gambar 2.12. Penyangga Beton


D. Proses Pelaksanaan Pekerjaan

1. Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan penambangan

Dalam melaksanakan pekerjaan ini, PTBA-UPO selaku pemilik Kuasa

Pertambangan (KP) dalam hal ini melakukan kegiatan penambangan membagi daerah

penambangan menjadi dua bagian, yaitu Ombilin I (Tambang

Bawah Tanah Sawahluwung) dan Ombilin III (Tambang Bawah Tanah Sigalut).

a. Tambang Bawah Tanah Sigalut

Pada lokasi penambangan Tambang Bawah Tanah Sigalut, kegiatan penambangan

dilakukan oleh pihak PTBA-UPO sendiri, dengan jumlah cadangan batubara terukur

29.474.000 ton. Saat ini kegiatan penambangan di Sigalut masih dalam tahap

pembuatan lubang maju (development) untuk persiapan penambangan dengan

menggunakan road header S220M dan rencananya sistem penambangan yang akan

diterapkan adalah longwall mekanis penuh dengan peralatan utama shearer.


Gambar 2.13. Lokasi Penambangan Sigalut PTBA UPO

b. Tambang Bawah Tanah Sawahluwung

Pada lokasi penambangan tambang bawah tanah Sawahluwung kegiatan penambangan

dilakukan oleh pihak PTBA-UPO sendiri dengan jumlah cadangan batubara terukur

lapisan A 4.172.627 ton dan lapisan C 11.207.981 ton. Proses penambangan pada

Tambang Tawah Tanah Sawahluwung ini dikerjakan oleh pihak PTBA-UPO. Sistem

penambangan yang pernah diterapkan adalah Sand Filling, Room And Pillar,

Longwall Mechanized.
Gambar 2.14. Lokasi Penambangan Sawahluwung PTBA UPO

2. Pekerjaan Persiapan Penambangan (Development) di Sawahluwung

Pekerjaan dari persiapan penambangan (Development) di Sawahluwung adalah

pembuatan lubang maju untuk lubang material (Tail Gate) dan lubang ban (Main Gate)

yang merupakan tahapan untuk pembuatan Panel untuk mengambil batubara.

a. Pembuatan lubang maju untuk lubang material (tail gate)

Pembuatan lubang maju untuk lubang material (tail gate) dilakukan pada jalur

Junction II.C dengan menggunakan peralatan mekanis Alpine Miner-50 dan

peledakan.

Cara pemotongan oleh Alpine Miner-50 adalah : material bahan galian di potong, di

gerus dan di gali dengan Cutting Head yang berjumlah 72 bit yang langsung

terkumpul di atas Gathering Apron (pengumpul galian) dan dari


apron dengan bantuan arms loading device material dimasukkan ke dalam chain

conveyor untuk selanjutnya di bawa oleh belt conveyor keluar tambang. Pembuatan

lubang maju untuk lubang material (tail gate) dimaksudkan untuk jalur pengangkutan

material yang dibutuhkan di lokasi penambangan dan sebagai jalur udara bersih masuk

ke pemuka kerja. Dan sekarang kegiatan pembuatan lubang maju pada jalur Junction

II.C terkendala oleh bahan peledak yang telah kadaluarsa dan juga terkendala pada

road header yang tidak mampu menggerus/memotong batuan, sehingga kegiatan

penggalian lubang maju tidak bisa diteruskan dan pekerjaan hanya pemasangan jalur

rel oleh karyawan. Lubang ini dihubungkan sampai ke luar tambang melalui lubang

material utama.

b. Pembuatan lubang maju untuk lubang ban (main gate)

Pembuatan lubang maju untuk lubang ban (main gate) dilakukan pada jalur Junction

III.C dengan menggunakan peralatan road header Dosco MK-2A dengan

menggunakan 1 buah cutting head yang terdiri dari 36 bit yang digerakkan oleh motor

listrik berkekuatan 37 Kw. Pada lubang maju untuk lubang ban ini road header hanya

menggali batubara karena pada lubang ini merupakan jalur sebaran batubara.

Cara pemotongan di mulai dari arah pusat bukaan lubang kemudian boom ditarik ke

bawah sampai memotong lantai dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Selanjutnya

pemotongan dilakukan secara zig-zag dari bawah hingga ke atap lubang. Bahan galian

yang telah digali/dipotong oleh cutting head terkumpul pada sebuah penampung yang

di sebut gathering apron. Material yang telah tertampung di gathering apron di bawa

oleh scrapper conveyor dan selanjutnya ditampung oleh belt conveyor intermediete

untuk di bawa ke unit conveyor berikutnya. Lubang ban (main gate) ini berfungsi
sebagai jalur pengangkutan batubara hasil pembongkaran yang selanjutnya diteruskan

ke lubang ban utama (LBU) untuk diangkut keluar tambang ke tempat penampungan

sementara (coal yard) di emplasement Sawahluwung dan sebagai jalur keluarnya

udara kotor dari pemuka kerja. Pada batas tertentu lubang material dan lubang ban ini

akan dihubungkan, sehingga akan membentuk front penambangan yang disebut Panel.

Gambar 2.15. Pembuatan Lubang Maju dengan Road header

3. Penambangan Panel VI Sawahluwung

Kegiatan operasi penambangan untuk mengambil batubara dilakukan di Panel VI

menerapkan metode longwall retreating menggunakan peralatan mekanis. Peralatan

mekanis untuk mengambil dan memotong batubara adalah Shearer. Penyanggaan mekanis

yang di pakai adalah kombinasi PRS dan Hidraulic Props. Hidraulic Props dipakai untuk

membantu menaikkan Canopy dari PRS yang merunduk akibat tekanan dari atap batuan.

PRS yang digunakan berjumlah 94 unit dengan lebar satu unit 1,5 meter.
Pada tahap awal kegiatan pemotongan batubara dengan Shearer di mulai dari arah

tail gate dengan ketebalan pemotongan 0,5 m (satu shearing) pemotongan

batubara pertama dilakukan sepanjang 2025 m dari arah tail gate menuju arah main gate.

Setelah batubara tersebut selesai terpotong dengan segera 15-20 PRS dimajukan sampai

ujung Canopy PRS menyentuh atap batuan yang telah terpotong. Kemudian AFC digeser

maju untuk membuat lintasan pemotongan berikutnya. Kegiatan pergeseran PRS ini di

sebut dengan snaking. Untuk kegiatan pergeseran AFC dan PRS di gunakan Hydraulic

Ram yang ada pada PRS. Pada saat menggeser maju AFC maka Hydraulic Ram akan

bekerja secara mendorong, sedangkan pada saat menggeser maju PRS maka Hydraulic

Ram akan bekerja secara menarik. Sebelum PRS digerakkan, maka canopy PRS harus

diturunkan dahulu untuk mengurangi gesekan antara canopy dengan batuan atap.

Pemotongan batubara oleh Shearer yang dilaksanakan di tambang dalam

Sawahluwung menggunakan metode full face triangular inclined sumping. Pada saat

shearer sampai di ujung tail gate motor penarik dihentikan, selanjutnya drum pemotong

bagian depan (main side) dinaikkan sampai ketinggian atap permukaan kerja, sedangkan

drum pemotong bagian belakang (tail side) diturunkan hingga menyentuh lantai batubara.

Setelah shearer melakukan pemotongan sepanjang 2025 m kemudian AFC yang

ada di belakang shearer digeser maju, maka shearer kembali digerakkan ke arah tail gate

untuk melakukan pemotongan batubara yang tersisa pada pemotongan pertama. Kegiatan

pemotongan ini disebut dengan flitting. Sebelum batubara sisa tersebut dipotong, drum

pemotong diturunkan terlebih dahulu. Pemotongan batubara selanjutnya dilakukan ke

arah tail gate dan posisi drum pemotong harus dirubah terlebih dahulu. AFC yang berada

dibelakang shearer digeser secara bertahap. Pada jarak 2025m dari tail gate dibutuhkan
kembali untuk membuat bidang-bidang pemotongan yang baru bagi shearer pada

shearing selanjutnya berulang seperti cara sebelumnya, tetapi arah pemtongan dimulai

dari head gate.

Pemuatan batubara oleh shearer kedalam AFC dilakukan secara langsung oleh

shearer. Drum pemotong sudah dirancang secara khusus dengan bentuk vanes atau spiral

sehingga batubara yang telah dipotong akan terbawa oleh putaran drum dan tertumpah

kedalam AFC dan mengangkutnya sampai ke ujung permukaan kerja di lubang ban. Hasil

penggalian di tampung oleh stage loader yang bersifat fleksible mengikuti arah kemajuan

penggalian. Kemudian material hasil penggalian dari stage loader akan di ampung oleh

belt bank, dari belt bank batubara akan diteruskan ke belt conveyor menuju coal yard di

emplacement Sawahluwung untuk kemudian di angkut ke Sawahrasau V menggunakan

truck.